Naruto: Masashi Kishimoto.
RATE: M
WARNING: TYPOS, AU, OOC, DRAMA DAN YANG PENTING, JANGAN PERNAH MEMBACA APAPUN ITU YANG MEMBUAT MATA ANDA IRITASI. TETAPLAH PADA JALUR MASING-MASING, KARENA AKU HANYA MENCOBA MELESTARIKAN APA YANG AKU CINTAI DAN AKAN SELALU MENCINTAI APA YANG MEMBUATKU SENANG. ^_^
.
At My Worst
Jam pelajaran pertama yang disi oleh Kurinai-sensei, adalah home ekonomi. Salah satu guru yang ditakuti di sekolah itu, namun tak membuat ke tiga murid brandal yang suka seenaknya itu takut. Meski begitu, ketiganya masih menurut saja kala, sang guru membagikan kelompok.
Sasuke menyeringai setelah nama gadis pujaanya bersanding dengan namanya. Selalu seperti itu bukan? Dari dulu, dan Kurinai-sensei sudah sangat hapal, kalau mereka sejoli. Ia tak tau ini hanya sebuah kebetulan atau guru itu belum tau apa yang terjadi pada mereka.
Lalu, lain dengan kedua sahabatnya, yang hanya memasang wajah tak terbaca. Termasuk sang Namikaze, Naruto yang dari dulu selalu super aktif entah kini, guru cantik itu melihat perubahan pada salah satu murid bandelnya. Dan kali ini saat nama seorang gadis bermarga Hyuga bersanding dengan namanya pun, tak membuat ekspresi wajah seperti biasa. Ia hanya menggaruk belakang kepalanya dengan tersenyum kecut pada gadis yang sekilas menatapnya.
Sedangkan, sang Sabaku muda, berada satu kelompok dengan gadis bersurai gulali. Tak ada ekspresi berarti dari keduanya. Dua orang itu memang terkenal pendiam, meski Sakura adalah gadis populer gadis itu bukanlah gadis centil yang banyak tingkah dan juga tidak secerewet Ino.
"Waktu kalian memasak 60 menit." Jeda sejenak, mata rubbynya menatap satu persatu murid yang kemungkinan membuat masalah. "Kalau kalian tidak bisa menyelesaikannya dalam 60 menit maka tak ada nilai untuk itu." Final, dan sang guru cantik itu meninggalakan kelas.
"Apa yang akan kita buat?" Tanya Naruto polos, dan Hinata gadis yang satu kelompot dengannya hanya terbata-bata untuk memberi jawaban.
"Ano..." Belum juga ia menyelesaikan jawabannya, Naruto sudah memotongnya.
"Bagaimana dengan ramen?"
Hinata hanya menatapnya, ia melihat senyum mengembang pada bibir sang pemuda. Apa pemuda di depannya ini selalu seperti ini, hangat seperti mentari.
Dilain sisi, seorang gadis tengah sibuk menyiapkan bahan yang akan menjadi masakannya dalam diam, meski tatapan mata onyx, tak lepas dari setiap gerakannya.
"Apa yang ingin kau masak?" Onyxnya masih setia pada gadis pirang.
Ino yang sejak tadi menjadi objek tatapan sang pemuda, kini mengalihkan kegiatannya dan menatap pada pemuda disampingnya.
"Lebih baik kau membantuku." Dengan menyerahkan wortel dan sebuah pisau."
Sasuke mengerutkan alis hitamnya.
Sebelum menghela napas dan berucap. "Kita bisa mendapatkan nilai tanpa harus repot melakukan apa yang diperintahkannya." Mereka tau siapa 'nya' yang dimaksud sang Uchiha.
Namun tak ada respon dari gadis pirang. Jadi Sasuke hanya menghela napas, bukan kah seperti yang sudah-sudah bahwa ia bisa dengan mudah mendapatkan nilai apapun itu pelajarannya semudah ia menjentikan jari, tapi ia juga ingat bahwa Ino bukan gadis instan, yang suka dengan nilai buatan.
Sasuke jadi ingat, kenapa ia dan kedua sahabatnya mau direpotkan dengan mengikuti pelajaran dari Kurinai-sensei, itu karena gadisnya ini dulu. Ya dulu. Karena Ino akan selalu satu kelompok dengannya.
"Ahk..."
Suara pekikan yang tertahan namun cukup keras untuk tak diacuhkan, dan disusul dengan suara lain kemudian.
"Astaga! Hinata maafkan aku."
Kini tangan berkulit tan itu sudah mengusap gusar pada tangan berkulit putih yang tadi menjerit kesakitan karena ulahnya.
Hinata terciprat minyak panas karena Naruto melempar danging pada wajan dengan cukup kencang, tanpa peduli rekannya itu berada tepat disampingnya.
Kini semua atensi makhluk hidup di ruangan itu tertuju pada satu titik pusat jeritan tadi muncul.
Namun dengan respon yang berbeda-beda.
"Baka." Ucap sang Uchiha.
"Ck." Sedangkan Sabaku muda hanya mendengus.
Namun mata jade itu tak luput dari perubahan raut muka gadis yang tengah berdiri disampinya. Haruno Sakura memandang tak suka pada keduanya.
Kini, permata hijau teduh itu memilih memberi tatapan intens pada pemilik surai gulali.
"Kau belum berbaikan dengan Naruto?"
Seolah tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba dari sang pemuda stoic, Sakura tau, Gaara bukan orang yang suka ikut campur urusan percintaan orang lain, juga tidak suka ingin tau, tapi mungkin itu pengecualian kalau menyangkut sahabatnya kan?
Sebenarnya ia engan untuk menjawab, tapi ia juga penasaran akan hubungan Gaara dengan Hinata.
"Kau sendiri, apa kau sudah baikan dengan Hinata?"
Gaara mengedikan bahu cuek sebelum menjawab. "Aku baik-baik saja dengannya."
Hal itu sontak membuat mata emerald gadis Haruno sedikit membulat. Tak percaya dengan jawaban spontan pemuda di sampingnya. Apa Gaara semudah itu menerima semuanya? Dan semudah itu memaafkan?
Padahal Naruto yang Sakura tau sangat mencintainya saja sulit untuk memaafkannya. Kenapa Gaara begitu mudah?
"Jadi kalian sudah kembali bersama?" Lagi, karena cukup penasaran Sakura memastikan.
Kali ini sebuah senyum miring yang mendahului sebuah jawaban dari lawan bicaranya.
"Tujuan awalku bukan untuk bersamanya, menahklukannya hanya sebuah keharusan untuku." Sengaja ia memberi jeda. "Jadi aku tak peduli dengan apa yang terjadi antara Hinata dan Sasuke, kami baik-baik saja." Jelasnya kemudian.
Jadi sekejam itukah Sabaku Gaara?
Keharusan?
Apa ada yang menyuruhnya? Atau hanya untuk pembuktian?
Sebuah taruhan kah?
Ia jadi merinding sendiri.
Membayangakn sebuah rencana kejam yang dibuat Gaara untuk Hinata sungguh diluar dugaanya, dengan siapa Gaara merencanakan ini? Sasuke kah?
Kini pandangan mata hijau cerahnya tertuju pada pemuda yang kini sedang mengeranng kesakitan.
"Ahh..." Desah Sasuke hiperbola, kalau pisau yang ia buat memotong wortel sengaja ia buat sedikit menggores jarinya. Dan berhasil.
Rencananya itu hanya untuk melihat apa Ino masih peduli padanya, dan benar gadisnya masih peduli dengannya.
Terlihat kini gadis pirang itu sedang mengulum jarinya yang berdarah. Saat melihat apa yang terjadi beberapa detik lalu.
Sebuah seringai iblis terpatri diwajah tampannya.
"Bisakah kau lebih hati-hati?" kini pandangan kedua iris berbeda warna itu bertemu. Ada kekhawatiran pada iris samudra.
Tangan besar Sasuke ie gerakan menyentuh pipi lembut gadis di depannya. "Ternyata kau masih peduli padaku." Entah itu pertanyaan atau penyataan.
Dan direspon dengan menautkan alis piranya, baru saja ia akan menampik tangan pemuda didepannya, namun Sasuke lebih dulu mendekatkan wajahnya. Mendaratkan sebuah ciuman pada bibir gadis yang kini tengah melotot takpercaya.
Mungkin dulu Sasuke tak perlu berpikir dua kali untuk mencium gadisnya, tapi sekarang ia menunggu Ino murka atau tidak padanya setelah ia menciumnya seperti ini.
Tindakan itu, tentu saja tak luput dari beberapa mata yang ada disana.
Gaara menutkan alis tak terlihatnya meski masih diam.
Naruto melongo ditempat.
Sakura dan Hinata hanya diam tak bergeming.
Mungkin menunggu adegan selanjutnya. Mungkin dulu hal itu wajar, bahkan Sasuke tak segan mencium Ino didepan publik bahkan tak jarang ciuman berakhir panas. Mereka seolah tak peduli.
Lalu sekarang apa yang akan terjadi.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kiri sang bungsu Uchiha. Setelah Ino mendorong tubuh tegap didepannya yang dengan kurang ajar membuatnya malu.
"Entah kenapa semakin hari kelakuanmu semakin membuatku jijik Sasuke." Itu adalah kalimat sarkas setelah sebuah tamparan ia berikan. Berkali-kali sudah Sasuke membuatnya malu.
"Kenapa Ino?" Bukan merasa kesakitan namun sebuah senyum mengejek Sasuke tunjukkan. "Bukan kah dulu kau selalu bilang kalau kau menyukai ciumanku, yang katamu manis?"
"Kau menjijikan." Pungkas Ino. Ya, mungkin dulu ia sangat menyukai setiap perlakuaan Sasuke terhadap dirinya, sebelum ia tau hal itu hanya membuatnya seperti gadis bodoh.
Kini, tanpa peduli bahwa ia sedang dalam kelas seorang guru yang tak mentolerir alasan apapun yang tak menyelesaikan perintahnya. Ino melangkah pergi dengan menghentak. Sasuke tak henti-hentinya mempermalukannya.
Sasuke mendengus dengan senyum miring. Seharusnya ia sudah menduka ini akan terjadi.
Tanpa pikir panjang ia juga melangkah meninggalkan kelas pertamanya pagi itu.
Pertujukan dikelas yang baru terjadi membuat seluruh penghuni diam dengan meneguk ludah susah payah.
Tapi tidak dengan Gaara, pemuda itu memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening. Dengan apa yang Sasuke lakukan. Meski mereka sudah membuat perjanjian kemarin, bahwa akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Ino, tapi sungguh diluar dugaanya, Sasuke seberani itu. Lalu pertanyaanya apa ia tak bisa seberani Sasuke? Entahlah.
Gaara ikut meninggalkan kelas pertamanya. Entah kemana tujuannya, menyusul Ino ataupun Sasuke.
Tanpa peduli tatapan seorang gadis yang memandang punggungnya menghilang dibalik pintu geser ruang kelas.
Complications
Kejadiaan pagi tadi membuat Ino tak bisa pulang dengan cepat. Tentu saja hukuman yang menahanya. Menyalin sebuah buku tebal di perpustakaan sekolah, kalau mau nilainya berubah dari merah.
Lalu bagaimana dengan dua orang yang juga meninggalkan pelajaran sang guru, tentu saja juga mendapatkan nilai merah dan hukuman, namun apa keduanya peduli? Tidak.
Tapi, paling tidak ada yang peduli dengan gadis itu. Seorang pemuda bersurai merah setia menemaninya. Warna oranye sudah bertengger di barat cakrawala dan keduanya masih setia melakukan kegiatan sore itu.
Sesekali Ino menguap kecil dan merenggangkan otot badannya yang mungkin sudah mulai letih. Sedangkan pemuda di depannya yang sejak tadi hanya bertopang dagu memandangnya. Gaara dibuat tersenyum kecil dengan tingkah gadis di depannya.
"Sudahlah Ino, jangan terlalu memaksakan diri, aku bisa membuat dia membatalkan hukuman kita, kalau kau mau." Gaara berpendapat lelah.
"Dia?" Ino membeo.
"Kurinai-sensei." Jelas sang pemuda.
Ino menghela napas pendek. "Apa kau tidak merasa bersalah?" Kini iris biru itu memandang sang pemuda. "Kita pantas mendapatkannya Gaara, karena meninggalkan kelas Kurinai-sensei dengan sengaja, kau tau?"
"Tak perlu khawatir Ino, aku bisa dengan muda membuat nilai kita baik-baik saja." Kini sang Sabaku muda itu mengatakan dengan penuh keyakinan. Mencoba membuat gadis di depannya tenang.
"Dulu Sasuke juga sering mengatakan seperti itu padaku," Gadis didepannya merubah posisi duduknya, mencoba mencari posisi yang nyaman saat pikirannya melayang jauh kemasa dimana pemuda bersurai raven itu masih menjadi kekasih tercintanya. "Tapi tidak Gaara, itu tidak adil untuk anak lain yang tidak memiliki kuasa dan uang."
"Salah sendiri tidak memiliki kuasa dan uang." Tanpa mau berpikir terlebih dahulu ia menanggapi.
Begitupun dengan gadis pirang itu, kini seolah melupakan soal hukumannya yang masih menumpuh di atas meja perpustakaan, ia kembali berceloteh tentang apa yang dipikirkan olehnya yang tentu saja tidak sependapat dengan si pemuda.
"Kita tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, pasti kalau bisa memilih setiap anak akan memilih lahir dari orang tua utuh dan sempurna, yang memiliki segalanya"
Kalimat yang cukup panjang itu seketika membuat sang pemuda di depannya terdiam. Kini pikirannya melayang jauh tentang dirinya. Apa selama ini dirinya terlahir sempurna atau dilahirkan dari orang tua sempurna? Mengingat ibunya yang dicap sebagai wanita tidak waras, dibenci oleh keluarga ayahnya dan diasingkan. Tentu Gaara tidak bisa memilih memiliki ibu seperti apa.
Meski kenyataanya ia tidak membenci ibunya. Malah sebaliknya, ia membenci ayah dan keluarganya yang membuat sang ibu seperti itu.
"Ya, kau banar." Ia memberi jeda "Mungkin anak dan suamimu nanti adalah orang yang paling beruntung di dunia." Klaimnya, dengan senyum tipis. Dibarengi dengan sebuah pesan masuk di ponselnya.
Ino kembali menguap menanggapi.
"Kau butuh kopi, makanan ringan atau apapun itu?" Kambali Gaara bertanya setelah mengetik sebuah balasan singkat, memberitau pada si pengirim pesan bahwa ia ada di perpustakaan.
"Apa kau tidak membaca peringgatan dilarang membawa makanan di perpustakaan?"
Gaara mendengus. "Itu tidak berlaku untukku." Dengan sebuah kerlingan jaih ia menjawab singkat.
"Ck!" Ino hanya bisa mendecak kesal.
"Lima menit, aku akan membawakanmu kopi dan roti." Sambil berlalu ia mengabaikan Ino yang masih diam ditempatnya.
Chapter 15
Sedangkan di atap sekolah kini ada dua orang pemuda yang sedang diam dengan pikiran masing-masing, setelah beberapa saat lalu berbincang singkat. Tak lama setelah menerima balasan dari pesannya yang ia kirim beberapa detik lalu, Sasuke malangkah pergi.
"Kau mau, kemana?" pertanyaan dari pemuda yang sejak tadi menemaninya.
"Pulang." Jawabnya singkat tanpa menoleh kembali kebelakang.
"Dengan?" Seolah ia ingin memastikan curhatan sahabat ravennya tadi, ia mengajukan pertanyaan bodoh.
"Gaara." Lagi, kembali ia menjawab singkat.
Naruto, pemuda itu hanya mengercutkan bibir mendengar jawaban pemuda yang kini sudah menghilang dibalik pintu.
Sasuke membawa langkahnya menuju perpustakaan, setelah mengetahui lokasi teman berambut merahnya berada.
Sebenarnya sedikit heran, mengetahui Gaara ada di perpustakaan. Tapi ia tak perlu memastika ulang pesan yang ia baca. Karena ia tau kenapa ia ada disana dan pasti dengan siapa.
Dan benar, suasana sore di perpustakaan sudah sepi, jadi Sasuke bisa dengan mudah menemukan obyek yang sudah sangat ia hapal. Surai pirang itu sedang terkulai diatas tumpukan buku-buku perpustakaan yang sepi. Ditemani dengan latarbelakang langit oranye.
Membawa langkah kakinya mendekat. Bibir tipisnya tersenyum kala ia mengamati wajah teduh itu sedang terlihat polos, kelopak matanya menyembunyikan permata biru dalam yang indah, yang mampuh menghanyutkan siapa saja yang sekedar mencoba menatapnya. Ditambah bulu mata lentik dengan sedikit rona merah dipipi, membuat sosok itu terlihat begitu memukau dimatanya.
Sasuke berjongkok tepat di samping meja, untuk mensejajarkan kepalanya dengan sang gadis. Tangan besarnya terlihat berhati-hati untuk mengelus surai pirang yang sedikit menjuntai menutupi wajah ayunya.
Entah mendapat kekuatan dari mana lagi, ia sdikit mendekatkan wajahnya untuk mencium puncak kepala pirang, tak peduli kalau gadis itu bangun ia akan mendapat amukan hebat lagi bahkan sumpah serapa. Tapi sepertinya Sasuke memang suka sekali membuat masalah dengan Ino akhir-akhir ini.
'Peduli setan dengan apa yang akan terjadi.' Ucapa innernya.
Tak lama sebuah suara yang tak asing membuyarkan tatapannya.
"Sepertinya kau menyukai pemandangan yang sedang kau lihat?"
mata onyx itu melirik sejenak kearah sumber suara, dan benar, sahabat rambut merahnya, ada disana.
"Bukan hanya apa yang sedang aku lihat, tapi semua yang ada pada dirinya aku menyukainya." Jawaban ambigu Sasuke lontarkan.
"Kau hanya terobsesi dengannya." Langkah Gaara mendekat.
"Apa yang kau tau, tentang perasanku Gaara Sabaku?" Intens, kedua mata yang berbeda warna itu saling memandang satu sama lain.
"Entahlah," Gaara mengedikan bahu. "Yang pasti, kau tidak akan bisa menyakitinya lagi di masa depan." Tambahnya, dengan seringai yang menyebalkan diwajah rupawannya.
Sedangkan Sasuke hanya merespon dengan senyum miring tak peduli.
Mungkin mereka bersahabat, saling membutuhkan, tapi jugu ada persaingan diantara mereka sekarang. Apa lagi setelah tau bahwa Gaara juga menyukai Inonya.
Sosok yang sejak tadi menjadi obyek kedua pemuda itu mengerjap sesaat sebelum mengangkat kepala pirangnya. Terlihat sedang mengumpulkan nyawanya, memberi pandangan tak mengerti.
"Akhirnya kau bangun juga." Sasuke yang kemudian bersuara.
Ino terlihat berkedip dua kali memandang sosok pemuda itu, apa yang dilakukan Sasuke disini dan sejak kapan?
"Ayo pulang!" Kembali Sasuke menambahkan.
Baru Ino mengerti, pemuda itu datang untuk mengajaknya pulang. Kalau ia ingat pemuda itu tidak membawa mobilnya.
Terlihat masih diam, Ino memilih merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum menjawab. "Aku masih ada kegiatan klub."
Setelah mendengar jawaban sang gadis, kedua pemuda itu mengernyit.
Tak perlu menunggu keduanya menjawab, Ino langsung membereskan buku-bukunya. Dan kemudian melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kedua pemuda itu yang masih terdiam.
Beberapa detik Gaara menyusul diikuti Sasuke yang mengekor di belakangnya. Meski keduanya tak mengerti kegiatan klub apa yang akan diikuti sang gadis diwaktu yang menunjukan hampir malam begini.
'Mejahit?'
Keduanya mengernyit, setelah membaca nama ruangan yang dimasuki gadis pirang itu. Sejak kapan Ino berminat dengan dunia jahit menjahit?
Complications
Kini setelah mengantar Ino ke rumahnya dengan selamat, Gaara akan mengantar sahabatnya ini pulang, namun Sasuke meminta diantar ke basecam mereka.
"Kau tidak pulang?" Itu adalah pertanyaan Gaara, untuk Sasuke.
"Aku akan tidur di sini." Dan itu adalah jawaban singkat dari Sasuke.
Gaara mengerutkan kening. "Kau sudah makan, dan berapa uang yang kau miliki sekarang ini?"
Sasuke memberikan tatapan tajam pada sang sahabat, pertanyaan macam apa itu? Namun tak berniat untuk menjawab.
Sebuah kartu tersodor ke dapannya.
"Pakai ini, aku tau kau membutuhkannya." Karena Gaara tau, sahabatnya tak akan menjawab pertanyaanya.
Bukannya menerima, Sasuke malah tersenyum miring. "Kau mengasihaniku?"
"Tidak. Aku hanya peduli pada sahabatku." Terang Gaara dengan kemudian meletakan kartu di tangannya pada meja di depannya.
"Ck, peduli?" Sasuke mendecak. "Jangan berpikir, karena kau peduli padaku, lalu aku akan mengalah untuk Ino." Kemudian ia melanjutkan dengan kalimat panjang.
Gaara dibuat tersenyum dengan spekulasi pemuda angkuh itu. "Tidak, jangan pernah mengalah." Ia memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Sasuke. "Aku tidak suka menang dengan mudah."
Sasuke pun tersenyum miring karena ucapan pemuda didepannya. "Kau percaya diri sekali bisa menang dariku."
Sang sahabat bersurai merah yang kini sudah bersandar pada kepala sofa dan mulai memejamkan mata jadenya hanya mengedikan bahu
"Kasihan sekali perdana mentri memiliki anak sepertimu."
"Aku lebih kasian dengan Itachi-nii."
Sejenak keduanya hanya diam dalam pikiran masing-masing. Kadang mereka mengobrol ringan tentang banyak hal, kadang ruangan sunyi itu bertambah sunyi karena kediaman keduanya. Ditemani beberpa beer dan makanan ringan yang berserakan di meja juga rokok yang katanya membuat mereka tenang.
Gaara juga memutuskan untuk tinggal di rumah singgah mereka malam itu. Tanpa kata, ketenangan merajai keduanya. Mungkin hanya suara korek dan deru napas kasar kala keduanya menghempuskan asap rokok yang mereka hirup
At My Worst
Seorang pria tampan dengan setelan jas formal, terlihat elegan duduk di kursi kebesarannya. Sebuah ruangan bertuliskan direktur utama sebuah perusahaan programer, yang mengerjakan orang-orang berotak jenius seperti dirinya. Perusahaan itu baru dua tahun didirikan, meski begitu tak perlu diragukan lagi kekayaan yang mampuh dihasilkannya.
Itachi Uchiha nama yang tertulis di atas papan kayu berplitur elegan di atas meja kerjanya.
Namun berbeda dengan biasanya yang selalu menunjukan raut tenang, kali ini ia terlihat gusar dan menahan marah. Sebuah sambungan telepon sepertinya yang menjadi penyebabnya. Sepertinya orang diseberang telepon sedang menguji kesabaran sang Uchiha sulung.
"Aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Karin Uzumaki, kalau kau sampai berani menggugurkan bayimu."
"Ck, kenapa kau yang repot sih? Aku harus kembali untuk melanjutkan sekolahku Itachi-nii dan apapun yang akan aku lakukan pada kangdungankku itu bukan urusanmu."
Pungkas Karin, titik.
Ya, Karin memang mengatakan akan kembali ke Amerika. Waktu libur musim panasnya sudah berakhir. Namun tentu saja itu membuat Itachi tidak tenang, sungguh ia tidak peduli dengan gadis itu dan jujur ia sudah sangat lelah mengahadapinya. Namun bayi yang ada di kandungannya yang menjadi poin si sulung Uchiha.
Setelah sambungan telepon ditutup sepihak, Itachi kembali menghubungi seseorang. "Keruanganku sekarang Kisame."
Tak lama sebuah ketukan pada pintu terdengar.
"Masuk!"
"Ada apa Itchi?" Pertanyaan spontan dari sahabatnya, yang baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan sang direktur muda itu. Ya, Kisame adalah sahabatnya sekaligus orang kepercayaanya di perusahan yang ia dirikan sendiri itu. Tanpa campur tangan nama besar Uchiha.
"Duduklah dulu." Jeda, "Aku ingin kau pergi ke Amerika." Setelah sang sahabat duduk didepannya ia menambahkan.
Kisame terlihat mengerutkan alisnya. "Amerika?" Ia membeo.
Dan Itachi mengangguk pasti.
"Apa kau ingin membangun cabang disana?" Tebak sang sahabat. Bukan ia sok tau, atau memang ia sangat tau, apa lagi kau bukan soal pekerjaan yang membuat ia harus pergi kesana. Tapi belum ada rapat soal membahasan ini, ditambah lagi biasanya Itachi akan mengirim Konan dan Nagato untuk urusan luar negeri.
"Tidak." Leptop yang sejak tadi menyala di depan sang CEO itu iya putar kearah lawan bicaranya.
Di sana terlihat sebuah akun media sosial, dan profil seorang gadis.
Terlihat sexy, dan cukup cantik
"Siapa dia?" Bukan Kisame tak bisa membaca nama yang tertera pada profil sang pengguna, namun ia hanya ingin mengetahui langsung siapa gadis itu dan apa hubunganya dengan bosnya.
"Karin Uzumaki, aku ingin kau mengawasinya."
Semakin mengerutkan kening, lawan bicaranya dibuat semakin tak mengerti.
"Kenapa?" Dengan polos dan rasa tak sabar membuat ia bertanya bodoh. Ia mengenal Itachi Uchiha sejak di bangku sekolah, berbelit-belit bukanlah sifat sang Uchiha jenius itu.
"Dia sedang hamil-,"
Belum selesai dengan kalimatnya, Kisame sudah tersedak tak sopan.
Itachi memicing kearahnya, merasa terganggu.
"Dengarkan aku dulu." Suaranya tajam.
"Oke, maaf."
"Karin mengatakan, Sasuke yang menghamilinya," Terlihat, Itachi memijat pelipisnya. Menunjukan kegusaran yang nyata pada wajah tampan yang biasa terlihat tenang dan teduh itu dalam segala situasi.
'Ah, jadi adik kesayanganya' Suara inner Kisame setelahnya.
"Gadis itu juga menolak aku bertanggung jawab."
UHUK!
Kisame kembali tersedak.
"Apa kau bilang, apa aku tidak salah dengar, kau mau bertanggung jawab?"
"Tidak ada pilihan lain Kisame, Sasuke tidak mau bertanggung jawab, dengan alasan dia bilang, bukan tentu itu anaknya."
Sebuah senyum kecut terukir diwajah tampannya.
Membuat sang sahabat semakin prihatin. Dan sepertinya mulai dari sini ia paham.
"Aku tidak tau Karin gadis seperti apa, entah siapa saja yang mungkin pernah tidur dengannya dan bagaimana pergaulannya, tapi aku hanya ingin memastikan, satuhal." Jeda sejenak untuk menghela napas. "Kalau memang bayi itu adalah anak Sasuke, aku tidak ingin Karin mengugurkannya. Tapi bila itu memang bukan anak Sasuke, paling tidak jangan biarkan gadis bodoh itu membunuhnya. tugasmu adalah mengawasinya, dan memastikan bayi itu lahir dengan selamat." Finalnya kemudian.
Bukannya semakin mengerti, Pria berambut jabrik itu terlihat memijat kepalanya, yang terkesan ambigu dengan penjelasan sang sahabat. Pening, itulah yang kini juga dirasa oleh Kisame.
"Seharusnya masalahnya selesai, kalau gadis bodoh itu menolak tanggung jawabmu bukan, kenapa kau repot-repot seperti ini?"
Itachi melotot tak suka.
"Bayi itu tidak bersalah Kisame, astaga. Aku tidak ingin Karin mengugurkannya."
"Oke, setelah bayi itu lahir, lalu apa yang akan kau lakukan dengan bayi itu ha?"
"Kalau memang itu bayi Uchiha, aku akan merawatnya. Kita akan melakukan tes DNA setelah bayi itu lahir."
"APA?" Terlihat kaget dengan keputusan yang akan diambil sahabat anehnya ini.
"Bisakah kau memelankan suaramu?"
"Kau sinting Itachi."
Namun tak ada jawaban darinya.
"Aku hanya mengirimu kesana tidak lebih dari 9 bulan, mengawasi Karin dan memastikan ia tak berlaku bodoh untuk menggugurkannya. Dan setelah bayi itu lahir bawa ia kembali, serahkan padaku."
Dengan enteng ia mejabarkan rencananya.
"Untuk biaya hidup, kau tenang saja, aku yang menjaminnya dan kau akan tetap mendapat gaji seperti biasa."
Kisame hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa sesimple ini pikiran orang jenius? Ia benar-benar tak habis pikir dengan pikiran sahabat kentalnya ini. Mungkin banyak yang berspekulasi bahwa Itachi Uchiha adalah monster yang mengerikan didepan lawan bisnisnya. Tapi lihatlah sekarang, rasa sayangnya terhadap sang adik membuat dia terlihat bak malaikat bukan.
"Bagaimana kalau aku gagal?"
Dilihat dari foto-foto gadis itu, dia bukan gadis polos yang bodoh. "Sepertinya ia gadis yang nekat?" Kisame berpendapat.
"Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri kalau sampai ia berani menggugurkan kandungannya."
Jawaban yang Kisame dengar kemudian membuat ia tersenyum kecut.
At My Worst
Musim gugur di Jepang sepertinya datang lebih cepat, dan musim ini membuat intensi hujan lebih sering. Seperti saat ini, ia lupa membawa payung sedangkan dia harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke stasiun kereta dari seolahnya, sore itu.
Apa ia harus meminta ayahnya, untuk menjemputnya?
Namun belum juga ia mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada sang ayah, ponsel pintar itu sudah lebih dulu bordering.
'Kau dimana, tunggu aku didepan gedung olahraga!'
Sabaku Gaara, orang yang menelponenya. Dan orang yang seenaknya saja langsung menutup sambungan telpon tanpa peduli sang gadis berteriak-triak menyebut namanya untuk memastikan pendengarannya, meski percuma.
"Gaara? Hallo Gaara, Gaara Sabaku?"
Teriakan pada sambungan ponsel yang sudah mati itu, membuat ia tak terlalu melihat sosok gadis yang semula berjalan melewatinya, kini berhenti tepat disamping ia berdiri.
Baru saja ia akan mulai kembali melangkah, sura gadis mungil itu menahannya.
"I-Ino-chan, bisakah kau menjauhi Gaara-kun." Terdengar bak cicitan dengan dibarengi suara gemuruh hujan dihalaman luas sekolah.
Seharusnya, tanpa menolahpun Ino sudah tau siapa yang bersucap itu. Namun seoalh memastikan kembali ia menolehkan kepalanya terlalu cepat sampai terasa sakit pada lehernya. Ino dibuat tak percaya dengan kalimat gadis itu yang baru ia dengar.
"Kenapa Hinata, kau keberatan?" Entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulut sang gadis Yamanaka.
Lawan bicaranya semakin menunduk, takut, mungkin. "A-ak-aku, mencintai Gaara-kun."
Kini Ino memutar tumitnya sembilan puluh derajat, yang seratus persen menghadap lawan bicaranya. Ia tersenyum, "kau ini lucu sekali ya?" Komentarnya kemudian.
Kepala yang sejak tadi menunduk itu, kini mendongak, seolah tak mengerti.
Kini permata yang memiliki warna mata yang berbeda itu saling memandang dalam diam beberapa detik. Sebelum suara Ino kembali terdengar menginterupsi.
"Kalau kau mencintainya, kau tidak akan mengkhianatinya bukan?"
Seketika itu gadis bermata lavender itu seolah tercubit, ia kembali menunduk.
Sunyi, hanya suara deras hujan sore itu yang terdengar. Namun suara lembut yang kembali meninggi terdengar.
"Itu karena kau tidak bisa menjaga Uchiha brengsek itu kan?" Jerit gadis Hyuga yang membuat Ino mengerutkan alis pirangnya.
Plak…
Sebuah tamparan mendarat pada pipi yang sedikit chubby itu. Ino menamparnya?
"Sekarang kemana Hinata Hyuga yang aku kenal selama ini, atau aku salah mengenalnya?" Ino memberi jeda sejenak. "Kau keterlaluan," Kemabli ia menjeda, "bagaimana kalau seandainya Gaara masih tetap mendekatiku?"
Kini senyum miring terukir di wajah ayu yang menatap sayu gadis pendiam yang ia kenal.
"Aku tidak bodoh Hinata, siapapun bisa melihat, bahwa Gaara menyukaiku." Sengaja ia kembali mengantung kalimatnya. "Mau bertaruh denganku?"
Seolah mendapatkan skakmat dari Ino, gadis berperawakan mungil itu hanya membisu dengan kalimat yang baru saja dihujamkan pada dirinya.
Tak mau berlama-lama berada ditempat ini, Ino kembali berbalik menuju gedung olahraga. Tanpa ia tau Hinata mengikutinya.
Sedangkan didalam gedung olahraga pun juga terjadi kegaduan yang disebabkan oleh dua pemuda stoic.
Baru saja Gaara menyambar jaket olahraganya yang sejak tadi bertengger pada kursi, suara Sasuke mengusiknya.
"Mau kemana kau Gaara?"
Langkah itu terhenti, jaketnya ia sampirkan pada bahu kanannya.
"Pulang."
Jawaban singkat namun jelas itu memicu kemarahan seorang Sasuke Uchiha kemudian.
"Kalau kau memutuskan keluar dari gedung olahraga ini, maka saat itu juga kau keluar dari tim basket."
Kalimat panjang dari sang Uchiha membuat Gaara memutar tubuhnya menghadap pemuda bermata onyx.
"Sasuke?" Suara Naruto lirih, coba mengingatkan sang sahabat untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
"Disini aku kaptennya, kau tidak bisa keluar masuk seenaknya Sabaku."
Senyum miring terpatri di wajah si rambut merah.
"Begitu?" Ia sengaja mengambil jeda sejenak. "Jadi hanya kau, sang kapten yang bisa seenaknya?"
Warna mata berbeda itu saling memandang tajam. Seolah sama-sama ingin menghancurkan satu sama lain lewat tatapan.
"Naruto, aku hanya ingin mengantar Ino pulang dengan selamat, lima belas menit, setelah itu aku akan kembali."
Tambah sang Sabaku, kepada teman satu tim yang berdiri tak jauh dari sang kapten, Naruto Namikaze. Meski pandangan matanya tak lepas dari Uchiha bungsu.
"Berhenti mencuri start seperti pecundang Gaara." Sasuke kembali berkomentar.
"Aku rasa, perjanjian kita sudah dimulai sejak aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Jadi ini bukan mencuri start." Gaara mengingatkan. "Dan apa kau ingat apa yang kau ucapkan waktu itu?" Ia kembali memberi jeda. "Apa perlu aku mengingatkanmu Sasuke Uchiha?"
"Ck… omong kosong."
Hahaha…
Suara tawa yang sengaja ia ejah, seolah mengejek pemuda bermarga Uchiha didepannya.
"Apa kau selalu seperti ini, mengingkari janji yang kau buat sendiri seperti pecundang?"
Lagi-lagi kalimat yang dilontarkan Gaara semakin membuat Sasuke geram.
"Siapa disini yang pecundang? Kau atau aku, Sabaku?"
Entah, dari sekian banyak kalimat sarkas yang saling terlontar, tapi masih mampuh membuat keduanya dikuasai ketenangan.
"Karena kenyataannya, kau tak berhasil memenangkan taruhan yang kita buat untuk menahklukan Hyuga."
"Kalau yang kau maksud menahklukan Hinata adalah menidurinya, aku memang tidak akan menidurinya, karena aku tidak akan tidur dengan sembarang gadis."
Kalimat keduanya semakin lama semakin vulgar, bahkan tak peduli dengan beberapa temen mereka yang ada di gedung olahraga luas itu.
"Kalau begitu kau tidak berhak mendapatkan hadiahmu."
"Hadiah yang paling aku inginkan sekarang bukan lagi milikmu."
"Sampai kapanpun, Ino adalah milikku."
"Kita lihat saja nanti."
Gaara kembali memngambil langkah memutar, menuju tujuan awalnya. Pasti Ino sudah menunggunya lama dan juga ia tidak ingin berkelahi dengan Sasuke disini.
Kepergian Gaara membuat Sasuke mengepalkan kedua tanganya yang sedang mengantung diantara tubuh tegapnya. Ia baru saja hendak mencegahnya, sebelum Sabaku mudah itu kembali berhenti ditempat.
Mereka berdua tau, apa yang membuat keduanya berhenti, bahkan mematung. Tanpa suara.
Sosok gadis bersurai pirang panjang yang diikat ekor kudalah penyebabnya. Ino Yamanaka sedang berdiri di depan ambang pintu masuk gedung olahraga sekolah.
"Ino?" Suara Gaara masih jelas saat memastikan apa yang dilihat mata jadenya adalah benar. Gadis itu masih diam.
"Sejak kapan kau disitu?" Gaara menambahkan.
Senyum terukir diwajah ayunya. Meski terlihat kontradiksi dengan raut wajahnya sekarang.
"Sudah sejak tadi." Jawabnya lirih.
"Apa saja yang kau dengar?" Gaara yang kembali membrondong dengan pertanyaan. Sedangkan Sasuke masih diam.
"Semuanya." Jawabnya mantap.
Terdengar helaan napas berat dari kedua pemuda tampan itu.
Mungkin Ino, tak menduga, bahwa ucapanya beberapa menit lalu kepada Hinata akan benar terjadi. Meski benar, harusnya tak secepat ini kan?
"Jadi kau tau, bahwa Gaara tidak lebih baik dariku?" Kini Sasuke yang bersuara. "Gaara mendekati Hyuga hanya untuk memenangkan taruhan yang kami buat." Ia menambahkan.
Ia tak tau, harus bagaimana. Entah mendengar semua kalimat perkalimat dari dua pemuda yang menyandang predikat paling diinginkan di sekolahnya dengan cara yang ia anggap memalukan. Sekarang mungkin memutuskan untuk pergi dari gedung olahraga ini adalah keputusan yang lebih baik.
Ino membawa kakinya untuk mundur satu langkah sebelum memutuskan untuk berbalik pergi.
"Aku mencintaimu Ino Yamanaka."
Kalimat itu menghentikannya sekali lagi, namun sosok gadis yang baru ia tau ada di depannya kinilah yang paling membuatnya mematung.
Sejak kapan Hinata ada disana?
Apa Hinata mengikutinya sejak tadi?
Mungkinkah Hinata mendengar semua kalimat yang juga ia dengar dari Sasuke dan Gaara?
Segala macam pertanyaan kini memenuhi pikiran kecilnya.
Sampai kalimat Gaara menyadarkannya kembali.
"Dari pertama kali aku melihatmu di sekolah ini." Gaara mencoba menjedanya. "Aku mungkin tidak lebih baik dari Sasuke, tapi aku bisa menjamin kalau aku tidak akan tidur dengan gadis manapun."
Kalimat yang cukup panjang itu, membuat orang yang ada disana membeku dibuatnya. Tanpa mempedulikan seorang gadis yang kini sedang menundukkan kepalanya. Dan juga seorang gadis pirang yang kalut dengan pikirannya.
"Alasanku menerima taruhan dari Sasuke adalah kau."
Jangan lupakan Sasuke Uchiha yang semakin geram. Tangannya sudah mengepal erat sejak tadi, kini gigi-giginya digertakan semakin tak suka dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
"Kalau kau tidak ingin aku menyentuhmu, aku tidak akan menyentuhmu." Jeda untuk menarik napas sejenak. "Aku akan menunggumu sampai kita menikah." Kembali jeda. "Dan jangan khawatir, aku tidak akan tidur dengan gadis lain."
Dengan ketenangan yang cukup tinggi Gaara menambahkan kalimat sakral yang membuat setiap orang yang mendengarnya semakin panas.
"Itupun kalau kau mau menikah denganku, tapi aku akan menunggumu sampai kapanpun."
Ino menggigit bibir bawahnya dalam diam. Sudah cukup, kini ia kembali memutar tumitnya dan berjalan cepat kearah pemudah yang sejak tadi mengoceh.
Seperti bukan dirinya saja.
Berhenti tepat di depan sang pemudah bersurai maroon yang kini sedang menatapnya.
Plak…
Pipi kirinya terasa sedikit panas. 'Apa ia ditolak sekarang?' Senyum miring terukir diwajah tampannya setelah Ino menamparnya.
"Baka."
Kalimat itulah yang kemudian keluar dari bibir berwanah peach itu. Mungkinkah keputusan yang akan ia ambil adalah keputusan yang tepat? Ia tidak tau.
Sedikit mengerucutkan bibirnya, lalu mengigit bibir bawahnya. Pertanda ia sedang dalam pergolakan batin.
Sedangkan Gaara hanya diam ditempat. Kini jaket yang belum sempat ia pakai, ia genggam erat. Tubuh yang masih memakai setelah jersey basket itu, penuh dengah peluh, meski ia sedikit tidak percaya diri dengan kondisinya sekarang ini. Ia tetap mengutarakan perasaannya, mungkin ia berharap saat mengutarakan perasaanya pada gadis yang ia sukai ini nanti, ia ingin melakukan hal romantis. Tidak dalam kondisi seperti ini. Tapi persetan dengan itu.
"Maaf-,"
"Apa kalian pikir aku semurahan itu?" Belum sempat Gaara menyelesaikan kalimatnya, Ino memotongnya.
Mata indah yang biasa selalu ramah itu kini memicing tak suka. Ada genangan air mata disana. Mungkin saat kelopak itu berkedip, air itu akan jatuh melalui pipi putihnya.
"Kalian butuh waktu seumur hidupmu untuk tidur denganku Gaara." Ino memberi jeda sejenak. "Kalau memang itu yang kalian impikan dalam hubungan." Setelah kalimat pamungkasnya itu ia kembali memutar tubuhnya. Tujuannya adalah pulang.
Hari yang dingin, sore ini menjadi semakin berkabut saja.
"Ino, tunggu."
Bahkan tarikan Gaara pada pergelangan tangannya tidak membuatnya kembali menoleh.
"Aku tidak peduli, aku akan menjadikan seumur hidupku untuk menunggumu." Jeda menunggu respon, tapi yang ditunggu tak kunjung merespon. "Bukan hanya untuk tidur denganmu." Ia menambahka dengan pelan.
Tangan yang menggenggamnya ia hempaskan. Lalu kembali berlalu. Melewati bahu mungil yang sedikit tersenggol karena berdiri diam diambang pintu.
"Ck…" Gaara mendengus dan memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
Apa seperti ini rasanya ditolak? Tapi seharusnya ia sudah menduganya bukan?
Sedangkan Sasuke hanya memberi senyum miring andalannya.
To Be Continue…
