Konbanwa minna-san!

Chap 4 apdet! Hehe… senengnya! Chap 4 ini ntar ada skip time nya. Jadi jangan kaget klo tiba" ada skip time nya!

Chap 4 ini Sasu-chan bakal kedatangan rival baru. Cuma sekilas aja sih. Eh, belum tau jga neh. Bisa sekilas, bisa lanjut.

Okay, gag usah banyak omong lagi. Kita langsung aja ke pengenalan tokoh!

PENGENALAN TOKOH!

Uchiha Sasuke: Cowok cakep *Sasu bernarsis" ria* kulitnya putih pucaaaat! Rambutnya model emo dongker, jungkir balik melawan arah gravitasi, a.k.a pantat ayam kampung ato gag ayam ras *tendanged!* Sifatnya dingin, sok cool padahal sebenarnya tu orang latah *Buagh!*kagak becanda! Belagu, etc. suka sama pemeran utama cewek. Namikaze Naruto. Rela ngelakuin apa aja, termasuk makan es krim satu pabrik, walau dengan berat hati dan akhirnya berkutat juga dengan closet dan bak sampah. Suka buah tomat, gag suka makanan yang berbau manis sekale, kecuali itu makanan buatan tangan si Dobe tercinta. Suka warna biru navy ato nggak item.

Namikaze Naruto: Cewek cakep. Orangnya manis, cute, cantik. Suka yang berbau sederhana. Suka sekali dengan makanan yang bernama ramen juga *of course* Rambutnya pirang keemasan, panjangnya sepinggang, lurus, karna gag belok-belok akhirnya nyemplung ke got *Bunuhed!* Suka warna biru muda, orange gelap dan kuning emas. Gag mau ngelakuin apa aja buat si Teme, karna menurutnya, hanya merepotkan dirinya sendiri *Sasu pundung di pojokan* Pernah sakit hati gara" ngeliat pacarnya nyumbu orang lain. Bingung milih shapa entar antara mereka bertiga (Sasuke, Gaara dan xxx) Karna tu orang LOLA, makanya sering di panggil Usuratonkachi, ato gag yang biasa baka, ato yang paling sering dobe.

Sabaku no Gaara: Termasuk nominasi favorit anime cowok author, setelah Sasuke sama Ciel Phantomhive. Orangnya pendiem, tapi sifatnya berubah kalo berdua-an sama pacar, jadi tukang ngegombal *jitaked!* Rambutnya merah marun, enggak jungkir balik kaya siTemePantatAyam yang dia atas *Gaara nyanyi I'm a Champion* *Sasu siap ama katananya* Trus suka sama Pemeran utama cewek. Malahan cinta setengah mati *mulai dah ngegombal* suka warna…? *lupa apa warna kesukaan Gaara* *Gaara pundung di pojokan*

Mr. xxx: Murid pindahan dari Oto *critanya* yang baru aja dateng langsung bikin Sasuke mengeluarkan deatglare nya. Suka sama Naru-chan. Author aja gag thu kenapa tu orang suka sama Naruto *gubrak!* Dann jangan lupa, dia gag kalah cakep ama dua orang cowok sebelumnya yang udha kita bahas. Yang Alhamdulillah, rambutnya juga gag kaya Sasu pantat ayam ras *udha di putusin* ama Sebas(mesum) yang raven.

Haruno Sakura: Mantan pacar Sasuke. Yang sampe mereka (Naru ama Sasu) nikah pun masih cinta juga (jangan pernah mikir kalo Naru bakal selamat dari penyakitnya). Gag dapet pasangan *Author ngakak bahagia* HIDUP SASUNARU! HIDUP SASUFEMNARU! Warna kesukaan nya pink. Lanjutannya meneketehe *duagh!* Sahabat Naruto.

Yang lainnya menyesuaikan ya! ^_^V

Naruto©Jeng KuntiKishi Molto

Rated: T… M?... Enggak koq!

SasufemNaru, ItafemDei, GaafemNaru, XXXfemNaru etc.

Humor, Romance, Hurt/Comfort

Warning, Danger, Wanted!

Hidup berbagai macam jenis hujatan dan umpatan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia

OOc, Oc, Abal, dan dengan senang hati, dapat membuat readers bakal kehilangan akal sehat, ditambah dengan bonus obat penenang, untuk readers yang merasa badannya mulai gerak-gerak sendiri *gaje*

(Bahasa kebangsaan kami orang Kalimantan, terutama KalSel)

Amun pian kada suka, ya, kada usah baca!

Nah, mun pian nang ngarannya readers, suka wan fic ulun nang ngini tadeh. Tarima kasih banar lah! Ulun terharu~~

Nang, mambaca tuh, harus ma-review. Amun kada, kaina ulun sembeleh, pian-pian sabarataan!

Hehe… kada! begayaan aja!

My New Rival

Normal's PoV

5 cm

4 cm

3 cm

2 cm

1 cm

Daaaaaan…~~~

"E, kucing copot kepala gue!"

Damn it, Itachi!

Mareka berdua yang hendak berciuman langsung sadar dari aksi yang hampir tertuntaskan. 'Sialan! Merusak suasana aja loe Baka Aniki, udah baka bodoh lagi! (readers: itu mah sama aja!)

Dengan cepat, Naruto langsung mengangkat tubuhnya dari tubuh Sasuke. Wajahnya asli merah. Sama seperti sang pujaan hati, wajah Sasuke juga memerah. Dan semua semburat kemerahan itu tak bisa tersembunyikan lagi dari kedua pasang mata yang dari tadi sudah memperhatikan mereka, dengan dada naik turun. Dan sialnya, itulah Itachi. Si perusak suasana.

"A-a- Nee-chan?" sapa Naruto yang sudah beranjak dari sofa dan berdiri.

"Aniki?" panggil Sasuke dangan bumbu geram dan ditambah dengan deathglare terbaiknya yang dapat menakuti beruang Grizzly.

Itachi hanya bisa nyengir innocent. Aduh…~~

"Hehe, maaf ya Otouto dan Imouto-chan…"

Bugh…!

Dan hanya dengan satu jitakan keras dari Deidara. Cengiran watados itu pun hilang tanpa jejak. Tergantikan dengan senyuman meringis kesakitan.

"Dasar perusak suasana!" rutuk Deidara kesal. Itachi langsung sungkem didepan calon istrinya itu.

"Ampun, Kanjeng Hime-chan…~~ Saya tidak bermaksud untuk mengganggu." Naruto cengo, plus sweatdroped, dan Sasuke yang hanya menghela nafas.

"Baka, baka, baka!" teriak Deidara kesal. "Kenapa sih, kau itu harus latah disaat yang tidak tepat? Itachi bo'do!"

"Ano… itu… Nee-chan, kapan pulangnya?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan. Deidara dan Sasuke langsung berhenti memukuli Itachi yang berperan sebagai tokoh pengganggu yang harus dibasmi, dan menoleh ke arah gadis berambut pirang keemasan itu.

"Sebenarnya sih, sudah sejak tadi." Jawab Deidara, masih berdiri ditempat. Sedangkan Sasuke, pemuda itu sudah ngeloyor pergi.

Naruto mengerjapkan matanya bingung. "Eh? Sejak tadi? Katanya kalian berdua ada kencan, kan? Terus, katanya juga pulang malam."

Deidara yang merasa seperti kehujanan pertanyaan, hanya bisa memijit-mijit pelipisnya, beserta tampang orang lagi banyak pikiran.

"Ah itu… Kami gag jadi kencan, gara-gara aku lupa kalau ada meeting dengan klien." Jawab Deidara apa adanya.

Naruto menelengkan kepalanya. "Loh? Terus kenapa kalian bisa ada disini? Kalau kau, ternyata ada meeting dengan klien."

"Aku lupa membawa berkas hasil diskusi dengan karyawan yang akan diberikan pada klien. Dan bodohnya. Aku lupa juga untuk mengabari Itachi, supaya tidak usah menjemputku. Jadi, saat keluar dari kantor, aku mendapati Itachi baru keluar dari mobilnya. Aku pun menjelaskan kalau saat itu aku sedang meeting dengan klien beserta alasan kenapa aku keluar dari kantor saat seharusnya meeting itu masih berlangsung, dan Itachi menawarkan untuk mengantarkanku ke rumah untuk mengambil berkas itu. Begitu sampai dirumah, ternyata ada mobil Sasuke diluar, dan kuyakin kau dan dia saat itu ada didalam. Kami berdua mencari-cari kalian kemana-mana dan mendapati kalian ternyata ada di Ruang Santai, dengan posisi Sasuke dibawah dan kau diat-"

"Okey, aku mengerti." Potong Naruto. Tangannya menengadah ke arah Deidara. "Lagian kalian ngapain sih? Seharusnya kau sekarang sudah ada di ruangan kerjamu dan pergi ke kantor lagi dengan berkas di tangan mu. Cih, dasar Deidara."

Deidara Cuma manyun. Dan sangat merasa kalau dia lagi di marahin sama adeknya. "Maaf, deh…" sahutnya sambil menunduk dengan khidmat.

"Baiklah. Sekarang aku mau ke bawah dulu, nyari Sasuke." Ketika Naruto hendak berjalan ke arah pintu. Deidara menahan tangannya. Naruto hanya bisa menelan ludahnya, dan sweatdroped ngeliat wajah sang kakak yang berubah mesum.

"A-apa?" tanya nya terbata. Deidara menyeringai.

"Mau melanjutkan yang tadi, ya?" Deidara balas bertanya. Sedangkan sang adik hanya bisa ber-blushing ria. Wajahnya sekarang sudah merah sempurna!

"E-e-enak saja!" bantahnya sambil menarik lengannya dari cengkraman Deidara. "A-aku hanya ingin mencarinya saja."

Naruto pun pergi meninggalkan kedua kakaknya. Deidara cuman bisa senyam-senyum sendiri. Itachi, sepertinya kau harus membawa kekasih mu ini ke rumah sakit jiwa terdekat.

"Honey, are you okay?" tanya Itachi sok-sok-an pakai bahasa Inggris.

"Honay, honey, honay honey! Kau harus bertanggung jawab!" bentak Deidara kesal, sambil berkacak pinggang.

Itachi memandang kekasihnya tak percaya. "Dei-chan, memangnya sejak kapan kau hamil? Kurasa, aku belum pernah menyentuhmu. Apalagi menghamili mu."

Buagh…!

"Bukan itu, bodoh!"

Itachi cengo sekalian meringis kesakitan. "Lantas?"

Deidara menyeringai. "Kau harus berusaha membuat mereka ciuman. Sengaja ataupun tidak."

Itachi menelengkan kepalanya bingung. "Caranya?"

Duagh…!

Satu bogeman mentah, lagi-lagi mendarat di wajah tua sang kekasih, yang seharusnya belum keriputan.

"Pikir sendiri!"

Setelah puas membuat sang pacar meringis kesakitan. Wanita berambut sama dengan adiknya itu pun pergi ke ruang kerja nya. Dibelakang, tengah mengejar seorang maniak India, dengan gaya alay para aktor Kuch-Kuch Hotahai.

"Tunggu aku, cantik~~!"

Seketika, Author beserta para readers sweatdroped dengan mulut menganga.

~777~

Sasuke's PoV

Cih, damn! Itachi perusak suasana! Tinggal sedikit lagi juga. Mana Deidara juga ikutan. Dasar duo pengganggu.

Aku sekarang berdiri dibalkon rumahnya si Dobe. Pemandangan disini bagus. Berbeda sekali dengan pemandangan balkon dirumahku. Semuanya penuh. Penuh dengan FG. Pemandangan yang sangat biasa. Dan membosankan.

Bagaimana tidak? Siang, malam, selalu saja FG selalu berada di jangkauan mataku. Kalau semua FG ku itu berwujud si Dobe. Dengan senang hati ku berikan ciuman dan senyuman mautku untuknya.

Aaah… memikirkannya saja sudah membuatku kesengsem sendiri. Coba, saat itu Itachi tidak ada! Aku kan bisa mencium bibirnya, yang basah dan merekah itu. Ah, aku tak bisa membayangkan kalau aku bisa mendapatkan semua kenikmatan itu dari bibirnya. Ah, aku ini mikir apa sih? Dasar!

Kembali ku pusatkan perhatianku pada pemandangan sore hari yang indah itu. Pemandangan yang bisa mengingatkan ku pada wajahnya yang ceria.

Perlahan-lahan matahari mulai tenggelam. Tanpa kusadari, aku sudah berada ditempat ini lama sekali. Bukan di balkon. Tapi, di rumahnya si Dobe. Wajahku mulai memerah, mengingat isi dari bacaan si Dobe tadi. Yah, walaupun gambar tentang adegan lebih lanjutnya tidak di gambarkan. Tapi, hanya dengan tulisan, dapat membuatku terangsang. A-a. jangan berpikiran kotor dulu. Walaupun sebenarnya aku juga ikut-ikutan PikTor (Pikiran Kotor)

Oke. Aku sudah mulai ngawur.

"Teme?" aku agak tersentak kaget mendengar suara yang sangat-sangat ku kenal. "Sedang apa kau disini?"

Aku berbalik, dan mendapatinya sedang berjalan mendekat ke arahku, dan mengambil tempat di sebelahku (Ps: ini berdiri lo!)

Aku kembali berbalik menghadap pemandangan senja, yang masih di hiasi dengan guratan-guratan jingga kemerahan. Tangan ku menopong daguku. Sesekali ku lirik gadis yang ada disebelahku. Matanya terpejam. Seakan ia sangat menikmati semilir angin yang menyejukkan.

Lagi-lagi aku terperangkap dalam perangkap pesonanya. Aku benar-benar tak bisa memalingkan wajahku saat itu juga. Aku terpesona dengan wajah cantiknya. Wajah yang dapat membuatku dan Gaara, jatuh dalam perangkap cintanya.

Tanpa ku sadari. Tanganku terulur menyentuh rambut pirangnya yang masih di ikat, dan saat itu juga aku menarik lembut karet rambutnya dengan mulus, tanpa harus membuatnya meringis.

Perlahan, mata sapphire itu terbuka. Menampakkan, mata yang selama ini kupuja-puja. Ia menoleh ke arahku. Bingung.

"Aku kan sudah bilang, kalau rambut mu itu, bagusnya di gerai saja Dobe." Ujarku mengingatkan. Wajahnya memerah. Cute.

"Be-betul?" tanyanya tidak percaya.

Aku tersenyum pahit. "Kau ingin aku melakukan hal apa untuk membuatmu percaya kalau rambut mu itu bagusnya di gerai saja Dobe?"

Ia tersenyum tulus. Yang kurasa, senyuman itu hanya untukku. (Readers: Biasa, Sasu Narsis luar biasa..) (Deathglare)

"Terima kasih." Gumamnya lembut. Suara itu bagai melodi indah di telinga ku. Suara yang sudah sangat ku kenal, walau tidak melihatnya sekalipun.

"Hn."

Kami tenggelam lagi dalam keheningan. Matahari pun sudah tenggelam sempurna. Malam telah datang.

Aku menggiringnya masuk ke dalam, sebelum ia masuk angin. Merangkul pundaknya, dan di balas dengan kalimat pembuat patah semangat.

"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, ya!" ingatnya yang sontak membuatku melepaskan rangkulan ku di pundaknya. Ia tersenyum jahil.

"Kemana Aniki tadi?" tanya ku mengalihkan suasana.

"Mereka berdua sudah pergi." jawabnya singkat.

"Kemana?"

"Entahlah, mungkin ke kantornya Dei-nee,"

Aku hanya ber oh-oh ria. Sebenarnya aku tidak perduli. Malahan sangat tidak perduli, kemana Aniki ku itu pergi. Toh, aku hanya mengalihkan pembicaraan.

Kami sekarang sudah ada di dapur. Aku duduk di kursi meja makan segi empat.

Kulihat, ia tampak sibuk membuka lemari-lemari makanan. Dan mengambil beberapa bahan untuk kue dari sana. Aku memutuskan untuk bertanya.

"Kau ingin masak apa, Dobe?" tanya ku.

"Membuat makan malam, dan snack." Jawabnya enteng, tanpa menoleh ataupun berbalik ke rahku. Aku mengernyit curiga.

"Pasti cake manis. Kalau manis aku tidak mau memakannya."

Kudengar ia sempat tertawa kecil, sebelum akhirnya ia berbalik dan menatap ku.

"Jangan salah paham dulu dong, Teme…"

"Lalu, kau mau buat apa?" tanya ku ulang. Ia kembali tersenyum dan berbalik lagi.

"Ra-Ha-Si-A"

Cih, menjengkelkan. Dari pada aku bertanya lagi dan di jawab dengan kalimat yang sangat menyebalkan bagiku. Lebih baik aku menebak-nebak saja apa yang akan ia buat nanti.

End Of Sasuke's PoV

Naruto's PoV

Hahaha… lihat wajahnya tadi. Seperti anak kecil. Aduh, manisnya. Aku jadi ingin mencubit pipinya, sampai merah dan pastinya tidak tampan lagi. Hohoho… biar para FG nya kabur semua.

Aku sempat meliriknya sekilas. Ia tampak anteng di kursi. Tidak melakukan apa-apa. Duduk diam. Seperti patung.

Aku mulai mencari, beberapa bahan yang ku perlukan untuk membuat snack. Si Teme belagu itu, pasti sekarang sedang menebak-nebak, snack apa yang nanti akan kubuat. Yang pasti snack ini akan membuat nya senang.

Bahannya tidak terlalu susah didapat. Dan kue itu sangat mudah untuk dibuat. Aku membuat Bruschetta Con Pomodora. Bahan utamanya hanyalah buah Tomat, (yang tadi kubilang pasti Sasuke akan suka), lalu Baguette atau roti bagelen, bawang putih, minyak zaitun dan untuk lebih harumnya lagi, aku tambahkan minyak virgin.

Dengan lihai, tanganku bergerak membuat makanan itu. Tak perlu berselang lama. Makanan itu pun jadi. Aku tidak sabar melihat tampang Sasuke saat melihatnya.

End Of Naruto's PoV

Normal's PoV

Sasuke tercengang melihat makanan yang ditunggu nya sudah matang. Dengan penuh senyuman Naruto menghidangkan nya dimeja makan.

"Tunggu sebentar, masih ada satu lagi." Ucapnya, yang sukses membuat Sasuke bangun dari lamunannya.

Beberapa menit kemudian. Gadis itu datang lagi dengan nampan yang lumayan besar. Nampan itu berisi dua porsi piring spagetti dan dua gelas minuman bersoda (gag mau cocktail, karna Sasu gag suka manis.)

"Makanan sudah siap!" ucapnya riang. Sasuke masih tercengang melihat hasil masakan yang dibuat oleh sang pujaan hati.

"I-ini, kau semua yang membuatnya?" tanyanya tidak percaya. Dan dijawab dengan anggukan semangat dari Naruto.

"Betul sekali!" jawabnya.

Sasuke kembali ke tampang stoic nya yang menurut Naruto sangat menyebalkan.

Sasuke menyeringai. "Kukira, kau memesan ini diam-diam, lalu kau hidangkan di sini, sehabis di panaskan."

Naruto cemberut, memanyunkan bibirnya. "Enak saja! Ini hasil kerja keras ku kursus masak sama Kaa-san tau!"

Sasuke ber-oh-oh ria. Naruto mengambil tempat duduk di seberang Sasuke.

"Itadakimasu!"

"Hn,"

(Kalian pasti tau kan, yang mana Naru sama Sasu)

Pertama-tama mereka makan dengan lahap. Ya, meskipun Sasuke gag selahap Naruto. Biasalah, Uchiha! Masalah kehormatan dan harga diri.

"Bagaimana Teme? Enak tidak?" tanya gadis itu penuh harap, dan dengan mata berbinar-binar.

Sasuek, halah! Sasuke! Lagi-lagi hanya mengeluarkan kalimat bodohnya *deathglare* yang sama sekali bukan sebuah kalimat. Yang benar adalah sebuah ejaan.

"Hn,"

Naruto mengangguk. Untungnya, ia sudah biasa dengan ejaan dua huruf itu. Kalau tidak. Ya, kalian bisa tau sendiri lah, bagaimana jadinya. Jangankan peperangan yang biasa terjadi. Perang dunia ketiga bakal beneran terjadi, ini mah!

Entah apa yang nanti ia katakan kalau Naruto suatu saat akan meninggalkan nya secara tiba-tiba. Dan hal itu akan berlangsung selamanya. Apa ia juga akan mengeja hal yang sama? Hn?

"Baguslah." Sahutnya sambil tersenyum, dan melanjutkan acara makan-makannya.

Selang beberapa lama kemudian, habislah semua makanan yang ada diatas meja. Sasuke meneguk minuman sodanya. Sedangkan Naruto, ia mengelap mulutnya dengan serbet.

"Sudah malam, aku pulang ya?" izin Sasuke yang langsung membuat Naruto membulatkan matanya.

"Kenapa?" tanyanya.

Sasuke tersenyum pahit. "Ini sudah malam, Dobe. Apa kata tetangga mu, kalau mendapati ada seorang pemuda dirumah mu? Hah?"

Naruto menggeleng. "Mereka tidak akan perduli." Jawabnya. "Kau, tau? Aku sering mendengar suara desahan di rumah sebelah. Begitu pagi, gag ada yang protes tuh. Mereka masa bodoh aja sama hal itu. Dan hal itulah yang membuatku yakin, Teme."

Sasuke menelan ludahnya susah payah. 'Desahan?'

"Jadi, kau tinggal disini saja ya, Teme?" pintanya dengan jurus biasa yang digunakan untuk meminta, tapi tidak dituruti. Author yakin, kalian semua pasti tau jurus apa itu.

Sasuke memalingkan wajahnya. Seperti biasa, terpesona dengan keindahan buatan tangan Tuhan itu.

Sasuke menghela nafasnya sebelum menjawab. "Baiklah."

Naruto bersorak kegirangan. "Yeeey! Gag sendirian di rumah!"

Sasuke hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Oh ya! Ngomong-ngomong duo kekasih kita yang lain kemana, ya? Mari kita lihat.

Itachi & Deidara

Errr… kita lewati saja gih!

~777~

Pukul 22:40

Kediaman Namikaze

Normal PoV

"Hoaahmm…!"

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya yang mengantuk berat. Sesekali, ia mengucek-ngucek matanya yang sebenarnya tidak gatal. Sedangkan Sasuke, pemuda itu malah asyik menonton pertandingan basket di Layar LCD Plasma, kepunyaan keluarga Namikaze, ditemani dengan Pizza, Pop corn, dan minuman bersoda, yang ada diatas meja persegi panjang dihadapan sofa mereka. Sekali lagi, Naruto menguap untuk yang kesekian kalinya.

"Ngantuk, Dobe?" tanya Sasuke, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar TV.

Naruto mengangguk lesu. "Hmm…"

Sasuke menyeruput minumannya, kemudian berpaling ke arah si gadis yang berada disebelahnya.

"Kalau ngantuk, tidur saja."

"Tidak." Bantahnya, dan lagi-lagi disertai dengan mengucek kelopak mata sapphire nya. "Lagian, aku masih sanggup kok, nonton denganmu disini sampai pagi."

Sasuke menghela nafas. "Sebaiknya kau tidur saja, Dobe" usul Sasuke. "Matamu sudah merah tuh."

Naruto menatap Sasuke kesal. "Kalau, kubilang sanggup, ya sanggup, Teme!"

"Hei, jangan lupa kalau besok kita harus sekolah. Kau mau dihukum BakOro, gara-gara terlambat, hah?"

Naruto memalingkan mukanya. Acuh. "Biar saja. Hah? BakOro? Guru yang banci itu? Tak mungkin, dia akan menghukumku! Sementara orangnya saja kalau digertak sudah berlinangan air mata! Aku heran. Orang seperti itu kenapa bisa jadi guru, ya? Dasar banci kaleng!"

Sasuke terkekeh pelan, mendengar omelan dari Dobe tercintanya. Memang benar. Guru yang paling abnormal di KHS hanya orang itu. Tak ayal lagi, guru itu jadi bahan ejekan para murid dan guru.

Naruto terpesona melihat Sasuke yang tersenyum dan tertawa. 'Tampan sekali…' pikirnya.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke setelah selesai tertawa. Naruto masih tertegun, sampai Sasuke melambai-lambaikan tangannya ke arah wajah si gadis.

"Heh, Dobe! Kau kesambet, ya?"

Naruto terbangun dari mimpi sesaatnya yang penuh dengan khayalan dunia fantasi.

"Hah? Enak saja!" bantahnya dengan wajah yang memerah.

"Lantas, apa?"

"Aku hanya berpikir. Kemana perginya, Dei-nee dan Ita-nii. Coba kau pikirkan, seharusnya mereka sudah pulang dari tadi kan?"

Sasuke kembali memfokuskan pandangan matanya pada layar TV dihadapan mereka.

"Mungkin, mereka kencan disebuah kamar hotel. Berdua-duaan. Bermesra-mesraan. Atau mungkin sekarang mereka sedang bercinta." Sahut Sasuke asal, tapi tepat sasaran. Wajah Naruto langsung merah padam.

"Ap-pa kat-ta mu tadi, T-t-teme?"

Sasuke menghela nafas. Pemuda ini masih belum sadar juga dengan apa yang ia ucapkan tadi.

"Mungkin sekarang mereka sedang ada di hotel. Bermesra-mesraan, berdua-duaan, dan mungkin saja bercinta." Ulang Sasuke dengan perubahan kata.

Wajah Naruto semakin merah. Ia terdiam. Mencoba membayangkan, semua hal yang tadi Sasuke ucapkan. Semakin ia coba membayangkan semua hal yang dikatakan Sasuke. Wajahnya semakin memerah.

Merasa, tak ada sahutan atau balasan (sama, ya?) dari bibir ranum gadis yang ada disebelahnya. Sasuke menoleh ke arah gadis itu berada. Dan mendapati, wajah gadis tercintahnya itu merah padam. Seperti orang marah.

"Kenapa?"

Naruto masih terdiam. Wajahnya semakin memerah. Sasuke mencoba mengulang kembali perkataannya. Perkataan yang sekarang sudah membuat gadisnya berpikir keras.

'Berdua-duaan… bermesraan… dan bercin-…'

Kali ini Sasuke lagi yang wajahnya memerah. Walaupun tidak semerah gadis yang ada disebelahnya.

"Dobe?" tanya Sasuke, mencoba mengetahui apa yang sekarang sedang dipikirkan Naruto. Dasar, anak muda zaman sekarang. Ada-ada saja. (readers: nyadar buuu…~~ situ juga anak muda!)

"Diam, Teme! Aku sedang membersihkan pikiranku!"

Sasuke ber-sweatdroped ria dalam hati. 'Anak ini, kenapa sih? Padahal tadi siang ketahuan baca komik gituan. Sekarang malah ada acara bersih-bersih pikiran. Aah… mungkin dia belum siap memikirkan kalau yang menjadi pelakunya itu kakaknya dan kakakku. Haah… dasar Dobe polos'

Sasuke lebih memilih diam, dan mati-matian menahan tawa. Bagaimana tidak? Lihat saja, wajah gadis itu saat berpikir keras, berupaya membersihkan kembali otaknya yang sedang membayangkan style apa saja yang sedang dilakukan kedua kakaknya.

15 menit kemudian…

Jam menunjukkan pukul 22:55 WS (waktu setempat) Sasuke merasa kalau matanya mulai berat. Dirasakannya sepertinya suasana ruangan itu sepi sekali. Tak ada suara manusia. Sepertinya Dobe nya ini sudah tertidur.

Sasuke menoleh ke arah tempat Naruto duduk bersamanya. Dan tersenyum mendapati wajah damai si gadis sudah terpasang dengan cantik diwajahnya yang ayu.

"Kau, itu masih terlalu polos, Dobe." Bisik Sasuke tepat ditelinga nya. "Dasar!"

Perlahan Sasuke beranjak dari tempat nya duduk, agar perempuan pirangnya ini tidak terbangun. Dan perlahan lagi, mulai mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya menuju kamar si gadis.

"Ternyata tubuhmu sekarang lebih ringan daripada dugaanku. Kukira kau tambah berat. Rupanya kau malah tambah ringan, ya? Ah, aku tau, kau diet supaya tidak ku ejekkan? Huh, dasar! Aku ini mencintaimu apa adanya, Dobe. Kau gendut pun aku akan tetap mencintaimu. Karna, aku mencintaimu, bukan hanya karna tubuhmu, tapi jiwamu."

Sasuke tidak merasa kalau, wajah gadis yang sedang digendong nya memerah. Ouh, ternyata pemeran utama wanita kita ini, sudah terbangun toh.

"Aku sangat mencintaimu, Dobe.Mencintaimu, sampai akhir hayatku."

Dan setetes air mata bahagia turun dari kelopak mata sapphire itu.

~777~

Naruto's PoV

Skip Time "Morning"

"Ayah… Ibu… bangun… Jangan tinggalkan aku sendirian…"

"Sudahlah, Naru-chan, kan masih ada Aniki dan Nee-san mu. Jadi, kau tidak kesepian…"

"Benarkah?"

"Hm"

"Janji?"

"Janji."

..

Tiiin… tiiin…

"Aniki Awaaaaas …!"

Ckiiiiittt… Bruagh!

"Anikiii…! Tidaaaaak…!""

*ooo*

"Aniki, tidaaaaak!"

Mataku melotot. Jantungku terasa cepat sekali berdetak. Peluh keluar dari pori-pori kulitku. Dan aku merasakan kalau peluh itu sudah membasahi sebagian belakang dari pakaianku.

Mimpi itu datang lagi. Mimpi ku, saat kehilangan Aniki ku tersayang. Butiran hangat membanjiri kedua belah pipiku. Aku menangis. Ya, menangis. Menangisi kesalahanku saat itu.

"Tuhan… tolong… jangan putar memori itu lagi… aku… aku tidak sanggup lagi mengingat semuanya. Andai saat itu aku yang mati. Aku tidak apa-apa… asalkan jangan Aniki… aku masih ingin dia hidup… kalaupun, aku hidup… aku tak akan ada gunanya… aku ini sakit-sakitan… hidupku sudah diambang pintu kematian, yang sebentar lagi akan terbuka lebar…"

Aniki meninggal gara-gara aku. Ya, gara-gara adik perempuan sialnya ini. Gara-gara aku, Aniki tewas seketika sesaat setelah tabrakan. Kepalanya bocor. Aku masih ingat, darah yang keluar dari kepalanya, begitu banyak. Dan aku juga tidak lupa kata-kata terakhirnya. Aku masih mengingat semua itu dengan jelas. Semuanya.

'Maaf Imouto-chan, a-aku t-tidak bisa menepati janjiku padamu… Uhuk… Tapi, k-kau juga tidak boleh seperti kakakmu yang mengingkari janjinya. Kau harus menepati semua janjimu. Ingat itu…'

'Aniki, Aniki! Aniki jangan berkata seperti itu! Aniki masih bisa hidup!'

'Sudahlah, selamat tinggal… Imouto… ku…'

'Aniki? Aniki! Aniki! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku lagi! Sudah cukup aku kehilangan Tou-san dan Kaa-san! Aku tidak ingin kehilanganmu! Jangan tinggalkan aku dan Dei-nee… kami sangat membutuhkanmu disini… kumohon jangan…'

"Aniki!"

"Naruto, ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?"

Kulihat Sasuke tengah berdiri diambang pintu dengan seragam yang lengkap dan rapi. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang amat sangat.

"A-aku tidak apa-apa…" jawabku pelan. Hampir seperti bisikan.

Sasuke berjalan mendekat ke arahku, ia duduk di sisi ranjang king size ku.

"Mimpi buruk mu dua kali, ya?" tanya nya. Sebenarnya yang tadi itu bukan mimpi buruk. Hanya saja… itu… lebih mengarah ke kenangan buruk…

"Hm…"

"Mau ku ambilkan air?" Aku menggeleng pelan. "Hari ini kau masuk atau tidak? Wajahmu pucat sekali. Lebih baik kau tak usah masuk saja."

"Tidak." Jawabku mantap. "Aku tidak apa-apa Sasuke."

"Baiklah." Ia beranjak dari sisi tempat tidurku. "Kalau begitu, cepat bangun dan mandi, sementara aku menyiapkan sarapan. Aniki ku dan Dei-nee, belum pulang dari tadi malam. Sepertinya mereka betul-betul menginap di Hotel rupanya. Berarti dugaan kita benar, kalau mereka sehabis…"

"Cukup Sasuke! Pikiranku baru saja bersih tau!"

Ia menyeringai. "Hn, kau masih kepikiran, Dobe?"

Wajahku sontak memerah sempurna.

"Huh, dasar Pantat Ayam!"

"Sudahlah, cepat sana mandi! Kau ingin kita dimarahi Tsunade-sama?

"Iya-iya! Bawel!" sungutku mulai beranjak dari tempat tidur.

"Ngomong-ngomong mulai dari tadi malam, kau jadi banyak bicara, ya Teme?" aku menyeringai.

Hening.

Gaah…! Ternyata si Teme pantat ayam itu sudah pergi.

"Cih, berarti percuma saja aku menggodanya tadi! Dasar SasukeTemePantatAyamJelek!"

Sampai ke kamar mandi pun, aku masih bersungut-sungut kesal.

End Of Naruto's PoV

~777~

Normal's PoV

"Masak apa Teme?"

"Ra-Ha-Sia,"

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan mendekat menghampiri Sasuke yang sedang memunggunginya.

"Uwaaah… nasi goreng? Mau dong, Teme," serunya tepat di teliga Sasuke. Pemuda itu langsung menutup telinganya, agar tidak tuli mendadak.

"Jangan teriak-teriak di telingaku bisa tidak sih, Dobe?" bentak Sasuke marah. Lagi-lagi Naruto mengerucutkan bibirnya.

"Maaf…" gumamnya sambil menunduk menatap lantai. Seperti sangat menghayati permintaan maafnya. Padahal dalam hati lagi menggerutu gaje.

"Hn," respon Sasuke. Dengan anteng Naruto berbalik dan duduk kembali di kursi meja makan. Menunggu masakan yang dimasak Sasuke matang.

Beberapa menit kemudian…

"Nih,"

Naruto tercengang melihat sepiring nasi goreng sudah terhidang dihadapannya. Pandangan matanya berpindah dari piringnya, ke Sasuke yang juga sudah duduk di depannya.

"Cepat sekali, Teme." Gumamnya tidak percaya. Sasuke hanya menyeringai narsis.

"Sudahlah, makan saja. Jangan bicara saat makan, Dobe."

Lagi-lagi gadis itu mengerucutkan bibir ranumnya, yang sangat menggoda iman Sasuke sebagai SEORANG LELAKI BEPIKIRAN KOTOR.

"Itadakimasu!" serunya sambil mengatupkan keduan tangannya. Sasuke hanya menyahut,

"Hn,"

Yaaah… begitulah Sasuke… Han, Hn, Han, Hn… seperti tidak ada kata atau huruf lain saja (readers: kalo huruf brarti sama aja!)

Sebelum Sasuke dan Naruto sempat memasukkan sesendok nasi dan lauknya ke dalam mulut. Terdengarlah jejeritan histeris, dari luar sana.

"KYAAAAAA….! APA YANG KAU LAKUKAN TADI MALAM PADAKU, ITACHIIII…?"

Naruto menjatuhkan sendok makannya secara dramatis, sedangkan Sasuke melotot kaget, dengan sendok makan yang masih anteng ditangannya, serta mulut yang tidak jadi dimasukkan makanan kedalamnya..

"Go-go-gomeeeeeen… aku akan bertanggung jawab… kalau perlu aku akan menikahimu sekarang juga. Gomene… aku terbakar api nafsu tadi malam."

"GAG ADA API-API-AN! GAG USAH SOK HORNY DEH! BILANG AJA, DARI DULU HORNY MULU KALO KETEMU AMA GUE? JUJUR AJA!" seketika readers beserta Author muntah-muntah mendadak disertai sweatdroped, yang dikarenakan kenarsisan Deidara yang kelewat narsis nuduh tunangannya.

"ENAK AJA! GUE CUMA SEKALI-SEKALI AJA KOK HORNY NYA!" bantah sang calon mempelai pria.

"HALAH! BILANG AJA! HORNY, YA HORNY GAG USAH BANYAK ALASAN DEH!" tuduh sang mempelai wanita lagi, disertai nyembar-nyembur gag jelas. Seketika ruangan menjadi basah. Basah! Author neting!

"ENGGAK! UDAH DIBILANG JUGA! NGAPAIN GUE HORNY NGELIAT LO, YANG KAYAK ONDEL-ONDEL KECENTILAN!" Oke. Itachi dapat dari mana kata 'ONDEL-ONDEL'? Apakah Itachi udah pernah ke Betawi?

"UAPAAAA? ONDEL-ONDEL? TUNANGAN KURANG AJAAAR LOOOOO! DASAR BANCIIIIIII! SEKOOOONG!"

"ONDEL-ONDEL!"

"BANCIIII!"

"ONDEL-ONDEL!"

"SEKOOOONG!"

Naruto dan Sasuke masih cengo ditempat. Ditambah dengan keringat dingin, akibat membayangkan hal yang tidak-tidak. Membayangkan… Hm, you know what I mean.

"Teme…"

"Hn?"

"Jadi, d-dugaan kita t-tadi m-malam itu, beneran?"

"Yaaaah… begitulah…"

"Jadi benar mereka… tadi malam?"

"Dobe…"

"T-teme… kita berangkat sekarang aja yuk?"

"Masih kepagian, Dobe."

"Biar aja. Aku gag mau disini lama-lama."

"Iya deh. Aku juga ogah lama-lama disini."

"Bagus. Sekarang kita pergi dari sini secepatnya, dari pada nanti kita kena semburan hujan Internasional dari negeri antah berantah. Aku gag mau kena virus rabies gara-gara kena semburannya."

"Oke. Kita lewat mana Dobe? Gag mungkin lewat depan. Soalnya, mereka berdua sudah menyebarkan virus rabies disana."

"Baiklah, Teme! Kita lewat belakang aja! Setuju?'

"Hn,"

Dengan ini, dialog gaje diantara mereka pun berakhir. Layaknya maling mau kabur dari rumah yang sudah mereka satroni. Mereka berdua mengendap-ngendap keluar dari rumah itu lewat pintu halaman belakang. Tinggal selangkah lagi, mereka sudah ketahuan belangnya. (?)

"KALIAN MAU KEMANA?"

Serentak mereka berdua berhenti diambang pintu, dengan wajah yang sulit ditebak. Meringis kesakitan gara-gara sembelit mendadak, atau entahlah. Pokoknya sulit ditebak. Maka dari itu ditulis sulit mendadak.

"Gawat! Kita ketahuan, Teme!" gumam gadis itu dengan wajah yang sudah kelewat panik. (?)

"Hn! Ngomong-ngomong, Dobe…"

"Apa?"

"Sejak kapan aku jadi OOC begini, ya? Trus ngapain kita berlaga seperti maling dirumahmu?"

"Entahlah Teme! Aku juga bingung."

"Lalu, sekarang kita bagaimana? Kita sudah ketahuan Usuratonkachi!"

"Gaaah! Baka Teme! Aku sedang berpikir! Jangan diganggu!"

"Cih, sejak kapan kau jadi sering banyak pikiran seperti ibu-ibu yang bingung bagaimana cara membayar hutangnya. Memangnya, kau bisa berpikir bagaimana cara kita keluar dari sini sekarang juga?"

"Nah itu masalahnya, Teme! Kalau pagi-pagi begini aku paling susah diajak mikir. Kalaupun, aku bisa berpikir sekarang juga, pagi ini juga, itu adalah sebuah mukjizat, Teme."

Sasuke menepuk jidatnya dengan dramatis.

"Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang saja. Tidak usah memikirkan mereka."

Itachi dan Deidara terbengong-bengong melihat tingkah laku adik mereka masing-masing. Dipanggil bukannya berbalik dan menyahut panggilan. Ini malah diam saja dengan posisi wenak.

"Kenapa adik kita Itachi?"

"Entahlah, mungkin selama kita pergi, mereka kesambet jin Iprit kenalannya temen ku Hidan."

Deidara sweatdroped. "Penganut Dewa Jashin itu?"

"Ya, begitulah keadaannya. Sekarang dia masuk rumah sakit JIWA gara-gara tereak-tereak pake toa, sambil berdakwah agar orang-orang mau menganut agama dewa sesatnya itu. Karna disangka orang gila, makanya itu orang dimasukkan kedalam RSJ. Sudah mengerti, Honey?"

Deidara bergidik geli. "Honay, Honey, Honay, Honey! Emang aku madu apa? Lagian kamu juga, kenapa jadi Hiperbola begini sih?"

Itachi pun menjawab dengan nada iklan Taxis.

"Aduh, bhebeb…" Deidara sweatdroped. "Kamu ini gimana sih? Aku begini untukmu juga kan? So, jangan protes dong."

Deidara sudah sweatdroped ditambah sweatdroped lagi.

"Itachi? Kamu mau ku apain sih sebenarnya?" tanya Deidara sambil menahan emosi. Itachi malah memejamkan matanya, dengan bibir BIMOLI (Bibir Monyong Lima centi).

"Cium?"

Itachi mengangguk.

"Kalau begitu jangan protes kalau ini akan terasa sakit."

Itachi menaikan sebelah alisnya. Bingung. Ia buka satu matanya yang tadi menutup. Dan disaat itu juga tonjokan nan dahsyat dari bibir tangan Deidara mengahantam bibir seksehnya yang jadi tambah sekseh lagi. Mmmmmuaaaaaaaah...! HIngga pria berambut hitam itu terjungkal kebelakang, tangannya menutupi bibirnya yang makin sekseh. Udah merah, jontor lagi.

"RASAIN TUH! CIUMAN PANAS DARI BIBIR TANGAN GUE!"

Setelah puas mencaci beserta mencuci mulutnya dengan semburan-semburan dahsyat. Deidara berbalik, bermaksud ingin menghampiri adiknya dan adik tunangannya. Dan ternyata dua orang remaja itu sudah pergi dari hadapan mereka.

~777~

Di mobil Lamborghini Sasuke

"Cih, tak kusangka Aniki sepengecut dan sebanci itu didepan Dei-nee. Padahal dirumah sok bijaksana. Oh, lain kali akan ku ejek dia sampai ia sungkem didepanku."

"Bwahahahaha…! Sudah hentikan Teme! Perutku sakit bodoh!"

Sasuke hanya mendengus, dan sesekali mencibir.

Ya. Sekarang mereka sedang berada dimobil mahal Sasuke. Tentu saja Naruto duduk di jok depan sebelah Sasuke, yang sedang menyetir.

Naruto tampak berusaha menahan tawanya mati-matian. Sedangkan, Sasuke terus mencibir tidak jelas. Yang sesekali menyebutkan nama sang kakak, Itachi.

"Cih, dasar Aniki tidak berguna! Mempermalukan marga Uchiha saja! Kalau Tou-san tau, mati kau ditangannya, Aniki." Geram Sasuke yang tidak berapa lama kemudian disusul oleh cekikikan nona Namikaze disebelahnya.

"Astaga… sudah hentikan, Teme bodoh! Aku bisa mati, kalau caranya begini terus…"

"Haaah…"

Sasuke membelokkkan setir mobilnya, memasuki gerbang KHS. Nampak Kotetsu dan Izumo sedang berbincang-bincang dengan serius. Saking seriusnya, mata mereka sampai melotot.

"Pagi Kotetsu-san!" sapa Naruto dari dalam mobil (ps: kacanya dibuka)

Kotetsu menoleh lalu tersenyum, mendapati siapa yang menyapanya.

"Pagi, Naru-chan, Sasuke-san!" balasnya menyapa. Sasuke hanya ber-Hn-hn ria.

"Ada parkiran kosong tidak?" tanya gadis satu-satunya didalam mobil itu. Kotetsu mengangguk.

"Disebelah Verrari merah, didekat gedung olahraga, ada." jawab pria berumur ±25 tahun itu.

"Oh ya, thanks Kotetsu-san…"

"(just smile)"

Sasuke pun kembali menjalankan mobilnya menuju tempat parkir kosong yang tadi ditunjukkan oleh Kotetsu. Kembali ke Kotetsu dan Izumo yang tadi sedang bicara dengan serius.

"Menurutmu siapa yang nanti akan mendapatkan hati Naru-chan?" tanya Izumo sambil memandangi mobil Lamborghini Sasuke yang mulai menjauh. Kotetsu mengangkat kedua bahunya. Tidak tau.

"Entahlah. Memangnya menurutmu siapa?" tanya pria itu balik.

"Sasuke-san dan Gaara-san kansama-sama ganteng, sama-sama kaya, sama-sama populer, kurang apa coba? Jujur, kalau aku yang jadi Naru-chan, aku pasti bingung sekali."

Kotetsu terkekeh pelan. "Hahaha…! Kau jadi, Naru-chan? Mimpi apa aku semalam?"

Izumo mengerucutkan bibirnya yang sekseh itu, biar tambah seksehkatanya. Itupun katanya lo! (readers: katanya author!)

"Mimpi ketabrak truck! Sudahlah! Lebih baik kita kembali bekerja saja, daripada nanti akhirannya dihukum Tsunade-sama."

"Iya-iya. Kita lanjutkan ngerumpinya nanti ya, habis Jeng Oro balik dari Oto."

"Oh iya, ya! Eh, katanya, Jeng Oro pulang nanti bakal bawa anak, ya?"

"What? Jeng Oro pulang nanti bakal bawa anak? Ya ampun boo…! Ngebuatnya sama siapa juga? Memanya ada yang mau ehem-ehem sama Jeng Oro?"

"Iiih…! Jeng Kotet mah gag tau gosip! Kan katanya Jeng Oro lagi deket-deketnya sama tukang kebon sekolah sebelah!"

"Oh ya? Ya ampyuun, Jeng Oro mau-maunya sama tukang kebon!"

"Itulah hebatnya Jeng Oro! Tak pandang status dan wajah!"

"Aih! Eh-eh! Mukanya cakep gag sih? Aku denger-denger mukanya mirip sama ikan hiu ya? Koq bisa sih?"

"Kan udha tau mukanya mirip ikan! Jadi ya terpaksa bilang jelek!"

"Jahatnyaaa…!"

Hening sejenak.

"Eh Bo! Udha tau belom katanya ada film telenovela baru?"

"Enggak Jeng! Mang kata siapa?"

"Itu tuh! Jeng Oro tadi malem nelpon! Tereak-tereak panik kaya orang habis kebakaran jenggot! Kukira ada musibah apa… Eh, ternyata malah Cuma mau ngabarin ada film telenovela baru! Aduuh, Jeng Oro mah, kebiasaan begitu! BIkin orang jantungan aja!"

A-a…! Lebih baik ita lewati saja, bagian adegan dari gosip menggosip. Karna saya sebenarnya tidak suka bergosip, tapi yang bener itu ngerumpi! (readers: Yaaah… itu mah sama aja kali bu!")

Sementara itu kita kembali pada duo pasangan kita yang belum jadian, tapi sudah bikin keributan (?).

"Pagi, Hinata-chan!" sapa gadis itu pada seorang gadis manis berambut biru tua, dan bermata lavender yang membelakangi mereka. Gadis yang bernama Hinata itu berbalik dan tersenyum mendapati sahabat pirang nya yang ternyata memanggilnya.

"Pagi, Naru-chan…" balasnya menyapa. Naruto langsung berlari menghampiri gadis itu, dan memeluknya. Dibelakang gadis itu Sasuke berjalan santai menyusulnya, dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya.

"Pagi, Sasuke-kun…" sapanya lagi pada Sasuke ketika pemuda itu sudah sampai ketempat mereka berdua berdiri.

"Hn, pagi." Yah, seperti biasa. Pemuda pantat ayam itu hanya bisa membalas sapaan dengan kedua huruf nan singkat.

Naruto memperhatikan wajah ayu sahabat yang ada didepannya ini. Gadis itu agak mengernyitkan keningnya, sampai Hinata risih dengan kelakuan sahabat pirang cerianya itu.

"A-ada apa Naruto-chan?" tanya gadis bermarga Hyuuga itu. Naruto menatap mata Hinata lekat-lekat. Dan tindakan bodoh itu malah semakin membuat Hinata risih. Akhirnya Sasuke menjitak kepala Dobe tercintanya itu, sehingga sang pemilik kepala menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.

"Kau itu semakin membuatnya gugup, bodoh."

"Iya-iya! Maaf!" Naruto beralih kembali memandang wajah sahabatnya di depan. Wajahnya berubah sedih.

"Kau kenapa Hinata-chan?" tanyanya lembut. "Wajahmu kelihatan pucat, dan matamu sembap. Kau habis menangis semalaman ya? Ada apa?"

Gadis berambut biru tua itu langsung memeluk Naruto. Mata lavendernya menggenangkan sebuah genangan kecil tapi artinya besar. Ia menangis.

"Ada apa Hinata? Kalau Sasuke nakal trus gigit kamu, aku nanti yang akan menghukumnya!" ucap gadis itu asal, dan yang pada akhirnya mendapat hadiah getokan langsung dari sang pemuda yang bersangkutan. Kedutan 4 buah siku-siku nampak dikeningnya.

"Bodoh! Memangnya aku anjing apa?" teriak pemuda berambut emo dongker itu, marah. Seketika para FG-nya langsung klepek-klepek bahagia, karna bisa melihat emosi dari pemuda berwajah stoic itu. Merasa banyak FG nya yang terlanjur melihat emosinya, Sasuke langsung come back to his face. Stoic.

"Sasu, emang bukan anjing. Tapi yang bener itu kucing! Tuh, liat! Mukamu kalau marah kaya kucing!"

Duak…

"Awas kau nanti, Dobe…" geram Sasuke sambil bersusah payah menahan emosinya. Kini dua buah gunung, ada di kepala pirangnya.

"Sebenarnya ada apa, Hinata?" tanya nya lagi, sambil mengelus-ngelus kepalanya sendiri, yang sudah mendapatkan hadiah langsung dari pangeran KHS.

"Ki-kiba… semalam aku melihatnya dengan seorang perempuan di café tempat kami biasa hang out… mereka mesra sekali…" jelas gadis berambut biru tua yang hampir sama dengan Sasuke dulu waktu kecil.

Naruto langsung menggeram marah.

"Beraninya dia, selingkuh didepan Hinata! Teme! Ayo kita kumpulkan anggota tim inti basket putra dan putri!"

"Buat apa?"

"Kita akan perang melawan Kiba!"

Duak…!

"Bodoh! Masalah seperti itu saja harus perang! Nah, manusia seperti ini yang harus dibuang ke laut. Dobe, aku tidak akan segan-segan membuangmu ke laut, atau kau mau sekalian saja kubuang ke samudra atlantik? Biar kamu mati kedinginan."

"Aih, Teme! Aku kan Cuma bercanda!"

"Hn. Tapi, sekarang aku sedang ingin sekali membuang mu jauh-jauh dari muka bumi ini."

"Jangan dong, Teme! Nanti siapa yang jadi Dobe-mu kalau aku tidak ada?"

"Hn. Para fansgirl ku pasti dengan senang hati akan menggantikan posisimu sebagai Dobe-ku."

"Sasu jahaaat…~~" (Naru pundung di pojokan) Hinata cengok ngeliat duo pasangan belum jadi ini. Sasuke hanya bisa menghela nafas. Maklum, Naru kan sering lebay kalau pagi-pagi begini. Kalo Author sering gag konek kalau pagi-pagi.

"Haaah… Baiklah. Okey, aku minta maaf Dobe."

Naruto masih jongkok, kepalanya nengok kebelakang.

"Bener?"

"Hn."

"Kalo gitu bilang kalau didunia ini gag ada yang boleh jadi Dobe-mu selain aku!"

Sasuke cengok, dengan mulut menganga, sampai-sampai lalat hampir masuk kedalam mulutnya, untung ada Hinata yang liat. Jadi diusir deh, lalatnya!

"Bukannya dulu, kau sering marah kalau aku panggil Dobe? Oh, pasti gara-gara kau belum sarapan, akhirnya otak mu yang sudah gag beres itu makin gag beres, Dobe? Kalau begitu ayo kita cepat ke kantin. Sebelum penyakit syndrom Dobe-mu itu menular!"

"Bodoh! Memangnya aku apa? Dasar, Teme!"

Sasuke dengan cepat menyabet lengan Naruto dan menariknya menuju kantin. Meninggalkan Hinata yang masih cengok dan bingung. Hedeh, dasar SasuNaru. Hedeh juga buat Author. (?)

~777~

"Teme! Lepaskan tanganku! Sakit tau!"

"Sudahlah, nanti kalau kulepaskan tanganmu. Kau malah kabur, lagi. Dan bikin ulah, nanti yang repot kan aku."

"Dasar! Memangnya aku orang gila! Aduuh, Teme!"

Yap, readers pasti sudah tau siapa yang berdebat diatas tadi. Kalau bukan SasuNaru siapa lagi? Didunia ini yang selalu bertengkar seperti mereka ya hanya mereka. Tak ada pair lain yang bisa menandingi perdebatan mereka. Debat PBB sama Israel tentang masalah Gaza aja gag begini! (readers: Ya iyalah, dasar Author sarap!)

Orang-orang yang ada disekitar mereka hanya bisa menatap iri. Tentu saja iri. Debat seperti paling sering didambakan oleh pasangan-pasangan KHS. Sering berdebat, tapi gag pernah ada kalimat putus didebatnya. Itulah yang membuat mereka iri.

"Naruto, aku ingin bicara denganmu."

Sebuah suara khas pemuda yang mereka berdua kenal, langsung menghentikan langkah kaki mereka. Wajah gadis pirang itu langsung berubah horor. Sasuke menghela nafasnya, kemudian berbalik sehingga berhadapan dengan pemilik suara barriton tersebut. Sabaku no Gaara.

"Uchiha Sasuke."

"Hn. Sabaku no Gaara."

Mereka saling adu wajah stoic. Sampai akhirnya sebuah suara yang kedua pemuda itu kenal, membangkitkan mereka dari adu stoic itu.

"Dimana kita akan bicara, Gaara?"

Satu pertanyaan itu sukses membuat mata Sasuke terbelalak dan menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya raut wajah gadisnya yang berubah serius. Tak pernah pemuda emo itu lihat wajah seserius itu diwajah perempuan yang diseukainya itu.

Gaara tersenyum miris. "Di atap sekolah sekarang juga, Naruto."

Sasuke masih menatap wajah ayu Naruto. Ia melihat sebuah kesungguhan dimata gadis yang bermata biru sapphire itu. Ia hanya bisa pasrah.

"Aku mengerti Naruto. Kutunggu kau dikelas."

Gadis berambut pirang itu mengangguk. Sejenak Sasuke menatap mata emerald Gaara. Seakan ia berkata, 'jangan kau sakiti dia lagi' Gaara tau apa yang mata onyx itu ucapkan.

"Aku hanya ingin memastikan saja, Uchiha. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi untuk yahg kesekian kalinya."

"Hn."

Kemudian Sasuke beranjak dari tempat itu dengan perasaan enggan. Enggan meninggalkan gadisnya. Enggan gadisnya mendengarkan perkataan dari Gaara. Sasuke takut, kalau nanti gadisnya akan kembali memilih orang yang sudah menyakitinya walaupun itu tidak disengaja.

~777~

Gaara's POV

At atap sekolah (bikin malu aja ni Author!)

Kutatap wajahnya yang manis dan cantik. Rambut pirang sutra nya beterbangan tertiup angin musim panas ini. Merasa kutatap wajahnya, gadisku itu segera memalingkan wajahnya. Aku menghela nafas panjang.

"Maafkan aku, Naruto…" ucapku lirih. Kulihat mata sapphirenya menutup sejenak, dan kembali terbuka.

"Buat apa kau minta maaf?" aku agak tersentak. Ia tersenyum pahit. "Kau tak usah minta maaf padaku. Lagipula, kau tak salah kan? Bukannya yang sebenarnya salah itu Konan?"

Aku tersenyum. "Jadi intinya kau sudah memaafkan ku?" ia mengangguk, masih memalingkan wajahnya. "Kalau kau sudah memaafkan ku. Kenapa kau tidak mau menatap ku Naruto?"

Ia tersentak mendengar kalimat terakhirku. Matanya menutup rapat. Perlahan dengan matanya yang menutup, ia kembali menghadapkan wajahnya ke arahku. Dan akhirnya mata sapphire yang kusukai itu terbuka juga. Memperlihatkan kilau nya disiang hari, memperlihatkan keceriaanya dimalam hari. Mata yang selalu membuatku mencintainya.

"Sekarang kau bisa menatapku Gaara…" ucapnya pelan. Aku kembali tersenyum.

"Begini kan enak?" ia terdiam. "Aku ingin memastikan satu hal lagi padamu."

"Apa?"

"Masihkan kau mencintaiku?"

Satu pertanyaan itu kembali membuat mata birunya terbelalak, dan tubuhnya tersentak kaget. Kedua tangannya terkepal dibawah. Berulang kali kulihat ia menarik dan membuang nafasnya. Matanya kembali menutup rapat.

"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya nya dengan suara bergetar. Rupanya ia berusaha keras untuk menutupi air matanya yang ternyata sudah hampir keluar dari batasnya.

"Karna, aku takut kau sudah tidak mencintaiku lagi. Melihat kedekatanmu dengan Uchiha bungsu itu yang sudah seperti pasangan kekasih." Jawabku panjang lebar. Ia masih terdiam.

"Sekali lagi aku katakan, aku dan dia bukan pasangan." Ia terdiam sejenak "Dan lagipula aku masih menyukaimu…"

Satu kalimat itu kembali membuatku tersenyum. 'ternyata ia masih mencintaiku, syukurlah…'

"Tapi…" aku mengangkat sebelah alisku. "terpaksa hubungan kita berakhir sampai disini."

Aku tersentak kaget. "Apa maksudmu? Kau sudah memaafkan ku bukan?"

Ia menarik nafas panjang sebelum menjawabku. Matanya berubah serius.

"Iya, kau benar. Bukannya aku masih marah atau apa. Tapi, aku benar-benar belum bisa melupakan kejadian itu." Aku menatapnya tidak percaya. "Kumohon Gaara… aku belum siap untuk melanjutkan hubungan ini… sejak kejadian itu. Kumohon… maklumi keadaanku…"

Aku terdiam. Dia benar. Tidak mungkin ia bisa melupakan kejadian itu dalam sekejap. Pastinya ia trauma bukan? Kulihat matanya seperti sangat berharap. Lagipula, kalau aku tak bisa jadi pacarnya, toh, aku masih bisa jadi sahabatnya. Walaupun dengan berat hati…

Kutarik nafasku dalam-dalam sebelum membalas penjelasannya tadi.

"Jadi, hubungan kita berakhir sampai disini?" ia mengangguk pelan.

"Iya… maaf Gaara… aku belum siap…" ucapnya dari mulut berbibir mungil nan merekah itu. Bibir yang dulu selalu membuatku ketagihan untuk terus menciumnya. Bibir yang dulu sering memanggil namaku. Bibir yang dulu hanya milikku seorang. Dan kini hilang lah semua itu, akibat sebuah kesalahan yang kubuat. Sungguh aku menyesal setengah mati, telah termakan jebakan Konan. Tapi, apa daya? Semua itu sudah berlalu. Waktu tidak mungkin ku putar balik lagi, waktu kan terus berjalan seiring dengan kehidupanku, kehidupannya. Dan jika aku dapat memutar waktu kembali, aku ingin semua ini tidak terjadi. Sangat ingin.

"Hn," ia menunduk sedih. "Tapi, apakah aku masih bisa menjadi temanmu? Atau mungkin kalau boleh. Apa aku bisa mengulang semua ini dari awal? Maksudku mulai dari pendekatan. Jangan bertanya kenapa, karna aku pasti akan menjawab, 'karna aku masih sangat mencintaimu'."

Mata biru sapphire nya terbelalak. Wajahnya kembali mendongak ke arahku yang lebih tinggi darinya. Mata sapphire itu berbinar-binar senang. Aku tersenyum.

"Tentu saja boleh! Aku tidak akan melarangmu siapa pun untuk menjadi temanku, apalagi mantan pacarku yang ingin mengobati luka hatiku! Mana mungkin aku melarangnya!" seru dengan senang. Jujur, aku bahagia melihat senyumannya itu. Senyum tulus untukku. Senyum yang sudah lama tidak kulihat.

"Hm, baiklah. Terima kasih. Jujur aku sekarang sangat ingin memelukmu, Naruto… tapi itu harus kutahan bukan, karna kita bukan pasangan kekasih lagi…"

Ia tersenyum. "Kau boleh memelukku kapan saja kau mau… Gaara…"

Saat itu juga aku langsung menghambur memeluk tubuh mungilnya yang hangat. Ia balas memelukku erat. Berulang kali ku cium puncak kepalanya. Membelai rindu pada rambut pirangnya. Aku benar-benar merindukannya. Sangat. Aku sangat merindukannya… merindukan wangi citrus yang selalu menguar dari tubuhnya. Wangi lavender, wangi bunga kesukaanku, yang selalu tercium bila aku mencium kepalanya.

"Gaara?" panggilnya lembut. Kulepas pelukanku dari tubuhnya. Kutatap mata sapphire itu sungguh-sungguh.

"Ya?"

"Sebaiknya kita segera ke kelas masing-masing. Soalnya ini, sudah masuk jam pelajaran pertama."

"Memangnya guru jam pertamamu siapa? Termasuk killer gag?"

Naruto menggeleng. "Enggak. Kan jam peajarannya Kakashi-sensei. Guru satu itu kan selalu terlambat dijam pertama. Jadi santai saja. Nah, sekarang yang Naru takut itu, kamu jam pertama diajar siapa!"

"Tenang saja…" ucapku menenangkan nya. Gadis itu mengangkat satu alisnya. "Sensei, yang mengajar kelas kami sedang cuti, dan kebetulan guru penggantinya juga ada rapat. Jadi bebas jam pelajaran pertama dan kedua."

Naruto ber-oh-oh ria. "Ouh… begitu…" gumamnya. Ingin sekali kucium bibir mungilnya yang menggiurkan itu. Tapi perasaan itu harus kutahan, karna aku sekarang bukan siapa-siapanya. Ku ulurkan tangan lalu mengacak-acak rambut pirangnya lembut. Ia tersenyum senang.

"Aku kangen saat kau mengacak-ngacak rambutku Gaara. Aku merindukannya selama ini…" gumamnya lembut, matanya terpejam seperti sangat menikmati sekali gerakan tanganku yang mengacak rambut pirang sepunggungnya.

~777~

Sasuke's POV

'Si Dobe itu lama sekali… mereka ngapain aja sih? Apa yang mereka bicarakan ya? Bagaimana kalau seandainya Gaara mengajaknya kembali jadi pacarnya. Arrrghh..! Aku ini mikir apa sih? Apa sebaiknya kususul saja ya, si Dobe itu? Aku khawatir, kalau nanti dia pulang, tau-taunya nangis. Aku kan tidak mau lagi melihatnya menangis. Ah, kususl saja kalau begitu!'

Aku beranjak berdiri dari kursiku. Tapi, tiba-tiba saja sebuah suara yang kukenal berteriak memberi salam. Aku menoleh dan mendapati siapa yang tadi berteriak keras sekali. Dobe-ku.

"Heh, Dobe! Kau mau membuat semua orang yang ada di kelas ini tuli, ya? Dasar!"

Ia mengerucutkan bibirnya. "Maaf… habisnya aku kan tadi senang sekali, Teme."

Kuangkat satu alis ku naik. "Senang kenapa?" tanya ku sinis. Ia mendekat.

"Kau pasti akan kaget!" ucapnya lagi. Aku mulai berfirasat buruk. Sampai-sampai menelan ludah saja susah nya minta ampun. (readers: Ih, sasu lebay, un!) (?).

"Kaget kenapa?"

"Aku dan Gaara sudah baikan!" teriaknya senang. Bagimu senang bodoh! Tapi bagiku itu menyakitkan. Tuhan… kenapa nasib ku harus begini?

Aku terdiam.

"…"

"Kenapa, Teme?" tanyanya. Aku hanya diam.

"…"

Ia tersenyum lembut. Lembut. Lembut sekali. Selembut rambut pantat ayam ku. (readers: Akhirnya tu anak ngaku juga, kalau rambutnya itu benar-benar chiken-butt… Syukurlah…) (?).

"Tenang saja, Teme…" aku mengernyitkan keningku. "Aku dan dia tidak kembali pacaran. Jadi sekarang aku jomblowati seratus persen!"

Uwooo…! (readers: Sasu… kami baru tau kalo kamu ternyata adalah orang gila yang nyasar ke fanfic ini… ckckck…) Akhirnya, doa ku dikabulkan juga! Alhamdulillah! Terima kasih Tuhan! (readers: sejak kapan Sasu tobat dari ajaran sesat dewa Jashin nya Hidan?)

"Be-benar kalian putus?" tanyaku belum percaya. Dan dijawab oleh anggukan pelan darinya.

Ouh! Betapa bahagianya aku sekarang ini! Orang yang kusukai akhirnya putus juga dengan pacarnya! Sekian lama aku menunggu… akhirnya Kami-sama mengabulkan doa ku. Mulai sekarang aku akan berjuang untuk mendapatkan hatinya! YA! Jangan sampai aku keduluan orang lagi! Apalagi Gaara! Uoh! Sepertinya malam ini aku harus mengadakan syukuran massal di mesjid depan rumah. (readers: tuh kan! Sasu udha tobat!)

"Jadi sekarang kau tidak punya pacar?" ia mengangguk. "Kalau begitu aku akan berusaha keras untuk mendapatkan hatimu agar kau menyukai ku!"

Seketika wajah tan-nya memerah. Ia menundukkan kepalanya.

"P-perkataanmu tadi, hampir sama dengan perkataan Gaara sebelumnya…" satu kalimat itu membuatku berhenti. Mulutku menganga tidak percaya (it's kidding). Jadi pemuda bermata panda itu belum menyerah juga? Astaga! Dasar mata panda! Aku tak akan menyerahkan Naruto padamu! Tidak akan!

"Jadi si mata panda itu belum menyerah juga? Baiklah! Ada rival semakin seru bukan? Pokoknya aku akan merebut hatimu, dan membuatmu menyukaiku Dobe!" ucapku, yang dapat membuatnya tersentak kemudian tersenyum.

"Yosh! Berjuanglah, Teme! Kau pasti bisa!" serunya dengan wajah yang memerah.

"(smile)"

"Kau tau Teme? Aku sangat suka melihat kau tersenyum seperti itu… seperti kau sangat bahagia saja…"

"Bukan seperti, tapi memang bahagia, Dobe."

Saat mulutnya akan mengucapkan sesuatu. Seorang anak berteriak, meneriakkan satu nama.

"Kakashi-sensei datang!" teriaknya. Langsung saja semua anak di kelas langsung duduk ditempatnya masing-masing. Tak berapa lama kemudian sesosok mahkluk berambut silver jabrik dengan masker biru tua yang menutupi mulut dan hidungnya. Entah kenapa dia menutupinya. Selama ini belum ada seorang murid pun yang bisa menjawab, ada apa dibalik masker biru tua itu.

"Pagi anak-anak!" sapanya ceria, sambil meletakkan buku-buku pelajaran Fisika yang ia bawa tadi. Yang membuatku bingung. Kenapa ia bawa kardus kesini?

"Pagi Sensei!" balas kami menyapa.

"Sensei!" panggil seorang anak. Kakashi-sensei menoleh.

"Ya?"

"Itu kardus apa?" tanya nya. Kami semua mengangguk.

"Ini?" tunjuk nya. Lagi-lagi kami mengangguk. "Didalam sini ada potongan-potongan, kertas-kertas yang sudah sensei tulisi angka, nanti kalian akan maju satu-persatu untuk mengambil kertas yang ada didalam sini. Nah, ada yang mau protes?"

Semua orang diam. Ck, ayolah. Aku tidak ingin duduk berjauh-jauhan dengan si Dobe, walaupun gadis itu duduk didepanku, atau di meja seberang, atau apalah. Asal kau tau saja, Sensei mesum. Aku sudah susah payah tau! Aku susah payah membujuknya untuk duduk sebangku denganku. Dan aku harus berkorban menahan malu, karna ia menertawakan wajahku yang memerah.

Aku meliriknya, yang sepertinya sedang merapikan dasi pitanya. Aku mendengus, melihat tingkahnya yang sepertinya tidak perduli, mau ia duduk dengan siapa nantinya. Tapi aku tidak! Aku perduli, bodoh! Arrggh…! Ingin rasanya kucekik saja leher guru satu itu. Biar saja aku di penjara, asalkan keinginanku tercapai. Tapi, aku tidak ingin gadis disebelahku ini membenciku hanya karna itu. Aku benar-benar tidak ingin ia membenciku.

Kakashi-sensei berdeham membuat seluruh mata kembali terttuju padanya. Bisa dibilang guru itu salah satu mahkluk caper yang sudah diciptakan Tuhan, selain Harumo Sakura itu.

"Jadi, tidak ada yang protes?" tanyanya memastikan. Aku hanya mendengus malas. "Baiklah, dimulai dari ujung sana. Kiba! Kau yang duluan maju."

Skip Time#berhubung Mi-chan lagi males banget berbasa basi ngejelasin secara mendetail mereka lagi ngambil tu kupo berhadiah tempat duduk baru dari Kakashi. Lebih baik kita skip saja ya!#

Normal's PoV

"Ayayay! Aku duduk sendirian, Teme! Mana diujung lagi! Kamu juga sama di ujung!" seru Naruto pada Sasuke yang dari tadi hanya menggerutu tak jelas pada sosok sang guru yang sedang memberi aba-aba pada muridnya yang sudah mengambil kupon tempat duduk tadi.

"Hn," sahut pemuda itu apa adanya. Dilihatnya lagi kupon yang ia dapatkan. Tempat duduk, bangku kedua dari depan, terpisah dua baris tempat duduk dengan Dobe tercintanya. Dan parahnya lagi, ia harus sebangku dengan nona Haruno yang diliriknya semenit yang lalu, sedang berteriak-teriak histeris karna bisa sebangku dengan pangeran dingin KHS.

"Haaah…" hela gadis itu sambil menepuk pundak Sasuke. "Yang baik, ya, dengan Sakura-chan. Jangan berantem…"

"Ia tidak seperti mu, Dobe. Yang kalau ketemu pasti akan cakar-cakaran kayak kucing."

Naruto mengerucutkan bibirnya. "Aku bukan kucing, baka Teme."

"Lantas apa? Rubah? Musang?"

"Cat…"

Duaak…

Gadis itu meringis pelan sambil memegangi kepalanya yang kena jitakan maut seorang Uchiha Sasuke. Pemuda itu hanya mendengus.

"Itu sama saja, bodoh. Artinya sama. Kucing dalam bahasa Inggris nya itu Cat. Dasar, Dobe." Gerutu Sasuke dengan nadaa datar dan kesal. (?)

"Iya! Tapi bisa tidak sih, kau tidak usah menjitak kepala ku! Bagaimana nanti kalau penyakit syndrom Dobe ku jadi bertambah parah?"

Sasuke membuang mukanya, acuh. "Itu salahmu, yang punya penyakit aneh seperti itu."

"Arrgghh…! Teme jeleeek…!"

"Hn, baka Dobe."

"Teme, kuso!"

"Hn, Usuratonkachi."

"Pantat Ayam!"

"Dobe…-"

"Ehem, acara mengejeknya bisa dilanjutkan nanti, Naruto, Sasuke. Dan sekarang, duduk ke tempat duduk kalian yang baru."

"Tapi, Sensei!"

"Kembali sekarang. Atau kalian ku hukum membersihkan seluruh ruangan kelas 10-12. Kalian pilih mana?"

Tanpa bisa membalas perkataan Sensei mereka. Akhirnya, duo SasuNaru itu duduk ke tempat duduk baru mereka dengan langkah gontai. Begitu, kedua-duanya sudah duduk ke tempat duduk masing-masing, yang sudah ditetapkan. Seseorang mengetuk pintu keluar-masuk kelas. Kakashi berdeham sebelum menyuruh orang yang ada diluar itu masuk.

"Masuk," perintahnya.

Pintu geser itu bergeser ke kanan. Seorang pemuda tampan memasuki ruang kelas yang mendadak sepi itu. Kakashi tersenyum didalam maskernya.

"Kau pasti murid baru itu kan?" tanya Kakashi dengan ramah, pada murid barunya, yang sudah berdiri mengahadap seluruh kelas.

"Seperti yang kau lihat sekarang, Sensei." Jawabnya acuh. Kakashi sama sekali tidak tergoda akan sulutan menjengkelkan dari murid barunya ini. Tentu saja, karna ia sudah terbiasa dengan gaya bicara acuh tak acu Uchiha bungsu dikelasnya.

"Baiklah kalau begitu. Silahkan perkenalkan nama lengkap, nama panggilan dan sekolah mu sebelumnya." Ucap Kakashi yang sudah hafal betul dengan kalimat-kalimat yang harus diucapkan seorang guru, jika ada murid baru, seperti sekarang ini.

Pemuda itu mengangguk. "Perkenalkan, namaku Akasuna no Sasori, kalian bisa memanggilku Sasori. Sekolah asalku Otto High School. Sekian." Jelas pemuda berambut merah dari Otto itu singkat, datar, dan jelas.

Sasuke melirik Naruto yang berada dibelakang baris paling ujung sebelah kiri. Dilihatnya, gadis itu nampak asyik mendengarkan alunan musik PoP dari earphone I-pod nya. Dan sepertinya ia tidak memperhatikan dengan betul murid baru itu. Sasuke menghela nafas lega, mendapati Dobe-nya tidak terlalu memperhatikan murid baru itu, seperti teman-teman ceweknya yang sudah klepek-klepek bahagia, karna ada satu orang cowok cakep lagi yang masuk dan menjadi teman sekelas mereka.

"Terima kasih. Nah, Sasori, kau bisa duduk sebangku dengan Naruto disana." Ucap Kakashi yang sukses membuat si gadis pirang itu terlonjak dari tempat duduknya.

"Eh?" gumamnya bingung. Sasori yang melihat tingkah gadis itu hanya bisa tersenyum simpul, seakan tertarik dengan tingkah gadis pirang satu ini.

"Haaah… dasar," hela guru mesum itu. "Kau sekarang akan sebangku dengan Sasori. Dan, Sasori, kau mulai sekarang akan sebangku dengan si pirang yang ada disana."

Naruto hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Tidak merasa kalau Sasori sudah ada disebelahnya.

"Hallo," sapa pemuda berambut merah darah itu. Naruto berbalik, dan mengeluarkan senyum termanisnya, yang mampu membuat Sasuke bertekuk lutut. Dan sepertinya hal itu tak jauh berbeda dengan pemuda berambut merah kita yang satu ini.

"Hai!" balasnya menyapa. "Namaku Namikaze Naruto! Mulai sekarang kita akan menjadi teman sebangku. Jadi mohon bantuannya!" ucap gadis pirang itu, lalu membungkukkan tubuhnya. Sasori yang sudah terhipnotis dengan senyum manis itu hanya bisa menatapnya takjub. Naruto kembali menegakkan tubuhnya, dan kembali tersenyum. Sasuke sudah berteriak-teriak panik dalam hatinya. Secepat kilat, Sasori berlutut dengan kaki kanan didepan dan kaki kirinya menekuk, seperti seorang pria hendak melamar perempuan yang dicintainya. Tangan pemuda itu menggenggam tangan kanan Naruto yang halus dan lembut. Sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya tidak percaya.

"Namaku Sasori. Senang berkenalan denganmu, Tuan putri…"

Sasori mencium punggung tangan gadis bungsu keluarga Namikaze itu dengan lembut dan penuh penghayatan. Seluruh kelas cengo ditambah lagi dengan Sasuke yang tanpa ampun langsung mengeluarkan deathglare andalannya. Kakashi yang menyaksikan hal itu hanya manggut-manggut seolah mengerti, sambil bergumam.

"Hm… lain kali supaya cintaku diterima Iru-koi harus seperti itu ya…"

Gantian. Kini Author yang sweatdroped.

"Ro-romantis sekali…" gumam gadis itu tanpa sadar. Sasori kembali berdiri, dengan tangan yang masih menggenggam tangan mungil berjari lentik milik Naruto. Sasori mendekat ke wajahnya yang cantik. Mencium pipi gadis itu, sehingga empunya si pipi berblushing ria.

Nampak Sakura sekarang sedang sibuk mngurusi Sasuke yang tengah berasap dengan wajahnya yang memerah karna kesal.

"I'm falling in love with you, Princess…"

Sasuke pingsan.

##TBC##

Author's Note:

Uwooooo…! (readers: maklum, baru keluar dari RSJ…)

Tak kusangka, ternyata Sasori yang jadi rival barunya Sasuke! (readers: Kan elu author ni cerita.. ngapa malah lupa?)

Benar-benar! Sasori hebat euy! Sasuke jangan mau kalah sama Sasori! Buat hal romantis yang bisa membuat FG mu ilfeel! Bwahahaha…!

Yap! Untuk Chapter kali ini… maaf karna Mi-chan lama banget baru ngapdet! Maaf yang sebesar-besarnya kepada para readers… Maafkan Mi-chaaaan…! *nangis tersedu-sedu* (readers: Lebay lu!)

Baiklah! Semoga chapter kali ini bisa membuat para readers setia Mi-chan seneng ngebacanya… Thanks yo!

Nah, sekarang kita bales review-an readers yang dengan senang hati mau me-review fanfic tak bermutu ini...

Kita mulai dari bawah ya!

Bunda Dita Imoetzz *hoeeek* Tiada Duanya: He-eh buda ku cayang ae… terlalu narsis untuk dijadikan penname… Fakta dari hongkong, baru bener tuh. Typo: Emang situ tau typo itu yang mana? Wkwkwk… EYD: Hm… nie cerita belum ta edit ulang… langsung bablas ta Update bun-bun… Triple 'R': Hehehe… tu kan waktu belum kenal sama ka Aries… Ubun-ubun… Mesum: Bunda ku Hentaiii!

Misyel: Oke deh! Mi-chan lanjutin ya! Keep Ngebaca! (?)

Naru3: Halo juga kouhai! Ya memang si Naru mesum… wkwkwk…! Ya iyalah orang yang jdi Author suka baca rated M! Hahaha… Keep read Naru3

Ren-Mi3 NoVanta: Halo juga Ren! Makasih udha nyempetin ngereview fic saya yang kelewat aneh ini! Wkwkwk… memang benar Sasu patut kita kasihani… Iya dong! Ita Dei tu kan duo pengganggu! Hahaha… djujur, saya juga penasaran sma lanjutannya nih fic.. Hmm (readers: Lu Author nya dodol! Bukan readers!) Hehe… nie sudah apdet! Maaf lama ya! Jaa~~

Fujo Suka Nyasar: Khu… khu… khu… Enggak koq! Ya walaupun nanti nanti ada slight Angst nya sih,, tapi Mi-chan akan terus berusaha untuk nyelipin humor… Hehe… maaf nie sya udha apdet (readers: Tapi kelamaan!) Keep read yo!

Yuna Claire Vessalius Kusanagi: Ahahaha…! (readers: ngikut-ngikut orang aja lu!) Makasih! Mudahan di chap ini bakal buat Jack seneng ya! Makasih banyak Jack Vessalius!

Anata Kiyoshi: Hahaha… gag papa.. kadang-kadang sya juga suka begitu koq! Salah baca! Rambutnya Jeng Konan itu warna Ungu gelap klo gag salah sih… Bukan Kii-chan! Yang latah itu Itachi! Eh, maaf… saya Cuma asal nyaplos pke Are… pas udha ngapdet bru ingat klo seharusnya itu pke Do bukan Are… Maafka saya! Gomene! Terus baca ya fic sya yang amburadul ini…

Nah, selesai lah sudah Mi-chan dalam acara ngebales review-an readers sekalian…

Bagi yang belum review,, review ya! Jangan lupa! Ketik(pen name) spasi (review-an readers) kirim ke fic saya!

Ahehehe… maaf ya klo fic kli agak membosankan atau apa…

Makasih banyak yang udha review and read this fic!

I Love You Readers!

R

E

F

I

E

W