Disclaimer : Selamanya Bleach bukan milik saya melainkan punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini.
Warning! AU, OOC, gaje bin abal, bahasanya aneh, ngaco, kependekkan, Neliel's POV, dan err—entahlah!
Ya, akhirnya saya update! Oh my, maafkan saya yang telay update, Fay! Saya nggak bisa megang kompie gara-gara dipelototin mulu sama tou-san. Ini baru sempet sekarang, maaf ya? Saya harap, kamu dan senpai-senpai sekalian terhibur dengan persembahan dari saya. Selamat membaca dan ditunggu review-nya. m(-_-)m
Balesan review saya lampirkan di author notes, key?
Bukan Salahmu, Grimm...
Chapter 2
Pairing : GrimmNel
Rated : M for implisit lemon
Presented by : Rigel Pendragon Draven
Special Requested from Fayaluzzaline (As Valentine Gift from Me)
Genre : Romance/Angst
Apache, adikku satu-satunya yang masih duduk di kelas dua SMP nampaknya merasakan apa yang kuderita saat ini. Setidaknya ia bisa membayangkan serangkaian peristiwa yang telah kualami. Ia tetap duduk di samping pembaringanku sejak tadi, sambil memijit-mijit tangan kiriku. Tapi tak sepatah kata pun diucapkannya. Ia memang berwatak pendiam sejak dulu.
"Suster," panggilku pada seorang perawat yang berdiri di dekat pintu. Ia menoleh ke arahku dan mengangkat alisnya, menyahuti panggilanku. Aku sempat menelan ludah sebelum kuajukan sebuah pertanyaan padanya. "Kapan saya boleh pulang?"
"Besok menurut dokter, Dik Neliel sudah bisa pulang," jawabnya dengan suara yang begitu ramah. Senyumnya tak pernah lekang dari bibirnya sewaktu ia sedang berbicara. Aku mengambil kesimpulan kalau suster berambut hitam sebahu itu memang sangat ramah dan baik hati.
"Bersabarlah, Nak!" kata Tou-san menimpali.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan. Air mataku perlahan menetes. Entah karena apa. Kupandangi Apache, tapi ia sedang tak melihat ke arahku. Kualihkan pandanganku ke langit-langit ruangan. Di atas sana juga yang terlihat hanyalah eternit yang berwarna putih bersih. Ya, putih bersih. Seperti halnya ruangan ini.
Dari jendela, semburat kuning senja hari memancar ke dalam ruangan, menciptakan garis-garis cahaya kuning, merah, putih, dan kelabu. Indah. Aku menghela nafas panjang. Kenapa di saat aku sedang tak seceria hari kemarin, semuanya terlihat begitu memukau dan indah? Dan aku merasa, hanya aku yang tak demikian.
Hari-hariku esok adalah hari-hari yang berselimut noda. Pernikahan? Dengan Grimmjow? Ah, mustahil! Lelaki mana yang sudi menerima ampas hasil "keroyokan" orang lain? Kesucian kasih sayang yang ia ucapkan dan janjikan selama ini? Oh, Tuhan! Kenapa aku terlalu percaya padanya?
Mungkin saja ia tulus mengucapkannya dan bertekad melaksanakan janjinya, tapi tentu saja dengan sebuah pengecualian yang tak pernah diungkapkan dengan kata; asalkan kau tetap utuh sebagai gadis, Neliel.
Hamil. Itu ancaman yang jauh lebih mengerikan. Siapa ayahnya? Mereka berlima? Atau bertiga? Atau salah satu dari bajingan itu? Tidak. Tidak mungkin. Seandainya aku melahirkan, sudikah aku mencintai anakku? Anak yang tidak kukehendaki kehadirannya? Seandainya. Seandainya... seandainya. Hhh, aku menghela nafas.
Di pintu Grimmjow muncul. Nafasnya tersengal-sengal. Langkahnya setengah berlari mendekatiku. Di sisi pembaringan, ia berhenti. Apache berdiri dan berjalan keluar. Tou-san juga. Mereka seolah memberi kesempatan kepada kami berdua. Kaa-san sejak tadi telah berada di depan kami berdua dengan Bu Rangiku. Sedangkan teman-teman sekelasku sudah tidak kelihatan lagi, mungkin mereka sudah pergi.
Grimmjow mengatupkan bibirnya, dengan mata birunya yang terarah sayu menatap ke iris hazel-ku. Aku juga membalas tatapannya dengan hati tak menentu. Ia duduk di sisi pembaringanku, dan menggenggam jemari tanganku dengan kehangatan yang menjalar aneh dalam perasaanku.
"Kau sudah sadar, Yang?" tanyanya dalam nada berhati-hati.
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa bersuara. Pertanyaan yang tak perlu. Toh ia sudah melihatku sadar.
"Dua kali aku ke mari, tetapi Neliel tetap belum sadar," lanjutnya. Ada nada sedih dalam suaranya.
Aku hanya mengedikkan kepalaku perlahan. 'Aku sudah tahu dari cerita Kaa-san,' kataku dalam hati.
Aku merasa tak perlu membuka mulut untuk membalas perkataan itu. untuk apa? Hanya menambah luka di hatinya saja. Ya, aku cukup tahu kalau di balik tampangnya yang terlihat tegar, dia sebenarnya sangat rapuh. Mungkin lebih rapuh dibandingkan denganku.
"Nel, maafkan aku. Akulah penyebab semuanya ini," sejenak ia terdiam, ingin melihat reaksiku. Tapi aku tetap dingin. Beku. "Aku memang lupa akan sifatmu yang satu itu. Tetapi, yakinlah aku tak bermaksud menyakitimu waktu itu. Apalagi mengecewakanmu. Tak ada apa-apa di antara aku dan dia. Yakinlah, Nel."
Aku tertegun sesaat mendengar perkataannya itu. Sifatku yang pencemburu? Dia siapa? Tia? Apa-apa. Apa itu apa-apa yang tak ada? Pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku, tapi tak hendak kuminta Grimmjow menjelaskannya. Biarlah ia bercerita sendiri dulu. Biarlah tanpa diminta, dijelaskannya. Dan Grimmjow nampaknya cukup jeli membaca pikiranku.
Ia melanjutkan. "Nel, di mata orang yang belum mengenal, keakraban kami sering menimbulkan kesalahpahaman, memang. Tapi, itu hanya karena kamilah yang paling lama berteman. Ia teman sekelasku sejak SMP hingga sekarang. Jadi wajar kalau sikapnya berlebihan terhadapku. Percayalah, Nel."
Aku tetap membisu. Ia meremas jari tanganku. Ada kegelisahan hadir di wajahnya.
Kutatap matanya seolah ingin menembus sukmanya. Tapi, ia balas menatapku. Pancaran matanya tulus. Tidak ada sinar kebohongan di situ. Aku menjadi ragu. Bukan meragukannya, tapi meragukan diriku. Akhirnya, kucoba juga bertanya padanya walau dengan nada ketus, lebih tepatnya apatis, "Lalu untuk apa semua itu harus kau ceritakan padaku?"
"Neliel, untuk apa? Ya, untuk meyakinkanmu, tentu. Untuk menyakinkanmu, Neliel. Bahwa aku, aku tetap... mencintaimu. Tak ingin kehilangan kau, Sayang," jawabnya dengan terbata-bata.
Aku tahu sejak dulu ia memang tak pernah 'dewasa' jika harus mengungkapkan kata cinta. Ia selalu gugup mengucapkan kata yang sepatah itu dalam kalimatnya.
Aku bahagia mendengar pengakuannya. Tapi tak kutunjukkan di wajahku karena aku tetap ragu apakah ia telah sadar dan tahu persis apa yang telah kualami. Memikirkan itu aku jadi takut. Aku takut kehilangan dia, juga takut mengecewakannya. Oh, terlalu rapuhkah aku?
"Kak Grimmjow sadar apa yang Kakak katakan?" tanyaku sendu.
"Neliel, aku sadar, Neliel," jawabnya dengan tegas. Tapi kegelisahannya tak juga dapat ia sembunyikan.
"Kak Grimmjow juga sadar dengan siapa Kakak bicara?" tanyaku lagi, kali ini bibirku terasa kelu pada saat mengucapkannya.
Alisnya mengernyit heran. "Apa maksudmu, Neliel?" ia malah berbalik tanya. Keheranan begitu nampak di wajahnya yang biasanya tegas.
"Aku bukan Neliel yang dulu lagi," jawabku. Pahit.
Kulihat pria berambut biru itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Nel, tidak. Kau masih tetap Neliel yang dulu. Nelielku," sahutnya dengan suara serak menahan perasaan. Ia tak mampu lagi menahan air matanya yang telah bergulir di pipinya. Tak kusangka dia meneteskan air mata di depanku. Ternyata, ia sama rapuhnya dengan diriku. Tapi setidaknya, ia akan tetap dapat menjadi tempat berlindung bagiku.
"Neliel bukan gadis lagi, Kak Grimmjow. Neliel tak lagi perawan," kataku dengan terbata-bata. Air mata itu akhirnya menetes juga di pipiku. Aku kembali membayangkan 'siksaan' yang kuterima dari kelima bajingan itu.
"Nel, jangan Neliel! Jangan kau ucapkan itu. Bukan itu yang kuharap darimu. Cintamu, Neliel. Cintamu," jawabnya dengan sesengukan. Ia telah dewasa mengungkapkan cinta. Dewasa karena emosinya.
"Engkau kehilangan itu karena salahku, Neliel. Aku yang bersalah. Untuk itu aku dapat menerima walau kau tak merasa dirimu utuh, Sayang. Di mataku engkau tetap utuh, tetap Nelielku."
"Bukan salahmu, Grimm. Bukan salahmu, Sayang. Tetapi nasibkulah yang buruk," jawabku dalam keharuan yang menyesakkan.
Aku mencoba meraihnya ke dalam pelukanku, ingin mencari perlindungan, tapi suara perawat yang berdeham keras menghalangi hasratku.
Setahun berlalu sejak itu, aku dan Grimmjow akhirnya menikah. Meski dalam pernikahan kami telah hadir seorang anak yang berasal dari 'kecelakaan', tapi itu tidak membuat kami lantas mundur dari janji yang telah kami ikrarkan dulu. Grimmjow menerimaku apa adanya dan dia juga menerima anak yang kulahirkan sebagai anaknya sendiri.
Lonceng gereja berdentang dan aku tersenyum saat Grimmjow melihatku berjalan dengan anggun di karpet merah. "Kau benar-benar isteriku yang sangaaatt cantik, Nel!" bisiknya dengan penuh semangat di telingaku.
Aku tersenyum memandang wajah tampannya. Pemberkatan pernikahan pun berlangsung dan kami resmi menjadi sepasang suami–isteri. Ketika melihat senyum dan air mata kebahagiaanku, dia memberitahuku bahwa keputusan yang kami ambil tidak salah. Aku tahu pasti kami tetap saling mencintai. Hari itu adalah suatu kenangan terindah yang pernah kami miliki. Tak akan berakhir. Tak akan pernah berakhir.
Dan aku berjanji akan merawat anakku dan suamiku dengan penuh kasih sayang. Aku bersyukur memiliki suami sebaik Grimmjow, dan kami berjanji akan tetap bersama. Hingga tiba saatnya ajal menjemput kami...
**OWARI**
Curhatan sang author :
Balasan Review
Fayaluzzaline : Pendek? Masa sih? (ngelihat words count) Iya juga sih, soalnya saya jarang banget bikin yang panjang-panjang. Kecuali satu yaitu fic saya yang berjudul Leave Out All The Rest. (4548 kata). Bukannya Nnoitra sih, tapi Kenpachi versi muda (yang rambutnya masih lurus), terus ada Kyouraku (sorry for Kyouraku fans!), Findor, Avirama, dan Makizou. Eh? Takut naik angkot pas lagi sepi? Hahaha, terpengaruh sama cerita saya? Sorry for that. Oh, ya. Kalau berkenan, mampirlah nanti ke fic saya yang berjudul 'Reached For The Sky', OK? Thanks atas review dan fave-nya ya?
ayano646cweety : Iya memang kasihan si Nel, tapi kan ada Abang Grimm. ^-^ Misteri tentang Tia itu siapanya Grimm akan dijelaskan di sini, jadi selamat membaca. Thanks atas fave-nya.
aRaRaNcHa : Berat? O.O Padahal saya berusaha memilih kata-kata yang cukup jelas, padat, dan ngena, lho! Masalah apa yang diperbuat antara Grimm dengan Tia akan dijelaskan di sini, jadi selamat membaca, ya? Thanks Cha-san mau mampir! ^-^
Faaayyy, maaf baru saya update sekarang. Kemaren-kemaren saya dilarang pakai komputer malam-malam sama Tou-san gara-gara nilai UAS jeblok, makanya jadi tak bisa saya publish. Euuuhh, kenapa ficnya jadi seperti ini, ya? Gomenna atas keterlambatan saya ini. Maafkan saya dan cerita gaje saya ini, Fay. Saya harap ceritanya bagus dan tidak mengecewakan.
Saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau gaje, abal, nggak nyambung, nggak bisa dimengerti, dan lain sebagainya, minna- chan. Sakit kepala saya semakin menghebat dan saya pun belum mengerjakan fic reqyest dari Gala-san dan ZumiZumi-chan, gomen na~ (ngebungkuk-bungkuk minta maaf)
Jika ada typo, tolong beritahu saya, ya? Sampai jumpa di fic saya selanjutnya! Saya harap fic-fic saya yang akan datang berkenan di hati kalian para pecinta Bleach.
Keberatankah jika saya meminta saran dan kritiknya lewat REVIEW?
PLEASE
REVIEW
IF
DON'T
MIND
