Yap! Konichiwa minna-san!
Apa update chap ini seseuai dengan berita baiknya?
Ya smoga aja pas ya… Hehehe…
Okey, gag usah basa-basi lagi! Kita langsung ke perkenalan tokoh!
PENGENALAN TOKOH!
Uchiha Sasuke: Cowok cakep *Sasu bernarsis" ria* kulitnya putih pucaaaat! Rambutnya model emo dongker, jungkir balik melawan arah gravitasi, a.k.a pantat ayam kampung ato gag ayam ras *tendanged!* Sifatnya dingin, sok cool padahal sebenarnya tu orang latah *Buagh!*kagak becanda! Belagu, etc. suka sama pemeran utama cewek. Namikaze Naruto. Rela ngelakuin apa aja, termasuk makan es krim satu pabrik, walau dengan berat hati dan akhirnya berkutat juga dengan closet dan bak sampah. Suka buah tomat, gag suka makanan yang berbau manis sekale, kecuali itu makanan buatan tangan si Dobe tercinta. Suka warna biru navy ato nggak item.
Namikaze Naruto: Cewek cakep. Orangnya manis, cute, cantik. Suka yang berbau sederhana. Suka sekali dengan makanan yang bernama ramen juga *of course* Rambutnya pirang keemasan, panjangnya sepinggang, lurus, karna gag belok-belok akhirnya nyemplung ke got *Bunuhed!* Suka warna biru muda, orange gelap dan kuning emas. Gag mau ngelakuin apa aja buat si Teme, karna menurutnya, hanya merepotkan dirinya sendiri *Sasu pundung di pojokan* Pernah sakit hati gara" ngeliat pacarnya nyumbu orang lain. Bingung milih shapa entar antara mereka bertiga (Sasuke, Gaara dan Sasori) Karna tu orang LOLA, makanya sering di panggil Usuratonkachi, ato gag yang biasa baka, ato yang paling sering dobe.
Sabaku no Gaara: Termasuk nominasi favorit anime cowok author, setelah Sasuke sama Ciel Phantomhive. Orangnya pendiem, tapi sifatnya berubah kalo berdua-an sama pacar, jadi tukang ngegombal *jitaked!* Rambutnya merah marun, enggak jungkir balik kaya siTemePantatAyam yang dia atas *Gaara nyanyi I'm a Champion* *Sasu siap ama katananya* Trus suka sama Pemeran utama cewek. Malahan cinta setengah mati *mulai dah ngegombal* suka warna…? *lupa apa warna kesukaan Gaara* *Gaara pundung di pojokan*
Akasuna no Sasori: Murid pindahan dari Oto *critanya* yang baru aja dateng langsung bikin Sasuke mengelurakan deatglare nya. Suka sama Naru-chan. Author aja gag thu kenapa tu orang suka sama Naruto *gubrak!* Dann jangan lupa, dia gag kalah cakep ama dua orang cowok sebelumnya yang udha kita bahas. Yang Alhamdulillah, rambutnya juga gag kaya Sasu pantat ayam ras *udha di putusin* ama Sebas(mesum) yang raven.
Haruno Sakura: Mantan pacar Sasuke. Yang sampe mereka (Naru ama Sasu) nikah pun masih cinta juga (jangan pernah mikir kalo Naru bakal selamat dari penyakitnya). Gag dapet pasangan *Author ngakak bahagia* HIDUP SASUNARU! HIDUP SASUFEMNARU! Warna kesukaan nya pink. Lanjutannya meneketehe *duagh!* Sahabat Naruto.
Yang lainnya menyesuaikan ya! ^_^V
Naruto©Masashi Kishimamolto Iklannya sabun cuci molto!
(readers: gubrak!)
Rated; T
SasufemNaru, GaafemNaru, SasofemNaru (gag pernah ada neh!) ItafemDei de el el…
Romance, Hurt/Comfort, Humor
Warneng!
OOC, OC, ABAL, GAJE, Typo, EYD, dll…
FEMNARU!
BEWARE!
(lupa matiin capslock)
Perhatian-perhatian!
Ditujukan pada para readers!
Baca ini baik-baik!
SIAPA YANG MEMBACA FIC MI-CHAN YANG DI BAWAH INI, HARUS NGE-REVIEW!
KALO MAU FIC INI LANJUT!
REVIEW PLEASEEEEEE…!
DON'T LIKE DON'T READ!
TEKAN BACK BILA ANDA MERASA ANEH ATAU JIJIK DENGAN FIC SAYA INI!
BAGI PARA FUJOSHI MAAFKAN SAYA!
OKEY!
LET'S BEGIN THIS FIC!
HERE YOU AREEE…!
She's Make Me Crazy!
Normal's PoV
"SIAPKAN ALAT PENGEJUT!"
Satu teriakan itu membuat semua orang yang ada di ruang tunggu ICU terkejut. Tangis Deidara semakin kencang dipelukan Itachi. Gaara yang sudah merasakan firasat itu beberapa saat yang lalu, hanya bisa berdoa, semoga semua itu hanya bersifat sementara. Dan gadisnya masih tetap hidup.
Sakura mulai menangis di pundak Ino, yang bergetar, karna menahan tangis. Sedangkan Sasori masih mengatupkan kedua telapak tangannya, berdoa.
Sasuke? Pemuda itu terdiam lama. Tak tau ekspresi apa yang harus ia tunjukkan. Karna, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Kesalkah? Marahkah? Atau Sedih?
"Kumohon… Tuhan… jangan ambil dia dariku… kumohon…" bisik Sasuke pelan. Matanya tertutup rapat. Enggan membuka kelopak matanya. Takut, saat ia membuka mata, gadisnya, sudah terbaring kaku dihadapannya. Ia ingin sebuah kepastian.
"Narutooo…! Jangan tinggalkan Nee-chan sendirian di sini…" isak Deidara sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan wanita itu.
"Hiks… Naruto… hiks… maafkan aku… aku janji akan menjadi teman yang baik… aku janji tidak akan memarahi mu lagi, saat kau meminjam jawaban PR ku…" isak Sakura, didalam dekapan Ino yang juga menangis. Berbeda dengan yang lainnya, Ino sepertinya tidak menggumam hal apapun. Ia hanya diam menangis.
~777~
Naruto's PoV
"Ukh…"
Ku kerjapkan mataku berkali-kali. Mencoba membiasakan mataku dengan cahaya yang ada. Sampai aku bisa melihat keadaan didepanku dengan benar.
"I-ini dimana? Aku ada dimana?"
Hamparan rerumputan hijau segera menyambut penglihatan ku. Ku edarkan pandanganku ke segala arah, dan mendapati ada sebuah kursi taman di bawah sebuah pohon rindang yang lumayan teduh.
"Aniki! Aniki! Lihat! Aku bawa sesuatu untuk Aniki!"
Segera ku tolehkan kepalaku dengan cepat ke sumber suara.
"?"
I miss you, miss you so bad
I don't forget you, oh it's so sad
I hope you can hear me
I remember it clearly
"Hah? Ada apa, Naruto?"
"Ini! Aku membawakan capung untukmu!"
"Gaaah…! Kau mengganggu pemandangaku saja, baka imouto!"
"Huh! Nee-chan yang mengganggu pemandanganku! Dan aku tidak bodoh! Dasar kuso!"
"Cih! Tentu saja kau bodoh! Lihat! Jelas-jelas yang kau tangkap itu kupu-kupu, bodoh! Bukan capung!"
"A-a-aniki? Nee-chan?"
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
Ooooh
"(blush) Aaaah…! Nee-chan, bodoh! Kuso!"
"Sudah-sudah… kalian ini bertengkar terus. Apa kalian tidak bosan, hah? Aku saja bosan melihatnya."
"Uuuh… Tapi kan bukan aku yang memulainya, Aniki! Si nenek lampir ini yang memulainya! Jadi aku tidak salah!"
"Che! Jadi, kau menyalahkan ku, hah?"
"Memang aku mau menyalahkan siapa lagi? Jelas-jelas kau yang memulainya, baka nee-chan!"
"Haaah… kenapa aku bisa punya adik bodoh seperti kalian? Mendokusei…"
"Jangan tanya kami! Tanya sana, dengan Kaa-san dan Tou-san!"
"Hahaha…! Dasar…!"
I didn't get around to kiss you
Goodbye on the hand
I wish that I could see you again
I know that I can't
Tanpa ku sadari setetes air mata turun dari kedua kelopak mataku. Aku merindukan Aniki… tidak… aku sangat merindukannya… dan aku juga merindukan saat-saat kami bersama.
"Kyuubi! Deidara! Naruto! Kalian sedang apa di sana? Cepat kemari! Sudah waktunya makan siang!"
'Su-suara ini? Ka-kaa-san? Ini suara Kaa-san?'
Aku menoleh.
Oooooh
I hope you can hear me
cause I remember it clearly
"Kaa-san?"
Nampak seorang wanita cantik, berambut merah panjang, tengah berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya. Itu Ibuku! Dan di sebelahnya… itu… apa itu… Tou-san? Ada apa sebenarnya? Kenapa ada mereka di mimpiku? Apa yang terjadi? Bukannya aku sudah mati? Eh, memangnya kalau mati, masih bisa bermimpi? Dan… seharusnya sekarang sudah berada di akhirat dengan Kaa-san dan Tou-san,juga Aniki! Kenapa malah ada di sini? Apa aku terjebak? Kalau begitu, tadi aku terjebak apa? Masa batu? Eh, kalau batu itu berarti kesandung, bodoh! Bukan terjebak! Arrrggghh…! Aku bingung!
Kembali ku pusatkan perhatiaku pada Kaa-san dan Tou-san yang berada tak jauh dari tempat ku berada. Saat aku berpaling ke arah mereka, tiba-tiba saja tempat itu berubah. Dari taman menjadi sebuah pemakaman. Aku ingat saat-saat ini. Ini saat pemakaman Kaa-san dan Tou-san beberapa tahun yang lalu. Tidak. Aku tidak mau melihatnya.
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
Ooooh
"Hiks… hiks… hiks… Kaa-san… Tou-san… kenapa kalian meninggalkan Naru sendirian? Naru takut…"
"Hentikan! Sudah cukup! Aku tidak mau melihatnya!"
I had my wake up
Won't you wake up
I keep asking why
And I can't take it
It wasn't fake it
It happened,and you passed by
"Naru jangan takut… di sini kan masih ada Aniki dan Nee-chan mu… jadi kau tak perlu takut Imouto-chan…"
"Kumohon! Hentikan!"
Ku pejamkan mataku erat. Menahan segala tetesan air mata yang kalau di biarkan bisa merembes keluar. Kumohon… hentikan semua ini…
Tiiin… tiiin…
Secepat kilat ku buka kelopak mataku. Dan lagi-lagi aku melihat hal yang seharusnya aku lupakan.
"Aniki Awaaaaas …!"
"Cukuuup… kumohon… Tuhan…" Ku pejamkan mataku lagi. Kali ini lebih erat.
Ckiiiiittt… Bruagh!
"Anikiii…! Tidaaaaak…!"
Now your gone, now your gone
There you go, there you go
Somewhere I can't bring you back
Now your gone, now your gone
There you go, there you go,
Somewhere your not coming back
"Aku tidak mau mendengarnya…" Kurasakan setetes air mata merembes keluar dari tempatnya.
"Maaf Imouto-chan, a-aku t-tidak bisa menepati janjiku padamu… Uhuk… Tapi, k-kau juga tidak boleh seperti kakakmu yang mengingkari janjinya. Kau harus menepati semua janjimu. Ingat itu…"
"Aniki… jangan… tinggalkan aku… Hiks…"
"Aniki, Aniki! Aniki jangan berkata seperti itu! Aniki masih bisa hidup!"
"Aniki… kumohon… cukup… kau menyakitiku…"
"Sudahlah, selamat tinggal… Imouto… ku…"
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same noo..
They say you slipped away
Was the day that found it won't be the same oooh...
"KUMOHON, SUDAH HENTIKAN SEMUA INI, ANIKI!"
Nah nah, nah nah nah, nah nah
I miss you
Brugh…
"Cukup… cukup… Aniki…"
Aku jatuh terduduk di jalanan aspal yang mulai tergenang darah. Darah Aniki. Sudah… cukup… aku tak bisa terus bertahan kalau kau selalu memutar kenangan ini… cukup…
"Kenapa kau menangis, Imouto? Bukankah dulu aku sering bilang? Jangan menangis, kalau aku meninggalkan mu lebih dulu. Aku tak suka, bodoh! Kau malah membuatku gelisah disana!"
'Aku pasti bermimpi… Tak mungkin ini benar-benar suara Aniki…'
"Buka matamu, dan lihat aku, baka Imouto! Aku ini asli! Woi!"
Perlahan ku buka kedua mataku yang mulai sembab, karna habis menangis. Ku dongakkan kepalaku perlahan. Awalnya aku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Tapi ini seperti kenyataan. Aku tak bisa menolak semua ini. Seperti takdir.
"Lihat! Mata sapphire mu sembab lagi! Bodoh! Jangan menangis! Sekarang aku ada di sini untukmu!"
"Aniki?" panggil ku pelan, dengan suara serak.
"Hn. Apa?"
"Ini benar-benar, Aniki?" tanya ku yang masih tidak bisa mempercayai apa yang ku lihat sekarang. Tuhan…
"Tentu saja ini aku, baka! Apa kau sekarang buta, sehingga kau tak bisa melihatku yang seterang ini, hah?" nada bicara nya saat ini tak jauh berbeda dengan yang dulu. Sinis… dingin… tapi perhatian…
"Apa kau benar-benar, Aniki?" tanya ku lagi. sekarang ku lihat ia mengacak-acak rambutnya frustasi mendengar kalimat pertanyaan dariku.
"Baka Imouto! Kau ini membuatku, kesal saja! Aku ini kakak mu, bodoh! Namikaze Kyuubi! Hoi! Apa kau sudah lupa dengan wajahku, hah? Tega sekali kau!"
Ku kerjapkan mataku berulang kali. Ku amati sosok pemuda berambut merah, yang merahnya sama persis seperti warna rambut, ibuku. Tapi yang ini ada sedikit berbau orange gelap.
Satu pertanyaanku. Sejak kapan Aniki suka memakai baju warna putih? Waow! Mukjizat! Seingatku… Aniki itu paling anti dengan yang namanya warna putih… kecuali untuk kemeja sekolah dan kemeja jas… sisanya…warna-warna gelap.
"Aha! Kau pasti bukan kakakku! Aniki itu tidak suka baju warna putih! Dan… Hei! Apa-apaan pita putih di rambut mu itu? Kau pasti bukan Aniki ku!" ungkap ku yang mengundang dua kedutan kesal di keningnya.
Duakh!
Alhasil… aku sekarang punya dua es krim besar di kepalaku. Dan sekarang aku yakin, dia ini Aniki ku… soalnya… tak ada manusia selain dirinya yang bisa membuat dua benjolan es krim di kepalaku, termasuk Dei-nee yang juga sering menjitakku.
"MATAMU ITU KENAPA, SIH? KECIL-KECIL KOK UDAH RABUN! GIMANA KALO UDAH TUA, HAH?"
Uwouw! Hebat! Ini baru suara Aniki ku! (readers: *sweatdroped*)
"Wuiiih… jadi ini benar Aniki? Hebat! Jadi selama di surga kau mulai menyukai warna putih, ya? Ckckck… baguslah kalau begitu… kalau kau selalu memakai warna gelap, lama-lama mataku rabun juga terus-terusan melihat kau seperti itu!"
Twitch!
"Baka Imouto… aku memakai pakaian ini karna di paksa oleh Kaa-san dan Tou-san, yang matanya mulai bermasalah, karna terus-terusan melihatku memakai warna gelap."
"Eh? Kaa-san dan Tou-san?"
"Hn… sekarang mereka tak bisa ikut denganku… karna mereka ada urusan dengan Malaikat pencabut nyawa…"
Aku tersentak kaget. "Ma-ma-malaikat pencabut nyawa? Kenapa?"
Aniki mulai menatap ku serius.
"Itu karna permintaan bodohmu. Mereka jadi berurusan dengan malaikat mengerikan itu. Lagipula kenapa kau meminta untuk mati, hah? Memangnya kau kira mati itu enak? Sakit tau!"
"Me-mereka berurusan dengan malaikat pencabut nyawa gara-gara aku?" tanya ku tidak percaya.
"Hn… kau belum mejawab pertanyaanku, bodoh! Aku tanya kenapa kau malah ingin mati, hah? Kalau kau mati, kasihan kan si Deidara itu sendirian di dunia!"
Aku tertunduk lesu. Bodohnya aku… Kaa-san dan Tou-san jadi berurusan dengan malaikat kematian itu, gara-gara aku… dan bodohnya aku lagi… aku tidak memikirkan nasib Dei-nee nanti, setelah aku mati… dia pasti sangat terpukul..
"Aku tau perasaan mu Naruto… tapi kau tidak bisa memutuskan kematian itu dengan mudah… kau harus memikirkan nasib semua orang yang kau tinggalkan… Kau tau… aku dan Tou-san bersusah payah menghentikan si Kankurou itu, agar tidak mencabut nyawa mu… sebenarnya dia tau kalau belum saatnya kau mati… tapi karna kau yang selalu meminta untuk mati, maka di memutuskan untuk mencabut nyawa mu saja…" jelas Aniki sambil bersedekap. Matanya seolah menginterograsi ku. Lagi-lagi aku tertunduk. Setetes demi setetes air mata turun lagi dari kedua kelopak mataku. Maafkan aku, Tou-san… Kaa-san… Aniki…
"Maaf… maafkan aku… hiks… aku tidak bermaksud untuk merepotkan kalian… hiks… aku hanya ingin terbebas dari penyakit sialan ini… hiks… dan aku tidak mau lagi berbohong pada teman-temanku… hiks… sudah cukup aku berbohong pada mereka… hiks… aku tak mau merepotkan mereka, Aniki… hiks… tidak mau…"
"B-bodoh! Jangan menangis lagi! Aku kan tadi sudah bilang! Kau itu tak cocok untuk menangis!" bentak Aniki yang sedetik kemudian memelukku. Bodoh! Kalau kau memperlakukan seperti ini, aku malah makin menangis! Tapi saat ini aku memang sangat membutuhkan sebuah pelukan… ya… aku sangat membutuhkannya Aniki…
"Huwaaaa…! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk merepotkan kalian! Justru aku ingin kalian bahagia di sana! Tapi ternyata tindakan ku malah membuat kalian kerepotan! Maafkan aku!"
Ku rasakan Aniki tersenyum.
"Sudahlah… kau tak perlu meminta maaf sampai seperti itu… kami hanya ingin yang terbaik untukmu…lagipula perjalanan kehidupan mu masih panjang… tidak seperti aku, Kaa-san dan Tou-san… Kau seharusnya bersyukur masih di beri kesempatan hidup… bukan meminta untuk mati! Dasar! Haaah… kau ini ada-ada saja!"
Perlahan ku dongakkan wajahku ke atas. Menatap wajahnya yang sama sekali tidak berubah sejak kematian nya. Guratan-guratan tegas dan kasih ayangnya masih terlihat jelas di wajahnya. Dia benar… tak seharusnya aku meratap seperti ini. Aku harus maju dan mengalahkan penyakit ini, dan mengubah takdir yang mengatakan aku akan mati! Umur ku masih panjang! Yeah! Aku harus berjuang!
"Kau benar Aniki!" seru seraya melepas pelukannya. Kyuubi tersenyum senang, dan ku balas senyuman itu dengan senyuman manisku.
"Apanya yang benar, hah?" aku mengembungkan pipiku kesal.
"Tentu saja perkataanmu! Memangnya apa lagi?" Aniki terkekeh pelan.
"Hahaha…! Baguslah kalau kau mengerti maksudku!" ucapnya. Aku kembali tersenyum.
"Kalau begini kan, tugasku selesai…" gumamnya, ku naikkan sebelah alisku. Bingung. Tentu saja.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung. Ia hanya tersenyum.
"Aku menemuimu, hanya ingin menyampaikan bahwa kau jangan menyerah dulu… dan sekarang aku sudah menyampaikannya padamu kan? Berarti tugasku sudah selesai!" jawabnya. Aku tersentak kaget.
"Tapi, aku masih ingin bersama mu di sini! Aku ingin bersama aniki lebih lama lagi! Kau pasti mengerti kan! Aku merindukan, Aniki!" seru ku tak terima. Lagi-lagi ia tersenyum.
"Itu tidak bisa, bodoh! Ini persimpangan antara alam nyata dan alam gaib! Kita sekarang ada di sana! Kau ada di persimpangan itu!" serunya lagi tak kalah keras. Membuatku harus menutup telinga kalau aku tak mau tuli dini.
"Jadi, kita sekarang ada di persimpangan itu?" tanya ku, Kyuubi mengangguk pasti.
"Hn… sebaiknya kau cepat pergi dari sini, sebelum waktu mu habis!"
Dahiku berkerut bingung. Ya ku akui, aku memang LOLA.
"Waktu? Waktu apa?" tanyaku.
Aniki menghela nafas seraya memutar bola matanya.
"Waktu kita ini terbatas… jadi aku hanya di beri waktu sebentar untuk berbicara denganmu!" jawabnya agak kesal.
"Lalu, bagaimana cara untuk keluar dari sini?"
"Kau lihat lubang putih yang ada di sana?" tanya nya sambil menunjuk ke arah sebuah lubang yang ukurannya menurutku sangat kecil. Gila! Jadi aku harus masuk ke lobang kelinci itu? Hei! Badanku ini sudah besar tau! Bukan bayi!
"Kau sudah gila ya, Aniki? Menyuruhku untk masuk ke sana? Takkan muat!" bentakku.
"Itu tidak sekecil menurutmu! Kau berjalan saja ke sana! Dan lubang itu akan membesar! Sebaiknya cepat! Waktumu sudah tak banyak lagi! Kalau kau tak segera, kau akn terjebak di sini untuk selamanya! Bukan di dunia ataupun akhirat! Apa kau mau seperti itu, hah?" bentaknya terburu-buru. Ku lihat keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.
"Aniki…" panggilku pelan.
"Hm? Ap-(!)"
Brugh!
Ku peluk erat tubuh kakak ku ini. Aku begitu merindukannya. Wangi tubuhnya masih sama seperti dulu. Seolah-olah kami hanya berpisah selama 2 hari, tak lebih dari itu. Ini seperti kejadian kemarin sore.
Ku rasakan tangan Aniki membalas pelukanku. Bahkan pelukannya lebih erat dari pelukanku.
"Aku akan sangat merindukan mu, baka Imouto… jaga dirimu baik-baik… ingat… jangan berpikiran untuk mati lagi… dan sampaikan salam ku untuk Deidara dan tunangannya itu… katakan padanya kami di sini sangat merindukan kalian…" pesan Aniki lirih. Aku benar-benar tak ingin berpisah darinya!
"Hiks… aku juga akan merindukan kalian… dan akan ku sampaikan pesan kalian pada Dei-nee… dia pasti sangat senang!" sahutku sambil melesakkan wajahku ke dadanya yang bidang.
Perlahan tapi pasti. Pelukannya mulai mengendur, dan terlepas. Ku tatap wajahnya sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya, sampai aku mati, dan bertemu lagi dengannya.
"Ingat pesanku tadi, Imouto!" bentaknya. Aku mengangguk pasti.
"Tentu saja! Kalau begitu aku pergi dulu, Aniki! Jangan lupakan aku!" seru ku sambil berlari meninggalkannya menuju tempat yang ia tunjukkan tadi.
Sempat ku lirik Aniki di belakang. Tangannya melambai lesu, wajahnya terlihat sendu. Aku akui, aku sangat berat untuk meninggalkannya. Tapi aku tak bisa terus-terusan bersikap egois seperti ini! Aku harus memikirkan perasaan yang lainnya kalau aku meninggalkan mereka!
Aku berhenti berlari saat sampai di depan lubang putih yang di maksudkan kakak ku tadi. Secepat kilat aku menoleh ke belakang. Ia masih setia melambaikan tangannya.
Aku tersenyum dan balas melambai.
"AKU MENCINTAI KALIAN! SAMPAI JUMPA!" teriakku.
Aku kembali menatap ke depan. Menarik nafas, dan perlahan tubuhku maju sendiri, tanpa ku perintah sedikitpun. Maju… perlahan… dan semuanya berwarna putih…
"Aku juga sangat mencintaimu, baka Imouto… sampai jumpa… di lain waktu…"
~777~
Sasuke's PoV
Entah ini sudah yang ke berapa kalinya aku menghela nafas. Kenapa jadi selama ini? Tuhan… semoga dia tidak apa-apa… sungguh, aku sangat mengkhawatirkannya.
Ceklek…
Secepat kilat aku bangkkit dari posisi ku yang sekarang. Ku lihat dokter yang menangani Naruto keluar… sepertinya…
"Bagaimana keadaan Naruto, dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Gaara yang sudah tau sosok dokter yang menangani Naruto seperti apa. Dokter itu menunduk. Sontak saja aku dan yang lainnya tersentak kaget karna tingkah Dokter ini.
"Dok? Ada apa dengan Naruto? Apa… dia kambuh lagi?" tanya Deidara yang sudah melepas pelukan kakakku dan menghampiri dokter yang sekarang berdiri tak jauh dari tempat ku berdiri.
Dokter itu mengangkat wajahnya dan menatap Deidara serius.
"Kita harus bicara, Namikaze-san… ada yang ingin saya tanyakan pada anda…" ucapnya. Deidara tersentak, kemudian mengikuti langkah Dokter yang mulai mejauh dari kerumunan kami.
"Hei, dok!" panggilku. Dokter itu berbalik.
"Bagaimana keadaanya? Apa dia sudah baikan?" tanyaku dengan suara lirih. Dokter itu tersenyum.
"Dia baik-baik saja, setelah melewati malaikat kematiannya… Yah, kami akui kami kesulitan saat itu… tapi hebatnya dia berhasil melewati lingkaran kematian itu…" ucap Dokter itu tenang. Aku dan yang lainnya tersentak sekali lagi. Ku tatap dokter itu dengan pandangan tidak percaya.
"Sekarang dia sudah boleh di jenguk. Tapi ingat… bergantian… karna pasien butuh istirahat yang cukup." Peringat Dokter itu yang segera ku jawab dengan anggukan pasti.
"Hn,"
Dokter itu tersenyum lagi, dan kemudian melanjutkan langkahnya dan Deidara entah kemana. Aku tak perduli! Yang penting sekarang menjenguk si Baka Dobe ini. Apa yang ia lakukan sampai seperti itu? Haaah… ada-ada saja…
"Siapa yang ingin menjenguknya sekarang?" tanyaku setelah sebelumnya menatap semua mata yang tertuju padaku.
"A-aku belum siap…" gumam Sakura yang di susul oleh anggukan pelan dari Ino.
"Kenapa?" tanya Gaara.
"Dia itu sahabatku Nii-san… aku tak sanggup melihatnya kalau dalam keadaan seperti ini… yang ada malah aku yang masuk UGD, gara-gara pingsan, karna tak sanggup…" jawab gadis itu. Hm… masuk akal juga sih…
"Siapa lagi?" tanyaku.
"Aku harus menunggu Dei-chan di sini."
"Kalau begitu aku saja…" sahut Gaara yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Aku mengangguk dan mempersilahkan nya masuk pertama.
~777~
Gaara's PoV
"Kalau begitu aku saja…" sahutku tiba-tiba seraya berdiri dari tempat dudukku. Ku lihat Sasuke mengangguk dan mempersilahkan ku masuk duluan.
Perlahan ku buka pintu ruangan ICU setelah sebelumnya memakai sebuah pakaian yang lebih mirip di bilang celemek atau apalah! Aku tak tau namanya apa! Yang penting masuk dan bertemu dengan gadis pujaanku.
"Naruto?" panggilku pelan. Ya aku bodoh, jelas-jelas gadis itu masih terbaring tidur di ranjangnya. Dan aku memanggilnya seperti itu. Bodohnya… lagipula aku tak tau lagi apa yang harus ku ucapkan ketika masuk. Masa "Yo, Naruto!" atau "Cewek~!" sudah kupastikan aku pasti sudah gila kalau berlaku seperti itu.
"Aku tadi sangat mengkhawatirkan mu tahu… kenapa tiba-tiba kau pingsan seperti itu? Kau membuatku hampir mati terkena serangan jantungan tau!" bentakku pelan, seraya duduk di kursi di sebelah tempat tidurnya.
"…"
Hening…
Jujur aku sangat merindukan suara cerianya. Ku tatap wajahnya yang terlihat bercahaya. Bibirnya terkatup rapat. Matanya terpejam penuh ketenangan. Seperti… mayat…
Tidak, tidak! Aku ini mikir apa, sih? Aku tak boleh berpikiran seperti itu! Dia harus tetap hidup! Dia belahan jiwaku!
Perlahan aku sibakkan poni pirangnya yang menutupi sebagian matanya, ke samping.
"Kau tau, Naruto… aku sangat mencintaimu…" gumamku pelan. Hampir seperti bisikan. Sedetik kemudian ku kecup bibirnya lembut. Mempertahankan posisi ini agak lama. Dan kemudian melepasnya.
"Kau cinta ku… matahariku… musim panasku… kumohon bertahanlah dan perlihatkan senyuman manismu sekali lagi untukku…"
Sekali lagi ku kecup keningnya. Kali ini penuh perasaan. Tanpa ku sadari setetes air mata yang jarang ku keluarkan, keluar dari kedua bola mata emerald ku.
"Maafkan aku, Naruto… aku memang belum tau apa salahku… tapi kumohon maafkan aku, jika aku bersalah padamu…" bisik ku di telinganya lembut.
Setelah membisikkan sesuatu ke telinganya. Aku segera berdiri dan perlahan menjauh dari sisinya. Berjalan pelan menuju pintu ku masuk tadi. Tapi sebelum itu, aku berbalik kebelakang. Menatap tubuh langsing gadis ku yang tengah terbaring lemah.
"Aku sangat mencintaimu… Naruto…"
~777~
Normal's PoV
"Sudah selesai?" tanya Sasuke, begitu melihat Gaara yang baru keluar dari ruang ICU, tempat dimana sekarang Malaikat pirangnya terbaring lemah.
"Hn," jawab Gaara sekenanya. Pemuda itu, begitu keluar langsung pergi entah kemana. Matanya terlihat sembab, sehabis menangis mungkin.
"Siapa berikutnya?" tanya Sasuke seraya menatap semua orang yang ada di sekelilingnya.
"Aku," sahut Sasori tiba-tiba. Di tatapnya sebentar wajah Sasori, kemudian mengangguk kecil, tanda ia mempersilahkan Sasori untuk menjenguk malaikat pirang nya yang kedua.
~777~
Sasori's PoV
Perlahan ku putar knop pintu yang menghubungkan ruangan utama dengan kamar inap Naruto sekarang.
Begitu masuk, ku lihat kini seorang gadis seumuran denganku, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit yang beralaskan kain sprei berwarna putih.
Ku tarik kursi yang berada di dekat ranjangnya, lalu menyamankan posisi dudukku hingga menurutku nyaman.
Ku pandangi wajahnya yang terlihat… err… cerah? Ya… wajahnya terlihat cerah dan senyum tipis terukir di wajah tan-nya.
"Aku memang belum mengenalmu sepenuhnya, seperti Sasuke dan Gaara…" gumamku, tanpa sadar ku genggam tangan mungilnya yang berada dekat dengan tanganku.
"Dan aku juga belum tau… perasaan apa sebenarnya yang kurasakan saat bersamamu..." lanjutku. "Perasaan cinta kah… atau sekedar kekaguman… yang pasti aku merasakan hal yang berbeda, Naruto…"
"Mungkin kau bingung dengan tindakan ku sekarang… yang dengan mudahnya menjenguk seseorang yang baru ku kenal… menyatakan perasaan di depan umum dengan seenaknya… Hahaha… ya begitulah aku sebelum pindah ke kota ini… blak-blak kan dan terlalu jujur…"
"Entah kau suka padaku sebagai teman atau apalah... yang pasti aku akan selalu ada untukmu… di saat kapanpun kau membutuhkanku… Princess…"
"Kaulah Malaikat terindah yang pernah kutemui…"
Cup…
Ku kecup keningnya pelan. Menatap sekali lagi wajahnya sebelum beranjak dari kamar bernuansa putih ini…
End of Sasoris PoV
~777~
Krieeet…
Nampaklah Sasori yang baru saja keluar dari kamar dimana gadis pujaan hati mereka tengah terbaring damai (readers: Hiks… kaya mau mati…)
"Giliran mu, Sasuke…" gumam Sasori sambil lalu. Pemuda itu langsung ngeloyor pergi, begitu keluar dari kamar gadisnya. Entah apa yang merasuki mereka, sehingga setiap wajah yang baru keluar dari kamar itu, berwarna suram.
"Hn," gumam Sasuke pelan, beberapa detik kemudian pemuda itu beranjak dari tempatnya duduk selama itu.
~777~
Sasuke's PoV
"Kau pengkhianat, Dobe…"
Ku remas perlahan telapak tangannya yang terasa dingin. Entah itu akibat dari suhu ruangan yang memang dingin, atau… Arrgghh! Aku tak mau memikirkan hal yang tidak seharusnya terjadi.
"Kau… pernah berjanji padaku, bukan?" tanyaku lirih. "Kau berjanji padaku… dan Gaara… bahwa kau takkan pernah merahasiakan sesuatu dari kami berdua… dan lihat kenyataannya… kau berbohong Naruto…"
"…"
Tak ada jawaban. Deru nafasnya yang mulai teratur, terdengar dari tempatku duduk. Disebelahnya.
Suara mesin pendeteksi detak jantung terus berirama seiring detak jantungnya berdetak.
Ku tatap penuh harapan wajahnya yang terlihat lebih bahagia… ku pandangi kelopak matanya yang tak kunjung terbuka, berharap kelopak itu akan terbuka, dan memperlihatkan kilau sapphire yang selama ini selalu ku puja.
"Kumohon Naruto… bangun dan katakan padaku bahwa ini semua hanyalah sebuah leluconmu yang sama sekali tidak lucu…" gumam ku berusaha meyakinkan diriku. Kalau apa yang ku lihat sekarang ini hanyalah leluconnya yang sama sekali tidak lucu. Tapi Tuhan berkata lain… ini kenyataan…
Ku benamkan seluruh wajahku di telapak tangannya. Menutupi kedua mata ku yang mulai mengalirkan dua sungai kecil yang terus mengalir tanpa henti.
"Ahaha… bodoh… kenapa aku malah menangis seperti ini? Cih, aku tidak mau terlihat lemah di hadapanmu, Dobe. Meskipun, kini matamu tertutup rapat…"
Aku sama sekali tak mengharapkan air mata ini keluar. Ck, apa jadinya kalau dia bangun dan melihat ku dalam keadaan mata yang sembab sehabis menangis? Memalukan.
"Kalau kau bangun… jangan tertawa saat kau melihat aku menangis. Ini semua gara-gara kau, bodoh!" bisikku seraya mencium beberapa kali telapak tangannya yang terasa dingin.
"Hiks… bodoh! Kau bodoh, Dobe!" bentakku pelan. "Cih, sberapa kalipun aku mengatai mu bodoh… kau takkan bangun… untuk sementara ini… aku tau itu…"
Hening menyambut kami berdua. Isakan tangisku yang seperti anak ditinggal ibunya yang pergi entah kemana, dan ditinggalkan oleh seorang ayah yang sama sekali tidak bisa mengurus anak.
Ya, aku tau ini bukanlah saat yang tepat untuk membuat sebuah lelucon. Aku akui itu. Aku Cuma ingin mempercair susana yang seperti es kutub Utara. Itu pun menurutku.
"Haaah… entah apa lagi yang harus ku katakan padamu, Dobe… sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu… tapi sepertinya tidak untuk saat ini…"
Kutatap lagi wajahnya yang lebih indah dari artis manapun. Wajahnya yang secantik malaikat, menurutku. Mata biru seindah lautan dan senyuman manis yang lebih manis dari manisan manapun. Yang walaupun aku sama sekali tidak suka manisan.
"Sepertinya urusan ku di sini sudah selesai, Dobe. Sampai jumpa, semoga kau cepat siuman…"
Perlahan aku beranjak dari tempatku duduk sedari tadi. Ku dekati wajahnya, dan ku kecup keningnya, yang sedikit tertutupi oleh poni pirangnya.
Aku berbalik mengahadap pintu keluar yang sudah terlihat oleh mataku. Dengan enggan, ku putar knop pintu yang terasa berat itu.
"Sasuke…"
Deg…!
*TBC*
Author's Note:
Jiah! Pendek amat nie cerita! #geleng-geleng
Sengaja di perpendek, karna ini salah satu request dari readers ku yang juga sahabat ku!
Katanya nie anak, fic Mi-chan panjang banget! Ya eyalah! Wong word nya aja lebih dari 10.000! Sama halamannya aja lebih dari 30 halaman!
Hm… Mi-chan gag tau readers bakal suka ato enggak chap menyedihkan yang satu ini…
Oh ya! Beneran dah, suer! Mi-chan udah berusaha bikin humor! Gag tau deh ntar readers, gimana reaksinya?
Yap! jadi langsung aja ke reviewers paling bawah! Daaaan…~~! Ini diaaaa…! #readers nyumpal pake kaos kaki busuk
Balas review: #males lewat PM
Bunda Dita Cie YAOI HUNTER: Spectakuler! Wow! Amazing! Wonderfull! Beutyfull! #d tabok readers#
Hn, jadi masih banyak typo bun? Terus… apa chap 6 ini masih kepanjangan? Menurutku ini pendek buanget! Yang baca malah bosen? Bener juga yah? Beh parah klo gitu bunda!
Gambar Yaoi? #smirk fujoshi# Oke! Ntar ku apdet d FB!
Ya! Makasih udah bge-review and baca fic Mi-chan! Jaa mata ne!
Anak Cakep Males Login: Uwooo…! Jadi anda nantangin saya berantem nih? Jangan kaget klo saya ini pernah dapet piala lomba karate tingakat provinsi lo!
Mi-chan enggak bikin penasaran koq… #readers: gubrak!
Hah? Sasori di suruh tendang dari fic ini? Ouh… klo yang ini bukan saya yang marah… tapi temen author saya yang marah, karna 'Aniki' nya di bilang playboy…
Yosh, trims udha review ya! Baca lagi!
Yukira: Lho? #ngikut-ngikut
Naruto nya gag kenapa-napa tuh! Cuma *******nya ada sedikit masalah!
Hehe… iya-iya… ini sudah apdet… makasih udha review dan baca fic Mi-chan!
NaruDobe Listachan: Cup… cup… cup… seng sabare ya, Lista-chan…
Eits! Tidak boleh! Naru-chan itu hanya untuk Sasu-chan…~~ Kasian… di tabokin SasuGaaSaso bu? Caakit ya? Ckckck…
Hehehehe… makasih lagi udah di bilang cerita Mi-chan keren… tapi anda jangan mati penasaran ya! Ntar siapa yang ngelanjutin fic Lista-chan? Kalo mau, Mi-chan mau koq nge-gantiin yang ngetik nya!
Terus boleh tau gag, jenis bahasa yang d gunakan Lista-chan d fic itu apa-an? Baku atau non baku? Ato campuran kaya aku?
Nah, sekian dulu! Thanks ya!
Annisa Hyuuga-chan: Hai, juga! #senyum manis
Hehehe… klo bisa jangan panggil aku dengan panggilan kakak, panggil aku Onee-chan… #ngarep! Hehe… maaf ya!
Makasih udha bilang fic aku seru!
Naru-chan sakit apa? Hm… itu adalal sebuah rahasia, jadi aku gag boleh membeberkannya sekarang! Maaf ya…~!
Hohoho… Bakalan saya bikin itu merana! Hohoho…
Nah, aku dah apdet chap 6 nih! Makasih banyak udah baca!
Sun Setsuna: Senpai…~~ Iya… itu alamat FB nya Mi-chan! Makasih udah bilang fic aku bagus!
Hn, Naru emang LOLA STADIUM AKHIR, sama persis kaya penyakitnya…
Mi-chan usahakan spaya Dei-chan gag di apa-apain ama Itachi, klo ni anak mati!
Iya, ni udah apdet senpai! Makasih!
CCloveRuki: Lah? Anda mikirnya apa? #sweatdrop# Emangnya ada gitu ya, sakit perut buncit…? Yang ada mah itu Maag!
Ya… ini udah apdet, makasih and baca lagi ya!
Hisato Zuki: Selamat datang! #gaya resepsionis# Hohoho… harus… Naru itu kan emang LOLA!
Yoi! Makasih udah bilang fic ane bagus! Dan seilahkan dibaca chap 6 ini!
Uzusabauci Mei-chan: Hajime Mashite, Mei-chan! Gag papa telat baca, asal gag telat nge-review aja… #deathglare!
Arigatou udah bilang fic Mi-chan keren…~ Hehehe… anda aja ngiri! Apalagi saya yang ngetik nya!
Makasih udah di add! Dan silahkan menikmati fic abal dari Mi-chan! Semoga suka!
Kanon1010: Gag papa koq…mau nge-review chap lusa juga gag papa…~ #muka ikhlas# Emm… makasih udah di bilang seru! Iya dong! Sebagai seorang Manga Lovers! Mi-chan harus tau, tokoh-tokoh anime cakep!
Hehe… ini udah apdet koq… makasih banyak!
Ren-Mi3 Novanta: Hai, juga Ren-san! Hahaha…! Gag papa! Ini anda udah minta maaf dua kali lo! Di sini ama di Fb! Hahaha…! Gag malu-maluin koq! Biasa aja kaleee…~~
Hm… pertanyaan yang lumayan sulit untuk di jawab… Entahlah… Mi-chan juga gag tau, Naru mati apa kagak… tapi anda liat aja dulu semua perkembangan yang terjadi di fic ini!
Yap! Makasih! Jaa nee!
Naru3: Hie? Koq malah nangis sih? Kata Mi-chan kan, gag tau ini bakal mati apa kagak… pokoknya di ikutin aja terus alur dari fic ini…
Mungkin ntar Mi-chan bikin yang mati Sasu aja… karna banyak yang gag rela Naru mati! Khe… khe… khe…! Enggak bercanda!
Hah? Naru3 mau jadi Guardian Angel nya? Ooo… itu tidak bisa! Yang ada malah Shinigami! Hohoho…! #gaje
Nasib Sasu? Entahlah! Emang ane pikirin! #tendang!# Kagak becanda!
Nie udah apdet chap 6! Thanks Naru3!
Namikaze Trisha: Hehe… makasih banyak atas review nya! Nie udah apdet chap 6! Makasih! Review and baca lagi ya!
Yuna Claire Vessalius Kusanagi: Hie? Hari ini Mi-chan ternyata udah bikin dua orang nangis?
Hahaha! Kebukti kan, apa kata Mi-chan kemaren! Jack di kira gila! Mi-chan coba! Di kira mati, karna gag ada inspirasi sama sekali!
Jadi beneran mau nih? Chap khusus nya? Oke! Insya Allah setelah acara sakit-sakitan di rumah sakit, ya!
He… kasian bener dah…
Yap! Arigatou Gozaimasu, udah d review! Baca chap 6 ini ya! Semoga suka!
Nah, sekian dulu dari Mi-chan… klo ada salah mohon di maafkan… untuk beberapa chap kedepan mungkin agak ke sendat karna sebentar lagi Mi-chan bakal Hiatus sementara buat persiapan ujian kenaikan kelas!
Yap! Bagi yang merasa chap ini bagus terima kasih! Sayonara, readers!
Re-Vi-Ew?
