Hai minna..

Akhirnya chap 2 keluar juga, (lebay ya, padahal ini pertama kalinya aku buat lanjutannya cuma selisih beberapa jam aja!) hehehehehe…

Makasih buat yang udah baca dan ripiew tulisan abalku ini. ;P

Patto-san: Iya sih, kalau terlalu hot juga aku tidak sanggup! Hehehe…

Fujo suka nyasar: Iya aku salah nulis "fin" tuh! Memang udah niat kok kalo ini bakalan jadi multichapter. Bocoran dikit nih, memang sebelum ama Naru, Sasu itu playboy abis. Tapi soal playboy nya dia dan gimana mereka pacaran bakalan aku kasih tau tapi tidak di chap ini ya! Ditunggu aja, soalnya chap skrg membahas alasan Sasuke, Naruto dan 'itu'! hehehehe… keep R&R ya..

ChaaChulie247: Iya emang Sasuke tuh mesum abis! *jangan bilang2 Sasuke ya, aku masih mau idup! Hehehehe…. Soal jawaban kenapa belum terungkap banget di chap ini, tapi mulai sedikit terungkap kok! Ripiew terus ya *ngarep abiez nih….

Pokoknya, makasih banget buat yang mau baca dan ripiew tulisanku. Mudah-mudahan chap skrg tidak mengecewakan ya! Amin deh!

Daripada aku curhat lebih panjang lagi, mending mulai aja ya! Oke

..

.

Semua selalu indah pada waktunya

Dan kau membuatku percaya

Cinta kita membuat hidupku bahagia

Selalu

..

.

HANYA UNTUKKU

Pairing: SasuNaru / NaruSasu?

Genre: Romance

Rate: M

Warning: OOC, gaje, abal, miss typo, boys love, lemon etc

..

.

GAK SUKA?

MENDINGAN GAK USAH BACA

..

.

'Met baca

..

.

Pagi yang cerah di Konoha High School, namun teramat pagi untuk memulai aktivitas belajar. Tapi di salah satu sudut di kelas, ada 3 pemuda berwajah manis tampak sedang berbincang dengan serunya. Uke-uke paling popular di KHS. Naruto, Gaara, dan Kiba tiga sahabat yang telah bersama dari mereka kecil.

"Jadi gimana kemarin Naruto?" Kiba memulai pembicaraan mereka dengan nada yang tidak sabar. Teramat tidak sabar, karena ingin segera mengetahui kejadian yang dialami sahabatnya kemarin.

"Iya Naruto, gimana?" Gaara malah kini bertanya sambil sedikit menggoncang-goncangkan badan Naruto. Penasaran abis.

"Hmmm… aku jadi bertanya sama Sasuke.."

"Terus..terus…"

"Hei Kiba, belum juga Naruto berbicara kamu malah main potong gitu aja!" Gaara sedikit membentak Kiba yang memotong ucapan Naruto.

"Hehehe…." Hanya cengiran yang di berikan Kiba untuk kedua sahabatnya. "Jadi gimana?" Sambung Kiba penasaran.

"Aku…"

Flashback

"Bisa kita mulai Naruto-koi?"

Suara Sasuke begitu menggoda ditambah dengan seringai yang terpasang di wajah tampannya. Terlihat kesenangan ada disana, sedangkan si pirang wajahnya sudah teramat pucat pasi. Dan Naruto hanya bisa menahan nafas secara spontan, saat melihat sang kekasih perlahan mulai mendekatinya.

'Mungkinkah?'

"Kenapa wajahmu jadi pucat dobe?" Tangan halus Sasuke membelai pipi tan Naruto dengan lembut, tapi tak mampu menghentikan debaran jantung Naruto yang berdetak sangat cepat. "Rileks dobe!" Bisikan lembut Sasuke dan hembusan nafasnya di leher Naruto membuat Naruto sama sekali tidak bisa berfikir lagi.

Keringat dingin mengalir deras di wajah manis Naruto, badannya sedikit gemetar saat Sasuke mulai membuka satu persatu pakaian yang dikenakannya. Baju, celana, semua kini entah ada dimana, Naruto hanya mampu tertunduk malu saat menyadari tak satu pun pakaian melekat di tubuhnya. Dan ketegangannya semakin terasa, saat Sasuke menuntunnya menuju kasur. Naruto duduk dengan kepala yang terus tertunduk.

"Kenapa dobe?" Tangan Sasuke meraih dagunya, dan memaksa Naruto menatap matanya. "Bukankah ini yang kamu inginkan?" Dan dengan perlahan, Sasuke membuka kedua paha Naruto lebar-lebar. "Sepertinya ada yang mulai menegang disini." Bisikan lirih Sasuke, terdengar tenang dan berhasil membuat Naruto berhenti bergetar.

"Ahhh…" Tubuh Naruto kembali bergetar saat Sasuke dengan pelan meraih kejantanannya. Mulai memanjakannya, dengan memijit secara lembut. Dan tak hanya itu, Sasuke pun mulai menjilati tubuh Naruto yang sama sekali tidak tertutupi oleh pakaian. Desahan Naruto semakin kencang terdengar, kenikmatan yang menderanya membuatnya melemah. Tubuhnya tak sanggup untuk tetap duduk, hingga kini Naruto terlentang di atas kasur dengan kedua kaki yang menjuntai ke bawah. Sasuke memperlakukan Naruto teramat lembut, membuai semua ketakutan yang tadi sempat dia rasakan. "Sasu-keee" Desahan Naruto semakin kencang, merasakan kenikmatan di kejantanannya saat Sasuke mulai memanjakannya dengan mulut dan lidahnya.

"Kamu menyukai ini dobe?" Tanya Sasuke lirih diantara bunyi-bunyi saat dia memanjakan kekasihnya. Dan tanpa mengharap jawaban, karena Sasuke tahu Naruto menyukainya. Wajah tan-nya kini berubah memerah semerah buah tomat kesukaannya. Dan terlihat Naruto menyukainya, membuat Sasuke tambah semangat untuk memuaskan dobe-nya.

"Oughh… Sasuukeeee.." Jeritan pelan sang kekasih dimengerti dengan baik oleh Sasuke. Mengerti kalau kekasihnya hampir sampai di sebuah kenikmatan sesungguhnya. Sasuke pun mempercepat pekerjaan mulut dan lidahnya, seolah menjawab permintaan Naruto di teriakannya tadi. "Ahh..ah..ah.. Saa-Saasukee.. aku keluaarrrr…." Teriakannya diiringi semprotan deras di dalam mulut Sasuke, yang langsung diterima Sasuke dengan senang hati. "Ahh…" Desahan terakhir Naruto bersamaan dengan Sasuke yang mengeluarkan kejantanan Naruto dari mulutnya.

"Gimana dobe?" Sasuke membelai wajah manis Naruto yang baru saja mendapatkan kenikmatan surga dunia. "Apa sekarang kamu siap?" Sasuke kembali bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari mata indah Naruto.

"Humm.." Hanya itu yang terucap dari Naruto. Tersirat sedikit kekhawatiran juga ketakutan di wajah tan-nya yang berusaha disembunyikan oleh Naruto. 'Aku harus siap, aku tidak mau mengecewakan Sasuke!' Kata hatinya seakan berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kalau semua ini memang keinginanya.

"Kamu yakin?" Sasuke kembali bertanya, melihat ada sesuatu di mata Naruto. Keraguan. "Kamu tahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Naruto hanya bisa menggeleng lemah. "Aku tahu, hm.. dobe…" Kini jemari Sasuke mulai turun, menuju ke lubang yang berada di bawah kejantanannya. "Dobe, lubang ini teramat rapat bukan.." Sasuke mengelusnya pelan, sedangkan Naruto menatap Sasuke dengan perasaan ingin tahu.

'Apa maksudnya Sasuke?'

"Dobe, lubang yang sempit ini akan dimasuki oleh kejantananku.." Sasuke hanya menghela nafas pelas, saat dirasa muka Naruto memucat. "Ya, itulah cara kita bersatu dobe!" Sasuke menjelaskan, dengan perlahan dibukanya lubang itu dan memasukkan jari telunjuknya.

"Sa-sakiitt…!" Naruto berteriak, dan segera bergerak seakan berusaha menjauhkan tubuhnya dari jari Sasuke.

"Haaahh…" Tarikan nafas Sasuke menyadarkan Naruto, dan entah kenapa dia merasa sangat menyesal.

"Maaf teme, aku…." Naruto tak mampu melanjutkan kata-katanya, malah kini matanya berkaca-kaca. Dan tanpa bisa dicegah, butiran Kristal itu jatuh membasahi pipinya. "Maaf.." Sekali lagi Naruto mengucapkannya, disela tangis yang mulai tercipta.

"SShh…." Sasuke membelai pelan pipi Naruto, menghapus butiran Kristal yang mengalir dengan deras. "Kamu sama sekali gak perlu minta maaf, dobe!" Senyuman Sasuke mengembang, menenangkan Naruto untuk berhenti menangis.

"Tapi… tapi…"

"Naruto dengarkan aku!" Tarikan lembut Sasuke, memaksa Naruto untuk duduk dan berhadapan dengannya. "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu Naruto!" Tangan Sasuke menggenggam kedua tangan Naruto, meremasnya dengan pelan. "Aku tidak akan memaksamu! Sama sekali tidak!" Gelengan kepala Sasuke, membuat Naruto membungkam mulutnya yang mencoba protes. "Itu sebabnya aku tidak mau melakukan 'itu' dobe!"

"Jadi.. jadi kamu tidak mau melakukannya denganku teme?" Entah kenapa mendengar penjelasan Sasuke malah membuat air matanya kembali jatuh. 'Sasuke sama sekali tidak menginginkanku!'

"Dasar dobe!" Gerutuan Sasuke membuat Naruto kembali menatap wajah Sasuke. "Bukan itu maksudku! Bukan karena tidak mau, dobe!"

"Jadi kenapa?"

"Hah.. haruskah aku menjelaskannya?"

"Iya.."

"Dobe!"

"Teme!"

"Dobe!"

"Teme!"

"Ah.. baiklah-baiklah akan aku jelaskan!" Sasuke menyerah, karena dia tahu pacarnya sangat keras kepala sama seperti dirinya. Tapi kali ini dia mengalah, demi kekasih hatinya. "Aku bukan tidak mau dobe! Malah aku sangat ingin, aku ingin memilikimu seutuhnya. Tapi aku tidak mau memaksamu, sama sekali tidak!" Ditatapnya mata Naruto dengan tajam tapi penuh kelembutan. "Aku akan menunggu, menunggumu untuk benar-benar siap!" Kini senyuman terukir di wajah kakunya.

"Jadi…"

"Iya, suatu saat kita akan melakukannya. Saat kamu benar-benar siap!" Anggukan pelan Naruto serta pelukan yang sedikit tiba-tiba membuat Sasuke hampir tertawa. Bagaimana pun dobe-nya selalu membuatnya merasa bahagia. 'Aku akan menunggu dobe, karena aku mencintaimu. Aku akan menunggu hingga kamu siap!' Sasuke hanya mengucapkan itu dalam hati, entah kenapa dia enggan mengatakannya. Mungkin dia tak mau membuat Naruto merasa bersalah.

"Makasih teme!" Naruto semakin mempererat pelukannya. Dia merasa teramat bahagia, Sasuke mau mengerti dirinya. "Aishiteru Sasuke!" Bukan yang pertama yang diucapkan Naruto, namun selalu berhasil membuatnya merona karena malu. 'Untung Sasuke tidak melihat wajahku' Bersyukur dan Naruto pun semakin mempererat pelukannya.

"Aishiteru Naruto!" Sasuke tersenyum karena hanya Naruto lah yang mampu membuatnya mengucapkan kata-kata yang dulu dianggapnya tabu untuk diucapkan.

Flashback off

"Whaaaattt?" Teriakan Kiba dan Gaara membuat Naruto harus memeriksakan diri ke THT. Kekagetan kedua sahabatnya sangat terlihat, dan sangat kompak mengingat mereka mengucapkan kata yang sama.

"Jadi kamu sama sekali belum melakukannya?" Kiba yang mulai bisa menguasai diri, kini bertanya dengan nada yang biasa. Tanpa teriakan pastinya.

"Iya." Naruto menjawab dan ada kebanggaan disana. "Habis sakit sih..!" Wajah Naruto sedikit meringis saat mengingat rasa sakitnya waktu itu. 'Untung Sasuke tidak memaksanya, kalau tidak…'

"Memang sakit sih awalnya, tapi nantinya enak kok!" Pernyataan Gaara membuat Naruto dan Kiba terjatuh dari tempat duduknya. Sama sekali tidak percaya Gaara bakalan mengucapkannya. "Kenapa? Memang enak kok!" Gaara mencoba membela diri saat merasakan tatapan tajam dari Naruto juga Kiba.

"Memang sih!" Tanpa disadari, Kiba pun mengiyakan pernyataan Gaara. Kini Naruto berbalik menatap tajam Kiba, sedangkan Gaara hanya senyam senyum tak jelas.

"Masa? Tapi aku kok sakit!" Naruto tampak ingin membela pendapatnya. 'Apanya yang enak, orang sakit gitu!'

"Kan aku bilang awalnya sakit tapi setelahnya enak Naruto!"

"Kiba benar, kamu sih belum apa-apa sudah berhenti! Jadinya yang kamu rasakan cuma sakitnya aja!"

"Masa?"

"Iya!" Gaara dan Kiba menjawab dengan kompak, disertai seringan di wajah keduanya. Dan anggukan Gaara juga Kiba tidak disadari oleh Naruto yang sibuk memikirkan ucapan kedua sahabatnya.

"Kenapa Naruto? Nyesel ya?" Goda Kiba yang tak tahan melihat wajah polos Naruto.

"Enggak kok…."

"Masa sih? Padahal enak banget loh, aku aja sampai ketagihan malah!" Kini giliran Gaara yang memanas-manasin Naruto.

"Aa-aa-aapaa?" Naruto menatap Gaara kemudian Kiba dengan tatapan tidak percaya. 'Memang seenak itu ya sampai mereka ketagihan?'

"Bahkan lebih enak dari makan ramen seharian loh!" Tanpa peduli dengan Naruto yang mendadak gagap, Kiba malah makin memanas-manasin Naruto.

"Iya, pokoknya lebih dari apapun!" Sambung Gaara yang tampak menahan tawa, melihat Naruto yang cengo dengan mata yang hampir melompat keluar.

"Lebih enak dari makan ramen seharian?" Naruto mengulang perkataan Kiba pelan namun dapat di dengar oleh Kiba juga Gaara. 'Lebih enak dari makan ramen seharian?' Naruto yang sibuk merapalkan kalimat Kiba, tidak menyadari kalau kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan geli.

'Naruto yang polos' Hanya itu yang mereka ucapkan dalam hati.

..

.

Skip time

..

.

Naruto tampak gelisah menunggu sang kekasih di pintu gerbang. Maklum Sasuke ketua OSIS jadi sangat sibuk, tapi Naruto sangat ingin bertemu dengan Sasuke.

'Kenapa lama sekali sih?' Gerutuan terus terucap dalam hati Naruto, mengingat kakinya mulai pegal berdiri terus.

Namun gerutuan Naruto segera berhenti saat dilihatnya Sasuke yang setengah berlari menuju tempatnya berdiri.

"Sudah lama?" Tanya Sasuke yang terlihat semakin tampan dengan sedikit keringat di keningnya.

"Enggak kok, pulang yuk!" Naruto segera mengajak Sasuke untuk pulang. Dan mereka pun melangkah beriringan tanpa gandengan tangan sih.

'Lebih enak dari makan ramen seharian' Kata-kata Kiba kembali terngiang di telinga Naruto. 'Masa sih? Tapi sakit' Gelengan pelan Naruto lakukan, seakan ingin menghilangkan kata-kata Kiba yang terus berkeliaran di kepalanya. Membuatnya sama sekali tidak bisa konsentrasi. 'Tapi Gaara bilang, awalnya memang sakit tapi nantinya enak dan dia bilang kalau dia malah ketagihan! Berarti memang enak dunk!'

"Sasuke…" Dengan perlahan Naruto memanggil nama kekasihnya serta menarik tangan Sasuke untuk menghentikan langkah kaki Sasuke.

"Hn." Sasuke berhenti meskipun sedikit malas, karena dia sangat ingin segera pulang dan istirahat. Tapi diturutinya saat Naruto menarik tangannya kearah taman yang kemarin mereka kunjungi. 'Taman lagi? Ada apa lagi dengan si dobe ini?' Entah kenapa Sasuke merasa heran dengan tingkah laku kekasihnya. Sepanjang jalan diam, dan kini mengajaknya ke taman. Sasuke memang merasa aneh dengan diamnya Naruto, tapi dia terlalu capek untuk bertanya. Ya seperti itulah.

"Sasuke…" Sekali lagi Naruto memanggil Sasuke, saat mereka sudah duduk di bangku yang kemarin.

"Apa dobe?" Sasuke terlihat kesal, daritadi Naruto hanya memanggil namanya tapi sama sekali tidak bicara apa-apa.

"Anu.. aku..aku…"

"Aku apa dobe?" Sasuke bertanya dengan tidak sabar.

"Aku ingin merasakannya!" Naruto menunduk saat mengucapkannya, sungguh dia merasa malu.

"Hah?" Sasuke cengo dengan tidak etis, untuk taman sepi kalau tidak semua pasti pingsan melihat raut muka aneh Sasuke.

"Aku ingin melakukannya, teme!"

"Bukankah aku sudah bilang jangan buru-buru dobe!" Sasuke berusaha menjelaskan pada Naruto, kalau dia sama sekali tidak mau memaksanya.

"Aku sudah siap kok!" Naruto menatap wajah Sasuke dengan keyakinan penuh. Dia sudah siap.

"Yakin?" 'Akhirnya.. mudah-mudahan…'

"Iya!" 'Aku yakinlah, kalau seenak bahkan lebih enak dari makan ramen seharian, aku mau banget malah!'

"Beneran?" 'Asyik nih… capekku pasti hilang bahkan lenyap tak berbekas kalau begini'

"Iya!"

"Tapi sakit loh!" 'Mudah-mudahan dia tidak takut sakit ya!'

"Aku tahu, tapi nantinya enak kan?" 'Iya teme, tapi Gaara bilang itu awalnya dan setelahnya bakalan ketagihan'

"Iya, tapi kamu yakin?"

"Iya teme!"

"Tapi nanti kamu gak bisa jalan normal loh!"

"Iya teme!"

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

"Apaaa?" 'Gak bisa jalan? Terus gimana nantinya?'

"Iya dobe!" 'Sepertinya aku salah bicara nih, dasar bego!'

"Nanti jalanku aneh?"

"Iya dobe!"

"Kalau gitu nanti saja, besok kan ada pertandingan olahraga antar kelas! Ayo kita pulang!" 'Sebaiknya aku nanya Gaara dan Kiba dulu deh, susah jalannya sampai gimana. Tadi mereka sama sekali tidak bilang, dasar teman yang tak jujur!'

"Iya dobe!"

1 detik

"Ehh? Gak jadi nih?" 'Ternyata gagal lagi deh!'

"Iya teme!" Tanpa perasaan, Naruto bangkit dan mulai berjalan. "Ayo pulang teme!" Teriak Naruto saat melihat Sasuke masih duduk diam tak bergerak.

"Hn." Dengan raut muka kesal, Sasuke bangkit mengikuti sang kekasih yang telah jalan duluan. 'Kenapa juga tadi mesti nanya yakin apa gak, mestinya langsung aku ajak saja! Hah.. dasar bego, mesti bersabar lagi deh!' Untuk pertama kalinya, Sasuke merasa kepintarannya selama ini sangat tidak berarti.

'Tapi tidak hari ini, mungkin besok! Lihat saja, kemarin menolak sekarang memohon! Dasar dobe!'

..

.

Chap 2 end

..

.

Wkwkwkwkwk….

Eits.. maaf, keceplosan abis gak kuat. Entah kenapa aku malah buat lanjutan yg ini dulu, hehehe…

Gimana? Gimana?

Jelek?

Abal?

Gaje?

Hehehe…

Ripiew dunk, kasih tau kesan dan pesan setelah membaca tulisan abalku ini oke!

Mudah-mudahan tidak mengecewakan ya! *bener-bener ngarep

Thanks udah mau baca

Ripiew ya!

Arigato!