Minna, I'm back!!!
Ya, inilah saya, Reku-maku yang akhirnya berhasil menyelesaikan chapter ini.
Mohon maaf untuk keterlambatannya! Hontouni Gomennasai!!
Ok, here it's..
Disclaimer: Hanya Masashi Kishimoto-san yang memiliki Naruto. Saya cuma punya Fuka Sabiru, OC disini
Chapter 3, hajime!
Bintang-bintang berpesta pora malam itu. Para awan terlihat bolos dari jaga malam, lepas tangan dari pekerjaannya menutupi pesta yang berkilau dan berkelip itu. Bahkan jangkrik-jangkrik pun ikut berpesta. Mereka telah memulai orkestra mereka yang menghanyutkan. Dipandu oleh ilalang hutan, ditemani dansa liar sang angin, dengan pohon-pohon yang bergemerisik sebagai penontonnya.Tapi kemudian, pesta itu terhenti dengan kedatangan dua pasang kaki yang miskin suara. Kaki-kaki itu terus bergerak, meratakan ilalang dengan tanah. Mereka bergerak jauh, dalam, menembus gelap hutan itu. Dan beberapa saat kemudian, seakan hal itu tak pernah ada, orkestra penghuni hutan pun dilanjutkan kembali.
Dan dua pengganggu itu masih terus berjalan, mengganggu aktivitas apapun yang mereka lewati. Terutama seseorang yang dengan gontainya melangkah mengikuti jubah hitam didepannya. Saat memasuki hutan itu, langkahnya masih berupa 'tap,tap,tap'. Tapi, sekarang, setelah nyaris satu jam berlalu, langkahnya terdengar (jauh) lebih ganas dan lebih merusak. Ia melihat sosok didepannya, bertanya-tanya sampai kapan mereka akan begini. Dan ketika akhirnya ia buka mulut untuk menanyakannya, orang itu mendahuluinya. "Semuanya sudah datang", dan Fuka Sabiru menggerutu untuk ke-empat belas kalinya di hari itu.
"Hentikan gerutumu yang aneh itu, anak baru, un", seru seseorang yang sangat kau kenal. Fuka menatap hologram itu, bukan, mendelik pada hologram itu. Pemuda dengan mata kiri yang berasembunyi dibalik rambutnya itu membalas delikan itu. Oh, dan jangan bilang kalau kau belum menyadari bahwa World's Greatest Artist at Exploding sudah hadir dalam fanfic ini (kalau tidak, silahkan lepas gelar 'Deidara's fangirl' itu).
"Leader, apa anda yakin bahwa bocah ini pantas jadi akatsuki?", tanya Sasori dengan sedikit sisipan ragu. Tidak heran, ia cuma melihat seorang gadis kecil yang terlihat lemah. Dan ketuanya berkata bahwa bocah itulah anggota baru pengganti Kisame (yang notabenenya, kuat)? Yang benar saja. Tapi pria yang dipanggil Leader hanya menjawab dengan anggukan kecil disertai kalimat, "Ya, perkenalkan anggota baru kita.. Fuka Sabiru"
Hampir semua yang hadir meneliti gadis yang masih ber-staring contest dengan Deidara itu. Dan apa yang mereka lihat sama saja dengan Sasori. Fuka Sabiru hanyalah seorang gadis kecil. Tapi mereka tidak berniat mempertanyakannya, toh itu tidak akan mengganggu rencana mereka. Tidak akan masalah siapapun pengganti Kisame. Kuat, atau lemah. Itu benar-benar bukan hal yang patut mereka perhatikan. 'Paling-paling usianya cuma tinggal beberapa bulan lagi', pikir beberapa dari mereka. Tapi berasumsi awal-awal bukan hal yang baik. Begitu pula menilai buku dari covernya.
"Baik, ayo mulai rapat kita", kata Leader mengakhiri percakapan itu—sekaligus juga mengawali percakapan lain.
--------------------------
"Nggghhh", ucap Fuka sembari meregangkan badannya. Hari itu daun-daun sudah mulai menguning dan memerah. Dan berarti sudah satu musim sejak pertemuan pertamanya dengan Itachi. Udara yang menghangat masih terus menggodanya untuk bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Dan sebenarnya itulah yang ingin dilakukan Fuka. Kalau saja dia tidak punya tugas untuk menangkap seorang ANBU senior (untuk bounty-nya, tentu saja). Pemikiran itu membuatnya makin malas, bahkan untuk bangun dari kasurnya sekalipun. 'Kenapa waktu itu aku setuju untuk masuk organisasi ini??', pikirnya dengan segenap penyesalan. Dibaringkannya kembali tubuhnya, otaknya bekerja, memutar kembali ingatan lamanya.
Flashback
Malam itu, asap putih membumbung tinggi dari kedai-kedai di salah satu lapangan terbuka di Mist Country. Di dalam kedai oden, terdengar obrolan-obrolan wanita-wanita karir. Mulai dari pacar, atasan, gaji, sampai gosip. Dengan antusias, seorang wanita berumur dua puluhan mendengarkan curhat temannya. Digigitnya lobak putih yang baru saja dipesannya.
"Lalu ya, ketika kutanya.. 'kenapa sih kamu jadi dingin belakangan ini?', dia malah menjawab dengan enggak niat: 'Enggak kenapa-napa kok'. Uuuggghh, aku yakin dia pasti selingkuh! Awas dia nanti kalau ketahuan belangnya! Agghh!!!", seru salah satu temannya histeris.
"Sabar, kan belum tentu juga dia beneran selingkuh. Jangan-jangan dia lagi nyiapin surprise buat kamu", kata wanita itu berkomentar.
"Masa, sih? Seminggu lalu tuh, ya.. aku lihat dia lagi jalan sama cewek lain! Mesra banget! Mana pas kutanya soal itu, dia ga mau ngaku lagi!"
"Hm.. susah juga, ya.. kamu kasih saran deh, Fuka..", wanita yang dipanggil Fuka itu memalingkan mukanya, sehingga rambutnya yang panjang bergerak dengan lembut. Setelah selesai mencerna konyaku di mulutnya, dia pun angkat bicara:
"Ini soal apaan yah?"
"Ye.. kamu tuh ya, kita lagi bicarain Shouji. Soal dia selingkuh apa enggak"
"Pasti dia selingkuh lah! Kalau enggak, kenapa coba dia enggak ngaku kalau dia jalan ama cewek centil nas bree tol enggak tahu diri itu??"
"Sabar, Ringo.. kamu belum dapet buktinya kan?"
"Iya sih, tapi dia itu bener-bener.. Ahhh!! Paman, lobaknya lima lagi, konyakunya tiga lagi, sekalian sakenya juga!"
"Oi, oi, Ringo! Besok badan kamu melar, lho!"
"Emang aku peduli? Shouji juga udah ga peduli kok!"
"Ya, udah deh.. aku duluan ya..", kata Fuka, menegak habis sakenya.
"Sudah mau pulang? Ya sudah deh, dah! Sampai ketemu besok!"
Fuka hanya menganggukan kepalanya, lalu hilang sama sekali, bahkan langkahnya pun tak terdengar lagi.
"Saya.."
"Hmm?"
"Kamu ngerasa kalau Fuka itu misterius 'ga?"
"Eh?"
"Ya, aku ngerasa kalau dia itu beda sama kita-kita. Dia tuh enggak suka ikut ngegosipin orang. Jarang ketawa ataupun marah. Kayaknya tuh ya, dia hidup di dunia yang beda gitu sama kita"
"Ya, aku juga sebenernya ngerasa sih.. inget kasusnya Kenji? Aku udah enggak pernah lagi ngelihat dia. Dan itu terjadi setelah dia cekcok ama Fuka"
--------------------------
"Jadi, kau kesini untuk menangkapku, tuan shinobi?", ucap Fuka di jalanan yang gelap nan sepi. Sesaat setelah itu, sesosok bayangan berjubah hitam melompat dari atas pohon (kayak film apa.. gitu).
"Ternyata kau belum kehilangan kepekaanmu sebagai kunoichi ya.. aku terkejut. Jujur saja, sebenarnya aku kesini untuk mengambil kembali cincin yang dimiliki anggota kami. Kau menyimpannya, bukan?", ujar seorang pemuda dengan rambut berdiri.
"Akatsuki..", gumam wanita itu. "Aku memang menyimpannya, tapi aku tidak bisa memberikannya padamu"
"Begitu? Kenapa?"
"Karena temanku menitipkannya. Dan dia bilang akan mengambilnya sendiri"
"Hm.. jadi kau merasa dia belum mati? Sebenarnya ada seseorang yang mengatakan hal sama... kau benar-benar tidak mau memberikannya? Baiklah.. bagaimana kalau kau bergabung dengan kami saja?"
"Kenapa?"
"Satu, karena kami kurang orang. Dua, kamu memenuhi syarat untuk masuk Akatsuki. Tiga,kamu bisa mencari Kisame dengan tenang. Deal?"
End of Flashback
--------------------------
'Benar.. ini semua karena ikan sial itu ya.. awas saja kalau sampai dia tidak ketemu..', gerutunya dalam hati. Mulutnya berkomat-kamit mengutuk siikanhiusial. 'Tok,tok', didengarnya seseorang mengetuk pintu kamarnya. 'Aahh.. aku masih ingin tidur..'. Didengarnya kembali suara 'tok,tok' itu, kali ini beserta ancaman: "Bangun atau kupaksa kau, bagaimanapun keadaanmu". 'Uh.. dasar shinobi.. kenapa orang-orang ini sangat tepat waktu sih?'. Didengarnya kembali ancaman, "Tiga berarti pintu ini kudobrak. Satu.. dua.."
'Uh..'
Memaksa, Fuka bangkit dari kasurnya, dia tidak membutuhkan jubah Akatsukinya. Maka, setelah memakai getanya, ia pun membuka pintu kamarnya. Dan yang menunggu di balik pintu kayu itu adalah wajah keren seorang pemuda berambut hitam. Tanpa suara, pemuda itu meninggalkan Fuka, berjalan keluar penginapan itu.
'Dia mau bilang 'ikuti aku'?'
Diiringi seberkas keluhan, kunoichi itu berjalan mengikuti partnernya--yang belakangan disadarinya perlu lebih banyak pembendaharaan kosa kata...
"Itachi-san..."
"..."
"Itachi-san..."
"..."
Dan sangat membutuhkan korek kuping...
"Kita akan kemana?"
"Mencari informasi"
"Tentang si ANBU hebat itu?"
"Hn.."
Jangan lupakan kemampuannya dalam mengheningkan suasana...
"Itachi-san!", kata Fuka, berhenti dari kegiatannya. "Cuacanya bagus sekali!"
"Ayo cepat"
Juga sikapnya yang suangaaaaat menyebalkan!!!
'Bagaimana Kisame-chan bisa tenang-tenang saja berpartner dengan manusia kulkas ini siiih?? Seharusnya aku tanya waktu itu.. grr... mentang-mentang mereka berdua berdarah dingin!!'
"Ayo cepat"
"Ya..."
Dan kegiatan pun dilanjutkan. Tanpa terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sinarnya (terlalu) hangat, hingga Fuka merasa bahwa ia benar-benar menyesal masuk Akatsuki.
"Ah!! Kenapa musim panas meninggalkan panas yang menyengat ini? Kupikir udara akan menjinak sedikit ketika musim gugur tiba!!", seru Fuka tiba-tiba.
"Diamlah", jawab (?) Itachi.
"Bagaimana aku bisa diam, hah? Leader!!! Kenapa aku harus berpartner dengan manusia kulkas ini?? Apa tidak ada orang lain yang lebih baik?? Ah!! Bisa-bisa umurku menyusut dengan sangat cepat kalau begini!!"
"Tidak sopan"
"Diam, BOCAH! Selama ini kau yang tidak sopan, tahu!! AHHH!! Cukup!! Aku muak dengan semua ini!!!", seru Fuka sebelum pergi entah kemana. Meninggalkan Itachi yang hanya dapat menghela nafasnya.
"Bertengkar dengan pacar ya, kak?", kata seorang yang sangat iseng.
'Pacar??'
"Grr!!! Dasar orang engga jelas!!! Aku keluar!! Aku benar-benar akan keluar dari organisasi payah itu!!!"
"Paman, ramen porsi besar satu!"
"Paman, ramen porsi besar satu!"
"Eh?"
"Eh?"
Fuka melihat seseorang disebelahnya. Seorang bocah balas menatapnya. Di wajah bocah itu terdapat garis-garis yang akan mengingatkanmu pada rubah (matanya yang agak sipit mendukung). Rambutnya kuning, acak-acakan. Dan ia memakai head protector Hidden Leaf Village.
'Ninja leaf village ya?'
"Nee-san, bajumu aneh sekali!", celetuk bocah itu.
"Ini namanya fashion, bocah!"
"Ah, kau juga masih bocah!"
"Begini-begini, aku ini sudah empat puluhan!"
"Wah, seperti Tsunade-obaa, dong!"
"Jangan disamakan dengan wanita tua itu! Kau shinobi dari Leaf Village, ya? Sedang apa disini? Misi?"
"Bukan. Aku sedang berlatih untuk membawa kembali temanku!"
"Ho.. baik sekali. Memangnya temanmu sebaik itu?"
"Sama sekali tidak!!", kata bocah itu seraya mengepalkan tangannya. "Dia itu menyebalkan! Sok keren! So cool! Butuh lebih banyak sosialisasi! Sangat kekurangan kata-kata! Kalau aku berisik sedikit saja dia akan berkata, "Urusai!". Benar-benar!!", kata bocah itu menempelkan dagunya pada meja. Tangannya bergetar menahan amarah.
"Oh, itu mengingatkanku pada bocah kulkas itu! Benar-benar terlalu cool! Butuh korek kuping! Kurang sosialisasi! Menyebalkan! Payah! Good for nothing!!", kata (keluh) Fuka seraya menempelkan dagunya ke meja.
"Dua ramen porsi besar siap!"
"Akhirnya..", kata Fuka. Mereka pun meraih Ramen masing-masing dan mulai makan.
"Dia memang menyebalkan, tapi dia temanku! Saudaraku! Karena itu aku akan menyelamatkannya!", kata bocah itu.
"... begitu ya.."
Dan ketika mangkuk-mangkuk dan gelas ocha (teh hijau) pun sudah kosong, mereka menghela nafas dengan nikmat. Dari kejauhan, seorang lelaki besar (dengan si bocah sebagai bahan perbandingan) dengan rambut putih yang panjang muncul.
"Naruto, ayo! Istirahat sudah selesai!"
"Tunggu! Ero-sannin! .. Nee-san, Selamat Tinggal!", kata Naruto. Ia melambai-lambaikan tangannya sebelum pergi.
"Apa tidak terlalu cepat untuk mengatakan selamat tinggal, eh? Uzumaki Naruto.. alias container Kyuubi", kata Fuka. Seulas senyum aneh mengembang di wajahnya. Tapi itu tidak untuk waktu yang lama, karena terdengar suara yang membuat jantungnya melompat hanya beberapa detik kemudian.
"Sedang apa kau?"
"HYAAA!!", teriak Fuka kaget.
"Aku menemukan target kita. Ayo"
"He?"
Tanpa menunggu jawaban, Itachi menarik tangan Fuka dan mulai berjalan.
"He, hei!! Tunggu dulu!!
'Ja ne, kyuubi boy'
Chapter 3 ended, ayo balas review!!
CraZy-AneH-GiRL: Thanks, thanks . Jepit kupu-kupu dan pistolnya akan diungkap nanti, tunggu saja..
bluemoon2712: Thanks.. Saya juga ga bisa bikin battle (atau setidaknya bukan specialty lha) senang rasanya ada yang bilang keren
Itachi4ever: Thanks!! Wakakakakaka
midash sequaia: IYA! Saya lanjutin, nih! Siapakah anda? Saya tidak kenal.. Becanda dong.. thanks anyway.. Ayo, Mi-chan juga bikin fanfic dong! Pasti keren..
inuzuka aufa: Thanks x). Tapi bloody mary itu apa ya??
EnMA-chan: Begitukah? Apa Fuka Sabiru terlihat keren di mata anda?? Thanks!!
Okey dokey, see ya at the next chapter! (kalau saya bisa membuatnya, doakan ya!)
Don't forget to review!!
