"Hosh… hosh… buset dah… si Jou kalo liat hantu larinya cepet banget…" Yugi menghentikan langkahnya dengan loyo. Tiba-tiba dari belakang ada yang menabraknya.
DUGH!
"Adooooh! Ne? Maapin daku, Yu,chan! Kamu ga' apa-apa?" Anzu segera bangkit setelah menindih Yugi yang kini udah gepeng kayak serabi kegencet setrikaan.
"Bujung… berat lu berapa, sih, neng…? Kayak gajah abis nelen dinosaurus, lu…"
"Enak aja…! Ini udah turun 2 kilo, tau!"
"Emang sekarang berapa?"
"54…"
"Anjrit! Tadinya 56???"
"Udah, ah! Mending kita cari Jou, deh…" Anzu tak mau menggubris berat badannya sekarang itu.
"Chappe dheeee…" keluh Yugi.
Ini kesempatan! Aku tinggal beduaan aja ama Yugi! Gunakan kesempatan sebaik-baiknya Anzu! Berjuanglah!
"An… lu ngapain…? Cepetan, non…" Yugi yang sudah jauh berada didepan Anzu mulai mengomel melihat Anzu berpose kemenangan tak jelas didepan ruang guru.
"Aduuuuhhh… takut niiiih…"Keluh Otogi yang sedang menunggu Honda didepan WC. Begitu Honda keluar, Otogi langsung mengomel.
"Lama banget sih, lu? Gue merinding ni … Betewe, lu ketemu 'sesuatu' ga' didalem…?"
"Ya nggak'lah… Kalo ketemu gue udah…"
Belum selesai Honda menlanjutkan kata-katanya, ia keheranan melihat wajah Otogi yang berubah pucat pasi terdiam, mulutnya melongo berbentuk huruf O gede.
"Eh? Napa' luh? Nggak usah becanda gitu, deh… ada apaan? Sadako? Mbak Kunti? Genderuwo?" canda Honda
Tapi lama kelamaan Honda sendiri menjadi semakin panik melihat raut wajah Otogi yang tidak bercanda sama sekali. Sepertinya ia benar-benar melihat 'sesuatu' dibelakang Honda. Honda sendiri tak berani menoleh ke belakang. Sekarang ia kebelet pipis lagi. (currr... eh, belum ding...)
"O… to… gi…? A… ada di… bela…kang… ku… ya?"
Suara Honda semakin bergetar ketika Otogi menganggukkan kepalanya dengan pelan. Mau tidak mau Honda menolehkan kepalanya kebelakang. Sesosok putih berkelebat dan menghilang dengan cepat.
"GYAAAAAAAA…!!!!"
Keduanya langsung lari secepat angin topan. Entah mereka lari kemana tujuannya, yang penting ga' ketemu ama 'joinan'nya si Ryo. Begitu mereka kembali ke laborat, udah ga' ada siapa-siapa disitu. Keduanya makin panik, mereka berlari mencari yang lain sambil tambah panik.
"Guys! Lu pade kemane...?"
Heeeii, jangan becanda dong! Kita takut beneran niiii!"
Keduanya tambah ga' jelas arah. Karena gelap plus takut.
"Hiaaaaa... kita ditinggal...!!!"
Sementara itu, Yugi dan Anzu terpisah jauh diantara ruang-ruang kelas.
"Eh, eh... taunya ada Sadako, kamu gimana...?"
"Yugi! Jangan becanda! Aku takut beneran, nih...!" Anzu mengeluarkan suara manjanya. Harap-harap, Yugi mau menggandengnya.
"Kalo Sadako-nya kaya Ayumi Hamasaki, aku mau banget, lho! Hehehe..." Yugi malah ngomentarin pertanyaannya sendiri. Ga' peduli ama Anzu yang bete ngedengernya. Lama-lama Anzu tambah penasaran ama cowok yang cuma suka duel mlulu ini.
"Yug... sebenarnya cewek tipemu itu yang kaya' apaan,sih...?" tanya Anzu.
"Ha? Cewek? Ng... Emangnya kenape, non...?" tanyanya santai.
"Ng... Cuma mau tau aja..." Anzu berusaha menutupi pertanyaannya.
"Mm... bisa duel, sekseh... trus... mmm, pinter... cantik dong pasti... hehehe... trus..."
Anzu semakin bete ngedengernya. Tentu aja itu impian para duelist cowok.
"Yeee... dasar..." gerutu cewek itu pelan. Yugi membalikkan tubuhnya melanjutkan kata-katanya.
"Trus... mirip ama..." Yugi tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya berubah pucat begitu melihat kearah Anzu.
"Ne? Mirip sama siapa...?"
Yugi terdiam pucat pasi. Telunjuknya menunjuk kebelakang Anzu. Cewek itu mengikuti arah telunjuk Yugi. Anzu melihat 'sesuatu' berwarna putih. Yang berkelebat cepat.
"Oooh... mirip sama..." Anzu yang awalnya tak menyadari 'sesuatu' tadi, mukanya ikut-ikutan pucat. Keduanya terdiam agak lama. Dan baru bereaksi dengan bersamaan.
"AAAAAAAA...!!!"
"Hueeeee... guys... lu pada jahat banget sih... katanya kita temen... ternyata bener ni...tergantung situasi doang, ya kita bertemen...?" Jounouchi merengek dan meraung ga' jelas selama berjalan dilorong. Ia berjalan ga' peduli arah. Tapi sesuatu didepannya membuatnya terdiam. Sesosok bayangan hitam perlahan berjalan mendekat ke arahnya.
Jounouchi yang awalnya bengong aja, lama-lama merinding juga. Dia ga' bisa kemana-mana lagi. Mau berbalik tapi takut tambah tersesat, tapi kalo maju, ya... mau nggak mau ngehadepin 'joinan'nya Ryo.
"Mamimamimamimami...!!!!" Jou mulai terduduk lemas. Lututnya lemes banget kaya' daun bayem habis direbus. Rasanya kepingin lari tapi nggak bisa. Wajahnya memucat. Pingin teriak tapi suara nggak keluar. Keringat dingin mulai bercucuran.
"Huaaaaa!!!! Jangan mendekaaaaat!!! Ampuuun!!! Aku ga' akan ketinggalan buku PR lagiiiii...!!!!"
Jou mulai berteriak-teriak dengan harapan bayangan itu pergi. Tapi semakin dia berteriak, justru bayangan itu semakin mendekat. Jou membenamkan wajahnya sambil bersujud didepan bayangan itu. Ia tak sanggup mengangkat wajahnya. Apalagi menatap bayangan itu.
"Jou...? Ngapain lu?"
"...?..."
Jou menyadari suara itu. Beberapa saat ia berpikir dan terdiam. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Bayangan yang kini berada tepat berdiri didepannya itu ternyata adalah...
"Ryo...? Sial! Lu ngagetin aja!"
"La? Kok marah? Harusnya aku yang bete...! Lu buat kecewa aja... kukira tadi yang sujud-sujud di lorong itu hantu... setelah kudeketin... yeee... ternyata cuma lu..." protes Ryo. Jounouchi semakin sebel ngelihat Ryo yang malah nyuekin dia, ngelanjutin pencariannya.
"Guys...! Kalian dimanaaaaa...?" gema kecil terdengar dari ujung lorong. Kali ini Jounouchi dan Ryo langsung menyadari pemilik suara itu. Makin lama suara langkah pemilik suara itu mendekat bersamaan dengan sahutannya.
"Guys...! Halooo..."
"Honda...! Disini...!" Jounouchi memanggil pemilik suara yang gemetaran itu. Honda berlari mendekat bersama Otogi. Mereka berdua terlihat panik dan tampak ketakutan.
"Woi...woi... ada apa nih...?" Tanya Jou.
Ryo malah dengan cueknya ngintipin kelas-kelas. Belum sempat kedua orang yang ngos-ngosan itu menjelaskan, dua makhluk dari arah yang berlawanan datang menubruk Jounouchi sehingga mereka jatuh menimpa Honda dan Otogi. Ryo malah ketawa sambil memotret adegan jatuh yang saling menimpa itu.
"Huekekekekek... Lu pada lucu banget sih... Jadi inget waktu Bakura jatoh nggelinding dari tangga... kikikik"
"Heh! Lu nggak usah ketawa...! Ni lagi...! Pacaran jangan dipunggung orang...! Ada apa sih lari-lari...? Udah malem, tauk? Kesian nih... yang dibawah... kejempet!" omel Jou. Dia berusaha bangkit dari tindihan Anzu dan Yugi. Otogi dan Honda yang kejepit dibawah udah nggak sadarkan diri.
"Jjj...jjo..jo... Jou... lu nggak bakal pecaya, dah... kita tadi liat apaan..." Yugi gemetaran, Anzu terus memeluk pinggangnya dengan kencang. Tapi wajah cewek itu terlihat menikmatinya. Mesem-mesem kayak tadi.
"Anzu! Lu cerita deh...! Makhluk apaan tadi...!"
Anzu kontan langsung ikut panik begitu mengingat wujud makhluk ga' jelas tadi. Tapi ia tetep aja melukkin Yugi.
"Eh! Iya... tadi ada apaan gitu...! Serem lo...! Pokoknya putih-putih... terus ngilang aja gitu, booo...!"
Otogi dan Honda yang udah sadar, langsung ikut-ikut angkat bicara. "Kita juga liat! Bener, lo! Sumpeh!!"
Ryo yang mendengarnya langsung bersemangat dengan kameranya.
"APA? Lu pada ngeliat kok nggak ngajak-ngajak??? Jahat banget! Kalo gitu kita ketempat kalian tadi ngeliat! Ayo, cepetan...!"
Jounouchi yang serem ngedenger cerita temen-temennya langsung menolak ajakan Ryo.
"Nggak! Jangan! Kita kesini'kan mau nyari PR gue! Kalian juga pada nggak mau balik'kan?"
Keempat anak yang menjadi saksi itu mengangguk. Ryo jadi cemberut, kecewa banget ama temen-temennya.
"Kok gitu sih...? Katanya aku boleh foto-foto..." keluhnya.
"Eh, guys... ini didepan kelas kita, lho...!" Honda menyadari setelah melihat papan nama kelas mereka baik-baik. Karena gelap, mereka tak bisa melihat nama-nama ruangan itu. Bahkan nggak bisa liat jalan. Makanya, dari tadi mereka asal jalan aja.
"Ya udah yuk! Cepetan ambil PR-mu...!" Yugi mendorong Jounouchi.
"Masuk bareng-bareng, dong...!" bujuk Jou. Yang lain akhirnya terpaksa menemaninya sambil nggrundel. Mereka ngeraba-raba sekeliling, karena nggak bisa liat apa-apa.
GLUDAK!
"Sssshhh!"
"Sori...! Gue nggak bisa liat apa-apa, nih..." Otogi memegangi kakinya yang kesandung meja tadi.
"Iya, gelap banget...!" bisik Jounouchi. Ia berusaha menghampiri bangkunya.
"Tatuuuuttt...!" rengek Anzu. Ia terus memeluk leher Yugi, tanpa belas kasih, bahwa cowok itu udah kecekek, ga' bisa napas.
"An... zu...! Hekkk! Kecekek niii...!" setelah mendengar penderitaan cowok itu, ia langsung melepas pelukkannya sambil nyengir. "Hehe... sori..."
"Ada! Makasih, ya...! Udah mau nemenin...!" Jou nyengir-nyengir sambil memeluk buku PRnya. Yang lain menghela napas.
"Lain kali jangan ketinggalan lagi..."
"Iya... sebelum pulang di-cek dulu..."
"Nggak ketemu hantu deh..."
Keluhan terkahir membuat Jounouchi, Yugi, Anzu, Honda, dan Otogi melirik jutek pada Ryo yang berdiri di dekat pintu. Tapi mata mereka menangkap sesuatu dari belakang Ryo. Sesuatu seperti sedang mengintip mereka dari balik pintu. Bayangan berselimut putih itu muncul dari balik daun pintu kelas mereka. Ryo langsung menoleh kebelakangnya, karena teman-temannya melihat ke arah belakangnya. Kelima anak yang melihat bayangan itu kontan teriak.
"GYAAAAAAA...!!!!"
Bayangan putih itu tiba-tiba berkelebat menghilang dari balik daun pintu sambil mengeluarkan teriakan yang nggak kalah kerasnya dari Yugi cs.
"HUAAAAA...!!!"
Ryo yang langsung bersemangat malah mengejarnya.
"TUNGGUUUUU! Minta satu foto ajaaaa! Pliiiisss...!!"
Tapi sebelum dia berhasil mengejar 'sosok idola'nya, Yugi cs udah narik dia berusaha keluar dari gedung sekolah mereka melalui arah yang berlawanan dari hantu itu. Mereka menuruni tangga, berlari melewati ruangan-ruangan dan melalui koridor dengan cepat.
"Eh... khan ga' boleh lari-lari di koridor..." ujar Ryo santai. Teman-temannya yang menggendong dirinya (kalo nggak digendong, pasti dia lari ngejar 'idola'nya) semakin panik.
"UNTUK SAAT INI NGGAK USAH PEDULI AMA' PERATURAN SEKOLAH, DEH!!!!"
Akhirnya mereka berhasil keluar dari sekolah, mereka kembali melompati pagar, dan langsung kabur meninggalkan area sekolah.
"Selamat malam... terima kasih atas tumpangannya, ya..." senyum Atem. Ia melangkah keluar dari mobil Seto, setelah cowok itu membuka'kan pintu untuknya.
"Sama-sama... terima kasih juga sudah mau menemaniku minum di cafe..." Seto menggandeng tangan Atem. Mereka berjalan perlahan menuju pintu rumah keluarga Mutou. Isono menunggu di mobil sambil memperhatikan keduanya.
"Hiks... tuan... akhirnya kau menemukan kebahagiaan..." tangisnya terharu. "Nona Atem pasti memang takdirmu..."
"Isono... kau berlebihan..."
Atem terbiasa melihat reaksi berlebihan Isono. Biasanya kalau dia merasa melakukan kesalahan, dia bisa panik, teriak-teriak, air matanya bercucuran, dan berputar-putar tak jelas bagai angin topan. Tapi kalau bahagia atau terharu, ia selalu mengungkapkannya dengan air mata bercucuran (juga).
"Aku nggak nyangka bisa menghabiskan malam minggu bersamamu..." Seto melanjutkan jalannya bersama Atem.
"Aku juga..." Atem menyenderkan kepalanya pada lengan kanan Seto sambil tetap berjalan. Seto akhirnya merangkulnya. Mereka telah berdiri didepan pintu rumah.
"Ternyata kucing kecil ini suka dipeluk..." canda Seto.
"Ku... kucing kecil...?" wajah Atem memerah. Seto tertawa melihatnya. Wajah Atem semakin memerah, ia membenamkan wajahnya pada dada Seto. Seto tersenyum melihatnya. Ia mengelus kepala Atem pelan. Atem mengangkat wajahnya pelan. Mata mereka bertemu dengan lembut. Keduanya saling terpesona melihat pasangannya. Malam itu terasa begitu indah. Cahaya lembut rembulan menyinari keduanya. Wajah mereka semakin mendekat. Keduanya telah siap untuk menyentuh bibir pasangannya. Tapi suasana romantis itu terganggu dengan suara langkah yang terdengar cepat mendekat. Keduanya langsung tersentak dan melihat kearah suara itu berasal.
"Yu... Yugi...?"
Atem heran melihat kakaknya berlari dengan cepat menuju mereka. Ia terlihat panik.Setelah melompati pagar, ia langsung membuka pintu sambil ngomel ke dede'nya yang masih bareng sama pacarnya tercinta.
"Atem! Buruan masuk! Cepet! Ayo! Lu ngapain masih disini? Pergi sana! Bye-bye!"
Yugi langsung menarik Atem setelah mengusir Seto. Cowok itu masih keheranan sambil berdiri didepan pintu yang telah ditutup dan dikunci oleh Yugi.
Seto menghela napas. Dalam hati, doi kecewa banget, adegan kissing-nya digagalkan oleh Yugi. Seto berjalan lemes menuju kemobilnya. Isono ikut kecewa, tadinya ia berharap-harap bisa melihat tuannya kasmaran sama pacarnya. Apalagi Mokuba dan Noa sering titip pesen, kalo kakaknya lagi mesra-mesra'an, supaya difoto. Jarang-jarang liat kakak mereka lagi kasmaran. Soalnya, kalo Seto mau jalan-jalan sama Atem, mereka berdua pesti ga' boleh ikut.
Sebelum ia keluar pagar, Seto sempet melihat lampu kamar Atem menyala. Gadis itu membuka tirainya. Atem melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Seto. Seto merasa lebih terhibur, ia tersenyum dan membalas lambaiannya. Sedangkan Yugi malah menggigil ketakutan dikamarnya. Dia langsung sembunyi dibalik selimut sambil gemeter. Malem ini doi ga' bakal bisa bobo'... untung besoknya hari minggu.
Esok lusanya, hari Senin...
"Gila... serem banget, ya...!"
"Kapok, dah gue..."
"Seto? Lu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Jounouchi pada Seto yang duduk disebelahnya.
"Alaaa... paling sms-an sama Atem..." ledek Otogi.
"Emang Atem punya HP?" tanya Anzu.
"Punya..., Seto yang kasih... terus ngajarin cara make'nya..." Jounouchi cuma ngelirik pada HP Seto. Dalem hati dia iri banget. Doi juga pingin bisa sms-an sama Mai. Tapi Jou'kan kere' mampus! Nelpon pake telpon rumah aja sama bokapnya dibolehin paling lama cuma 5 menit. Alasannya gara-gara biaya telepon sekarang mahal. Harusnya Shizuka tuh yang kena omel. Adek cewek Jou itu kalo udah ngerumpi di mall... eh... telepon... lama banget!
"Ryo? Lu kenape?"
Ryo cemberut dimejanya, kecewa berat sama temen-temennya.
"Kalian jahat! Aku'kan ga' sempet foto...!" omelnya.
Jounouchi ngerasa bersalah juga, soalnya dia udah janji ngebolehin Ryo bisa foto-foto 'idola'nya.
"Maap, Ryo... lain kali..."
Belum selesai kata-kata Jou, tiba-tiba salah satu temen sekelas mereka masuk sambil panik.
"Eh! Kemaren malem nakutin banget, lho!"
"Sasaki? Ada apa sih?"
Anak-anak langsung mendekati teman mereka yang terlihat panik itu. Sasaki itu anak penjaga sekolah, mereka tinggal dideket sekolah. Karena Jou deket sama bokapnya, otomatis, dia juga deket sama anaknya.
"Lusa kemaren... waktu malem minggu... aku'kan mau ngegantiin bapakku ngeronda... soalnya dia udah teler... trus tiba-tiba dilorong-lorong... aku ngeliat bayangan... ga' jelas... soalnya gelap banget! Soalnya takut, aku tutupan pake selimut! Waktu aku ngintip dikelas kita... Ada sekelompok bayangan! Mereka noleh ke-aku terus... aku langsung lari teriak balik ke rumah...! Pokoknya serem! Bayangannya ada banyak lagi! Kira-kira ada enam! Hiii!!! Salah satunya udah mau ngejar aku...!!! Ternyata kelas kita beneran angker!" cerita Sasaki panjang lebar sambil berkeringat dingin. Anak-anak langsung ketakutan ngedengernya
"Iiiih!! Serem amat!"
"Mamiiih!!!"
"Masa' sih...?"
Sedangkan Yugi cs yang duduk dipojokkan terdiam mendengarnya. Mereka berpandang-pandangan satu sama lain.
"Jadi... yang putih-putih itu..." bisik Honda pelan.
"Sssst... mendingan diem aja deh..." ujar Yugi sambil mesem-mesem geli ngedengernya.
Yang lain ikut cekikikan.
Ternyata petualangan mereka di malam minggu itu 'dimeriahkan' oleh Sasaki yang tutupan pake selimutnya.
Sementara Yugi cs cekikikan dipojok, anak-anak sekelas panik mendengar cerita Sasaki.
Sedangkan Seto masih asyik ngetik sms buat Atem... isinya...
" Malam minggu jalan lagi, yuk "
Aaaa... akhirnya selese juga... Cuma 2 chapter. Maap, kalo kata-kataku banyak yang ga' dimengerti... Komen lagi pliiisss... :D R&R please :)
