Disclaimer: I don't own Kaichou wa Maid-sama!
Chapter 4
-o-
SMA Seika – Pulang Sekolah 03.00 PM
Setelah selesai rapat, Misaki segera pergi ke atap sekolah. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba Usui ingin berbicara dengannya.
Apakah ini ada hubungannya dengan kakaknya? Ini sangat misterius… Aku menjadi penasaran. Pikir Misaki. Ia sudah sampai di atap tetapi tidak ada orang di sana. Ia berjalan ke pinggir dan berdiri menghadap balkon. Melihat ke langit. Warna merah oranye mulai menghiasi langit. Ia tidak tahu kenapa ia mulai menyukai pemandangan matahari terbenam tetapi ia menyukainya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat lagi. Lalu ia mengingat sesuatu. Ingatan tentang ayahnya.
Flashback
"Papa, ayo ke sini..!" Seorang gadis kecil melambaikan tangannya ke ayahnya. Dia adalah Misaki ketika berusia 6 tahun.
"Tunggu, Misaki! Jangan lari-lari!"
Misaki berlari kembali ke arah ayahnya tiba-tiba ia tersandung/
"Ouch!" Misaki jatuh dan meringis kesakitan.
"Misaki! Apa yang terjadi?"
"Aku tersandung, Papa! Aku baik-baik saja…" Misaki tersenyum, berusaha meyakinkan ayahnya supaya tidak khawatir. Tetapi kau tahu… seorang ayah. Ayahnya menggendongnya dan menduduknya di bangku. Ia mengangkat roknya dan melihat ada lecet di lututnya.
"Ouch…"
"Lihat kan Misaki, kamu gak dengerin papa sih.." Ayahnya meniup lukanya pelan-pelan.
"Oww…"
"Sudah enakan?"
"Yeah…terima kasih papa!" Misaki tersenyum lagi dan memeluk ayahnya.
Ayahnya pun membalas pelukannya. Setelah itu, ia berputar dan menepuk punggungnya ke Misaki.
"Naik ke sini! Aku akan menggendongmu."
"Aku baik-baik saja, Papa."
"Cepat!" Ayahnya tetap bersikeras.
Misaki mengalah dan mengalungkan tangannya di leher ayahnya. Lalu ia mengalungkan kakinya di pinggang ayahnya. Setelah merasa aman, ayahnya berdiri.
"Papa?"
"Hmm?"
"Papa suka sunset?" tanya Misaki dengan sangat lugu.
"Yeah, aku suka sunset. Aku sangat menyukainya. Saat melihat sunset, rasanya sangat nyaman. Kau tahu, aku melamar ibumu pada saat sunset. Misaki suka sunset juga?" Misaki mengangguk dan menaruh dagunya di atas bahu ayahnya. Ia mengantuk, jadi ia menutup matanya dan tidur. Merasakan kepala anakya di pundaknya. Ayahnya menoleh dan tersenyum melihat muka Misaki yang tidur. Ia berjalan kembali ke rumah mereka. Dan mengeratkan pelukannya.
End of flashback
Misaki menghela napas. Ia sangat merindukan ayahnya walaupun ia membencinya karena telah meninggalkan keluarganya. Ia tidak merakan kehadirannya. Dua tangan kekar memeluk Misaki dari balakang. Ia agak memberontak tetapi ketika ia mencium baunya, ia tahu siapa itu jadi ia berhenti memberontak.
"Takumi?"
"Hmm?" Usui mencium rambut Misaki yang harum cherry. Hangat napasnya terasa di kulit lehernya membuat Misaki merinding.
"Ap-apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Misaki dengan suara bergetar.
"Kau punya rencana besok?"
"Aku rasa hanya kerja."
"Lalu maukah kau pergi denganku? Maksudku seperti kencan?"
"Na-nani?" Misaki berputar untuk berhadapan muka dengan Usui.
"Kenapa... kenapa tiba-tiba?" Mukanya menjadi merah.
"Aku ingin menghabiskan weekend ku dengan my precious maid." Usui menyengir.
"Diam!"
"Ohh, kau tidak mau?" Usui membuat muka manja.
"Ti-tidak..." Misaki panik. "…kapan?"
"Sabtu, aku akan menungguumu di taman. Jam 10. Atau bagaimana kalau aku menjemputmu?"
"Tidak, tidak usah." Lalu Misaki mengingat sesuatu. "Ahh! Kan jam segitu, aku harus kerja..."
"Jangan khawatir, aku sudah memberi tahu manager."
"Sudah kutebak..." Misaki menghela napas.
"Manager sangat bersemangat ketika aku memberi tahunya tentang ini. Dan seseorang bersedia untuk membuatkanmu baju dress, dress yang feminine." Tambah Usui.
"Tungg-! Apa! Siapa?"
"Aoi-chan."
"Bocah itu…"
"Jadi, yang harus kau lakukan adalah menerima dan pergi." Usui mengeratkan pelukannya dan mencium kepala Misaki.
"Baiklah..." Misaki menyandarkan kepalanya di dada Usui.
-o-
Inggris, Kediaman keluarga Walker – 16.30
Setelah Gerrard sampai di rumah, ayahnya dan kakeknya segera menginterogasinya.
"Jadi.. alasan dia tetap tinggal di sana karena ia nyaman tinggal di sana?"
"Ya, ayah."
"Apakah kau tahu kenapa ia sangat keras kepala? Apakah karena seorang gadis?" tanya kakeknya.
"Tidak, aku rasa tidak, kakek, ayah."
"Benarkah?" tanya ayahnya dengan muka penasaran.
Gerrard menelan ludah. "…Ye..ah.." Dengan agak gugup ia menjawab pertanyaan ayahnya.
"Baiklah, kita akan memikirkan cara lain untuk memaksanya."
"Aku ada ide. Ayo kita siapkan pernikahanmu, Gerrard."
"…Apa?"
"Kau dekat dengan Takumi, kan? Jika kau menikah, pasti, Takumi akan datang ke pernikahanmu. Lalu, setelah dia datang, kita akan menahannya untuk tetap di sini."
"Apa? Beraninya kau memakaiku!" Emosi Gerrard tidak dapat terbendung lagi. Ia tidak percaya ayahnya akan menggunakan dirinya untuk rencana kotornya.
"Jika kau menolak, aku akan memaksamu menkahi gadis lain!" ancam ayahnya.
"…!" Mata Gerrard melebar.
"Dan aku akan menyakiti keluarganya.."
Gerrard tidak suka rencana ini. Tetapi ia tidak mau pacarnya terluka.
"Aku.. akan memikirkannya.." Dengan penuh rasa sesal, ia menjawab. Ia sangat bingung. Jika ia menolak untuk menikah, ayahnya akan menyakiti dia dan keluarganya.
"Baiklah, aku akan memberimu .. umm... mungkin 2 bulan. Setelah itu, kau harus siap dengan jawabanmu.
Apa yang harus kulakukan, Takumi? Pikir Gerrard.
-o-
Taman Pusat Tokyo – Sabtu. 10 AM
Usui sedang duduk di bangku taman, melihat ke jamnya. Sekarang sudah jam 10. Tetapi Misaki belum datang. Ia menguap dan mengusap mukanya. Lalu ia mengambil sesuatu di kantungnya dan mengeluarkan sebuah kotak.
Ia membuka kotak itu dan tampaklah sebuah kalung. Kalung itu sangat indah. Kalung yang ia beli dengan uangnya hasil bekerja di Maid-Latte. Sebenarnya, kalung itu sederhana. Liontinnya berbentuk hati dengan permata di tengahnya. Dibalik liontin itu nama mereka tertulis.
Sebuah senyum sedih terlukis di wajahnya. Ia mengambil kalung itu dan memandanginya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Ia tidak tahu apa rencana ayahnya yang selanjutnya. Tetapi ia ingin memberinya tanda. Kalau Misaki adalah miliknya.
Ia menaruh kembali kalung itu ke dalam kotak dan memasukkan kotak itu ke kantungnya. Lalu ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Ia mendongak dan melihat seorang gadis yang terengah-engah di depannya. Gadis itu adalah Misaki. Ia mengenakan dress berwarna pink dengan panjang selutut, pita berwarna putih menghiasi pinggangnya. Lengan bajunya berbentuk seperti lengan balon. Dia juga mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Sangat cocok dengan bajunya. Rambutnya diikalkan dan poninya dijepit ke atas. Ia sangat cantik.
"Lama menunggu?" tanya Misaki.
"Tidak.. kau tidak lama." Usui berhenti. Ia berdiri dan mendekati Misaki. Ia menyentuh rambut Misaki dan menciumnya. "Kau... sangat... cantik." Kata Usui dengan pipi yang agak merona.
Muka Misaki memerah. "T-terima kasih..." Ia menoleh ke arah lain. Usui tersenyum dan menggenggam tangan Misaki.
"Siap untuk pergi?" tanya Usui.
"Baiklah..."
-o-
Taman Pusat Tokyo – Sabtu, 10 AM
Kitaro Ayuzawa's POV
Hello, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku adalah Kitaro Ayuzawa. Aku adalah ayah dari Misaki Ayuzawa dan Suzuna Ayuzawa. Aku adalah ayah yang buruk. Aku sudah meninggalkan keluargaku demi uang. Aku meninggalkan keluargaku ketika Misaki berumur 13 tahun. Aku tahu yang kulakukan itu salah. Setelah 3 tahun aku baru menyadari kesalahanku. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku ingin bisa bersama keluargaku lagi. Tetapi, dengan semua kesalahanku ini... bisakah aku dimaafkan?
TBC
Update lagi! Hahaha... hampir ketawa pas baca review. Author gak putus asa kok. Author udah tahu kalau publish cerita di sini bakalan susah dapet review. Tujuan author bikin cerita ini bukan buat dapetin review tapi ngeramein aja. Jadi tetap review ya. (^.^)
