OOC ALERT!!!

Banyak yang OOC, terutama Suigetsu!! Ada alasannya kok..tunggu chapter 3!

Disclaimer: Naruto(c) Masashi Kishimoto.

Hinata, walau masih setengah sadar, dapat merasakan tubuhnya diikat. Dan dari auranya, sepertinya ada empat orang yang berada di ruangan yang sama dengannya.

Aku diculik...

Siapa yang menculikku? Yang kuingat hanya setelah bertemu Naruto, aku pergi ke lembah memetik bunga untuk Kurenai-sensei...dan setelah itu...

Dan langsung terbersit di ingatannya. Mata berwarna merah yang dalam dan gelap. Sharingan.

Sasuke Uchiha.

"Sasuke, dia sudah bangun," terdengar suara laki-laki. Rupanya mereka sudah tahu bahwa Hinata sudah sadar.

"Benarkah?" sebuah suara dingin yang dulu pernah Hinata kenal terdengar dari ujung ruangan.

"Sasuke, ngapain sih kamu cari-cari masalah nyulik anak ini segala? Padahal masih ada aku!" terdengar suara wanita.

"Karin masih ngambek rupanya," ada lagi satu suara yang berbeda dari lelaki yang sebelumnya.

"Udahlah, Karin. Yang dibutuhin Sasuke kan Byakugannya," kata lelaki yang pertama kepada wanita bernama Karin.

"Suigetsu, diam saja deh!" Karin berkata kasar kepada Suigetsu.

Jadi mereka Sasuke dan tim barunya, Hebi, yang diceritakan Naruto, batin Hinata, jadi ada Sasuke, Karin, Suigetsu...dan satunya lagi belum disebutkan namanya. Hinata benar-benar berada dalam situasi yang gawat. Sepertinya laki-laki bernama Suigetsu itu menyebutkan bahwa Sasuke membutuhkan Byakugan Hinata. Apakah mereka ingin merekrut Hinata masuk tim Hebi? Tapi bukankah dibanding Hinata, Neji akan lebih berguna?

Kalau itu kak Neji, dia tidak mungkin bisa diculik semudah ini.Hinata menyesal. Kenapa dia harus jadi yang terlemah?

Terdengar langkah kaki mendekati Hinata. Pasti Sasuke. Hinata tidak berani menatap mata Sasuke ketika dia sudah berhadapan dengan Hinata yang duduk terikat. Bisa-bisa, dia dihipnotis lagi dengan sharingan.

"Kau tidak mau menatapku?" tanya Sasuke. Hinata berkeringat dingin. Dia takut sekali. Aura Sasuke sangat dingin dan menyeramkan, seperti bisa menelan Hinata begitu saja.
"Uchiha-kun," Hinata memberanikan diri untuk berbicara, meski dengan suara bergetar dan masih tidak memandang Sasuke, "Kenapa kau menculikku?"

"Masih bertanya kenapa? Aku butuh byakugan," kata Sasuke pelan. Suigetsu, Karin, dan laki2 yang Hinata tidak tahu namanya itu memperhatikan dengan tegang.

"Tapi, aku tidak mungkin berguna bagi Uchiha-kun. Bisa dibilang, aku paling lemah di klan Hyuuga--," kata-kata Hinata yang panik itu dipotong oleh Suigetsu.

"Aduh, Sasuke, sepertinya calon istrimu salah mengerti," katanya sambil tertawa perlahan. Mata Hinata melebar dan mulutnya ternganga memandang Suigetsu. Calon istri?

"Kok calon istri?" tuntut Karin kesal, "Yang boleh jadi istri Sasuke tuh, cuma aku! Dia--si Hyuuga itu--cuma alat buat bikin keturunan dengan kemampuan sharingan dan byakugan!"

"Kata-katamu terlalu jahat, Karin,"

"Berisik, ah, Jugo!"

Meski akhirnya Hinata tahu nama teman Sasuke yang terakhir adalah Jugo, Hinata tidak merasa terbantu. Informasi yang masuk ke otaknya terlalu susah untuk diproses--maupun dipercaya. Sasuke...dan dia...harus...apa?!

Hinata pingsan seketika.

-----

"HINATA DICULIK!?"

Suara Naruto menggema ke seluruh kantor Hokage, bahkan sampai seluruh Konoha. Tsunade dan Shizune tutup telinga. Shino, meski tidak bereaksi pada teriakan Naruto, wajahnya menunjukan kekhawatiran yang amat sangat. Sai hanya diam saja, seperti biasa. Toh, dia sudah biasa dengan teriakan Naruto. Lagian, Hinata tuh siapa sih?

"Yang benar saja, dasar nenek! Udah sial aku dapet misi sama dua orang gak jelas ini, eh, sekarang malah Hinata diculik! Gimana sih?!" Naruto berteriak marah. Tsunade melindungi mukanya dengan buku dari muncratan ludah Naruto.

"Hei, jangan salahin aku," tukas Tsunade. Dahinya mengkerut. Tau gini, mending gak usah jadi Hokage. Shinobinya pada ngerepotin.

"Terus, sekarang udah ketauan siapa yang nyulik? Udah kirim tim buat mencari Hinata?" tanya Shino. Naruto, Sai, Shizune dan Tsunade (yay, sesuai abjad) heran denger Shino ngomong sebanyak itu. Biasanya cuma satu-dua suku kata doang.

"Soal itu...semuanya aku serahin ke Neji dan timnya yang terdiri dari Shikamaru, Lee, Tenten dan Kiba. Mereka sudah keluar desa dari tadi malam," kata Tsunade.

Kurang ajar, kenapa sih aku ditinggal mlulu kalo ada misi kayak gini, batin Shino kesal.

"Aku mau ikut cari Hinata juga!" kata Naruto sambil siap tancap gas.

"Tunggu, Naruto!" Tsunade menghentikan Naruto. Naruto menatap Godaime itu dengan kesal.

"Ada apa lagi, sih, Nek!?" bentak Naruto. Tsunade hanya menahan emosi di dalam dada karena dipanggil nenek. Beliau menyilangkan tangannya.

"Aku tahu benar kamu merasa cemas akan keadaan Hinata. Tapi kamu juga harus paham posisimu sebagai shinobi Konoha. Lihat, misi untukmu saja sudah menunggu," kata Tsunade, "Dan, kalau terlalu banyak ninja yang pergi, kami juga yang rugi,"

"Argh, berisiiik! Pokoknya aku mau pergi mencari Hinata!!" Naruto membentak Tsunade dan menghilang dari pandangan. Sai bahkan tidak sempat menghentikan bocah itu. Tsunade menghela nafas. Dilihatnya Shino, yang sepertinya ingin melakukan hal yang sama dengan Naruto. Namun Shino nggak jadi karena udah nerima takdirnya sebagai orang yang melulu ditinggal. Melihat hal itu, Tsunade bersyukur dalam hati.

----

"Kamu dapat jejaknya, Kiba?" tanya Tenten yang sudah kelelahan. Tim Neji sudah berlari semalaman, sampai pagi, untuk mencari jejak Sasuke dan Hinata. Kiba mengangguk.

"Banyak bau Sasuke," katanya sementara Akamaru mengendus-endus, "Masalahnya, kita sudah berlarian semalaman, dan kita harus istirahat,"

Lee, Shikamaru dan Tenten setuju, namun Neji menolak mentah-mentah.

"Tidak bisa! Sementara kita istirahat, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Sasuke kepada Hinata! Telat sedikit saja--"

BUAGH

Sebuah pukulan mendarat di pipi Neji. Shikamaru memandangnya dengan marah. Tenten menutup mulutnya, menjerit tertahan.

"Jangan egois, Neji," kata Shikamaru, "Kalau kita kelelahan, apa yang bisa kita perbuat untuk menolong Hinata? Kau mau anggota timmu terbunuh? Aku sudah belajar banyak dari misi pengejaran Sasuke, dan aku tidak mau hal itu terulang lagi,"

Darah keluar dari bibir Neji dan dia segera menghapusnya.

"Baik. Maafkan aku, semuanya," kata Neji pelan dan ia pergi ke sisi lain dari pohon tempat mereka beristirahat. Tenten mengejar Neji sambil menawarkan saputangan.

"Neji...," Tenten ingin mengikuti Neji, tapi Neji menolaknya.

"Sudahlah, Tenten," katanya, dan menghilang. Shikamaru menepuk pundak Tenten.

"Dia butuh waktu sendiri. Tenang saja, Tenten, dia tidak mungkin pergi duluan," kata lelaki jenius itu. Tenten mengangguk dengan sedih. Lee dan Kiba saling pandang, tidak tahu harus berkata apa.

Sekitar satu jam kemudian...

"Kalian semua sudah enakan?" tanya Tenten pada ketiga temannya. Semua mengangguk.

"Kalau begitu, aku mau isi botol air minumku dulu," kata Tenten, "Ada yang mau nitip?"

Lee memberikan botol minumnya pada Tenten. Gadis itupun dengan cepat berjalan menuju sungai terdekat. Dalam hati Tenten, dia penasaran apa yang sedang dilakukan Neji. Tapi, seperti yang dikatakan Shikamaru, Neji pasti hanya butuh waktu sendiri. Dan dia bukan tipe orang yang bisa langsung emosian dan bertindak ceroboh (uhuknarutouhuk).

Ketika Tenten mengambil air, dia melihat Neji sedang membasuh mukanya di sungai juga.

"Neji...?" Tenten menghampiri Neji yang kaget melihat Tenten.
"Tenten?"

Keduanya terdiam. Neji kemudian berbicara, meski ragu.

"Kau tidak marah, Tenten?" tanyanya. Tenten mengerutkan alis, "Kenapa aku harus marah?"

"Karena aku terlalu memikirkan Hinata?"

Tiba-tiba, Tenten tertawa. Neji menjadi bingung.
"Tenten?"

Tenten menyeka airmata dari matanya, "Ya ampun, Neji, kenapa aku harus marah ketika kamu memikirkan Hinata? Dia kan, sepupumu. Kalau sepupuku diculik, aku juga akan cemas kok, da mungkin lebih panik daripada kamu,"

"Tenten...,"

"Yang penting, Neji tidak boleh cepat panik lagi. Kamu membuat cemas semuanya," kata Tenten sambil menggoyangkan telunjuknya. Neji mengangguk pelan.

-----

Pelan-pelan, Hinata mulai sadar lagi.

"Ah, dia sadar...Harus kasih tau Sasuke!" Suigetsu yang tadinya menemani Hinata terus keluar dari ruangan kecil itu. Hinata sekarang bisa melihat ruangannya dengan lebih serius. Agak gelap, meski cahaya matahari masuk sedikit dari atap yang agak bolong-bolong. Hinata masih diikat di sebuah kursi. Ikatan tali itu sangat kencang. Hinata juga sedang tidak punya tenanga untuk melepasnya. Pintu terbuka. Sasuke masuk, tanpa Suigetsu. Hal ini membuat Hinata ketakutan.
"Hai, Hinata," kata Sasuke. Meski dia mencoba ramah, Hinata tetap merasakan aura dingin pada suaranya. Dan lagi, Sasuke memanggil nama depannya...rasanya...tidak sehangat yang seperti kalau Naruto yang memanggil.

"U--Uchiha-kun," Hinata tergagap ketika Sasuke berdiri di depannya. Tapi Sasuke tidak mendekat lebih jauh, dan kelihatannya dia tidak punya keinginan untuk mendekat lagi, sehingga Hinata merasa lega.

"Suigetsu sudah bilang semuanya tadi. Dan aku tahu kau cukup pandai," kata Sasuke. Hinata membeku. Hampir saja dia lupa tentang hal itu. Tidak mungkin, Hinata lebih baik mati daripada menikah dengan Sasuke. Impian terbesar Hinata adalah menikah dengan Naruto, bukan dengan Sasuke Uchiha. Sejak dulu, Hinata tidak pernah ngobrol dengan Sasuke karena dia menakutkan. Dan hari ini, tiba-tiba saja, dia dihadapkan pada pilihan menikahi orang itu.

"U-Uchiha-kun, aku...aku tidak bisa menikah denganmu," Hinata berbisik, meski Sasuke dapat mendengarnya.

"Aku tidak bilang akan menikahimu. Aku hanya ingin gen byakugan," kata Sasuke dingin. Hinata hampir menangis. Kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?

"Mau tidak mau, kau harus melakukannya," kata Sasuke, dan dia meninggalkan Hinata sendirian. Sasuke dapat mendengar isakan gadis itu dari luar. Dia sadar, tindakannya sangat tidak manusiawi. Tiba-tiba menculik gadis yang tidak tahu apa-apa, untuk melanjutkan keturunan yang lebih baik bagi klan Uchiha. Dan lagi, sudah lama Sasuke tahu kalau Hinata menyukai Naruto si bakadobe itu. Ditambah lagi, dengan diculiknya Hinata, sama saja Sasuke menantang Konoha berperang. Hinata adalah penerus salah satu klan yang mempunyai pengaruh kuat di Konoha. Tidak mungkin klan Hyuuga diam saja.
Namun senyum muncul di bibir Sasuke.

tbc...