Chapter 3

Ohayou, Minna-san!

Glad to see you again! Senengnya, udah chap 3! Gag kerasa deh! Ya, Allah, Alhamdulillah! Ternyata bnyak yang ripiuw!

Pagi-pagi gini enaknya mah, baca fanfic rated M! Ternyata Mi-chan ini plin-plan, ya? (readers: Baru nyadar loe?) Hehe… soalnya gini. Kalo bca fic rated M, pasti sya balik lagi jadi Fujoshi, kalo rated T, pasti femNaru. Saya, benar-benar plin-plan…~ tapi gag papa kan? Itu kan hak masing-masing orang yang baca fanfic.

Baiklah! Mumpung gag ada yang liat saya, (reader: mang nya loe maling?) kitaa mulai aja pembukaan nya!

Naruto©Jeng Masas Meses Suster Kramas Kishi-Kishi Ajinomoto Iklannya Molto! (Amaterasu!)

Pairing: SasufemNaru, ItafemDei, GaaFemNaru

Rated T

Humor, Hurt/Comfort, Romance

Warning, Wanted! OOc, Oc, Abal! Alur kecepatan! Miss Typo!

Langsung masuk RSJ klo bca ini, sebelum

Disuntik obat penenang dulu!
Becarfull! Saya lupa ejaan bhasa inggris nya!

Don't like Don't Read!

Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk

Terkecuali para karyawan reader!

Remember that!

Are You Still Love Him?

Normal's PoV

"Naruto…?"

"Gaara…?"

Mereka terdiam. Naruto lebih memilih untuk membuang wajahnya dan menghindari Gaara yang belum puas menatap wajah cantiknya.

"Kau sudah mendengar rumornya?"

Astaga! Demi Dewa Jashin, yang lagi boker! Gaara itu O'on banget! Jelas-jelas kekasihnya itu melihatnya langsung. Hatinya kini benar-benar harus dimasukkan ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut.

Naruto berbalik dan menatap tajam wajah tampan Gaara. Genangan air mata mulai membanjiri rumah pelupuk matanya, yang mungkin sebentar lagi akan benar-benar merembes keluar dari batasnya.

"Mendengar?" ulangnya, setetes air mata mulai turun. "Aku melihat semuanya, baka!"

Tampak Gaara tersentak kaget, mendengar perkataan kekasihnya yang mungkin sekarang sudah berubah menjadi 'mantan'.

"Kau melihatnya?"

Naruto mengangguk. Tangan tan nya menutup permukaan wajahnya. Isakan tangis mulai terdengar dari bibir ranum itu.

"Aku bisa menjelaskan semuanya,"

"Jangan menyentuhku!"

Semua orang yang ada disekitar mereka berdiri terdiam menyaksikan hal yang seharusnya bukan tontonan itu.

"Aku tidak mau mendengarnya…"

"Kumohon…" Gaara mencoba menyentuh pundaknya. Tapi, tangan putih pucat lebih dahulu merangkul pundak gadis itu. Didongakkan wajahnya, dan ia dapati Sasuke sedang berdiri merangkul (mantan) kekasihnya.

"Bukankah dia sudah bilang, kalau dia tidak mau, senpai." Suara dingin itu, membuat deathglare Gaara muncul.

"Ini tak ada hubungannya denganmu, Uchiha." Desis Gaara.

Sasuke menatap remeh Gaara. "Tentu saja ada hubungannya. Aku tak mau kalau seseorang yang kusukai menangis, akibat ulah mu."

Gaara kedatangan rival baru. "Suka?"

"Aku mencintainya."

Seketika ada sebuah petir di siang bolong yang menyambar para FG Sasuke. Terdengar suara ambulan dari luar.

Teet… teet…!

Bel sialan! Mengganggu acara saja!

"Lebih baik kita ke kelas saja, Dobe." Ucap Sasuke yang kemudian menarik tangan Naruto dan menariknya keluar dari kerumunan itu.

Saat melewati Gaara. Gadis itu sama sekali tidak mau menunjuk kan wajahnya pada sang mantan pacar. Ia memalingkan wajahnya.

"Aku mancintaimu, Naruto."

Gadis itu berhenti. Sasuke berdecih kesal, tapi tangannya masih menggandeng tangan mungil itu.

"Apakah masih ada kesempatan untukku?" tanyanya. Naruto terdiam. "Aku dijebak oleh Konan. Aku meminum obat perangsang yang dimasukkanya kedalam minumanku dan mencumbu nya tanpa sadar. Kumohon, aku masih sangat mencintaimu."

Gadis bermata sapphire itu terdiam, terhenyak. Sasuke menyadari nya, dan mempererat genggaman tangannya.

"Kita harus segera pergi, sekarang jam pelajaran Danzou-sensei" Sasuke kembali menarik tangan mungilnya, yang dengan pasrah ditarik oleh tangan yang lebih besar.

Kerumunan itu mulai bubar seiring dengan selesainya acara itu. Tapi, Gaara masih dengan setia berdiri ditempat ia sedari tadi berdiri. Menatap sendu punggung ringkih itu, sampai menghilang dibalik tembok.

~777~

Sasuke's PoV

Sialan! Aku keduluan lagi! Haah… sial. Saat melihat wajahnya yang mendengar kalimat Gaara. Ia tampak bimbang. Ya, ia bukan tampak bimbang lagi. Dia sangat bimbang.

Kumohon lupakan Gaara, dan lihat aku. Tapi, aku tak bisa memaksanya. Aku sudah berkata padanya kalau aku rela ia kembali pada Gaara asal air mata yang selalu menggenangi pelupuk matanya itu hilang.

Kulirik wajahnya yang sendu. Kulihat tatapan matanya kosong. Aku tak ingin ia yang seperti ini. Aku ingin menghilang kan semua bebannya, dan berjanji akan menghiburnya sampai ajal menjemput.

Sekarang ia tampak seperti boneka, yang sedang kutarik (baca: seret). Aku tak kuasa menahan rasa ingin memeluknya. Menciumnya. Menenangkan nya. Dan akan kulakukan semua itu sekarang.

~777~

Naruto's PoV

Tuhan… apa salahku sehingga kau menitipkan beban seberat ini padaku? Aku tak kuasa menahan beban sebert ini lebih lama lagi. Aku ingin terjatuh. Tapi, kenapa selalu ada yang menopangku?

Gaara mengatakan kalau ia masih mencintaiku. Dan sebenarnya, aku juga masih mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi, aku juga harus memikirkan nasib Sasuke yang juga mencintaiku. Aku tak boleh bersikap egois. Aku juga harus memikirkan perasaan orang lain, yang mungkin malah lebih tersakiti lagi daripada aku.

Aku teringat perkataannya saat di taman bermain.

'Aku rela hati ini kembali tersakiti lagi, asal kau bahagia dan kembali tersenyum'

Kata-kata nya bagaikan sebuah cambuk. Hati ini sakit sekali. Saat aku tahu ternyata Gaara tidak sengaja mencumbu Konan-senpai, otak ini kembali bergejolak hebat.

Aku bingung. Aku masih marah pada Gaara. Tapi aku mencintainya. Aku takut Sasuke kembali patah hati lagi gara-gara aku. Aku bingung. Sangat.

Aku bimbang. Antara Gaara yang masih kusukai, dengan Sasuke yang kembali mengorbankan kebahagiannya untukku. Aku tak sanggup memilih salah satu dari mereka. Aku menyayangi mereka. Mencintai Gaara juga Sasuke.

Kenapa disaat aku mulai melupakannya, dan belajar menyukai Sasuke, ia malah datang. Luka lama yang telah menutup kini kembali terbuka. Sakit sekali. Perih. Aku ingin menangis. Tapi, air mata ini tidak juga menetes.

Aku ingin berteriak. Tapi, tenggorokan ini tercekat. Aku benar-benar tak sanggup lagi. Tuhan… tolong…

Kursakan Sasuke masih menggenggam erat tangan mungil ku. Dan aku menurut saja. Tapi, begitu aku sadar, kami sudah berada di sebuah tempat yang sangat gelap. Entah tempat apa ini, Kurasakan tangan Sasuke mencengkram lembut pundakku. Kurasakan nafasnya yang hagat di telinga ku. Ia berbisik.

"Aku mencintaimu…"

~777~

Normal's PoV

Ruangan itu sangat gelap. Hanya sedikit cahaya yang masuk melalui ventilasi. Itupun tak mampu membuat terang seluruh isi dari ruangan itu. Dan kedua orang yang ada didalamnya.

"Aku mencintaimu…"

Terdengar sebuah bisikan lembut.

"Aku tak ingin kau terbebani lagi." Bisik seseorang yang seperti nya adalah seorang pemuda.

"…"

Hening.

"Apa kau masih mencintainya, Naruto?"

Pertanyaan itu bagai bom atom yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki saat perang dunia kedua. Sepertinya si gadis yang berada di depan pemuda itu terbelalak kaget.

"Kenapa kau bertanya seperti, itu?" balasnya bertanya.

"Karna aku mencintaimu, bodoh." Jawab pemuda yang di ketahui bernama Uchiha Sasuke, itu. "Sekarang jawab aku dengan jujur."

Gadis itu terdiam lama. "Kumohon… jangan bertanya yang seperti itu. Aku bingung. Aku menyayangi kalian berdua. Aku aku mau salah satu diantara kalian tersakiti. Apalagi kau Sasuke. Aku menyayangi kalian." Ucapnya lirih.

Sasuke menarik nafas dalam-dalam, meredam emosinya yang bergejolak. Ia marah. Marah pada orang yang ia cintai. Marah pada seseorang yang juga dicintai orang yang disayanginya.

Dengan lembut Sasuke, merengkuh tubuh yang tidak lebih pendek darinya. Memeluknya. Berharap bisa menyalurkan betapa, gundahnya perasaannya kali ini. Menyalurkan kekuatan untuk gadisnya. Wajahnya bertumpu pada tengkuk si gadis. Membenam kan seluruh wajahnya disana.

Dapat dirasakannya. Hembusan nafas Sasuke menerpa tengkuk nya. Ia balas memeluk Sasuke. Memeluknya erat. Seketika tangisnya meledak.

"Aku bodoh!" serunya frustasi. "Kenapa aku ini selalu rapuh, dan harus dilindungi? Kenapa? Kenapa aku harus ada didunia ini, jika aku saja tak mampu memberikan kebahagian untuk semua orang yang kusayangi?"

Sasuke mempererat pelukannya. Ia berbisik di telinga gadis itu. Membisikkan sebuah kalimat yang mampu menghentikan rasa frustasi, Naruto.

"Kenapa?"

"Karena, kau ada untuk kami semua. Kami sangat membutuhkan mu disini. Apalagi aku. Aku mencintaimu. Jadi, kumohon jangan berpikir seperti itu lagi. Semua perkataan hatimu itu tidak benar. Jangan pernah mendengarkan kata-kata mereka yang memprovokasi dirimu sendiri, Dobe"

Gadis itu terdiam. Tapi, masih terdengar isakan-isakan tangisnya. Ia benamkan seluruk permukaan wajahnya pada pundak kekar Sasuke. Bisa dirasakannya, kemeja putihnya itu mulai basah akibat dari air mata yang turun dari mata sapphire kesayangannya.

"Aku bingung… aku tak tahu harus melakukan apa? Aku takut yang nanti akan kulakukan, akan membuat sebuah luka baru. Takut… aku tak ingin melukai kalian…" lirihnya masih menangis. Sasuke hanya tersenyum.

"Kau tak usah takut untuk melukai ku. Aku pernah bilang kan, 'apapun akan kulakukan untuk membuat mu bahagia', tak terkecuali untuk yang ini."

Tangisnya kembali meledak. Sasuke hanya bisa terus mengusap lembut rambut pirang panjangnya yang tergerai. Mereka terus dalam posisi seperti itu, sampai tangis Naruto mulai mereda. Padahal lagi dalam posisi wenak. Malah ada suara yang sangat menggangu. Tapi, mampu membuat mereka tertawa. Atau lebih tepatnya salah satu dari mereka, yang lainnya harus menahan malu.

Kruuuk…

Sasuke menyeringai. "Sepertinya ada yang kelaparan nih."

Refleks, Naruto mendorong tubuh Sasuke yang kini sedang memeluknya. Kalau didalam ruangan itu terang benderang, pasti pemuda itu dapat melihat semburat merah yang sedang menghiasi wajah gadis yang dicintainya.

"Ap-apaan, sih!" bantahnya, dengan wajah bersemu. "Aku kan tadi belum sempat makan."

"Ooh…" Sasuke ber oh-oh ria. "Kalau begitu sama dong."

Naruto terperangah. "Kau juga belum makan, Teme?" tanya nya polos. Sepolos pantat bayi -?-.

"Hn."

"Kalau kita ke kantin sekarang, Kita bakal ketinggalan jam pelajaran Danzou-sensei," matanya menerawang, berpikir.

"Tinggalkan saja. Beres kan?" Tumben Sasuke asal jawab.

"Enak saja!" bantahnya, sambil meraba-raba mencari pintu keluar. "Aku tak ingin ketinggalan pelajaran, Teme! Kalau kau sih enak. Kau kan pintar. Sedangkan aku?"

"Dasar bodoh!" ejek Sasuke, yang langsung mendapat deahglare dari Naruto. Walaupun tidak kelihatan, ia dapat merasakan aura nya. Tapi, untungnya pemuda satu ini sudah kebal, dengan berbagai macam bentuk deathglare.

"Kau kan bisa minta ku ajari. Lagipula, hari ini aku ke rumah mukan?"

Naruto mengangguk paham. "Iya sih. Tapi, kan untuk main PS! Bukan belajar, Teme!"

"Kau ini mau ku ejek, apalagi sih?" Sasuke mulai kesal. "Benar-benar baka. Kan itu bisa kita lakukan setelah belajar, dasar Dobe."

Naruto menepuk jidatnya, dengan dramatis. Lalu nyengir watados. Ajegile, ini cewek.

"Hehe… maaf aku kan baru aja connect (baca: konek) maklum, aku kan LOLA."

Sasuke hanya geleng-geleng kepala. Kenapa bisa, ia suka pada gadis, yang ya ampyuuuuuun…! Dobe nya minta ampun!

"Sudah ketemu gagang pintunya?" tanya Sasuke.

Naruto menggeleng lesu. "Gag ketemu…"

Sasuke menyeringai. "Waduh, kalau begini terus kita bakal terkurung begini terus lho. Gelap lagi."

Naruto bergidik ngeri. "Ogaaaah…!"

Ctek..

Tiba-tiba, seluruh ruangan itu jadi terang benderang. Sasuke berusaha menahan tawanya, saat melihat wajah Naruto yang melongo.

"Curang!" pekiknya kesal, sambil menunjuk-nunjuk wajah Sasuke.

Sasuke terkekeh geli, sambil memegangi perutnya yang sakit akibat menahan tawanhya.

"Seharusnya tadi ku foto saja wajahmu yang aneh tadi. Haha… aduh, perutku sakit…!"

"Cih, menjengkelkan." Acuhnya yang kemudian meninggalkan ruangan itu, sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal. Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di ruangan itu, sambil memegangi perutnya. Tangannya melambai-lambai lesu ke arah pintu keluar.

"Hei, tunggu aku, Dobe!"

Akhirnya Sasuke pun keluar dari ruangan itu, dan berusaha menyusul Dobe tercintanya itu, yang sudah terlebih dahulu pergi.

Dalam hatinya, pemuda berambut emo itu atau supaya lebih akrabnya, pemuda berambut Pantat Ayam itu,*Geplakked!* bersyukur karna perempuan yang ia sukai sudah kembali ke asalnya *reader: emangnya mati?*. Memang itu termasuk sebentar, dan tidak memakan waktu banyak. Justru itu yang ia harapkan, agar Dobe tercintanyaitu tak merasakan sakit yang berkepanjangan. Sasuke tersenyum dalam hati *reader: emang bisa?*

~777~

Kediaman Namikaze

Pukul 15:30 WS (Waktu Setempat)

Nampak sebuah mobil Lamborghini dark blue, berhenti di depan rumah kediaman Namikaze. Dari dalam mobil, muncullah dua sosok yang sangat kita kenal. Walaupun sebenarnya bukan pasangan. Kedua pemeran utama kita, Sasuke Uchiha dan Namikaze Naruto.

"Heh, Dobe, tidak ada orang dirumahmu, ya?" tanya Sasuke. Naruto menggeleng.

"Entahlah," jawabnya. "Sepertinya, Nee-chan masih ada di kantor. Biasanya sih, kalau dia belum pulang, dia bakal ngirim e-mail."

Sasuke memencet tombol mengunci, remote control mobilnya. Terdengar bunyi *Piiip* dari mobilnya, yang mengisyaratkan kalau mobil itu sudah terkunci.

"Coba kau cek Inbox mu." Peritah Sasuke. Naruto langsung merogoh saku rok nya, dan mengambil sebuah gadget biru muda dari dalam sana. Matanya nampak fokus pada layar gadget Light Blue nya. Jemarinya sibuk menggerakkan tombol navigasi gadget nya.

"Bagaimana?" tanya Sasuke tidak sabar.

"Katanya, ia sedang kencan dengan Ita-nii. Mungkin nanti malam baru pulang." Jawab gadis itu, yang lalu memasukkan kembali gadget Light Blue ke dalam saku roknya.

"Biasanya dimana kalian menaruh kuncinya?"

"Pakai kunci cadangan." Jawab Naruto, yang kemudian kembali merogoh kantong tasnya. Mengambil sesuatu dari dalam sana.

Begitu sudah dapat apa yang dicari. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam kediaman sang gadis, yang sebelumnya harus membuka pagar terlebih dahulu.

"Mau minum apa?" tanyanya, sebegitu mereka masuk kedalam rumah. Sasuke langsung menghempaskan bokongnya ke sofa terdekat.

"Jus tomat." Jawabnya singkat. Naruto yang mendengarnya, langsung ngeloyor ke dapur untuk membuatkan minuman yang dipesan Sasuke.

Mata onyx nya, menjelajahi seluruh isi ruang tamu itu. Luas dan cukup elegan. Semuanya bernuansa coklat dan krim. Matanya beralih, pada pigura yang memperlihatkan sebuah foto keluarga yang harmonis.

Nampak seorang wanita berambut merah, sedang duduk sambil tersenyum menghadap ke kamera. Disebalah nya, ada seorang pria dewasa berambut sama dengan Dobe nya, sedang berdiri, memegang pundak wanita yang berstatus sebagai istrinya, ia tersenyum bijak, menatap kamera. Didepan mereka, tampak dua orang gadis manis yang sedang duduk, tangan mereka menumpu kepala mereka yang berada tepat diatas paha sang ibu. Yang disebelah kanan, adalah Deidara. Perempuan itu mengenakan gaun gothic selutut yang didominasi oleh warna hitam, dan renda manis berwarna putih. Rambutnya digerai indah, ada sebuah bandana hitam berenda putih. Pita yang berada dilehernya berfungsi sebagai kalung, dengan bandul oval yang berwarna putih susu. Disebelah kiri, adalah Naruto. Pujaan hatinya. Gadis manis itu mengenakan gaun dan accecoris yang sama dengan kakaknya. Hanya saja, gaun dan semua accecorisnya didominasi oleh warna putih. Rambutnya juga digerai. Ia mengenakan bandana putih berenda hitam, kebalikan dari kakaknya. Disebelah Ibu mereka, ada seorang pemuda tampan, yang mungkin bisa mengalahkan ketampanan dirinya. Pemuda itu mengenakan jas hitam dan kemeja putih. Dua kancing atasnya terbuka. Tidak mengenakan dasi. Bibirnya melengkungkan senyum yang tak kalah bijak dari ayahnya. Rambutnya, berbeda dengan kedua adiknya yang berambut pirang emas. Rambutnya sendiri berwarna orange. Kombinasi dari kedua warna rambut orang tua nya. Kushina yang berambut merah darah, dan Minato yang berambut pirang emas seperti adiknya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana hitamnya. Sungguh sangat menawan hati. Benar-benar tampan. Author sampai lupa, kalau dia itu ngefans sama Ciel Phantomhive, Sasuke, Sasori dan Gaara. Benar-benar pelupa.

Puas ia melihat foto keluarga itu. Tiba-tiba Naruto datang sambil membawakan nampan yang berisi segelas jus tomat, segelas jus jeruk dan beberapa snack kering. Ia yakin, pasti ia bisa menghabis kan semua snack itu *reader: Ih, Sasu rakus! (deathglare) Ampuun!*

"Maaf lama," ucapnya, yang lalu meletakkan semua makanan itu ke atas meja. "Kita belajar dimana?"

Sasuke mengambil jus tomatnya, lalu menyedotnya sedikit. "Disini saja." Jawabnya.

Gadis itu menelengkan kepalanya. "Kenapa tidak di kamar saja, Teme?" tanyanya polos. Sungguh saat itu juga, Sasuke ingin menelannya hidup-hidup.

Pemuda itu menghela nafasnya. "Kau ini bodoh, atau apa, sih?"

Naruto menatap tajam Teme nya itu.

"Sungguh, aku bingung kenapa aku bisa-bisanya menyukai gadis LOLA sepertimu." Sasuke geleng-geleng maklum.

"Hei!" bentak nya mulai marah.

"Bodoh, sekarang hanya ada kau dan aku di rumahmu. Bagaimana kalau aku kehilangan kendali dan melakukan hal yang tidak-tidak padamu?"

"Tidak!" teriaknya sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Dasar Teme mesuuuuum!"

Sasuke menyeringai. "Makanya, pakai otakmu itu. Dasar Dobe."

Naruto menggembungkan pipinya kesal.

"Aku mandi dulu sebentar." Ucapnya yang lalu berbalik. Di ambang sekat dinding ia berhenti, menoleh ke belakang menatap Sasuke.

"Kalau kau mau mandi. Di dekat kamar Dei-nee ada kamar mandi. Pakaian nya nanti aku taruh didepan pintu." Ucapnya yang lalu melanjutkan perjalanannya.

Sasuke mengangguk paham. Ditutupnya buku pelajaran yang ada di pangkuannya. lalu beranjak pergi dari tempat itu.

~777~

Kini mereka sudah selesai mandi. Sasuke mengenakan T-shirt biru tua kepunyaan kakaknya Naruto yang belum lama ini meninggal dunia. Sekitar 2 tahun yang lalu. Sedangkan, gadis itu itu mengenakan T-shirt putih dengan tulisan 'FUCK YOU BOY!', dan celana hot pants berwarna biru tua. Sasuke mengernyit aneh.

"Apa?" tanya gadis itu yang risih karena terus dipandangi sedemikian rupa (?).

"Apa aku 'sebrengsek' itu?" tanya Sasuke yang masih mengernyit tidak nyaman.

Naruto melongo. "Maksudmu?"

Sasuke menunjuk tulisan yang ada di bajunya. Naruto hanya terkekeh pelan.

"Hahaha…" tawanya sambil membekap mulutnya sendiri.

"Jangan tertawa." Perintah Sasuke dingin.

"Iya-iya. Sebenarnya tidak juga sih." Ucapnya, sambil mengambil tempat duduk di sebelah Sasuke. "Aku kan tidak sengaja memilih baju ini."

"Hn." Acuh Sasuke yang lalu kembali berkutat pada buku pelajarannya.

"Bagaimana, pakaiannya pas tidak?" tanya gadis itu yang sedang memperhatikan T-shirt dan jeans biru tua milik kakak lelaki nya yang sudah meninggal.

"Hn." Jawab Sasuke yang lagi-lagi terlalu singkat.

"Tak kusangka, ternyata pas. Keren," ucapnya tanpa sadar. Seketika aktivitas pemuda itu berhenti. Wajahnya yang pucat mulai dihiasi oleh semburat merah.

"Eh, kenapa?" tanya nya heran, melihat tingkah Sasuke.

"Tidak apa-apa," jawabnya sambil memalingkan wajahnya yang masih dihiasi oleh semburat merah. "Lebih baik kau cepat selesaikan PR yang tadi diberikan oleh Danzou-sensei."

Naruto mengangguk. Lalu dengan sigap membuka buku tulisnya dan mulai mengerjakan soal Biologi yang sudah diberikan Danzou. Dengan serius tangan mungilnya itu mulai menulis jawaban-jawaban soal yang diberikan. Ditengah-tengah pekerjaannya gadis itu berhenti.

"Kau tidak mengerjakannya, Teme?" tanyanya. Sasuke masih memalingkan wajahnya yang sudah kembali ke asalnya. Stoic. Perlahan pemuda itu memalingkan wajahnya menghadap Naruto yang masih menatapnya bingung.

"Sudah selesai." Jawabnya pendek, seraya mengambil buku catatan nya yang ada diatas meja.

Naruto melongo. "Sejak kapan?

"Sejak tadi." Jawabnya kembali acuh. Naruto hanya mengangguk paham, dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.

Sasuke pura-pura membaca buku catatan yang ada ditangannya. Sedangkan matanya, jelalatan memperhatikan gerak-gerik Dobe nya. Ia menyeringai, mendapati orang yang ia sukai itu sedang kesusahan.

"Perlu bantuan?" tawarnya. Naruto menoleh, lalu dengan mantap ia mengangguk. Sasuke bergerak perlahan mendekati Naruto yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.

Jantung gadis itu seakan sedang mengikuti lomba lari marathon. Jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak? Lengan Sasuke melingkar melewati pundaknya, untuk mengambil pena yang tergeletak disamping tangannya.

Wajahnya mungkin sekarang sudah semerah darah. Bukan marah. Tapi, entah perasaan apa. Mungkin ia malu. Tapi, malu bukan seperti ini rasanya. Otaknya tidak bisa berkonsentrasi, mendengar kan perkataan Sasuke yang sedang menjelaskan bagaimana caranya mendapatkan jawaban yang benar.

Nafas hangat Sasuke menerpa wajahnya. Tuhan… mimpi apa ia semalam?

Aroma maskulin, menguar dari tubuh Sasuke yang lebih tinggi darinya. Gadis itu memejamkan matanya. Menikmati setiap sensasi yang ditimbulkan oleh wangi itu. Sampai akhirnya Sasuke selesai menjelaskan.

"Jadi seperti itu." Sasuke menoleh sedikit ke arah Naruto, yang masih memejamkan matanya. Pemuda itu mengernyit sedikit. "Hei, kau tidak apa?"

Naruto tersadar dari mimpi sesaat nya, dan mendapati wajah pucat Sasuke sangat dekat sekali dangn wajahnya. Mata sapphire itu terbelalak kaget.

"A-a-aku ke dapur dulu!" elaknya yang kemudian beranjak pergi menjauhi Sasuke yang tengah memandangnya bingung.

"Freak." Gumam pemuda itu yang kembali memperhatikan jawaban soal Biologi yang lain. Pemuda itu tersenyum simpul. "Tidak terlalu buruk" gumamnya.

~777~

Naruto's PoV

'ASTAGA! OH, MY GOD! APA YANG SUDAH KU LAKUKAN?' teriak ku dalam hati. Mana mungkin aku berteriak-teriak disini, sementara orangnya ada di ruang tamu, yang jaraknya tidak seberapa dari dapur.

Oh Tuhan… Apa yang terjadi padaku? Setidaknya beri aku petunjuk agar bisa menghentikan perasaan yang bergejolak ini. Semoga ia tidak melihat wajahku saat bertatap mata dengannya.

Aku seperti terhipnotis. Wangi maskulinnya itu benar-benar keterlaluan. Atau itu sebenarnya akibat dari feromon? Halah! Semuanya sama saja. Sama-sama membuat wajahku memerah. Sialan! Jantung ku masih berdebar-debar. Seperti sehabis dikejar hantu.

Kusandarkan penggungku pada pintu kulkas yang tertutup. Mencoba menenangkan perasaan yang tak menentu ini. Aku berjalan perlahan menuju meja makan. Menuangkan air putih ke gelas tabung yang transparan. Aku meminumnya, sampai ludes tak berbekas. Nafasku terengah-engah. Arrggh…! Sialan! Brengsek! Beraninya dia memperlakukan ku seperti itu. Seenaknya saja melingkarkan tangannya, dan membuat wajahku memerah. Tak akan pernah ku maafkan!

Aku menggeram kesal. Tapi tiba-tiba sebuah bel memperingatkan ku. Memperingatkan ku untuk segera minum obat.

Dengan langkah gontai, Ku berjalan ke tempat obat penyakitku ditaruh. Ku buka pintu kotak P3K yang berada disebelah kulkas. Ku cari sebuah botol yang bertuliskan nama obat penyakitku. Setelah mendapatkannya. Kubawa obat itu, kembali menuju meja makan. Kutuang air putih ke gelas ku, kubuka penutup obatnya. Mengambil sebutir obat, lalu menaruhnya di pangkal lidah, dan meminumnya bersama air.

Aku menarik nafas lega. Sejak kecil, aku harus selalu meminum obat. Lengah sedikit saja, aku pasti akan berada di ruangan ICU dengan alat pendeteksi detakkan jantung di dada sebelah kiri. Aku tak bisa hidup tanpa obat itu.

"Suara apa tadi?" sebuah suara mengagetkan ku dari lamunan. Ku dapati Sasuke tengah berjalan mendekatiku.

"Eh?"

"Aku tanya, tadi itu suara apa?" ia mengulang. "Pakai otakmu, Dobe."

Ku gembungkan pipi ku kesal. "Itu bel peringatan."

Sasuke mngernyit. "Bel peringatan apa?"

"Entahlah, Dei-nee sering sekali memasang benda-benda aneh, yang sangat tidak dibutuhkan."

Sasuke mengangguk paham. "Astaga, PR ku belum selesai!" pekik ku baru sadar.

"Sudah kuselesaikan." Seketika aku melongo mendengarnya.

"Eh?"

"Cih, dasar tidak tahu terima kasih." Decihnya. Aku baru sadar. "Padahal, sudah ku kerjak-"

"Uwaah… maaf merepotkan. Arigatou Gozaimasu. Kau kan tau aku ini LOLA." Sasuke sweatdrop.

"Ya sudahlah. Sekarang, mau apa lagi?"

"Karena, PR nya sudah selesai. Sekarang kita main!" seru ku riang. Sasuke hanya menggeleng. Aku berjalan mendahuluinya.

End Of Naruto's PoV

Normal PoV

"Karena PR nya sudah selesai, sekarang kita main!" seru gadis itu dengan keceriaannya yang luar biasa bisa menulikan telinga lelaki berambut raven itu. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya pelan.

Naruto sudah berjalan lebih dahulu. Sasuke berniat mengikuti kemana gadis itu pergi. Tapi, sebuah suara membuatnya berhenti melangkah dan berbalik. Didapati nya, keran di wastafel terbuka.

'Tiba-tiba sekali,' pikirnya, yang kemudian menghampiri wastafel yang berada tak jauh dari meja makan.

Pemuda itu memutar kerannya. Air yang keluar berhenti. Sasuke menarik nafas. Ketika kakinya hendak melangkah. Mata onyx nya tak sengaja mendapati sebuah botol obat, yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Sasuke berniat untuk mendekati botol itu dan membaca nama obat itu. Tapi, sebuah suara nan cempreng membuatnya tersentak kaget.

"Teme!" panggil suara cempreng, yang bisa kita ketahui adalah Naruto. "Kau sedang apa? Cepat kemari!" teriaknya. Sasuke hanya mendengus kesal. Sebelum ia melangkah pergi dari tempat itu, ia menyempatkan matanya melirik botol obat tadi. Perasaan nya sungguh tak nyaman.

~777~

"Kita mau main apa Teme?" tanya Naruto sambil menyodorkan dua buah tempat kaset. Sasuke hanya menatapnya bosan.

"Apa saja," jawabnya malas.

Naruto mengangguk, lalu membuka resleting tempat semua kaset PS nya disimpan. Dan mulai mencari kaset yang ia inginkan.

Sasuke mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Sibuk dengan firasat buruknya tentang obat yang ia temukan di dapur sang pujaan hati *Hoeeek!*

"Heh, Teme!" Sasuke tersadar dari lamunan nya.

"Hn?"

"Kita main Gitar Hero saja, ya?" tawar si gadis yang langsung dijawab oleh anggukan malas dari sang pemuda.

"Cih, kau semakin mirip saja dengan temanmu itu. Shikamaru." Ujarnya sambil memasukkan kaset itu kedalam PS. Setelah itu, ia pun duduk disamping Sasuke, menyodorkan stick PS player 2. Sasuke mengernyit bingung.

"Kenapa player 2?" tanya nya kesal, sambil menatap aneh gadis yang ada disebelahnya.

"Terserah aku dong!" jawabnya sambil memeletkan lidah. Sasuke hanya bisa pasrah. Kalau saja, status nya sekarang berubah menjadi pacar. Pasti yang akan dilakukannya saat ini adalah mencium bibir ranum itu. Tapi sayang, takdir berkata lain.

Gambar mulai muncul. Naruto mulai memilih pengaturan. Pemainnya Multiplayer, dan menulis namanya dan nama Sasuke. Sasuke mengernyitkan keningnya. Bingung. Karna gadis yang ada disebelahnya itu tidak menulis nama aslinya, melainkan nama samaran. Kalau istilah pas daftar jadi Author, Pen Name. Betul tidak? *nanya gaya AA'gim*

"Heh, Dobe. Namamu aneh." Protes Sasuke, masih sambil menatap layar TV didepannya dengan aneh.

"Miyako Shirayuki~, menurut ku gag aneh tuh." Author jingkrak-jingkrak gaje *tendang by readers*

"Cih," Sasuke mendecih *readers: Udah tao!* "Kalau tau begini, mending diubah saja."

Naruto cengo, melihat nama yang ditulis Sasuke. Dan ia pun dengan dramatisnya sweatdroped. Bagaikan nyamuk yang kena obat nyamuk, pingsan diatas lantai.

"Tet-tem…~ kau terlalu OOc!" seru gadis itu sambil nunjuk Author. Lha, nunjuk saya toh?

"Yang ditunjuk itu, Sasuke bego! Bukan gue!"

Naruto nepuk jidatnya sendiri, lalu berbalik lagi ke arah Sasuke. Mengulang adegan.

"Tet-teme…~ kau terlalu OOc!" seru gadis itu sambil nunjuk pemuda yang ada didepannya. Karna dia duduknya lagi nyerong ke arah Sasuke.

"Hn," Sasuke menyeringai. "Gimana, keren gag?" seketika Author, Naruto sama Readers, bersweatdroped dengan rianya. *Readers: Gubrak!*

Naruto masih sweatdroped. "Sasuke, sejak kapan kamu jadi begini?"

Sasuke masih bernarsis-narsis ria. "Cih, narsis sedikit gag boleh, hah?"

"Kalo elo narsis kaya begetong. Readers yang baca, bakal pada kabur. Nyongok!"

"Ck, ya udah!"

Sasuke pun dengan berat hati mengubah Pen Name nya menjadi. Astojim! Ini mah sama kale!

"Menurut ku, masuk akal kok, namanya." Naruto setuju. Mari kita lihat nama apa yang dipakai Sasuke.

"Winter Prince." Baca Naruto. Sasuke hanya diam, menuggu respon dari Author. Dengan kata lain saya, maksudnya.

"Yah, lumayan, dari yang tadi. Dari pada yang tadi alay banget dah. Masak, 'SasuKiyuuut' Ih, jijay!"

"Cih, dasar Author tak berperasaan! Dari pada elo, waktu maen sama sepupu lo, namanya aja lebih alay dari gua!"

"Memang apa namanya?"

"Yayas, atau enggak, Triple 'R'"

Author sweatdroped ditempat. Naruto cengo luar biasa. Author terbengong-bengong dengan jawaban dari Sasuke. Apakah maksud dari nama, yang sebenarnya gag alay gitu. Sasuke jayus ah, gag bisa ngebedain yang mana alay ama kagak!

"Itu mah, nama asli gua, TEME JELEK PANTAT AYAM!"

"Trus, yang Triple 'R' itu siapa?" Ih, Naru pengen tau aja.

"Gebetan gua." Dengan begonya, Author membeberkan rahasia yang selama ini dijaga nya habis-habisan. Muka Author langsung blushing. "Tapi, udah gag suka lagi sih…"

"Jujur aja kali!"

"Ini kapan sih jalannya nie cerita?" Sasuke mulai naik darah Author membekap mulutnya sendiri. Naru udah sedia ditempat.

"Baiklah. Adegan 116-117, Action!"

"Tet-teme…~ kau terlalu OOc!" seru gadis itu sambil nunjuk pemuda yang ada didepannya. Karna dia duduknya lagi nyerong ke arah Sasuke.

"Gimana? Bagus gag?"

Naruto mengangguk ragu-ragu. "I-iya sih. Lumayan~" jawabnya dengan berat hati.

Sasuke menyeringai. "Tinggal tekan tombol 'X'."

Dengan gerakan nan alay dan ditambah lagi dengan gerakan slow motion. Layarpun menunjukkan satu kalimat dikanan bawah. LOADING.

Untuk mengisi waktu luang, sementara masih Loading. Naruto beranjak dari sofa merah marun nya, dan berjalan menuju sebuah rak buku, yang jaraknya tak jauh dari sofa mereka duduk. Sasuke berbalik dan mlihat Naruto tengah memili-milih buku bacaan yang ada disana. Acara itu masih berlangsung, sampai sang gadis pirang itu kembali duduk disebelahnya, sambil membawa 10 komik.

Sasuke mengernyitkan dahinya, lalu menghela nafas.

"Cih, pantas saja nilai mu lebih rendah dari nilaiku Dobe. Lihat saja, bacaanmu itu komik, dan bukan buku pelajaran."

Naruto memeletkan lidahnya acuh. "Bweek! Biar saja. Yang penting aku masih bersyukur ada di tiga besar." Acuhnya. Kemudian dengan senang hati ia buka lembaran cover komik yang bernuansa hitam itu, dengan gambar seorang butler berambut raven belah tengah (yang menurut Author sama sekali gag ada cakep-cakepnya) sedang tersenyum atau bisa juga dibilang menyeringai.

Tak lama Naruto membacanya. Gadis itu mulai kesengsem sendiri, diiringi dengan memanggil-manggil nama seorang yang menjadi pemeran pertama disana (nyebut pemeran pertama, karna gag rela jabatan ntu diambi sama Sebas Mesum)

"Kyaaaaa!" teriakkan gaje pun dimulai (ngaku: sebenarnya Author juga tereak" gaje juga kalo ngeliat tokoh anime cowok yang ganteng nya naudzubillah!)

"Apaan sih?" Sasuke mulai risih.

Dan hanya dengan kalimat ini. Seorang Uchiha Sasuke cemburu.

"Jadikan aku pacarmu, Cieeeeeel!"

(Author juga mengakui kalau dia sering juga tereak-terak begitu, saking tergila-gilanya.)

Hati Sasuke bagai dicabik-cabik #lebay!# Dalam hatinya. Pemuda berambut emo raven, yang untungnya gag mirip sama sekali sama Sebastian Michaelis Mesum Yang Sering nge-Rape Ciel my Honey Buney Sweetey, mulai bertnya-tanya dalam hatinya. 'Kami-sama, sebenarnya lebih cakep mana sih, aku dengan tokoh anime komik itu?' bukannya Tuhan yang jawab, ini malah si gadis sapphire disebelahnya yang menjawab. Itupun tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya dari komik yang sedang dibacanya.

"Kalau dipikir-pikir nih, Teme," ia memulai. "Dengan segenap perasaan ku, yang sangat mencintai seseorang yang bernama Ciel Phantomhive. Aku berpikir kalau, dia lebih tampan darimu."

Jeglaaaar!

Petir di siang bolong pun dengan senangnya, menyambar-nyambar hati seorang pemuda yang tengah kasmaran. Dengan segera, Sasuke merebut komik itu dari tangan gadisnya. Dengan alibi yang sangat-sangat tidak bermutu.

"Eeeeh, Teme! Kembalikan! Nanggung tau! Sebasnya mau nge-Rape Beast."

Dengan segera Naruto membekap mulutnya. Entah karena ke-LOLA-annya atau apa. Yang pasti itu cewek benar-benar seorang Dobe yang harus diteladani oleh, sesame Dobe yang junior.

Sasuke melotot ke arah Naruto yang masih membekap mulutnya sendiri. Perlahan ia buka buku itu, tepat dihalaman yang Naruto baca tadi.

Mata Sasuke langsung terbelalak. Ya, bagaimana tidak? Wong dialognya sama latarnya aja begini

Didalam sebuah tenda sirkus yang hanya berpenerangan cahaya lilin yang remang. Dua orang mahkluk sedang melaksanakan kegiatan ehem-ehem, sembari berbincang-bincang. Atau lebih tepatnya mewawancarai seorang wanita yang ada dibawahnya. Dan dengan susah payah, wanita itu menjawab pertanyaan sang pria yang tengah me-Rape wanita itu. Dengan alibi mencari informasi untuk tuannya.

(Karna author gag mau basa-basi lagi langsung yang nahan)

"Siapa nama beliau? (nama ayah wanita)"

Wanita itu berusaha mengatur tempo nafasnya yang terengah- engah dan perasaan nikmat yang mendera seluruh jiwa raganya.

"Kenapa kau menanyakannya? Nghh…~~" tanya sang wanita balik. "Aaaah…~~"

Pria itu hanya menyeringai iblis (karna emang kebiasaan).

"Kalau saya tak tahu nama beliau, saya tak bisa memberi salam. Apalagi hubungan kita tak bisa disebut dangkal." Sebas memang mesum. Gara-gara nonton blue film melulu tiap pacarnya Jo

"Nghhh…~ Aaaah~"

"Tak masalah kan, kalau memberi tahu saya?" benar-benar iblis yang, akan melakukan segala cara agar memenuhi permintaan majikan kecilnya. Ciel.

"Nama ayah…"

Sasuke masih melongo tidak percaya. Naruto masih membekap mulutnya. Perlahan Sasuke menoleh ke arah Naruto. Matanya melotot tidak percaya. Oooh, Author beneran pengen liat Sasu-chan yang lagi begini.

"Dobe…" panggil Sasuke horor. "Aku tak percaya kalau kau ternyata…"

"KEMBALIKAN KOMIKNYA!"

Perkataan Sasuke terpotong akibat teriakan nan lembut dari sang Dobe tercinta. Wakakak! Naru mesum! *rasengan!* (readers: nyadar bu…~~ situ jga mesum!)

Sasuke menghalangi Naruto, yang sedang berusaha mengambil bukunya kembali. Entah ini ada unsur kesengajaan atau tidak. Yang pasti saat tangan Sasuke mengarah ke belakang untuk mengamankan buku yang ia pegang, tangan kiri Naruto mencoba untuk menggapai buku yang ada di tangan sasuke, sedangkan tangan kanannya mendorong dada bidang Sasuke yang otomatis membuat Sasuke jatuh terbaring dengan Naruto yang berada diatasnya.

"Heh, Dobe!" rutuk nya kesal. Matanya terpejam. "Jangan mendorongku bisa tidak, s…-"

Pemuda bermata onyx itu hanya bisa terdiam seribu bahasa. Matanya yang tadi terpejam kini terbelalak, melihat siapa yang ada diatas nya sekarang ini. Mungkin ia juga pernah dalam posisi yang seperti ini. Tapi, ini lebih mendebarkan. Lihat saja rajah mereka yang sangat dekat.

"Temeee…~~, kembalikan bukunya…!" mata sapphire itu masih terpejam. Tapi perlahan. Mata yang mampu membuat Uchiha Sasuke bertekuk lutut, itu terbuka. Memperlihatkan indahnya bola mata yang ia miliki. Sasuke masih terdiam, walaupun tidak terbelalak lagi. Ia terperangah. Terperangah karna bisa, menatap mata sapphire pujaan hatinya itu dari dekat.

Naruto bertingkah sama seperti Sasuke diawalnya. Terlalu kaget, sampai ia melupakan posisinya sekarang ini. Ya, meskipun posisi nya masih menguntungkan. Daripada dibawahkan? Kalau dibawah bakal terjadi rated M mendadak, dan yang repot adalah Author mesum yang mengetik ini sambil baca fic.

Seperti terhipnotis. Dua-duanya sama-sama terpaku menatap keindahan mata yang terhidang dihadapan. Gadis itu mulai terbuai dalam ayunan malam dari mata onyx dihadapannya. Sedangkan pemuda itu sudah sedari tadi terbuai dalam indahnya langit biru di mata. Karna terlalu terbuai, mereka sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk mengontrol tubuh mereka.

Perlahan namun pasti, mereka mulai medekatkan diri. Naruto menunduk untuk mencapai wajah Sasuke, sedangkan Sasuke, ia mendongakkan wajahnya untuk mencapai bibir ranum dihadapannya. Saking terhipnotisnya. Mereka berdua tak sadar akan kedatangan dua mahkluk yang sekarang sedang berada di ambang pintu. Menyaksikan detik-detik terakhir adik mereka saat akan berciuman. Oh God!

5 cm

4 cm

3 cm

2 cm

1 cm

Daaaaaan…~~~

"E, kucing copot kepala gue!"

Damn it, Itachi!

TBC

A/N: wkwkwkwk….!

Bersambungnya gag enak banget!

Hehehe…. Klo mau marah sama Mi-chan, mah silahkan. Mi-chan gag marah koq! Malah seneng! Itu berarti readers yang baca peduli sama Mi. Nah, karna di pembukaan gag sempet balas review. Sekarang kita laksanakan tugas nya! Kita mulai dari bawah!

Nami: Hehe,,, anda, ngeriview sya apa ngeflame? Tulisannya pke caps lock begitu! Hehehe,,, becanda doang koq! Makasih udah review. Tpi, kya nya. Mi-chan gag yakin deh, kalo chap yang ini panjang. Dan memenuhi permintaan anda. Ya, Arigatou deh! Oh, ya! Panggil Mi-chan aja! Kalo Miyako, kesannya jadi lebih panjang, and susah di panggil. Okay? Keep read and review girl!

Vessalius-Sama: Hajime Mashite! Manggilnya apa neh? Oz aja mau gag? Klo gag keberatan. Habisnya susah sih, namanya panjang banget. Arigatou, karna udha blang fic sya sweet! Jadi blushing saya *geplaked* Dan, hehe… makasih juga udha bilang peletakan romance sma humornya pas. Mudah-mudahan, di chap ini sama bagusnya di chap yang lalu, dan mudahan di chap ini makin bagus. Wkwkwkwk… Sasu tepar gara" makan 5 cup es krim, seukuran es krim walls yang kecil itu. Payah loe! *sharingan* Eh, ntar Sasu ta' suruh latihan mkan es krim langsung dari pabriknya *sasu pingsan gra" gag sanggup ngebayangin* Okey! Read terus ya!

Naru3: Iya-iya! Ini sudah update koq! Arigatou udha review, darling! Tetep baca yang fic slanjutnya!

Nene Zura no' Uchikaze: Saya gag setuju klo Gaara itu mesum! Yang mesum itu malahan si sok cool, belagu banget, yang bermarga bences semua, Uchiha Sasuek! Eh, salah Sasuke! Wahahahaha! Makasih udha di like fic ini! Keep reading!

Bunda Dita: Yaah, ta' doa'in deh, biar bsa ngelupain Gaara. Dan smoga dapat pacar lagi yang jutek, egoisnya, mirip ama Ciel dan Sasuke. Hahaha,,, baca terus ya, my Lovely Bunda!

Arashi Chika: Gaara jahaaaaat~~~! *d sabaku* #mukul" dada nya Gaara manja# *Hoeeeek* Ayam setuju dengan Chika! Satukan SasuNaru menjadi Satu! Horaaaay! Arigatou Gozaimasu, udha jdi pe-review pertama di chap 2! Terus baca yah! Jangan kapok buat baca fic nan gaje dari seorang Miyako Shirayuki. Sampai jumpa di next chap!

Anata Kiyoshi: Nee, Ki-chan~~ maaf~~ itu adalah hal yang tidak sengaja Mi-cahn buat,, *hikss…* Habisnya, Mi-chan males ngedit. Maafkan daku! Mudah-mudahan di chap ini, banyak yang bener. Yang salah jga gag papa *plak* Oh, ya! Karin? Tunggu,, bukannya Konan mba? Hehe,,, gag masalah! Yang penting baca dan review terus fic ini ya! Happy reading!

Ren-Mi3 Novanta: Maaf… saya terlambat mbalas review anda… maafkan saya! *bungkuk" siku"* Iya, Narunya Sakit parah. Kasian kan? Tetep RnR ya! Makasih!

Balas review sudah. Sekarang tinggal penutupan aja!

Dimana ada nama Miyako Shirayuki

Di situ ada fic nya *gaje!*

Hope, you will review this story. Thank's for your participant. Happy review minna-san!

Review, guys?