Sebelumnya mau say hi dan thanks dulu untuk RiikuAyaKaitani, Riichan LuvHiru, Arisa Kobayakawa, Yuri Manami, Ririn Cross, vhy otome, Faika Araifa, undine-yaha.. thanks ya guys, reviews dan sarannya! *terharuuu.. haha.. saya akan berusaha lebih baik lagi!

Enjoy chapter 2 teman2... reviewnya ditungguuu,, hehe :)


"Manusia itu harus bisa berubah, Hiruma Youichi!" aku menunjuk tepat di tengah dahinya.

Hari itu agak dingin, dan kami sedang berjalan pulang dari perayaan kemenangan tim kami.

"Kalau nggak bisa berubah, itu namanya payah", "Hiks!" Ups. Sepertinya aku agak mabuk.

"Kau mabuk" ia berkata dengan singkat.

"Tidak!" aku menggerak-gerakkan jariku di depan mukanya "Tiiiiidaaaaakkk~ tahuuuuu? Hiks!"

Ia menghela napas. "Sudah kubilang jangan minum kalau kau tak kuat minum, manejer sialan.."

"Jangan bilang sialan dan jangan kasar sama aku, Hiruma Youichi! Kalau tidak... hmmm kalau tidaaak... aku akan meninggalkanmu!"

Ia berhenti berjalan.

"Kalau kau juga masih mengancam orang, aku akan meninggalkanmu! Hiks! Yaaaa.. ingat itu.."

Aku lalu sadar ia tidak di sampingku lagi. Aku menoleh ke belakang.

Aku melihat ia berdiri dan menatapku dengan diam.

Ia menghembuskan napasnya yang putih karena dingin.

"Kau serius?"

Tiba-tiba aku merasa mabukku hilang.

Aku menatap matanya yang berwarna emerald lalu berjalan ke arahnya. Aku melepaskan muffler*-ku yang hangat dan melingkarkan muffler itu di lehernya.

"Setidaknya.. aku ingin kau berhenti mengancam orang lain.."

Kami terdiam dan hanya saling menatap selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengeluarkan senyum khasnya. Senyum licik dari neraka.

"Hah. Berani sekali kau mengancamku, manejer sialan.."

Ia melepaskan muffler dan mengalungkannya kembali di leherku, lalu berjalan pergi.

"Tunggu du..."

"Oke. Akan kulakukan. Tapi bersiap-siaplah menjadi budakku seumur hidup"

Aku terdiam dan menatap punggungnya yang berjalan menjauh.

Ia berjanji. Padaku. Dengan caranya.

Perasaan bahagia membuncah di dadaku. Aku menyusul langkahnya dengan setengah berlari.

"Jangan senyum-senyum, manejer sialan"

"Heheee"

Setelah itu, kami berjalan berdua tanpa kata-kata, tapi itu sudah cukup membuatku bahagia.

Sangat bahagia


Aku menghembuskan napas berat.

Kuliah hari ini tak masuk akal bagiku. Tak ada satupun penjelasan dosen yang aku pahami maupun pelajari.

Otakku terus-terusan memutarkan sebuah kejadian di masa lalu dan membandingkannya dengan kejadian hari ini, sedangkan hatiku terus-terusan bertanya 'Kenapa?'.

Hhh. Sudahlah, saatnya bertanya pada orang yang bersangkutan.

Aku melangkahkan kakiku ke klub amefuto.


Ruangan klub itu kelihatan lebih besar dari biasanya karena cuma ada beberapa orang di dalamnya. Hari ini latihan dimulai satu jam lagi, dan belum banyak yang datang.

"Mamori-san" Juumonji-kun dan Ikkyu-kun menganggukkan kepalanya kepadaku, dan aku balas mengangguk.

Aku melihat dia sedang mengetik di laptopnya di ujung ruangan. Aku menghampirinya.

"Aku mau bicara" kataku pelan.

Ia melihatku sejenak lalu meledakkan balon yang ia buat dari permen karetnya. "Silahkan" katanya sambil mengunyah.

Aku memandang sekeliling dengan gelisah "Disini?"

Ia kembali mengetik. "Disini"

"Apa.. Apa kamu yang melakukan itu pada Tanaka-san?"

"Itu?" masih mengetik.

"AKU SERIUS, Hiruma Youichi!"

Ia memalingkan wajahnya dari laptop dan sekarang menatapku. "Kenapa dengan dosen sialan itu? Si sialan itu pantas mendapatkannya. Dia memeras mahasiswa laki-laki dan merayu yang perempuan"

"Tapi kamu kan sudah janji!"

"Hah?"

"Nggak harus begitu kan caranya? Dengan menempelkan foto-fotonya di papan pengumuman! Pikirkan perasaan istrinya! Kamu.. kamu juga sudah janji padaku.."

"HAH? Makanya dari tadi aku ingin tanya apa yang kau maksud manejer sia.."

"SIALAN? Orang yang tidak bisa menepati kata-katanya itulah yang paling sialan dari yang sialan!"

Tuhan, maafkan aku karena aku mengucapkan kata-kata kasar. Tapi aku tidak tahan lagi.

Air mataku mengalir turun di pipiku yang terasa panas.

Tanpa melihat dia lagi, aku berbalik dan setengah berlari menuju pintu keluar. Melewati Juumonji-kun yang mulutnya membentuk huruf 'O' dan Ikkyu-kun yang sepertinya mengeluarkan busa dari mulutnya.

Mmm.. Pasti cuma khayalanku.

Aku membuka pintu ruangan klub dan berlari keluar. Setengah berharap ia akan mengejarku, aku menoleh ke belakang.

Ia tidak mengejarku. Tidak juga membuka pintu itu untuk melihatku.

Aku berhenti berlari. Mengatur napasku dan mencoba menghibur diri sendiri dengan berpikir positif.

Aku tidak bisa.

Air mataku meleleh keluar dan keluar. Aku menangis tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang melihatku keheranan.


Chapter 2 ends

*Muffler:semacam syal yang tebal