Huaaahh… publis crita 3 hari setelah daftar. Perasaan kayak se-abad lebih deh nungguinya (lebay). Oh, ya gomen lagi buat bundha, fic Yaoi Mi-chan belum berani publish alias belum kepikiran sampe sononya.

Trus, ntar di fandom Kuroshitsuji, Mi-chan bakal publish tuh crita yang udah lama Mi-chan sembunyikan dri dunia luar (alay, gaje), yaitu M.B.B, a.k.a My Black Beyonce, sebenarnya kata bundha Beyonce itu artinya bukan tunangan, tapi apalah itu Mi-chan gag inget, katanya yang bener itu Fiance, itu baru bener. Tapi, ora popo (bahasa apaan tuh?) karna Mi-chan males ganti, ya udah deh apa adanya aja, jadilah My Black Beyonce.

Wokeehh… langsung aja kita gag usah basa and basi lagi! Ini dia! Tirai Di Buka! Tpiii, sebelum tuuuhh, kta bales dlu review nyaaa!

Unisagi Kyoichi Uchiha: "Ya dong, pas Mi-chan buat blum da nma mu nizz. Iya" seng sabare ya Kyo (hweeekk) orang sabar d syang Allah!

Naru Hime: "Tunggu aja! d tbak ja penyakitnya pa. penyakit yang bsa mngakibatkan kematian, pokoknya."

Nyan-Nyan: "Slam kenal jga Nyan~ (untng gag Nyak) Hehe… sbnarnya sya jga dah kpkiran buat rated M, tpi sbarlah dlu. Kpan" Mi-chan bikin deh yng Rated M, tntunya dgn tdak spngethuan my friend sesame author! haha!"

Lavender Hime-chan: "Arigatou Gozaimasu, buat kritiknya yng pedas nmun bnyak yng benar (d timpuk pke batu) Mi-chan terharu,, pkoknya ttap stia review and bca fic nya ya!"

Bunda Dita : "Sdah psti kam yng review dluan bun,, kan kmu yng bca! Ya dah makasih deh! Arigatou-arigatou! Yaoi nya klo rated M mau gag ? Hoho.. ma'f! bunn, bntu Mi-chan ya dlam mncri inspir! makasih!"

Anata Kiyoshi : "Yosh! Mi-chan akan brusaha buat bkin crita yng tmbah seru dan menarik! So, d bca ya chap 2 nie!"

Sun Setsuna : "Huallo juga, Sun! (matahari dong ?) Arigatou buat reviewnya, Mi-chan, sueeenengeeeeeee buangeeeteee! Oh ya, maaf klo Mi-chan ternyata bnyak typo, dan itu Mi-chan sdari (pundung d pojokan). Oke, klo da waktu kpan" sya bca deh fic anda! klo denger femNaru, telinga sya langsung jingkrak gak keruan!"

Misyel : "Hohoho….(ktawa ala Tanaka) Arigatou buat review dan pujiannya, sya terharu (ngambil jemuran orang buat lap ingus). Sya juga kepikiran klo Gaara tuh mati aja (ditabok Gaara FG) Sya yang bikin nie fic ja pengennya gitu, coz I'm a SasufemNaru 4 ever!

Aoi no Kaze : "Arigatou buat reviewnya, dan gomen buat update kilatnya! Maafkan Mi-chan klo gag bsa update kilat. Otak Mi-can kan cma satu (trus d bgi dua lgi!) Wokeeehh, lain kli Mi-chan akn cba update kilat (tanggung sndiri lo klo critanya gag nyambung) hahaha… tetep setia yah buat ngeriview dan bca nie fic! Arigatou Gozaimasu!"

Terus bca chapter slanjutnya! Spe abizzzz, smpe mreka…. (Ehemm… you know what it mean) but jngan neting dluan!"

Disclaimer : Bukan,abang lagi. Tapi, My Honey Buney Sweetey mas Masa-sih Kishi-Kishi jendela (chidoried!)

Rated : Tenang aja mbae Puput! Masih rated 'T' koq!

Pairing : Same like old pair. SasuXfemNaru, slight ItaXfemDei

Genre : Hurt/Comfort, Romance, and Humor. I like thisGenre

Warning : Sasuke yang bilang loe (chidoried) OOC! OC! Abal!

Setengah ketawa, setengan nangis ! Alur kecepatan!

Miss Typooooo! DLLL!

Don't Like Don't Read!

Do you like this Fic ? Oh, thank's!

Never Forget Review and Read !

Chapter 2

She's Broken Heart? Chance for Me

"Gaara…" panggil gadis itu lirih. Genangan air mata hampir keluar dari matanya, atau lebih tepatnya sudah turun dari pipinya. Ia menangis, tanpa suara. Hei, apa dia tidak tahu kalau pacarnya ada di ambang pintu?

Gerakan mesum kedua orang remaja itu semakin mesra. Lidah yang bertautan, saliva yang berceceran di sela-sela bibir mereka, seragam yang sudah setengah nya terbuka, dan rambut yang acak-acakkan.

Nafasnya serasa berhenti untuk selamanya. Ia memang mengidap penyakit parah sejak lahir, tapi sakit yang ini melebihi sakit yang ia rasakan saat penyakitnya kambuh. Matanya hanya bisa terpaku oleh satu sosok yang ada satu meter lebih dihadapannya. Tak ada yang dapat ia ucapkan. Gadis bermata sapphire itu bagai sebuah patung yang telah dibuang oleh majikannya.

*** Aku hanya ingin bertanya satu hal…

Pada siapa saja yang telah mengenalku…

Hanya satu hal…

Pernahkah aku membuat goresan kecil dihati seseorang…?

Yang membuatku kan dibenci dan disakiti…

Apa aku pernah melakukan hal itu ?

Melakukan kesalahan padamu…

Pada cintamu…

Pada hatimu…

Pada orang yang kucintai…***

Dalam diam, ia hanya bisa menatap dan menyaksikan semua hal itu. Hatinya bagai teriris-iris dengan rapih, oleh kekasihnya. Oleh orang yang di cintainya.

Genggaman tangannya pada knop pintu mengendur. Tapi sebaliknya, tangannya terkepal. Tak sanggup melihat itu semua, di bawanya kaki tan jenjangnya itu keluar dari tempat terkutuk itu. Tak ada yang mengutuknya. Bukan setan, roh, iblis atau mahkluk gaib lainnya. Tapi, sebenarnya ia yang mengutuk tempat itu. Merutuki nasibnya mengapa harus ia buka pintu itu. Mengapa ia tidak mendengarkan kata hatinya yang berkata bahwa ia jangan pernah membuka pintu itu. Perasaan bersalah dan menyesal terus mendera hatinya. Gadis berambut pirang itu terus berlari dan berlari. Tak kenal arah. Tak perduli seberapa banyak orang yang telah ia tabrak. Ia tak tahu kemana kakinya melangkah.

Oh Kami-sama, mengapa ini semua harus terjadi padaku, rutuknya dalam hati. Dunia terasa berputar. Berputar-putar seperti komidi putar yang diputar hebat (?). Semua tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia kehendaki.

Lari dan lari. Apa ia terus berlari sampai ia mati? Tentu tidak. Yang dibutuhkannya saat ini hanyalah orang yang bisa meng-hentikan langkah kakinya yang semakin tak menentu.

Air mata yang keluar tak pernah berhenti, untuk menemani sang gadis dalam kesedihannya. Sampai seseorang yang ia anggap rival seumur hidup, menahan tangannya.

"Dobe," panggilnya. Sang gadis menolehkan wajahnya yang berlumuran air mata, ke sumber suara. Di lihatnya, seorang pemuda seumurannya, dengan rambut model emo atau model yang sering ia katakan 'Pantat Ayam', berada dibelakangnya.

Naruto tidak mendengarkan panggilan Sasuke. Gadis itu men-jerit, berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan kekar Sasuke.

Sasuke menyadari kalau Naruto habis menangis. Itu terlihat dari matanya yang sembab dan masih ada bekas air mata yang belum mengering.

"Kau menangis?"

"Lepaskan akuu!" jeritnya meminta dilepaskan. "Bukan Urusan mu!"

Naruto menjerit dan terus meronta. Dari sudut matanya terlihat setitik air mata yang hendak menetes. Sasuke menarik kuat tangan Naruto sampai gadis itu terjatuh dadanya.

"Tak akan kulepaskan sebelum kau, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ucapnya dingin. Mata onyx itu menyipit. Naruto tidak mendengarkan perkataan Sasuke. Ia berusaha melepas kan tubuh dan tangannya dari pemuda emo itu.

"Sudah kubilang lepaskan aku!" jeritnya. Sasuke tidak men-dengarkan jeritan itu, dan terus mencengkram tangannya. Akhirnya Naruto menggigit lengan Sasuke, sampai tangan itu melepas tangannya. Sasuke merintih kesakitan, dan itu merupakan kesempatannya untuk lolos. Begitu tubuhnya sepenuhnya keluar, langsung saja ia baa kakinya itu untuk kabur, selagi Sasuke lengah.

"Hei!" teriak Sasuke marah. "Main pergi saja!" sungutnya kesal. Tangannya masih mengusap bagian lengan yang tadi terkena gigitan Serigala cantik berambut pirang.

Tanpa disadarinya, keadaan disekitar sudah berubah. Dibelakang nya berdiri dua orang pemuda sahabatnya Neji dan Sai.

"Ckckck… malang nian, nasibmu kawan…" ujar Sai sambil menepuk pundak Sasuke.

"Apanya yang 'malang'?" tanya Sasuke, berbalik menghadap kedua temannya.

Sai menaruh telunjuknya di bibir, plus tampang lagi main tebak-tebakkan. "Bukannya kau hadis ditolak, Suke?"

Duaak…

Sebuah bogeman mentah dari Sasuke, sukses mendarat di kepala Sai, sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Enak saja!" ujar Sasuke setelah ia puas membuat benjol besar di kepala Sai. "Lagipula aku kan sudah punya pacar."

Neji memeluk Sai, bermaksud melindungi pemuda itu. Dan, pelukan itu sukses membuat kulit wajah Sai yang pucat, me-nyemburatkan warna kemerahan.

"Kau ini Sasuke, jangan main pukul dong!" bela Neji. "Kasihan kan Sai-chan jadi kesakitan."

Sasuke menatap kedua orang didepannya, dengan jijik.

"Dasar abnormal." Ejeknya pelan. Pemuda penyuka warna dark blue itu berbalik dan berjalan menuju kelasnya.

"Biar aja!" terdengar suara seorang pemuda yang tadi dipeluk.

Sasuke tidak perduli lagi dengan dua mahkluk abnormal dibelakangnya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana merah kotak-kotak, seragamnya.

Di dongakkanya kepala pantat ayam itu ke langit-langit koridor sekolah. Dibenak nya terbesit satu sosok yang tadi sempat ia cegat. 'Wajahnya cantik juga kalau sedang menangis.' Pikir pemuda itu sambil tersenyum. Tidak sadar bahwa para FG-nya sudah sekarat dibuat, oleh senyuman maut dari sang Uchiha itu.

'Kenapa ia menangis, ya? Pasti ada apa-apa. Tidak mungkin ia menangis hanya karna hal sepele. Pasti ada yang tidak benar. Haah… wajahnya tadi benar-benar manis. Astaga, sejak kapan aku jadi stalker begini? Apa aku benar-benar suka padanya? Kalau benar aku suka padanya, bagaimana dengan Sakura? Argh… aku bingung!'

Sasuke menutup telinganya dengan kedua telunjuk. Tidak mau gendang telinganya pecah dan ia jadi tuli, akibat teriakan dan jeritan maut dari para penggemarnya yang kebanyakan perempuan, atau bisa dibilang juga, sepenuhnya perempuan. Pemuda berambut emo itu terus berjalan ke kelasnya dngan di iringi nyenyanyian pembuat tuli dari para penggemar. Poor Sasuke.

~777~

Sasuke's PoV

Kulirik bangku yang ada disebelahku. 'Kosong.' Cewek itu belum datang juga ya? Padahal pelajaran keenam sudah dimulai sejak tadi.

"Haah… menyusahkan saja…" helaku sambil menerawang jauh ke langit biru. Dengan memandang langit biru saja, bisa mengingat-kan ku pada mata sapphire nya itu. Mata yang jarang dimiliki oleh manusia.

Sebelum pelajaran dimulai, Sakura menawarkan dirinya untuk duduk disebelahku menggantikan si Dobe itu. Dan aku menolak nya dingin, kalau aku menolaknya secara lembek, cewek caper itu pasti terus mendesakku hingga aku pasrah, dia duduk disebelahku.

Ku topangkan daguku ke tangan, dengan mata masih menatap langit biru. Sejak tadi aku terus memikirkannya. Terus menerus, sampai aku tidak bisa konsentrasi lagi pada pelajaran, yang sedang diterangkan oleh Asuma-sensei.

Mataku terpejam, menikmati semilir angin yang lembut dari arah jendela disebelah mejaku. 'Lembut seperti, rambut pirangnya yang panjang…' pikirku mulai meracau. 'Arrghh… I'm falling in love!'

Baiklah, aku tidak menyangkal semua yang sedang kalian pikirkan. Aku jatuh cinta pada si Dobe. Puas?

Perasaan itu dimulai saat aku bertanding dengannya beeberapa bulan yang lalu. Benar-benar gadis yang tangguh. Jujur saja aku salut pada jiwa sportivitas nya, dan keberaniannya saat bertanding denganku, yang saat itu merupakan Ace tim basket putra, dan ia masih menjadi anggota biasa. Sampai saat ini aku masih ingat semangat juangnya saat kukalahkan dipertandingan pertemuan kami. Maklumi lah, saat itu aku tidak sekelas dengan si Dobe. Jadi, disaat itulah aku jatuh cinta padanya. Bukan karena tubuhnya yang bisa dikatakan proposional. Tapi, sama seperti yang aku katakan sebelumnya.

Kenapa aku bisa pacaran dengan Sakura, sedangkan aku jelas-jelas mencintai si Dobe?

Mau bagaimana lagi. Seperti perumpamaan, bagai anjing dan kucing, aku dan si Dobe tidak akan pernah bisa akur, apalagi bersatu. Meskipun kalian semua bilang, 'tidak akan tau sebelum dicoba'. Maka dari itu, aku langsung menerima Sakura yang saat itu menembak ku duluan, dan penembakkan itu sangat tepat saat rumor itu sudah sampai di telinga ku sehari yang lalu.

Pada awalnya kukira ia akan cemburu atau apa. Tapi, ternyata tidak. Hubunganku dengannya meregang, seiring dekatnya hubungan pacaran mereka. Mulai saat itulah aku berpikir untuk memutuskan Sakura yang notabene adalah pacarku dan menmbak Naruto disaat yang pasti dia akan menerimaku. Tapi, aku harus memikirkan keputusan itu baik-baik, atau aku dicap playboy.

Drrtt… drrtt…

Ku ambil ponsel lipatku disaku celana. 'e-mail dari Sakura'

From : .

To : .com

Subject :Sedang memikirkanku, ya? ^.^

Percaya diri sekali. Padahal belum tau apa yang nanti akan ku balas.

To : .

From : .com

Subject :Memang kau tau, apa yang sedang kupikirkan? Percaya diri sekali, kau. Lain kali mengacalah dulu sebelum kau mengirimkan ku e-mail.

Kuyakin, setelah ia membaca e-mail ini, cewek caper itu pasti langsung menyambar cerminnya dan mengaca. Haah… cewek zaman sekarang centil dan manja. Manja itu boleh, asal tidak keterlaluan. Itupun, menurutku.

Kuregangkan tanganku kesamping. Meregangkan otot-otot yang kaku. Kulirik lagi kursi disebelahku. Setelah pelajaran ini selesai, sepertinya aku harus bersusah payah mencarinya dulu.

Drrtt… drrtt…

Sakura lagi. Apa dia tidak bosan kujawab begitu.

From : .

To : .com

Subject :Nanti pulang sama-sama, yuk !

Malasnya aku membalas, e-mail orang ini.

To : .

From : .com

Subject : Malas. Sudah jangan e-mail aku lagi.

Kalau kau nekat, akan kulaporkan pada Asuma-sensei.

Beberapa menit setelah kukirim, ia tidak membalasku lagi. Syukurlah, semoga saja, ia tidak mengajakku pulang bersama lagi, setelah pelajaran ini selesai. 'Benar-benar over protective'.

Bruugh….

'Apalagi, ini?'. Kulihat, tasnya si Dobe, terjatuh dari tempatnya. Beberapa bukunya jatuh berserakan di lantai.

Dengan malas aku berjongkok di bawah meja, memunguti buku-bukunya. Tak sengaja kulihat ada sebuah tulisan disebuah kertas, yang bertintakan darah. Cewek itu sadis juga, ya.

Kuamati tulisan itu baik-baik. Aku benar-benar tidak bisa mem-bacanya. Tulisan yang rumit. Saat bola mataku membaca teks di sisi kanan bawah.

Deg…

"Apa maksudnya?" gumamku ngeri. Tiba-tiba saja, sesuatu masuk kedalam benakku. Sesuatu yang menyiratkan perasaan seseorang. Pikiranku langsung tertuju pada Naruto. Aku merasakan ada suatu hal yang buruk, menimpanya.

Aku melipat kertas itu, lalu menjejalkan nya di saku celana. Dengan sigap kumasukkan semua buku-buku pelajarannya, ku taruh kembali ketempatnya semula.

Kulirik Asuma-sensei, sedang asyik-asyiknya menjelaskan rumus Fisika. Aku berdirilalu berjalan menuju ke arah sensei perokok itu. Aku menatap sekelilingku. Banyak anak-anak yang menatapku aneh, tapi tidak ku layani.

"Ada apa Uchiha?" tanpa sadar aku sudah berada didepan kelas.

"Begini, sensei. Sejak tadi, Namikaze Naruto sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Dan saya bermaksud untuk mencarinya."

Beberapa anak, menyorakiku, dan bersiul, menggoda emosiku. Sayang sekali, aku ini tipe yang tidak emosian.

"Suit… suit…!"

"Diam, semua!"

Hening.

Kulirik Sakura, dari ekor mataku. Terlihat jelas, dari guratan wajahnya yang sepertinya cemburu. 'Baguslah, mahkluk itu cemburu'

"Kalau itu maumu, silahkan. Jika, kau ketinggalan pelajaran ku, tanggung sendiri ya, akibatnya."

Aku mengangguk, lalu permisi dari hadapannya. Berjalan menuju pintu keluar. Sekali lagi, kulirik Sakura. Wajahnya cemberut marah. Kalau dipikirkan, tipe yang tidak menguntungkan.

End Of Sasuke PoV

~777~

Kenapa?

Apa salahku?

Egoiskah aku, sehingga kau memberikan ku cobaan ini?

"Kenapa harus aku?" teriak seorang gadis frustasi. Dunia bagaikan sebuah cambuk yang selalu memecut hatinya. Perasaan nya.

Sendiri… ia tanggung semua kesedihan itu. Tak ada teman, yang seharusnya menemaninya disaat kesedihan datang. Tak ada mau berteman dengannya sejak kecil, akibat penyakitnya yang mudah kambuh. Tapi ini berbeda. Tak ada siapapun yang tahu, kalau ia mengidap penyakit saat di SMU.

Seragam kemeja putihnya agak basah, akibat air matanya yang tumpah membasahi, sebagian atas kemejanya. Rambut pirangnya yang tadi disisir rapi, kini acak-acakkan. Disini ia sendiri menghadapi masalahnya.

"Apa kau sudah tak sayang lagi padaku, Tuhan?" teriaknya sambil menarik rambut panjangnya yang terurai.

"Apa kau masih belum puas, mengujiku? Kau sudah mengambil kedua orang tuaku. Mengambil Kyuubi-nii dari sisiku. Memberikan ku penyakit ini! Sekarang Gaara! Apa kau belum puas, hah?"

Sejuta pertanyaan yang memprovokasi dirinya, berkeliling menari-nari diotaknya. Bayangan-bayangan tentang peristiwa terbunuhnya orang tua dan kakak pertamanya, ditambah lagi kejadiaan Gaara. Semuanya berputar-putar. Menambah beban pikiran dan raganya. Ingin rasanya ia mencuci otaknya dari semua ini. Melupakan apa yang sudah terjadi dan terlahir kembali, tanpa beban.

Naruto terus menangis dan berteriak. Mungkin dengan berteriak dan meraung seperti itu, bebannya bisa menghilang dan tak pernah kembali lagi. Lama ia bersama Gaara, dan tak pernah bertengkar sekali pun. Sekarang, pemuda itu berselingkuh dihadapannya. Didepan matanya sendiri. Wanita mana yang tidak sakit hatinya jika pria yang dicintainya tiba-tiba berkhianat.

Deg…

Tiba-tiba rasa sakit menghujam kepalanya. Entah apa, tapi rasa itu sakit sekali. Matanya terpejam menahan rasa sakit yang biasa ia hadapi saat kambuh. Kambuh?

"Argh…" kini rasa sakit itu berkali-kali lipat. Isi kepalanya seperti keluarkan secara paksa dan diaduk-aduk. Belum lagi tenggorokkan nya yang tercekat.

Tangannya yang mulai memucat, meraba-raba lantai yang ia duduki. Astaga, ia lupa mengambil tas nya yang berada di kelas. Apalagi obatnya ada disana.

Arrghh…, kakinya mencoba untuk berdiri dengan bertumpukan pegangan besi disisi tembok. Tangannya terus memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Gadis itu berusaha mencari pertolongan.

"T-t-tolong…" lirihnya. Kesadaraannya mulai menghilang. Mata-nya mulai mengaburkan pandangannya. Masih bisa di lihatnya nafas yang beruap. Suhu badannya tiba-tiba naik.

Tes… tes…

'Apa itu?' sesuatu menetes dari hidungnya. Darah. Ia mimisan. Dirabanya hidung yang terasa hangat itu. Benar, itu darah.

"Harus… segera… pertolongan…" ucapnya terbata-bata dan jelas perkataan nya menjadi kacau.

Dengan langkah yang gontai, gadis itu berusaha melangkah pergi dari tempat itu. Tapi, tiba-tiba saja pandangannya semakin kabur.

Bruugh…

Tubuhnya terkulai lemas dan seluruh badannya kesemutan. Sebelum mata sapphirenya menutup, ia mendengar suara Sasuke meneriakkan namanya, dan semua berubah menjadi gelap gulita.

~777~

Naruto's PoV

Perlahan kubuka mataku. Sesosok pemuda mendongakkan wajah nya, tapi sialnya, mataku mengabur.

Kukerjapkan mata ini berulang kali, sampai akhirnya aku bisa melihat wajah itu dengan jelas.

Aku tersentak kaget, melihat seseorang yang ada disebelahku, mendongakkan wajahnya yang tampan ke arahku. Sontak wajah ini memerah

"Kau sudah sadar?" tanyanya, cemas. Aku mencoba mendudukkan tubuh ini yang masih terasa sakit. Namun pemuda itu menghalangi melakukannya.

"Kata, Shizune-sensei, kau belum boleh bergerak dulu." Ucapnya datar. Kembali kulihat wajah stoicnya yang tampan.

"Ah, iya." Aku kembali merebahkan tubuhku dikasur yang ber-alaskan kain satin putih bersih, dengan beberapa bercak darah menempel disana.

"Aku ada di ruang kesehatan, ya?" tanyaku menebak, dan disahut oleh anggukan kepalanya.

"Kau jatuh pingsan saat kutemukan." Jelas Sasuke. Aku tersenyum padanya. Senyuman yang terlihat seperti sedang berkabung.

"Terima kasih." Ucapku pelan. "Teme…"

"Hn?"

"Tidak apa-apa."

Entah sejak kapan, ruangan ini menjadi agak panas. Sasuke terus menatap ku, sambil memiringkan kepalanya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bicara saja, sepertinya harus membutuhkan banyak tenaga. Alhasil, ku palingkan wajah ini ke arah lain. Menghindari pandangan menyelidiknya.

"Jangan memalingkan, wajahmu seperti itu, Dobe." Tegurnya. Membuatku berpaling padanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Aku terdiam. Kutatap wajah Sasuke, dengan sedih. Lelaki itu balas menatapku, malah sedari tadi.

"Aku…" aku belum siap. "maaf Sasuke… aku belum bisa men-ceritakannya padamu. Aku belum, terlalu siap."

Sasuke memejamkan matanya, lalu dibuka lagi.

"Baiklah." Ucapnya akhirnya. Berbeda sekali dengan pemikiranku, yang menyangka ia akan mendesakku untuk bercerita.

"Akan kutunggu, sampai kau bisa menceritakan semuanya."

Aku hanya bisa tersenyum, senang ke arahnya. Senyum yang, terima kasih.

"Terima kasih, sudah mau memahamiku."

"Hn."

Hening.

Astaga pembicaraan kami terputus. Aduh, apa tidak ada bahan pembicaraan?

"Ah… emm… Teme… Sejak kapan kau menungguiku seperti ini?"

Sasuke terdiam. Tapi, tak lama mulutnya terbuka.

"Sejak, tadi."

Aku mengernyitkan keningku.

"Iya, aku tau itu. Tapi, berapa lama?" tanyaku lagi

"3 jam"

'Ti-tig-tiga… JAM?'

"Lama sekali." Gumamku. "Memang kau tidak capek, Teme?"

"Lumayan." Jawabnya pendek. "Untukmu sih, tidak apa." Terdengar bisikan pelan.

"Hah? Apa?"

"Lupakan."

Aku dudukkan kembali tubuhku. Tentunya dengan hati-hati. Sasuke terbelalak kaget saat melihatku, nekat membantah tegurannya.

Sasuke melotot ke arahku. "Sudah sembuh kok. Jangan menatap ku begitu."

"Kata sensei, tadi, kau kekurangan darah." Jelas Sasuke masih menatapku, tapi tidak melotot.

"Ouh." Aku hanya menggumam pelan. Jelas saja, aku tidak dapat membalas penjelasan Sasuke. Jelas-jelas Shizune-sensei, berbohong untuk menjaga rahasia ku. Terima kasih, sensei.

"Kau sedang diet, ya?"

"Hei, bukankah ini sudah jam pulang?" elakku, mengalihkan pembicaraan. Aku tak inigin membohonginya lebih dari ini.

"Iya."

"Kalau begitu, ayo pulang. Aku tak ingin semalaman berada di ruangan ini."

Sasuke membantuku, turun dari kasur. Aku menggenggam tang-annya erat. Semburet merah kembali menghiasi wajahku. Aku tersenyum. Aku, berpikir. Apa mungkin aku sudah menemukan pengganti Gaara secepat ini?

Sepertinya, tidak. Mengingat Gaara saja, semua kenangan kami bersama dan kejadian tadi, merasuk ke pikiranku. Aku benar-benar belum bisa melupakan Gaara.

"Hei, kau tak apa?"

Aku tersentak, lalu melihat Sasuke tengah berjongkok, dengan tangan dibelakang.

"Ah, i-iya."

"Naiklah, ku gendong kau."

Perlahanku, naik ke atas gendongannya. Begitu, sudah naik. Sasuke langsung berdiri, membuatku, kaget dan mempererat pelukan ku pada lehernya. Rasanya nyaman. Baru pertama kali kulihat wajahnya sedekat ini. Putih pucat, seperti bulan. Guratan wajahnya, menyiratkan ketegasan, kasih sayang, dan wibawa. Dan tiba-tiba saja jantung ku berdegup dengan cepat. Apa ia merasakan nya?

"Tenang saja. Aku juga merasakan hal yang sama."

'Dia membaca pikiranku.'

"Uwaaa… maaf. Aku gugup."

Dengan tenang Sasuke menggendongku keluar dari ruangan itu. Wajahku pasti sekarang memerah. Saat bersama Gaara saja, aku tak seperti ini. Aah… Tuhan… Kami-sama…

Sesuatu terbesit dipikiranku.

"Tas ku masih di kelas, bukan?" tanyaku.

Sasuke tidak menoleh. Ia masih tetap berkonsentrasi, agar tidak jatuh.

"Sudah, ku ambil." Jawabnya singkat. Aku mengangguk, lalu kmbali membenamkan wajahku dipundaknya yang kekar. Tak kusangka, aku melakukan ini pada rival seumur hidupku.

End Of Naruto's PoV

~777~

"Naruto! Kau membuatku khawatir, tau!" seru Deidara sambil memeluk adik semata wayangnya.

"Haha… maaf. Aku sudah membuatmu khawatir." Sahut Naruto membalas pelukan kakaknya.

"Sasuke yang menelponku, kalau kau pingsan." Deidara melepas kan pelukannya, lalu menatap Sasuke dan tersenyum.

"Arigatou, sudah memberitahuku, Sasuke." Ucapnya, sambil membungkuk sekejap. Dijawab oleh anggukan Sasuke.

"Hn."

Naruto maju selangkah, lalu mencium pipi sang Uchiha. Membuat Sasuke kaget, dan sontak membuat wajahnya memerah.

"Terima kasih." Gumam gadis itu, dan mundur teratur.

"Mau masuk dulu? Kebetulan, aku sedang membuat cake." Tawar Deidara.

Sasuke menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku langsung pulang saja."

Deidara ber oh-oh ria. "Ouh, kalau begitu salam kan, untuk Itachi, ya Sasuke." Salam Deidara sambil melambaikan tangannya pada Sasuke yang berbalik menuju mobil Lamborghini dark blue nya. Pemuda itu hanya mengangguk iya.

"Aku pulang, dulu." Ucapnya, lalu menginjak gas dan berlalu dari hadapan halaman rumah Namikaze yang lumayan besar, walaupun tidak sebesar rumah Uchiha.

Naruto dan Deidara pun, masuk kedalam rumah mereka. Deidara mengunci pintunya, lalu berbalik mengahdap Naruto yang masih berdiri dibelakangnya.

"Sebenarnya ada apa, sampai penyakitmu itu, kambuh baka Naruto?"

~777~

Sasuke's PoV

Sudah dua hari ini, Naruto tidak masuk sekolah. Dengan alasan izin sakit.

Kupandangi kertas surat yang ada ditanganku ini. Sebenarnya ia sakit apa sih, jadi selama ini?

Sakura menghampiriku.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu Sasuke. Ini penting, tentang hubungan kita, untuk selanjutnya."

Aku menghela nafas malas. Sebenarnya menurut ku, ini bukan masalah penting. Toh, aku tidak menyukainya. Lahir dan bathin.

"Baiklah. Mau bicara dimana?"

"Di atap."

Sakura berjalan mendahuluiku. Dan aku dibelakangnya. Beberapa anak perempuan seperti Ino, dan Tenten, menatap ku curiga. Bisa-bisa setelah ini, akan ada gosip terbaru.

~777~

"Jadi… apa yang mau kau bicarakan?" tanyaku langsung to the point begitu kami sampai ditempat persetujuan.

Sakura berbalik lalu menatap ku tajam.

"Akhir-akhir ini, kau sering sekali memikirkan, Naruto."

"Lalu?"

"Tidakkah kau pernah memikirkan, perasaan ku sebagai pacarmu?" suaranya meninggi.

"…"

"Aku mencintaimu, Sasuke." 'Aku tau itu' "Dan sepertinya kau tidak mencintaiku."

"Aku memang tidak menyukaimu, kok." Balasku, santai. Matanya terbelalak kaget. "Apalagi mencintaimu."

"Jadi, selama ini, kau tidak mencintaiku?"

"Alright."

"Ta-tapi, selama ini aku sudah…-"

"Aku menyukai orang lain. Yang dari tadi terus kau singgung. Bahkan aku mencintainya sebelum kau menjadi pacarku."

"Ukh…" di pelupuk matanya terlihat genangan air mata yang siap menetes kapan saja.

"Memang benar. Selama ini aku hanya pura-pura. Sebenarnya, kalau kau tidak terus-menerus mengirim ku e-mail dan pesan yang berisi kegombalanmu, aku mungkin akan mencoba menyukaimu. Tapi, nyatanya tidak. Kau gadis yang selalu mencari perhatian dari seseorang. Dan aku tidak suka sikap dan tingkah lakumu. Mengerti?"

"…"

"Maaf kalau aku seperti seseorang yang playboy. Tapi, sebenarnya aku ini tipe yang setia, pada orang yang benar-benar kucintai. Terkecuali kau. Ak…-"

"Sudah, cukup!"

Aku terdiam. Sakura menangis. Ya, memang ada sedikit rasa bersalah di hatiku. Aku menatap nya iba.

"Maafkan aku…-"

"Pergi!"

Aku terdiam. "Jadi kita…-"

"Kita putus!"

'Aku suka kata-kata itu.' Aku tersenyum, lalu berbalik menuju pintu kami masuk tadi. Aku berhenti di ambang pintu.

"Terima kasih, sudah menjadi pacarku, beberapa minggu ini."

Rasanya aku seperti seorang yang brengsek. Mengungkap kan semua perasaan jelek yang selama ini ku pendam. Tapi, ada juga rasa senang, karna aku sudah berhasil mengeluarkan semua perasaan itu. Sekarang tinggal menyampaikan perasaan ku pada si Dobe.

End Of Sasuke's PoV

~777~

Naruto's PoV

Kediaman Namikaze, pukul 16.00 WS

"Sudah, dua hari, ya?" aku merenung.

Sejenak kupandangi langit yang berarak-arak ke arah selatan, dari jendela kamarku. Entah mengapa aku jadi merindukan si Teme.

Sejak hari, dimana aku ditemukan pingsan oleh Sasuke. Dei-nee menelpon dokter khusus yang menangani penyakitku. Dokter itu menyuruhku untuk libur selama beberapa hari. Dasar, berani memerintah saja, sedangkan aku tak diberitahu apa yang me-nyebabkan penyakit sialan ini, kambuh. Aku tau Dei-nee berbohong. Katanya aku hanya kelelahan. Itu pasti bohong. Terlihat sangat jelas dari wajahnya yang memucat, setelah mengantarkan Dokter itu pulang. Aku bertaruh, ini pasti menyang- kut sesuattu yang parah. Dan pasti itu tentang penyakitku.

Akhir-akhir ini, aku sering pusing mendadak. Tak bisa tidur. Penyakit sialan! Kenapa sih, kau itu harus ada didalam tubuhku? Arrgghh…!

Drrt… drrt…

Kulihat ponselku yang bergetar. Sepertinya ada pesan yang masuk. Dari siapa?

From :

To :

Subject : Segera bersiap. Aku akan menjemputmu, sebentar lagi.

Aku terperangah melihat isinya. Singkat dan tidak jelas. Ia menyuruhku, seenak jidat ditepuk. Aku membalas pesannya.

From :

To :

Subject : Apa-apaan kau, Teme? Seenaknya saja menyuruhku.

Tak berapa lama, setelah aku mengirim balik. Pesan balasan darinya masuk.

From :

To :

Subject : Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepat bersiap. Ada tempat yang ingin kukunjungi bersamamu. Jangan dibalas. 10 menit dari sekarang aku akan sampai, di rumahmu.

'Tunggu, 10 menit?' Aku menoleh ke arah jam dinding, di dekat lukisan. 'Astaga, brengsek kau teme!'

Aku mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Secepat mungkin aku membasahi tubuhku dengan air dan mengusap seluruh badanku dengan sabun cair yang wangi lavender. Membilasnya dengan air yang keluar dari shower. Lalu mengering kan tubuhku dengan handuk yang tadi ku ambil.

Sebegitu ingin cepatnya, aku sampai terpeleset dan teduduk berdebam di lantai. Aku berdiri dan berjalan sambil merintih dan mengusap bokong ku yang terasa sakit, menuju lemari.

Kubuka lemari kayu yang bercat putih cream itu, dengan ukiran-ukiran halus di daun pintunya. Aku mengambil levis hitam panjang, tanktop merah muda sebagai dalamannya, dan jaket jeans biru, berlengan panjang, untuk aku pakai.

Begitu semua pakaian yang aku ambil tadi, ku pakai. Kini giliran meja rias yang ku kunjungi.

Ku sisir rapi, rambut pirang panjangku yang sampai sepunggung. Aku bingung mau ku apakan lagi rambut ini. Kuncir dua. Bosan. Kuncir kuda. Sudah pernah. Di urai. Pernah. Terbesit di pikiranku untuk menganyamnya ke samping. Dan akhirnya aku putuskan untuk memakai model rambut itu.

Untuk riasan, cukup natural saja. Bedak dan lipgloos rasa milk shake coklat kesayanganku. Ku sabet syal merah kotak-kotak, yang ku lingkarkan di leher, dan topi cream kesayanganku. Ku ambil tas tenteng kecil untuk menampung ponsel, lipgloos, I-pod, sisir kecil dan bedak.

Sekarang bagaimana? Apa aku terlihat seperti orang aneh? Jujur saja, aku tak tau harus berdandan begaimana lagi. Sasuke tidak akan mengajakku ke tempat perdana menteri kan?

Bergegas ku buka pintu dan menuruni tangga menuju lantai bawah. Sedetik ku dengar suara klakson monilnya si Teme. Dasar tidak sabaran.

End Of Naruto's PoV

~777~

Sasuke mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Berusaha meng-hilangkan penat menunggu. 'Padahalkan tadi disuruh bersiap selama 10 menit, sekarang sudah lebih dari 10 menit. Sedang apa sih, mahkluk satu itu' pikir Sasuke agak kesal.

Beberapa menit yang lalu, ia datang dan mengklakson memberi peringatan. Berharap semoga ia tak disuruh masuk oleh Deidara. Tapi, hal itu malah terjadi.

Deidara membukakan pintunya dengan senyuman mengembang, seperti kue sponge (senyuman kok di bandingkan dengan kue?).

Wanita yang sekarang menjadi Direktur Utama Namikaze Corp itu, kebetulan sedang libur, karna harus mengawasi adiknya yang tempo hari ketahuan pingsan dengan hidung dan mulut yang berdarah. Mau apalagi, Sasuke terpaksa menuruti kehendak kekasih kakaknya itu, kalau tidak, malam ini dia akan di 'ini' dan 'itu' oleh Itachi.

Sasuke mengambil majalah yang sengaja ditaruh di atas meja. Membacanya dengan pandangan malas, menunggu.

Pemuda itu mengenakan, kaos dark blue polos (rip curl) dengan jaket tanpa lengan berwarna hitam, dan celana jeans hitam dengan merek yang sama.

"Sudah lama, ya?"

Sasuke menutup majalahnya, dan menatap tajam seorang gadis pirang dihadapannya.

"Sudah tau, kenapa tanya lagi?" pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sang gadis.

"Ehh…!" matanya membulat. "Kan baru telat beberapa menit!"

"Sudahlah, sekarang kita pergi."

"Hah? Pergi kemana?"

Sasuke menyabet tangan Naruto, lalu menyeretnya menuju mobil dark blue Lamborghini nya yang menawan. Tanpa menghiraukan teriakkan-teriakkan dari teman kencannya, hari ini.

"Uwwaaa…! Penculikan…!" teriak sang gadis dari dalam mobil. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. 'Ada-ada saja!'

"Diamlah, Dobe!" bentak Sasuke. Naruto langsung membekap mu lutnya sendiri. Sasuke menghela nafasnya, lalu menekan pedal gas nya. Mobilpun melaju ke tempat yang akan dituju.

Naruto, melepas bekapappan tangannya. "Kita mau kemana?" bisiknya hampir seperti decit tikus.

Sasuke tersenyum, atau yang lebih tepatnya menyeringai. Gadis yang ada disebelahnya hanya menatap Sasuke takut-takut.

"Kau akan tau nanti." Jawab Sasuke, tanpa mengalihkan pandang nya dari jalan.

Naruto meneguk ludahnya. Wajahnya seperti orang yang sedang menahan sembelit.

"Kau…" gumamnya. "Kau tidak membawaku ke tempat sepi, dan memperkosa ku kan, Teme?

Sasuke menoleh, lalu melempar deathglare terbaiknya. Dengan backsound petir.

Tak lama Sasuke meyeringai. "Mungkin saja."

Naruto langsung memekik tertahan sambil menunjuk wajah tampan Sasuke. "Me-mesum…!" jeritnya.

Sasuke jawsdrop. "Aku akan melakukannya, kalau kau tidak bisa diam." Naruto langsung membekap mulutnya lagi. Menatap Sasuke ngeri. "Atau kau, memang mau ku perkosa? Sehingga kau terus ribut, seperti ini?"

Sasuke kembali menyeringai. "Tunggu sebentar, ya. Aku sedang mencari tempat yang sepi, nih. Ngomong-ngomong, kau ingin gaya yang seperti apa, Dobe?" tanyanya dengan nada menggoda. FG pemuda ini, bisa-bisa sudah sekarat kalau mendengar suaranya.

Masih membekap mulutnya sendiri. "Itachi-nii, adikmu ternyata lebih mesum, daripada kau." Gumamnya.

Sasuke kembali ke wajah stoicnya. Walaupun dalam hati ia tertawa terbahak-bahak. Mereka melaju dalam hening di jalan raya.

~777~

Sasuke menutup mata Naruto yang gemetaran dengan sapu tangan biru miliknya.

"Te-teme…" panggilnya lirih. "Kau tidak sungguh-sungguh kan dengan perkataan mu di mobil tadi?"

Sasuke tersenyum jail. "Oh, aku bersungguh-sungguh, kok." Jawab si Uchiha, membuat si gadis tersentak dan meronta-ronta.

"Uwaaa…! Lepaskan aku…!" teriaknya. Sasuke hanya menghela nafas lalu membukakan penutup mata Naruto. Si gadis terus me-mejamkan matanya. Tidak mau melihat.

"Lihat, dan kenali tempat ini dulu, baka Dobe!"

Naruto membuka matanya perlahan. Perlahan sampai semua kedua bola mata sapphire itu dapat melihat semua yang ada di hadapannya. Mata itu terbelalak.

"I-i-ini." Ucapnya sambil menunjuk, tempat mereka sekarang ber-diri. Sebuah Taman Bermain berada dihadapannya.

Sasuke memalingkan wajahnya. Mana mau ia memperlihatkan wajahnya yang memerah (maklum, gengsinya selangit! *dilempar Sasuke FG ke Amazon*)

"Kupikir, kau akan sembuh kalau aku membawa mu ke tempat ini." Ucap pemuda penyuka warna dark blue itu, sambil memasang topi, agar tak ada yang mengenalinya. Of course, FG Sasuke Uchiha, yang didalam maupun diluar KHS.

Naruto terdiam, lama.

"Kau tidak suka, ya?" tanya Sasuke canggung (pengen liat muka nyaaaa…!)

Gadis itu menoleh pada Sasuke, tersenyum.

"Mana mungkin aku tidak suka. Sudah lama aku tidak ke tempat ini, bersama orang yang kusayangi. Sekarang, kau mengajakku ke tempat bersejarah ini. Aku senang sekali. Terima kasih Teme."

Di kata-kata terakhir, Naruto memeluk tubuh Sasuke yang tinggi menjulang (emangnya gedung!).

Sasuke gelagapan. Wajahnya memerah.

"Terima kasih sih, boleh. Tapi jangan memelukku, tiba-tiba seperti ini."

"Uwaaa…! Maaf…!" teriaknya sambil memeluk Sasuke, sampai mau tertabrak orang yang lewat.

"Hati-hati, baka Dobe!" tegur Sasuke, menarik lengan Naruto.

"Doba, dobe, doba, dobe!" sungut gadis itu kesal. "Aku punya nama sendiri, Teme!"

"Tidak cocok." Sahutnya dingin.

Sasuke terus menyeretnya ke suatu tempat. Tentunya tempat bermain.

~777~

Sasuke's PoV

Astaga. Dobe satu ini mau membuatku mati, ya? Dari tadi terus menyeretku kesana kemari. Naik itulah, naik inilah. Main inilah, main itulah. Capek tau jalannya!

Sekarang cewek idiot satu ini, menyuruhku lomba makan es krim terbanyak. Dia sudah gila, apa? Aku kan benci manis!

"Ayolah, Teme…" rengeknya, memintaku untuk mengikuti lomba makan tidak jelas ini. Kalau lomba makan tomat sih, tidak masalah (maunya!)

Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Menghindari tatapan matanya.

"Sekali tidak ya, tidak!" bentakku. Naruto mundur selangkah. Ku tatap matanya, yang merupakan sebuah kesalahan. Bagai medusa yang menyihir Persheus dengan tatapan matanya, ia menjadi batu. Sekarang, giliran ku setelah Persheus itu. Bedanya, ia tidak me-nyihirku menjadi batu. Melainkan menyihirku agar aku menuruti ke inginannya. Sialan, ia mengeluarkan jurus rahasia, yang selama ini, tak ada wanita, maupun perempuan lain yang bisa menandingi nya. Jurus terkutuk. Puppy eyes no jutsu.

"Please…" rengeknya sekali lagi, tentunya dengan jurus Puppy eyes no Jutsu nya. Dan alhasil, aku terkena pengaruhnya.

Aku kembali memalingkan wajahku. Tak mau menatapnya selagi ia masih mengeluarkan jurus terkutuk itu.

"Baiklah." Ku keluarkan sebuah jawaban yang segera membuatnya bersorak kegirangan.

Ia tersenyum, ala maniak padaku. Memalingkan wajahku, agar menghadap ke wajahnya.

"Benarkah?" pekiknya kegirangan.

Ku hela nafasku. Rasanya sulit sekali, untuk menghela nafas seperti ini.

"Ya, dengan berat hati tentunya."

Gadis idiot itu, langsung berteriak dan melompat-lompat ke girangan.

"Yippi…!" soraknya. Aku menutup kedua telinga ku agar gendang telinganya tidak pecah.

"Kalau begitu, cepat naik ke panggungnya, dan makan semua es krim itu…!" 'seenaknya saja menyuruhku.' Sungutku dalam hati.

Aku duduk bersama beberapa pria lain, yang juga sepertinya di paksa oleh kekasihnya masing-masing. Kecuali dua orang yang ada di kanan dan kiriku. Mereka makan dengan senang hati.

Peluit belum dibunyikan, dan ku lihat si Dobe tengah tersenyum penuh kemenangan. Seharusnya ia tadi ku ajak ke Sea World saja. Benar-benar menyebalkan. Cewek ini sengaja menjebakku.

Priiiitttt…!

'Ya Tuhan, kenapa sih, peluit itu harus diciptakan?' tanyaku dalam hati. Poor diriku sendiri.

Selusin lebih, es krim dihidangkan didepanku. Belum apa-apa, perutku sudah jungkir balik. 'Tuhan, kapan hidupku bisa bahagia selamanya?'

Dengan enggan ku ambil se-cup es krim coklat. Aku belum siap. Waktu terus berjalan. Kulirik beberapa orang yang dipaksa oleh kekasihnya. Wajahnya terlihat sangat merana. Sama sepertiku.

Mau tak mau. Kulahap semua es krim itu. Rasanya manis. Aku ingin sekali muntah. Waktu, cepatlah berjalan. Aku tak sanggup lagi.

End Of Sasuke's PoV

20 menit setelah perlombaan dimulai

"Huweeek…!" terlihat seorang pemuda berambut biru dongker, tengah berkutat dengan tong sampah terdekat. Muntah-muntah hebat.

"Bwahahahaha…!" disampingnya ada sorang gadis berambut pirang, tengah tertawa terbahak-bahak, melihat sang pemuda yang ada disebelahnya muntah-muntah akibat makanan manis yang baru saja ia makan. Baru 5 cup es krim saja sudah tumbang.

Sasuke mengangkat wajahnya, lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Menatap sang gadis tajam.

"Sekarang, sudah puas, Nona?" tanya Sasuke kesal.

Naruto mengusap air matanya dengan jari telunjuk. Berhenti tertawa. Tapi, isakan tawanya masih tersisa.

Ia mengangguk lemas, senyum tersungging di bibir manisnya.

"Tentu. Aku puaaaaas, sekali!" jawab si gadis, menahan tawa. Teriangat-ingat wajah Sasuke saat pertama kali memakan es krim coklat yang manisnya luar biasa.

"Huh!" Sasuke memalingkan wajahnya sambil bersedekap. "Sekarang kita kemana lagi?" tanyanya. "Ini yang terakhir, terus kita pulang."

Naruto duduk di kursi taman terdekat. Kepalanya mendongak ke atas. Memandangi langit yang mulai gelap. Ia tersenyum.

"Aku ingin melihat pemandang Konoha dimalam hari, dari kejauhan." Ucapnya. Sasuke menoleh lalu menyabet tangan mungil nya.

"Akan kutunjukkan."

Wajahnya memerah, menanggapi reaksi langsung Sasuke, yang menyabet tangannya, lalu membawanya pergi ke tempat yang sekarang ia inginkan.

~777~

"Te-teme…!" panggilnya terbata. "Lepaskan, tanganku! Malu tau!" sungutnya sambil menyembunyikan wajahnya yang menyemburat kan, semburat kemerahan.

Sasuke berhenti. Tidak melepaskan tangannya.

"Syukurlah, antriannya tidak banyak."

Naruto melongokkan kepalanya dari balik lengan Sasuke. Dilihat nya, sebuah Kincir Raksasa. Matanya membulat.

"Ayo cepat!"

Sasuke kembali menarik tangannya. Menuju loket antrian. Disana ada beberapa pasangan remaja. Atau lebih tepatnya empat pasangan remaja yang sedang bermesraan didepan umum. Itu membuat kedua orang ini canggung. Karna mereka bukan pasang- an.

"Kita bukan, pasangan. Kita bukan, pasangan." Gumam si gadis sambil memejamkan matanya.

Sasuke seperti seorang yang sedang patah hati. Di liriknya Naruto yang sedang mengucapkan kalimat-kalimat pembuat patah hati. Tapi, ia tidak boleh putus asa. Ia boleh berharapkan, kalau suatu hari nanti gadis yang ia sukai berpisah dengan pacarnya. Meskipun si gadis belum bisa melupakan mantan pacarnya sepenuhnya.

Kini giliran mereka masuk ke dalam (Mi-chan gag tau namanya apa..~).

Sasuke mengenggam tangan Naruto. Menuntunnya masuk ke dalam sebuah benda, yang Author tak tau namanya apa.

Pintu ditutup dan mesin mulai menjalankan Kincir itu perlahan. Kaca jendelanya menampilkan sebuah lukisan indah di senja hari. Lukisan yang sebenarnya.

"Indah, ya." Gumam gadis yang berada diseberangnya. "Lukisan tangan Tuhan."

"Tentunya, lampu yang warna-warni itu bukan lukisan aslinya." Tambah Sasuke menopangkan dagunya ke tangan. Sama-sama menatap langit senja.

"Haha… kau bisa saja."

Entah mengapa suasana didalam ruangan itu mencanggung. Dua-duanya sama-sama terdiam.

"Jadi, kenapa tempo hari kau menangis, dan kutemukan pingsan di gedung olahraga?" tanya Sasuke, memecah kecanggungan. Naruto tersentak, ia tersenyum miris.

"Aku patah hati." Jawabnya. Giliran Sasuke yang tersentak kaget. Mengalihkan pandangannya dari jendel ke satu sosok dihadapan nya.

"Memangnya ada apa?" gadis itu tak menjawab. Terdiam lama. "Kau berjanji padaku, kalau kau sudah siap, kau akan menjelaskan semuanya. Apa sekarang kau masih belum siap?"

Naruto menggeleng keras. "Aku sudah siap, untuk menjelaskan nya." Jawabnya lagi. Menundukkan wajah.

"Kalau begitu, ceritakan padaku." Ucap Sasuke agak memaksa.

Mata sapphire nya menatap mata onyx dihadapannya, sedih.

"Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya terkhianati?"

"Pernah." Jawab Sasuke memotong pembicaraan.

Naruto menyipitkan matanya. "Dengan siapa?" tanyanya. Sasuke memalingkan wajahnya.

"Tentu saja, denganmu." Jawab Sasuke santai.

Naruto tersentak. "Berulang kali hati ini tersakiti oleh mu, Namikaze Naruto. Rasanya sakit sekali. Melihatmu yang kusukai, saat pertama bertemu, bermesraan dengan Gaara yang menurutku tipe cowok yang senang sekali mempermainkan hati perempuan."

"Gaara tidak seperti itu!"

"Lalu, kenapa ia bisa mengkhianatimu dan beralih pada wanita lain. Lelaki bajingan." Mereka terdiam.

"Baru pertama kali, aku mencintai seseorang seperti ini. Aku menyukaimu. Kau mungkin agak kaget, dengan pernyataan dadakan dariku."

"Aku rela dicap playboy, karna memutuskan Sakura yang tidak tau apa-apa. Bukan wanita sepertinya yang aku cari. Bukan nya aku tidak suka dengan gadis itu. Tapi, menurutku ia terlalu berlebihan. Aku tau perasaan mu yang baru saja merasakan patah hati."

"Kenapa kau mencintaiku, sebegitunya?"

"Jawabannya cukup mudah. Karena, kau cinta pertama dan terakhirku. Apapun akan ku lakukan demi orang yang ku cintai. Apapun. Tak ada yang lebih berarti dibandingkan kau dengan semua yang ada didunia ini. Tak ada."

Naruto menatap Sasuke lama. Baru saja ia patah hati. Sekarang ia sudah menemukan pengganti.

"Sasuke, aku tid…-"

"Aku tidak mau mendengar kata itu dari kalimatmu. Jadi, pikirkan lah baik-baik. Aku tak mau kau tersakiti lagi."

Mereka terdiam. Gadis itu merasakan kalau air matanya sebentar lagi akan tumpah. Ia menundukkan kepalanya, agar tidak terlihat oleh Sasuke. Namun, Sasuke terlanjur mengetahuinya. Ia raih jemari tangan Naruto, menggenggamnya. Tersenyum.

"Aku tak memaksa mu, untuk memimilihku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk gadis yang ku sukai. Kalau kau masih mencintai Gaara dan sudah berusaha untuk menyukaiku. Aku rela hati ini kembali tersakiti, asal kau bahagia dan kembali tersenyum. Ingat itu baik-baik, Dobe."

Mesinnya berhenti. Pintunya terbuka. Sasuke membantu Naruto berdiri lalu membantunya turun dari tempat itu.

Mereka berjalan menjauh dari tempat itu. Tidak bergandengan tangan. Tidak bersuara. Sasuke berjalan didepan, sedangkan Naruto berada dibelakangnya. Kepalanya menunduk lesu. Air matanya mengering.

'Aku rela hati ini kembali tersakiti, asal kau bahagia dan kembali tersenyum' perkataan Sasuke tadi terus berputar-putar dibenak nya. Naruto memandang tubuh tegap Sasuke dari belakang. Ia berlari ke arah punggung Sasuke, memeluknya dari belakang. Erat.

"Dob-Dobe, kau ini kenapa sih?" bentak Sasuke risih, dengan wajahnya yang memerah. Naruto memejamkan matanya.

"Maafkan aku Sasuke…" gumamnya pelan. "Aku memang belum bisa menjawab perasaanmu, dan kau tau itu. Tapi, aku akan men coba untuk menyukaimu dan melupakan Gaara. Aku berjanji."

Sasuke terdiam. "Bisa kau lepas dulu, pelukanmu?"

Naruto menuruti kata-kata Sasuke. Ia berjalan kesebelah pemuda itu. Mendongakkan wajah cantiknya.

Dalam sekejap. Ia merasakan sebuah benda lembut dan basah menempel di bibirnya. Matanya terbelalak kaget, tapi ia menikmati ciuman yang berdurasi singkat itu.

Sasuke melepaskan bibirnya, dari bibir Naruto. Menatap mata sapphire itu yang kini sukses membulat tidak percaya. Sebuah senyum terlukiskan diwajah pangeran stoic itu.

"Ka-kau," Naruto meloncat mundur sambil menunjuk Sasuke yang agak membungkuk. "Kau menciumku!"

"Hanya sebagai tanda terima kasih, kok." sahutnya tenang, me negakkan punggungnya. "Terima kasih kau sudah memikirkan perasaanku."

Naruto memalingkan wajahnya. "Aku tak memikirkan perasaan mu kok. Dasar Teme!" ucapnya dengan wajah yang masih me merah.

"Kalau kau tak memikirkan perasaanku. Buat apa kau mengatakan kalimat tadi?" goda Sasuke. Menyamai langkahnya dengan sang gadis.

"Huwaah…! Diam kau Teme!" teriaknya sambil menutup kedua telinga nya.

Sasuke terus menggoda Naruto dalam perjalanan mereka ke tempat parkir sampai ke rumah. Uwaaah… rupanya Sasuke ber bakat juga jadi gigolo, dengan rayuan gombalnya (sharingan!).

~777~

Seminggu setelah pengakuan Sasuke

Naruto's PoV

"Catatan kimia Sasuke sudah, komik Shonen nya Kiba sudah, apalagi, ya?"

Ku lihat ke sekeliling kamarku, mencari-cari sesuatu yang mungkin belum ku masukkan ke dalam tas slempangan ku yang berwarna orange gelap dan hitam. Aku berhenti menatap sekeliling kamarku, dan memutuskan semua barang yang ku perlukan sudah masuk kedalam tas. Lalu berjalan keluar dari kamarku.

Aku berjalan menuruni tangga spiral rumahku dengan tergesa-gesa. Kucium aroma makanan dari arah dapur. Aku meloncati 3 buah anak tangga sekaligus saking terburu-burunya.

"Dei-nee, sedang buat apa?" tanyaku. Wanita bertubuh ramping di hadapanku yang sedang memasak itu, menoleh sebentar, lalu kembali ke aktivitasnya semula.

"Bekalmu." Jawabnya singkat. Aku hanya ber oh-oh ria, lalu tersenyum dan berbalik.

"Mau kemana kau Naruto?" tanyanya tajam. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

"Sekolah."

Tampaknya ia terkejut. "Lalu, bagaimana dengan bekalmu?"

Kukeluarkan cengiran khasku, menjawabnya pelan. "Maaf, hari ini rencananya aku mau makan siang di kantin dengan Sasuke… jadi, bekalmu itu untukmu saja. Karna aku tak membutuhkannya."

Aku bisa melihat sekumpulan asap hitam gosong dari kepalanya, dan tatapan matanya yang seakan ingin membunuhku. Sebelum terkena semprotan hujan gratisannya, aku sudah kabur.

"Baka Imoutoooo!" teriaknya sambil mengacung-acungkan spatula. Aku terkekeh kecil sambil membuka pintu depan dan berjalan keluar dari rumah itu.

Aku tersenyum miris, mengingat dahulu keluarga kami yang masih utuh sering kali berteriak-teriak marah seperti yang Deidara lakukan tadi. Kyuubi-nii sering menjadi wasit untukku dan Deidara jika berkelahi. Bukannya berteriak saling membentak, aku dan kakak perempuan ku malah tertawa mendengar celotehan kakak lelaki pertama ku itu, yang berbicara seolah ia adalah seorang wasit yang berpengalaman.

I miss you, miss you so bad
I don't forget you, oh it's so sad
I hope you can hear me
I remember it clearly

Aku masih ingat senyum dan ledekkan Kaa-san, saat mengetahui ku sedang menyukai seseorang waktu berada di sekolah dasar.

Goodbye on the hand
I wish that I could see you again
I know that I can't
I hope you can hear me cause

Lelucon Tou-san yang membuat semua anak dan istrinya tertawa terbahak-bahak. Aku masih mengingat semua itu.

Oooooh
I remember it clearly

Aku mengusap air mata yang keluar di sudut mataku. Aku hanya dapat tersenyum miris mengingat semua hal yang kami lakukan bersama dulu.

Tin… tiiiin…

'Sial, sekarang apa lagi? Mengganggu acara, mengenang saja!' sungutku dalam hati. Aku menghentakkan kaki ku menuju pagar. Kubuka pintu pagar, kulihat sebuah mobil Lamborghini biru gelap. Kaca jendelanya menurun dan memperlihatkan sesosok pemuda yang kukenal. Sasuke melambaikan tangannya, berujar santai.

"Butuh tumpangan?" tanyanya, sambil menatap mengejekku. Aku tersenyum pahit, lalu berlari menuju mobil itu parkir. Berjalan memutar ke arah pintu jok depan. Membukanya, dan melihat wajah tampan Sasuke. Pemuda itu menatapku santai, aku menutup pintunya hingga berdebam.

"Ayo, berangkat Pak Supir!" bentak ku sok majikan. Sasuke tidak menghiraukan bentakkan ku. Pemuda berambut pantat ayam itu malah menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya di jalan komplek yang masih sepi, karna waktu sekararang aku berangkat termasuk sangat pagi.

Kulirik wajah stoicnya yang nan serius mengendarai mobil Lamborghini dark blue nya. Sekarang aku merasakan wajah ku memanas. Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Berusaha menghilangkan semburat merah yang kini menghiasi wajah tan ku.

Aku teringat, saat ia mengatakan perasaannya, yang, mengatakan kalau aku ini adalah cinta pertamanya.

Akhir-akhir ini hubungan kami menjadi lebih dekat, sampai-sampai Sakura yang menjadi mantan Sasuke mengira kami ini sudah pacaran, dan menjadi sepasang kekasih. Mengingat soal itu aku jadi teringat seseorang yang sudah mematahkan hatiku sampai berkeping-keping. Gaara.

Aku belum ada bertemu dengannya, setelah terakhir kali aku bertemu dengannya yang sedang bermesraan diatap sekolah bersama Konan-senpai. Aku masih mengingat peristiwa itu. Dan sekarang, tiba-tiba saja dadaku terasa terbakar. Terbakar oleh rasa kecewa dan rasa sakit. Aku memejamkan erat kedua mataku, menahan butir-butir air mata sialan ini, yang memaksa untuk keluar. Sialan! Sebelum ini aku tak pernah secengeng ini. Aku mengusap kedua sudut mataku yang sudah merembes kan butir-butir air mata sialan itu, dengan punggung tangan. Kuharap Sasuke tak melihatnya.

"Menangis lagi?" tanyanya dengan wajahnya yang masih datar. Mata onyx nya fokus mengarah ke jalanan.

"Kau bisa membaca pikiranku, ya Teme?" tanyaku penasaran, karna sejak saat itu, ia selalu bisa menebak perasaanku. "Tebakan mu benar semua."

Sasuke mengeluarkan senyum liciknya. "Hebatkan?" pujinya menyombongkan diri. Aku hanya ber sweatdrop ria.

"Sama sekali tidak." Sahutku sambil memeletkan lidahku. Sasuke mendecih kesal. Lalu menyeringai lagi.

"Hn, jadi, ternyata kau tidak mau mengakui kekuatanku?" Aku terdiam. "Oke. Aku anggap itu 'ya'."

'Hei, seenaknya saja memutuskan!'

"Enak saja!" bantahku. "Aku baru mengakuimu, kalau kau bisa mengalahkan ku main PS!" tantangku antusias dan berapi-api.

Sasuke terdiam, lalu mengangguk. "Ku terima tantangan tak bermutu mu itu." Jujur, aku agak sedikit tersinggung dengan empat kata terakhirnya. 'Menyebalkan!'

"Di rumahku, setelah pulang sekolah. Bagaimana?" Sasuke me ngangguk, sambil membelokkan arah setir mobilnya yang tak terasa sudah memasuki gerbang masuk sekolahku.

Sasuke mengambil tempat parkirnya, dan mematikan mesin mobil. "Deal?"

Sasuke membalas jabatan tanganku, meremasnya keras sampai aku mengaduh kesakitan. "Deal."

"Aow..! Lepaskan tanganku baka, Teme!" teriakku. Sasuke langsung melepaskan jabatan tangannya, dan mengangkat di samping telinga sambil menyeringai. Akhir-akhir ini mahkluk aneh dari planet yang bernama Uchiha, sering sekali tersenyum seringaian seperti itu. Devil smirk.

"Tidak sengaja." Sahutnya. Aku menganga tidak percaya, masih mengusap pergelangan tanganku.

"Hei!" teriakku marah, pemuda itu malah tidak mengubrisku, dan keluar dengan santainya. Didalam aku masih cemberut kesal. Tak lama kemudian aku menyusulnya. Pintu mobilnya kututup hingga berdebam. Ia menoleh padaku.

"Mahal tuh." Gumamnya sambil mengunyah permen karet rasa mint kesukaannya. Aku mendengus maklum.

"Biar saja. Aku berdoa semoga nanti sekalian rusak. Lumayan kan beli yang baru."

Sasuke menatapku lama, dan kukira ia tidak setuju dengan pendapatku. Hei, aku kan cuma bercanda!

Sasuke mulai berjalan dan belum menjawab pendapatku. Wajahnya tetap santai, seperti sebelumnya. Aku mengekor dibelakangnya.

"Istirahat nanti, jadi kan kau mentraktirku?"

"Hn."

Aku mengangguk senang.

Rambut pirang ku yang digerai sedikit terangkat tertiup angin. Aku mendongakkan kepalaku, menatap langit pagi yang lumayan cerah. Bel tanda masuk kelas membuyarkan lamunanku. Aku pun segera berlari menyusul si Teme, yang sudah berjalan duluan, dan sekarang aku tak melihat punggung tegapnya sedikt pun. Dasar, menyebalkan!

~777~

Normal PoV

Bel masuk sudah berdering. Menandakan kalau jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Siswa-siswi KHS berbondong-bondong masuk ke kelasnya masing-masing, sehingga sudah tak biasa lagi kalau koridor sekolah itu selalu penuh saat pagi dan siang hari.

Inilah jadinya, kalau guru yang mengajar dikelas sedang tidak ada. Ribut dan berisik (sama ya?). Dikelas inilah pemeran utama kita sedang terduduk lesu, disampingnya ada Sasuke yang sedang sibuk dengan rentetan rumus-rumus dasar Kimia. Maklum saja, Sasuke kan anak terpintar se-KHS dan juga anak yang lumayan ter pandang dari kalangan atas.

Sasuke membenarkan letak kacamata persegi panjangnya yang berbingkai hitam. Jemari tangannya tampak sibuk mencorat-coret soal di selembar kertas. Tak jarang, pemuda yang selalu memakai kacamata berbingkainya saat menghitung ataupun membaca itu, mengurut-urut keningnya. Pusing harus diapakan lagi soal yang sedang dijawabnya ini. Pakai rumus ini, tidak bisa. Apalagi rumus yang lain, sedangkan soal yang ia kerjakan ini hanya punya satu rumus. Akhirnya, Sasuke Uchiha kita ini menyerah juga. Ia membanting pensilnya, lalu dengan malasnya ia melepaskan kacamata nya. Tapi, sebelum ia sempat melepasnya, terdengar suara yang berasal dari orang yang ada disebelahnya. Sasuke tersenyum. Perlahan ia tolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Dan ternyata suara itu berasal dari perut sang Dobe pujaan hatinya. Senyuman tambah berkembang, saat mendengar jejeritan histeris dari perut Naruto untuk yang ke sekian kalinya.

Kruuuk…

Sasuke menyeringai. "Lapar Dobe?" tanya nya, masih memperhatikan gerakan patah-patah dari Naruto yang ketahuan sedang mendambakan sebuah mangkok berisi ramen.

"A-apa-apaan sih!" ujarnya risih dengan wajah yang asli semerah kepiting rebus yang disudah direbus dengan api neraka.

Sasuke melepas kacamatanya, melipat lalu memasukkannya kem-bali ke sebuah kotak kacamata berwarna biru gelap.

"Sudahlah, jangan mengelak lagi Dobe." Menatap Naruto mesum *Plaak!* "Jujur saja. Kau lapar kan? Hah?" desak Sasuke. Naruto terpojok.

"Ti-tidak kok." Elaknya sambil memalingkan muka.

"Yang benar?" goda Sasuke.

"Be-ben…-"

Kruuuk…

Sasuke terkikik pelan, sambil memegang perutnya. Menahan tawa, supaya tidak lebih dari ini. Apa jadinya kalau keturunan Uchiha, yang terkenal keras kepala, dan dingin, tertawa terbahak-bahak didepan umum. Apalagi didepan teman-teman sekelasnya yang tahu benar sifat dinginnya. Naruto menutupi wajahnya yang memerah, dengan telapak tangan.

"Haha… perutmu ternyata lebih jujur, ya? Di bandingkan dengan pemiliknya!" Sasuke terkekeh geli. Naruto memukul lengan Sasuke dengan wajah yang masih tertutupi oleh satu tangannya.

"Jangan tertawa!" perintahnya malu-malu.

Sasuke menatap Naruto yang masih menutupi wajahnya dengan tangan.

"Sabarlah. Istirahat masih dua jam lagi kok." Ujar Sasuke yang langsung kembali terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya. Naruto hanya bisa menatap Sasuke tajam ditambah lagi dengan deathglare seorang Namikaze.

Naruto terus berusaha agar sasuke menutup mulutnya dan berhenti menertawainya. Mereka tidak sadar akan adanya sepasang mata emerald dari kejauhan yang sedang menatap mereka iri.

"Sasuke… tertawa?" gumamnya tidak percaya. Tangannya terkepal menahan amarah yang mulai memprovokasi dirinya agar melaku- kan yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang sahabat. Ia menggeleng pelan.

"Sasuke sudah mengatakan yang sejujurnya ia rasakan selama ini. Dan kami sudah putus, lain lagi kan ceritanya kalau aku masih menjadi kekasihnya?" gumam gadis itu pelan. Gadis itu mendengar pembicaraan kedua pasang remaja yang ada beberapa meter didepannya.

"Fuck you!"

"Haha… dasar bitch!"

"Hei!"

"Kau yang pertama Dobe!"

"Kau kan yang seharusnya pertama. Kau yang menertawakan ku!"

"Bla, bla, bla…"

"Hei, dengarkan aku!"

Senyuman miris terlukis diraut wajahnya yang manis. Ia merasa kalau pasangan yang ada didepannya ini sangat cocok. Ia iri pada Naruto yang berhasil meluluh lantahkan pertahanan wajah dingin Sasuke sampai membuat pria itu tersenyum, yang tambah mencengangkan lagi, ia membuat pria pantat ayam itu tertawa terkekeh, meskipun pelan. Ada rasa sesalnya saat melihat Sasuke. Kesal karna tidak bisa membuat pria itu menyukainya. Sakura berbalik lalu berjalan lesu ke arah teman-temannya yang tengah bergosip.

~777~

Naruto PoV

Sial. Tadi aku diejek habis-habisan oleh si Teme pantat ayam itu. Dan parahnya lagi ia menertawakan ku. Kejam…~~. Tapi ada sih, sedikit rasa senang, ketika wajah stoicnya itu luluh lantah. Ia tertawa. Dan itu cukup membuat wajahku yang sudah merah menjadi tambah memerah. Seperti seorang yang habis berjemur di pantai dan menggunakan Sun Oil, tapi malah tertukar dengan minyak goreng.

"Haah…"

Aku hanya bisa menghela nafas, sambil berjalan ke kantin. Sendiri lagi. Kalau kalian bertanya kemana si Teme tidak bertanggung jawab itu kemana. Aku akan menjawabnya.

Pria tidak bertanggung jawab itu, menyuruhku untuk pergi sen- dirian ke kantin dan langsung saja memesan makanan. Alasannya sih, karena ada urusan. Biasalah alasan semua cowok itu sama sekali tidak bermutu. Pastilah, alasannya selalu ada urusan. Memangnya tidak ada alasan lain apa? Huh, dasar!

Sekarang aku sedang berjalan didaerah kekuasaan kelas 12 A-E. Kenapa lewat sini? Karena, jalan pendek satu-satunya menuju kantin ialah lewat jalan ini. Sisanya? Tidak diragukan lagi. Seperti yang tadi aku bilang. Cuman koridor kelas ini jalan terpendek. Sisanya harus memutar dulu baru sampai dikantin. Kalau sudah sampai sana dengan lewat jalan memutar, kau akan mendengar suara yang paling dibenci oleh semua murid. Masuk kelas.

Ya Tuhan…, bayangan Sasuke saat tertawa tadi masih terus menyita semua jalan pikiran ku. Saat dikelas tadi, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi ke depan kelas. Selain kepikiran tentang perutku yang terus meraung bagai singa, aku juga terus kepikiran tentang wajahnya Sasuke yang sedang tertawa. Dan sekarang aku sudah bisa merasakan kalau wajahku memanas.

'Lapar…~~'

Brugh…

"Aduh, maaf. Tadi aku sedang tidak melihat jalan." Ucapku. Mataku terpejam saat menabraknya. Aduh, aku ini benar-benar bodoh!

"Naruto?" panggilnya. Membuatku terkesiap. 'Suara ini…'

Ku dongakkan kepalaku. Terlihat sepasang mata hijau Jade yang sedang menatapku kaget. Rambut merahnya.

"Gaara…?"

TBC

Author's Note: Ajegile… Mi-chan ngandet tuh pas yang Sasuke nembak Naru. Makanya lanjutannya lama gara" itu. Tapi gag papa kan, guys?

Sasuke: Gag papa, darimana? Gue pegel tao, d suruh nunggu dulu ampe lo punya ide, buat ngelanjutin cerita!

Naruto: Betul… betul… betul…

Author: *sweatdrop ngeliat Naru kya Upin-Ipin*

Naruto: Nape Thor?

Sasuke: Kesambet kali. Karma gra" ngebuat kita nunggu lame.

Author: *geleng"* Kagak! Nak aja! Eh, To! Sejak kapan elo jadi kya U ame I, gitu?

Naruto: sejak Naru jadi FG nya Upin-Ipin! (nyahut Gaje)

Sasuke: *ngeluarin deathglare* Shapa tuh Upin Ipin?

Naruto: Yaelah! Makanya, jangan kebanyakan nonton brita mulu! Skali" nonton kartun kek! Kan baek tuh untuk kesehatan! (reader: gubraaak!)

Sasuke: *sweatdrop*

Author: *tampang mesum* Sasu cemburu, yah?

Sasuke: *blushing* E-enak aja! *kabur sebelum ketauan belangnya* (reader: mangnya selingkuh!)

Naruto: *bisik-bisik, mumpung Sasu gag ada* Eh, Thor-Thor!

Author: Hn?

Naruto: Nape lu bikin si teme ini, jadi pake kacamata?

Author: *Senyum" sendiri* hehe… soalnya eike mikirnya pas lagi bca komik, trus kepikiran deh buat Sasuke pke kacamata. Enggak d sanke ternyata kerennn buangett! Suka gag lu to?

Naruto: *blushing* hehe… lumayan sih. Jadi keliatan kalem. Gag mesum kyak biasa.

Author: heh? Mang nya Sasu semesum itu?

Naruto: iih… elu mah kagak tahu pas d belakang layar!

Author: mang nya kenapa?

Naruto: grepe-grepe gitu deh…!

Author: Astaga! Tak kusangka Sasu semesum itu!

Naruto: *ngangguk"*

Author: trus, udah punya belum?

Naruto: *cengo* Belum apa?

Author: itu tuh. Hamil.

Naruto: *blushing* kan gag segitunya Thor!

Sasuke: *muncul tiba"* Lagi ngomongin gue ya?

Naruto: Kagak, ngomongin ayam!

Author: Ho'oh!

Sasuke: Eh, ayam shapa?

Naruto: Ya, ayam elo lah!

Sasuke: heh? Ayam? Gue ngerasa gag punya ayam tuh!

Naruto: maksud gue, rambut elo tu! Kan mirip pantat ayam…

Author: jadi kami lagi ngomongin tentang ayam" macem apa aje yang mirip ma rambut lo!

Sasuke.: Ooooooo

Author: eh, lo ngapain balik lagi?

Sasuke: ngejemput dobe!

Naruto: *blushing*

Author: *pikiran bejat, mode on!* pengen grepe-grepe naru, ya?

Sasuke: kagak! Gue laper, jadi ngejemput dia buat masak d rumah.

Naruto: *pundung d pojokan*

Sasuke: eh, thor!

Author: Apowe?

Sasuke: d suruh nutup crita tuh!

Author: Eh,? Kenapa?

Sasuke: meneketehe!

Author: alay!

Sasuke: Hn, terserah.

Author: Okeh reader sekalian. Karna sya, kata Sasu udah d suruh nutup crita. Maka dari itu Mi-chan mohon maaf atas kesalahan pda fic d atas. Klo ada typo harap maklumi saja. Klo alurnya dan critanya gaje, mohon d hindari saja. Jikalau anda" reader sekalian masih ingin membaca kelanjutan dari fic yang gaje nya Ya Allah, minta ampun. Terima kasih sebanyak banyaknya. Dan jangn lupa. Upah sya settelah menyelesaikan fic ini. Reader pasti tau kan maksudnya?

Jadi dengan segenap rasa, saya minta reviewnya dan jangan lupa Flame, dengan kata" sopannya. See you at next chapeteer!

Review, uy?