Chapter tambahan untuk penjelasan bahasa daerah yang keluar di fic ini. Silakan..
Sunda :
'abdi' : saya.
'teh' : kayaknya sih gak ada artinya, biasanya orang sunda kalo ngomong suka ditambahin kata ini. Mungkin kira-kira kalo di bahasa Indonesia artinya 'sih' atau 'mah' deh..
'ente' : tidak (baca pake 'e' nya elang ya.. ini juga beda dengan 'ente' yang pake 'e' nya sate. Yang itu artinya kamu, gak tau bahasa apa itu..) .
'belegug' : umpatan kalau saya rasa. Saya gak bisa memperkirakan artinya, maaf XP
'pisan' : sangat, banget.
'blekok' : ini juga sejenis umpatan XP
Jawa :
'ora' : tidak, nggak.
'mudeng' : ngerti.
Betawi :
'aye' : saya.
'pegimane jadinye?' : bagaimana jadinya?
'pan' : kan.
Untuk bahasa Malaysia, baca huruf 'e' nya (contohnya saye = saya) juga pake huruf 'e' elang, kebalikan dengan bahasa Betawi. Saya kira buat yang Malaysia, English, Betawi, ama bahasa prokem (tuh yang dipake Kakuzu kayaknya) udah cukup jelas. Maaf kalo gak terlalu men-detail, untuk lebihnya silahkan tanya ke guru masing-masing (?) atau ke orang yang mungkin tahu lebih lengkap. Maaf ya kalo mungkin bahasa daerahnya kurang ngena, soalnya kalo berlebihan entar readers gak ngerti lagi.. –bungkuk-
Dan sebagai permohonan maaf karena bahasa darehnya gak jelas dan ancur, silakan baca Omake ini~
Di Kantor Kedutaan Indonesia di Malaysia…
"Itayaaaan!! Aduh! Sudah saye bilang kalau file-nya jangan di keluarken dulu sebelum di-save!"gerutu Sasori kesal. Itayan cuma bisa cengengesan tak bersalah. Sasori nyaris meledak marah, wong tadi si Itachi mengeluarkan tab MW-nya seenak udel cuma buat main Insaniquarium Deluxe. Dan bagusnya lagi, file yang gak kesimpen itu kerjaannya yang dia ketik selama 2 hari sambil begadang, bayangkan perjuangan Sasori untuk mengetik file kerja biadab yang semuanya bertotal 200 halaman itu. Akhirnya Sasori tepar di tempat, pusing memikirkan bagaimana caranya supaya bisa menyelesaikan kerjaan itu secepat kilat, sedangkan harusnya kerjaannya itu sudah mesti dikumpulkan ke bos-nya nanti malam. Itayan malah kembali sibuk dengan Insaniquarium Deluxe-nya.
Sementara itu, di Kantor Kebudayaan…
"Argh! Kakuzu! Please, jangan terus memelototi figura berisi uang seratus rupiah jaman dulu itu, bantulah saya!"keluh Konan sambil menatap tumpukan kerjaannya dengan miris. Kakuzu sekarang ini sedang sibuk membelai figura photo berisi uang seratus rupiah jadul (ya elah) sambil menciuminya. Merasa perlu segelas air segar, akhirnya Konan pergi ke Pantry dan dia langsung pingsan setelah melihat Hidan…
Yang sedang menjalankan ritual sesatnya untuk Dewa Jashin gak jelasnya –dikutuk Hidan- dengan badan berdarah-darah.
Akhirnya, gimana nasib bangsa Indonesia ini ya di masa depan nanti?
Omake gak jelas.. Kasihan Sasori dan Konan, setelah puas memuji mereka di chapter kemaren, maka sekarang saya ingin menistakan mereka, mwahahaha~ X3
¡Muchas gracias! for :
Mira-chan dan Nia
Darky Cleo Amadeus -san
Azalea Yukiko -san
D' Girl Dark Angel -san
LuthMelody -san
pick-a-doo -san
Quincyvha -san
Deidei Rinnetachi -san
AnnZie-chan Einsteinette -san
M'zha Uchiha –san
Aika-chii –san
Rizka Kururugi –san
-SonicNarutoLink94- -san
Sayuri Dei-chan -san
Dan readers yang lain ^^v
Maafkan bila ada kata yang salah ketik, agak garing, cerita yang tidak pas dengan kehendak hati anda.
Sekali lagi, Maju Indonesia kita! Maju Akatsuki (??) !!
THANKS A LOT!! XXD
