Setiap pagi bagiku bukanlah matahari yang bersinar lembut,
tetapi bola api yang membara, siap menghancurkan semuanya.
---
Setiap siang bagiku bukanlah cahaya lembut yang menerangi bumi,
tetapi udara terik, mengeringkan setiap mata air pengharapan.
---
Setiap sore bagiku bukanlah mega kemerahan yang mengantarkan kedamaian,
tetapi awan hitam kelam, mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
---
Setiap malam bagiku bukanlah bercengkrama bersama keluarga,
tetapi sunyi, menangis sendiri merutuki nasib diri.
---
Setiap hari bagiku adalah duka yang bahkan tak perlu diberi nama.
Setiap hari bagiku adalah pisau-pisau yang semakin menyayat diriku;
membuatnya hancur menjadi serpihan.
Setiap hari bagiku adalah tatap ketakutan dari orang-orang.
Setiap hari bagiku adalah teriakan usiran;
penolakan.
Setiap hari bagiku... adalah neraka.
---
Tiap kali tangis itu mengalir,
Tiap kali bahu itu bergetar,
Tiap kali isak itu terdengar,
Ingin kuakhiri hidup ini
Ingin ku berlari, dan takkan kembali lagi.
---
Lambat laun, air mata mulai terhenti
Seiring kesadaranku atas eksistensi diri
Lambat laun, bahu yang menurun mulai kutegakkan lagi
Kupastikan diri, menempuh jalan ini
---
Hatiku sudah mati.
Sudah terlalu banyak luka yang tertoreh,
Sudah terlalu banyak darah yang mengalir.
Terlalu banyak...
---
Kututup mata hatiku.
Yang memang telah mati.
Kuterima takdirku;
Sebagai iblis yang hanya mencintai dirinya sendiri.
Sebagai monster yang menghancurkan semuanya.
Sebagai setan tanpa hati nurani.
Sebagai mesin pembunuh.
Sebagai⦠ashura.
Pemuda itu menatap tanpa ekspresi pada sosok yang menggeletar ketakutan di depannya. Ia tidak peduli lagi, karena hatinya memang telah mati.
Ia mengangkat tangan kanannya, dan dalam sekejap pasir mencengkram tubuh lawannya, siap menghancurkannya.
"Sabaku kyuu."
Darah muncrat seiring jeritan penuh kengerian menuju kematian. Memerahkan daerah di sekitarnya. Membasahi pakaiannya, membasahi wajahnya. Bau amis menguar ke udara.
...namun, ia tetap tidak merasakan apa-apa...
Setiap hari bagiku... adalah neraka...
