Pagi itu merupakan hari kesekian sejak salju turun. Jendela kamarnya kini putih karena uap. Udara dingin tampak telah membangunkan gadis itu. Sebenarnya tidak ada yang perlu disalahkan, jika saja ia tidak menendang jatuh selimut tebal di kamarnya... Jika saja begitu, ia pastinya masih tertidur dengan nyaman walaupun jam telah menunjukkan pukul sembilan. Tapi apa daya, sedikit menggerutu, ia memaksa dirinya untuk bangun. Tepat ketika ia dengar suara sesuatu yang robek. Ah, tampaknya kimono gadis itu robek besar. Tunggu, bukannya ia sudah memilih dua ukuran lebih besar saat membeli kimono itu? Bagaimana itu terjadi?
'Jangan-jangan...?'
--------------------------
Peri-peri perak sedang turun dengan lembutnya dari langit pagi itu. Sebagian penduduk bergembira karena hari itu merupakan hari peringatan kelahiran tuhan mereka. Tapi apa hubungannya dengan lelaki itu? Ia malah merasa kalau salju pagi itu sedang menggodanya. Seperti sedang sengaja memperlambat waktu. Atau itu karena ia sedang menunggu 'neraka'? Lelaki itu pun menarik nafasnya panjang-panjang seraya mengingat kejadian beberapa hari lalu.
Flashback
Toko-toko di kota sedang sibuk mempersiapkan natal yang tinggal hitungan hari. Tapi rupanya masih ada rapat. Rapat akatsuki akan segera dimulai. Perlahan Itachi melirik gadis yang ada di sebelahnya. Fuka Sabiru terlihat dalam mood yang sangat sangat buruk. Beberapa hari ini ia membiarkan Itachi melakukan segalanya sendirian. Dari mulai melakukan misi sampai kabur dari kejaran para hunter-nin. Tiba-tiba terdengar sebuah suara.
"Kelihatannya kita telat", ujar seseorang dengan badan (hm.. apakah itu badan..) yang besar. Sasori dan Deidara tampaknya telah tiba.
"Ya. Sangat telat", ujar Fuka dengan muka berkerut-kerut.
"Kan cuma telat 1 menit 2 detik 35 milidetik, un!!", seru Deidara. Tampaknya ia juga dalam mood yang sama buruknya dengan Fuka.
"Bukan masalah lamanya, tapi kau sudah membuat seorang gadis menunggu, bocah!", seru Fuka menyalakan api di atas genangan minyak. Dan perang mulut lain dimulai...
"Fuka dan Deidara, kuharap kalian diam", ujar leader berusaha menenangkan. Sayang usahanya gagal..
"KAU MENYURUHKU UNTUK APA??"
"Er... ayo kita mulai rapatnya", ucapnya menyerah kalah.
--------------------------
"Jadi, Hidan dan Kakuzu.. kalian akan memburu orang-orang di list ini.."
"Tunggu dulu", ujar Hidan menyela. "Beberapa hari lagi Natal dan kau menyuruh kami untuk kerja??"
"Aku tidak pernah bilang kalau organisasi ini punya hari libur", balas leader tenang.
"KAU PERNAH MENGATAKANNYA DULU PADAKU!!", seru Fuka tiba-tiba meledak. "SEWAKTU MEREKRUTKU KAU BILANG KALAU DI ORGANISASI INI ADA LIBUR!!"
"Itu 'kan dulu.."
"AKU TIDAK PEDULI! DASAR PEMBOHONG! PADA AKHIRNYA KAU TIDAK AKAN MEMBANTUKU MENCARI DIA 'KAN? BIAR KUCARI DIA SENDIRI!!!", seru Fuka lalu memutuskan 'jaringan'nya. (a/n:ingat kalau Akatsuki menggunakan semacam telepati untuk berkomunikasi jarak jauh) Tanpa kata-kata, Itachi mengikuti langkah partnernya. Diiringi anggota-anggota lain. Dan leader pun ditinggalkan bersama Konan.
"Yah, kupikir sekali-kali libur tidak ada salahnya", ujar Konan meninggalkan Leader sendiri dan memutuskan jaringannya juga.
Flashback ended
--------------------------
Dan begitulah kenapa Itachi masih santai pagi itu. Dan itulah mengapa ia sangat resah. Masalahnya, hari itu hari Natal dan Akatsuki libur. Jadi Fuka akan menyeretnya seharian, memintanya menemani gadis itu dan.. yah, yang pasti sih repot.
Dan karena momen hallowen dua bulan lalu masih menggenangi pikirannya (Fuka memaksanya ikut ber-'trick or treat' ria seraya mengatakan kalau 16 tahun belum telat untuk ikut merayakan Hallowen), secara impuls Itachi melompat dari jendela kamarnya ketika seseorang berjalan menuju kamarnya...
"Itachi-san", serunya seraya mendobrak pintu malang di hadapannya.
"Hm...? Dimana dia?", katanya ketika melihat kamar yang kosong itu. Dia pun berjalan ke arah jendela yang terbuka dan menghembuskan angin yang membuat bulu kuduk naik.
"Wah, wah? Dia mengajakku main petak umpet?". Setelah mengukur jarak, gadis itu pun melompat dari jendela itu, mengikuti jejak 'buruannya'.
"Sayang dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa..", tersenyum licik, gadis itu pun berjalan mengikuti jejak kaki yang tertinggal di atas salju, menimbulkan bunyi 'srak,srak' di atas salju yang dingin namun lembut.
--------------------------
Jam dinding tengah menunjukkan pukul tiga sore. Tidak terasa sudah lima jam ia habiskan di pusat kota. Itachi hanya berharap Fuka tidak mengejarnya. Karena bahkan di tengah keramaian itu, ia terlihat sangat mencolok. Apa mungkin karena Itachi masih memakai jubah akatsukinya, atau..? Entahlah, yang pasti dari tadi ada banyak sekali orang yang melihatnya. Terutama para cewek yang terlihat sangat mengganggu. (Itachi ingat kenapa ia tidak punya pacar, sekarang) Maka, kepada siapapun Fuka bertanya, ia akan tahu kemana Itachi pergi. Setelah pikiran-pikiran yang meresahkan itu, Itachi akhirnya memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai dango.
A girl's POV...
Hiks, dear reader. Hari ini hari natal. Dan untuk semua gadis, malam natal adalah malam dimana keajaiban akan terjadi. Dulunya aku percaya hal itu. Tapi sekarang tampak seperti hal yang konyol. Ceritanya begini, pagi ini, aku sudah ada janji dengan pacarku untuk kencan seharian. Tapi, mendadak dia bilang bahwa dia harus bekerja pada hari ini. Hiiiiiih!!! Kesal sekali rasanya!!! Lagipula kerja dimana yang hari seperti ini tidak libur? (jawaban: polisi) Dasar payah!
Maka akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi nonton bioskop sendiri saja. Kan sayang tiketnya.. Dan ketika filmnya hampir dimulai, aku melihat sepasang 'lover' sedang berjalan dengan mesranya. Whaaat?? Tunggu, tunggu.. Itu 'kan pacarku? Ngapain dia disini? Dengan siapa dia? Eh, dia sedang apa dengan sahabatku? Tunggu dulu, tuhan.. semoga pikiranku salah.
Dan di tengah-tengah film, kulihat mereka berdua.. BERCIUMAN!! Oh, hot sekali ya... (marah). Setelah film itu selesai, kulabrak mereka. Kutampar pacar itu dan pergi berlari. Tunggu, ngapain aku nangis segala? Kayaknya enggak perlu sampai semelankolis ini deh. Hatiku hancur! Peduli setan sama yang namanya keajaiban natal atau apapun itu!!
Dan di tengah semua itu, kutemukan seorang cowok yang sedang berjalan di pusat kota. Rambutnya hitam, diikat kucir rendah. Dia memakai jubah hitam dengan motif awan-awan merah (gadis ini sama sekali tidak melihat kuku Itachi yang dikuteks dengan warna yang 'unik'). Duh, dia masih single apa tidak yah? Ya, dia melihat ke arah sini! Oh, tuhan! Mata merahnya serasa membakar mukaku. Dengan impuls aku pun berbalik, ternyata dia cool sekali!! Oh, tuhan, apakah dia malaikat yang kau kirimkan untukku? Tuhan, maaf aku tidak percaya pada keajaiban Natal..
Eh? Tunggu? Mr. Angel tiba-tiba masuk ke kedai! Wah, harus kuikuti! Orang bilang barang bagus gampang habis! (Sales sekali yah..)
Dan, itu dia Mr. Angel, tengah memesan beberapa tusuk dango. Harus kucatat dango kesukaannya! Eh, siapa gadis yang di sebelahnya. Oh, cantik sekali!! Rambutnya panjang dan digerai, membuatnya tampak anggun. Bajunya juga modis sekali. Lho, lho? Kok mereka tampak mesra sekali ya? Don't tell me!! Jangan bilang mereka pacaran!! Kami-sama!!!
A Girl's POV ended
Pesan Moral: Cowok cakep ada yang punya (Author ngakak guling-guling)
--------------------------
Ok, kita tahu Itachi tidak punya pacar. Jadi gadis itu adalah? Lesse..
Itachi baru saja hendak memakan dangonya ketika seorang gadis tiba-tiba muncul dan berkata padanya seraya tersenyum manis, "Hai! Sudah menunggu yah?"
"Kelihatannya kau salah orang", jawab Itachi.
"Aku tidak mungkin salah. Kau pasti Itachi Uchiwa, missing-nin S rank yang dulu pernah membantai klannya sendiri. Benar bukan?"
Itachi terdiam. Tidak disangka ia akan bertemu seseorang yang tahu masa lalunya di tempat seperti itu. Tapi siapa dia? Apa mungkin hunter-nin?
Memikirkan kemungkinan itu, Itachi memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Dan tanpa diduganya, ternyata gadis itu malah berkata:
"Wah, kau sudah siap, ya? Kalau begitu ayo kita pergi!", dan gadis itu pun menarik Itachi. Sebuah tarikan yang sulit untuk dilepas.
"Hei! Tunggu dulu!", teriakan Itachi tidak digubrisnya. Cepat, gadis itu menarik Itachi pergi dari tempat itu.
--------------------------
Mereka berlari dan berlari. Menyusuri kota yang sangat besar itu, menyusuri jalan-jalan gemerlap lampu kota, hingga ke lorong gelap di belakang kota besar itu. Melewati toko-toko penuh cahaya, hingga kios-kios kecil yang gelap dan kumuh. Itachi berusaha melepaskan pegangan gadis itu, tapi walau ia mengerahkan chakranya, pegangan gadis itu masih tetap kencang. Malah makin kencang. Dan stamina gadis itu seakan tak pernah habis. Sudah beberapa jam mereka berlari, tapi langkahnya masih tetap mantap.
Dan setelah beberapa lama, mereka sampai di depan sebuah bangunan besar. "Mirror House" tertulis besar-besar di papan namanya. Setelah membayar tiket , gadis itu menarik Itachi masuk, lalu meninggalkannya.
"Apa maksudnya, menarikku ke sini lalu meninggalkanku?", ujarnya.
'Huh? Ternyata sang jenius dari klan Uchiwa pun bisa mengeluh', kata hati kecilnya.
'Jenius.. itu pangkat yang sulit dipikul', keluhnya lagi tanpa sadar.
Ya, jenius. Panggilan yang sungguh sulit untuk dipikul. Mereka akan menganggapmu bisa segala hal, dan dapat melakukan segalanya tanpa cela. Benar-benar melelahkan.
'Dan kau memutuskan un tuk mengakhirinya, dengan melakukan hal sadis itu", sekali lagi hati kecilnya berucap. Itachi menggelengkan kepalanya, lalu membuang jauh penyesalan kecil yang ada di hatinya. Dan mulai berjalan lagi, hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan luas di dalam tempat itu.
--------------------------
"Kau tiba lebih lama dari yang kupikirkan", seru gadis berambut panjang yang tadi menarikknya ka dalam bangunan itu.
"Apa keinginanmu?", tanya Itachi.
"Aku? Aku ingin kau memberikan 'ini' pada leadermu yang payah itu". Yang dimaksudnya dengan 'ini' ternyata adalah sebuah cincin dan jubah Akatsuki yang telah dilipat rapi. Itachi merasa mengenal cincin itu. Ya, tentu saja. Itu adalah cincin yang sepasang dengan cincin miliknya.
"Sekarang aku mengerti...", ujar Itachi. "Ternyata kau memang berniat untuk keluar dari Akatsuki"
"Akhirnya kau sadar siapa aku?"
"Sayang sekali aku akan dimarahi kalau membiarkanmu... Fuka Sabiru"
"Maksudnya kau mau menghalangiku, begitu?", seru gadis itu, Fuka Sabiru. Itachi dapat merasakan tekanan yang kuat darinya.
'Ini akan sulit', pikirnya.
