Tidak sadarkan diri tepat pada waktunya adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.
Aku hanya menemukan langit-langit kamar yang familiar.
Hanya menemukan semburat sinar matahari tanpa kicauan burung karena hari sudah terlampau siang.
Hanya ketenangan biasa yang selalu kurasakan tiap hari hingga tidak lagi terasa sebagai ketenangan.
Namun kali ini aku terbangun, hatiku terasa berat.
Aku bukan orang yang pandai menyampaikan perasaanku, walaupun aku selalu berceloteh dan omong besar. Kadang aku takut, apa yang keluar dari mulutku dengan bangga, akan kembali padaku tanpa rasa hormat.
Aku seolah berjalan ke hari itu, meskipun aku berusaha menghindarinya dengan terus sekuat tenaga berlatih dan menyembunyikan semua kelemahanku.
Ya, semua kelemahan. Terutama dari orang itu.
Orang itu kuanggap saingan terbesarku untuk menjadi Shinobi terkuat. Aku tidak pernah menyukai gayanya yang sok keren namun digemari banyak perempuan, heran…Apa sih yang bagus dari manusia penyendiri seperti itu? Yang tidak ingin ditemani meskipun banyak yang bersedia berdiri berdampingan dengannya?
Walaupun jauh, jauh, jauh di dalam hatiku, ada rasa kagum yang tidak bisa kutahan.
Aku tidak ingin berdekatan dengannya! Aku dan dia adalah rival!
Rival ketika aku tidak tahu betapa dia juga mempunyai lubang yang besar dalam dirinya. Yang selalu menunggu terisi sampai penuh.
Matanya memancarkan itu, setiap kali bertemu pandang dengannya di dalam kelas maupun di saat aku mengintai dia berlatih sendirian sampai terlihat bodoh. Mata yang tidak bisa bersinar karena kabut yang menyelimutinya.
Satu orang kesepian akan menarik orang kesepian lainnya untuk saling menutupi lubang besar dalam diri masing-masing.
Tapi bagiku saat itu, aku hanya memikirkan kesempatanku untuk menyainginya dan mengunggulinya semakin besar.
Namun entah sejak kapan, aku berpikir tindakan sembrononya menyelamatkanku dari serangan Shinobi Suna adalah tindakan ksatria yang tidak mau kuakui kalau aku ingin berdiri di posisinya, menerima serangan-serangan tajam demi melindungi seseorang.
Melindungi dia?
Pokoknya mulai dari sana, aku tidak bisa menahan diri mengidolakan dia. Dia sainganku yang kukagumi. Selalu dan selalu bertindak tepat pada waktunya. Aku muak membayangkan bagaimana reaksinya bila dia mengetahui perasaan paradoksku ini. Dia, tidak diragukan lagi, akan menertawakan aku sampai rasanya lebih baik aku mengubur diriku sendiri.
Aku memandang ujung kakiku yang berada di bawah selimut.
Kaki itu, pernah bersama-sama dengannya berlatih memusatkan cakra di telapaknya. Bersama dengannya, kaki itu membawanya ke atas puncak pohon yang menjulang sebagai bukti hasil latihan panjang.
Lalu dia katakan, "Ayo pulang, Naruto."
Siapa yang dia panggil? Jarang, hampir tidak pernah dia memanggilku dengan nama…walaupun aku sendiri memperlakukan dia begitu.
Malam itu perasaan hangat dan puas mengaliri pembuluh darahku. Puas karena artinya dia mulai menyadari kemampuanku. Dia menyadari aku berlari di belakangnya dan hanya tinggal beberapa saat untuk sejajar dan akhirnya mendahuluinya.
Atau aku hanya mengharapkan berlari di sampingnya selamanya?
Tanganku meremas selimut, menahan gemetar tubuhku. Hatiku terasa berat.
Ekspresinya saat bertemu terakhir kali dengannya kemarin malam terus menerus berpendar dalam pikiranku.
"Dasar kau…Paling bodoh sedunia."
Air mataku terasa berat.
Aku mengerti ini walaupun terus kusembunyikan darinya. Dia, dengan curangnya sedikit demi sedikit mengisi kekosongan dalam diriku. Yang membuatku mulai mempertanyakan status saingan, mempertanyakan untuk lari maupun berjalan, bahkan duduk di sampingnya.
Aku menatap keluar jendela dengan mata buram. Menatap awan-awan kelabu bergeser perlahan-lahan oleh semilir angin membujuk.
Ne, Sasuke…, apakah kau merasakan hal yang sama denganku?
Apakah aku juga mengisi kekosongan dalam dirimu...?
---HFSmile---
