A/N: Di chapter ini saya sekalian ganti judul yang sebelumnya "Dua Nyawa". The title "Two Souls" kept bothering me for the longest time, akhirnya saya nemu juga judul yang mendingan hehe. Gak menutup kemungkinan saya bakalan ganti judulnya lagi nanti. Tapi semoga ini yang fixed! Enjoy chapter 6~
Chapter 7 WIP ...tapi nggak tau bakal selesai kapan karna saya lagi buntu :')


Chapter 6

A Visit from a Familiar Stranger

.

Satu hal yang dirasakannya adalah, kepalanya terasa sangat ringan. Seperti sedang di awang-awang. Seakan tak ada gravitasi dan tekanan yang menahan kepalanya. Tubuhnya pun terasa setengah melayang. Ia terdiam untuk menikmati sensasi itu. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia merasakan hal ini, seakan baru saja saat ini, namun juga berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu. Semua itu ia rasakan sekaligus. Kesadarannya akan waktu seakan sirna.

Setelah beberapa lama dan merasa cukup puas, ia membuka mata.

Namun gelap.

Hanya hitam yang dapat ia lihat.

Ia menoleh, dan itulah juga yang ia lihat.

Tak lama setelahnya, muncul titik-titik kebiruan dari kejauhan, berkelap-kelip seperti bintang. Sebagian dari titik-titik itu semakin lama semakin mendekat padanya, hingga pria itu dapat mengenali apa yang mendatanginya. Kupu-kupu bersayap biru.

Kupu-kupu itu terbang di sekelilingnya. Ben menatap segerombol serangga gemerlap itu kagum.

Apakah ini alam setelah kehidupan? Pikirnya.

Satu jarinya menggapai dan seekor kupu-kupu hinggap di sana. Ia tampak larut pada kumpulan kupu-kupu itu sampai tak menyadari kehadiran sosok yang kini berdiri di hadapannya.

Sosok itu tersenyum, menatap teduh Ben seakan sudah mengenalnya sedari pria itu lahir. Dia membiarkan Ben sesaat sebelum akhirnya berkata,

"Hello there."
(Halo yang di sana.)

Suaranya yang seolah menggema membuat Ben menoleh. Gerakannya yang tiba-tiba membuat gerombolan kupu-kupu biru terlonjak menjauhinya, namun kembali mengerumuninya tak lama kemudian.

"Kau suka tempat ini?" Tanya sosok itu.

Ben menatap heran, kehadiran sosok itu tak bisa ia rasakan secara spesifik pada kurva tubuhnya, namun seakan tersebar di seluruh penjuru—penjuru dari entah apapun nama tempat ini. Wajahnya pun tidak terlihat jelas, tertutup tudung jubah. Ben tak menjawab pertanyaannya—belum ingin menjawab. Ia menunggu agar sosok itu bicara lagi.

"Kau suka tempat ini, Ben?" Sosok itu bertanya lagi. Ia tak tersenyum, namun aura yang dipancarkan sama lembutnya dengan itu. Intonasinya sangat bersahabat sehingga Ben seakan lupa untuk waspada padanya—bagaimana sosok itu tahu namanya pun sampai luput dalam benaknya.

Melihat lawan bicaranya tak kunjung buka suara, ia memutuskan untuk membuka tudung, memperlihatkan wajah paruh bayanya.

Kini Ben dapat melihat rambut putih pendek sosok itu. Ia sudah menduga dia bukanlah pamannya—apalagi ayahnya. Apakah dia kakeknya, Anakin Skywalker? Atau Jedi terdahulu yang lain?

"Kau tak menjawab pertanyaanku."

Pria jangkung itu nampak masih enggan membuka mulut.

"Kau pasti bertanya-tanya siapa aku. Kau ingin menebak?"

Ben kali ini menjawab, dengan gelengan—tidak. Gelengan pelan yang nyaris terlewatkan oleh lawan bicaranya. Ia ingin menggeleng lebih keras, namun merasa sangat tidak sopan jika melakukannya.

Sosok itu tersenyum. "Kau mungkin sudah mendengar tentang aku. Orang-orang mengetahuiku sebagai Obi-Wan Kenobi. Sebagian mengenalku sebagai Ben. Ben Kenobi."

Ben membeku.

Jadi, inikah sosok yang seringkali diceritakan keluarganya saat ia kecil? Obi-Wan Kenobi? Ben ingat pamannya beberapa kali menceritakan tentang sesosok Jedi yang mengenalkannya pada Force. Pria paruh baya yang menghabiskan belasan tahun di sebuah planet gersang hanya untuk mengawasinya, memastikannya tumbuh dan mendapatkan hidup selayaknya pemuda pada umurnya. Pria yang menuntunnya menjadi satu-satunya Jedi Master yang tersisa kala itu. Ben juga ingat ibunya menceritakan berbagai hal tentang bagaimana seorang Obi-Wan Kenobi sebagai pengantar tidur. Seberapa banyak jasa tak terbalas yang diberikan oleh Jedi itu kepada banyak orang. Bagaimana pertemuan dan petualangan mereka ketika Leia masih kecil, ketika Obi-Wan membebaskannya dari Death Star dan menghadapi Darth Vader dalam duel yang merenggut nyawanya, dan bagaimana Leia pada akhirnya memutuskan untuk menamakan putranya dari Jedi tangguh itu.

Pada akhirnya, Ben dapat bertatap muka dengan sosok dibalik namanya.

Mungkin ini memang akhir untukku. Mungkin ini memang alam setelah kehidupan. Untuk apalagi aku dipertemukan Ben Kenobi jika bukan karena itu?

"Kau benar, ini adalah alam setelah kehidupan. Kami menyebutnya The World Between Worlds. Di sinilah aku dan para Jedi terdahulu bersemayam."

Ben tersentak mendengarnya bicara—membuat kupu-kupu kini terbang menjauh. Apakah dia bisa mendegar suara pikirannya atau Ben mengatakan itu keras-keras?

"Yah, setidaknya sebagian besar dari kami yang tidak cukup bosan untuk berkunjung ke alam kehidupan dan berbuat 'kekacauan' bersama dengan jiwa-jiwa force sensitive yang malang." Sambar Obi-Wan, terkekeh pada kalimat terakhirnya. Merujuk pada Master Yoda yang seenak telapak kecilnya membakar hangus pusaka Jedi di Ahch-to yang membuat Master Luke luar biasa mendelik.

Tentu saja Ben yang tidak tahu-menahu soal insiden kecil itu menaikkan alisnya heran.

Air wajah Obi-Wan sejenak berubah serius, namun beralih menjadi lembut setelahnya. "Dan tidak, ini bukan akhir untukmu. Belum, setidaknya. Ceritamu masih panjang, Ben."

Apalagi yang harus ia jalani? Bukankah ini sudah menjadi akhir baginya?

"Aku tahu ingatanmu agak kabur, terutama yang terjadi sebelum kau terbangun di sini." Obi-Wan melirik tepat pada mata Ben. Ia tidak melihat tanda-tanda pria jangkung itu mengingat apapun. Kalau saja ia ingat, ia pasti sudah menanyakan hal, yang Obi-Wan duga, akan terlintas pertama kali di benaknya. "Sepertinya memang perlu kuingatkan. Kalian menang dari Palpatine, dan kau berada di sini karena memberikan seluruh energimu pada gadis itu, Rey."

Pria bermata gelap itu mengiyakan setelah memori yang disebutkan Obi-Wan kembali membanjiri kepalanya.

"Lalu, nyawa kecil yang berpusat di perutmu." Kali ini Ben terbelalak mengingatnya. Ia spontan meraih area abdomennya. Belum sempat ia memeriksanya lebih jauh, Obi-Wan berkata, "Dia tidak ada di sini, Ben. Dia tidak bersama kita di sini."

Untuk pertama kalinya, Ben mengeluarkan suara sembari menatap Obi-Wan tepat di mata. "Apa maksudmu? Apakah dia baik-baik saja? Dia masih hidup?" Obi-Wan dapat melihat kilat cemas dalam matanya.

"Dia jauh lebih baik dari baik-baik saja. Kau tak perlu cemas." Jedi itu tersenyum menenangkan.

"Bagaimana kau bisa buktikan kalau dia baik-baik saja?"

Obi-Wan menoleh, takjub pria di hadapannya punya rasa sebesar itu pada nyawa kecil yang dipertanggungjawabkan padanya sehingga ia bisa secemas ini. "Dia tidak berada di sini. Itu sudah menjadi bukti bahwa ia masih hidup dan baik-baik saja."

Ben masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan Obi-Wan. Bagaimanapun, ia telah meninggalkan nyawa kecil itu di dalam tubuh yang kosong, teronggok tanpa nyawa. Ataukah orang-orang Resistance sudah berhasil memindahkannya ke tubuh lain, maka dari itu Obi-Wan mengatakan dia baik-baik saja?

"Tidak, dia masih terhubung dengan tubuhmu." Ucap Obi-Wan yakin, setelah beberapa saat menyaksikan Ben yang membatin. Di tempat ini, ia sebagai force ghost dapat mendengar suara pria di hadapannya, meski yang tak terucap sekalipun. "Ada hal yang harus kusampaikan." Ucapnya lagi.

Ben menoleh, menatap Obi-Wan.

"Kau tidak akan lama di sini. Kau akan kembali lagi ke alam kehidupan. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ceritamu masih panjang di sana."

Bagaimana bisa?

"Nyawa kecil itu masih terhubung denganmu. Selama dia masih terhubung dengan pembuluh darahmu, berbagi napas denganmu, Force kalian menyatu. Hal itu membuat life force yang ia miliki tidak terbatas jumlahnya, jauh dari yang dimilikimu dan Rey jika disatukan. Nyawa di dalam tubuhmu itu jauh lebih kuat dari yang dikira siapapun. Termasuk kami."

Ben masih belum menangkap arah pembicaraan yang dimaksud Obi-Wan.

"Energi yang seperti itu—sekuat itu—mampu membawamu kembali hidup. Bahkan bukan hanya sampai pada dirimu saja. Jika kau sudah kembali, kalian mampu membawa kembali nyawa yang lain juga, selama pembuluh darah kalian masih terhubung satu sama lain tentu saja. Akan aku bantu kau mengingat. It is a gift for you. Take care of it, it may save lives."

Ben tertegun mendengarnya.

"Sebelumnya, kalimat itu berbunyi 'it is a gift for you. Take care of it, it may s—"

"—save your life'." Ben setengah berbisik.

Obi-Wan mengangguk sembari tersenyum tipis.

"Kau suara yang selama ini kudengar."

"Tepat." Senyumnya melebar. "Aku kira kau akan menyadarinya lebih cepat, sepertinya memang ingatanmu lebih kabur dari yang kuperkirakan."

"Apakah kau juga yang menempatkan bayinya pada tubuhku?"

Obi-Wan menggeleng.

"Lalu siapa?"

"Force." Obi-Wan dapat melihat lawan bicaranya menghela napas, sedikit banyak merasa geram mendengar jawabannya.

Disela helaan itu dia bisa mendengar Ben berbisik dalam hati, hampir seperti menggertakkan gigi. Terimakasih, jawaban yang sangat kutunggu-tunggu. Ternyata pria ini mewarisi tempramen dari kedua orang tuanya.

Obi-Wan menyeringai kilat, kemudian melanjutkan. "Jika kau sudah menekuni Force selama bertahun-tahun sejak kau kecil, seharusnya kau tahu bukan hanya sekedar Force yang mengirimkan nyawa mungil itu ke tubuhmu. Kami gagal, kami membiarkan Palpatine memanipulasimu hingga jatuh dalam sisi gelap, Ben. Kami jelas gagal menuntunmu. Aku, kami, telah mengecewakanmu. Kata maaf tidak pernah cukup untuk itu. Dengan jumlah individu force sensitive yang semakin sedikit, akan sulit bagi mereka untuk menuntunmu kembali sebelum semuanya terlambat. Kami telah gagal. Namun kemudian gadis itu, Rey, perannya cukup besar dalam menuntunmu. Namun diapun belum sanggup untuk benar-benar membawamu kembali. Maka kami memutuskan untuk mengirim nyawa kecil itu pa—"

"Siapa yang kau maksud 'kami'?" Desis Ben.

"Kami, para Jedi terdahulu. Master Yoda, masterku Qui-Gon, aku, Anakin, Luke, dan masih banyak lagi. Pada intinya, kami yang telah kembali kepada Force."

Nama orang keempat membuatnya tertegun, dan nama kelima membuat dadanya sesak. "Anakin... Skywalker?"

"Ya, kakekmu."

Kakek kembali pada Force?

Obi-Wan tersenyum. "Ia tidak meninggal sebagai Sith dengan nama Darth Vader. Ia meninggal sebagai Anakin Skywalker."

Ben mengeratkan genggaman tangan. Lagi, lebih dari separuh hidupnya ia meyakini manipulasi Palpatine yang mengatakan kakeknya mati sebagai Darth Vader, membuatnya berpikir bahwa sang kakek meninggalkannya warisan untuk menaklukkan seluruh galaksi di bawah nama Kylo Ren.

"Ben." Panggil Obi-Wan lembut. Ia menunggu Ben menoleh, pria bersurai hitam itu menyadari maksud tatapannya. Ia perlu melanjutkan apa yang belum tersampaikan, "Kami memutuskan untuk mengirim nyawa kecil itu padamu. Dan ia berhasil membawa Ben Solo kembali." Nampak seburat lega dan lapang pada dadanya ketika mengatakan itu.

Ben mengangguk kecil, mengiyakan. Responnya membuat Obi-Wan semakin merasa lega karena ternyata ia merasakan hal yang serupa. Meski nyawa kecil itu datang sangat tiba-tiba dalam hidupnya, sempat menjadi hal yang tak ia inginkan dan musnahkan, kemudian ia terima pada akhirnya karena keterpaksaan, sampai pada titik di mana ia menerimanya dengan lapang. Bahkan tak terbayangkan jika ia harus kehilangannya.

"Ada hal yang ingin kuperlihatkan," Obi-Wan mendekat. Ia meminta izin untuk meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Ben.

Kemudian pria paruh baya itu memperlihatkan sederet kejadian padanya, seperti kepingan-kepingan memori yang berlalu cepat. Bagaimana kedua orang tuanya lahir—ia akhirnya tahu bagaimana wajah orang tua dari ayah dan ibunya, terlebih Padmé Amidala yang seorang senat termasyhur pada masanya. Bagaimana mereka tumbuh besar, bertemu, dan menikah. Bagaimana ia dilahirkan. Bagaimana kenangan masa kecilnya. Ia yang terbangun dengan lidah hijau lightsaber pamannya yang terhunus padanya. Bagaimana Luke meninggal. Ibunya yang tengah terbaring di tenda pejuang Resistance, tak bergeming. Suara keramaian yang terasa hangat. Dan yang terakhir, seorang bayi kecil dengan rambut hitam yang cemerlang, tidur dengan damai berbalutkan sebuah kain halus.

Obi-Wan menyudahi, menurunkan tangannya dari kepala Ben. Dia terkesiap, dan selebihnya terdiam.

Apakah itu…?

"Ya, benar. Yang terakhir itu adalah siapa yang kau pikirkan." Jedi itu tersenyum teduh ketika Ben menatapnya dengan mata melebar tak percaya.

"Kenapa kau memperlihatkan ini padaku?"

"Alasan mengapa kau harus kembali. Untuk melanjutkan hidupmu, untuk memulai kesempatan keduamu. Tanpamu di sana, nyawa kecil itu tak lengkap. Ia membutuhkanmu seperti kau membutuhkannya."

"Apakah kau akan ada di sana?"

"Jika kau mau." Obi-Wan mengangguk. "Aku bisa mampir mengunjungi kalian dari waktu ke waktu. As long as you let me in."
(Selama kau membiarkanku masuk.)


A/N (2): Jangan lupa reviewnya, masukan apapun berarti banget buat kelanjutan fanfic ini :D