That's Too Hurt
Chapter : 5
Rated : T – M
Main Cast : *Cho Kyuhyun
*Lee Sungmin
Burung-burung berkicauan, sinar matahari pun mulai menembus sisi-sisi jendela dengan ganasnya, seakan menandakan bahwa tiba saatnya ia berkuasa. Seorang yeoja cantik terlihat masih terlelap di atas tempat tidur king sizenya. Namun ia merasa terusik saat sang penguasa siang mengganggu penglihatannya. Ia meregangkan badannya, berguling kekanan dan kekiri seakan tidak rela berpisah dengan benda-benda yang membuatnya merasa nyaman semalaman. Ia mulai menarik kelopak mata cantiknya, membuat foxy hitam bulatnya terlihat sangat cantik ditambah dengan terpaan sinar matahari. Ia masih mengerjapkannya berkali-kali sampai ia merasa benar-benar tersadar. Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba meraba sisi di kasurnya dan ia tidak menemukan apapun di sana.
Angin semilir perlahan menerpa tubuh mungilnya, terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Ia baru tersadar bahwa tubuh polosnya masih belum tertutup oleh apapun. Ia segera menarik selimut putih untuk membalut tubuh indahnya. Seketika itu ia tersadar dengan apa yang telah ia lakukan tadi malam, bersama suami tercintanya. Ia menerawang jauh, mengingat-ingat kembali bagaimana indahnya saat mereka berdua membuktikan cinta mereka satu sama lain. Ia selalu ingat bagaimana suami tampannya itu menyentuhnya, bagaimana suaminya membelai lembut surai hitamnya, bagaimana suaminya itu menyentuh titik-titik tertentu pada tubuhnya hingga ia merasakan kenikmatan yang tak tertandingi. Masih teringat jelas dalam pikirannya saat sang suami membuktikan cintanya, menunjukkan naluri prianya. Ia tersenyum sendiri, mengingat hal itu membuatnya ingin memeluk suaminya sekarang juga. Tapi apa daya, disampingnya sudah tak ada sosok itu.
Ia bangkit dari zona nyamannya, masih dengan kain putih yang membalut tubuhnya. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, ia menemukan nampan dengan roti panggang dan segelas susu diatasnya yang terletak di atas meja nakas. Ia mendekati hidangan yang membangkitkan rasa laparnya, kemudian menggigit ujung roti itu. Ia mengunyahnya pelan, terasa selai strawberry mengalir dalam mulutnya. Ia tersenyum manis, dan mencoba meneguk segelas susu yang sudah terasa dingin itu. Bisa disimpulkan bahwa si pembuat hidangan sudah menyajikannya jauh sebelum ia bangun dari tidurnya. Ia kembali tersenyum, tampaknya ia mulai sadar akan sosok si pembuat hidangan, ya siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya yang kini telah menjadi suaminya. Setelah makanan itu habis tak tersisa, ia menemukan sebuah catatan kecil yang ditindih oleh piring tempat roti tersebut. Ia membaca goresan pena dalam catatan itu kemudian memeluk catatan itu. Ia tersenyum bahagia. Mungkin sebagian orang menganggapnya bertingkah seperti remaja yang sedang jatuh cinta, tapi siapa peduli? Ia bahagia dan hanya ia yang tahu rasanya.
Segera ia mencari galaxy note berwarna pink miliknya. Ia menekan angka 1 dan mendekatkan benda itu ketelinganya. Sesaat setelah menunggu terdengarlah suara bass seorang pria yang terdengar ribuan kali lebih seksi di telinganya.
"Yeoboseyo?" Pria itu mengucapkannya dengan sangat yakin. Namun pria itu mengerutkan dahi saat tak sepatah katapun muncul dari lawan bicaranya. "Yeoboseyo?" Ia kembali mengucapkan itu, tetapi kali ini membuat wanita yang meneleponnya tersadar.
"Ne oppa." Hanya jawaban singkat yang diberikan oleh wanita cantik itu.
"Chagi, waeyo? Kau mendengar suaraku kan?" Pria itu kembali menanyakan keraguannya.
"Ah ne, kau tenang saja oppa, aku tidak tuli hehe." Sungmin, yeoja cantik itu, menjawab seadanya. Entahlah, ia merasa sangat canggung dengan pria yang berstatus sebagai suami sahnya ini, apalagi jika mengingat kejadian yang terjadi antara dirinya dan pria itu semalam.
"Haha kukira kau tak mendengar suaraku. Kau sudah makan ming?"
"Ne, aku tak menyangka kau bisa membuat itu." Sungmin terkikik geli, tetapi tidak sampai terdengar oleh Kyuhyun, suaminya.
"Ya! Kau sudah berani menghinaku eoh? Walau bagaimanapun, aku ini ini suami yang bisa diandalkan." Sang suami mencibir tidak terima.
"Ne aku tahu. Aku kan hanya bercanda." Sungmin mengerucutkan bibirnya.
"Kau pasti sedang mengerucutkan bibirmu itu, aku benar kan? Hahaha." Kyuhyun tertawa membayangkan wajah Sungmin.
"Kenapa kau tahu oppa? Tapi aku senang, kau mau membuatkanku makan pagi, yah walaupun rasanya tidak senikmat buatanku tapi itu sudah sangat hebat untuk ukuran orang sepertimu. Hahaha, gomawo oppa."
"Ya! Kau mengucapkan terima kasih tapi sekaligus menghinaku. Tapi tak masalah, selama yang menghinaku itu princessku, Lee Sungmin ah ani, Cho Sungmin." Kyuhyun memulai mengeluarkan jurus gombal mautnya.
"Ya sudahlah, kalau aku tak menutup teleponnya kau pasti akan menggombaliku terus menerus. Aku tutup saja teleponnya, annyeong oppa." Sungmin memutus sambungan telepon itu dan meletakkannya di samping bantal, di tempat tidurnya. Ia meregangkan badannya lagi sebelum akhirnya ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi mewahnya yang ada dalam kamarnya. Ia segera menuju meja rias dan duduk tepat didepan cermin besar itu. Ia memandangi tubuhnya yang masih sama seperti dulu sebelum ia menikah hanya saja perutnya terlihat lebih besar. Ia membuka simpul tali pada bathropenya, ia menyingkap bathrope itu dari tubuhnya sehingga perut mulus itu terlihat jelas di cermin. Ia mengelus perutnya perlahan, mencoba merasakan kehidupan di dalam sana. Sesaat setelah itu ia tersenyum. Ia sangat bahagia menyadari bahwa dalam hitungan beberapa bulan lagi, ia akan menjadi seorang ibu. Hidupnya akan terasa sangat sempurna sebagai seorang wanita. Namun berbagai pikiran juga menghantui pikirannya. Dengan tubuh seperti ini, dengan perut yang akan terus membesar , apakah ia akan tetap terlihat menarik di mata suaminya? Apakah suaminya tetap akan menyentuhnya? Apakah suaminya akan tetap mencintainya? Apakah suaminya akan berpaling darinya? Bayangan-bayangan itu terus membuatnya merasa takut. Sudah cukup ia merasakan bagaimana sedihnya kehilangan Kyuhyun sementara, dan itu sungguh menyiksanya baik lahir maupun batin. Tiba-tiba hatinya merasa sangat sedih. Ia juga merasa heran bagaimana perasaannya begitu cepat berubah-ubah? Namun menurut dokter pribadi yang mengawasi kehamilan Sungmin, hal ini adalah hal yang wajar dialami oleh wanita yang sedang mengandung.
Sungmin merasa bosan di rumah, ia menuruni tangga rumah mewahnya dan bertemu dengan kepala pelayan di rumahnya. Kepala pelayan itu, sebut saja Kim ahjumma membungkukkan badannya hormat. Sungmin tersenyum kemudian menyapanya.
"Annyeong Kim ahjumma." Sungmin menunjukkan deretan gigi kelincinya yang rapi. Kim ahjumma terperangah melihat Sungmin. Sungmin terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Kim ahjumma menyadari bahwa ini adalah aura ibu hamil yang membuat wanita terlihat berkali-kali lebih cantik dari biasanya.
"Annyeong nyonya Cho." Kim ahjumma membalas sapaan Sungmin dengan kembali membungkuk.
Sungmin kembali tersenyum. Ia menduduki sofa dan melihat majalah fashion yang menjadi bacaan favoritnya. "Nyonya sangat sangat cantik pagi ini." Kim ahjumma memuji Sungmin sambil tersenyum.
"Ah ahjumma bisa saja, aku tidak cantik kok ahjumma." Sungmin kembali tersenyum dan melanjutkan acaranya, membaca majalah.
"Kalau nyonya tidak cantik, mana mungkin tuan muda Cho tergila-gila dengan nyonya." Kim ahjumma membalas perkataan Sungmin dengan sebuah godaan.
"Haha aku hanya beruntung saja ahjumma. Ah ya, ada yang ingin kutanyakan pada ahjumma, apakah tadi pagi Kyuhyun oppa membuat makan pagi untukku tanpa dibantu?"
"Ne, semua pelayan di rumah ini terkejut melihat tuan muda Cho memasuki dapur mengingat ini pertama kalinya tuan muda melakukan hal ini. Saat pelayan ingin membuatkan roti dan susu untuk nyonya, tuan muda melarang kami semua, ia bilang ia ingin membuat roti dan susu yang istimewa untuk nyonya, membuat roti dengan kasih sayang dan cinta. Haha indahnya masa muda." Kim ahjumma tersenyum senang mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi.
"Dasar Kyuhyun oppa, menggombal tidak tahu tempat dan waktu." Sungmin mengerucutkan bibirnya kembali untuk yang kesekian kalinya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia sangat tersentuh dengan usaha Kyuhyun.
"Kim ahjumma, tolong siapkan mobil dan supir ne, aku akan pergi berbelanja." Ia tersenyum pada Kim ahjumma dan segera menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengganti baju. Setelah siap ia kembali menuruni tangga dan segera masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan khusus untuknya. Mobil yang membawa Sungmin segera melaju menuju salah satu department store terbesar di Seoul. Setelah sampai, ia melangkahkan kaki memasuki gedung itu. Kakinya membawanya mengelilingi seluruh bagian department store, walaupun ia sedang hamil, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga wanita yang pasti sedikit banyak memiliki naluri berbelanja. Ia melangkahkan kaki menuju tempat kebutuhan sehari-hari. Ia memilih banyak bahan makanan dan juga sayur yang rencananya akan dimasaknya sendiri. Ia selalu bersemangat memasak sayuran untuk Kyuhyunnya. Ia tahu bahwa sayuran adalah salah satu dari beberapa hal yang paling dibenci Kyuhyun. Namun ia tidak pernah patah semangat untuk membujuk Kyuhyun memakan makanan yang menurut Kyuhyun sangat menjijikkan itu.
...
Kyuhyun baru saja menyelesaikan meeting dengan kolega bisnisnya. Ia mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi kerja di ruangan kerja pribadinya. Ia menutup mata, meregangkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya. Sesaat ia teringat oleh wanita cantik yang selama beberapa bulan ini telah menjadi miliknya, pendamping hidupnya. Ia meraba saku celana kerjanya untuk mendapatkan benda berbentuk kotak itu. Galaxy note berwarna hitam. Ponsel miliknya dan milik Sungmin memang sama hanya berbeda warna saja, miliknya berwarna hitam sedangkan milik istrinya yang maniak warna pink itu tentu saja warna pink. Ia menekan tombol unlock dan wallpaper pada ponsel itu menyapa penglihatannya. Ia tersenyum memandang foto wanita cantik pada ponselnya. Foto Sungmin, istrinya begitu cantik terpampang di ponselnya. Pikiran Kyuhyun melayang jauh ke kejadian indah tadi malam. Saat ia dan istrinya "bersatu", saat ia bergerak di atas tubuh istrinya, sangat ia merasakan gejolak luar biasa dari dalam tubuhnya. Ia tersenyum sendiri, ia jadi merasa seperti remaja yang baru saja mersakan jatuh cinta. Kyuhyun segera mengetikkan beberapa kata di ponselnya dan mengirimkannya pada istri tercintanya.
Sungmin masih terlena dalam aktivitas berbelanjanya sebelum ponsel pink kesayangannya bergetar indah. Ia mengerutkan dahi saat memandang sebuah pesan yang berasal dari seseorang yang sangat sangat dikenalnya. Kyuhyun.
"Kyuhyun oppa? Ada apa ia mengirimiku pesan?" Sungmin menggumam sendiri.
"Chagi kau sangat seksi tadi malam. Bahkan desahanmu masih terus teringat di otakku. Saranghae." Sungmin membaca pesan yang ia terima dari suaminya itu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ia mempunyai suami yang sangat-sangat pervert.
"Ya! Kau ini apa-apaan oppa? Mengirimiku pesan hanya untuk mengatakan ini? -_-" Sungmin menyentuh tombol sent di ponselnya.
"Hahaha aku hanya berkata sejujurnya. Bahkan saat meeting tadi yang terus terbayang di otakku hanya tubuhmu. Saranghae." Sungmin kembali terbelalak membaca balasan pesan dari Kyuhyun. Wajahnya memerah membaca pesan itu. Dengan segera Sungmin membalasnya.
"Dasar Kyuhyun oppa namja paling pervert sedunia!" Sungmin mengirim pesan itu sambil mengerucutkan bibirnya lagi.
"Aku hanya pervert saat bersamamu. Sampai nanti, saranghae." Kyuhyun membalas pesan itu dan segera mengunci tombol ponselnya. Ia teringat janji check up dengan konsultan pribadinya. Saat kantor memasuki jam makan siang, ia segera keluar kantor dan menuju ke tempat konsultasi tujuannya. Ia memasuki tempat itu dan segera menuju ruangan milik konsultannya.
"Selamat siang tuan Cho." Sang dokter menyapa Kyuhyun ramah dan segera menjabat tangan Kyuhyun.
"Selamat siang uisa-nim." Kyuhyun menjawab lalu setelah itu tersenyum. Kyuhyun kemudian langsung membaringkan tubuhnya untuk diperiksa. Setelah selesai diperiksa ia kembali duduk di kursi sebelumnya untuk segera mengetahui tentang perkembangan usahanya untuk menghilangkan kelainannya.
"Menurut pemeriksaan saya, ini benar-benar perkembangan yang sangat baik untuk kesembuhan kelainan anda tuan. Saya juga mendeteksi bahwa kelainan itu saat ini tidak terlalu tinggi dalam diri anda, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Anda juga tampak lebih bahagia dan bersemangat hari ini. Apakah anda sedang bahagia tuan?" Dokter itu tersenyum, nampaknya dokter itu sangat paham dengan kondisi baik Kyuhyun kali ini.
"Ne, saya melakukannya dengan istri saya tadi malam, dan itu sungguh sangat luar biasa. Pagi ini saya tidak merasakan ketidaknyamanan yang beberapa hari ini saya rasakan. Istri saya sangat luar ." Kyuhyun mengakhiri pernyataannya dengan senyuman lebar.
"Ini suatu perkembangan yang baik tuan, apabila anda bisa terus mengalami keadaan seperti ini dan grafiknya terus menerus naik, saya bisa pastikan kelainan anda akan cepat hilang."
"Tapi bagaimana dengan istri saya uisa-nim? Dia sedang mengandung."
"Tidak masalah apabila itu tidak sampai mengganggu janin dalam rahim istri anda. Yang terpenting anda jangan sampai bermain kasar, itu akan sangat membahayakan janin anda tuan, tentu anda tidak ingin kehilangan anak pertama anda bukan?" Sang dokter menjelaskan dengan sangat bijaksana.
"Ne uisa-nim. Saya merasa jauh lebih baik sekarang. Kamsahamnida." Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar dari tempat konsultasi tersebut dan segera melajukan mobilnya kembali menuju kantornya.
...
Sungmin masih menyusuri department store megah itu sebelum ada suara seseorang memanggilnya.
"Lee Sungmin, lee sungmin!"
Sungmin menolehkan kepalanya ke belakang, ia menyipitkan matanya untuk mengetahui siapa yang baru saja memanggilnya. Sungmin masih saja memperhatikan sosok wanita yang memanggilnya. Wanita itu terus mendekat. Sungmin terus menajamkan ingatannya akan sosok wanita itu sampai akhirnya satu nama muncul di benaknya.
"Kim ryeowook?" Sungmin bertanya ragu.
"Ne, kau melupakanku eoh?" Ryeowook atau yang biasa dipanggil Wookie menatap Sungmin sebal.
"Kau benar-benar Kim Ryeowook? Aaaaaaa neomu bogoshippeo." Sungmin berteriak histeris sambil memeluk Wookie. Wookie membalas pelukan Sungmin, tetapi saat melepaskan pelukan itu, ia merasa tidak enak dengan orang-orang yang memandangnya aneh.
"Apakah kau sudah selesai berbelanja? Kalau sudah sebaiknya kita cepat pergi, orang-orang memandangiku dengan tatapan aneh."
"Ah baiklah, kajja." Sungmin dan Wookie berjalan keluar dari department store itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meneruskan obrolan ringan mereka di sebuah kedai kopi.
"Ya Lee Sungmin! Kenapa kau melupakanku eoh? Kau tidak ingat dengan sahabat baikmu di SMA ini?" Wookie bertanya dengan nada sebal.
"Aniya, bukan begitu. Aku hanya terkejut, kau sangat cantik sekarang." Sungmin menjawab pertanyaan Wookie sambil tersenyum.
"Kau bisa saja kau juga sangat sangat cantik. Ah apakah yang ada diperutmu itu janin Minnie?" Wookie bertanya serius.
"Haha ne, kau tahu saja. Kau pintar."
"Tentu saja aku tahu, aku ini dokter kandungan babo!"
"Wah hebat sekali, ternyata cita-citamu saat SMA tercapai juga. Oh ya, apakah kau masih bersama dengan Jong Woon oppa si babo berkepala besar itu?"
"Ya jangan menghinanya! Aku dan dia sudah bertunangan, bulan depan kami akan menikah. Lalu siapa ayah dari janin dalam perutmu Minnie?"
"Kau lupa? Aku pernah mengenalkanmu pada kekasihku kan? Dia menjadi suamiku sekarang."
"Ah maksudmu Cho Kyuhyun? Aku mengingatnya, aku pikir kau dan dia tak akan bertahan lama."
"Ya maksudmu apa? Tentu saja bertahan lama, aku sangat menyayanginya."
"Ne ne aku tahu. Kau terlihat sangat bahagia Minnie, ada apa?"
"Kau tahu tadi malam aku melakukan itu dengan suamiku." Jawab Sungmin setengah berbisik.
"Melakukan apa? Maksudmu melakukan "itu"?" Wookie menjawab dengan bisikan pula.
"Ne. Dan kau tahu, aku sangat sangat bahagia. Dia sangat jantan tadi malam." Sungmin senyum-senyum sendiri mengingatnya.
"Lee Sungmin kenapa kau pervert begini? Yang aku kenal kau tak seperti ini."
"Aku tidak pervert Kim Ryeowook, aku hanya berbagi cerita denganmu saja."
"Baiklah, terserah kau saja. Apakah kalian bermain kasar? Hati-hati Minnie, itu berbahaya untuk janinmu." Wookie mencoba menasihati.
"Tidak, dia sangat lembut padaku. Ah aku bahagiaaa." Sungmin kembali mengungkapkan kebahagiaannya.
"Ya ya ya, kau membuatku sangat iri Lee Sungmin. Selamat untuk kehamilanmu ne?" Wookie tersenyum. Ia merasa senang melihat sahabatnya ini juga senang.
"Gomawo Wookie-ah, cepatlah menikah dengan tunaganmu itu dan segeralah hamil, jadi kita akan hamil bersama."
"Mwooo?"
T.B.C
