Disclaimer: Don't own Maid-sama!
Pairing: TakuMisa forever!
Genre: Romance/Drama
Rated: T
.
.
Shattered Heart (Indonesian Version) – Chapter 6
Multi-chapter
Don't Like Don't Read
.
.
Misaki berjalan pelan ke arah taman. Seharusnya ia berada di rumah sekarang tetapi ia berubah pikiran. Entah mengapa, ia malah ingin pergi ke taman. Usui tidak mengantarnya pulang karena tiba-tiba ia mendapat telpon dari saudaranya. Misaki tidak ingin merepotkan Usui, Misaki memberitahu Usui kalau ia ingin pulang sendiri. Sebenarnya Usui kurang setuju tetapi apa boleh buat Misaki tetap bersikeras sehingga terpaksa Usui membiarkannya pulang sendiri.
Misaki menyentuh kalung barunya dan tersenyum berseri-seri. Ia masih mengingat dengan jelas saat Usui memberikannya kalung itu. Itu adalah kenangan yang sangat manis.
Misaki berhenti di depan sebuah toko elektronik yang dikerumuni banyak orang. Semua orang menonton berita yang sedang disiarkan di televisi display itu. Karena penasaran, Misaki ikut menonton berita itu. Berita itu tentang seorang CEO dari sebuah perusahaan makanan nomor satu di Perancis, yang ternyata adalah orang Jepang asli.
Alasannya untuk kembali ke Jepang adalah untuk kembali ke keluaganya yang sempat ditinggalkannya. Semua orang berdecak kagum begitu mendengar alasan laki-laki itu. Misaki tidak bisa melihat mukanya karena tidak sengaja tertutup oleh wartawan yang ingin mewawancarainya. Tetapi Misaki dapat mengatakan laki-laki sudah berumur dan mungkin seumur ayahnya karena rambutnya yang telah memutih.
Aku harap ayah seperti laki-laki itu. Kembali ke sini untuk kembali ke keluarganya. Pikir Misaki.
"Ia adalah ayah yang baik, bukan?" Tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki tua dibelakangnya. Misaki menoleh ke belakang dan menemukan seorang laki-laki berbaju lusuh dengan janggut putih di dagunya berdiri di belakangnya.
.
.
-o-
.
.
Keitaro sedang duduk terdiam di bangku taman. Ia sedang berpikir tentang bagaimana cara untuk kembali ke keluarganya. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi Minako atau Misaki. Ia takut mereka tidak mau kembali kepadanya karena sudah terlanjur membencinya. Keitaro menghela napas dan melihat keadaan di sekitarnya. Ia melihat seorang perempuan berambut hitam berdiri di tengah kerumunan orang. Gadis itu terlihat seperti Misaki. Keitaro pun memutuskan untuk melihatnya dari dekat.
Ternyata benar gadis itu adalah Misaki. Ia melihat mata Misaki menonton berita itu dengan seksama. Keitaro pun mendengarkan berita itu dan menyadari jika berita itu tentang dirinya. Rumor menyebar begitu cepat. Pikirnya.
Padahal baru 2 hari yang lalu ia tiba di sini dan rumor sudah menyebar begitu luas. Keitaro pun tahu apa yang sedang dipikirkan Misaki sekarang ini. Ia berharap ia bisa berbicara dengan Misaki.
"Ia adalah ayah yang baik, bukan?" kata Keitaro.
Misaki memandangi pria tua itu dan dahinya sedikit berkerut. Tetapi akan sangat tidak sopan jika ia tidak membalas perkataan laki-laki itu.
"Aaah iya.. ia adalah ayah yang baik…" jawab Misaki sopan.
"Namaku Nishimura Kaito." Keitaro memperkenalkan dirinya dengan nama palsu.
Well, ia cukup banyak nama palsu. Di perusahaannya ia menggunakan nama Takagi Takeru, yang hanya mengetahui nama aslinya adalah Ayuzawa Keitaro hanyalah asisten pribadinya.
"Nama saya Ayuzawa Misaki."
"Wuaaah… Nama yang bagus untuk seorang gadis cantik sepertimu, anak muda."
Misaki tersipu malu dan menundukkan wajahnya.
"Terima kasih, paman."
"Dan kau sangat sopan sekali. Di jaman seperti sekarang ini, sangat jarang anak muda yang berperilaku sopan sepertimu," ucap Keitaro sambil mengelus janggut putihnya. Ia benar-benar berakting total agar telihat seperti seorang laki-laki tua.
"Maukah kamu menemaniku berbicara, anak muda?" tanya Keitaro.
Misaki bimbang antara ingin menolak atau tidak. Jika ia menolak berarti ia akan tidak sopan. Baiklah, demi mempertahankan image yang sudah ada, Misaki pun menerima tawarannya.
"Baiklah."
Keitaro mengajaknya duduk di bangku taman yang ia duduki tadi. Ia duduk di sebelah Misaki tetapi tidak begitu dekat.
"Dimana kamu sekolah?"
"Saya sekolah di SMA Seika."
"Bukankah itu adalah sekolah khusus laki-laki?" Keitaro terkejut begitu mendapati putrinya sekolah di sekolah khusus laki-laki.
"Tadinya, tetapi sekarang sudah berubah. Sekolah ini sudah berubah total menjadi sekolah umum. Bahkan saya sendiri menjabat sebagai ketua OSIS di sana."
"Benarkah? Bagaimana bisa?"
"Mungkin paman tidak akan menyangka jika saya dijuluki 'Ketua Iblis' di sekolah saya. Gini-gini saya galak lho, paman," ucap Misaki sambil tertawa kecil.
Keitaro merasa senang melihat Misaki tertawa. Misaki sendiri entah mengapa merasa nyaman berbicara dengan laki-laki ini. Rasanya seperti berbicara dengan ayahnya sendiri, tetapi Misaki sadar laki-laki ini bukanlah ayahnya. Menyadari Misaki terdiam, Keitaro berusaha mengajaknya berbicara lagi.
"Kamu sudah punya pacar?"
"Eeeehhh? It- kok…" jawab Misaki gugup.
"Lalu laki-laki yang menjemputmu tadi siapa?"
"Kok paman bisa tahu?"
"Dari tadi pagi aku sudah berada di sini untuk menenangkan pikiran. Lalu aku melihatmu tadi bersama pacarmu. Ia yang memberikan kalung itu padamu kan? Laki-laki itu seleranya bagus juga dan pasti sangat romantis."
"Uhh… itu…"
.
.
-o-
.
.
"Ooohhh, jadi tadinya dia hanya seorang teman yang menyimpan rahasiamu. Lalu kalian tambah dekat dan sekarang ia menjadi pacarmu?"
"Dia bukan pacar, dia teman."
"Iya, teman yang akan menjadi pacar. Ya kan?" Keitaro tersenyum menggoda.
"Paman!"
"Maaf.. maaf… Menggodamu seperti ini mengingatkanku dengan anak perempuanku, kau tahu?" Keitaro menghela napas. "Itu membuatku mengingat kenangan lama," kata Keitaro sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Misaki.
Keitaro terdiam. Rautnya mukanya berubah menjadi sedih.
"Maafkan saya. Seharusnya saya tidak menanyakannya."
"Tidak apa-apa, Ayuzawa-chan. Tetapi aku tidak bisa menceritakannya sekarang, mungkin lain kali." Keitaro melirik jam dan menyadari jika ini sudah hampir larut malam. Tidak terasa mengobrol dengan Misaki membuatnya lupa waktu.
"Waahh.. sudah malam rupanya. Kamu harus pulang sekarang nanti orang tuamu khawatir."
"Hmm… Saya hanya tinggal bersama ibu dan adik saya, paman."
"Ayah?"
"Sudah pergi meninggalkan kami, sejak saya kelas 3 SMP. Lagipula ibu saya tidak akan khawatir. Ia sedang bekerja sekarang."
"Bekerja? Di malam hari seperti ini?"
Misaki mengangguk.
"Iya, dia bekerja sebagai cleaning service di sebuah perusahaan. Shiftnya mulai di malam hari."
"Kenapa ibumu bekerja di malam hari?"
"Karena kami membutuhkan uang untuk hidup… Keluarga saya sangat miskin sehingga saya dan adik saya sendiri harus bekerja sambilan untuk mendapatkan uang. Apalagi ayah saya meninggalkan kami dengan banyak hutang. Jika kami tidak membayar hutang itu, kami akan diusir."
"Sebaiknya saya pulang sekarang, adik saya pasti akan mencari saya. Saya juga harus belajar untuk mendapatkan beasiswa ke universitas nanti. Selamat malam, paman!" Misaki membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan Keitaro.
Keitaro tertegun mendengar perkataan Misaki. Kata-kata itu membuatnya tidak dapat berkata-kata. Ia benar-benar sangat berdosa kepada keluarganya. Ia pun berjongkok dan menjambak rambutnya.
"Kami-sama… dosa apa yang telah kuperbuat…?" Keitaro menangis sedih.
Asisten Keitaro yang baru datang pun segera menghampirinya dengan khawatir.
"Bapak? Anda tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja. Mari kita pulang."
.
.
-o-
.
.
Usui's Apartment, Sabtu 10.13 PM
Pria berambut pirang ini baru saja mandi. Rambutnya masih basah dan tubuhnya pun masih dibalut baju mandi. Ia mengambil kaca matanya dan memakainya. Berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sofa. Tanpa peduli dengan rambutnya yang basah, ia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa tersebut.
Yang menelponnya tadi adalah Maria, mantan guru privatnya sekaligus sepupu jauhnya. Karena sudah lama tidak bertemu, Maria menelponnya hanya untuk sekedar melepas kerinduan. Pembicaraan mereka tidak ada yang spesial hanyalah basa basi. Menanyakan kabar, bagaimana sekolah, punya pacar atau belum, dan sebagainya.
Namun ada satu kalimat yang janggal. Hal itu sangat mengganggu pikirannya.
Kalimat itu adalah, "Jika kau tidak ingin ia terluka, jauhilah dia."
Siapakah 'ia' itu? Padahal sepertinya di pembicaraan tadi, ia tidak menyebutkan nama orang satupun.
"Apa sih maksudnya?"
TBC
Akhirnya update juga… udah berapa bulan gak update? Mungkin sekitar 5 bulanan kali ya? Hehehe gomen deh, author baru aja dapet inspirasi tadi pagi. Makanya langsung author ketik, dan akhirnya jadi juga dalam waktu 2 setengah jam. Rekor baru! Hahahaha…
Oh iya, author mau ngucapin maaf kepada semuanya, karena mulai hari ini, semua umat Muslim mulai menjalankan puasa. Sekedar info aja tadi author kesiangan sahurnya lho.. #gakpenting
Dan kemungkinan author gak bakal update lagi. Maklum author udah kelas 3 sekarang jadi musti giat belajar supaya bias masuk ke sekolah yang diidamkan, apalagi author enggak bimbel, udah jenius sih.. #plaakkk
Tapi author gak tau juga kalau misalkan yaaa… palingan curi-curi waktu buat bikin fic. Makanya ficnya pada ngadet semua. Gomen ya readers.. *sujud depan readers*
Buat para newbie nih di FMsI, ayo terus ramein! Jangan putus asa jika ada yang ngeflame! Tetep berusaha sampai titik darah penghabisan! Dan merasa banggalah jika tiba-tiba saya review hahaha… biasa jadi silent reader. Tapi jujur aja, saya jarang ngereview bukan karena sombong, tapi bingung mau ngereview apaan. Apalagi kalau ide reviewnya udah dipake sama orang lain, jadinya males deh. Ok deh author akan stop curcolnya.
Semuanya… author berterima kasih karena kalian sudah membaca dan sangat berterima kasih jika kalian juga mereview chap ini. Jangan lupa baca cerita saya yang lain ya…
Ja ne!
Outer Space-Alien XV
