Suikoden Destiny

Chapter 4

Rune Away

"What used for you to lived... if you fail everyone..."

Pagi pun tiba, Ryan dalam keadaan terikat dibawa penduduk ke tengah desa. Tentara Soren pun sudah menunggu nya di sana.

"Atas perintah Raja Luth Kroenenberg, Bangsa Errhean akan bergabung dengan Angkatan Bersenjata Soren dengan syarat. " kata tentara itu sambil mengeluarkan senjata mereka. " Memberi informasi tentang sarang burung merah yang kalian miliki itu."

"Aku tak bisa mengatakannya! Itu rahasia seorang jiva!" balas Ryan.

"Baiklah, jika itu jawabanmu." Komandan pasukan itu memberi sinyal. "Laksanakan sekarang."

Kapak eksekusi pun dikeluarkan. "Berdoalah di hari terakhirmu." kapak itupun diayunkan.

"BOOM !!!?"

Sepertinya salah satu rumah penduduk, tiba-tiba saja meledak. " Ada apa ini!?" teriak komandan itu pada pasukannya.

"Sepertinya ada serangan komandan!"

"Lanjutkan eksekusinya! Biarkan penduduk yang memadamkan apinya!" perintahnya.

"BOOM !!!!!?"

Terdengar lagi ledakan lagi yang lebih hebat dari sebelumnya, dekat dengan tempat Ryan. Arah asap ledakan itu berbalik arah, menyelimuti Ryan karena ditiup angin.

"Kalian! Cepat padamkan apinya!!! Tangkap pelakunya!!!"

"Aaaagghhh!!?" Tiba-tiba saja ada yang menyerang salah seorang tentara Soren dari belakang.

"Ada penyerang!!? Aagghh!!!"

"Ryan, cepat berdiri. Aku datang menolongmu!" Tali yang mengikat tubuhnya dipotong. "Cepat ! Ini flailmu!" Pemilik suara itu menarik tangan Ryan, keluar dari bundalan asap.

Ryan dipaksa berlari secepat mungkin.

"Siapa kau?" tanya Ryan sambil berlari mengikutinya.

"Masak kau lupa padaku!?"

Mereka berlari keluar, keluar dari perbatasan terluar Ruhe Village. Lalu, Ryan melihat 2 orang pria yang sepertinya dia kenal, juga seekor cryslik yang lebih besar dari Enhart.

"En!!!?" panggil Ryan, dia berlari secepat mungkin menjumpai dia.

"Kyuu!!!"

Cryslik itu berusaha terbang, akan tetapi sayapnya terluka.

"Enhart!" Ryan memeluk cryslik itu dan meraba sayap kananya. " En, sayapmu terluka..."

Bulunya yang indah menjadi rusak akibat menobrak dinding gudang. "En, maafkan aku. Seharusnya aku tahu maksudmu."

Di pihak lain dua pria yang menunggu Ryan pun memulai pembicaraan mereka.

"Dengan begitu, aku telah menyelesaikan permintaan anda." Pemuda itu menaiki kudanya.

"Terima kasih atas bantuan."

"Tidak..." pemuda itu membalas sambil mengelengkan kepalanya. "Ini sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku."

Dia membalik kudanya kembali ke arah Ruhe Village. "Bukannya sekarang sangat berbahaya jika kembali ke desa..." komentar pria itu.

"Ada janji yang harus kupenuhi..."

Pemuda itu pun menghilang dalam asap menuju Ruhe Village. Ryan masih sibuk dengan Enhart yang terluka. Dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Tiba-tiba saja pemuda yang menyelamatkannya berkata. "Jangan khawatir, lukanya lebih cepat sembuh dibandingkan manusia."

En, jangan buat aku khawatir lebih dari ini." bisik Ryan pada Cryslik itu. "Terima kasih atas bantuannya, kami pergi sekarang..." Ryan tidak ingin menimbulkan lebih banyak masalah lagi. "Tapi sebelum itu, siapakah kalian ini?"

"Hahaha!!! Apakah 3 tahun itu cukup membuatmu lupa pada kami." tawa laki-laki yang menolong Ryan itu. "Bukannya kau sering melihatku di Tower of Cryslik."

"Ah !! Kan yang sering bersama Pak James si pelatih Jiva itu ! " kata Ryan spontan, " Jadi kau hanya ingat pada ayahku saja. Payah." Pemuda itu sedikit menggaruk kepalanya. "Namaku Carl, semoga kau mengingatnya."

"Kyuu !!! " sambung cryslik merah di sebelah Enhart. "Dan ini Kate."

"Jadi kalian meninggalkan Errhean... " kata Ryan dengan nada sedikit kecewa bercampur senang.

" Mau bagaimana lagi. Jiwa muda perlahan-lahan berkurang." Tanggap Carl dengan tenang. "Bayi cryslik pun mulai melemah sejak Errhean mulai turun. Hei, apakah kota itu kembali melayang?" Tanya Carl penasaran.

Ryan hanya menggeleng kepalanya, ekspresi mulianya berubah total. " Errhean ... Errhean telah hancur... " jawab Ryan suaranya terdengar seperti mau menangis.

"Kenapa bisa !? Bukannya Erhean masih melayang meskipun rendah!" Suara Carl menggema ditelinga Ryan. "Bagaimana dengan keluargaku! Ibu! Nenek! Pamanku!" Carl mengoncang Ryan sekuat tenaganya. "Siapa yang menyerang Errhean!!?" Pemuda itu memaksa Ryan untuk membuka mulutnya dan menceritakan semuanya.

"Aku tidak tahu... beberapa bulan setelah hampir semua pemuda Errhean pergi... sekelompok orang berbaju besi dan berpedang datang menyerang. Mereka menghancurkan... membunuh... membakar semuanya. " Ryan tidak melawan amarah Carl itu, dia membiarkan Carl melampiskan semua pada dirinya.

"Semuanya ... air mata Ryan mulai jatuh." Ryan tidak lagi dapat menahan perasaanya lagi. Semuanya terjadi karena dirinya yang lemah dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. "Yang memilih tinggal di Errhean, dibunuh hari itu juga..."

"Ryan... " bisik James, dia mengerti apa yang dialami Ryan, karena hal itu serupa dengan yang dial akukan dulu.

"Mengapa kau masih hidup!!! Kau yang membunuh semuanya!!! " Sekejap perkataan itu seperti pisau yang tiba-tiba saja menusuk jantung Ryan.

"Aku... "

Dia tidak dapat membalasnya.

"Carl..." Panggil ayahnya. "Semua telah berakhir..."

"Tapi ayah!!! Ryan membiarkan semuanya mati terbunuh!!! "

James memeluk Carl dengan erat. " Sudahlah... hentikan sudah, amarahmu tidak dapat membawa mereka kembali pada kita. "

"Ibu... " Carl membenamkan mukanya pada dada James, sambil menyembunyikan tangisnya. " Carl..."

James membalikan pandangannya pada Ryan. "Ryan, apa yang akan kau lakukan sekarang? " tanya James tenang meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar. "Aku... tidak tahu. Sejak meninggalkan Errhean, aku memutuskan untuk mencari penduduk Errhean yang lain."

"Ryan... " bisik James. "James, apakah ada yang lain bersama kalian? " tanya Ryan.

"Tidak... hanya aku dan Carl. Aku belum bertemu dengan yang lain." Jawab James.

"Baiklah, aku mengerti. "

"Ryan bawalah Carl bersamamu, kalian tidak bisa berada di sini lagi. Seluruh Soren mencari kita." Carl yang mendengar hal itu langsung mengangkat kepalanya. "Tidak ayah!! Kau mau kemana !?"

"Aku akan tetap disini. Mereka pasti curiga jika kita mendadak menghilang begitu saja." jelas James. "Pergilah ke Heleison. Aku yakin banyak orang Errhean di sana."

"Tapi James, aku tidak bisa begitu saja -!?." tanggap Ryan dan James langsung memotongnya.

" Tidak, ini yang terbaik. Pergi sekarang!"

"Kate, jaga mereka!" Cryslik yang besar itu menyahut ketika James memanggil namanya. "Cepat! Bawa mereka dan terbang ke Heleison. Aku jamin Heleison dalam masa damai." Sambil memberikan sekantong obat-obatan pada Ryan. "Ini dapat menyembuhkan luka Enhart dengan cepat."

Ryan mengambil kantong kulit itu dan segera menuju ke arah Enhart. "En, kau sanggup terbang?" tanya Ryan dan Cryslik itu mengangguk. Mereka menunggangi Cryslik masing-masing dan mengudara. Ekor Cryslik yang panjang itu melambai-lambai sebagai tanda perpisahan. Asap kebakaran di desa semakin meninggi dan menghalangi pandang orang ke angkasa.

Tapi apakah ini akhir dari semua permasalahan, atau malahan sebuah permulaan...

to be continue...

Next Chapter : The Captors