A/N: Thanks Buat semua pereview yang masuk, tapi karena sudah mencakup 3 orang, maka sayang sekali ajang Secret Present ini berakhir.
funsasaji: Author sangat minta maaf sekali pada funsasaji karena tidak bisa membuat cerita mengenai funsasaji. Selain karena data funsasaji yang kurang lengkap juga karena keterlambatan funsasaji dalam mengirim data. Mohon pengertian yang sebesar-besarnya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Secret Present
Version Two
Inuzuka Ryoushin Perspective of View
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Seorang gadis mengendap-endap di tengah kerumunan orang-orang. Semuanya tampak sibuk ingin melihat iring-iringan KonohaGakure yang akan segera datang sehingga tak seorangpun melihat gerak-gerik si gadis yang mencurigakan. Yak! Siap-siap.. batinnya ketika berada di belakang seorang anak perempuan bertubuh mungil.
SEKARANG! Seketika itu juga tangan si gadis mendorong orang di depannya.
Anak perempuan itu hampir jatuh karena dorongan si gadis.
"Ryoushin! Ada apa sih??" tanya anak perempuan itu sewot.
"Hehe.. Hanya menyapa saja.." ujar Ryoushin sambil cengar-cengir di depan Pink Violin, gadis bertubuh mungil yang didorongnya itu. Dia cepat-cepat mengalihkan perhatiannya kepada arak-arakan KonohaGakure yang mulai tampak kelihatan agar tidak dicereweti Pink Violin.
Dan hasilnya efektif, Pink Violin ikut-ikutan mengalihkan pemandangannya kearah arak-arakan tandu yang ditarik kerbau gemuk-gemuk. Ryoushin menahan tawa melihat Pink Violin yang mangap melihat kerbau-kerbau itu mengal-mengol kayak unta. Ryoushin sendiri tidak terlalu terkejut dengan besarnya arak-arakan itu. Menurutnya, justru aneh jika desa sebesar KonohaGakure malah tidak datang dengan seheboh ini.
"Heee.. Hebat…" komentar Ryoushin jahil. "Sapinya besar banget tuh! Enak nggak yah dijadiin pilus..?" ujar Ryoushin sambil menjilat bibir. Sengaja memanas-manasi temannya yang sering kesal dengan kelakuan isengnya.
Pink Violin menyikut Ryoushin. "Heh! Yang sopan dong.." hardik Pink Violin yang salting gara-gara ada seorang kunoichi berambut pink melihat kearah mereka berdua.
Ryoushin ikut-ikutan salting. Tapi bukan karena kunoichi itu. Bukan.
Sesaat sebelum kunoichi itu melirik mereka, Ryoushin melihat seorang anak laki-laki seumurannya dengan lambang taring di kedua pipinya menaiki seekor anjing ninja yang besar. Laki-laki itu meliriknya tepat saat ia sedang mengucapkan kalimatnya. Laki-laki tersenyum setengah tertawa pada Ryoushin. Tampak setuju dengan ucapan Ryoushin mengenai sapi-sapi itu.
Itulah yang membuatnya salah tingkah. Baru sekali ini ada seseorang yang setuju akan ucapannya yang seringkali asal-asalan.
Gryuuuukkk…. Suara pelan menggerutu muncul dari perut Pink Violin. Muka Pink Violin memerah. Dia memegang perutnya.
Ryoushin mulai terkikik. "Makanya.. Sarapan yang bener dong.. Nanti kamu nggak bisa tinggi-tinggi lho chibi.." godanya. Ia benar-benar hapal dengan sifat Pink Violin yang suka melewatkan waktu makan.
"Bi.. Biar saja!" ujar Pink Violin sambil membalik badan. Berusaha untuk pergi dari kerumunan itu sebelum ada orang lain yang mendengar bunyi perutnya.
Ryoushin memandangi kepergian temannya sesaat, lalu dengan cepat membalikkan badannya kembali untuk bisa melihat arak-arakan itu dengan lebih baik.
Atau lebih tepatnya, melihat anak lelaki itu.
Mereka berdua saling bertatapan. Anak laki-laki itu dan Ryoushin. Laki-laki itu melambaikan tangannya pada Ryoushin dan membalik badan untuk melihat kedepan lagi.
Ryoushin berharap bisa berkenalan dengannya.
Atau minimal, mengetahui namanya.
Arak-arakan itu berlalu dengan cepat. Menuju ke gedung pertemuan Presidenkage.
Paling-paling rapat yang menyebalkan, pikir Ryoushin sambil menghela napas dan membalikkan badan. Merasa bahwa keinginannya tadi untuk berkenalan dengan utusan dari Konoha tersebut hanyalah mimpi di dalam mimpi.
Seorang Shinobi dari desa besar seperti mereka pastinya tak ingin mengenal orang dari desa kecil sepertiku, keluh Ryoushin sambil berjalan menuju lapangan tempatnya biasa berlatih.
Ryoushin berdiri di tengah lapangan. Menggigit jempolnya hingga berdarah(entah kenapa ia sangat menikmati proses ini) dan melakukan berberapa segel.
"Kuchiyose no Jutsu!" ucap Ryoushin dengan tegas.
POF! Muncullah seekor kucing kecil berwarna oranye belang-belang dengan penutup mata perompak di sebelah kirinya.
"Heh Ryoushin! Mo ape lo manggil-manggil gue?!" tanya kucing Kuchiyose gaul itu dengan kasar. Menghilangkan image cute bagi anak kucing seumurannya.
"Ya latihan lhaaa… Mang mo apa lagi, Matatabi??" tanya Ryoushin sambil memutar bola matanya.
Mendadak keduanya meloncat bersembunyi di balik sesemakan.
"Ada orang datang.." gumam Ryoushin.
"Korban yang bagus untuk latihan kita," balas Matatabi.
"Yaahh.. Kau benar," bisik Ryoushin sambil menjilat bibirnya. Lututnya tertekuk. Bersiap-siap untuk meloncat.
"SEKARANG!!" teriak mereka berdua sambil meloncat garang kearah si pendatang yang dapat dengan mulusnya menghindari serangan mereka berdua. Bahkan, menangkap mereka dengan mudahnya. Ryoushin dipiting sampai jatuh terjerembab di tanah.
"Kena kau!" suara seorang lelaki bergaung di telinga Ryoushin.
"Hei! Lepaskan aku!" teriak Ryoushin sambil memberontak. Betapa terkejutnya ketika ia melihat yang menangkapnya adalah anak laki-laki yang ada di arak-arakan KonohaGakure tadi.
"Kau?!" kedua bertanya bersamaan dengan mata membeliak.
Mereka terdiam sesaat.
"Aku.. Maaf.." ujar si laki-laki sambil melepaskan cengkraman yang entah kenapa Ryoushin tidak ingin dia untuk melepaskannya.
"Eh.. Aku.. Tidak apa-apa," balas Ryoushin, mencoba berdiri sambil terkikik. Kikikannya berubah menjadi tawa lebar ketika ia berhasil duduk.
"Ada apa?" tanya anak laki-laki itu. Merasa terganggu.
Ryoushin masih tertawa lebar. "Coba.. kau lihat wajahmu sendiri," ujar Ryoushin yang setengah tertawa. Menunjuk kearah sungai.
Anak laki-laki itu berjalan menuju sungai dan bercermin. Dia melihat bayangan wajahnya sendiri yang memerah sampai telinganya. Melewati lambang taringnya.
"Coba kau lihat wajahmu sendiri!!" perintah anak laki-laki itu setengah berteriak pada Ryoushin.
Ryoushin mengangkat bahu dan menurutinya. Ia melihat wajahnya sendiri memerah di genangan air.
Keduanya terdiam. Sama-sama menenggelamkan wajahnya di tangan mereka masing-masing.
Dan tertawa.
"Heeii… Gue nggak mau ngeganggu pasangan baru ya.. Tapi bisa gak, JAUHIN NI ANJING BUDUK DARI GUA?!" teriak Matatabi jengkel yang masih ditindih oleh anjing berukuran raksasa milik si anak laki-laki.
Ryoushin merasa terganggu dengan teriakan Matatabi. Uuhh.. Padahal tadi momennya lagi bagus-bagusnya, protes Ryoushin jengkel di benaknya.
"Ah, maaf.. Akamaru! Kemarilah!" panggil anak laki-laki itu.
"WOF!" gonggong si anjing yang langsung berlari kearah si anak laki-laki. Melepaskan Matatabi yang hampir gepeng ditindihnya.
Anjing itu langsung menjilati majikannya. "Halo, namaku Inuzuka Kiba. Kau bisa memanggilku Kiba. Ini anjingku, namanya Akamaru. Siapa namamu?" tanyanya.
"Eh? Aku Ryoushin," jawab Ryoushin yang tidak bisa percaya mimpi di dalam mimpinya bisa terwujud. Dia berkenalan dengan anak laki-laki itu! Bahkan Kibalah yang menanyakan namanya..
Mereka bercakap-cakap selama beberapa waktu. Bahkan berlatih bersama!
Wow! Jika ini mimpi, aku tak mau bangun.. batin Ryoushin.
Tanpa dirasa, hari menjelang sore. Mereka berdua kelelahan ketika sesi latihan selesai dan membaringkan diri di rerumputan.
"Hmm.. Ryoushin?" panggil Kiba.
"Ya?" jawab Ryoushin.
"Kau percaya.. Cinta pandangan pertama?" tanya Kiba.
Ryoushin mengangkat alisnya. Merasa terkejut dengan pertanyaan Kiba. Kiba kun.. Apa kau.. Ryoushin dapat merasakan mukanya memanas.
"Mungkin.. Ya.." jawab Ryoushin perlahan.
Mendadak Kiba berguling ke arah Ryoushin dan mencium keningnya.
"Kurasa aku juga!!" teriaknya sambil berlari meninggalkan lapangan, diikuti anjingnya. Meninggalkan Ryoushin yang cengo sambil memegang keningnya
END
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
