Museum itu adalah bangunan besar yang sepi. Aroma obat berbaur dengan debu, dihembuskan oleh pendingin ruangan.

Mencoba tidak berisik, aku berjalan perlahan di atas lantai marmer mengkilap.

Aku bisa mendengar suara langkahku sendiri.

Ketika aku sampai di ruangannya, kulihat dirinya masih sibuk dengan tumpukan buku dan barang barang lain.

Wajahnya tampak terkejut ketika melihatku.

"Kau masih sibuk, ya? Padahal ini Malam Natal" aku berjalan ke arahnya.

"Yah, biasa. Masih ada barang barang yang perlu disortir dan segera dikirim. Sebentar lagi selesai, kok"

Suaranya tenang, terdengar menawan, seperti biasa. Rambut panjangnya yang berwarna lavender itu tampak diikat ke belakang hari ini.

"Kau orang yang berdedikasi, ya. Dari dulu memang begitu"

Mata berwarna lavender itu menyipit sesaat.

"Cuma kau yang tersisa di sini. Yang lainnya sepertinya sudah pulang"

"Soalnya hari ini museum sudah libur. Besok juga"

"Tentu saja. Ini kan Malam Natal. Semua orang sudah punya rencana. Wanita di ruangan manajemen juga sudah pulang duluan, tadi. Sepertinya hanya tersisa satpam yang menanti di luar"

"Terima kasih sudah bersedia mendatangi tempat kerja saya"

"Tidak apa. Tidak perlu formal begitu"

Kami sama sama diam setelahnya. Aku berusaha memperpanjang obrolan. Karena aku tahu, akan sulit bertemu dia lagi.

"Kau sepertinya menikmati pekerjaanmu, ya"

"Ah, ya. Tentu. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini. Sejarah, misteri dunia. Sebanyak apapun aku punya waktu, sepertinya tidak akan cukup untuk mempelajari semuanya" suaranya antusias.

"Apa kau tidak kesepian tidak punya lagi murid nakal yang bisa kau marahi?"

Aku menggodanya. Memancing ingatan masa lalu.

Dia tersenyum tipis.

"Anda murid saya yang paling berkesan"

"Sungguh? Apa karena aku adalah si idiot yang harus mulai belajar dari awal, dari nol. Karena itu mungkin kau puas mengajariku?"

"Bukan"

"Begitu... Yah, kulihat kau masih sibuk ya. Sampai lain kali. Selamat Natal"

"Selamat Natal"

--

Aku bersandar di bangunan kayu, mengawasinya dari jauh.

Kulihat dirinya sibuk mengurusi kuda kudanya.

Rambut kelabunya yang diikat rapi itu tampak dihembuskan angin saat dia memacu salah satu kudanya.

Setelah dirinya selesai, mata kami bertemu.

"Jangan hanya berdiri di situ. Datanglah ke sini! Ada banyak hal yang bisa kau lihat"

Suaranya yang dulu kaku, perlahan telah berubah lebih lembut. Aku rasa suasana tempat tinggalnya dua tahun terakhir ini telah mengubah cukup banyak hal pada dirinya.

Dia mengenakan celana jeans, sepatu bots koboi, dan kemeja flanel biru tua. Meski cuaca sedang dingin, lengan bajunya digulung hingga siku.

Sorot mata biru itu tampak gembira. Kerut di keningnya yang dulu sering terlihat, sejak datang ke dunia ini, tidak terlalu terlihat lagi.

Sulit bagiku membayangkan bahwa pria yang dulu memiliki karier politik yang cemerlang, harus berakhir di peternakan kuda seperti ini.

Tapi sepertinya dia bahagia.

"Bagaimana kabarmu?" Aku membuka percakapan.

"Baik. Kuda kuda itu sebentar lagi akan ikut lomba pacuan kuda, musim semi nanti" suaranya antusias.

"Kukira kau hanya suka hewan hewan yang lucu seperti kucing atau anjing. Tidak kusangka kau juga suka kuda"

"Hewan itu makhluk hidup yang kecil dan rapuh. Aku menyukai semuanya, sih. Kalau anjing, aku punya dua ekor anjing corgi dan anjing chihuahua. Mereka mungil dan lucu. Mau lihat?"

"Ah, tidak usah. Terima kasih" aku menolak halus ajakannya. Aku tidak terlalu menyukai anjing kecil.

Angin dingin berhembus, menembus hidungku. Aku bersin.

Dia tiba tiba menekan hidungku.

"Hei, apa yang kau lakukan?"

"Ah, maaf. Hidung Anda merah" dia gelagapan.

"Oke. Kenapa kau tiba tiba begitu?"

"Aku jadi ingat lagu yang tempo hari kudengar" suaranya polos.

"Biarpun kau tekan, hidungku tidak akan menyala! Aku bukan rusa hidung merah!"

Sudah pasti lagu itu yang didengarnya. Lagu Natal paling terkenal di dunia.

"Apa kau tidak apa apa datang kemari? Tidak sibuk?" dia bersuara lagi. Sambil menuangkan kopi panas yang berasal dari termos alumunium. Kemudian disodorkannya segelas padaku.

Kuterima gelas itu. Uapnya menghangatkan hidungku.

"Aku memang sengaja menemuimu. Barangkali kau perlu bantuan"

Aku melanjutkan,

"Mungkin terdengar aneh, tapi di sini, akulah walinya. Sudah tanggung jawabku untuk membuatmu merasa nyaman di sini... Meski mungkin... Itu tidak diperlukan, ya... "

Ada jeda lima detik.

Dia menggeleng perlahan.

"Aku bersyukur. Saat ini aku tidak butuh apa apa. Dan aku cukup puas dengan profesiku sekarang"

"Benarkah? Tapi kau masih harus bekerja di Malam Natal. Bukankah itu berat?" Nada suaraku terdengar iba.

"Memang nyaris tidak ada hari libur. Saat mengurusi hewan, tidak peduli Malam Natal atau apapun, kita harus selalu siaga" suaranya dalam. Alih alih mengeluh, terdengar rasa puas dalam suaranya.

"Saat ini ada kuda betina yang akan segera melahirkan. Ini akan jadi persalinan pertamanya, karena itu aku harus siaga"

"Kedengarannya berat, ya"

"Untukku?"

Dia menggeleng lagi.

"Aku tidak pernah merasa begitu".

Ah. Dasar pecinta hewan sejati.

Diam sejenak.

"Bagaimana denganmu sendiri? Apa kabar?"

"Eh?"

Saat ditanya "How are you?", tentu orang akan merespon dengan, "Fine, and you?"

Persis seperti contoh jamak dalam buku percakapan bahasa Inggris dasar.

Dan itulah yang kulakukan.

Dan aku menyesal sekarang. Aku memanyakan lagi hal yang tadi sudah kutanyakan padanya.

Dia rupanya menyadari kecerobohanku, tapi memilih untuk tidak berkomentar.

"Apa terjadi sesuatu?" Dia menoleh padaku.

"Kalau ada apa apa, aku bisa membantu"

"Tidak ada apa apa... Sungguh... "

"Yang benar?" Nadanya berbicara seakan meragukanku.

"Ini di bumi, loh. Ini dunia dimana aku lahir dan dibesarkan. Mana mungkin aku mengalami kesulitan di sini!" aku berusaha membuat suaraku terdengar yakin.

Aku harus segera mengubah topik pembicaraan.

Kulihat kuda kuda itu merumput di kejauhan.

"Kuda mana saja yang akan debut di musim semi nanti? Kuda favoritku, apa dia sehat? "

Suaraku terdengar kalem kali ini.

"Ya... Yang itu, itu, dan itu" dia menunjuk tiga ekor kuda bergantian.

"Begitu. Kuharap mereka semua berhasil di pacuan itu"

"Ya... "

"Ah, ya. Aku baru ingat. Lusa lalu telah lahir bayi kuda kembar. Kau mau melihatnya?"

"Tentu!"

--

Aku masuk ke salah satu kedai makanan China di kawasan pecinan. Aroma masakan berminyak namun nikmat menguar, menggoda hidungku, mengosongkan perutku lebih cepat.

Kulihat dirinya kali ini melayani pelanggan dengan kaus putih dan celana pendek hitam. Jauh lebih cocok untuk tubuh kekarnya.

Teringat tempo hari, dia mencoba menggunakan cheongsam warna merah marun saat menjamu pelanggan.

Tubuh kekar dalam balutan cheongsam tentu membuat beberapa pelanggannya heran. Ditambah lagi, dialah si empunya kedai.

Pengalaman yang agak aneh. Tapi menjadi tidak mengherankan kalau yang melakukan itu adalah dirinya.

Saat itu jam makan siang dan kedai itu ramai.

"Ah, Tuan muda datang untuk makan siang? Silakan duduk dulu"

"Kau masih suka melakukannya ya? Memakai berbagai macam kostum, meski bukan untuk menyamar..." kuteguk air putih dalam gelas yang kuambil di meja.

"Ah, itu sih hobi sampingan. Lumayan sebagai hiburan di tengah keramaian restoran" dia menjawab santai.

"Jangan sampai pelangganmu kabur, ya"

"Wah, Anda kejam!" dia terkekeh.

"Apa kau berencana memperluas kedai ini? Sepertinya semakin banyak orang datang kemari" aku mengganti topik.

"Rencananya begitu. Pelan pelan"

Aku menggumam mendengar jawabannya.

"Ngomong ngomong, apa rencana Anda untuk malam Natal tahun ini? Hanya menonton tv sambil ngemil sepertinya bukan gaya Anda, ya?" dia mulai membicarakan hal lain.

"Hanya pesta biasa. Semacam konser, kemudian bersulang dengan sampanye. Ah, tapi aku masih di bawah umur, jadi tidak akan menyentuh alkohol"

"Sebenarnya aku tidak terlalu suka pesta, tapi kakakku bilang aku harus mencoba datang, ditambah putriku sangat menantikan itu, aku jadi tidak bisa menolak"

"Yah, Natal adalah waktu bersama keluarga. Apalagi Natal adalah satu dari sedikit acara yang mengizinkan anak anak untuk begadang..."

Aku tidak sependapat, maka kukatakan, "Mungkin dia akan tertidur saat konser berlangsung. Seperti dininabobokan saja rasanya, ya" Aku tertawa sekarang.

"Jadi... Setelah meletakkan putrimu yang tertidur di hotel, orang orang dewasa akhirnya memulai pesta... Pesta yang sebenarnya"

Suara itu penuh nada menggoda.

Aku menghela napas.

"Daripada disebut "orang dewasa", mungkin lebih cocok kalau kami disebut 'orang yang bisa terjaga sampai pagi'"

Dia tertawa keras mendengar ucapanku itu. Kuteguk air soda pesananku banyak banyak.

Setelah itu diam cukup lama.

"Ngomong ngomong, Apa Anda akan menemuinya?"

Suaranya berubah serius. Aku mengerti siapa yang dia maksud.

"Ya... Aku akan menemuinya hari ini..."

"Begitu ya..." Dia bergumam, tampak lega.

"Syukurlah!"

"Eh, kau tidak tanyakan kabarnya, atau apa begitu?" Aku heran. Rasanya kedua sahabat ini dulu cukup dekat.

"Tidak. Dia tidak pernah menghubungiku, ataupun saudara saudaranya. Tentu saja dia juga tidak mengirimkan pesan merpati"

"Yah, selama dia sehat sehat saja, aku senang. Itu sudah cukup"

--

Gereja itu sepi. Seakan Malam Natal tidak pernah terjadi. Dingin, tanpa ada lantunan suara nyanyian lagu pujian ataupun lagu rohani, atau bahkan dongeng kelahiran Putra Tuhan.

Tidak ada apapun.

Organ pipa itu seakan sedang menunggu dengan setia orang yang bisa memainkannya.

"Maaf membuat Anda menunggu"

Jari yang dingin menyentuh belakang leherku. Aku menoleh dan mendapati dia telah duduk di bangku panjang, tepat di belakangku, tanpa aku sadari.

Senyumannya tetap sama. Tidak berubah.

"Cukup jarang saya melihat Anda menggunakan formal suit seperti itu. Apa ada pesta setelah ini?"

"Ya. Tahun lalu aku juga ke sana. Ah, kau tidak mungkin tahu, ya"

Dia masih tersenyum seperti tadi.

"Sebenarnya bukan acara yang terlalu formal. Tapi berhubung aku menyertai seorang putri dan pangeran, jadi yah... kurasa baju seperti ini yang paling cocok"

"Itu cocok untukmu"

"Terima kasih"

Kulihat dia mengenakan jaket kulit cokelat. Tangannya terselip di saku jaket. Jaket itu mungkin tadinya berwarna cokelat muda, tapi kini warna cokelat itu telah menggelap, segelap warna rambutnya. Sebuah syal berwarna hitam abu abu diselipkan di kerah jaketnya.

Karena kupikir dia tadinya akan duduk di sampingku, aku berbicara menghadap depan saja.

"Cukup mengejutkan kau mau datang ke tempat seperti gereja. Tidak seperti adik laki lakimu"

"Dia keras kepala, dalam arti baik"

Meskipun mereka bersaudara, sikap mereka sama sekali berbeda. Sang adik tidak berminat pada hal hal yang berbau religius, sebaliknya sang kakak terlihat tidak keberatan.

"Saya juga tidak berniat menjadi umat Kristen, tapi saya bisa berempati pada Bunda Maria"

Suaranya tenang dan lembut. Pernyataannya tadi seolah dia bisa membaca pikiranku.

"Dasar cowok populer! Musuh wanita!" Aku tidak tahan untuk tidak mengoloknya kali ini.

"Saya tidak pernah menjadikan wanita sebagai musuh"

"Yah, aku juga bukan umat Kristen, tapi aku tetap ke gereja, dan melakukan perayaan Natal atau semacamnya. Yah, Natalnya sudah hampir selesai, sih"

Dia tidak pernah mencoba untuk duduk di sebelahku. Aku jadi sedikit kesal, dan aku pun tidak mau mengalah.

"Saat Desember tiba, rasanya waktu berjalan cepat sekali. Dari tanggal 1 iba tiba sudah Malam Natal. Setelah itu waktu bergerak seperti halilintar saja"

Aku terus berbicara sambil menatap patung Yesus di altar.

"Ngomong ngomong, kalau Anda hendak berdoa, posisi tangan Anda itu keliru"

Dia berbisik di telingaku. Suaranya menahan geli.

"Kalau posisinya seperti ini, jadi seperti Shinto atau Buddha. Harusnya seperti ini"

Jarinya sangat dingin, aku nyaris terpekik. Rasanya sama ketika tangannya menyentuh belakang leherku ketika dia datang.

Tangannya mulai membetulkan posisi lenganku menjadi gestur berdoa yang benar menurut ajaran Kristen.

Aku berbalik kesal, menatap dirinya yang lebih memilih untuk duduk di belakangku. Wajah itu seakan menyatakan, "Kalau tidak ingin berdoa, lebih baik pulang saja"

Akhirnya kupilih untuk membahas topik itu saja.

"Apa tidak apa apa? Punya waktu? Orang terkenal biasanya sibuk di akhir tahun, kan?"

"Setelah ini, saya harus berangkat ke Abu Dhabi. Tidak masalah. Mereka memang ke sana kemari, tapi mereka mudah diawasi dan bisa menjaga dirinya sendiri, tidak seceroboh Anda dulu... "

"Wah, maaf ya aku sudah jadi anak SMA yang sulit dijaga dan diawasi!"

Rambutnya menyentuh pipi kiriku saat dia menggeleng.

"Saya tidak pernah membenci Anda yang seperti itu"

Aku memanggil namanya dalam hati.

Tiba tiba kehangatan di bahuku hilang. Terdengar suara gemerisik pakaian di belakangku.

Leherku telah dibalut syal warna hitam abu abu miliknya.

"Sudah memakai baju keren begitu, jangan sampai Anda masuk angin"

"Kau tidak perlu sampai meminjamkan syalmu segala"

"Tidak, di luar dingin. Dengan awan yang begitu, pasti akan turun salju"

"Tapi kau... "

"Saya tidak apa apa"

"Jangan bilang kau memberikan ini padaku. Aku sudah mendapatkan kado Natal darimu. Akan kukembalikan nanti. Kapan aku bisa menemuimu lagi?"

Dia selalu bisa memberiku hadiah, tapi tidak pernah bisa memberiku jawaban.

"Kapan bisanya? Putuskan sekarang"

"Maaf, tapi jadwalku tidak pasti sampai menit terakhir... "

"Kalau begitu, beri aku nomor teleponmu. Sesekali kau juga harus menghubungi sahabat dan saudara saudaramu. Sekadar bilang kau baik baik saja! Tidak peduli sesibuk apa dirimu. Itu etika dasar!"

"Padahal akhirnya saya bisa menemui Anda..!"

Suaranya tiba tiba meninggi sedikit. Tapi segera kembali seperti biasa.

"kalau Anda sudah tidak ada urusan, silakan pergi. Masih ada yang ingin saya lakukan di sini"

"Co... "

Aku hampir memanggil namanya, namun akhirnya kutelan suaraku, memaksa mengganti topik yang sudah keruh itu.

Ke topik yang lebih bersahabat dan normal.

"Ayo ikut aku kalau kau tidak punya rencana malam ini"

"Tidak"

"...Kalau begitu, paling tidak ikut ke tempat berkumpulnya saja. Mereka berdua sangat ingin bertemu denganmu. Mereka pasti senang"

Dia hanya menggeleng perlahan. Bahkan dia tidak mau repot repot mengangkat wajah.

"Tidak. Pergilah. Saya masih ada urusan di sini... "

"Di gereja, meski kau bukan Katolik?"

"Ya"

Aku menyerah. Perlahan kutinggalkan gereja itu.

Sekilas, sebelum aku pergi. Kulihat dia masuk ke bilik pengakuan dosa.

Bukan hanya dia. Bahkan aku sendiri memiliki banyak hal yang kusesali.

--

Butuh sedikit trik dan pengalaman untuk menemukan orang dalam tempat ramai.

Tapi bila menyangkut mereka berdua, ceritanya jadi lain. Aku tidak perlu berpikir panjang untuk menemukan mereka.

Cukup cari rambut yang paling berkilau dan gadis yang paling manis.

Ah, itu mereka. Baru keluar dari sebuah toko pakaian.

"Maaf membuatmu menunggu!"

Aku berlari seraya melambai kencang.

Sepasang mata hijau zamrud itu menatapku lekat.

"Kau telat"

"Tidak, aku tepat waktu. Itu sih sapaan saja. Wajar, kan?"

"Kata jam tangan tuan putri, kita berangkat jam berapa, sih?"

"Setengah sembilan" lengan si gadis cilik itu mengapit lengan sosok tinggi di sampingnya.

Meskipun aku dan dia terlihat seumuran, namun bila menyangkut mereka berdua, sama sekali tidak terlihat seperti orang tua dan anak.

Ayahnya terlihat seperti berusia 18 tahun, sementara si anak berusia 12 tahun.

Mereka lebih terlihat seperti kakak adik dibandingkan ayah dan anak.

"Hanya jaket? Tidak mau yang lain?" aku takjub melihat busana si gadis cilik malam ini. Biasanya baju pilihannya bisa lebih banyak.

"Hari ini dingin. Jadi cukup jaket saja"

"Ya sudah"

"Apa aku boleh ke atas lagi? Aku baru ingat, ada yang lupa kuambil"

Anak itu tiba tiba berlari masuk kembali ke toko pakaian.

"Ya. Cepat kembali ya. Pestanya sebentar lagi. Kita masih harus menuju ke tempat acaranya. Semoga tidak ada hujan salju."

Sosok pirang di sampingku diam saja.

"Wolf? Ada apa?"

"Kau sudah bertemu dengannya...?"

"Um. Sudah. Baru saja. Sayang dia tidak mau ke mari. Kubilang kita semua sehat, yah begitu deh"

"Begitu. Padahal seandaianya dia ada di sini... "

"Seandainya dia ada di sini...?"

"Aku akan memukul wajahnya. Suka sekali membuat orang cemas, heran!"

Aku tersenyum.

Wolf bicara lagi,

"Yah, tapi selama dia sehat, ya tidak apa apa. Aku juga harus konsentasi dengan ujianku. Tidak ada waktu mencemaskan dia"

Aku tertawa.

"Yang lainnya juga sehat dan baik baik saja. Gunter sibuk bekerja di museum, Gwendal asyik mengelola peternakan kuda, Grie-chan sukses dengan restoran masakan Chinanya... Sementara Conrad..."

"Sampai tadi, kau bersama dia kan?"

"Ya"

"Katanya dia bodyguard orang terkenal, kalau tidak salah seorang politikus atau artis, aku lupa. Ya begitulah... Lucu kan, padahal dia wajahnya sendiri sudah kayak artis"

"Kalau aku ketemu, rasanya banyak yang ingin kukatakan padanya"

"Ya, aku juga"

"Selama dia sehat, tidak apa apa"

"Wolf itu... dewasa ya... "

"Apaan itu? Kau pikir aku umur berapa?" Wolfram terdengar tidak terima.

"Bukan. Maksudku bukan masalah umur. Tapi mental. Kalau aku... tidak bisa sekuat itu... "

"Ah, maksudmu soal Conrad? Dia itu hennachoko kedua setelah kau. Jadi ya tidak apa apa" tandas Wolf cepat.

"Si adik keras, ya"

"Sejak awal hubungan persaudaraan kami bertiga memang renggang. Sampai kau datang... Ah, kata "datang" terdengar aneh ya..."

"Wolf... "

"Negeri itu... sudah... Shinmakoku... bukan negeri kita lagi... "

Suara Wolfram terdengar lirih namun tegar.

"Wolf... Maaf... "

"Jangan minta maaf! Aku tidak mau membicarakan hal yang tidak perlu"

Suara Wolf tegas.

"Tapi..."

"Yuuri, jangan lupa. Yang memutuskan untuk tinggal bersamamu di bumi ini adalah diriku sendiri. Kami semua. Kau tidak perlu merasa bersalah, apalagi menyesal"

"Aku tidak pernah menyesal atas keputusanku itu. Sampai kapanpun tidak"

"Justru aku yang selalu menyesal. Wolfram kuat, ya"

"Tentu saja. Aku kan bekas prajurit!"

"Bukan itu maksudku. Maksudku kuat sebagai pribadi. Seperti bermental baja, begitu deh"

"Tentu saja! Aku kan "suami" mu!"

"Ah, iya iya... 'suami' ya... Heh?"

Aku menoleh, heran.

"Kau kan 'wife' !"

"Aku tidak ingat pernah jadi 'wife' mu"

"Heh...?"

"Ya sudah. Aku daddy, kau otousan. Adil kan?"

"Wolf, tunggu... "

"Itu si tuan putri sudah kembali. Cepat, nanti kita terlambat. Sudah hampir setengah sembilan"

"Wolfram! Kau tadi bicara apa...?"

Wolfram menyongsong ke depan, tidak memperdulikan aku.

-

-

-

--

Yuuri tersenyum samar. Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu.

Dan sudah empat tahun berlalu sejak mereka memutuskan untuk tinggal di bumi.

Yuuri melingkari tanggal 25 Desembet dengan spidol merah.

Sudah hampir Natal lagi.

Dan tahun ini, Yuuri tahu, semuanya sudah berubah, ke arah yang lebih baik.

Terimalah masa lalumu tanpa penyesalan

Jalani masa kinimu dengan penuh keyakinan

Hadapi masa depanmu tanpa rasa takut.

Bersambung

--

Ini chapter terpanjang dan salah satu yang terberat yang pernah saya tulis. Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya memutuskan, "ini ending yang ingin saya pakai".

Chapter ini saya tulis berdasarkan doujin yang ditulis Takabayashi sensei yang berjudul "It Comes Ecually to Anyone" yang disebut juga sebagai Apollo Project, yang diduga kuat sebagai salah satu rencana ending untuk Maruma series.

Bahkan beberapa bagian dari chapter ini adalah hasil terjemahan langsung saya untuk chapter itu, meski tidak semua.

Menuju satu chapter terakhir...

Mendengarkan playlist Tohoshinki sambil menulis chapter ini.