Secret Present

Version One

Pink Violin Perspective of View

Seorang anak perempuan tersenyum melihat pemandangan dirinya sendiri di cermin. Setelah puas memandang bayangan dirinya dia berlari keluar pintu.

"Pink-Violin! Kau mau kemana?" teriak seorang wanita dari arah dapur.

"Ke festival penyambutan KonohaGakure! Kemana lagi?" Pink-violin balas berteriak dan lari keluar rumah begitu saja. Mengabaikan perintah ibunya yang menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu.

"Anak itu.. Benar-benar.." keluh ibunya sambil menyiapkan piring di meja makan. Tapi aku juga tidak bisa melarangnya.. Ini memang benar-benar hari besar karena KonohaGakure, desa besar dari aliansi 5 negara ninja yang terkenal itu, mau berkunjung ke IndonesiaGakure ini.. Batin sang Ibu sambil menghela napas.

Pintu gerbang desa tampak dirias dengan meriah. Dimana-mana berkibar bendera merah putih kecil-kecil, tanda IndonesiaGakure, untuk menyambut datangnya utusan dari KonohaGakure. Orang-orang sudah ramai berdiri untuk melihat para tamu yang datang. Membentuk sebuah garis lurus yang rapi.

"Hei Pink!" ujar Ryoushin sambil menepuk punggung Pink Violin dari belakang. Membuat gadis yang bertubuh mungil itu kaget.

"Ryoushin! Ada apa sih??" tanya Pink Violin sewot.



"Hehe.. Hanya menyapa saja.." jawab Ryoushin asal sambil memicingkan matanya untuk melihat arak-arakan KonohaGakure yang mulai datang. Pink Violin mengacuhkan Ryoushin dan mulai ikut melihat para tamu mereka.

Hebat.. Inikah yang namanya desa besar? Batin Pink Violin yang terkagum-kagum melihat banyaknya ninja yang datang dan besarnya tandu yang diarak masuk ke dalam desa. Tandu itu ditarik oleh dua ekor kerbau dan berjalan melewati Pink Violin yang masih mangap saking terkejutnya.

"Heee.. Hebat…" komentar Ryoushin di balik punggung Pink Violin. "Sapinya besar banget tuh! Enak nggak yah dijadiin pilus..?" ujar Ryoushin sambil menjilat bibir.

Pink Violin menyikut Ryoushin. "Heh! Yang sopan dong.." hardik Pink Violin yang salting gara-gara ada seorang kunoichi berambut pink melihat kearah mereka berdua. Tampaknya kunoichi tersebut mendengar apa yang diucapkan Ryoushin.

Ryoushin yang sadar juga sadar diliatin kunoichi itu ikut-ikutan salting.

Gryuuuukkk…. Suara pelan menggerutu muncul dari perut Pink Violin. Muka Pink Violin memerah. Dia memegang perutnya.

Ryoushin mulai terkikik. "Makanya.. Sarapan yang bener dong.. Nanti kamu nggak bisa tinggi-tinggi lho chibi.." godanya. Ia benar-benar hapal dengan sifat Pink Violin yang suka melewatkan waktu makan.

"Bi.. Biar saja!" ujar Pink Violin sambil membalik badan. Berusaha untuk pergi dari kerumunan itu sebelum ada orang lain yang mendengar bunyi perutnya.

Pink Violin berjalan mengitari sudut kota yang sepi. Disinilah tempat rahasianya. Sebuah tempat dimana sebatang pohon sakura selalu berdiri tegap. Ia suka tempat itu. Ia suka akan warna pink bunga sakura. Warna pink adalah warna favoritnya.



Selain itu, dia juga selalu suka berada sendirian disini. Untuk melatih biola yang menjadi senjata ninjanya. Terkadang, ia suka mensummon kelinci yang jadi Kuchiyosenya. Untuk jadi penontonnya jika ia melakukan konser kecil-kecilan.

Tapi kali ini dia tidak sendiri. Tidak bisa. Ada orang lain yang terlebih dahulu ada disitu.

Seorang laki-laki berambut ayam telah mendahuluinya.

Dengan hakama dan sebuah pedang di pinggangnya.

Pink Violin belum pernah sekalipun melihat orang itu. Apa dia orang dari Konoha? Tapi kenapa dia disini..? batin Pink Violin bingung.

Laki-laki itu menyadari keberadaan Pink Violin. Dia tampak curiga dan waspada saat melihat Pink Violin. Tapi begitu matanya melihat bahwa itu hanyalah seorang anak kecil yang ada di jalan, pandangannya melunak.

"Sakuranya indah ya.." gumamnya sambil menengadahkan kepala ke atas. Melihat kearah bunga sakura yang mekar dengan lebatnya.

Pink Violin perlu waktu beberapa saat untuk mencerna informasi bahwa ia sedang diajak bicara.

"Eh.. Iya.." jawab Pink Violin dengan ragu-ragu sambil berjalan mendekat.

Laki-laki itu diam. Terus memandang bunga sakura. Pink Violin duduk disebelahnya dengan ragu-ragu sambil menatap wajah laki-laki itu. Sekadar untuk membaca ekspresinya.

Entah kenapa, dia merasa nyaman ada di dekat laki-laki itu. Sebuah perasaan nyaman yang aneh.

"Aku suka bunga sakura. Benar-benar warna pink yang indah.." ujar Pink Violin pada akhirnya. "Hei, kau juga suka warna pink?" tanya Pink Violin.

Laki-laki itu menunduk dan menatap Pink Violin. "Ya, aku suka," jawabnya dengan wajah beku yang lembut.



Pink Violin mengulurkan tangannya. "Kalau begitu kita teman!" ujar Pink Violin sambil tersenyum. "Semua orang yang menyukai warna pink adalah teman," lanjutnya.

Laki-laki sedikit terkejut. Dia tidak menyambut uluran tangan Pink Violin, tapi menatapnya dengan lembut. Membuat Pink Violin merasa yakin kalau yang dimaksud laki-laki itu adalah, "Ya, kita teman."

Pink Violin merasa girang mendapatkan teman baru.

"Kau suka biola?" tanya Pink Violin sambil menunjukkan biola kesayangannya.

Laki-laki itu mengangkat alisnya dan terdiam. Pink Violin tersenyum ceria sambil berdiri di atas tempatnya duduk. "Akan kumainkan sebuah lagu untukmu," ujar Pink Violin senang.

Gruuukk.. Lagi-lagi perut Pink Violin berbunyi. Tepat saat ia mengambil ancang-ancang untuk memainkan biolanya.

Wajah Pink Violin mulai bersemu merah. "Ma.. Maaf.." ujarnya tergagap.

Dan betapa herannya Pink Violin, laki-laki itu tertawa.

Oke, dia hanya tertawa kecil. Tapi tetap saja itu tertawa.

Meskipun begitu, entah kenapa Pink Violin sangat suka melihatnya. Dia merasa bahwa laki-laki itu sangat.. Yah, sangat ganteng.

"Ooooii!! Sasuke kuunn…" teriak seorang gadis berambut panjang berkacamata. Ada di ujung jalan menuju tempat Pink Violin berada.

"Aku segera datang," ujar laki-laki itu pelan sambil bangkit berdiri. Dia berjalan beberapa langkah sebelum membalik badannya.

"Oi anak kecil," panggilnya sambil melempar sebuah bungkusan. "Itu untukmu," dia membalik badannya lagi. Hendak pergi ke tempat teman-temannya.



Pink Violin menerima bungkusan itu dengan wajah merah padam.

"UMURKU LIMA BELAASS!! AKU BUKAN ANAK KECIILLL!!" teriak Pink Violin dengan sangat toa. Dia sendiri terkejut dengan teriakannya. Entah kenapa, dia tidak ingin dianggap anak kecil oleh laki-laki itu.. Dia ingin dianggap sejajar.. Dia ingin dianggap sebagai seorang wanita dewasa.

Laki-laki itu membalikkan badannya lagi sambil menaikkan alis.

"SASUKE KUUUNN..!! Kau sedang apaaaaa??" tanya teman-teman laki-laki itu lagi diujung jalan.

"Sebentar," gumamnya pada teman-temannya.

"Kalau begitu cepatlah besar chibi.." ujar laki-laki itu. Berbicara melalui punggungnya. Dan hilang begitu saja.

Dan saat itu pulalah teman-temannya juga hilang.

Pink Violin mengucek kedua matanya. Merasa bahwa pertemuannya dengan laki-laki itu hanyalah mimpi.

Tapi bungkusan hangat di tangannya adalah sebuah saksi bisu bahwa itu bukanlah mimpi. Pink Violin membukanya.

Dan melihat sebuah bakpao bulat mengepul didalamnya.

Pink Violin tertawa dan bergumam sendiri, "Oh ya, aku akan menjadi besar Sasuke san.. Dan kau tidak akan bisa menolakku saat itu.."

END

A/N: Well.. Emang bukan cerita yang terlalu bagus atau romantis siih.. Abis ternyata susah juga bikin OC yang jadi tokoh utama.. Hehehe…



For Pink Violin: Don't Kill Me Pleaseee.. and REVIEW!