"Kenalilah dirimu, kenalilah musuhmu, kenalilah lingkunganmu. Seratus kali perang, seratus kali menang"

- Sun Tzu, Art of War -

Yuuri merasa dirinya akan segera mati.

Namun serangan itu tidak pernah sampai padanya.

Yuuri terkesiap ketika dilihatnya punggung Wolfram di depannya. Punggung itu goyah dan mulai dirembesi darah.

Tubuh itu segera ambruk.

"Wolfram...!!"

Yuuri berlari seketika, menuju tubuh yang limbung itu. Yuuri berhasil meraih tubuh itu di tangannya. Matanya basah.

"Wolf, bertahanlah!" suaranya berubah parau. Sosoknya telah kembali.

Gisela segera berlari menuju ke situ, berlutut menatap Wolfram yang terbaring lemas di dekapan sang raja. Dirasakannya pandangannya berubah nanar saat menatap mata anak itu. Sorot mata yang lemah, pasrah.

"Wolfram-kakka, bertahanlah, Anda tidak boleh mati di sini...!" suara Gisela tercekat, sementara tangannya berusaha menahan aliran darah di perut Wolfram yang semakin deras. Darah itu sudah membasahi kedua telapak tangannya, tapi Gisela tidak peduli.

"Kalian tolong segera ke sini! Wolfram kakka terluka parah!" Gisela berbicara pada benda di telinganya, memberi instruksi cepat pada anak anak medis di sana, yang langsung mengiyakan perintahnya.

Mereka semua terkesiap menatap kejadian itu. Semuanya terjadi begitu cepat, lagi lagi tanpa peringatan.

Mereka merasa sedang dipermainkan oleh kehidupan.

Atau memang itulah yang terjadi.

Memang begitulah adanya mereka selama ini.

"Sudah cukup, Gisela... Tidak apa apa.Semuanya sudah selesai... "

Tiba tiba Wolfram berkata lirih. Tangan kirinya mencengkram tangan Gisela yang masih berusaha menahan darahnya.

Gisela tidak mau berhenti. Tangannya justru semakin kuat menekan aliran darah di perut anak itu.

Tahu Gisela tidak akan mengacuhkannya, Wolfram hanya tersenyum tipis. Matanya menatap Yuuri kali ini.

"Yuuri, kau tidak perlu bingung lagi... Sejak awal ini memang salahku, akulah yang memulai ini semua... Dengan ini... semuanya selesai... Kalau salah satu dari kita mati, dia tidak akan bisa apa apa lagi..."

Sorot matanya redup, namun lega.

"Tidak! Jangan tinggalkan aku sendirian! Kau sudah berjanji! Wolfram!" Yuuri memanggil Wolfram yang terbaring di pelukannya. Cairan merah itu telah merembes ke pakaiannya yang serba hitam.

"Mereka masih ada bersamamu... Kau akan baik baik saja" Wolfram tersenyum lemah.

"Tidak mau! Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi!" Yuuri bersikeras. Batinnya sakit.

"Itu... permintaan yang egois, ya..." Wolfram berbisik pelan.

"Wolf... Kau bilang apa...?" Yuuri mendekatkan telinganya ke mulut anak itu, berusaha mendengarkan kalimatnya.

Wolfram menghembuskan napas. Dirasakannya dadanya yang kian sesak. Waktunya makin dekat.

"Sekuat apapun kita berusaha, ada saatnya kita harus menyerah... Tapi tidak apa... aku sudah puas..."

Dapat dirasakannya kakinya yang perlahan berubah dingin.

"Wolfram!"

Telinganya masih bisa mendengar suara. Suara itu kali ini datang dari Conrad, Gwendal Gunter, Murata, dan Yozak yang ternyata sudah berlutut mengelilinginya.

Wajah wajah yang selalu dikenalnya. Wajah wajah itu kini muram, menahan sesak dan sedih.

"Conrad... Tolong jaga Yuuri untuk aku... " Wolfram menatap Conrad lemah.

Kali ini tangannya yang mendingin perlahan.

Conrad dapat merasakan telapak tangan itu hampir kehilangan kehangatannya saat dirinya meremas lembut tangan itu, sebagai respon dan peneguhan atas janjinya pada Wolfram.

"Kau akan baik baik saja..." suara Conrad lirih. Dirinya sekuat tenaga menahan air mata yang nyaris keluar.

Ini kedua kalinya dia menyaksikan orang yang disayanginya dalam keadaan sekarat.

Conrad merasa, dia tidak akan pernah bisa terbiasa dengan pemandangan seperti itu, sekuat apapun dia berusaha.

Setelah Adalbert, haruskah dia kehilangan Wolfram?

Andai ada Tuhan di saat seperti ini...

Aku ingin hidup bahagia bersama semuanya...

Napas Wolfram kian pendek dan samar. Hanya matanya yang kini dapat melihat wajah orang orang yang menghiasi hidupnya.

Semuanya kini terlihat seperti tayangan tanpa suara di matanya.

Bergerak semakin perlahan, mengabur, sampai hilang sama sekali...

--

"Wolfram! Bertahanlah, jangan pergi!" Suara Yuuri melaung kini.

Wolfram telah menutup mata di dekapannya. Mulutnya yang terbuka secelah itu mulai kaku.

Butuh waktu beberapa detik bagi Yuuri untuk menyadari apa yang baru saja terjadi.

Tubuh dalam dekapannya yang tadinya hangat, perlahan berubah menjadi sedingin es.

Yuuri mendedau keras. Perasaan sedih, marah, terluka, kehilangan, semuanya menyatu di satu dengkingan itu.

Suara yang menyayat hati bagi yang masih punya nurani.

--

Plok... Plok... Plok...

Tiba tiba terdengar suara tepuk tangan, tidak keras, hanya berirama satu ketukan.

Yuuri menoleh.

"Luar biasa... Baru kali ini aku melihat seorang kunci kotak yang bergerak dengan kehendak sendiri... Ini perkembangan yang menakjubkan..." Shinou berkata tenang, dengan nada kagum di dalam suaranya.

Tepuk tangan itu tiba tiba berhenti. Wajah pria itu berubah bengis.

"Tapi sayangnya itu sudah tidak ada gunanya lagi... Anak itu sungguh sudah mengacaukan rencanaku... Dia boleh pergi ke alam baka atau ke neraka, aku tidak peduli... Tapi harusnya dia pergi setelah kuizinkan... Bukan pergi seenaknya seperti itu... Anak bodoh!" Shinou merutuk. Giginya mengatup.

Yuuri hanya mampu menatap Shinou dengan tatapan nanar yang nyaris kosong.

Melihat tuannya diam, Gwendal bangkit, hendak membalas perkataan kurang ajar pria itu. Bahunya bergetar mendengar kalimat yang dilontarkan Shinou pada saudaranya.

Namun belum sempat Gwendal berlari menuju pria itu, suara tinju telah menembus telinganya.

Dilihatnya Conrad sudah menghajar pria itu.

Conrad meninju wajah pria itu berkali kali. Membabi buta. Suara hantamannya keras, nyaris tanpa jeda.

Mata Conrad nyalang menatap sorot mata biru laut itu. Sorot mata yang kejam dan tidak berperasaan. Peluh mulai membanjiri wajahnya. Tangannya mulai sakit. Sebaliknya, wajah di depannya hanya diam, menerima hantaman darinya tanpa terlihat kesakitan.

Wajah itu sudah semakin memar dan mulai mengeluarkan darah. Namun Shinou masih tersenyum tipis.

"Iblis tidak berperasaan! Adikku bukan pionmu, kami semua bukan pionmu! Kaulah yang seharusnya mati, bukan dia!" Conrad berteriak di depan wajah pria itu. Mengeluarkan seluruh emosi yang selama ini tertahan di dada.

Shinou terbatuk keras. Darah keluar dari mulut.

Conrad tidak peduli.

Namun itu membuat Yuuri tersadar. Dirinya berlari menuju Conrad, menahan lengannya yang hendak meninju Shinou lagi.

"Hentikan, Conrad! Sudah... cukup..!" suara Yuuri tercekat saat berusaha menahannya. Mata mereka berserobok. Yuuri dapat melihat kesedihan sekaligus kemarahan dalam sorot mata cokelat keperakan itu. Sesuatu yang belum pernah dilihatnya selama ini.

"Dia pantas menerimanya! Bahkan ini pun belum cukup membayar semua yang telah dia lakukan! Lepaskan saya, heika..." Saat mengucapkan kalimat terakhir, suara Conrad berubah dingin. Wajahnya menunduk dalam.

Gwendal, Gisela, Yozak, Gunter, dan Murata pun tidak berusaha menghentikan Conrad. Mereka diam saja menyaksikan pria itu dihajar sedemikian rupa.

Yuuri menggeleng perlahan.

"Jangan seperti ini... " Yuuri berkata lirih.

"Kalau tidak seperti ini, lantas seperti apa yang Anda mau?!" Suara Conrad meninggi.

Yuuri tersentak. Suara itu penuh amarah. Namun dirinya mencoba untuk tidak goyah.

"Kalau kita melakukan ini, kita tidak ubahnya seperti dia! Menghajarnya pun... tidak akan menyelesaikan masalah...!" suara Yuuri mengeras kali ini.

Suara tinju berhenti perlahan.

"Aku tidak mau... jadi seperti dirinya... Dan aku... tidak mau kau berubah, Conrad..." suara Yuuri berubah sangat lembut, hampir seperti...

Suara Julia...

Conrad terbelalak melihat sosok di sampingnya. Dia hampir seperti melihat sosok Julia kembali hadir di depannya.

Tangan Conrad mulai turun.

"Shinou... "

Suara itu kembali hadir. Kali ini matanya menatap Shinou tajam.

"Aku tidak mau mengakhirinya seperti ini..."

"Hmmm... Kalau begitu seperti apa akhir yang kau inginkan, Yuuri heika...?"

Suara Shinou tenang dan lirih.

Yuuri tidak mengindahkan kalimat Shinou. Di luar dugaan, dirinya berjalan menuju Murata.

Murata terkejut sesaat. Satu tangan Yuuri menadah ke arahnya, seolah menginginkan sesuatu darinya.

Yuuri dan Murata berpandangan sesaat.

Kau yakin?

Ya...

Potongan kotak itu telah berpindah tangan.

Yuuri menatap potongan kotak di tangannya lembut.

Dengan ini... Semuanya selesai...

Pulihkan semuanya... Dan... lepaskanlah kami dari yang jahat...

Yuuri menggengam potongan kotak itu erat, sampai dapat dirasakannya darah mulai mengalir perlahan dari telapak tangannya.

Shinou terkejut melihat tindakan Yuuri di depannya.

"Apa kau yakin...? Kau tahu konsekuensinya, kan, Maoh heika?"

"Ya... Inilah yang terbaik... " Yuuri tersenyum kecil.

"Baiklah. Aku sudah memperingatkanmu... Sisanya terserah padamu"

Yuuri menatap Shinou lembut, mengangguk perlahan.

Tiba tiba Yuuri berjalan ke arahnya.

Semua terkesiap.

"Kau saudaraku... Sesama makhluk hidup... Sesama mazoku...Sesama orang yang tinggal di Shinmakoku..."

Shinou diam. Dapat dirasakannya usapan tangan anak itu di bahunya ketika kulit mereka bertemu. Rasanya hangat.

"Aku mencintai Shinmakoku... Aku pergi bukan berarti aku tidak mencintai negeriku... Justru karena aku mencintainya, aku akan pergi sebelum negeri ini hancur lebih jauh..."

"Aku serahkan negeri ini kembali padamu... "

Mata Yuuri menatap Shinou dalam.

Mereka terkesiap mendengarnya.

"Heika, apa yang Anda katakan?!"

Yuuri menoleh pada teman temannya.

"Kalian mau tinggal di sini atau ikut aku, itu terserah... Aku memang raja kalian... Tapi sebelum itu, kalian punya hak atas diri kalian sendiri... "

"Yuuri... "

Yuuri terkesiap. Suara Wolfram yang lirih seolah membelai telinganya.

Kotak kotak itu benar benar bekerja...

Murata terdiam menyaksikan rentetan kejadian di depan matanya.

"Aku ikut... " Wolfram berkata perlahan. Suaranya lirih namun stabil.

Aku ingin hidup bahagia bersama semuanya...

Kotak Todou no Gouka telah mendengar dan mengabulkan permintaan terakhirnya sebelum nyawanya ditarik keluar.

Dan keajaiban itu terjadi.

Wolfram bersyukur. Dia dapat berkumpul lagi bersama mereka semua.

Dan Yuuri pun memutuskan untuk menggunakan kekuatan terakhir kotak miliknya, Kagami no Minasoko.

Menghentikan perang ini dan menghapuskan rasa sakit.

"Heika, kami akan selalu di sisi Anda, apapun keputusan yang Anda ambil" Conrad berkata lembut, persis seperti saat itu.

"Shibuya, kami semua ada di sini. Majulah, kalau menurutmu itu benar... "

Yuuri diam sejenak. Senyuman terkembang di wajahnya.

Pilihan telah diambil.

Bersambung.

--

Akhirnya bisa menulis lagi setelah tiga bulan...

Menulis fanfic ini benar benar seperti perjalanan yang panjang dan luar biasa.

Menuju dua chapter terakhir, saya mulai tidak rela tulisan ini akan segera tamat.

Menulis chapter ini sambil diiringi musik latar instrumental.

Sepertinya saya bakal merenung dan bersemedi malam ini, supaya ini fanfic cepat kelar.