MI AMOR
Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya
Mi Amor © Naela Jeevas Keehl
Rated:M
Genre: Horror, Romance dan sedikit humor
Pair(s): EspPrus(of course!) RusAme(yang pesen yang pesen?#di lempari sandal#), sedikit AusHung
Warning(s): YAOI, OOC, OC(nama yang sama, saia minta maaf), Human Name Used, typo(s), sedikit adegan bloody, semi-#di jitak# wadaow! Iya iya chapter ini LEMON, khusus lemon, hasil kolaborasi antara saia(Naela Jeevas Keehl) dan Shirayuki Hana Hikari maaf kalau kurang memuaskan.
A/N: Karena saia takut tak bisa mempublish fic ini pada hari valentine, saia terpaksa publish pada hari ini. Fic ini saia persembahkan untuk Antonio yang berulang tahun pada 14 Februari dan siapa saja yang beruntung bisa berulang tahun pada hari kasih sayang itu. Jika ada yang hendak kirim flame, saia persilahkan karena saia ini bukanlah author yang sempurna dan sering melakukan kesalahan jadi saia mohon ada pengertian diantara kita semua.
Chapter Four: Yours and Forever Yours(?)
xXxXxXxXxXxXxXxXx
Gilbert memandang kearah Antonio dengan tatapan tak percaya, "I-ini rumahmu?" tanya Gilbert dan Antonio hanya mengagruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Iya ini rumahku, jelek ya?" Gilbert menggeleng cepat-cepat, "Ne-nein, aku hanya tidak menyangka rumahmu sebesar ini" dan Antonio menarik Gilbert pelan, "Ayo masuk, nanti kau masuk angin" kata Antonio dan mereka berduapun masuk ke dalam rumah Antonio.
Gilbert berjalan mengikuti Antonio dari belakang, decak kekaguman terus meluncur dari bibir pemuda Jerman tersebut saat melihat betapa rumah bergaya eropa klasik itu sangat terawat, "Mari kuajak kau berkeliling rumah ini, ladies" goda Antonio sambil mengulurkan tangannya pada Gilbert di sertai senyum khasnya dan Gilbertpun menerima uluran tangan itu sambil membalas kata-kata Antonio, "Ja, gentlemen guy" mereka berdua bergandengan tangan erat dan mulai menyusuri rumah Antonio.
xXxXxXxDi skip saja ya~xXxXxXx
Entah sudah berapa lama mereka berdua menyusuri rumah pemuda Spanyol tersebut dan kini mereka berdua tengah ada di dapur untuk membuat makan malam, "Gil, kamu mau makan apa?" tanya Antonio yang tengah memakai sebuah celemek berwarna coklat, "Terserah kau saja" dan Antoniopun membuka kulkas, berharap menemukan sesuatu yang bisa di masak.
Tak butuh waktu lama bagi Antonio untuk selesai membuat sepiring paella dan sepiring pancake, "Maaf membuatmu menunggu mi amor, ini kubuatkan pancake" Antonio meletakkan sepiring pancake dan sebotol sirup maple di depan Gilbert, "Danke Antonio, bagaimana kau tahu aku suka pancake dengan sirup maple?" tanya Gilbert heran dan Antonio tersenyum lebar mendengar pertanyaan kekasihnya itu, "Hanya insting" kata Antonio singkat sambil memakan paella buatannya dengan lahap.
Mereka berdua makan dalam sunyi, yang terdengar hanyalah suara denting piring dan suara jam yang berdetak lambat, "Eng… Antonio?" Antonio mendongak menatap Gilbert dengan tatapan heran, "Ada apa?" muka Gilbert terlihat sedikit merona, "A-aku minta ma-maaf karena telah menyusah-kanmu" Antonio tersenyum lembut sebelum mengacak-acak rambut perak Gilbert,
"Tak apa, kau tidak merepotkanku kok. Aku senang sekali karena sebelumnya tidak ada yang pernah mengunjungi rumahku sebelumnya kecuali Lovi, Bella dan Al…fonso" Antonio tertawa agak di paksakan saat menyebut nama kakak semata wayangnya dan Gilbert tahu itu.
Tiba-tiba Gilbert memeluk Antonio erat, Antonio tersentak saat merasakan tangan Gilbert melingkari tubuhnya erat, "Aku juga…sama" bisik Gilbert pelan, pelukannya semakin menguat dan Antonio bisa merasakan kenyamanan tersendiri dalam pelukan itu, "Aku juga pernah kehilangan seorang adalah adikku yang pertama namanya Reich" bisik Gilbert pelan, lengannya gemetar saat mengingat kenangan tentang adik pertamanya yang telah lama meninggal,
"Kenapa dia meninggal?" tanya Antonio dan Gilbert sedikit terisak pelan, "Di-dia sakit parah, a-aku tak tahu kalau dia sakit separah itu. Aku benar-benar kakak yang bodoh" Antonio tercekat mendengarnya dan diapun mengelus punggung Gilbert lembut, "Sudahlah, adikmu pasti akan sedih jika melihatmu terus begini" Antonio mencium bibir Gilbert lembut dan tanpa di duga Antonio, Gilbert membalas ciuman tersebut, mata emerald Antonio terbelalak sebelum akhirnya dia melingkarkan tangannya ke sekeliling pinggang Gilbert.
WARNING: MULAI DARI SINI ADA LEMON, YANG GAK SUKA SILAHKAN LEWATI SAMPAI PEMBERITAHUAN LEBIH LANJUT
Entah bagaimana caranya kini mereka sudah ada di dalam kamar Antonio, perlahan Antonio mendorong Gilbert ke ranjang berukuran king size itu pelan sambil terus mencium bibir Gilbert dengan lembut dan penuh cinta. Mereka terus berciuman, saling merasakan kehangatan dari bibir pasangan masing-masing.
Kemudian ciuman itu menjadi penuh nafsu ketika Gilbert ada di posisi bawah dan Antonio telah ada di atasnya, Antonio menjilat bibir bawah Gilbert sambil terus berusaha sambil melepas satu persatu kancing kemeja sekolah dan blazer Gilbert, tak lama kemudian kulit putih pucat milik Gilbert terlihat sementara itu tangan Gilbert melingkar di sekeliling leher Antonio dan menariknya untuk memperdalam ciuman mereka.
Antonio memasukkan lidahnya ke dalam mulut Gilbert dan menjelajahi rongga di dalam mulut Gilbert perlahan, Gilbert mendesah pelan saat di rasakannya lidah Antonio mengeksplorasi mulutnya dan tangannya membuka kancing kemeja Antonio.
Selama hampir tiga menit mereka berciuman akhirnya merekapun melepaskan diri untuk mengambil oksigen yang sempat tercuri, saliva Gilbert mengalir pelan dari sudut bibirnya dan Antonio menjilatnya lembut sebelum mencium Gilbert lagi.
Setelah puas mencium Gilbert kini Antonio menyerang leher putih Gilbert, meninggalkan kissmark di atas kissmark yang telah di buat Roderich sebelumnya kemudian menjilat kulit leher Gilbert yang lainnya dan meninggalkan beberapa kissmark, "Nngh…A-Anto-nio" Gilbert mengerang pelan saat di rasakannya Antonio membuat beberapa kissmark di lehernya.
Sementara lidah Antonio menyerang leher Gilbert, kedua tangannya kini tengah memainkan kedua titik sensitif yang ada di dada Gilbert, membuat Gilbert mendesah tertahan dan setelah meninggalkan sebuah kissmark lagi di leher Gilbert, kini lidah hangat Antonio menyusuri dada Gilbert dan memainkan kedua titik sensitif yang ada di dada Gilbert dan menggigitnya pelan,
"Antonio!" Gilbert berteriak kecil saat di rasakannya Antonio mengigit pelan kedua titik sensitif di dadanya dan tangannya meremas rambut ikal Antonio, "Tenanglah mi amor…" bisik Antonio lembut sambil menjilat cuping telinga Gilbert dan tangan Antonio bergerak memainkan tepian celana Gilbert sebelum melepas celana panjang dan sabuk Gilbert pelan.
Gilbert merinding saat di rasakannya udara dingin menerpa tubuhnya yang kini tak lagi mengenakan busana, Antonio mencium bibir Gilbert pelan sebelum akhirnya turun, Antonio meremas pelan barang milik Gilbert dan membuat sebuah erangan meluncur dari bibir Gilbert, "Bi-bitte…" Antonio tersenyum kecil sebelum akhirnya memijat pelan kepunyaan Gilbert, "Akh Antonio!" Gilbert memekik kecil saat di rasakannya Antonio memijat miliknya pelan.
"Sabarlah mi amor" Antoniopun memasukkan milik Gilbert ke dalam mulutnya dan mulai memaju mundurkan kepalanya dalam tempo yang lambat, Gilbert tak sanggup menahan isakan saat Antonio memberinya blow job dan tanpa di sadari Gilbert, Antonio memasukkan satu jari ke dalam asshole Gilbert.
Satu jari Gilbert masih belum menyadarinya tapi saat jari kedua dan ketiga di masukkan, Gilbert mulai mengerang tak nyaman dan Antoniopun mempercepat gerakannya sambil menghisap barang Gilbert kuat-kuat,
"A-ANTONIOO!" dalam sekejap cairan milik Gilbert memenuhi rongga mulut Antonio dan tanpa jijik Antonio menelan sebagian, Antoniopun mencium Gilbert dengan maksud membagikan sedikit cairan milik Gilbert,
Muka Gilbert bersemu merah dan Antonio kembali mencium Gilbert sambil mulai menggerakkan jari-jarinya untuk melebarkan asshole milik Gilbert, Gilbert sedikit menjerit namun jeritannya teredam oleh ciuman Antonio. Antoniopun mengeluarkan jarinya saat di rasakannya asshole Gilbert sudah cukup lebar,
"Berteriaklah jika ini terasa sakit" Gilbert mengangguk pelan dan Antonio memasukkan miliknya ke dalam asshole Gilbert yang sempit, "A-argh!" kepala Gilbert terbenam ke bawah, rasa sakit menjalarinya saat di rasakannya sesuatu yang asing dan panas memasuki tubuhnya, membuatnya merasa seperti di belah menjadi dua bagian "Nngh… assholemu sangat ketat" dan dalam sekali sentak barang milik Antonio sudah memenuhi asshole Gilbert membuat pemuda Jerman itu berteriak kesakitan.
Antonio mencium Gilbert lembut untuk meredam sedikit rasa sakit yang di rasakan Gilbert, setelah di rasakannya Gilbert sudah mulai terbiasa dengan miliknya. Antonio menggerakkan pinggulnya maju mundur dan mencari titik yang akan membuat Gilbert seperti melayang, "Anto-nio…." Gilbert mendesah pelan saat di rasakannya Antonio bergerak di dalam dirinya.
Sekitar lima menit kemudian akhirnya Antoniopun menemukan titik tersebut, membuat Gilbert mengerang,
"AKH!" dan Antonio mulai mempercepat gerakannya dan menghantam titik tersebut lebih dalam lagi sementara air mata mulai mengalir dari mata ruby Gilbert, tak butuh waktu lama bagi Gilbert untuk mencapai klimaksnya,
"ANTONIO!" teriak Gilbert saat di rasakannya seluruh pandangannya menjadi putih dan kemudian dirasakannya gerakan Antonio semakin cepat dan Antoniopun mencapai klimaksnya juga,
"GILBERT!" Antonio klimaks di dalam Gilbert, diapun ambruk di atas tubuh Gilbert.
Mereka berdua tengah berusaha mengatur nafas mereka, Antonio mengeluarkan miliknya dan tangannya bergerak perlahan mengusap air mata yang menggenangi mata ruby Gilbert, "Te amo, mi amor" bisiknya sambil mencium lembut bibir Gilbert, "Ich liebe dich, mein liebe" dan mereka berduapun tertidur dengan posisi saling berpelukan.
LEMONNYA SUDAH SELESAI SAMPAI DISINI, SANA PERGI PERGI#DIHAJAR#
xXxXxXxPaginyaxXxXxXx
Suara cicit burung membangunkan Gilbert dari tidur lelapnya, mata ruby milik Gilbert mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mampu menyesuaikan diri dari sinar matahari yang menembus tirai kamar tersebut, "Buenos dias Gilbert~" Gilbert langsung menoleh ke sampingnya, sepasang mata emerald yang memancarkan sinar kelembutan menatapnya dengan penuh kasih,
"Guten morgen Antonio" balas Gilbert singkat dan Antonio mengecup pelan bibir Gilbert, "Kau tidur nyenyak semalam?" tanya Antonio, kedua tangannya melingkari pinggang Gilbert, "Ja" jawab Gilbert dan dia terlihat berusaha untuk bangun dari tempat tidur, "Tunggu dulu" Antonio menahan Gilbert yang hendak bangun dengan satu tangan,
"Kau pasti masih merasa sakit, istirahatlah sejenak. Biar aku yang memasakkan sarapan dan nanti kupinjami kau bajuku" katanya dan mau tak mau Gilbert terpaksa menuruti kata-kata Antonio karena memang bagian bawah pinggangnya terasa sakit akibat 'kegiatan' mereka semalam mendadak wajah Gilbert terasa memanas saat mengingat apa yang mereka lakukan semalam,
"Maaf membuatmu menunggu mi amor~" Antonio masuk sambil membawa nampan berisi sepiring pancake dengan sirup maple dan segelas anggur(?), "Syukurlah hari ini hari minggu, jadi kita tak perlu ke sekolah dan kau bisa beristirahat" kata Antonio sambil meletakkan nampan di meja kecil samping ranjang,
"Danke" ucap Gilbert pelan membuat Antonio mengernyitkan dahinya bingung, "Untuk semuanya" ucap Gilbert, muka Gilbert memerah dan Antonio tersenyum jahil, perlahan di dekatinya Gilbert dan kemudian Antonio bebrbisik pelan,
"Kalau kau blushing begitu, aku jadi ingin memakanmu sebagai ganti sarapan" muka Gilbert lebih memerah dan kemudian sebuah pukulan yang tidak terlalu kencang menghantam perut Antonio, "D-dasar pervert!" teriak Gilbert kesal dan Antonio hanya tertawa sambil mengelus perutnya melihat tingkah kekasihnya.
Tiba-tiba pintu kamar Antonio menjeblak terbuka dengan kasar, "Woi tomato-bastard! Semalam kenapa-" kata-kata Lovino langsung berhenti begitu melihat apa yang ada di dalam kamar Antonio atau lebih tepatnya di atas ranjang Antonio.
1 detik…
Gilbert buru-buru menutupi tubuhnya yang sedikit terekspos.
2 detik…
Antonio langsung dalam posisi duduk sambil menutup telinganya.
3 detik…
"WHAT THE HELL IS THIS!" teriakan Lovino cukup kencang bahkan sampai membuat gelas dan beberapa kaca di kamar Antonio retak,
Ngiiiiinnggg…
Teriakan Lovino membuat telinga Antonio dan Gilbert berdengung sebentar, "Lo-Lovi, i-ini-" belum selesai kata-kata Antonio, Lovi sudah ada di depannya lengkap dengan aura-aura tak mengenakkan menguar dari pemuda Italia itu, "An-to-ni-o Fer-nan-do Car-ri-e-do…" Antonio menelan ludah saat di dengarnya Lovi memanggilnya dengan nama lengkapnya,
"I-iya?" Lovi menundukkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya mengangkat kepalanya, "Kenapa gak bilang-bilang kalau kau sudah pacaran dengan albino-bastard itu?" Antonio kaget karena di kiranya Lovi akan marah padanya tapi ternyata…
"Coba kau bilang dari awal kalau kalian pacaran, sudah pasti aku akan mengusir mereka dari tadi" Antonio melongo, "Me-mereka?" tanya Antonio heran, "Iya mereka, yang semalam memaksa nginap di kamar sebelah. Kiku, Bella, Rizky, Randy, Viet, Sey, Lily, Francis-" kini giliran Lovi yang merinding saat di lihatnya Antonio membawa kapak besarnya dan aura-aura yang mengalahkan aura hitam milik Natalya serta Ivan menguar dari tubuh pemuda Spanyol itu,
"Sekarang, mereka semua ada di mana?" Lovi menunjuk kearah kamar yang ada di sebelah kamar Antonio dengan gemetar dan sekejap saja Antonio sudah menghilang dari pandangan dan ada suara teriakan dari kamar sebelah.
Lovi kini memandang kearah Gilbert yang masih terpaku di atas ranjang dan kemudian Lovi melemparkan satu setel pakaian ke Gilbert, "Pakai ini" kata Lovi singkat dan Gilbert memandang kearah Lovi sejenak sebelum tersenyum kecil,
"Danke" Lovi hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya keluar dari kamar Antonio dan meninggalkan Gilbert sendirian.
xXxXxXxXxXxXxXxXx
Setelah 'insiden' di kamar sebelah usai, Antonio kembali ke kamarnya dengan senyum cerah, "Wah Kau sudah berpakaian dan sarapan ya? Maaf aku tadi hanya pemanasan 'sedikit' di kamar sebelah" kata Antonio ceria dan kemudian dia duduk di ranjangnya, keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya Gilbert memecahkan keheningan tersebut,
"A-aku harus pulang" Antonio bangkit dari duduknya dan memandang kearah Gilbert dengan pandangan penuh tanya, "Aku harus pulang, adikku pasti mengkhawatirkanku" kata Gilbert, "Kuantar ya? Biar aku tahu rumahmu di mana" pinta Antonio dan sejenak Gilbert terlihat ragu, namun melihat sorot mata Antonio yang terlihat polos(?) membuatnya merasa tak enak menolak permintaan sang seme(?), "Kalau begitu ayo!" teriak Antonio semangat.
Setelah membereskan beberapa kekacauan dari 'kegiatan' mereka semalam, merekapun memutuskan untuk naik bis saja untuk ke rumah Gilbert yang ternyata jaraknya agak jauh,
"Aku penasaran, adikmu itu seperti apa" Gilbert menoleh ke Antonio yang tengah mengutak-atik hpnya, "Adikku itu, orang yang sangat tegas dan disiplin" Gilbert memejamkan matanya sebentar, "Dia selalu memanggilku 'East' dan akupun memanggilnya 'West'. Dia adalah anak yang baik walau kadang dia agak kaku…" Antonio hanya diam saja memperhatikan Gilbert yang tengah asyik menceritakan tentang adiknya.
Senyum Gilbert saat tengah menceritakan adiknya yang di sayanginya.
Tawa Gilbert saat mengingat betapa lucunya perilaku sang adik.
Dan mata ruby Gilbert yang berbinar saat mengingat apa saja yang dia lalui bersama adiknya.
Semua itu sangat di sukai Antonio, walau semua itu tidak di tujukan untuknya namun dia telah menemukan apa yang orang lain tidak akan pernah menemukannya,
Bayangan dirinya di mata Gilbert
"…terus saat, Antonio? Kau melamun" buru-buru Antonio menarik wajahnya dan kemudian tertawa kecil, "Tentu saja tidak, mi amor" kata Antonio sambil mengecup dahi Gilbert sekilas dan akhirnya Gilbertpun kembali meneruskan ceritanya tentang sang adik.
Tak butuh waktu lama bagi Gilbert dan Antonio untuk sampai di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar namun terlihat cukup nyaman, "Nah, ini rumahku" kata Gilbert dan Antonio terlihat asyik melihat rumah itu,
"Wah, rumahmu terlihat sangat nyaman dan mungkin sedikit lebih ramai daripada rumahku" puji Antonio dan Gilbertpun hendak memutar pintu rumahnya sebelum terdengar sebuah suara seperti benda pecah.
PRAANG!
Antonio yang tengah mengagumi halaman rumah Gilbert sedikit terlonjak saat di dengarnya ada suara benda yang pecah dari dalam rumah,
"Ada a-" kata-kata Antonio terputus saat di lihatnya wajah Gilbert yang pucat berdiri di depan pintu rumah yang separo terbuka dan dari dalam rumah itu tercium bau amis darah,
"Gi-Gilbert?" panggil Antonio namun Gilbert tidak bergeming sedikitpun dan akhirnya Antonio tahu apa yang menyebabkan Gilbert terpaku seperti itu.
Seorang pemuda berambut pirang acak-acakan terbaring di lantai dengan darah mengucur pelan dari dadanya yang terlihat seperti terkena tebasan benda yang tajam, "W-west?" bisik Gilbert sambil gemetar dan kemudian pemuda itu seolah mendengar panggilan dari Gilbert dan menoleh kearah Gilbert, "Bru-der E-ast?" Gilbert langsung berlari menghampiri pemuda yang di panggil Gilbert 'West' itu,
"Mein gott West! Siapa yang melakukan ini padamu!" Gilbert memeluk erat adiknya itu sehingga darah yang mengalir dari tubuh sang adik mengotori baju yang di kenakan Gilbert.
Sebelum sempat menjawab, seorang pemuda dengan rambut brunette yang lengkap dengan ahogenya dan mata berwarna violet muncul dari balik dinding yang bernoda darah sambil menggenggam sebuah pedang panjang yang bernoda darah pekat,
"Aku yang melakukannya, keberatan? Gilbert Beilsmidcht?" mata ruby itu membelalak dan pelukannya pada adiknya semakin mengerat, "Rode-rich?" Roderich hanya menunjukkan senyum yang entah mengapa terlihat cukup menakutkan,
"Ke-kenapa?" Antonio segera berlari menuju Gilbert saat di lihatnya Roderich mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan tepat sebelum pedang itu di ayunkan Antonio berhasil menarik Gilbert beserta adiknya menjauh dari tebasan pedang Roderich,
"Kenapa? Karena kau melanggar perjanjian kita, Beilsmidcht" nada suara Roderich menjadi dingin dan kemudian dia mulai mengayunkan pedangnya lagi.
TRAAANG!
Suara logam beradu dengan keras, Roderich memandang kearah Antonio yang menggenggam kapak besarnya, "Wah wah" Roderich menoleh kearah Gilbert yang gemetar dari balik tubuh Antonio, "Kau sekarang di bela oleh orang lain, sungguh ironis" Roderich mempererat genggamannya pada pedangnya dan mulai menambah kekuatannya.
Antonio sedikit terdesak namun mata emeraldnya menatap Roderich dengan tatapan membunuh, "Jangan ganggu Gilbert" desis Antonio dan Roderich hanya terkekeh pelan, "Memangnya kau tahu apa tentang dia, hah?" Antonio sedikit terdorong ke belakang, "Aku memang tak tahu apa-apa tentang masalah antara kau dan Gilbert, tapi jika kau berani membuatnya menderita sedikit saja. Takkan kubiarkan matahari bersinar di atas kepalamu lagi!" Antonio berhasil membuat Roderich sedikit terlempar ke belakang,
"Kau tahu apa?" Roderich mulai menyerang dengan membabi buta, membuat Antonio terpaksa harus bertahan,
"Tentang kami!" teriaknya keras sambil menebas lengan Antonio dengan cepat, luka sayatan panjang muncul dari lengan Antonio dan darah mulai mengucur dari lengannya, Antonio meringis kesakitan dan saat Antonio sedikit lengah, Roderich menendang Antonio tepat di dadanya dengan keras, membuat Antonio terhengkang ke belakang dan tak sadarkan diri,
"A-Antonio!" teriak Gilbert dan mata violet tajam Roderich menoleh kearah Gilbert,
"Kau juga harus mati" dan saat Roderich mengayunkan pedangnya, sepasang lengan terentang melindungi Gilbert yang tengah memeluk Ludwig dari sabetan pedang Roderich.
Rambut berwarna coklat panjang dengan sebuah bunga yang menghiasi rambut coklatnya di tambah mata emerald tua yang memancarkan ketegasan kini mulai ambruk saat pedang Roderich menyabetnya, mata violet itu membulat melihat siapa yang jadi tameng bagi Gilbert dan tanpa di komando, Roderich segera menangkap orang itu ke dalam pelukannya sebelum terjatuh oleh gravitasi,
"E-Eliza!" Elizaveta Hedervary, orang yang menyelamatkan Gilbert dari maut dengan cara menjadikan dirinya tameng bagi Gilbert. Gilbert shok saat dilihatnya Eliza, teman lamanya sekaligus tunangan Roderich melindunginya dengan menjadikan dirinya tameng. Roderich tak percaya bahwa orang yang barusan dia serang adalah tunangannya sendiri, sekaligus orang yang di sayanginya sejak dulu,
"Uhuk!" darah mengalir pelan dari bibir Eliza dan Roderich buru-buru mengusap darah itu pelan, "Eliza! Kumohon! Maafkan aku Eliza…" Elizaveta menatap Roderich dengan tatapan sedih, tangannya mengusap pelan pipi Roderich,
"Ku-mo-hon, ja-ngan la-ku-kan la-gi hal ter-se-but…" Roderich tak mampu membendung air matanya lagi, kemudian dia segera mengangkat Elizaveta dengan bridal style,
"Hari ini, kubiarkan kau hidup kemudian…" mata Roderich berkilat sebentar,
"…kupastikan kau membayar apa yang telah terjadi" Roderich kemudian menghilang dari pandangan.
Gilbert sendiri segera tersadar dari shoknya dan segera menghampiri Antonio sambil terus mendekap Ludwig yang wajahnya sedikit pucat,
"Antonio! Kumohon bertahanlah!" Gilbert mengguncang-guncang tubuh Antonio, air mata mulai menggenangi sudut mata Gilbert.
Gilbert menggenggam tangan Antonio dan merasakan denyut nadi pemuda Spanyol itu mulai melemah karena kehabisan cukup banyak darah, segera saja Gilbert menyambar telepon genggam Antonio yang sedikit retak dan segera menelepon ambulans,
"Ha-halo! T-tolong kirim-kan ambulans se-sekarang juga di jalan XXXX, cepat!" Gilbert menggenggam tangan Antonio erat, "Kumohon, jangan tinggalkan aku seperti Reich meninggalkanku" bisik Gilbert lirih, air matanya menetes pelan.
Tak lama kemudian ambulans datang, segera saja Antonio dan Ludwig di bawa ke rumah sakit. Dengan menggunakan telepon genggam milik Antonio, Gilbert langsung menghubungi semua teman-teman Antonio untuk memberitahukan keadaan Antonio.
Antonio dan Ludwig langsung di masukkan ke ruang ICU karena mereka nyaris kehabisan darah dan luka-luka yang mereka derita cukup parah. Gilbert menyenderkan badannya ke dinding rumah sakit, kepalanya berdenyut-denyut pusing memikirkan kondisi kedua orang yang sangat di sayanginya itu,
"Kumohon Ludwig, Antonio…"
"Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku sangat membutuhkan kalian…" bisik Gilbert lirih,
"Gilbert-kun, da?" reflek Gilbert menoleh kearah sumber suara, seorang pemuda bertubuh tinggi besar dengan mata berwarna violet cerah serta rambut bewarna blond tengah bergandengan tangan dengan seorang pemuda yang agak pendek darinya dengan mata berwarna sapphire cemerlang yang di bingkai kacamata serta rambut berwarna pirang emas,
"I-Ivan? Apa yang kau lakukan disini?" bukannya menjawab Ivan justru menunjuk kearah Gilbert yang tubuhnya berlumur darah Ludwig dan Antonio,
"Gilbert-kun berdarah da? Gilbert-kun kecelakaan da?" Gilbert menggeleng lemah, mata rubynya menatap kearah kaca ruang ICU di mana tim dokter tengah menjahit luka di lengan Antonio, Ivan mengerti apa yang di maksud Gilbert,
"Roderich-kun, iya kan da?" Gilbert mengangguk lemah,
"Roderich yang melakukan semua ini" Gilbert merasakan suaranya sedikit bergetar.
Ivan dan Alfred saling berpandangan sejenak kemudian tiba-tiba seorang suster berlari dengan tergopoh-gopoh kearah ruang ICU itu dan seorang dokter kemudian menghampirinya,
"Ada apa?"
"Dokter gawat, darah yang bergolongan sama dengan pasien sudah habis! Bank darah juga tidak mempunyai persediaan lagi!" dokter itu terlihat cemas kemudian dia menoleh kearah Gilbert, Ivan dan Alfred,
"Siapa diantara kalian yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" Gilbert mengangkat tangannya,
"Golongan darahku, sama dengan Antonio" dokter itupun langsung menyuruh suster untuk mempersiapkan alat untuk transfusi darah.
xXxXxXxXxXxXx
Gilbert duduk di dalam ruang UGD, keadaan Antonio sudah mulai membaik walau masih mengalami sedikit kesulitan bernafas tapi secara keseluruhan keadaannya sudah stabil. Gilbert terus berada di samping Antonio, wajahnya terlihat sangat pucat karena dia menyumbangkan darah yang cukup banyak untuk Antonio, tangannya menggenggam erat tangan Antonio dan mengecupnya pelan,
"Kumohon sadarlah, mein liebe…" bisik Gilbert pelan sambil mengeratkan pegangan tangannya,
"Gil…bert?" Gilbert mendongak, mata rubynya bertemu dengan mata emerald milik Antonio dan kemudian dia bisa merasakan Antonio mengelus pipinya lembut,
"A-Antonio, kau sudah sadar?" Antonio mengangguk lemah, mata emeraldnya menatap Gilbert dengan tatapan khawatir, "Wajahmu…pucat" ujar Antonio pelan,
"Aku menyumbangkan darahku untukmu" bisik Gilbert pelan dan mata Antonio membulat, "Kenapa, mi amor?" tanya Antonio, "Aku tak ingin kau mati, tidak setelah apa yang terjadi pada Reich dan Ludwig" Antonio mengusap pipi Gilbert pelan sebelum mencium Gilbert lembut,
"Grazie, mi amor" bisik Antonio dan Gilbert tersenyum pelan,
"Ja, mein lieber" dan mereke berduapun berciuman kembali, melupakan sejenak apa yang telah terjadi hari itu.
Ivan menatap pasangan yang tengah berciuman itu dengan tatapan datar, "Da, kelihatannya kita harus pergi dari sini, ya kan Alfred da?" tanya pemuda berkebangsaan Rusia itu pada pemuda Amerika di sampingnya yang wajahnya sedikit memerah,
"I-iya, ayo kita lekas pergi dari si-" belum selesai pemuda Amerika itu bicara, sepasang lengan yang cukup besar telah melingkari pinggangnya dan saat dia hendak protes bibirnya telah dikunci oleh sepasang bibir milik Ivan,
"I-Ivan…akh! Ja-ngan disini…" desah Alfred saat di rasakannya lidah Ivan mulai menyusuri rongga mulutnya dan tangan Ivan menelusup ke balik kaosnya,
"Alfred-kun tenang saja da…" bisik Ivan sambil menjilat pelan telinga Alfred yang memerah sementara tangannya mulai menggerayangi tubuh pemuda Amerika itu,
"Ta-tapi…akh! Ivan!" Alfred mengerang pelan saat dirasakannya lidah Ivan menjilati tengkuknya dan mulai membuat beberapa kissmark.
Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang bagi semuanya.
Hosh hosh!#ngusep sisa mimisan# Kembali lagi dengan saia Naela Jeevas Keehl, author GaJe nan Abal. Mohon maaf kalau saia ngos-ngosan, saia habis muter-muter FFN khusus yang rated-nya M dan cari inspirasi dari rated M yang ada di tambah kabur dari Antonio yang lagi ngamuk gara-gara tahu saia merekam adegan lemonannya bareng Gil- Huwa! Antonio jangan kemari!#kabur lagi dari Antonio yang tengah mengayun-ayunkan kapaknya sambil mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa Spanyol# Daripada denger-eits- bacot-huwa- saia, mending-ampun- balaaasssiiiinnnn reeevviiiieeewwwnnyyaaaaaa!#author tepar di hajar Antonio#dikubur#
Zubei: #bangkit dari kubur# Zubei-san review lagi#tebar kertas dan karangan bunga bela sungkawa# ini ada tisu Zubei-san buat hapus nosebleednya#nyodorin tisu# terima kasih atas pujiannya Zubei-san, ini ada lemonnya tapi maaf kalau terasa agak kecut ^^'a Terima kasih atas reviewnya :D
ry0kiku: Ternyata ry0-san review lagi, terima kasih atas pengertiannya ry0-san dan terima kasih atas pujiannya ^^ kalau nambah lebih dari lima chapter mungkin… bisa, tapi dilihat dulu alurnya bisa di perpanjang atau tidak. Ahahaha, mungkin ada tapi saia gak yakin siapa yang harus mati#pundung#abaikan# Terima kasih atas reviewnya ^^
TikaElric7: Anda review lagi#nari2 GaJe# ini lemonnya Tika-san :D dan terima kasih banyak atas reviewnya XD
Kana Hidari17: Wah Kana-san review lagi, ini ada tisu lagi buat yang nosebleed. Terima kasih atas pujiannya Kana-san ^^ dan sekali lagi terima kasih atas reviewnya :)
Voodka: Anda review juga Voodka-san, ini ada RusAme hampir lemonan kalau yang lagi lemonan masih in-progress di lappie saia. Terima kasih atas reviewnya ^^
Rachigekusa: Review lagi dari Rachigekusa-san ^^ Terima kasih atas pujiannya Rachigekusa-san, ini ada RusAme-nya hampir lemonan pula. Terima kasih banyak atas reviewnya ^^
Twlight Prince: Reviewer baru ya ^w^ pair utamanya kan EspPrus Twlight-san, kalau AusPrus mungkin kapan-kapan kalau Roderich udah berhenti mainin chopinnya saia bikinin#di pukul pake biola# bercanda koq, mungkin kapan2 saia bikin AusPrus lagi. Terima kasih atas reviewnya :D
Mochiyo-sama: Wah ada reviewer baru lagi ^^ ini masih ada banyak tisunya Mochiyo-sama. Terima kasih atas pujiannya Mochiyo-sama ^^
Gara-gara terbiasa baca fic rated M bahasa inggris dan indo mungkin o.O? #abaikan# Terima kasih banyak atas reviewnya XD
.
.
Mungkin semua pada bertanya-tanya gimana ceritanya Gilbert jadi pelayannya Roderich dan saia memutuskan untuk membuat prekuel dari fic ini agar beberapa readers dan reviewers bisa paham apa saja yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka#nyanyi GaJe#dihajar#
Fic ini adalah fic dengan rekor terpanjang yang saia tulis karena memiliki words 4,000 lebih#tebar confetti# dan saia minta maaf yang sebesar-besarnya jika fic ini agak maksa.
-Ahem- saia terpaksa menulis chapter ini dengan menggunakan Times New Roman, karena jika saia memakai Verdana seperti biasa maka tidak akan cukup dan bisa-bisa berujung pada tombol 'delete' yang menyakitkan#lebay#. Dan saia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk yang mau membaca fic ini, saia tak mengira yang suka pair ini cukup banyak juga#nangis bombay#abaikan#
Saia juga tidak mengira fic ini banyak yang review, mengingat saia masih SANGAT newbie di FFN ini. Khusus pada chapter ini saia bikin cukup panjang diantara chapter-chapter sebelumnya dan tentu saja lebih istimewa karena fic ini hasil kolaborasi pertama saia dan Shirayuki Hana Hikari(thanks Ha-Chan!) serta tulisan lemon pertama saia(kini saia mengerti betapa sulitnya bikin lemon = =') maaf jika ada bahasa-bahasa yang terpaksa harus saia ganti menjadi bahasa yang lebih 'sopan' karena saia sendiri belum berani menulis dengan bahasa yang sangat 'vulgar'.
Tambahan Seperti Biasa:
~Reich Beilsmidcht: Holy Roman Empire(saia nggak tahu HRE itu sama atau nggak dengan Germany, jadi saia anggap mereka berdua itu berbeda XP #dasar author sarap#)
~Rizky Haditya: Indonesia(anggap aja sketchnya cak Himaruya itu salah!#ngamuk gara-gara gak terima Indonesia itu kayak banci taman lawang#)
~Randy Haditya: Malaysia(yuhuy! Saia suka banget melayucest yaoi~)
~Viet Thei Sian: Vietnam(of course)
~Seysillia Bonnefoy: Seychelles(huehehehe#ketawa laknat#)
~Lily Zwingly: Liechstein(dah tahu kan dari namanya?)
Nama-nama diatas adalah hasil dari meres otak dan comot dari nama beberapa teman-teman saia. Jika ada kesamaan mohon maklum karena saia tidak punya waktu untuk mengecek fanfic satu-satu.
Jadi seperti biasa
MIND TO GIVE ME A REVIEW PLEASE?
