Note penting : Fic ini adalah jiplakan dari novel Sandra Marton yang berjudul The Sicilian Marriage. Jadi, saya akan menanyakan pertanyaan ini, Keep or Delete?

Baby and Marriage

A Bleach Fanfiction

Disclaimer : BLEACH © Tite Kubo

The Sicilian Marriage © Sandra Marton

Warning : OOC, AU, GJ, Klise. Don't like, don't read!

Bulan Agustus di Tokyo selalu panas, lembap, dan tak tertahankan. Hal yang mungkin paling ingin dilakukan manusia normal dalam cuaca demikian adalah berada di rumah yang ber-AC sejuk. Tapi keadaan Rukia jelas berbanding terbalik dengan itu semua. Dia memang berdiam diri di apartemen mungilnya yang ber-AC, hanya saja AC tersebut hampir mati. Belum lagi, satu dari dua tungku di kompor tidak bisa menyala, dan keran airnya bocor, makin menambah kekesalan dan penderitaan Rukia.

Tak heran biaya sewa apartemen tersebut begitu murah, murah untuk ukuran Tokyo. Ketika menandatangani akta sewa beberapa bulan lalu, Rukia pikir ia mendapat harga sewa murah, namun nyatanya,... apartemen ini butuh perbaikan disana sini.

Menyedihkan.

Begitulah kehidupan Rukia. Terombang-ambing dari satu pekerjaan dan tempat ke pekerjaan dan tempat yang lainnya, mencari sesuatu yang cukup ia sukai untuk dilakukan sepanjang sisa hidupnya.

Sejauh ini, hasilnya Nol Besar.

Kalau sudah begini Rukia jadi ingin pergi ke Sapporo, mendinginkan otaknya yang hampir meleleh sekaligus mengunjungi Rangiku yang baru melahirkan bulan Juni lalu -sebagai informasi, pesta pernikahan Hisana dan Byakuya, sekaligus pertemuan pertamanya dengan Kurosaki Ichigo, adalah bulan Mei-. Sejak bulan Juni Rukia memang berniat pergi ke Sapporo, hanya saja pekerjaannya selalu menundanya. Dan sekarang, panas dan kelembapan tingkat tinggi yang bisa membuat otak melelehlah yang jadi penghalang.

Trrrrrring, Trrrrrring, Trrrrrrrrring.

Bel pintu berdering, tepat ketika Rukia hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Rukia mendesah putus asa. Tapi, Rukia tetap berjalan ke pintu dan membuka seratus kunci –yang tiap bulan, entah Hisana atau Byakuya, selalu menambahkan koleksi kuncinya- lalu membuka pintu.

"Kau!" seru Rukia menunjuk orang yang berdiri di hadapannya. Seorang pria penggoda angkuh berambut orange. Disanalah dia. Sosoknya nyata. Dan memikat. "Apa yang kau lakukan disini, Kurosaki?"

"Aku harus bertemu denganmu!"

Kata-kata Ichigo seperti dibuat-buat, dan mengapa kalimat membosankan yang sudah sering didengarnya itu membuat jantungnya berdetak makin cepat? Pasti cuaca panas sudah membakar otaknya.

"Aku tidak tertarik," kata Rukia perlahan dan penuh penekanan.

"Ini penting. Biarkan aku masuk!"

"Tidak akan pernah."

"Kita harus bicara."

"Tak ada yang perlu dibicarakan di antara kita. Misalnya karena keajaiban tertentu ada yang perlu kita bicarakan, pernahkan kau mendengar penemuan baru yang disebut telepon," kata Rukia sinis. "Lagi pula, bukankah kau seharusnya di Inggris?"

"Aku berangkat dari Inggris pagi ini karena ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu, Rukia. Jadi, kumohon biarkan aku masuk!"

"Pulanglah Kurosaki." Rukia mulai menutup pintu.

"Rukia!" Ichigo melangkah maju dan menyelipkan bahunya ke celah pintu yang sempit. "Kumohon!"

Kumohon? Dua kali? Pikir Rukia, Apakah-

"ada yang tidak beres," Rukia berbisik.

Ichigo tak menjawab. "Buka pintunya!"

"Ada apa?" Rukia mulai ketus. "Ichigo?"

"Ada yang harus kukatakan padamu, tapi tidak disini," ujar Ichigo. "Biarkan aku masuk."

Jantung Rukia berdebar tak karuan. "Katakan!"

"Masuklah dulu!"

Rukia menyingkir sedikit dari pintu, memberikan tempat agar Ichigo bisa melangkah maju dan masuk. Jadi, Ichigo masuk kemudian memegang pundak Rukia dan menutup pintu dengan kakinya.

Panas dan kelembapan melingkupi Ichigo seperti udara di rawa-rawa. Ruangan apartemen mengingatkannya pada lemari. Ia merasa tubuhnya terlalu besar untuk ruangan tersebut.

"Duduk dan dengarkan aku!"

Rukia menurut. Dia duduk di sebuah sofa panjang di ruang tamunya dengan Ichigo duduk disebelah kanannya.

"Aku dengar dari Gin –ketika mengunjungi, memenuhi undangan perayaan kelahiran putri mereka- bahwa kau,... dan Rangiku adalah sahabat karib," Ichigo memulai kemudian melirik Rukia. Gadis itu pucat pasi dengan mulut terkatup rapat, dan dia memandang Ichigo seolah pria itu memgang rahasia alam semesta, jadi Ichigo menduga gadis itu sudah bisa menebaknya, Ichimaru Rangiku meninggal.

"Katakan padaku, Ran kan?"

"Ya," jawab Ichigo.

"Ran?" ulang Rukia tak percaya.

"Dan Gin."

"Keduanya?" seru Rukia.

Ichigo mengangguk.

"Bagaimana? Bagaimana bisa-,"

"Mereka bermobil menuju Aomori, mengunjungi adik Gin. Jalannya berkelok-kelok dan sempit. Mobil lain –pengemudinya mabuk. Laki-laki itu-," Ichigo tak mampu melanjutkan, tenggorokannya tercekat seolah ada yang mencekiknya, mencoba mencegah udara masuk ke paru-parunya. "Kejadiannya cepat dan mereka tidak menderita," ujarnya.

Mata Rukia yang kosong mendadak bersinar kembali. "Bayi mereka?"

"Bayi mereka selamat, dan kini ada di bawah pengawasan sementara adiknya."

"Syukurlah," kata Rukia kemudian terisak.

Ichigo kini hanya bisa memandang Rukia yang terisak pelan sambil memikirkan cara menjelaskan bagian selanjutnya. Karena Rukia pasti akan sama tidak percayanya seperti dirinya ketika diberitahu mengenai detail surat wasiat Gin dan Rangiku.

"Kapan?" tanya Rukia, tangisannya sudah mulai berhenti.

"Dua hari yang lalu. Pengacara mereka mengabariku tadi pagi."

"Aku tak percaya."

"Aku juga."

"Pemakaman mereka?" tanya Rukia lagi.

"Sudah dilakukan," gerutu Ichigo. "Adik Gin yang mengurusnya, yang entah kenapa tak berpikir bahwa Gin dan Rangiku memiliki teman yang ingin menghadiri pemakaman."

"Setidaknya mereka saling memiliki."

"Ya, betapa beruntungnya mereka."

"Sendirian itu menyedihkan."

"Menyedihkan."

Dan detik berikutnya, Ichigo sudah menarik Rukia ke dalam pelukannya dan mengecup bibir gadis itu, menciumnya begitu dalam walaupun tidak lama.

Ketika Ichigo melepaskan ciumannya, Rukia dengan suara parau berujar, "Ya Tuhan."

"Maafkan aku, aku tak bermaksud-,"

"Jangan katakan apapun," potong Rukia. "Tolong, kumohon, pergilah!"

Ichigo tak bergeming, membuat Rukia memelototinya, rasa muak dan benci berkilat-kilat di mata gadis itu.

"Apa kau tuli? Pergi!" teriak Rukia.

"Maafkan aku," ujar Ichigo dengan nada yang menyiratkan penyesalan. "Sesaat tadi, kupikir Putri Es berubah menjadi wanita."

"Diamlah dan pergi! Atau haruskah aku sendiri yang melemparmu keluar."

Rahang Ichigo berkedut. "Kau harus tahu bahwa dalam surat wasiat yang ditinggalkan mereka," rahang Ichigo berkedut lagi. "kau ditunjuk sebagai wali Fuyuki, bayi mereka."

"Apa?"

"Bersamaku."

Ha!

"Kau. Dan aku. Kita akan membesarkan Fuyuki bersama."

T B C