Suikoden Destiny
Chapter 2
The Wanted Poster dan The Meeting
"It was fate that brought us together..."
Setelah pertempuran besar antara Harmonia, Grassland dan Zexen, The Swordmaster Casden akhirnya memutuskan untuk pergi ke Western Continent untuk melanjutkan pencarian saudaranya yang hilang 12 tahun yang lalu.
Setelah melewati berbagai macam rintangan yang sulit, sampailah dia ke Ruhe Village yang berada di bawah kekuasaan Soren Parliamentary.
Tanpa pikir panjang dia langsung menuju ke sebuah inn sederhana untuk beristirata sekaligus mencari informasi yang dia butuhkan.
Tiba-tiba saja sebuah angkatan bersenjata Soren datang membawa selembaran kertas, sepertinya itu poster boronan yang sedang di cari. Tapi satu hal yang pasti, Casden tidak ingin ikut campur dengan masalah yang tidak lama lagi akan terjadi.
"Semuanya harap berkumpul di tengah desa!" perintah komandan angkatan itu. Mereka pun mulai menempelkan sebuah pamlet besar di papan pengumunan desa, yang berbunyi:
Dicari!
Hadiah 50.000 Gold
Orang dengan ciri-ciri:
- Memakai headband yang terbuat dari kulit dengan hiasan bulu merah di samping kanan atau kiri kepalanya.
- Membawa burung berwarna merah sebesar Griffin, kadang berukuran kecil.
- Berpakaian garb asing berwarna coklat kehitaman.
- Penggunaan bahasa sedikit berbeda.
- Tidak mengenal uang emas.
Barang siapa yang melihat orang dengan ciri-ciri seperti itu, harap segera melapor pada tentara Soren.
Tertanda,
Majelis Tertinggi Soren.
Pencarian boronan yang aneh, tanpa gambar pelaku, hanya dengan ciri-ciri demikian, siapapun bisa ditangkap. Tanpa mempedulikan apa yang akan dikatakan lagi oleh Tentara Soren, Casden pergi meninggalkan tempat itu dan mencari bar ataupun inn kecil.
Sampailah dia ke sebuah inn yang lumayan sederhana. Tapi begitu dia membuka pintu tersebut, bar inn tersebut telah penuh, hanya satu meja yang tersisa dekat jendela. Dia tahu itu adalah tempat yang cocok bagi dirinya.
Casden pun duduk di sana dan kemudian dia memanggil pelayan inn itu, untuk membawakannya sebotol Kanakan Wine kesukaannya. Setelah itu, dia pun duduk sambil memandang keluar dan menunggu waktu berlalu.
"Enhart, akhirnya kita sampai juga ke desa!" kata Ryan dengan senang yang ditambah dengan sahutan crysliknya. "Aku tidak tahu kalau barang yang kita dapat dari monster bisa ditukar dengan uang."
"Kuee!" Cryslik merah itu langsung mengelus-eluskan kepalanya di pipi Ryan dengan penuh kasih.
"Enhart! G-Geli! H-Hentikan! Hahahaha!!" Sentuhan itu cukup membuat Ryan geli yang membuat Enhart semakin senang. "Aku tahu kau sedang gembira. Begitu juga denganku."
Sambil menghentikan perbuatan Cryslik merah itu, Ryan kembali mengelus-elus kepalanya Enhart dan berkata. "Baiklah, ayo kita kunjungi tempat ini, untuk beristirahat."
Ruhe Village
Sebuah desa yang tenang, dekat dengan perairan. Angin laut pun terasa hembusannya yang membuat hati menjadi tenang. Desa itu berada di selatan Liera Knightdom. Di belakang desa itu pun terdapat sebuah air terjun besar.
"En, bagaimana jika kita beristirahat sebentar?" tanya Ryan pada Crysliknya.
"Kyuu!"
"Aku tahu." jawab Ryan. "Kita cari inn dulu." balas Ryan sambil mengelusnya.
Saat Ryan dan Enhart melanhkah masuk ke desa itu. Puluhan mata memandang mereka berdua. Ryan tidak merasakan pandang itu akan tetapi Enhart merasakannya.
"Kueee..."
Panggil Enhart dengan pelan pada majikannya. "Aku tahu En, kau lapar bukan." Ryan yang tidak mengerti hal tersebut, terus berjalan dan mencari inn, membuat Enhart tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti Ryan.
Akhirnya Ryan menemukan sebuah inn dekat dengan item shop. Inn itu cukup sederhana, sambil memandang sekelilingnya, mencari tempat kosong. Sayangnya semua meja telah dipenuhi oleh orang.
"Kyuu..."Enhart memanggil majikannya sambil menunjuk sesuatu." Tapi En, meja itu sudah ada orangnya. Dia tidak mungkin ingin berbagi dengan kita",tanggap Ryan.
"Kyuu!" panggil Enhart lagi."Dia akan berbagi? Kau pasti En?"tanya Ryan lagi, burung yang pintar itupun menganggukkan kepalanya" kalau begitu... mari kita coba..."
Ryan berjalan kepada seorang pria yang sedang termenung melihat keluar. Ryan langsung mengetahui bahwa dia adalah seorang pengembara dari pedangnya yang diletakkan diatas meja.
"Permisi tuan,bisakah kami ikut bergabung denganmu, tempat lain telah penuh," kata Ryan sambil berharap pria itu akan mengijinkannya.
"Silakan...lagipula sebentar lagi aku akan pergi..." kata pria itu begitu ia terbangun dari lamunannya.
"Terima kasih,kalau begitu." Sambil mengambil kursi di meja itu untuk duduk. "En, seperti katamu dia orang yang baik." Kata Ryan kepada Crysliknya.
"Kau..." kata pria itu dengan raut muka sedikit berubah.
"Hmmm..." Ryan pun pertanya tanpa curiga. "Ada apa?"
Pria itu mengeleng kepalanya.
"Namaku Ryan, dan ini Enhart, temanku." kata Ryan sambil memperkenalkan dirinya.
"Casden..." jawab pria itu singkat.
"Senang bertemu dengan anda." senyum Ryan hangat.
Casden POV
Headband kulit dengan bulu merah
Casden pun mulai teringat.
Membawa burung merah sebesar Griffin
Dia pun memandang teman yang dibawa Ryan.
Berbulu merah... pikirnya
"En, kau mau makan apa?" tanya pemuda itu pada temannya itu.
"Kyuuu!" sahut burung itu.
"Rasanya aku tahu apa yang kau inginkan." Pemuda itu pun memanggil pelayan inn tersebut. "Curry Rice 2 dan Steak ukuran besar."
Casden tetap memandang pemuda itu.
Tidak mengenal uang emas... Tapi dia mengenal hal itu
End of Casden PoV
"Tuan ini semua pesanan anda." kata pelayan inn itu sambil membawa pesanan Ryan. "Tuan Casden, ini sebagai tanda terima kasih dariku." kata Ryan sambil mendorong sepiring Curry Rice padanya. "Tidak, terima kasih."
Casden bangkit dari tempat duduknya menuju counter inn dan berkata sesuatu pada pemilik inn itu, sambil mengambil sebotol wine. Pelayan inn itu pun datang pada Ryan dan berkata. "Biaya makan anda telah dibayar pria itu." Ryan memandang Casden yang naik ke lantai dua. "En, kita berhutang banyak padanya."
"Kuee!" sahut Enhart setuju. "Ayo cepat kita selesaikan makan kita." Enhart sejenak memandang Ryan dengan raut muka yang sedikit berbeda dengan biasanya, kemudian dia pun kembali menyantap steak tersebut.
To be continue...
Next Chapter : Nightmare
