Disclaimer:Tite Kubo sensei

Sora : Hitomi (Ma'aya Sakamoto)

Sky…..

In the darkness

The dragon

wakes.

The dragon awakens.

To a heart

that is numbed with cold

the dragon takes

….

Setelah hari itu, aku sering mengunjungi Rukia.

Jujur saja, sebenarnya aku bukanlah orang yang menyukai seni. Apalagi musik, do re mi saja aku tidak hafal. Tapi entah apa yang membuatku tertarik dengan permainan piano gadis itu. Bukan hanya indah, setiap lagu yang dimainkannya seakan memiliki nyawa. Terasa begitu hidup dan mampu membawaku ke alam khayal. Namun tetap saja lagu kesukaanku adalah Sora, lagu ciptaan Rukia sendiri.

Suatu hari aku sempat bertanya, mengapa ia memberi judul 'Sora' untuk lagunya.

"Saat aku kecil aku sangat suka langit. Langit cerah, langit senja atau pun langit malam. Aku menyukai semuanya."

"Mengapa?" Tanyaku heran.

"Entahlah, hanya karena aku suka."

Alasan yang klise

Kami tak tahu bahwa saat itu, Kuchiki-sensei mendengarkan dari balik pintu. Mendengarkan percakapan kami tanpa suara.

"Lagipula, apakah kau tahu Ichigo." Lanjutnya

"Apa?"

"Apabila 2 orang terpisah jauh, langit akan tetap menjadi penghubung perasaan mereka."

Aku tak pernah tahu bahwa hal itu akan jadi kenyataan.

With you at

my side the

dragon sleeps.

On dragon

wing your

wishes will

leap

…..

"Apa? Pindah lagi?" Tanyaku tak percaya.

"Ya, atasan ayah meminta ayah untuk menangani proyek perusahaannya di Inggris."

Jawab ayahku.

"Tapi, kita baru 5 bulan disini?"

"Mau bagaimana lagi, Ichigo. Ayah telah memutuskan untuk membawa Yuzu dan Karin. Kasihan mereka kalau kau tidak ikut" kata ayahku memohon

"Tapi….." di benakku hanya ada satu hal yang mengganjal, Rukia. Kalau aku pergi, dia akan sendirian lagi. Mengingat wajah sedihnya di hari pertama kami bertemu, aku jadi tidak tega. Tapi, kalau aku tidak pergi. Bagaimana dengan Yuzu dan Karin? Mereka masih kecil dan lagi mereka perempuan. Sebagai kakak laki-laki satu- satunya, tak mungkin aku meninggalkan mereka.

"Berikan aku waktu untuk berpikir" Ujarku pelan.

"Baiklah, kita akan berangkat 1 minggu lagi, sementara itu aku akan mengurus surat kepindahan Yuzu dan Karin." Kata ayahku mengakhiri pembicaraan kami.

Malam itu aku tak bisa tidur. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara menyampaikan berita ini pada Rukia

Keesokan harinya, sepulang sekolah seperti biasa aku dating ke ruang musik. Dengan tersendat- sendat aku menceritakan perihal kepindahanku pada Rukia. Kukira ia akan murung, menangis atau lebih parah lagi dia akan membenciku. Tapi ternyata tidak. Ia hanya tersenyum dan berkata

"Kalau begitu kau harus bersiap-siap."

"Eh?"

"Kau akan berangkat seminggu lagi bukan?"

"Tapi…."

"Jangan khawatirkan aku. Disini ada Byakuya- san kok. Dia pasti akan menjagaku, jadi kau tidak usah khawatir. Yang lebih penting adalah adik-adikmu. Mereka kan masih kecil, mereka pasti memerlukanmu." Ia tersenyum lembut padaku. Bola matanya yang sewarna kecubung menatapku sendu. Aku memeluknya. Tak tega rasanya aku meninggalkannya. Dia yang begitu manis, dia yang begiru rapuh, dia yang begitu kucintai.

"Berjanjilah Rukia. Kau akan menungguku sampai aku kembali." Bisikku pelan

"Iya, aku berjanji." Jawabnya dengan suara yang tercekat.

Langit senja hari itu menjadi saksi kita berdua…..

lalala... your wishes can

bring forth a destructive future.

Di hari keberangkatanku ke Inggris, beberapa teman mengantarku sampai bandara.

"Jangan lupa telepon, ya." Kata Renji.

"OK." Jawabku sambil cengengesan

"Jaga kesehatanmu." Kata Toushiro menceramahi.

"Iya, tenang saja. Kau kok jadi seperti ibuku sih? Dasar pendek!"

"Hu, lihat saja. Saat kau kembali, tinggiku sudah akan bertambah 50 centi." jawabnya sombong.

"Iya deh, hahaha…"

"Sudah ya, kami pulang dulu. Bye…"

Mereka pun pergi. Meninggalkanku di bandara ini. Tapi… apakah Rukia tidak datang? Pikirku cemas.

Tiba- tiba hp ku berbunyi. Ternyata dari Rukia.

"Halo?" Sapaku.

Tidak ada suara. Yang terdengar hanyalah suara piano. Lagu yang sangat kukenal, Sora. Lagu itu terdengar sangat dekat. Seakan saat itu Rukia tengah berada disampingku. Memainkan jari-jari lentiknya diatas tuts-tuts piano. Saat lagu itu selesai, barulah kudengar suaranya.

"Ichigo, maaf aku tak bisa mengantarmu."

"Ya, aku mengerti. Kau tidak perlu memaksakan diri." Jawabku menenangkannya.

"Jaga dirimu baik- baik."

"Ya, aku tahu…."

Setelah terdiam agak lama ia berkata pelan.

"I Love You."

"I Love You too." Sahutku.

Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi ia mematikan handphone nya.

"Ichi-nii, ayo cepat. Pesawatnya sudah mau berangkat!" Karin berteriak memanggilku.

"Iya, aku segera kesana!"

"Selamat tinggal Rukia…" Bisikku pelan

lalala... or you can

bring salvation.

...

(Rukia POV)

Kupandangi daun- daun maple yang berguguran. Satu persatu jatuh ke tanah. Warnanya yang oranye itu mengingatkanku pada Ichigo. Baru 2 jam tadi ia pergi. Beranjak dari sini, beranjak dari sisiku. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan aku langsung tahu siapa pelakunya.

"Masuklah, Byakuya-san."

Pintu terbuka dan tampaklah sesosok laki-laki berwajah dingin yang sangat kukenal.

"Sudah kubilang, di rumah kau boleh memanggilku kakak." Katanya sedikit kesal. Ia lalu duduk di bangku di sudut kamarku.

"Maaf."

"Hari ini hari peringatan kematian kak Hisana, ya." Lanjutku.

"Iya." Jawabnya singkat

Lama kami berdua terdiam. Lalu suara kakak memecah keheningan.

"Apakah, tidak apa-apa kau membiarkan anak itu pergi begitu saja?"

"Siapa? Ichigo? Tenanglah aku tidak akan apa-apa kok."

"Rukia, kau tahu bukan itu yang kumaksudkan." Ia menatapku dingin, namun aku tahu saat itu ia mencemaskanku. Aku kembali memandang kekuar jendela.

"Aku tahu aku salah, kak. Tapi aku tidak sanggup kalau harus mengatakan padanya bahwa umurku hanya tinggal menghitung hari…"

….

Hari ini tepat 3 bulan sejak kepindahanku ke Inggris. Aku tengah melanjutkan sekolah sambil bekerja sambilan pada sebuah restoran. Bukan berarti ayahku tidak mampu hingga aku harus bekerja sambilan. Bukan. Ini semua karena sedang menabung. Aku ingin memberikan Rukia hadiah pada saat kepulanganku. Bukan dengan uang ayahku, tapi drngan uangku sendiri. Sejak awal aku telah memutuskannya, aku akan memberi ia sebuah kotak musik. Aku pernah meminta fotokopian not lagu Sora milik Rukia. Di Inggris ini, kita bias memesan kotak musik dengan lagu yang kita inginkan, termasuk lagu kita sendiri.

Ketika uangku telah terkumpul, aku segera melaksanakn niatku itu. 2 minggu kemudian, kotak musik itu jadi. Lengkap dengan ukiran indah ditutupnya ' To My Beloved' . aku membayangkan bagaimana wajahnya saat menerima hadiah dariku ini, ia pasti senang. Suatu hari terjadi hal yang tak terduga, Rukia meleponku. Padahal biasanya aku yang menelponnya.

"Hai Ichigo, apa kabar?" Suaranya sedikit serak ketika menyapaku.

"Aku baik-baik saja. Daripada itu, Rukia apa kau sehat?" Tanyaku cemas.

"Hahaha… aku tidak apa-apa kok, jangan cemas gitu deh!" Ia berkata ceria.

Aku sedikit lega mendengar tawanya. Kami bercakap-cakap beberapa lama, kemudian…

"Ichigo, ada yang harus kukatakan padamu."

"Apa?" Tanyaku penasaran.

"Ehm… mungkin selama kita tak bisa berkomunikasi lagi."

"Eh? Kenapa?" aku kaget saat mendengarnya.

"Ehm.. aku akan menjalani operasi jantung, setelah itu aku akan menjalani masa pemulihan. Aku sendiri tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Mungkin setahun sampai kau kembali."

"Oh, tapi setelah itu kita masih bias bertemu bukan?"

Lama baru ia menjawab

"Iya"

Setelah itu telepon diputus.

1 tahun kemudian…

Aku menenteng tas yang berisi barang-barangku. Kado untuk Rukia kupegang erat di tangan kananku. Terbungkus rapi dengan kertas kado bermotif mawar putih dengan pita yang sewarna. Heh, terlihat sederhana mungkin. Tapi itulah warna kesukaan Rukia. Putih bersih bagai awan di langit. Di dalam pesawat pun tak henti-hentinya aku bersenandung pelan. Memang sih suaraku tak sebagus Rukia, tapi apa peduliku?

Sesampainya di bandara, aku disambut oleh teman-teman masa SMU dulu yang telah kukabari tentang kepulanganku.

"Hei, Ichigo. Apa kabar?" Tanya Renji sambil meninju perutku.

"Ukh, sakit tahu!" Seruku tapi aku senang bias bertemu lagi dengan kawan sebangkuku dulu itu.

"Lama tak berjumpa, Kurosaki."

"Eh, Toushiro?" Seruku kaget. Kini ia telah setinggi aku padahal dulu hanya setinggi pinggangku saja.

"Hehehe. Aku ini memang hebatkan." Ujarnya bangga

"Hahaha, bohong tuh sebenernya dia malu kalau pendek terus, dia kan udah punya pacar." Ejek Renji padanya.

"Akh, berisik!" Kata Toushiro kesal.

Senang rasanya melihat pemandangan yang telah lama tak kulihat ini.

"Eh, apa itu?" Tanya Toushiro sambil menunjuk tangan kananku.

"Hadiah untuk Rukia." Jawabku enteng.

Tiba-tiba mereka terdiam. Kulihat mata mereka saling berpandangan. Suasana yang hening ini membuatku merasa tidak nyaman.

"Ada apa sih?" Tanyaku jengkel.

"Rukia telah meninggal." Kata Toushiro pelan

"Eh?" Tanyaku seolah telingaku tuli.

"Rukia telah meninggal setahun lalu, pada saat musim dingin." Sebuah suara lain menyahut.

Aku melihat Kuchiki sensei menghampiriku.

"Bohong! Itu pasti bohong kan? Waktu itu Rukia menelponku. Dia bilang dia akan menjalanai operasi jantung, lalu…"

"Itu hanyalah kebohongan yang ia katakana padamu agar kau tidak cemas."

Aku shock, tubuhku lemas. Kado untuk Rukia terjatuh. Tutup kotak musik itu terbuka. Melantunkan lagu dari orang yang paling kucinta….

Win dain a lotica

En val tu ri

Si lo ta

Fin dein a loluca

En dragu a sei lain….

Sisa lagu itu tidak terdengar. Yang kudengar hanyalah suara isakku sendiri.

Hari itu juga aku mengunjungi makam Rukia. Kuletakkan mawar putih kesukaannya diatas tanah makam yang berwarna scarlet. Kuchiki sensei juga ikut bersamaku. Kami berdoa bersama-sama. Setelah itu ia berkata,

"Rukia, koma selama seminggu. Kupikir ia akan meninggal saat itu juga. Ternyata dugaanku salah. Pada hari ke delapan ia membuka matanya. Yang ia katakana hanya satu, 'Kak, hubungi Ichigo. Aku ingin mendengar suaranya untuk yang terakhir kalinya.'

Karena itulah ia menghubungimu. Setelah percakapan kalian selesai, ia tersenyum padaku . Perlahan ia menutup matanya dan aku tahu saat itu ia telah pergi."

Aku tercenung. Kuchiki sensei berbalik pergi dan menghilang dari pandanganku. Kubuka tutup kotak musik yang sejatinya akan menjadi hadiah terindah untuknya. Melodi itu mengalun pelan. Tenang indah namun terdengar kesepian….

In the darkness

The dragon

wakes.

The dragon awakens.

To a heart

that is numbed with cold

the dragon takes.

3 tahun kemudian…

Kututup kotak musik ini. Melodi indah itu pun menghilang. Kutatap salju yang turun perlahan. Butiran- butiran kristal es itu jatuh dengan indahnya. Aku sendiri, hanya ditemani langit musim dingin.

End


ED yang gaje ya?

Maaf, Mii nggak bias bikin happy ending, T^T

Ini adalah fic romen mii yang bener-bener 100 % romen, gak ada humornya (biasa bikin fic humor sih)

Kalo mau di review, mii akan sangat berterima kasih..^^

Di fave? Kyaaa… mii teriak-teriak sendiri..

Di flame? Jangan ya…T^T