Semua selalu indah pada waktunya

Dan kau membuatku percaya

Cinta kita membuat hidupku bahagia

Selalu

..

.

HANYA UNTUKKU

Pairing: SasuNaru / NaruSasu?

Slight SasuSaku, SasuSai

Genre: Romance

Rate: M

Warning: OOC, gaje, abal, miss typo, boys love, lemon etc

..

.

GAK SUKA?

MENDINGAN GAK USAH BACA

..

.

'Met baca

..

.

"Jadi kamu belum berhasil juga Sasuke?" Sebuah pertanyaan yang tampaknya langsung disesali oleh Neji, saat mendapatkan tatapan mematikan dari sahabatnya.

"Yah.. kamu terlalu baik sih!" Giliran Shikamaru yang mendapatkan tatapan tajam Sasuke.

"Berisik!" Dengan kesal Sasuke membentak kedua sahabat baiknya. 'Memangnya kenapa? Tidakkah mereka mengerti kalau aku sama sekali tidak ingin memebuat dobe-ku ketakutan. Aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum!' Sayang sekali, semua kata-kata manis itu hanya mampu diucapkannya dalam hati, seorang Uchiha tidak boleh menunjukkan perasaannya. Itu yang selalu di katakan oleh ayahnya.

"Padahal kita sudah memanas-manasin Naruto! Kalau gini sia-sia dunk usaha kita Kiba!" Kini Gaara yang merupakan kekasih Neji angkat bicara. Pertemuan kali ini terasa menggelikkan baginya, bagaimana tidak mereka (maksudnya kiba sahabatnya) dan pacar mereka juga pacar sahabat mereke (maksudnya Naruto) berkumpul tanpa Naruto.

"Iya, padahal kita udah bilang kalau melakukan 'itu' tuh enak banget! Eh taunya sia-sia!" Kiba menambahkan pendapatnya.

"Jadi menurutmu, itu sangat enak Kiba-koi!" Sebuah bisikan dan tarikan lengan di perut Kiba menyadarkannya. Shikamaru menatapnya dengan tatapan yang sangat menggoda. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita lakukan hal yang sangat enak itu sayang?" Shikamaru mulai menggoda dengan menjilati kuping kekasih hatinya. Menimbulkan suara desahan yang spontan keluar dari mulut Kiba. Mendengar desahan kekasihnya, Shikamaru semakin bersemangat. Kini tangannya tidak lagi memeluk perut kekasihnya, melainkan mulai merambat naik mencari sesuatu yang selalu menegang saat dia goda.

"Ah…" Desahan Kiba kembali terdengar bahkan lebih keras saat dia merasakan tangan kekasihnya menggoda pundak dadanya. Membuatnya merasa keenakan.

"Eheem….!" Suara yang sedikit keras mengejutkan Kiba juga Shikamaru. Menyadarkan kalau mereka sedang ditonton oleh sahabat-sahabatnya. Mau tidak mau, Kiba menjauhkan tangan kekasihnya itu. Memaksa Shikamaru menarik kembali tangan juga merubah posisinya.

"Kira-kira dong, masa mau ngelakuin di depan kita!" Gerutu Gaara dengan muka memerah. Entah karena marah atau karena hal yang lain.

Sedangkan Neji menatap mereka dengan tatapan mencela. Sasuke? Dia menatap dengan tatapan yang jarang diperlihatkannya. Tatapan iri! Seorang Uchiha merasa iri!

"Kenapa Sasuke? Iri?" Neji langsung berkata saat dia merasa sahabatnya ini bertingkah aneh.

"Tentu saja iri!" Timpal Shikamaru yang sudah dalam posisi normal namun tetap dengan tangan yang memeluk kekasihnya, Kiba. "Dulu, setiap hari kamu melakukannya! Bahkan dalam sehari kamu bisa melakukannya berkali-kali dengan orang yang berbeda pula! Sekarang kamu tidak bisa melakukannya, makanya kamu iri kan?"

"Berisik!" Bentak Sasuke kesal, sebenarnya apa yang dikatakan Shikamaru begitu mengena di hatinya. Karena memang itulah yang terjadi, dulu dia bisa sesering yang dia mau, tapi sekarang dia harus menahannya.

"Terus kalau kamu ingin, kamu main sendiri dong?" Perkataan polos Gaara tak bisa di bendung oleh Neji. Menghasilkan tatapan maut dari Sasuke, yang langsung dibalas pelukan oleh Neji seakan mengatakan kalau Sasuke jangan menyakiti Gaara.

"Terserahlah!" Sasuke bangkit dan meninggalkan sahabat-sahabatnya. Tidak tahan mendengar sesuatu yang memang benar adanya, tapi terlalu memalukan untuk dia akui.

"Kasihan Sasuke!" Neji mengucapkan saat Sasuke telah menghilang dari tempat mereka berkumpul.

"Iya padahal dulu dia sangat sering, sekarang tidak sama sekali! Bukankah itu sangat mengenaskan?" Kini Shikamaru menimpali dengan tatapan sedih.

"Habis bagaimana lagi, Naruto terlalu polos untuk hal itu!" Kiba berbicara dengan ketus, entah kenapa dia merasa 2 sahabat Sasuke ini seakan menyalahkan Naruto sahabatnya.

"Hei, aku dan Neji sama sekali tidak menyalahkan Naruto kok!" Shikamaru yang menyadari perubahan nada suara kekasihnya segera menjelaskan.

Namun selanjutnya tidak ada yang berbicara, semua tenggelam dalam khayalan mereka masing-masing.

'Semoga Sasuke segera bisa melakukannya dengan Naruto!'

..

.

SASUKE's POV

'Ah semuanya menyebalkan!'

Kurebahkan diriku ke atas kasur, entah kenapa aku merasa sangat kesal. Semua perkataan mereka tadi benar, dulu aku sering melakukannya. Tapi sekarang?

Bahkan kalau ku ingat dulu aku selalu melakukannya lebih dari 3x dalam sehari. Selalu begitu, entah dengan cewek ataupun cowok. Seakan nafsuku menuntutku untuk melakukannya setiap hari tanpa mengenal tempat juga waktu.

Flashback

"Ah.. Sasuke…" Desahan indah itu terdengar sangat menggoda. Kutarik sedikit badanku, melihat makhluk indah di bawahku. Karin, salah satu senior paling diincar oleh semua siswa disini. Cantik, putih, langsing, dan berdada wah. Membuat semua mata siswa selalu tertuju pada dadanya yang indah. Kini makhluk indah itu berada di bawah tubuhku, di kelasku. Dengan rambut berantakan, kancing baju yang terbuka juga bra yang entah tadi kulempat kemana. Sosoknya yang setengah dari pinggang keatas berada di atas meja, teramat menggoda. Kulirik kedua dadanya yang besar, dan tanpa ragu segera ku remas pelan. Desahan pun kembali tercipta. Segera kugantikan remasan tanganku dengan jilatan lidahku. Tanganku sekarang bertugas melucuti semua pakaiannya tanpa sisa, merasa aman karena sekolah telah sepi. Desahan demi desahan terus keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat untuk menggodanya.

Setiap lekuk tubuhnya kubelai sesekali ku remas pelan. Dan kini tanpa ragu aku memulai untuk memasukkan kejantananku ke sarangnya. Basah, hangat sungguh membuatku tergila-gila. Dan mulai kupercepat gerakanku, rintihanpun semakin sering terdengar.

"Ah…ah…Sasuke…." Semakin cepat lagi saat kurasakan sebuah desakan yang menuntutku untuk segera di lepaskan. Dan saat desakan itu terlepas, hanya kenikmatan tiada dua yang aku rasakan.

"Mau kemana Sasuke?" Teguran halus itu memaksaku untuk kembali berbalik menghadapnya. Hanya senyuman sinis yang aku berikan untuknya, setelah itu aku meninggalkannya begitu saja. Toh apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan. Selalu begitu. Aku selalu meninggalkan orang yang telah memberikanku kenikmatan begitu saja.

Aku terkenal sebagai orang yang penuh dengan nafsu. Tanpa mengenal tempat aku akan melakukannya saat aku memang menginginkannya. Seks, buatku adalah kehidupanku. Bahkan aku tak pernah menolak saat ada yang menggodaku, selama orang tersebut memang menarik dimataku. Selama tidak ada ciuman, ya aku tidak pernah berciuman dengan mereka. Dengan semua gadis atau siapapun yang bercinta denganku, aku tidak pernah berciuman.

Flashback off

Ah, aku suka tersenyum sendiri bila mengingatnya. Sungguh aku tidak menyangka kalau sekarang aku bisa menahannya. Menahan nafsuku, bahkan untuk godaan yang selalu membuatku berusaha dengan keras agar tidak tergoda. Dan itu hanya untuknya, untuk orang yang paling aku sayangi. Demi melihatnya tersenyum, aku rela melakukan apapun untuknya.

Padahal dulu, aku tidak peduli siapapun harus menuruti kemauanku. Tidak mengenal tempat. Seperti saat itu.

Flashback

"Jangan disini Sasuke!" Suara itu teramat lirih, penuh dengan permohonan. Tapi sama sekali tidak aku pedulikan dan malah membuatku semakin semangat.

Saat ini aku bahkan tidak peduli seandainya ada yang melihat apa yang sedang aku lakukan. Toh kaca mobilku ini sangat gelap, jadi tidak ada yang bisa melihatnya. Ditambah suara klakson yang terus menerus berbunyi menyamarkan rintihan orang yang saat ini sedang aku 'kerjai'. Panas-panas di tambah macet yang sejak tadi tidak menunjukan perubahan, bukankah lebih baik bersenang-senang? Sepertiku saat ini, dengan asyik aku terus memainkan kejantanan makhluk manis di sampingku. Sai, yang merupakan sahabat aniki kini tengah aku puaskan nafsunya. Sebenarnya nafsuku juga sih.

"Achh…Sasuke…." Desahan Sai semakin membuatku mempercepat kocokan tanganku di kejantanannya yang telah menegang sempurna. Tak lupa sesekali aku meremas gemas bola-bola di bawahnya. "Ach..ach…" Kulihat Sai sebentar lagi akan keluar, dengan tanpa mengurangi kecepatan tangannku ibu jariku sibuk mengelus puncaknya. "Sasukeee… lepaass…achh…kumohon…" Rintihan Sai terdengar menggoda, juga tatapannya yang memelas. Desakkan yang sudah di ujung harus tertahan oleh jariku yang sengaja menutupnya. "Sasuke..pleasee…" Mendengar permintaannya, tanpa buang waktu aku langsung mengulum kejantanannya. Menyedotnya dengan sangat kuat, hingga…

"Acchhh…Sasu-kee…" Semprotan itu tanpa rasa jijik sedikitpun langsung aku telan dengan bersih. Tanpa ragu kutarik tubuhnya, sedikit susah memang mengingat ruang yang sempit tapi aku tak peduli. Dengan posisi Sai duduk di pangkuanku, kuhujamkan kejantananku ke lubangnya.

"Achh…sakiiitt…" Kudiamkan sebentar, member waktu untuknya menerima kejantananku di dalam lubangnya. Setelah kulihat dia mulai rileks, segera kumulai menuntun pantatnya untuk bergoyang.

"Ach…ach…Sasuke.." Sai bergoyang dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Tangannya memeluk leherku, mendekatkannya pada kedua nipple nya yang memerah. Tanpa ragu, kukulum nipple yang menggoda itu. Kujilat, kugigit, kesedot-sedot pelan nipplenya bergantian. Semakin lama, goyangan Sai semakin cepat, pijatan dindingnya semakin intens saja. "Ough..Sasuke…" kurasakan dindingnya berdenyut, dan kuraih kejantanannya yang tadi terlupakan. Kuremas dan kukocok sesuai irama kocokannya. Kejantanannya semakin lama semakin menegang dan berdenyut, dan kutahu desakan itu akan segera datang.

"Ah..ah.. aku..aku..sampaiii…Sasuke…." Jeritan Sai beriringan dengan keluarnya cairan putih yang memenuhi tanganku. Himpitan lubangnya membuatku tak dapat menahan desakanku sendiri. Dan "ach.." aku pun menyemprotkannya beberapa kali di lubang kenikmatan Sai.

Hari yang panas, tapi sangat menyenangkan.

Flashback off

Ah semakin diingat, semakin terasa kalau aku memang banyak berubah. Entah sudah berapa banyak gadis yang kuambil keperawanan mereka, atau siswi di sekolah yang memang telah terbiasa 'bermain'. Dan tak hanya itu, aku pun bermain dengan beberapa cowok yang menurutku menarik. Bahkan ada beberapa guru yang merupakan langgananku tuk menyalurkan nafsuku. Ya nafsuku, yang dulu selalu tak bisa aku bendung.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada cewek, cowok pun jadi. Tak ada gadis, jandapun mau. Yang penting nafsuku terpuaskan. Hehehe.. bejat? Ya begitulah aku, tapi tak ada satu orang pun yang protes. Semua menerima konsekuensinya. "Berhubungan denganku, maka harus siap aku tinggalkan"

Disekolah, banyak tempat yang biasanya kujadikan sebagai tempatku bercinta. UKS, kelas, toilet, ruang guru, ruang ganti, gudang, hampir semua tempat sudah aku tandai. Semua berjalan begitu saja, aku selalu merasa kalau aku sudah puas. Puas dapat menikmati tubuh banyak cewek, saat kubutuh tanpa harus meminta karena banyak yang menawarkan. Puas karena tidak punya ikatan, dan tak takut untuk menyakiti siapapun. Mereka sudah tahu sifatku, dan mereka menerimanya. Menerima kalau aku tidak termiliki utuh.

Tapi semuanya berubah, sejak aku bertemu dengannya. Sejak aku melihat mata indahnya, semua berbeda. Keindahan dunia yang selalu aku kejar lewat nafsu, terasa hampa sejak aku melihat keindahannya. Tiada hari tanpa melihat sosoknya, yang tak terjangkau olehku saat itu. Melihat tingkah konyolnya, melihat tawa riangnya, melihat senyum manisnya, ah seakan kutemukan kepuasan yang baru.

'Ini semua gara-gara kamu Dobe!' Kuraih bingkai yang sengaja kusimpan di sebelah tempat tidur. Foto dirinya sedang tersenyum lima jari andalannya. Konyol tapi manis, itulah dirinya. Namikaze Naruto, kekasih hatiku yang merupakan cinta pertama dan terakhirku.

Hei, aku yakin jika ada yang melihatku saat ini mereka pasti pingsan karena kaget. Ya, di depannya tidak ada seorang Uchiha yang selalu menampilkan wajah dingin. Dihadapannya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Tertawa bersamanya, tersenyum untukknya, dan memperlakukannya dengan halus. Tapi tentu saja itu jika aku hanya berdua dengannya. Jika ada orang lain, aku akan bertindak sebaliknya. Bagaimanapun aku seorang Uchiha kan!

Bip..bip..

Siapa yang menggangguku sih!

From: Neji

Liburan nanti, kita bakalan pergi ke villaku di Suna. Ajaklah Naruto, biar kamu bisa dapatkan keperjakaannya disana! Gmn?

'Liburan ke Suna? Sepertinya menarik.'

To: Neji

Hn

Send

Sedikit demi sedikit senyumku terukir dan semakin lebar, hey siapa tahu aku bisa mendapatkannya disana.

Segera kupencet nomer yang sudah kuhapal diluar kepala.

Tuutt…tuutt..tuutt..

"Hai Sasuke, tumben kamu nelpon?" Sebuah suara yang selalu aku rindukan, siapa lagi kalo bukan my dobe.

"Hn"

"Ah, teme! Jangan pake kata itu kenapa sih!"

"Iya"

"Hehe.. kenapa? Kangen ya?"

"Hn"

"Arrgghh.. temeee…!"

"Iya dobe!"

"Ada apa nih, tumben malem-malem nelpon"

"Gak boleh?"

"Aduh teme, mesra dikit napa sih?" Meski tak terlihat tapi dapat kupastikan mukanya sedang merenggut karena kesa. Lucu pastinya.

"Iya dobe!" Walaupun kata-katanya masih sama, tapi ku yakin dia bisa tahu ada yang berbeda dari nada suaraku. "LIburan nanti kita ke Suna!"

"Hah? Ngapain?"

"Liburan dobe!"

"Berdua aja?"

"Maunya sih gitu, tapi gak! Ada Neji, Shika, Kiba dan Gaara. Jadi semuanya 6 orang."

"Oh.. nginap ya?"

"Gak bolak-balik kok!" Tak tahan rasanya untuk tertawa, dasar Dobe! "Tentu nginaplah, emang kenapa?"

"Hmm… gak papa kok!"

"Jadi?"

"Oke deh! Tapi teme, nginap berapa hari? Gimana kalau kaa-san dan tou-san gak kasih izin?"

"Gampang, tenang aza!"

"Iya deh, toh rame-rame kan!"

"Sudah sana tidur!"

"Ughh.. mesra dikit napa!"

"Iya dobe sayang, tidur sana! Besok pagi aku jemput!"

"Hah? Serius? Beneran? Gak bohong kan?"

"Hn."

"Arrghh… kata itu lagi. Baiklah, aku tidur. Kamu juga tidur teme!"

"Hn."

"Oyasumi teme"

"Oyasumi dobe"

Tuuutttt

'Dia memang sumber segala kebahagian bagiku'

Lihatkan, hanya mendengar suaranya mampu menghangatkan hatiku. Bahkan sekarang aku tidak berminat untuk 'bermain sendiri' yang tadinya akan kulakukan. Sekarang aku hanya ingin tidur, dan segera bertemu dengannya.

Lebay?

Ya terserahlah, toh pada akhirnya aku setuju dengan sebuah ungkapan yang pernah aku temukan.

"Cinta sanggup merubah dirimu, merubah pola pikirmu, dan merubah kebiasaanmu. Cinta membuat hidupmu sempurna, karena cinta melengkapi kekosongan dalam hatimu."

Aku rela berubah demi dirinya, membuang semua kebiasaanku dulu. Demi melihat senyumannya, aku rela menahan segalanya. Karena dirinya lebih dari segalanya buatku. Kekosongan dalam hatiku, terisi oleh kehadirannya. Aku tak butuh apapun lagi, hanya dia dan dia seorang yang aku butuhkan untukku bertahan.

Sasuke's POV off

..

.

Diruangan ini, terdapat 2 insan yang sedang dimabuk asmara. Mereka bergumul tanpa peduli akan sekeliling mereka. Ya toh mereka berada di kamar, dan hanya ada mereka berdua. Bergumul mesra diatas tempat tidur yang telah kusut.

"Kamu tahu, kamu makhluk terindah yang pernah aku temukan!" Bukan rayuan yang terucap dari mulutnya, karena terdapat kesungguhan di matanya. Untukknya, makhluk yang kini berada di bawahnya merupakan makhluk impian hatinya.

"Sasuke…" Sosok pirang di bawah Sasuke yang tak lain Naruto hanya mampu mendesah saat tangan halus Sasuke membelai semua tubuhnya. Leher, dada, perut, paha, juga kejantanannya tak luput dari belaian lembut jemarinya.

"Aku menginginkanmu sekarang, Dobe!" Desahan lembut Sasuke, membuat rona merah di pipi Naruto semakin nampak. Dan senyum Sasuke pun mengembang saat melihat kekasihnya menganggukkan kepala tanda setuju. Diraihnya jari tangannya yang telah dilumuri oleh ludahnya sendiri. Dengan perlahan, dibukanya lubang kenikmatan yang tertutup rapat itu. Tak pernah dijamah siapapun.

"Acchh…" Rintihan Naruto terdengar saat Sasuke perlahan memasukkan satu jarinya. Dia menahan gerakan, menunggu Naruto terbiasa. Sungguh Sasuke tak ingin menyakitinya. Saat melihat Naruto bernafas biasa, Sasuke menambah satu jarinya lagi. "Sakiitt…" Rintihan Naruto dibungkam oleh Sasuke dengan mulutnya. Diciumnya lembut bibir kekasihnya, dibelai dan dijilat mesra mengajak lidahnya untuk bermain. Sasuke terus mencium Naruto, saat jarinya yang ketiga memasuki tubuh bawahnya. Meredam semua rintihan yang ada, memaksa Naruto untuk tidak fokus pada rasa sakitnya. Dan benar saja, Naruto tidak lagi merasa sakit. Bahkan ada kenikmatan yang dia rasakan saat jari Sasuke menyentuh titik itu. Titik yang membuatnya merasa seperti melayang-layang karena nikmat.

"Naruto, bolehkan aku…."

"Iya, aku siap Sasuke!" Tanpa menunggu Sasuke menyelesaikan permintaannya, Naruto menjawab dengan desahan yang begitu menggoda.

Dengan perlahan Sasuke menempatkan kejantanannya disana. Tanpa terburu-buru, dia menggesek-gesekkan kejantanannya pelan. Seolah menggoda Naruto.

"Sasuke…" Rintihan Naruto, dan tatapannya seolah meminta Sasuke untuk segera menyatukan mereka. Dan permintaan Naruto di kabulkan. Sasuke perlahan mulai memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh bawah Naruto. Perlahan demi perlahan, terlihat ada setitik air mata di wajah Naruto. Namun senyuman Naruto membuat Sasuke terus memasukkan kejantanannya. Meyakinkan Sasuke, bahwa memang ini yang diinginkannya.

"Ach…." Sasuke mendesah tanpa ragu saat merasakan kejantananya telah memasuki lubangnya. Merasakan sambutan yang hangat disana. Naruto mendekap Sasuke dengan erat, berbisik untuk memulai penyatuan mereka.

Mereka pun terus bersatu dalam kenikmatan mereka. Saling memberi kenikmatan, meliukkan badan seirama dengan peluh yang terus membanjiri tubuh mereka. Kenikmatan untuk pertama kali buat Naruto, terasa indah. Sedangkan untuk Sasuke, ini pertama kalinya dia merasakan nikmat dan indahnya bercinta. Dia tidak hanya bercinta secara fisik tapi juga hatinya. Membuat kenikmatan ini terasa begitu sempurna.

"Ach…ach…Sasuke…ach…terusss…" Desahan demi desahan dari Naruto membuatnya semakin mabuk kepayang.

"Sasuke…" 'Suara Naruto memang menggoda'

"Sasuke…!" 'Hei kenapa suaranya sedikit berat ya?'

"Saaasuuukeeee!"

Gubraaakkk

"Sasuke, kamu tidak apa-apa kan?" Sebuah suara juga gedoran pintu yang dirasa menyebalkan.

"Iya aku tak apa!" Dengan kesal Sasuke bangun dari lantai, dan segera meraba celananya basah! 'Ternyata hanya mimpi! Dasar baka aniki pengganggu!'

Segera Sasuke melangkahkan kakinya ke kamar mandi. 'Sudah waktunya bersiap untuk sekolah, dan lagian pagi ini aku akan menjemputnya.' Siulan serta nyanyian yang sangat jarang terdengar dari kamar Sasuke, kini terdengar dengan jelas. Menandakan yang punya kamar sedang berbahagia.

'Memang cuma mimpi, tapi semoga itu pertanda aku akan mendapatkannya. Semoga di Suna, aku bisa memilikinya utuh.'

..

.

Chap 3 end

..

.

Waaahh.. akhirnya kelar juga nih chap 3. Gimana? Jelek? Abal? Aneh? Hehehe… ripiew dan kasih tau segala sesuatu tentang abalnya tulisanku ya!

Oh ya, aku mau ucapin makasih buat yang udah ripiew chap 2

ChaaChulie247: Makasih ya, emang aku juga sukanya kalau Naru itu polos sepolos wajahnya! Hehehe… di chap skrg g ada pegomporan, tp selanjutnya bakalan ada kok! Tetep R&R ya…!

Ai HinataLawliet: hehehe… untuk scene lemonnya belum sempurna juga di chap ini, maaph ya! Tapi ditunggu deh, pasti ada scene yg sempurna lemonnya! Hehehehe…

Chea'sansanurui: iya, lam kenal juga ya! ^^ makasih udah suka ama ceritanya, emang sengaja di buat Naru polos vs Sasu yang sabar. Duh lemonnya belum keluar banget nih, maaph ya! Abisnya pengen lemonnya SasuNaru tuh gimanaaaa gitu! Hehehe… ditunggu aza ya! Keep ripiew ya,

Fujo suka nyasar: iya emang Sasu pengertian abis disini, dan kayaknya aku mesti minta maaph juga ya, soalnya disini belum diceritakan soal jadian SasuNaru. Baru soal gimana Sasu dulu, di chap depan udah di pastiin diceritain deh! Janji! Hehehe…

CCloveRuki: hahaha… emang malang nasibnya, tp gimana ya suka liat Naru maju mundur! :p tenang Sasu bakalan bersabar kok, soalnya gak cepet2 dikasih ama author ini. Wkwkwkwk…

Kyu's neli-chan: masa sih? kalau Sasu 'dobe' masa Naru 'teme'? xixixi… gak deh gak cocok! Soal tancap, memang gak bisa langsung, kan biar berkesan. Gimanapun juga ini yang pertama buat Naru! Hhehehehe….

Duh, makasih banget ya buat yang udah ripiew. Dan maaph beribu maaph kalau belum bisa terwujud keinginannya. Belum ada lemon yang gimana gitu antara Naru ama Sasu. Soalnya authornya ini pengen something yang beda gitu dari mereka! Wkwkwkwk..

Sekali lagi makasih dan maaph bila chap 3 ini kurang memuaskan. Maaph ya..

Tapi bersedia buat ripiew kan?

Kasih tau dimana abal, aneh, gaje nya tulisanku ini.

Ditunggu ripiewnya ya!

Thanks