Suikoden Destiny
Chapter 3
Nightmare
"If this meant to happened... then left me without a hope..."
Casden PoV
Sudah hampir tengah malam, tapi matanya tidak dapat dipejamkan. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Casden berjalan menuju ke jendela kamarnya, samar-samar olehnya, sinar merah kekuningan yang cukup banyak dari daerah air terjun, mulai bergerak kearah inn yang dia tempati.
"Ini buruk..." dia langsung mengambil jubah dan pedangnya, bersiap-siap melompat keluar jendela dari lantai 2. Menunggu sampai penduduk desa itu masuk ke dalam inn.
"Ini saatnya..." Casden pun melompat terus ke lantai 1
"BRAAKK !!! " Pintu kamar itu pun dibanting buka.
"Serahkan dirimu !!" Tapi di dalam kamar sudah tidak ada siapa-siapa.
Ryan PoV
"Aaagghh... ibu...eric...tidak...jangan!" Ryan pun bermimpi buruk.
Ryan's Dream
"Eric! Jangan!"
Tangannya berusaha meraih tangan adiknya yang berlari kearah tentara
Soren.
"Ayah!? Ibu!?" Dia melihat Soren membantai mereka dengan kejam, menusuk badan mereka berkali-kali. Darah segar membanjiri tanah Errhean.
"Jangan...jangan!!! Hentikan!!"
Orang tuanya dengan badan berlumuran darah berjalan dan merangkak ke arah Ryan. "Ryan, ikutilah bersama...kami..."
Tangan tersebut mencoba meraihnya. "AARRGH!!!"
Seorang tentara Soren menebasnya dari belakang.
"Hahaha!! Kalian binatang tidak perlu hidup! Matilah!"
Kemudian tentara lain membunuh Enhart, menghujamnya berkali-kali. "TIDAK!!!"
"Kyuuu !!! " Enhart berteriak keras, mencoba membangunkan Ryan dari mimpi buruknya. "Kyuu !!!"
Enhart menggunakan paruhnya mencoba menggoyang badan Ryan hingga dia bangun.
"Hah! Hah...hah...hah..." Keringat dingin membasahi dirinya. "Huhu... " Sambil memegang kepalanya dengan 1 tangan dan menarik nafas panjang. " En ... "
"Kyu... " Enhart membenamkan kepalanya pada paha Ryan.
"En...aku sudah tidak apa-apa... " jawab Ryan lemas sambil mebelai Cryslik itu. "Sudah tidak apa-apa ..."
"Tok!!! Tok!!!" Bunyi pintu kamarnya yang diketuk dengan keras.
"Siapa !" tanya Ryan. "Keluar kau boronan Soren!"
Pintu tersebut pun dibanting terbuka. Penduduk desa masuk dengan pisau, tongkat, tombak dan segala macam senjata tajam sambil membawa obor penerang.
"Apa maksud kalian!? Buronan!? Siapa!? " Ryan mulai panik, ditambah dengan Enhart yang bersiap-siap menyerang.
"Tangkap burung merah itu !!! Bocah itu juga !!!" kata seorang pria setengah baya yang membawa tombak.
"L–lepaskan! Lepaskan aku!!!" kata Ryan sambil memberontak melepaskan diri. "Kyu!!!" Ryan langsung memandang Enhart yang diserang dan diikat kuat dengan tali.
"EN!!?" teriak Ryan kuat, sayangnya dia dipukul pingsan sebelum meberontak lagi. "Kyuuu!!!"
Beberapa jam kemudian...
"Uuhh... en ... hart... lepaskan ENHART!!!?" Teriak Ryan.
"Huh... dimana aku..." Keadaan disekelilingnya tampak asing, seperti berada di penjara kayu. Ryan meraba-raba badannya, mencoba mencari flailnya tapi tidak ada. Sepertinya sudah diambil penduduk desa. "En... dimana kau ..."
Ekspresi mukanya sangat sedih, dia merasa akan kehilangan satu lagi orang yang berharga baginya.
"Diriku yang sekarang tidak bisa menolong siapapun..."
Jauh dari tempat Ryan disekap, sebuah gudang tua dekat dengan kandang kuda.
"Dimana burung itu disekap?" tanya seorang pria setengah baya pda kedua penjaga. Langit masih gelap, penjaga itu tidak dapat melihat dengan jelas. "Di gudang tua itu, memangnya kenapa? Agghh!!" Seseorang memukul jatuh kedua penjaga itu.
"Terima kasih atas bantuanmu." kata pria itu setengah baya itu.
"Tidak apa-apa, hanya itu yang dapat kulakukan karena telah menolong kutadi."
"Brak! Brakk!!? Brakk!!!? Kyuuu!!! " Terdengar suara dobrakan dari dalam gudang tua itu.
"Cryslik satu ini sangatlah setia." komentar pria itu. "Baiklah, sekarang!"
Di dalam gudang itu, tubuh cryslik merah terluka karena mendobrak dinding gudang. "Kyuu!!!" Bulu-bulunya yang indah lama-kelamaan rusak dan sayapnya juga terluka. "Kueee!!!"
Enhart pun terbaring lemah, kekuatannya habis untuk mendobrak dinding gudang dengan kedua kaki yang terikat.
"ENHART!!!"
Cryslik itu langsung membalikan pandangannya pada pintu gudang yang dibuka paksa dari luar.
"En!!" Panggilan tersebut membuat Enhart siaga.
"Ini aku, kau pasti mengenal suarakukan!!!"
"Kyuu! " sahut Enhart, dia sangat mengenal suara itu.
"Ayo cepat keluar!" kata pria itu sambil memotong tali yang mengikat kata Enhart. "Ryan menunggumu diluar desa!"
Enhart langsung mengempakan sayapnya untuk bersiap-siap terbang. "En, biarkan pria ini membawamu kesana."
"Tidak ada waktu lagi." Dia menaiki kudanya dan melaju keluar dari Ruhe Village.
"Enhart, cepat ikuti dia!" Burung itu pun mengepakan sayapnya, mengikuti pengendara itu.
"Baiklah ... tinggal dia seorang ..."
Pria itu membalikkan pandangannya pada kincir air desa yang letaknya lumayan jauh dari tempat itu.
To be continue...
Next Chapter : Run Away
