Yahiko membuka matanya, mereka sudah terdampar di padang gurun yang sangat luas, Yahiko tak punya kekuatan untuk bangun, dia hanya bisa berbaring, menatap matahari yang menyerap air dalam tubuh mereka sedikit demi sedikit, sungguh bodoh dirinya sampai lupa membawa air.
"Sepertinya hidupku hanya sampai sini saja ..."
Ketika Yahiko sudah mulai menerima kenyataan bahwa diaakan mati di gurun pasir, wajahnya tiba-tiba saja dibanju air oleh seseorang, ketua Akatsuki kembali hidup, tidak jadi mati.
"Kalian tidak apa?"
Yahiko langsung melihat ke orang yang baru saja menyelamatkannya dari terik matahari gurun. Apakah dia seorang malaikat? Nyatanya bukan dia hanya boneka dari India, maksudnya ninja pelarian dari Sunagakure, kenapa Yahiko bisa tau? Ninja mana yang mau repot-repot keliling gurun kalau bukan ninja Desa Suna?
Ah iya, Ahli boneka yang sedang ditatap dengan ekspresi bodoh oleh Yahiko sekarang masih manusia belum jadi boneka bantet kesayangan cowo cantik.
"Aku dimana? Kamu siapa?" Yahiko langsung bertingkah bak orang amnesia.
Nagato menepuk pundak Yahiko penlan. "Tenang Yahiko, dia sudah menyelamatkan kita."
"Iya, dia meminumkan kita air."
"Eh? Kenapa aku sendiri yang disiram?"
Nagato dan Obito mengangkat pundaknya.
"Jadi kalian kesini ngapain?" tanya pemuda berambut merah, ninja Desa Suna yang baru saja menyematkan mereka dari dehidrasi.
Yahiko dan Nagato saling melihat, lalu berkata, "Katanya di Desa Suna ada ninja ahli boneka, kami berpikir untuk merengkrut ninja itu."
"Ha? Aku tidak ingin ikut dengan orang asing seperti kalian, tidak ada waktu untuk ikut kelompok sirkus, tetapi kalian bisa menjadi koleksi bonekaku selanjutnya." Nampaknya pemuda itu memberi reaksi penolakan, dia juga memiliki firasat buruk terhadap mereka bertiga.
"Tidak bisa, aku belum nikah sama Konan, aku tidak bisa jadi bonekamu. Kalau begitu ayo kita bertarung, kamu kalah kamu harus ikut dengan kita kembali ke markas."
"Hooo ... baiklah akan kuterima tantanganmu."
Semangat Yahiko!"
"Semangat leader!"
"Eh?! Kalian juga bantu dong!"
Obito memalingkan wajah. "Yang duluan ngajak berantem kan leader," ucapnya sambil memonyongkan bibir.
"Nih, aku bantu." Nagato memberikan besi dari dalam tubuhnya untuk menjadi senjata Yahiko. "Ini aja."
Yahiko menerima besi pemberian Nagato sambil tersedu-sedu. "Kamu mau aku jadi mayat Nagato?"
"Itu lebih kuat dari kunai, pakai saja."
Yahiko memulai aksi akting bayi suburnya, ekspresi wajah dibuat seimut mungkin, meminta pertolongan Nagato bak Nobita yang merengek minta alat ajaib Doraemon. Nagato menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang, susah jadi anggota yang diketuai orang sableng.
"Ketua kalian lemah? Sampai minta anggotanya yang melawanku huh."
Wajah Yahiko memerah antara malu dan marah, dia sadar diri saja, Nagato memang lebih kuat dari dirinya. "Aku ... aku ini terlalu kuat untukmu! Po ... pokoknya yang jadi lawanmu itu Nagato."
Obito nyeletuk, "Mau jadi apa organisasi ini? Ketuanya lemah, jangan-jangan dia ngumpulin ninja hebat buat nutupin kelemahannya ..."
Celetukan Obito berhasil membuat batang besi yang ada di tangan Yahiko dibelah dua, ekspresi amarah yang membara menyelimuti Yahiko. "Kalian mau aku jadi Pain?!"
Obito langsung panik. "Engga leader, kita tidak mengikuti versi aslinya."
Yahiko dan Obito menjadi penonton di bawah telapak tangan Gedo Mazo, Nagato masih baik pake banget pada mereka. Pertarungan antara cowo ganteng berambut merah dan mata obat nyamuk dari Klan Uzumaki pun dimulai. Ah iya, mereka bertiga masih belum tau nama pemuda ahli boneka itu, kumpulan orang-orang bodoh.
Pertarungan Nagato dan pemuda itu berlangsung sengit, kalian mau lihat lebih jelas?
"Kertas gunting batu!"
Nagato mengeluarkan gunting.
Pemuda itu mengeluarkan kertas.
"Acchi muite hoi!"
Nagato nunjuk ke kiri, pemuda itu ikutan liat ke kiri.
"Shinra Tensei!"
Apa itu berantem dengan senjata ala-ala film aksi? Gunakan cara yang lebih damai ala Akatsuki.
Sangat tidak jelas bukan? Ya, namanya juga fanfiction. Sutradara yang menangani ini lebih bisa ngurus genre komedi daripada aksi, mohon maklum.
Yahiko tepuk tangan, seperti kakak yang bangga pada adiknya yang telah bisa lawan balik pembulinya di sekolah. Obito mangat, tidak terpikirkan sedikit pun ini yang dimaksud pertarungan untuk merengkrut anggota. Obito sedikit berterima kasih dapat privilage sebagai Uchiha, hanya diinterogasi dikit habis itu jadi member resmi.
"Aku kalah dalam permainan bodoh ini ..." Nampaknya lawan tidak terima kalah.
"Kamu sudah kalah, sesuai janji kita tadi."
"Menyebalkan sekali, sesuka kalian saja."
"BONEKA DARI DESA SUNA SUDAH KITA DAPATKAN!" seru Yahiko, dia memberikan jempol pada Nagato.
"Siapa yang boneka? Akasuna no Sasori. Kalian bisa memanggilku Sasori."
Nagato memberikan senyum secerah terik matahari di siang bolong. "Uzumaki Nagato, salam kenal juga."
"LEADER AKATSUKI, Yahiko, salam kenal."
"Aku Uchiha Obito." Obito melihat ke kamera lalu berbisik, "Pssh ... kita baru tahu namanya sekarang, nama dia seperti nama bumbu masakan."
Kedua Yahiko terangkat ke atas. "AYO KITA BALIK KE MARKAS! GO GEDO MAZO!"
Sasori menengok ke Yahiko. "Kamu tahu jalan pulang?"
"Tidak, tetapi selama ada kompas kita bisa sampai ke markas dengan selamat."
Dahi Sasori berkerut, dia mempertanyakan kalimat yang diucapkan Yahiko, kelihatannya mereka akan tersesat lagi sebelum sampai ke markas. Apa yang kamu harapkan dari orang yang buta arah? Doakan saja mereka tidak nyasar, chapter selanjutnya akan menceritakan nasib Konan dan Itachi dalam menaklukan pikachu Desa Iwa.
