Kedua kelopak mata Ino mengerjap, desah nafasnya terdengar memburu ketika pikirannya teringat seseorang.
Ino memandang bantal disebelahnya yang kosong, tidak ada sosok Itachi yang berbaring disana.
Ino mengerutkan keningnya, dalam hatinya bertanya-tanya.
Apakah kemesraan yang terjadi tadi malam hanya sebuah khayalan atau mimpi?
Ino segera beranjak, namun sebelum benar-benar berdiri dari posisinya, untuk beberapa saat Ino mematung ketika mendapati keadaan tubuhnya yang benar-benar polos.
Ia pun menyadari bahwa hal yang terjadi semalam bukanlah mimpi.
Ino segera mencari Yukatta miliknya, lalu melangkah keluar dengan tergesa.
Ia ingin memastikan sesuatu, apakah Itachi sudah meninggalkannya lebih dulu atau sedang bersantai diluar.
Srekk
Ino menggeser pintu dengan tergesa, dan buru-buru menatap kearah luar.
Wussh~
Angin berhembus menerpa permukaan wajahnya.
Seketika pandangan mata Ino berubah kecewa ketika melihat pemandangan sekitar kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Dengan keadaan lesu ia melangkah keluar, sembari berdebat dengan pikirannya, Ino beralih menuju sebuah pohon yang tidak jauh dari halaman penginapan.
"Hahh~" Ino mendesah bosan sembari bersandar dipohon.
Ino bertanya-tanya, mengapa Itachi bersikukuh untuk menyembunyikan hubungan mereka didepan semua orang?
Dan lagi cerita apa sebenarnya yang membuat Itachi mati-matian ingin menyembunyikan hubungan ini?
Apa kedua orang tuanya tidak setuju?
Atau mungkin Klan Uchiha menentang hubungan ini?
Greb!
"Huwaaa!" Ino seketika memekik.
Tanpa ada suara, sosok Shisui secara tiba-tiba muncul tepat dihadapannya.
"Shisui Nii San!?" pekik Ino terkejut.
Melihatnya Shisui pun tertawa.
"Kenapa malah tertawa? Tidak lucu tahu!?" hardik Ino.
"Hahaha Gomennasai" sahut Shisui.
Ino mendengus.
"Hem, aku sengaja ingin menemuimu" Shisui memasang ekspresi serius.
Ino mengerutkan dahinya, "Mencariku? Memang ada apa?" tanya Ino.
Shisui menggeleng, "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Shisui balik.
Ino menjadi semakin bingung, "Hah? Perasaanku baik-baik saja sekarang"
Pluk
Shisui memegang kedua bahu Ino.
Ino seketika membeku, sesaat pikirannya berlayar entah kemana. Mendadak kepalanya tidak bisa memikirkan apapun.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja" ujar Shisui.
Ino masih membeku, sedangkan Shisui kini mulai menyadari jika perlakuannya tersebut membuat suasana berubah menjadi canggung.
Sesegera mungkin Shisui melepaskan tangannya, dan buru-buru memasang senyum untuk menutupi perasaannya yang ikut canggung.
"Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Tapi ada suatu hal yang ingin kuceritakan padamu, tetapi akan kuceritakan dilain waktu saja." ujar Shisui, Ino hanya bisa memasang ekspresi bingung.
"Yang penting kau baik-baik saja. Pokoknya jangan pernah mengambil misi diluar desa dulu" Shisui menatap Ino yang kebingungan.
"Aku menyarankan ini karena kita- berteman" ujar Shisui agak terbata.
Ino masih mematung.
Pikirannya sedikit demi sedikit mencoba mencerna ucapan Shisui.
"Apa maksudnya aku dalam bahaya?" tanya Ino.
Shisui menepuk bahu Ino.
"Tidak juga, tapi ada hal penting yang harus kau ketahui. Aku akan memberitahumu ketika kau sudah pulang kedesa"
Ino menjadi semakin bingung. Sejenak wujud Itachi dan Shisui muncul dikepalanya, saling bersandingan dan berputar-putar memenuhi kepala Ino.
Kenapa dua sahabat ini senang sekali membuat dirinya penasaran?
Kenapa harus kata 'nanti' yang Ino dapatkan ketika ia benar-benar ingin tahu sesuatu!?
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu Shisui Nii San, aku akan bersiap untuk pulang kedesa" jawab Ino masih dilanda bingung.
Shisui mengangguk, "Hai, aku akan menunggumu ditaman belakang desa"
Ino mengangguk, "Hai" jawab Ino.
Dengan ekspresi bingungnya Ino melangkah pergi, satu kerutan timbul didahinya.
Kenapa sekarang suasana hidupnya berubah jadi aneh?
Bahkan hidupnya selalu dilanda perasaan bingung dan penasaran.
Terlalu banyak misteri yang melingkupi kehidupannya sejak berdekatan dengan Itachi dan Shisui
OooO
Tap Tap
"Lihatlah kesana" interupsi seseorang.
Sosok yang ditegur pun menoleh, bersamaan dengan terpaan angin mata kelamnya menyorot dua objek yang sangat familiar.
"Bukankah itu kekasihmu?" ujar seseorang tersebut.
"Ya" sebuah jawaban singkat membuat seseorang tersebut memelototi sosok didekatnya.
"Kau tidak cemburu melihat kekasihmu sedang berduaan dengan Taicho?"
"Memang apa yang mereka lakukan?"
"Apa? Hey Itachi kau sedang tidak waras ya?"
Tidak ada jawaban, sosok yang dipanggil Itachi hanya diam memperhatikan dua orang yang sangat ia kenal dibawah sana.
"Biarkan saja, ayo kita pergi melapor pada Hokage Sama"
Seseorang tersebut melongo. "Nani?!"
"Hey Itachi!? Apa kau tidak mencintai kekasihmu?"
Wushh
Tap Tap Tap
Tanpa menghiraukan perkataan temannya Itachi pun berlalu pergi.
o
o
o
Disebuah lorong yang hening, tampak dua orang Shinobi Uchiha mengawal Itachi menuju sebuah penjara paling ujung.
Setelah langkah mereka terhenti, Itachi dipersilahkan masuk kedalam.
"Kami akan menunggu disini Itachi San" ujar salah satu dari orang tersebut.
Itachi mengangguk, "Hai, aku hanya berkunjung sebentar"
Itachi lalu melangkah masuk, pandangannya mengitari ruangan yang diberi beberapa fasilitas untuk kebutuhan seseorang didalam.
Penjara tersebut tampak lebih istimewa dibandingkan dengan penjara yang lain.
Itachi menatap seseorang yang berdiri dengan tubuh bergetar disana.
"I - Itachi?" ujar Izumi seolah tidak percaya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Itachi.
Izumi mengusap airmatanya, "Kau bisa lihat sendiri keadaanku bagaimana" jawabnya.
Itachi duduk disebuah kursi.
Sesaat keadaan hening.
"Itachi" panggil Izumi memecah keheningan.
Itachi menoleh.
"Terima Kasih sudah datang kemari" ujar Izumi.
"Tidak Masalah" jawab Itachi singkat.
Izumi tersenyum penuh haru.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa" ujar Izumi.
Itachi tidak menyahut perkataan Izumi, sebelum kemudian menggumam.
"Aku senang karena pada akhirnya kau sadar dan menyesali perbuatanmu" ujar Itachi.
Sorot mata Izumi berubah.
"Apa kau sadar bahwa wanita itu mendekati kalian karena memiliki satu tujuan" ucap Izumi dengan raut wajah tidak suka.
Itachi menatapnya.
"Apa kau mengetahui dengan pasti tujuannya?" tanya Itachi balik.
Izumi terdiam sejenak. "Aku hanya tidak suka kalian berdua didekati oleh wanita itu"
Izumi menatap Itachi, "Wanita yang berasal dari klan rendahan sepertinya tidak layak berteman dengan kalian"
Ekspresi Izumi menunjukan kebencian.
Lama terdiam akhirnya Itachi bergeming, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum yang tidak dapat diartikan.
Tampak dari raut wajah yang ditimbulkan Itachi, jika ia tidak menyukai kalimat arogan yang dilontarkan Izumi.
"Dahulu aku sangat mengagumi prinsip seseorang, aku menyukai pribadinya yang ramah dan hangat pada semua orang." ujar Itachi yang kini menatap lekat Izumi.
"Aku menyukainya karena dia gadis yang baik hati"
"Tetapi semua kekagumanku sirna ketika melihat jati dirinya yang sesungguhnya"
Izumi membeku.
"Apa maksudmu Itachi Kun?" tanya Izumi dengan pandangan mata nanar.
"Izumi yang dulu kukenal sebagai sahabat, rekan dan bahkan lebih dari itu kini telah berubah."
Izumi terdiam dengan mulut yang menganga, tubuhnya terlihat bergetar ketika mendengar pengakuan dari Itachi.
"Kau wanita yang berbahaya" ujar Itachi.
Sedetik kemudian Izumi memekik sembari menangis, kedua tangannya kini mencengkeram kepalanya.
"Itachi Kun maafkan aku!" teriak Izumi, kemudian beranjak dari tempatnya dan berlutut didepan Itachi.
Namun tidak dihiraukan oleh Itachi.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama!" ujar Izumi sesenggukan.
Itachi tetap diam.
"Aku mohon Itachi Kun" desak Izumi sambil menangis.
Itachi mencoba melepaskan tangan Izumi dari kakinya namun sekuat tenaga ditahan oleh Izumi, dan tanpa persetujuan dari Itachi, secara tiba-tiba Izumi memeluk erat tubuhnya.
"Jangan tinggalkan aku!" ujar Izumi, tangisannya semakin menjadi ketika Itachi mencoba melepaskan pelukannya.
"Hentikan Izumi" ujar Itachi dengan ekspresi panik, Itachi berkali-kali menatap kearah pintu.
"Apa kau tidak mengerti tentang perasaanku selama ini?" tanya Izumi balik, ia menatap Itachi.
"Aku mengerti. Tetapi kita tidak bisa bersama seperti dahulu" jawab Itachi tegas.
Izumi pun menangis sejadinya.
ooOoo
Tap Tap Tap
SHING!
Krashh!
"Ahk!" ringis Ino seraya memekik.
Baru semenit lalu memulai latihan dengan Shisui, tubuh Ino serasa ingin tumbang menahan serangan yang dilancarkan terhadapnya.
Ino bersiap siaga dengan Katana ditangannya, ia memperhatikan gerik Shisui yang kini mulai bergerak menyerangnya.
"Jangan alihkan pandanganmu! Tetap fokus pada gerakan musuh!" teriak Shisui.
Seolah tersadar, Ino pun melakukan yang diperintahkan oleh Shisui.
Trang!
Ino menahan serangan Shisui, ia sekuat tenaga mendorong Katana Shisui namun justru Katana miliknya yang dipukul mundur oleh Shisui.
Sehingga membuat tubuh Ino terdorong, Ino pun kembali melancarkan serangan balik namun lagi-lagi berhasil ditepis oleh Shisui.
Kesal dikalahkan bertubi-tubi oleh Shisui, Ino pun bergerak lebih agresif dari sebelumnya.
Namun hal tersebut tidak membuat Shisui gentar, justru Shisui tidak bergerak dari tempatnya ketika Ino menyerang.
Shisui bahkan kini memasang sebuah senyuman yang terlihat mengejek dimata Ino, hingga membuat Ino semakin kesal.
"Hiya!" pekik Ino, lalu mengayunkan senjatanya untuk menyerang Shisui.
Namun tentu saja dengan mudah dapat dibelokan oleh Shisui.
Melihat ia yang lengah, Shisui ternyata mengambil kesempatan untuk melancarkan serangan Taijutsu yang membuat gerakan Ino bergerak mundur.
Tidak mau menyerah begitu saja, Ino kini menyerang Shisui dengan gerakan membabi buta.
Sejak awal Ino sudah berusaha ingin menyentuh tubuh Shisui, namun ternyata tidak bisa meski hanya sekedar menyentuh kulitnya.
Gerakan Shisui begitu cepat, melihatnya mengayunkan pedang saja Ino nyaris tidak dapat melihat.
Bagaikan kilat.
Shing Shing
Krass!
Shisui menahan serangan Ino.
"Terbakar emosi saat bertarung akan membuat musuh semakin mudah mengetahui kelemahanmu" ujar Shisui.
Ino mencebikkan bibirnya kesal, dengan sekuat tenaga Ino mengayunkan pedangnya kearah Shisui, namun untuk kesekian kalinya dapat dibelokan oleh Shisui.
Kali ini giliran Shisui yang mengayunkan pedangnya hingga dengan sekali tebasan pedang yang bertengger ditangan Ino terlepas dan tertancap ditanah.
Shisui mengarahkan pedangnya kearah Ino.
Ino pun terdiam beberapa saat.
"Ck!" decaknya yang seketika itu juga membuat Shisui tertawa.
Shisui menurunkan pedangnya.
"Kau masih harus banyak berlatih, gerakanmu mudah dibaca oleh musuh, kau tidak fokus menghadapi lawan, tidak konsentrasi," Shisui menahan kata-katanya sebelum kemudian berdeham.
"- memiliki ego yang tinggi, tidak mampu mengontrol emosi, bahkan teknik pedangmu buruk sekali." ujar Shisui panjang lebar.
Ino mendengus seraya melemparkan tatapan tajam kearah Shisui yang masih tertawa.
"Kau puas menertawakan aku Shisui NiiSan?"
Shisui dengan segera mengatupkan bibirnya, "Gomennasai"
"Angkat aku sebagai muridmu agar aku bisa menjadi ninja yang hebat spertimu" celetuk Ino dengan tatapan tajam.
Shisui mengangkat sebelah alisnya.
"Aku serius Shisui NiiSan, jadilah guruku" ujar Ino dengan wajah serius.
Shisui bergeming, "Kau bersungguh-sungguh?" tanya Shisui.
Ino mengangguk tanpa ragu, "Iya, aku serius"
"Boleh saja"
Ino menatap Shisui sembari tersenyum penuh arti.
"Benarkah?" tanya Ino.
"Iya" jawab Shisui.
"Aku akan menjalankan misi selama lima hari, jadi kita akan kembali berlatih setelah aku pulang" ujar Shisui.
"Hai, Wakatta" jawab Ino.
Shisui menatap Ino, "Apa kau yakin sanggup menjadi muridku?"
Ino balas menatap Shisui, "Aku yakin, memangnya kenapa?"
"Dengan menjadi muridku berarti setuju untuk mengikuti aturanku" ujar Shisui.
"Tidak masalah, meski dengan aturan itu bisa membuatku lebih hebat dari Sakura!" ujar Ino dengan semangat berapi-api.
Shisui kembali tertawa, "Bagus, aku suka dengan seseorang yang memiliki prinsip dan motivasi"
Ino menyematkan senyum bangga, "Jadi tidak hanya si bodoh itu yang hanya mendapat misi secara terus menerus"
Shisui terdiam mendengar ucapannya barusan, membuat Ino jadi mengalihkan perhatiannya pada Shisui.
Belum sempat Ino bertanya, Shisui sudah terlebih dahulu memanggilnya.
"Ino?"
"Hai?"
"Berjanjilah, selama aku tidak ada jangan pernah pergi keluar desa" ujar Shisui.
Ino diam sesaat, sebelum kemudian mengangguk.
"Ini pesanku sebagai guru" sahut Shisui.
"Bagaimana jika pergi dengan Itachi" tanya Ino.
"Boleh. Selain Itachi aku tidak mengijinkanmu" jawab Shisui.
Lama menatap Shisui kini ekpresi Ino mulai berubah.
"Jika suatu saat Izumi dibebaskan, apa mungkin nyawaku akan baik-baik saja?" ujar Ino.
Shisui menatap sendu kearah Ino.
"Selama aku masih ada didunia ini. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mencelakaimu." ujar Shisui.
Ino membalas tatapan Shisui, bibirnya yang semula mengatup kini mulai mengembangkan sebuah senyum.
"Terima Kasih Shisui Nii San"
Shisui mengangguk, "Ya tentu"
"Kenapa kau baik padaku?" tanya Ino.
"Karena kita berteman dan kau muridku" jawab Shisui.
Ino tersenyum sumringah, "Aku bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengan kau"
Sesaat Shisui diam mematung, ia terlihat menghindari tatapan mata Ino.
"Arigatou ne Shisui Nii San~" ujar Ino.
Shisui tersenyum "Iya"
Ino berjalan beriringan dengan Shisui, Ino kemudian memutuskan duduk disebuah batang pohon yang tumbang.
"Bagaimana kabar Itachi?" tanya Ino.
Shisui bergeming, "Heh? Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu tentang keadaan Itachi?" tanya Shisui balik.
Ino mengangkat bahunya, "Kami belum pernah bertemu" ujar Ino yang membuat Shisui memasang ekpresi heran.
"Benarkah?" tanya Shisui.
Ino mengangguk, "Hai"
Shisui melirik Ino sekilas.
"Mungkin Itachi sibuk." sambung Ino.
"Meski bertemu untuk sekedar berbagi cerita tentang perjalanan misinya?" tanya Shisui lagi.
Ino mengangguk.
Shisui kemudian diam.
Ino memperhatikan Shisui yang menatap kosong pemandangan didepan sana.
"Apa kau nyaman dengan hubungan seperti itu Ino?" tanya Shisui.
"Hai. Aku percaya pada Itachi" ujarnya yang membuat Shisui diam tanpa ekspresi.
"Kenapa kalian berdua tidak pernah bersama-sama lagi?" tanya Ino.
Shisui terdiam cukup lama.
"Kami sibuk dengan misi masing-masing" ujar Shisui.
"Apa kalian berdua sedang ada masalah?" tanya Ino lagi.
"Tidak ada" jawab Shisui singkat.
Setelahnya hening, Ino pun memilih diam.
Ino merasa sikap Shisui benar-benar berubah ketika topik pembicaraan ganti membahas Itachi.
Seakan-akan Itachi itu adalah musuh dimata Shisui.
Wusshh!!
Secara tiba-tiba Shisui mengambil posisi siap siaga.
Melihatnya Ino menjadi heran, namun setelah menyadari ada beberapa jenis cakra yang mendekat, Ino baru mengerti.
Ternyata jauh sebelum ia menyadari hal tersebut Shisui sudah lebih dulu menyadari ada yang mendatangi mereka.
"Ino tetap ditempatmu" ujar Shisui seraya mendongak melihat siapa yang datang.
Namun ketika melihat anggota Anbu yang datang, Shisui pun kembali mengubah posisinya seperti biasa.
"Taicho!" panggil tiga orang anggota anbu setengah memekik.
"Ada apa?" tanya Shisui.
"Tahanan yang bernama Izumi Uchiha menghilang dari penjara"
Shisui terkejut bukan main, ia seketika melemparkan pandangan pada Ino.
"Aku mengerti, aku akan segera datang menghadap Hokage Sama" ujar Shisui dengan nada prihatin.
"Baik. Kami pergi Taicho" ucap anggota Anbu tersebut.
Shisui berbalik menghadap Ino, dan segera meraih tangannya.
"Ayo kita pulang sekarang" ujar Shisui.
Ino yang mengerti dengan situasi hanya mengangguk menyetujui.
"Pasti Izumi akan mencariku lalu membunuhku" ujar Ino sembari tersenyum miris.
"Apa kau tidak percaya dengan janji gurumu?" ujar Shisui.
Ino sejenak bingung, setelah beberapa lama Ino baru menyadari maksud dari Shisui.
"Ayo kita pergi" ajak Shisui dan diikuti oleh Ino yang kini begerak melompati pepohonan.
Shisui mensejajarkan tubuhnya dengan Ino.
Ino menoleh beberapa kali kearah Shisui.
Pandangan Shisui pun terlihat lebih tajam saat memandang keseluruh penjuru arah.
Ino jadi heran mengapa Shisui lebih mengkhawatirkan keadaannya?
Bukankah seharusnya Itachi yang begitu?
Disela-sela pergerakan mereka, Shisui bersiap akan menarik pedang dibelakangnya.
"Ada yang datang" ujar Shisui.
Namun setelah mengetahui siapa yang datang, Shisui pun mengembalikan pedangnya saat melihat sosok Itachi.
Melihatnya Ino seketika tersipu malu, berbeda dengan Itachi yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan pada Ino.
Shisui dan Itachi secara bersamaan melompat kebawah, diikuti oleh Ino yang memilih berdiri disamping Shisui.
"Itachi Ka?" gumam Shisui.
Itachi mengangguk, "Aku baru akan menyusul kalian" ujar Itachi.
Shisui bergeming, "Kami baru akan pulang, tapi mungkin aku akan duluan. Aku masih banyak urusan" ujar Shisui.
"Baiklah, terima kasih Shisui NiiSan" ujar Ino dan dibalas dengan sebuah senyuman oleh Shisui.
"Aku duluan Itachi" ujar Shisui menatap sekilas kearah Itachi lalu bersiap akan pergi.
Namun sebelum akan melangkah pergi, Shisui menoleh kearah Itachi "Jangan sampai lengah"
Mengerti dengan maksud Shisui, Itachi pun dengan segera memberikan anggukan, tanda ia mengerti. "Hai" jawab Itachi.
Setelahnya Shisui pergi meninggalkan Ino berdua dengan Itachi.
Ino menatap Itachi yang masih memperhatikan Shisui yang semakin menghilang dibalik pohon.
Sedangkan Ino kini mulai salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Suasana hening membuat ia jadi canggung ingin memulai pembicaraan dengan Itachi.
Deg
Jantung Ino berdegub ketika iris kelam Itachi menyorotnya.
"Lama tidak bertemu, Ino" sapa Itachi.
Ino menatap Itachi dengan pipi bersemu, "Hai" jawab Ino.
"Maaf akhir-akhir ini aku sibuk" ujar Itachi.
Ino mengangguk dengan senyuman sumringah, "Tidak apa-apa, aku mengerti"
Ino memberanikan dirinya melangkah mendekati Itachi dan kemudian memeluk tubuh Itachi yang hanya diam.
"Aitakatta" Ino memeluk erat Itachi.
Sebuah tangan terasa menggenggam kedua tangan Ino, dan secara perlahan tangan tersebut melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Ino agar menjauh.
"Jangan disini" interupsi Itachi.
Ino yang mendapat penolakan tersebut seketika memasang mimik wajah kecewa, ia menyematkan senyum paksa dibibirnya.
"Apakah... Kau tidak merindukan aku?" tanya Ino ragu.
Itachi hanya menghela nafas, "Maafkan aku, akhir-akhir ini pikiranku sangat kacau" sahut Itachi dengan ekspresi gusar.
"Apa aku termasuk salah satu penambah beban pikiranmu?" tanya Ino, kali ini diikuti oleh buliran airmata yang jatuh.
Itachi terdiam.
Sedangkan Ino mulai melangkah mundur, sembari mengusap airmata dipipinya, Ino berbalik pergi.
"Aku.. akan pulang duluan saja"
Namun saat akan melangkah pergi Ino dikejutkan dengan sebuah lengan yang memegang tangannya.
"Ino"
Dengan mata memerah Ino menoleh.
"Ayo ikut aku"
TBC
Hello thanks for review ya!
happy 2023! semangat!
