Perhatian! Saya cuma punya si OC, Fuka Sabiru.. and, selamat membaca!(Chapter ini saya edit, ada beberapa kesalahan sih...)


"Huf… huf…"

"……."

"Ano... anda... Uchiwa... Itachi-san?"

Itachi mengangguk pelan.

"Ah syukurlah. Kupikir aku sudah ditinggal. Fuh... Maafkan aku...haah...tadi aku tersesat...haah...ke...fuh...gunung sebelah..."

"..."

"..Ya! Baiklah! Namaku Fuka Sabiru, missing nin dari Mist Village, err..sebenarnya aku tidak lulus sih...Oh! Aku kesini untuk menggantikan Kisame-chan yang..."

Tapi Itachi telah berbalik dan berkata, " Misi pertamamu sebentar lagi. Ayo cepat"

"Ba...Baik!!"

'Apa dia benci padaku?'

--------------------------

Somewhere...

"Jadi, kau hanya perlu memberi pertolongan jika dibutuhkan"

"Baik!"

Dan Sang jenius dari klan Uchiwa pun beraksi. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata ia mengalahkan ANBU di dekatnya. Satu ANBU tumbang. Dua... Tiga... disusul yang lainnya.

'Wow...', pikir Fuka yang diam di pinggir, melihat Itachi bertarung. 'Itachi-san memang hebat. Dia bisa mengalahkan beberapa orang ANBU sendirian. Pantas jadi ketua ANBU dalam waktu singkat...Apa perasaan Kisame-chan ketika bersamanya... Ah, dia takkan peduli'

Gadis itupun melihat sekelilingnya.

'Apa ada musuh lain?'

Matanya menangkap sesosok ninja yang tengah membuat seal dalam rimbunnya pohon.

'Gawat!'

Dikeluarkannya sebuah benda transparan, berat nan mengkilat dalam sepersekian detik. Sebuah pistol kristal berukir sesuatu seperti '1-NV-1-5-1-BL3'

BRUK! Ninja itu pun jatuh.

Itachi melihat juniornya. Siapa sangka gadis lelet berpakaian ribet itu akan membantunya? Tapi...itu tidak terlalu penting, asal misi itu selesai.

Ninja-ninja lain muncul dari balik semak hijau yang terlihat aman...

BRUK!!BRUK!!

Dan pasukan cadangan pun akhirnya dikerahkan, tapi bintang kesialan memang tengah membayangi mereka, kedua Akatsuki kita lebih hebat.

BRUK!!BRUK!!BRUK!!

"Sebaiknya kau menyerah tuan..", kata Fuka.

Dengan sebuah tarikan pelatuk, peluru chakra berkecepatan cahaya itu menghancurkan setiap mili otot yang ditembusnya. Darah memuncrat keluar dari aorta lelaki itu. Ia telah melihat dewa kematian tersenyum dengan gayanya yang khas di depan matanya.

"Imbalan lelaki ini cukup besar, ayo.. kita tinggal menyerahkannya", kata Itachi mengakhiri misi pertama.

--------------------------

"Hoo? Orang ini ya? Sudah banyak bounty hunter yang mencoba mengalahkannya. Dan mereka benar-benar kesulitan... terakhir kudengar ada yang tidak bisa lagi bertarung. Seperti yang diharapkan dari Akatsuki... Omong-omong siapa gadis yang menunggu di luar itu?"

"Anggota baru"

"Namanya.. Sabiru?"

"Fuka Sabiru"

"Aku pernah lihat corak kupu-kupu itu...", kata si pemberi hadiah. "Dia orang yang mengerikan", sambungnya lirih. (a/n: kimono Fuka bercorak kupu-kupu)

"Ya?"

"Jangan dipikirkan. Ini hadiahmu"

'Mengerikan?'

Fuka melihat seseorang datang dari jarak beberapa meter di depannya. Ia bangkit dari posisi duduknya.

"Itachi-san, kau sudah selesai? Setelah ini kita akan kemana?"

'Kengerian macam apa?'

"Kita akan istirahat dulu", dan Itachi mengakhiri pembicaraan mereka disana.

--------------------------

Setelah berjalan agak lama, mereka pun menemukan sebuah penginapan yang cukup aman untuk membuat mereka 'tidur tenang'.

"Pesan dua kamar"

Itachi memasuki kamarnya. Ia melepas jubahnya lalu merebahkan diri di kasur. Dilihatnya keramaian di luar, bagai toples berisi permen berwarna-warni. Semua orang memakai yukatanya masing-masing yang berwarna cerah.

'Festival penyambutan musim panas?', pikirnya.

Itachi melihat orang-orang itu, semua wajah itu tersenyum senang dengan warnanya sendiri. Ada seorang anak kecil menangis, tapi ibunya segera datang dan mengembalikan cengir kuda si bocah. Sekejap, mata hitamnya menerawang masa lalu, saat ibu yang dulu dimilikinya menggandeng tangan kecil itu, dan menemani pemiliknya bermain di taman.

'Aku memang anak durhaka. Biar saja'

Dan bunyi 'BRAK!' menghentikan aktivitas Itachi. Pelakunya adalah Fuka, gadis itu telah membuka pintu kamar Itachi dengan 'sedikit' bantingan.

"Itachi-san, kau mau keluar?"

"Tidak"

"Bu.. katakan 'iya'! Jadilah anak penurut!"

"Tidak"

"Ayolah Itachi-san, mengatakan 'iya' itu lebih mudah daripada mengatakan 'tidak', hanya tiga huruf!"

"Tidak"

"Ok! Kalau begitu katakan 'Baik'!"

"Tidak"

"Mengangguk juga boleh!"

"Tidak"

"Sebegitu tidak mau pergi?"

"Kenapa kau tidak pergi sendiri?"

"Tidak seru!"

"Bukan urusanku"

"Itachi-san! Kalau kau diam disini terus, tampang kerenmu akan sia-sia!"

"Lalu?"

"Lalu, ayo pergi dan tunjukkan pada cewek-cewek di luar kekerenanmu itu!"

"Aku tidak bermi—", kata-kata itu terpotong karena sumbernya terpaksa mengaku kalah dari Fuka yang menang curang. Pasalnya, Fuka telah menarik tangan Itachi dan memaksanya pindah dari kamarnya yang tenang menuju keramaian malam.

'Mengerikan? Paman itu salah orang'

--------------------------

"Kau akan membawaku kemana?", kata Itachi akhirnya setelah mereka makan angin di 'toples permen' itu sampai sekitar 30 menit.

"Kesini!", ujar Fuka. Ia berkacak pinggang di sebuah bangunan yang terkesan modern dengan lampu-lampu berwarna musim panas. Kasino? 50 poin untukmu. Sedikit bocoran, beberapa orang mabuk terlihat keluar dari sana. Bar? Selamat, 100 poin. Dan Fuka pun menarik Itachi kedalamnya.

'Apakah dia cukup tua untuk ini?'

"Paman, Sherry satu botol!"

"Kau tidak cukup tua untuk—Fuka! Aku sudah bertanya-tanya kapan kau akan datang, ini, aku sudah menyiapkan yang spesial untukmu. Bagaimana kabarmu?", kata lelaki gemuk paruh baya itu seraya memberikan pesanan Fuka.

"Kau tahu jawabannya! Ini awal musim panas, bung!"

"Hei! Itu cuma basa-basi! Kau tahu itu!"

"Ya.. ya..", gadis berambut mencolok itu berkata seraya menuang Sherry yang dipesannya.

Beberapa saat kemudian...

"Paman! Satu botol lagi!"

Lalu...

"Satu botol lagi!"

Dan...

"..Lagi!"

Beberapa jam kemudian, empat botol Sherry kosong tampak menghiasi meja itu. Konsumennya membaringkan mukanya di meja, sehingga beberapa helai rambutnya melenceng dari jalur lurus dan menutupi wajah kepiting rebus gadis itu. Itachi hanya diam melihatnya, menegak sedikit air putih yang diminumnya.

"Kau selalu seperti ini setiap tahun?", katanya, seraya meletakkan kembali gelasnya.

"Kau tidak ikut minum, Itachi—hik—san?", kata Fuka, dengan nada yang terombang-ambing.

"Tidak, terima kasih... Jawab pertanyaanku"

"Pertanyaan yang—hik—mana?"

"Kau seperti ini setiap tahun?"

"Haha...", gadis itu tertawa hambar lalu meletakkan dirinya dalam posisi duduk biasa, "Terlihat menyedihkan 'kan? 'Buruk sekali', atau, 'apa-apaan dia?'. Tapi aku tidak peduli.. bagiku ini yang terbaik. Aku tidak sudi dihantui masa lalu itu. Cukup", lalu ia menyenderkan kepalanya di atas meja lagi. Kini, matanya tertutup dan hanya akan terbuka besok pagi.

'Apa maksudnya?'

"Empat botol dan dia tidak mengalahkan rekornya yang dulu selama 30 tahun", kata si bartender.

"Tiga puluh tahun? Apa maksudmu?"

"..er, lupakan"

"Katakan"

"Jangan memaksaku! Aku tidak mau jadi makan malamnya. Kau tidak pesan apa-apa?"

"Tidak. Terima kasih. Berapa semuanya?"


Yosh! Chapter1-nya (remake) selesai!

Saatnya baca review...

Bluemoon2712: Tolong pastikan sendiri si Fuka itu udah keren apa belon...

Itachi4ever: Nah, panjang 'kan, kak?

CraZy-AneH-GiRL: Kayak yang dibilang kak mekdonal (ganti nama lagi?), Uchiwa Itachi. Artinya kipas musang (uh, ada aja nama macem ini), kalau Uchiha itu ga ada artinya. Soal bajunya, hm... sementara bayangkanlah sendiri!

mekdonal(Pengidap Indomie): Apa sudah jelas? atau malah tambah ga jelas, ya?

itachi no koibito: Saya juga ga suka cewek rambutnya ngejreng (lalu, kenapa buatnya rambut ngejreng??). Yah, si Fuka itu lebih cocok rambut ngejreng sih..

PERHATIAN!!! (Buat yang belum tahu aja..) Berhubung pengarang harus break dance ama soal IMI (Indonesia, Matematika, Inggris) 3 hari lagi, dan makalah serta kerja kelompok dan saudara(tiri)nya, cerita ini di pending! Harap menunggu dengan sabar...