Bwaa!!!!!! Akhirnya nih... selese juga hari- hari di bulan April dan Mei yang berdarah itu... sekarang saatnya libur! Yuuhuuu!!!!
Disclaimer: ah... saya tidak punya siapa-siapa selain Fuka Sabiru, OC disini...
Oks, everybody! Happy reading!!!
Hari itu, ketika langit bertransformasi dari biru menjadi jingga. Awan-awan beriak, burung-burung camar memulai konser mereka. Sang mentari tengah bersiap-siap imigrasi ke belahan dunia yang lain bersama sekelompok burung kecil. Turunnya digit dalam termometer suhu di taman kota terasa amat melegakan. Kini, siang hari pun terasa menjinak. Namun, ini bukan siang hari, ini adalah sore hari yang tanpa alasan memiliki suhu sangat tinggi. Dan suhu itu benar-benar tinggi. Ia bahkan mengalahkan kenyamanan yang tercipta bila kau tidur di atas lantai ubin yang dingin dengan tank top dan celana katun.
Tapi itu bukan hal yang bisa dipikirkan sekarang.
Ada hal yang lebih mendesak,
Sekarang.
--------------------------
"Tuan Ikusa Jundo, pemimpin klan Ikusa telah dibunuh pada pagi ini tepat pukul 05.00. Pembunuhnya adalah seorang bocah dengan jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Bagi siapapun yang menemukan harap melapor pada pihak keamanan"
Mist village tengah berduka, bahkan cerahnya langit jingga nan tinggi tidak mampu menghiburnya. Sungai-sungai disana mengalir dengan deras seperti biasa, hanya, kadar garamnya naik. Karena nyaris semua orang mencoba menghapus duka mereka disana. Sungai-sungai itu membawa duka lara semua penduduk yang tengah bersedih atas perginya seorang yang besar menghadap-Nya.
"Kenapa orang sebaik beliau?"
"Siapa yang tega membunuhnya?"
"Kudengar hanya bocah kecil yang tidak lebih tua dari tiga belas tahun"
"Apa? Bagaimana mungkin... ini tak mungkin terjadi..."
Seorang pemuda dengan rambut bermodel bob memperhatikan para penduduk yang tengah berduka itu dalam diam. Ia membetulkan letak sarung tangan hitamnya, memastikan bahwa kain yang melapisi telapak tangannya itu ada di tempat yang benar. Setelah memastikan bahwa keadaannya prima, ia pun bertolak dari tempat itu. Dengan kecepatan yang tak terlihat. Dalam diam. Tanpa sadar, sebelah alisnya mengerut.
Ia berlari. Terus, terus, dan terus. Kakinya terus melangkah hingga sampai batas kecepatan yang dimiliki alat gerak itu. Tapi itu takkan membuatnya berhenti. Kemarahan yang tersembunyi di kilau mata indigonya telah membuat pemuda itu berlari terus tanpa sadar. 'Sampai tempat itu...'
Dan targetnya pun tercapai. Ia sampai di tempat itu. Setelah puluhan lompatan di atas dahan pohon (yang kebanyakan patah karena injakannya yang terlalu keras). Setelah berlari beratus-ratus langkah, ia pun sampai di tempat yang ditakuti kebanyakan anak kecil di Mist village. Tempat yang mereka sebut "Rumah Berdarah". Bukannya heran, rumah kecil dengan letak mubazir itu memang terkesan kelam. Barangkali karena letaknya yang di pedalaman (Dan, bukannya kejam untuk mengatakan bahwa tempat itu 'kumuh'). Atau karena pemiliknya?. 'Aku bertaruh karena pemiliknya'.
Brak! Si rambut bob membuka pintu rumah kumuh itu dengan marah. 'Srak srak', beberapa helai kertas terkena imbas perbuatannya. Pemuda itu melihat sekelilingnya. Kamar itu tidak besar. Beberapa buku diletakkan begitu saja di meja tengah tempat kertas-kertas tadi berasal. Mengurungnya, beberapa buah rak buku berukuran sedang. Dibelakang semua itu terdapat sebuah pintu yang menuju kamar selanjutnya. 'Tempat ini belum berubah'
Suara melengking lantai kayu terdengar ketika pemuda itu mengambil langkah. Dan, ia berseru, mengeluarkan seluruh amarah yang sedari tadi disimpannya,
"Kemari kau bocah kecil!!!!!!"
"Jangan berisik di rumah orang, bodoh!", jawab suara acuh dibelakangnya.
"Rumah? Kupikir ini gubuk", balas lelaki itu dengan suara dingin. Pemuda itu berbalik, didapatinya orang yang tadi dicarinya. Seorang bocah kecil berambut lurus sepanjang punggung, tingginya tidak lebih dari bahu lelaki itu. Ia menenteng kantung kertas berisi bahan makan siangnya. Kilau merah di ujung kepalanya cukup menyilaukan. Sebuah jepit rambut merah berbentuk kupu-kupu.
"Terserah. Apa maumu?"
"Kau masih berani menanyakannya?", tanya pemuda itu lagi. Ada sedikit ritme amarah dalam nada suaranya. Tangannya yang berada dalam saku meraba ujung kunai, siap melemparkan pisau besi yang tajam itu. "Kenapa kamu bunuh ketua?!!"
"Pertanyaan yang bagus...", jawab gadis itu perlahan, "Kau pikir... kenapa?"
Pemuda itu tidak dapat menahan amarahnya lagi, sudah cukup baginya dengan apa yang telah terjadi belakangan ini. Dia sudah muak.
"Main-mainnya sudah selesai, bocah... akan kubunuh kau, SEKARANG!!!", pemuda itu mencabut kunainya. Dengan cepat, ia berhasil sampai di depan bocah itu. Dan serangan pertama, kilat, pun dilancarkan. Brek! Kantung kertas bocah itu pun robek, memuntahkan seluruh isinya. Sementara bocah itu berputar ke belakang, menghindari serangan selanjutnya.
"Ayo!", kata pemuda itu seraya memberikan serangan yang bertubi-tubi, "Kau hanya akan menghindar terus menerus? Kalau begitu kau akan mati cepat!", satu serangan merobek kulit pipi bocah itu.
"Cih!", umpatnya seraya mengelap darah itu dengan lengan bajunya. Dia pun mengeluarkan sebuah pistol transparan. Dalam tiga detik, serangan balasan sudah menampakkan hasilnya. Telapak tangan pemuda itu sekejap merah, menyemburkan darah segar dalam jumlah yang cukup untuk sebuah kantung transfusi. Otot pipinya sedikit menegang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba itu. Dilemparkannya beberapa kunai sebagai balasan. Kunai-kunai itu bergerak dengan kecepatan tinggi, namun berhasil ditangkis sasarannya.
--------------------------
Jarum pendek di dalam rumah mungil itu sudah bergerak sembilan puluh derajat dari saat pertarungan itu berlangsung. Kedua belah pihak telah sama-sama kehabisan energinya. Mereka berusaha mempertahankan posisi berdirinya, walaupun tungkai kaki mereka berdua bergetar karena kehabisan tenaga. Pemuda itu menajamkan telinganya, hilang harapan pada indra penglihatannya yang makin melemah. Samar, ia bisa mendengar derap kaki beberapa orang. Dari suaranya, ia bisa menebak kalau mereka setingkat chuunin atau jounin.
'Sial', pikirnya, berusaha bangkit. "Mereka sudah menemukanmu"
"...", bocah itu terdiam, masih berusaha berdiri dengan tegak.
"Jadi, kalau begitu... aku akan membunuhmu sebelum mereka menemukan kita", sedetik setelah mengatakan itu, pertarungan dimulai lagi. Tapi itu tak berlangsung lama, karena mereka segera ditemukan.
Beberapa ninja mendarat tanpa suara di dekat mereka. Masing-masing dari ninja itu telah siap dengan senjata masing-masing. Bocah itu tersenyum pahit, mengetahui bahwa dewa kematian sudah berada di dekatnya. Pemimpin kelompok ninja itu berkata, "Serahkan dirimu, bocah"
"Pikir aku mau, hah? Enak saja!", kata lawan bicaranya. Berhasil mengumpulkan tenaga, ia bangkit perlahan.
"Kalau begitu, kami akan memaksa", kata si ketua, menarik beberapa kunai.
"...", pemuda berambut bob itu memperhatikan sekelilingnya, seorang medic-nin sedang menyembuhkan lukanya. Ia dapat merasakan bahwa matanya kian membaik.
"Kalau bisa...", bocah itu menjawab. Ia membuat seal dengan kecepatan luar biasa.
'Hei...', pikir si rambut bob. Ia mengenal seal-seal itu. 'Summon seal?'
"Hati-hati! Dia akan memanggil summon!", teriak pemuda itu.
"Shino Chou!!!", seru bocah kecil itu. Suasana tempat itu mendadak berubah, terlihat sinar-sinar merah yang aneh dari balik pohon-pohon. Langit mendadak menutup tirai panggungnya. Sinar-sinar merah itu kian jelas, kupu-kupu berwarna merah darah.
Mimpi buruk pemuda itu menjadi kenyataan, bocah kecil itu telah memanggil summonnya yang dapat membunuh seluruh orang di tempat itu. Kupu-kupu kecil itu melebarkan sayapnya, dan menghisap sesuatu yang merah seperti darah dari ninja yang paling dekat dengannya. Satu detik kemudian, ninja itu hilang seperti asap.
"Apa.. i..?"
Seorang ninja lain yang cukup berani mencoba menebas kupu-kupu itu, namun nasibnya sama seperti temannya yang tadi. Tak perlu waktu lama hingga seluruh orang di tempat itu menemui ajalnya. Pemuda itu memejamkan matanya, seraya melepas jiwanya untuk pergi ke alam sana, menyusul ketua klannya.
--------------------------
"Selesai...", kata bocah itu ketika seluruh kupu-kupu yang dipanggilnya pergi dari hadapannya. Ditatapnya langit yang mulai menghitam di atasnya. Ia menutup matanya, kakinya sudah putus asa untuk menahannya tetap berdiri. Tubuhnya jatuh ke tanah, rambutnya yang panjang tertiup angin, menebar warna biru muda yang menyilaukan. Sore hari yang panjang itu akan segera berakhir, esok hari adalah musim gugur yang harus dijalaninya dengan berbagai pelarian. Udara di sekitarnya semakin terasa nyaman.
--------------------------
"Kenapa kamu sendirian?"
"Ayo main sama-sama!"
"Kamu pasti bisa! Aku yakin!"
"Aku tahu kemampuanmu itu! Tapi aku tidak takut! Kamu bisa mengubahnya!"
"Kau sudah mengetahuinya? Ya, akulah yang melakukannya"
"Setan sepertimu lebih baik mati!"
"Pergilah! Aku tidak punya teman yang mengkhianatiku!"
"Mati kau!... Fuka Sabiru!!"
Ingatan-ingatan terus muncul dalam benaknya, memaksanya mengingat kembali waktu itu, diingatnya mata yang tak percaya itu. Dan mata yang ketakutan itu
'Tolong', pikir bocah itu. 'Tolong'
--------------------------
Kata terakhir itu merupakan akhir dari mimpi buruk Fuka malam itu. Ia menarik nafasnya cepat-cepat. Tanpa alasan yang jelas, mimpi buruk selalu membuatnya berkeringat dingin. Tapi, itu takkan berdampak buruk kali ini.
'Aku sudah bukan bocah itu lagi. Aku yang sekarang adalah 'Akatsuki'. Aku bukan bocah itu lagi...'
That's the end of chapter 2...
Capek... sedikit masa lalunya Fuka terungkap, akhirnya...
Saatnya membalas review!
NejItachi UchiHyuu: Iya nih.. april berdarah. tapi akhirnya selese! Selamat berlibur, kak!
bluemoon2712: Yay! Lanjutannya datang, kak! Selamat membaca!!!
Mendiang Wina: Sedikit tentang masa lalunya di chapter ini. Kalau penasaran tunggu aja chapter selanjutnya..
itachi4ever: Yap, ini dia chapter yang lebih panjang lagi (saya melongo juga begitu tahu jumlah katanya udah sampai 1200..)
CraZy-AneH-GiRL: Updatenya datang, kak! Selamat membaca!
Cinnamon Cherry: Sherry. Iya juga ya. Kalau dipikir-pikir harusnya sake. Tapi... waktu itu yang kebayang cuma Sherry sih... (sake malah sama sekali enggak kebayang)
Anyhow, minna-san.. terima kasih atas reviewnya!!! Review lagi ya!!!
Ps: Kayaknya banyak yang enggak jelas soal kostumnya Fuka. Um.. buat yang enggak jelas, coba buka profil saya, trus liat deviantartnya, disitu ada tuh, gambar Fuka...
