"Shinou... Ayo kita selesaikan ini... Satu lawan satu... " Suara Yuuri terdengar dingin.

Terdengar suara napas tertahan. Dapat dirasakannya tatapan terkejut yang diarahkan padanya setelah dia mengucapkan itu.

Yuuri mencoba mengabaikannya sebisa mungkin. Meski logikanya mengatakan dia hampir mustahil menang, namun hatinya tidak tahan lagi. Ini harus diakhiri, bagaimana pun caranya.

Ditatapnya Shinou tajam. Kini amarah sudah hampir menguasainya. Dapat dirasakannya adrenalin mengalir deras ke seluruh tubuh, seolah ikut menyetujui tindakannya.

Shinou menyeringai kejam. Tidak gentar sama sekali dengan tatapan anak itu.

"Itu yang kuharapkan, Maou heika..."

"Heika, Anda yakin?! Dia makhluk kejam yang tidak akan segan membunuh! Anda bisa mati!" Gunter berseru dari belakang. Suara itu terdengar cemas.

"Ya. Aku akan akhiri ini"

Nada suara Yuuri berubah. Dingin, kejam, dan percaya diri. Mereka segera menyadari sosok Yuuri sudah berubah ke uesama mode.

Mereka kini hanya bisa mengawasi dari belakang. Berharap yang terbaik untuk sang maoh.

"Kau sudah menantangku bertarung, kini izinkan aku menentukan tempatnya..." Shinou berkata perlahan.

Yuuri mengangguk pelan.

"Aku ingin kita bertarung di lapangan terbuka, tidak jauh dari sini... di sini banyak tenda, aku ingin bertarung dengan bebas... Bagaimana?"

"Baiklah" setelah terdiam sesaat, Yuuri menyetujuinya.

Shinou tersenyum licik.

Jangan bertempur di medan yang dikuasai musuh. Buat mereka bertempur di tempat yang kita kuasai.

--

Cahaya matahari memantulkan bayangan dua sosok yang saling berhadapan itu. Pantulan bayangan tubuh mereka terlihat lebih panjang dari sosok aslinya.

Sekitar beberapa meter dari situ, terlihat sekelompok orang yang berdiri dengan cukup gelisah. Gunter, Gwendal, Yozak, Conrad dan Murata menatap mereka dengan cemas sekaligus gugup.

Waktu berjalan lambat.

Saat senjata mereka saling berbenturan, adrenalin menguasai keduanya. Suara dentingan senjata besi itu sungguh memekakan telinga.

Selama beberapa waktu, mereka saling bertukar serangan. Namun yang semakin jelas terlihat adalah Yuuri yang mulai cukup kewalahan menghadapi serangan pria itu.

Melihat situasi itu, Murata dan yang lain mulai waspada. Satu hal yang cukup mengherankan mereka adalah, keduanya tidak terlihat ingin langsung menggunakan maryoku.

Meski maryoku mulai menyelubungi tubuh masing masing, tidak ada tanda tanda mereka akan menggunakannya untuk menyerang.

Cahaya biru tua mulai berpendar di sekitar tubuh Yuuri, sementara cahaya kuning keemasan menyelubungi tubuh Shinou seperti aura.

Conrad menatap tuannya itu dari jauh. Perasaan cemas menguasainya, namun dia mencoba menahan diri. Ini pertarungannya. Bukan pertarunganku.

Gunter mulai menerka rencana dua orang yang bertikai di depannya. Sorot matanya mengikuti gerak gerik dua orang itu. Gunter mulai mencatat dalam hati semua yang dia lihat. Dua orang itu, entah ingin menghemat tenaga, mencoba melihat dan membaca situasi, sedang menahan diri, atau mereka punya rencana lain. Gunter tidak tahu.

Serangan yang dilancarkan Shinou terlihat yakin dan penuh percaya diri. Ekspresi wajahnya saat itu sungguh membuat mereka merinding. Kejam, jahat, puas, dan penuh nafsu membunuh.

Namun, Yuuri pun tidak terlihat gentar meski posisinya seringkali kurang menguntungkan. Wajahnya dingin dan datar, seolah tidak mengizinkan siapa pun melihat emosinya. Sorot matanya tetap dingin menatap Shinou yang terlihat panas.

"Bagaimana Yuuri heika? Kau sudah merasakan seranganku, seharusnya kau lebih ketakutan lagi, atau paling tidak terpojok. Tapi rupanya itu belum cukup, ya..." Tiba tiba Shinou bicara. Nadanya datar dan dingin. Ada terselip nada kecewa di situ.

Yuuri diam. Sementara pelipisnya mengucurkan sedikit keringat, dan napasnya terdengar sedikit pendek.

"Aku menyukai ekspresi lawan setiap kali bertarung dan berperang. Hawa nafsu, amarah, rasa takut, rasa sedih, kecewa, bahkan ekspresi menjelang ajal... Semua itu memberi energi padaku... Seolah memberi tanda bahwa kemenanganku sudah dekat... Sementara kau ini... " Shinou tiba tiba berhenti bermonolog, menatap Yuuri tajam.

"Kau sungguh berbeda dengan anak itu... Sangat dingin dan tenang, persis seperti air. Maoh heika yang asli memang luar biasa. Aku kagum..." Shinou berkata perlahan. Suaranya halus dan mencekam.

--

Wolfram semakin tidak tenang di dipannya. Kakinya bergerak pelan di balik selimut. Suara dari benda di telinganya semakin mencemaskan saja.

Dilihatnya Gisela yang sedang sibuk dengan kotak obat di depannya. Perlahan, dia bangkit dari dipan. Sambil matanya terus mengawasi wanita itu, berusaha untuk tidak ketahuan.

Namun sial bagi Wolfram, baru saja dia berdiri, kakinya segera goyah. Hal itu menarik perhatian Gisela. Wanita itu menoleh, dan terkejut melihat posisi Wolfram yang berpegangan pada pinggir dipan, berusaha untuk berdiri.

"Wolfram kakka! Apa yang Anda lakukan? Anda belum boleh berdiri, apalagi berjalan!" Gisela segera menghampirinya, menopang anak itu untuk membantunya berdiri, dan kembali ke pembaringannya.

Gisela menatap anak itu tajam, namun di sorot mata itu juga terselip rasa kasihan dan cemas yang berusaha disembunyikan.

Wolfram balas menatap tatapan itu. Sorot matanya penuh tekad dan tidak mau mengalah, namun di saat yang sama juga ada rasa maklum dan rasa bersalah di situ.

Setelah bertatapan sesaat, Wolfram menghela napas.

"Gisela, aku ada permintaan. Maukah kau membantuku?"

Gisela menatap tuannya, terkejut. Kemudian menggeleng pelan.

Wolfram diam. Ada banyak cara untuk meluluhkan hati wanita, salah satunya adalah...

"Anggap saja ini sebagai permintaan terakhirku padamu... Karena bisa saja aku mati setelah ini" nada suara Wolfram sedikit bercanda, namun dia sungguh sungguh dengan permintaannya.

"Anda ini bicara apa? Gwendal kakka sudah bilang melarang Anda pergi, kalau Anda pergi sekarang, nyawa Anda bisa melayang!" Gisela menahan seruannya.

"Makanya itu... "

"Tidak boleh!"

"Ayolah Gisela... Aku hanya ingin melihat Yuuri bertarung dengan pria itu... Apa yang bisa melukaiku di sana?" Wolfram mulai kesal.

"Anda bisa saja diincar oleh pria itu lagi, Anda bisa dilukainya, bahkan lebih parah dari yang sekarang... Dan.. Anda bisa bertindak ceroboh di sana... Saya bisa sebutkan lebih banyak alasan lagi, kalau Anda mau" Gisela menjawab tegas.

Wolfram terdiam. Hatinya makin gelisah.

Tiba tiba, dadanya terasa sakit lagi. Rasanya panas dan sesak. Wolfram merintih pelan, mencengkram dada kirinya erat.

Gisela segera menghampiri anak itu.

"Wolfram kakka! Anda baik baik saja?!"

Saat Gisela melihat sorot mata itu, dirinya terkesiap.

Dingin dan tanpa emosi, seolah Wolfram telah menjadi orang lain.

Soshu kembali menguasai dirinya.

Jangan ganggu aku...

Biarkan aku pergi...

Jangan halangi aku...

Gisela terkesiap mendengar nada dingin itu. Perlahan, wanita itu menyingkir.

Ditatapnya kepergian Wolfram dengan perasaan takut dan putus asa. Namun sesaat kemudian, diputuskannya untuk menyusul anak itu.

--

"Seperti air yang tenang... Persis seperti wanita itu, Julia von Wincott..." Shinou berkata tenang dan perlahan. Wajahnya tersenyum licik.

Hati Conrad berdesir ketika nama wanita itu disebut.

"Yuuri heika, Anda itu memang reinkarnasi Julia yang sempurna... Sudah kuduga rencanaku tidak salah ketika aku minta wanita itu untuk mati... " Shinou terkekeh pelan.

Mata Yuuri menyipit mendengar kalimat itu.

Sementara mereka yang ada dibelakangnya terkesiap.

"Apa katamu...?" Conrad berkata lirih. Bola matanya melebar.

Shinou menoleh, menatap Conrad kalem.

"Ah, ya. Aku belum bilang, ya. Bukan Waltorana atau siapa pun yang membunuh wanita itu. Dia membunuh dirinya sendiri atas permintaanku..."

"Semuanya itu kamuflase saja. Kubuat Waltorana dan yang lain membenci hubungan antara mazoku dan manusia, supaya kecurigaan pembunuhan mengarah padanya..."

"Dia membunuh dirinya dengan sukarela, meski itu memang rencanaku. Aku katakan padanya, 'jika kau ingin keluargamu selamat, kau harus mematuhi perintahku', alhasil saat kuminta dia untuk bunuh diri dan kelak terlahir kembali menjadi Maoh ke 27, wanita itu menyanggupinya tanpa ragu..." Shinou tersenyum puas setelah selesai bicara.

"Benar benar pion yang praktis dan berguna... " Suara pria itu memuji.

Yuuri terkesiap di depannya.

Pria itu memang benar benar iblis!

Yuuri mulai kehilangan ketenangannya, namun sebuah suara di kepalanya menghentikannya.

"Jangan terpancing, biarkan dia bicara. Itu yang dia inginkan darimu. Jangan terjebak dalam perangkapnya..."

Suara Julia...

--

Wolfram terus berjalan, sementara Gisela berusaha mengejarnya di belakang.

Ketika hampir sampai ke tempat itu, tiba tiba Wolfram terhuyung ke belakang. Gisela yang berlari di belakangnya segera menghampiri anak itu, dan menangkap tubuh limbungnya tepat waktu.

"Gisela...? Aku kenapa...?"

Suara dan sorot mata Wolfram kembali seperti semula. Gisela terkejut, namun segera mendesah lega.

Wolfram bangkit berdiri dibantu Gisela. Saat berhasil mengenali sekitarnya, Wolfram kaget.

"Yuuri...! Semuanya...!"

--

"Ah, aku juga menggunakan cara yang sama dengan anak itu... Meski kali ini tidak begitu berhasil..." Shinou menggeleng pelan.

"Tapi satu hal yang sama dari mereka berdua adalah, sama sama tidak mau keluarga mereka dilukai... Seperti tameng rusak saja... " Shinou berkata lagi.

"Kunci Toudou no Gouka dan Kagami no Minasoko memang istimewa..."

"Tapi mereka memang pantas untuk mati... Semuanya untuk tercapainya tujuanku... Semuanya untuk saat ini..." Shinou menyeringai kejam. Sorot mata itu bengis.

Yuuri merasa tekanan darahnya mulai naik. Suara Julia dari dalam kepala itu adalah pertahanannya yang terakhir.

Namun itu tidak berlaku untuk Conrad. Mengetahui wanita dan adik yang dicintainya dipermainkan dengan begitu kejam, dirinya tidak tahan untuk membuat perhitungan dengan pria itu.

Dilihatnya pria itu tanpa pertahanan.

Bukkk...!

Sebuah tinju mendarat telak di pipi kanan Shinou, membuatnya terpental sedikit. Shinou tidak sempat melindungi diri. Matanya melebar melihat Conrad yang berdiri dengan tangan terkepal di depannya.

"Kau pikir nyawa orang itu apa, hah?!" Conrad berang. Alisnya mengeras.

Shinou bangkit perlahan, meludahkan darah dan menyeka pipinya yang memar itu. Dirinya hanya tersenyum tenang.

"Kalian itu tidak lebih dari sekadar pion yang bisa kugerakkan sesuka hatiku... Kalian adalah sarana yang dapat kugunakan untuk meraih tujuanku, kapanpun aku mau. Kalian sendirilah yang membuat kalian jadi begitu... "

Conrad menatap Shinou penuh amarah. Giginya mengatup keras.

Sudah cukup. Jangan halangi aku. Biarkan aku bunuh dia dan selesaikan ini...

Yuuri terkesiap mendengar suara dari dalam kepalanya. Sosok Yuuri yang tertidur dalam dirinya tiap dirinya keluar, mulai mengambil alih. Yuuri yang sedang dalam wujud maoh itu berusaha mempertahankan kesadarannya, menampik suara itu dari kepalanya.

"Aku tidak ada urusan denganmu lagi, Weller-kyo... Yang kuinginkan sekarang... adalah kematiannya... " Shinou menatap Yuuri lekat. Sorot mata itu bengis.

Yuuri terpaku di tempatnya, tidak sempat bereaksi atas serangan yang tiba tiba datang padanya.

Aku ingin hidup bahagia bersama semuanya...

Aku tidak mau mati...

Yuuri merasa dirinya akan segera mati.

Namun serangan itu tidak pernah sampai padanya.

Yuuri terkesiap ketika dilihatnya punggung Wolfram di depannya. Punggung itu goyah dan mulai dirembesi darah.

Tubuh itu segera ambruk.

"Wolfram...!!"

Bersahabat dengan kaisar, mirip dengan bersahabat dengan harimau. Kau bisa saja diterkamnya.

Bersambung