Mata violet itu menatap tajam kearah sesosok pemuda yang terbaring meringkuk di lantai dengan tubuh penuh luka, bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan saat melihat hasil 'karya'nya pada kulit pucat milik pemuda itu, "Nah" katanya pelan dan dingin, "Bagaimana Gilbert, kau masih mau melanggar perjanjian kita?" tanya pemilik mata violet itu, tangannya mencengkeram rambut pemuda bermata ruby itu dan menyentaknya kasar, membuat erangan kesakitan meluncur dari bibir yang pucat itu,

"Nein! Aku tak mau terikat perjanjian itu denganmu!" teriak Gilbert dan segera saja Roderich menendang tubuh Gilbert yang lemah, "Turuti apa kataku…" desis Roderich dingin, "Atau kau mau aku membunuh adikmu itu" mata Gilbert membelalak, bibirnya bergetar penuh emosi,

"Nein…" bisik Gilbert lirih,

"Ja, your little bro" bisik Roderich lirih dan dingin,

"N-NEIN!" teriak Gilbert, air matanya menetes deras,

"Ja, asal kau mau mengikuti perjanjian kita maka adikmu akan selamat" Gilbert menunduk dalam, air matanya menetes deras dan dadanya terasa sesak saat memikirkan adiknya, satu-satunya keluarga yang di milikinya saat ini,

"Jadi?" tanya Roderich dan Gilbert menggigit bibirnya pelan sebelum berkata dengan nada lemah,

"Ja…" senyum kemenangan terlukis di wajah Roderich dan Roderichpun melepaskan ikatan yang mengikat tubuh Gilbert,

"Good boy" Roderich meraih Gilbert ke dalam pelukannya dan dia membenamkan wajahnya di leher Gilbert. Gilbert sendiri tak bereaksi apapun, mata ruby miliknya masih di genangi air mata dan pandangannya kosong.

Roderich menghirup aroma Gilbert yang tercampur antara darah dan tanah, perlahan dia mengecup pelan leher putih pucat milik Gilbert sebelum menggigitnya pelan, Gilbert mengerang kecil saat di rasakannya perih di bagian lehernya. Gilbert berusaha berontak, namun kedua tangan Roderich telah menahannya hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah dan membiarkan Roderich melakukan hal yang dia inginkan.

Roderich menjilat bekas kissmarknya pada leher Gilbert kemudian dia menatap kearah Gilbert, "You're MINE…" bisik Roderich sambil memberikan penekanan pada kata 'mine'. Gilbert hanya bisa mengangguk lemah, "Ja… aku milikmu, Roderich Edelstein"

MI AMOR

Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya

Mi Amor © Naela Jeevas Keehl

Rated:M

Genre: Horror, Humor dan Romance

Pair(s): EspPrus(of course dan jangan kejar saia lagi!#kabur dari masal yang makin menggila#), sedikit cinta segiempat(?) antara EspXPrusXAusXHung(?), sedikit AusPrus(aku kagak setuju!#di gebukin readers#), sedikit AusHung

Warning(s): YAOI, OOC, OC(kalau ada nama yang sama saia minta maaf), semi-lemon(pemberitahuan lebih lanjut ada di bawah), Human Name Used(maaf lupa kasih tau chapter sebelumnya), typo(mungkin)

Chapter Three: MINE, not YOUR

xXxXxXxXxXxXxXx

Antonio menatap bosan kearah papan tulis, berkali-kali dia menguap karena merasa bosan pada pelajaran ekonomi yang tengah berlangsung itu, sesekali dia menengok kearah bangku paling belakang di kelas di mana seorang pemuda berambut putih dan bermata ruby yang telah resmi jadi kekasihnya(kemarin) duduk dan tengah menatap kosong kearah papan tulis.

Dahi Antonio berkedut heran, hari ini dia merasa Gilbert sedikit berbeda dari biasanya tapi dia tidak tahu apa yang berbeda dari pemuda Jerman itu, "Nah jadi- Antonio Fernando Carriedo, kau tidak memerhatikan penjelasan saya?" Antonio sedikit terlonjak mendengar teguran guru ekonomi itu,

"Eh?" dan dengan ini nasib Antonio bisa di katakan sedang sial, "Berdiri di depan koridor, SEKARANG" sambil sedikit mengumpat dalam bahasa Spanyol, Antoniopun berjalan menuju koridor dengan sedikit jengkel.

xXxXxXxdi skip sampai waktu pulangxXxXxXx

Antonio tengah menggigit lesu roti isi tomatnya, pikirannya seharian ini tidak fokus karena memikirkan Gilbert yang entah mengapa 'sedikit' menjaga jarak dengannya, "Ow mon cherrie, kenapa kamu murung begitu? Apakah karena kangen dengan abang Francis ini~" (oh poor Antonio, sudah pacarmu menjaga jarak denganmu sekarang banci taman lawang mendekatimu, semalam kamu mimpi apaan sih?#author di lempari kapak#) Francis memegang bunga mawarnya lengkap dengan tatapan mesum(?) miliknya,

"Jangan ganggu dia bloody frog!" dan sebuah scone langsung masuk ke tenggorokan pemuda Prancis itu, membuat pemuda Prancis itu langsung pingsan tak berdaya,

"Che malah pingsan lagi, dasar bloody frog. Woi tomato-freak, bantu angkut nih mayat(?) ke tempat sampah" sang ketua kelas yang merangkap sebagai chef terparah(?) sekaligus ketua OSIS dan dukun hebat(di hajar Arthur) yang memiliki alis tertebal muncul dari balik pintu kantin sambil menenteng bungkusan yang sepertinya adalah scone.

Dengan begini berakhirlah nasib Francis di tempat sampah yang super bau, "Hei Inglaterra, apa tidak apa-apa?" tanya Antonio dan Arthur hanya mengibaskan tangannya pelan, "Biarin saja, nanti juga dia bangun-bangun sendiri" kata Arthur sambil berjalan lalu, meninggalkan Antonio yang tengah memandang penuh simpati kearah Francis,

"Ah, sebaiknya aku cari Gilbert. Mungkin nanti bisa tahu dia kenapa" Antonio berlari menyusuri koridor, berusaha menemukan sosok pemuda berambut perak dan bermata ruby itu,

Selama hampir sejam Antonio mencari Gilbert, namun pemuda yang ingin dia temui justru tidak kunjung di temukan, Antonio mengusap peluh yang mulai membasahi seragamnya, "Aduh, Gilbert kemana sih?" Antonio memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku dekat kantin, pikirannya melayang kearah perilaku Gilbert yang seharian ini terkesan menghindarinya,

"Mungkin dia ada masalah" tiba-tiba Antonio teringat ada satu tempat yang belum di carinya, segera saja Antonio berdiri dan kemudian berbelok menuju taman belakang sekolah, dia merasa Gilbert mungkin ada di sana dan tak lama kemudian dia melihat pemuda berambut perak itu tengah duduk merenung sendirian di tengah-tengah taman itu, "Oi Gil-" kata-kata Antonio terputus saat dilihatnya mata ruby Gilbert meneteskan air matanya pelan.

Walau jarak tempatnya dan Gilbert agak jauh, namun pemuda Spanyol itu bisa mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh pemuda Jerman yang tak menyadari kehadirannya tersebut,

"Maafkan aku Ludwig…maafkan bruder…" Antonio merasakan ada banyak penyesalan yang terkandung dari ucapan Gilbert tersebut, perlahan Antonio berjalan mendekati Gilbert yang tampaknya tak menyadari ada Antonio di belakangnya, "Gilbert" panggil Antonio lembut dan Gilbert sedikit tersentak sebelum akhirnya menoleh ke belakang,

"A-Antonio?" Antonio mengusap rambut Gilbert lembut, "Kau ada masalah? Seharian ini sepertinya kau murung terus" Gilbert menggeleng lemah,

"Nein" Antonio menghela nafas berat, kekasihnya ini memang suka sekali membuatnya penasaran sekaligus cemas, "Kau berbohong" Gilbert menggeleng keras sebelum akhirnya berteriak, "NEIN!" tanpa sadar tangan Gilbert menampar pipi Antonio.

PLAAK!

Mata emerald Antonio membelalak, walau tamparan tadi tidaklah terlalu keras namun cukup untuk membuat rasa sesak di dadanya, mata ruby Gilbert membulat dan kemudian tubuhnya gemetar hebat,

"Ma-maafkan a-" kata-kata Gilbert terputus saat bibirnya di kunci oleh bibir Antonio, mata Gilbert melebar sejenak sebelum akhirnya menutup dan mulai mengikuti keinginan pemuda Spanyol itu. Antonio menjilat bibir bawah Gilbert untuk meminta izin menjelajahi mulut pemuda Jerman itu dan Gilbertpun membuka mulutnya yang langsung di jelajahi Antonio, sesekali Gilbert mengerang saat di rasakannya lidah Antonio yang menelusuri mulutnya.

Selama hampir tiga menit mereka berciuman, akhirnya merekapun memisahkan diri karena kebutuhan akan oksigen dan meninggalkan seutas tali saliva, "Maafkan aku…" bisik Gilbert lirih dan Antonio mengecup bibir Gilbert lembut, "Tak apa-apa mi amor, aku memaafkanmu" muka Gilbert sedikit bersemu merah membuat Antonio tertawa kecil,

"Te amo Gilbert" dan sebelum Gilbert menjawab apa-apa Antonio sudah menarik pemuda Jerman itu, "Can I…" Antonio berbisik pelan di telinga Gilbert, membuat wajah Gilbert memerah dan kemudian Gilbert mencengkeram erat kemeja Antonio, seolah paham akan maksud dari kata-kata Antonio, "Ja, mein liebe…" dan merekapun kembali berciuman tapi ciuman ini lebih panas dan pertarungan dominasipun dimenangkan oleh Antonio, kemudian Antonio melepaskan ciumannya pada bibir Gilbert dan menyerang leher jenjang Gilbert.

Gilbert mengerang pelan saat dirasakannya lidah hangat milik Antonio menyusuri lehernya dan tiba-tiba saja gerakan Antonio terhenti, Antonio menarik wajahnya dari leher Gilbert dan Gilbert memandang heran kearah Antonio, "Siapa yang…" wajah Gilbert berubah horror saat mengetahui apa yang membuat pemuda Spanyol itu menghentikan aktivitasnya.

Sebuah kissmark…

Yang di buat oleh Roderich…

Sebagai tanda…

Bahwa dia adalah miliknya

"Gi-Gilbert?" Antonio terkejut saat mendapati kissmark itu ada di leher Gilbert dan Antonio semakin terkejut saat mendapati kesedihan dan kesakitan terpancar dari bola mata ruby itu, Antonio langsung mendekap erat Gilbert,

"A-aku-ma-maaf…" Antonio mempererat pelukannya pada Gilbert dan kemudian mengusap rambut perak Gilbert lembut, "Tak apa-apa, kau tak perlu meminta maaf. Aku tahu kalau kau tak mungkin menkhianatiku" ujar Antonio lembut dan Gilbertpun menatap mata emerald Antonio dalam-dalam dan tanpa di duga Antonio, Gilbert mencium bibir Antonio lembut dan entah mengapa kali ini Antonio bisa merasakan hasrat ingin di miliki dari Gilbert,

"Jadikan aku milikmu" Antonio tersenyum kecil sebelum akhirnya balas mencium Gilbert dengan lembut sebelum menatap pemuda Jerman itu, "Bagaimana kalau kau menginap di rumahku malam ini?" Gilbert menatap Antonio dengan tatapan tak percaya, "Bolehkah?" "Tentu saja boleh" Gilbert tersenyum lembut dan memeluk Antonio erat, "Danke, mein lieber" kata Gilbert pelan.

xXxXxXxXxXxXx

Tak jauh dari tempat tersebut terlihat seorang perempuan dengan rambut berwarna coklat panjang dan mata berwarna emerald cerah menatap kosong sepasang kekasih itu, di sampingnya seorang pemuda berambut brunette dan bermata violet tampak berusaha untuk menahan emosi yang hendak meledak, "Kau sudah lihatkan? Cara apapun yang kau gunakan untuk mencegah mereka takkan pernah berhasil, Roderich" Roderich menggeram kesal, "Dan apapun yang kau lakukan takkan pernah berhasil, Antonio sangat mencintai Gilbert"

BRAAKK!

Roderich memukul dinding di dekatnya dengan perasaan geram, tak di pedulikannya darah yang mengucur pelan dari lukanya itu, "Diam kau Eliza, jangan ikut campur dalam masalah ini" desis Roderich dingin dan perempuan bernama Eliza itu hanya menggeleng pelan, tangannya terulur mengambil tengan Roderich yang terluka,

"Tentu saja aku harus ikut campur, kau adalah tunanganku Roderich…" Roderich terdiam sebentar, perlahan emosinya luruh saat melihat Eliza merobek sedikit kain yang ada di roknya dan melilitkannya di tangan Roderich, "Ayo pulang" ajak Eliza dan Roderich hanya bisa mengangguk pelan sebelum berjalan beriringan bersama Eliza, meninggalkan Gilbert bersama Antonio.

xXxXxXxT.

Huahahahahahahahaha#ketawa2 GaJe# astaga, gak menyangka bisa sampe kayak gini. Awalnya ini mau di bikin last chapter akhirnya di buat keputusan Mi Amor HANYA 5 chapter dan mungkin di tambah sekuelnya.

Ini sedikit lebih pendek dari dua chapter berikutnya ya? Maaf ya, saia ngetik buru-buru sie.

Oke, waktunya bales review :D

ry0kiku: Terima kasih atas pujiannya ry0-san ^^ eh? Mirip ya?#buka FFN# ma-maaf! Saia gak tahu kalau Alfonso sudah di pake nama OCPortugal ry0-san! Saia minta maaf!#bungkuk-bungkuk#

Oyabun itu fleksibel? Setuju tuh#di lindes gerobak tomat# terima kasih lagi atas pujiannya ry0-san. Wah, saia belum bisa bikin EspPrus lemonan. Mungkin chapter depan bisa saia bikin mereka lemonan.

Vash dan Roddy memang sengaja di bikin antagonis agar ceritanya sedikit seru, habisnya saia bosan liat mereka jadi protagonis terus#author di tembak Vash dan di pukul pake biola sama Roderich#

Sabar, mungkin kapan-kapan saia bisa bikin Portugal muncul di fic lainnya. Terima kasih atas reviewnya ^^ dan saia minta maaf atas ketidaktahuan saia m(_ _)m

Shirayuki Hana Hikari: #nyodorin tisu# ini biar berhenti mimisannya. Makasih pujiannya Ha-Chan! ^^ peribahasa dari mana tuh? Saia belum pernah dengar#di jitak# Terima kasih atas reviewnya ^^

TikaElric7: Terima kasih atas reviewnya Tika-san ^^ ahahaha si Gil emang kayak gitu gara-gara 'Tonio kan#di patuk Gilbird dan di lempari tomat#

RikuSena: Terima kasih atas reviewnya Riku-san ^^ ini kisah cinta segiempat(?) antara Antonio dan Roderich yang merebutkan Gilbert, sementara Gilbert menyukai Antonio dan Roderich yang telah bertunangan dengan Elizaveta serta Gilbert yang pada akhir-#di bekep sebelum ngasih tau lebih lanjut lagi plot ceritanya# -ahem- jadi silahkan baca ficnya jika anda ingin mengetahui lanjutannya :D

Kana Hidari17: Wah, anda review lagi Kana-san ^^ suka gore? Sama dong#aura sadis+psyco# gore yang lebih mantap ada di chapter depan bersamaan dengan LEMON, terima kasih atas review dan sarannya ^^

Zubei: Anda review lagi#tebar confeti# ahahaha kalau SpaMano biar kapan-kapan saja saia bikinnya. Terima kasih atas reviewnya Zubei-san ^^

Rachigekusa: Anda review lagi ternyata#nangis gaje# Portugal sengaja di keluarin, soalnya diakan kakaknya Spain. Jujur, saia khawatir banget baca pemberitahuan Rachigekusa-san di RTO, tapi untunglah Rachigekusa-san bangkit kembali#sorak-sorak sambil tebar confeti# Yosh! Akan saia lanjutkan! \(^o^)/

Voodka: Maafkan saia Voodka-san! #sembah sujud# karena ada suatu halangan RusAme tidak bisa di munculkan pada chapter ini! Terima kasih atas reviewnya dan sekali lagi saia mohon maaf.

Dan karena banyak yang minta LEMON baik secara sadar ataupun enggak, chapter depan saia bikin LEMON deh, daripada denger teriakan fujodanshi yang minta LEMON.

Saia juga dapat sedikit saran dari Shirayuki Hana Hikari untuk terima permintaan kolaborasi khusus bagian LEMON, jadi saia terima Ha-Chan! Mengingat saia tak terlalu jago bikin LEMON tapi jago bikin semi-lemon.

Jadi daripada dengerin penyakit galauan saia,

MIND TO GIVE THIS AUTHOR ONE REVIEW PLEASE?