Suikoden Destiny

Chapter 1

Shimmering Hope

"I see a hope in your eyes, hope that'll change the world."

Setelah beberapa hari berjalan bersama Enhart, hanya dengan bekal beberapa buat apel yang semakin lama semakin berkurang. Ryan pun sampai pada batas ketahanan dirinya.

"Enhart..." panggilnya Ryan dengan lemah. "Sudah beberapa hari kita berjalan..."

Cryslik merah itu hanya menyahut pendek. "Kyuuu..."

"Aku tahu, kita berdua sudah lama berjalan..."

Terik matahari membakar mereka, Ryan yang merasa tubuhnya tidak sanggup lagi, jatuh begitu saja ke tanah. Enhart pun mulai gelisah melihatnya. "Jangan khawatir, aku tidak apa-apa..." katanya sambil mengelus bulu Enhart.

Tiba-tiba saja Enhart menyahut keras. "KYUUU!!!!!"

Ryan mengerti bahwa Enhart menemukan sesuatu. Dengan sisa tenaganya, dia berusaha berdiri dan mengikuti Enhart yang terbang rendah.

Maka tambahlah dari kejauhan, sebuah kota dengan dinding batu yang besar. Kota yang pertama kali dia temui sejak meninggalkan Errhean.

Liera Knightdom

Sebuah kota pelatihan prajurit muda. Di dinding pembatas kota pun tampak pos-pos penjagaan yang ketat seperti penjara.

Ryan bersama Enhart pun memasuki kota itu. Yang dia lihat di sana, sangat berbeda dengan Errhean. Banyak sekali pemuda-pemuda dengan baju besi berjalan ke sana sini, benar-benar kota prajurit. Meskipun begitu masih ada toko-toko dan inn-inn yang buka. Liera Knightdom, juga dikenal dengan kota yang sangat sibuk, tidak peduli siapa yang mereka yang mereka tabrak, asalkan bisa cepat.

Ketika Ryan memasuki kota itu, dia merasa beberapa mata memandangnya dengan aneh. Mungkin karena pakaiannya, mungkin juga karena Enhart, tapi dia tidak begitu peduli. Yang paling penting sekarang gimana cara dia mengisi perutnya yang sedang kelaparan ini.

Ryan mencoba ke sebuah toko yang menjual buah-buahan. Dia pun mulai berpikir untuk menukar apa untuk mendapatkan buah itu. Ketika Ryan ingin bertanya pada pemilik toko itu, tapi didahului oleh seorang wanita.

Ryan melihat wanita itu menukar sesuatu seperti koin untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Maka dengan begitu, dia pun pergi sambil berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan koin seperti itu.

Oleh karena lapar, kepala ryan pun mulai pusing, dia tidak dapat dengan jelas melihat, dan tidak sengaja menabrak seorang komandan angkatan. Pria itu mulai marah karena Ryan menabraknya. "Apa-apan kau ini!!! Punya mata untuk melihat tidak!!!" Komandan itu tidak mau membiarkan Ryan lepas begitu saja dan meminta ganti rugi. "Kau harus mengganti rugi karena telah menghalagi jalanku!!!"

Sambil memperhatikan pakaian Ryan yang aneh beserta Enhart yang berada di sebelahnya.

"Tangkap burung merah itu!!! Sekarang!!" Komandan itu memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Enhart sebagai ganti rugi. "Baik! Komandan!"

Karena Enhart tidak suka dipegang oleh org lain selain Ryan, dia pun membrontak. "KYUUUUU!!!!!!!!!!!" Orang-orang mulai mengelilingi mereka, melihat apa yang terjadi.

"Jangan!" Ryan yang berusaha menenangkan Enhart, "Kau jangan ikut campur!!" Ryan kemudian dihajar oleh salah satu prajurit itu sampai terpental ke tanah. Enhart memberotrak lebih kuat karena melihat Ryan dipukul. "Apa-apaan binatang satu ini!" Sampai-sampai komandan itu mengeluarkan pedang untuk melukai Enhart, "Mati saja kau ini!!"

Tiba-tiba saja sekumpulan orang yg mengelilingi mereka membuka jalan, dan seseorang dengan kerudung coklat lewat. Orang-orang di sekeliling pun mulai berbisik, sampai-sampai komandan itu pun terdiam dan menghormat dia. "Komandan Pelatihan Prajurit Baru, saya harap anda segera kembali ke posmu sekarang juga." Hanya dengan beberapa kata, mereka mundur meninggalkan Ryan dan Enhart, juga orang-orang di sekeliling mereka mulai bubar.

Si kerudung hitam itu membantu ryan berdiri, sambil mengulurkan tangannya. Ryan langsung bangun dan melepaskan ikatan Enhart. "Enhart! Kamu tidak apa-apa!?" Cryslik itu langsung menghantam paruhnya pada Ryan hingga jatuh. Sekarang justru si kerudung itu tam itu yang berbalik menanya keadaan Ryan.

"Arrggghh..." geramnya sakit, karena hantaman itu tepat pada memar di pipinya.

"Kamu tidak apa-apa anak muda?" tanya kerudung coklat itu. Suaranya terdengar feminim dan halus. "Saya harap mereka tidak begitu menyusahkanmu."

Wanita itu meminta maaf pada Ryan, karena perbuatan komandan tadi.

"Aku tidak apa-apa." kata Ryan sambil membalas senyuman hangat wanita itu. "Benarkan Enhart? Kita baik-baik saja kan?"

Ryan tidak begitu memperhatikan memar di wajahnya akibat perbuatan prajurit tadi. Meskipun Enhart mengelus-eluskan kepalanya di memar itu.

"Hentikan Enhart, itu geli, hahaha..." Tawanya dengan paksa untuk menahan sakit tersebut. Tapi Enhart mengenal Ryan lebih dari siapa pun, makanya dia sangat khawatir. "Kyuu..."

Wanita itu tiba-tiba saja menyetuh memar Ryan dan berbisik. "Wahai roh air Undine, sembuhkan luka anak ini..." Dalam sekejap memar di wajah Ryan menghilang begitu juga dengan luka di badannya.

"Ini sebagai tanda maafku yang pertama, dan yang kedua karena kecerobohanku. Maukah kamu ikut bersamaku ke inn? Sepertinya kamu perlu sesuatu untuk menghentikan suara itu." katanya sambil menahan tawa mendengar suara perut Ryan dan Enhart.

"Uh... B-Baiklah kalau begitu... Maaf..." Kata dengan suara kecil dan malu.

"Kuueee!"

"Enhart! Kamu juga menertawakanku!" Muka Ryan semakin merah padam karena malu. Lalu Ryan dan Enhart pun mengikuti wanita berkerudung itu ke sebuah inn terdekat.

Ryan, Enhart bersama dengan wanita berkerudung itu, masuk ke sebuah inn. Dapat di bilang inn itu tidak terlalu baik, juga tidak terlalu buruk. "I-Ini..."

Ryan hanya bisa berkata begitu, ketika melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sama sekali. Pemandangan yang sangat memalukan. Wanita penghibur dimana-mana. Suasana dalam ruangan itu terasa sangat kotor.

"Maaf, tapi inilah inn terbersih yang ada di kota ini." Wanita itu mengambil meja dekat pintu, untuk memudahkan udah segar masuk. "Silakan duduk..."

Ryan dan wanita berkerudang itu duduk bersamaan di meja yang sama. "Sebelum itu..." Katanya sambil membuka kerudung coklatnya. Tampaklah seorang wanita muda sekitar 20-an, dengan rambut coklat panjang dan mata hijau. Dia memakai seragam putih dengan jahitan emas dan sebuah lambang di lengan kanan seragamnya. "Namaku Alicia."

"Ryan..." Ryan menjabat tangan Alicia, meskipun dia sedikit ragu. Sepertinya dia pernah melihat lambang di lengan seragam Alicia. "Dan ini adalah Enhart."

"Kuueee!"

Enhart menyahut sebagai tanda senang. "Alicia, sebenarnya aku yang seharusnya sangat berterima kasih karena sudah menolongku tadi. Kamu bahkan menyembuhkan luka-lukaku!" kata Ryan dengan senang.

"Itu hanya hal biasa." Alicia kemudian memanggil pelayan inn tersebut dan memesan makanan. Ryan, sambil mengelus Enhart yang berbaring di sebelahnya, terus memandang lambang itu. Mencoba mengingat, kapan dia pernah melihatnya.

"Ada apa?" tanya Alicia yang membuyarkan konsentrasi Ryan.

"T-Tidak!? Tidak ada apa-apa. Cuman memikirkan sesuatu." Jawab Ryan dengan tergesa-gesa. "Baguslah kalau begitu." Tanggap Alicia. Pelayan itu pun kembali dengan membawa Curry Rice, Egg Rolls, Beef Steak, Tomato Soup. Ryan memndang memandang makanan tersebuat dengan mata besar, semuanya belum pernah dia lihat kecuali Tomato Soup.

"Nikmatilah hidangan ini." Alicia pun tersenyum hangat.

"Enhart, ini bagianmu. Daging kesukaanmu." kata Ryan sambil mengeser Beef Steak ke depan Cryslik merah itu. "Kueee!"

"Hmm..." pikir Alicia sambil memandang Ryan. "Ini enak!" kata Ryan senang disambut sahutan Enhart. "Sepertinya kamu belum pernah makan yang beginian." komentar Alicia, membuat pipi Ryan sedikit memerah. "Di desaku tidak ada makanan seperti ini."

"Memangnya kamu berasal dari mana?" tanya Alicia lagi. "Errhean... Tapi... itu sudah tidak ada lagi... "Jawab Ryan dengan raut muka yang mulai berubah sedih. "Maafkan aku, sepertinya itu mengingatkanmu pada sesuatu yang sangat menyedihkan."

Enhart pun berhenti makan dan memandang Ryan dengan sedih juga. "Kyuuu..."

"Aku sudah tidak apa-apa, Enhart. Jangan khawatir." Ryan membalas tatapan itu dengan tersenyum sambil mengelus kepalanya. "Itu sudah berlalu."

"Kita tidak perlu membahas topik itu lagi." Kata Alicia memotong pembicaraan tersebut. "Sekarang makanlah, supaya kalian punya cukup energi untuk berjalan lagi."

Gerbang Luar Liera Knightdom

Setelah selesai makan, Ryan pun bertekat dalam dirinya untuk melanjutkan perjalanannya untuk mencari penduduk Errhean yang meninggalkan desa itu. Dia juga memutuskan untuk tidak membuat orang lain menderita karena dirinya.

"Setelah ini, kamu aka pergi kemana?" tanya Alicia tiba-tiba.

"Tidak tahu, tapi satu hal yang pasti. Aku akan pergi mencari teman-temanku yang pergi meninggalkan desa." Ryan pun menjawab dengan mantap.

"Baguslah, kalau begitu. Aku senang mendengarnya." Alicia lalu meraba kantong seragamnya, dia mengambil kontong kulit yang isinya sepertinya lumayan berat. "Ini, kamu pasti akan membutuhkannya nanti." Alicia pun menyerahkan kantong kulit itu pada Ryan. "Pergunakan ini baik-baik."

"Alicia, aku tidak bisa menerima ini! Kamua sudah terlalu banyak membantuku!" Ryan mendorong kantong itu kembali pada Alicia keteka dia membukanya untuk melihat isinya. "Aku tahu benda ini sangat berharga! Kamu mengunakan ini untuk hidup! Aku tidak bisa mengambilnya!"

"Tidak apa-apa. Aku melakukan ini karena aku melihat sesuatu yang membedakanmu dengan yang lain. Sinar matamu ini sangat berbeda dengan semua orang yang pernah kutemui... ya... sangat berbeda..."

"Alicia, aku..." Ryan tidak bisa berkata panjang. "Baiklah, kalau itu keinginanmu. Enhart, kita beruntung bisa bertemu orang baik seperti dia ya."

"Kuee!!"

"Ryan, kamu memiliki cahaya harapan yang sangat besar. Semoga kamu bisa menemukan apa yang kamu cari. Biarlah Sylph, menuntun jalanmu." Doa Alicia. "Dan aku juga yakin, kita akan bertemu lagi suatu hari."

"Sampai jumpa, Alicia." Kata Ryan pada wanita itu, sambil melambaikan tangannya.

Sosok Ryan semakin jauh dari pandangannya. "Semuanya telah dimulai..." Wanita itu kembali mengenakan kerudungnya coklatnya dan berjalan masuk Liera. Seorang prajurit telah menunggunya di dalam gerbang dan kemudian mensalutnya.

"Salam Admiral."

Pemuda Errhean, Cryslik merah, dan Wanita berkerudung, telah memutuskan jalan yang mereka pilih, untuk menghadapi masa depan yang sama sekali tidak mereka ketahui...

to be continue...

Mulai dari sini, keterampilan membaca map sangat di butuhkan. Oleh karena itu ini url map dan sejarah:

- Geography

- History of Suikoden Destiny

Next Chapter : The Wanted Poster and The Meeting