Hai, readers sekalian! Konbanwa! Nice to meet you again!
Chap 7 sudah apdet! Kali ini mungkin humornya balik lagi! Terus, dibagian sini, ada banyak kejutan! Eh, kagak! Kejutan yang lebih seru ada di chap 8! Paling tidak beberapa minggu setelah chap ini selesai…
And then! Disini kemungkinan besar, terjadi percepatan waktu, karna Mi-chan lagi malas ngejelasin secara mendetail tentang kehidupan sementara Naru di RS, dan yang lainnya. Jadi, gag usah bingung kalo disini banyak 'Skip Time'-nya.
Mungkin sampai disini dulu info dari Mi-chan! Sekarang marilah kita bersama-sama membaca dan menghayati peran mereka di, PENGENALAN TOKOH!:
PENGENALAN TOKOH!
Uchiha Sasuke: Cowok cakep *Sasu bernarsis" ria* kulitnya putih pucaaaat! Rambutnya model emo dongker, jungkir balik melawan arah gravitasi, a.k.a pantat ayam kampung ato gag ayam ras *tendanged!* Sifatnya dingin, sok cool padahal sebenarnya tu orang latah *Buagh!*kagak becanda! Belagu, etc. suka sama pemeran utama cewek. Namikaze Naruto. Rela ngelakuin apa aja, termasuk makan es krim satu pabrik, walau dengan berat hati dan akhirnya berkutat juga dengan closet dan bak sampah. Suka buah tomat, gag suka makanan yang berbau manis sekale, kecuali itu makanan buatan tangan si Dobe tercinta. Suka warna biru navy ato nggak item.
Namikaze Naruto: Cewek cakep. Orangnya manis, cute, cantik. Suka yang berbau sederhana. Suka sekali dengan makanan yang bernama ramen juga *of course* Rambutnya pirang keemasan, panjangnya sepinggang, lurus, karna gag belok-belok akhirnya nyemplung ke got *Bunuhed!* Suka warna biru muda, orange gelap dan kuning emas. Gag mau ngelakuin apa aja buat si Teme, karna menurutnya, hanya merepotkan dirinya sendiri *Sasu pundung di pojokan* Pernah sakit hati gara" ngeliat pacarnya nyumbu orang lain. Bingung milih shapa entar antara mereka bertiga (Sasuke, Gaara dan Sasori) Karna tu orang LOLA, makanya sering di panggil Usuratonkachi, ato gag yang biasa baka, ato yang paling sering dobe.
Sabaku no Gaara: Termasuk nominasi favorit anime cowok author, setelah Sasuke sama Ciel Phantomhive. Orangnya pendiem, tapi sifatnya berubah kalo berdua-an sama pacar, jadi tukang ngegombal *jitaked!* Rambutnya merah marun, enggak jungkir balik kaya siTemePantatAyam yang dia atas *Gaara nyanyi I'm a Champion* *Sasu siap ama katananya* Trus suka sama Pemeran utama cewek. Malahan cinta setengah mati *mulai dah ngegombal* suka warna…? *lupa apa warna kesukaan Gaara* *Gaara pundung di pojokan*
Akasuna no Sasori: Murid pindahan dari Oto *critanya* yang baru aja dateng langsung bikin Sasuke mengelurakan deatglare nya. Suka sama Naru-chan. Author aja gag thu kenapa tu orang suka sama Naruto *gubrak!* Dann jangan lupa, dia gag kalah cakep ama dua orang cowok sebelumnya yang udha kita bahas. Yang Alhamdulillah, rambutnya juga gag kaya Sasu pantat ayam ras *udha di putusin* ama Sebas(mesum) yang raven.
Haruno Sakura: Mantan pacar Sasuke. Yang sampe mereka (Naru ama Sasu) nikah pun masih cinta juga (jangan pernah mikir kalo Naru bakal selamat dari penyakitnya). Gag dapet pasangan *Author ngakak bahagia* HIDUP SASUNARU! HIDUP SASUFEMNARU! Warna kesukaan nya pink. Lanjutannya meneketehe *duagh!* Sahabat Naruto.
Yang lainnya menyesuaikan ya! ^_^V
Naruto©Masashi Kishimamolto Iklannya sabun cuci molto!
(readers: gubrak!)
Rated; T
SasufemNaru, GaafemNaru, SasofemNaru (gag pernah ada neh!) ItafemDei de el el…
Romance, Hurt/Comfort, Humor
Warneng!
OOC, OC, ABAL, GAJE, Typo, EYD, dll…
FEMNARU!
Kepada para hadirin readers sekalian…
Saya sebagai Mi-chan disini *gubrak! Selaku Author yang mengetik cerita ini…
Ingin menyampaikan bahwa…
Bahwa…
Bahwa…
Bahwa…
(ceritanya menggema)
EVERYBODY!
PUT UP YOUR HANDS!
SAY I DON'T WANNA BE IN LOVE!
FEEL THE BEAT NOW!
IF YOU GOT NOTHING LEFT!
SAY I DON'T WANNA BE IN LOVE!
I DON'T WANNA BE IN LOVE!
*d tendang karna bikin ilfil*
Hehehe…
Maaf…
Kalau begitu saya –Mi-chan- ulangi…
Saya selaku Author yang mengetik fic ini…
Ingin menyampaikan bahwa…
BAGI SIAPA SAJA YANG MEMBACA FIC INI, HARUS MINTA IZIN DULU KE EMPUNYA!
*tendang*
SALAH!
MAKSUD SAYA!
BAGI SIAPA SAJA YANG MEMBACA FIC INI, HARUS NGE-REVIEW!
TIDAK BERMAKSUD MAKSA, KARNA SAYA EMANG MAKSA!
*buang ke jurang*
Syuuuung…~~!
Dooooon't likeeeee… Don't reaaaaad…!
If yooooou… likeeeeee…
Tarimaaaaaa kasiiiiiiih…!
Laaaaaaah…!
Summer Vacation!
Aku berbalik menghadap pintu keluar yang sudah terlihat oleh mataku. Dengan enggan, ku putar knop pintu yang terasa berat itu.
"Sasuke…"
Deg…!
Secepat kilat aku berbalik, dan mendapati sepasang mata biru safir yang menatap kedua mata onyx hitamku. Matanya terlihat sayu. Apa aku bermimpi?
"Sasuke?"
Suara lirih itu memanggil ku lagi. Dan disaat itu pula aku sadar. Bahwa ini semua bukanlah mimpi ataupun halusinasi yang dibuat oleh kedua mataku. Ini nyata!
Grep!
"Jangan pernah membuatku khawatir, lagi!" bentakku seraya memeluk tubuh mungilnya yang berada tepat di bawahku.
Dengan lembut, kurasakan jemari lentiknya membelai rambut emo ku. Semakin ku benamkan pula wajahku ditengkuknya, sambil mempererat pelukanku. Sepertinya, kini ia tengah tersenyum.
"Hehe… maaf, Teme… tadi aku ada urusan sebentar di akhirat…" sahut gadis itu yang sepertinya sedang meracau tentang… akhirat?
Ku lepas pelukan ku darinya, menatap mata safir itu tajam.
"Jangan mempermainkan ku, Dobe…"
Naruto menggembungkan pipinya kesal.
"Siapa yang mempermainkan, mu?" balasnya kesal. "Aku serius tau!"
"Haaah… sepertinya kau harus istirahat lebih lama lagi, Dobe…" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hei! Aku tak mau ada di sini, terus! Dan berhenti memanggil ku, dengan sebutan Dobe itu!" bentaknya. Aku menyipitkan kedua kelopak mataku.
"Ha? Bukankah kau sendiri, yang meminta ku untuk memanggil mu dengan sebutan Dobe, itu? Sampai pakai pundung segala, lagi!"
Naruto mendudukkan tubuhnya, sebelum membalas perkataanku dengan susah payah.
"Enak saja! Enggak usah pakai alasan yang enggak spesifik gitu deh!" semburnya mulai meracau lagi. Aku mengernyit bingung.
"Kau ini sudah sadar… atau belum, sih?" tanyaku seraya menyentuh keningnya. Tidak panas.
"Hei! Berhenti menyentuh keningku! Aku tidak gila!" teriaknya. Aku sweatdroped.
"Memangnya siapa yang mengatakan kalau kau itu gila, hah?" sahutku sambil berkacak pinggang.
Cih, si Baka Dobe ini malah masang pose mikir. "Entahlah… aku tak tau… tiba-tiba saja aku langsung mengatakannya!" gumamnya. Aku makin sweatdroped.
"Ck, sudahlah, kau istirahat saja, aku mau keluar mencari yang lainnya…" ucapku yang sepertinya sudah tak tahan lagi dengan si Baka Dobe YANG LOLA-NYA MINTA AMPUN INI.
"Loh, T-teme? Kau mau kemana?" tanya nya padaku, yang sudah sampai di ambang pintu.
"Keluar lah, memangnya mau kemana lagi?" balasku sarkas. Cih, aku kan bukan Gemini yang punya dua karakter.
Naruto menatap ku dengan mata berkaca-kaca.
"T-Teme… j-jangan tinggalkann aku sendirian…~!"
Tanpa memperdulikannya lagi, aku keluar untuk menenangkan pikiran ku yang sepertinya sudah sangat JENUH dengan KELOLA-AN gadis yang kucintai ini.
~777~
Normal's PoV
Dengan wajah yang super amat duper kesal, Sasuke keluar dari ruangan rawat inap Naruto. Entah kenapa wajahnya yang biasanya stoic itu, berubah drastis menjadi seperti ini. Gaara, Sasori, dan Itachi yang berada diluar, hanya menatap pemuda itu bingung.
"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Gaara sambil mengerutkan keningnya. Sasori dan Itachi mengangguk.
"Kalian lihat sendiri saja, ke dalam." Jawab pemuda stoic itu ketus. Sakura dan Ino langsung menyerobot masuk. Mungkin mental mereka sudah kuat untuk bertemu dengan Naruto, sahabat mereka. Sekaligus saingan untuk Sakura.
"Kyaaaaa…! Narutoooo! Kau masih hiduuuup!"
Satu teriakan itu sukses membuat ketiga laki-laki yang berbeda marga ini menoleh dan langsung menyerobot masuk juga ke dalam ruangan tempat Naruto dirawat.
~777~
Deidara's PoV
Kutatap serius, wajah seorang dokter spesialis, yang sering memeriksa adik perempuanku ini. Bola mata violet-nya menatap ku iba.
"Sebenarnya ada apa dengan adikku, Hikari?" tanyaku pada teman satu SMA ku dulu. Hikari Ayumi.
Ia menghela nafas. "Untuk kali ini… aku tidak tau persis, apa yang menyebabkan Naruto pingsan. Setelah tadi kuperiksa… tak ada yang bermasalah pada penyakitnya… sepertinya ia kelelahan. Apa ia ada beraktivitas berat, beberapa hari ini?"
Aku menggeleng ragu-ragu. "Entahlah… aku lupa…"
Hikari menghela nafas berat. "Kau ini kan kakaknya! Seharusnya kau mengawasinya! Apalagi, Naruto sekarang semakin sering kambuh! Kau ini bagaimana, sih?" sembur wanita berumur sebaya denganku ini, marah. Yah… begitulah Hikari… Naruto sudah ia anggap adiknya sendiri, setelah kecelakaan orang tua kami beberapa tahun yang lalu.
"Oke, aku memang tidak bisa mengawasinya lebih dari ini. Tapi, aku sudah berusaha semaksimal mungkin! Dan jelas saja, aku tak bisa mengawasinya lebih jauh lagi! Ia ada di sekolahnya! Sedangkan aku di kantor, dengan setumpuk kertas laporan yang beberapa hari kemarin tertumpuk banyak, karna aku cuti untuk merawatnya! Seharusnya kau juga mengerti kondisi kami, setelah Kyuu-nii, Kaa-san dan Tou-san pergi! Cuma kami berdua yang ada di rumah besar itu! Aku sudah berusaha, Hikari! Tolong, mengertilah!" bentakku membela diri.
Mata violetnya memandangku iba. Cih, sudah cukup kau memandang ku dengan tatapan seperti itu.
"Berhentilah, menatap ku iba seperti itu, Hikari. Aku tau kau iba dengan kondisi kami. Tapi, bisakah kau jangan menampilkan pandangan seperti itu lagi? Kami bukan pengemis." Ucapku ketus, sambil memalingkan wajahku dari hadapannya.
"Baiklah. Kalau kau tau mau ku pandang sepeti itu lagi." sahutnya sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas, seperti prajurit perang yang mengalah.
"Hm…"
Hening…
"Apa obatnya masih ada?" celetuk wanita berambut coklat muda bergelombang itu, menghilangkan kesunyian diantara kami.
Perlahan, ku tolehkan lagi wajahku ke arahnya.
"Sepertinya masih ada." sahutku pelan. Ia mengangguk. "Dan sepertinya, pengaruh obat itu mulai berkurang."
Tiba-tiba tubuhnya menegang. "Maksudmu?"
"Naruto, terkadang ia mengeluh padaku. Karna, kepalanya masih saja sakit, walaupun sudah meminum obat itu." Jawabku. Aku mengehela nafas. "Sepertinya, lagi-lagi kita harus menaikkan dosis obatnya yang sekarang."
Hikari semakin menegang, seperti menahan amarah.
"Kau kira aku sebodoh apa, main-main dengan obat berbahaya seperti itu! Deidara, jangan kau anggap remeh obat ini. Bisa saja Naruto akan merasa lebih baik, dengan kita bisa menaikkan dosisnya. Tapi, kita tak bisa melihat keadaan kedepannya, Dei! Obat ini juga bisa membunuh pemakainnya, kalau dosisnya terus kita naikkan! Kau mau Naruto mati gara-gara kita terus menaikkan dosis obatnya? Aku takkan setega itu!"
Aku langsung berdiri, menatapnya tajam.
"Aku jauh lebih sakit, saat melihatnya merintih kesakitan gara-gara penyakit, itu! Tujuan ku untuk menaikkan dosis ini, karna aku tak ingin melihatnya kesakitan lagi! Cukup!"
Hikari juga ikut berdiri sambil merentangkan tangannya frustasi.
"Dan disatu sisi juga, kau menyuruhnya untuk mati! Apa kau belum sadar juga, hah? Berhentilah berkata seperti itu!"
Kami terdiam. Kudengar nafasku, dan Hikari yang tersengal-sengal, setelah berteriak pada satu sama lain.
Brugh…
"Lalu… apa yang harus kita lakukan… aku tak ingin melihatnya kesakitan lagi… kumohon… tolonglah aku… Hikari…" gumamku pelan, sambil menutupi seluruh permukaan wajahku yang mulai terbasahi air mata… lagi.
Ia menghela nafas. "Tak ada cara lagi… selain memintanya untuk meminum obat itu…"
Deg…!
Ku angkat wajahku. Menatapnya tidak percaya.
"M-maksudmu… obat yang, itu?" tanyaku tidak percaya. Hikari mengangguk pelan.
"Tak ada cara lain, kalau kau tidak ingin ia lebih menderita lagi… Cuma itu jalan satu-satunya…"
"Kau bercanda? Aku tak akan mengizinkannya untuk meminum obat itu! TAK AKAN PERNAH!" bentak ku lagi.
"Tapi, Cuma ini jalan satu-satunya, agar ia bisa lepas dari penyakit itu…"
"Apa sama sekali tak ada pilihan selain berakhir dengan, kematian?"
Hikari menggeleng lesu. "Tak ada…"
Aku mengacak rambut pirangku frustasi. Tuhan… apa ini jalan takdir adik perempuanku? Satu-satunya keluarga yang aku miliki… kumohon… beri aku petunjuk… jangan buat aku menangis frustasi lagi… beri aku sebuah keajaiban!
"Kenapa harus adikku yang mengalami hal seperti ini? Kenapa harus Naruto, yang terus kau beri cobaan seperti ini! Ukh…!"
Kembali ku tutup seluruh permukaan wajahku dengan telapak tanganku. Menangis dan berteriak disana. Ku dengar Hikari juga ikut menangis… Kami menangis, karna harus kehilangan adik kami yang paling berharga… kematian terlalu cepat membuka pintunya...
"I'll be your cloud up in the sky
I'll be your shoulder when you cry
I'll hear your voices when you call me
I am your angel-"
Kurogoh kantong tas tangan coklatku, dan mengambil sebuah gadget hitam dengan corak awan keemasan, dipermukaannya.
'Itachi…'
Ku angkat telpon dari Itachi tadi.
Piip…
"Ya, Itachi? Ada apa?"
"Kau pasti akan senang mendengarnya, Dei-chan!"
"Maksudmu, apa? Cepatlah! Aku sedang tidak mood berbasa-basi, Itachi!"
"Umm… kau tau… NARU-CHAN SUDAH SADAR!"
Deg…!
"Be-benarkah?"
"Tentu saja! Mana mungkin aku berbohong! Cepat datanglah kemari! Dia mencarimu!"
"Eh? Ba-baiklah! Aku akan segera kesana! Tunggu aku!"
"Hn, cepatlah."
Piip…
"Apa katanya, Deidara?" tanya Hikari, sambil memandang ku bingung. Aku tersenyum senang kearahnya. Seolah sudah melupakan pertengkaran diantara kami tadi.
"Naruto sudah sadar…
Ia membalas senyumanku.
~777~
Naruto's PoV
"Apa katanya, Itachi-nii?" tanya ku tidak sabar, sambil menatap penuh harap pada calon suami kakakku ini, yang juga kakak dari rival seumur hidupku. Uchiha Itachi.
Ia melempar senyum hangatnya padaku, aku balas tersenyum.
"Katanya, dia akan segera kesini. Jadi, bersabarlah." Jawabnya lembut.
"Tentu saja!" sahutku sambil mengepalkan tangankku ke udara. Yah, walaupun sedikit sakit. Tapi, aku tak boleh memperlihatkan nya pada mereka.
"Umm… Naruto…" panggil seseorang, yang aku tau siapa pemilik suara itu. Aku segera menoleh.
"Ya, Sakura-chan?" sahutku, gadis bermata emerald itu menatap ku cemas.
"Sebenarnya, kau itu tadi kenapa? Jadi, tiba-tiba pingsan begitu. Kau tau? Kami sangat mencemaskanmu saat itu! Iya kan, Ino?" Ino mengangguk.
Aku tersenyum… errr… atau yang lebih tepatnya cengiran rubahku. Ia mendengus kesal.
"Jangan nyengir! Jawab pertanyaan ku tadi!" sembur Sakura lagi sambil bersedekap, dan mata emerald-nya menatap ku kesal. Yah, dia memang begitu.
"Err… a-apa, ya? Aku juga tidak tau… tapi, tiba-tiba saja, kepalaku pusing sekali, dan akhirnya pingsan…" jawab ku asal. Sebenarnya aku merasa aneh saat itu. Bukan saat-saat seperti penyakit ku akan kambuh… yang kalau kambuh, pasti aku akan meringis pusing, dan darah keluar dari hidungku, mataku mengabur, dan… Taraaaa! Aku pingsan…
Ya, ini memang berbeda. Tentu saja. Bayangkan! Aku dibawa sebentar ke dunia tempat kakak pertama ku berada! Benar! Aku berada di persimpangan kedua alam yaitu; nyata dan tidak, alias akhirat. OMG!
Rasanya dingin. Bukan sekedar dingin. Tubuhku juga seakan lebih ringan. Dan sakit itu! Tentu saja aku masih mengingatnya! Sakit seperti dikuliti! Ugh… belum lagi pusing yang, seakan-akan kepalaku akan dicabut! Aiiih…~ sakit sekali pokoknya!
"Cuma begitu saja?" satu pertanyaan dari Sasori membangunkanku dari lamunanku tadi.
"Eh? I-iya, cuma itu saja kok, kalian tidak usah cemas. Mungkin aku terlalu capek." Jawabku lagi. Sasori mengangguk paham, tapi tidak dengan Sasuke. Ia melotot padaku.
"A-apa, T-teme?" ia berjalan mendekati ku sambil bersedekap. Ino dan Sakura yang berada paling dekat denganku langsung menyingkir, membiarkannya lewat. Glek… ugh… gawat ini… si Teme kuso ini dapat ilmu ramal dari mana, sih? Apa Itachi-nii yang mengajarkannya? Ah, tidak mungkin! Kalau dia berani seperti itu, Fugaku Jii-san pasti akan memenggal kepalanya. Ah, mungkin itu keterlaluan… Tapi yang pasti… DARI MANA SI KUSO TEME INI DAPAT ILMU YANG BEGITUAAAAAN…? Aku kan juga mau… *readers: Jiaaah…~ ternyata…"*
"Kau bohong, ya Dobe?" tuduhnya, seraya semakin mendekatiku, hingga aku terpojok di tempat tidur rumah sakit ini.
"A-apa maksudmu? A-aku berkata yang sebenarnya kok! G-gag usah sok detektif, deh!" elakku sambil terus menghindari wajahnya, yang semakin membuatku memerah. Arrgghh…~!
"Jujur saja, Dobe. Tak usah berb,-"
Brak!
"Naruto!"
Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka secara kasar tadi. Kulihat Dei-nee bersama temannya, yang sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Hikari-nee. Oh ya! Dia juga dokter pribadi spesialis ku, lho!
"Dei-nee! Hika-nee!" teriakku, sambil mendorong wajahnya si SasuTemeCakepBinMesumPantatAyam ini agar menjauh dari wajahku. Kudorong pemuda itu sampai menabark Sasori. Waow! Kekuatanku lumayan juga!
Dei-nee datang menghampiriku, lalu memelukku erat. Dibelakangnya, tampak Hikari-nee, sedang tersenyum hangat sambil menatap lega kami berdua. Emm… atau aku saja?
"Baka Imouto! Kau ini membuat kami khawatir saja!" bentak nya, sambil membenamkan seluruh permukaan wajahnya, di tengkukku. Aku tersenyum mendengarnya.
"Maaf… maaf, sudah membuat kalian khawatir…" gumamku sambil mengelus helaian rambut pirang emas kakakku, yang diikat kuda.
"Dan kau tau? Aku tadi bertemu dengan Kyuubi-nii, lho! Kau pasti tidak percaya, tapi yang ini aku serius!" bisikku di telingannya. Ia sedikit menegang.
"Kau bercanda…" ujar kakakku ini seraya melepas pelukannya dan menatap ku tajam. Aku mengangguk meyakinkan.
"Aku serius!" sahutku meyakinkannya, sambil menunjukkan jari tengah dan telunjukku, hingga terbentuk huruf 'V'.
"Buktinya?"
Aku menghela nafas malas. "Buktinya? Tadi, dia sempat mengirim pesan untukmu. Katanya, 'Mereka yang ada di sana, sangat merindukan kita! Dan juga, sampaikan salamnya untuk kau dan Itachi-nii,' begitu katanya. Sekarang kau sudah percaya?" jelasku sambil berkacak pinggang menghadapnya.
Deidara terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, di matanya muncul genangan air mata. Butir-butir bening itu, mengalir turun ke pipinya yang sedikit merona. Aku tersenyum senang.
"K-kau c-curang… hiks... k-kenapa tidak mengajakku, juga? Hiks… a-aku kan sangat merindukan mereka juga… hiks… k-kau curang Imouto… curang… hiks…"
"Sudahlah! Lagipula, waktuku disana juga sangat sebentar. Dan tak mungkin juga aku mengajakmu…" bisikku menenangkannya yang sedikit terisak. Kuelus lembut lengan putih susunya yang halus. Berusaha menenangkan kakak satu-satunya yang aku punya, ini. Kulirik yang lainnya sedang menatap kami bingung. Terkecuali untuk Hikari-nee. Karna, dia sudah tau penyakit ku, dan apa masalahku.
"L-lho? D-dei-chan? Kau kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Itachi-nii yang sedikit panik. Karna, melihat kakakku yang tiba-tiba menangis tanpa sebab. Tentu saja, dia bingung. Wong, dia enggak tau apa masalahnya kok… terus… apa isi pembicaraan kami tadi… karna aku berbisik padanya.
Dei-nee mengusap air matanya, lalu menoleh kearah Itachi-nii sambil tersenyum manis, hingga membuat wajah calon kakak ipar ku ini merona merah. Ahaha! Mukanya lucu!
"Aku tidak apa-apa…" jawab kakak perempuan ku ini lembut. Ugh… pantas saja Itachi-nii menyukainya! Dasar si muka dua! Hahaha…~!
"Lihat wajahmu Itachi-nii! Lucu! Ahahaha…~~!" ledekku sambil menunjuk wajahnya, yang masih memerah, pasca diberi senyuman maut oleh Dei-nee. Hahaha…~
"E-eh? A-aku b-blushing, ya?" tanyanya, sambil memegangi kedua pipinya yang masih memerah. Asli!
"Cih, kau itu selalu memalukan, Aniki! Kapan sih, kau itu tidak memalukan keluarga kita lagi? Ck, mendokusei!" ku dengar sungutan Sasuke yang berada di sebelah Itachi-nii. Lagi-lagi aku tertawa keras, dan kudengar semua yang ada diruangan ini juga tertawa. Karna melihat tingkah laku Itachi-nii yang aneh. Seperti perempuan saja, saat dia menggembungkan kedua belah pipinya itu, membuat Sasuke sweatdroped tingkat akut.
"Berhentilah berlaku seperti, itu! Kau semakin membuatku malu, tau!" teriak Sasuke sambil mendorong kakaknya, sampai Itachi-nii hampir terjerembab, kalau tidak segera ditolong Gaara.
"Arrrgghh! Awas kau, Baka Otouto!"
"Hahahaha…~!"
Dan terjadilah perang antar kedua keluarga Uchiha yang berbeda sifat dan prinsip ini. Yang juga diiringi dengan gelak tawa semua orang.
Aku tersenyum melihat semua ini. Dan mengingatkan ku padanya… Aniki…
'Kau benar, Kyuubi-nii… apa jadinya, kalau mereka kutinggalkan secepat ini? Mereka mencintaiku… menyayangiku… seharusnya aku bersyukur, telah diberikan banyak kesempatan… Terima kasih atas bantuan kalian semua… Tou-san… Kaa-san… Kyuu-nii… kalian tau? Aku sangat-sangat mencintai kalian… terima kasih… arigatou…'
End Of Naruto's PoV
~777~
Normal's PoV…
Skip Time…
After Naruto get out from hospital…
"Panas…~~" keluh seorang gadis manis, berambut pirang panjang, sambil terus mengipasi tubuhnya dengan buku pelajaan yang ada di tangan kanannya. Disebelahnya, seorang pemuda berambut emo dongker, atau yang lebih enak disapa, Pantat Ayam *plak!* tampak tidak suka dengan keluhan sang gadis manis di sebelahnya. Ia mendengus malas.
"Bisakah kau berhenti mengeluh, Dobe? Kau kira, aku juga tidak kepanasan, hah?" tukas pemuda itu tak kalah sinis. Sedangkan si gadis malah menggembungkan pipinya kesal.
"Kau ini semakin hari, semakin menyebalkan saja! Lagipula, kenapa sih aku harus duduk sebangku lagi, denganmu? Kemarin, sudah enak-enak sebangku dengan Sasori! Eh! Ternyata dipindah lagi! Kakashi-sensei ini juga bagaimana sih! Sama sekali tidak konsisten! Bhuuu…~~" omel si gadis yang bernama asli Namikaze Naruto itu.
Deg!
"B-bagus lagi, daripada kau duduk sebangku dengan si Baby (baca: Babi{hewan}) Face itu." Sahut si pemuda –Uchiha Sasuke- stoic di sebelah gadis itu sambil memalingkan wajahnya yang pucat, ke arah lain.
Naruto menoleh bingung kearah teman sebangkunya yang paling menyebalkan baginya itu. Keningnya berkerut curiga.
"Aiiiih…~ Sejak kapan kau jadi gagap begitu, Teme? Ketularan sama siapa?" tanggap gadis itu curiga. "Apa jangan-jangan… kau…"
Naruto menggantungkan kalimatnya, sambil menyeringai lebar. Sasuke meneguk ludahnya kasar.
'Glek… mati aku…'
~777~
Flashback
"Pindah, atau, Iruka-sensei, ku *piiiip*, Hah?" ancam Sasuke pada Kakashi yang tengah terpojok. Keringat dingin mengucur deras, dari pelipisnya.
"S-sebenarnya a-apa maumu, Sasuke?" tanya Kakashi. Tak biasanya ia setakut ini. Tentu saja. Ini semua kan, bersangkutan dengan sang pujaan hati dari sensei mesum ini. Apapun akan ia serahkan, asalkan Iruka-bebeh nya yang tersayang, tidak kenapa-napa. Sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya. Haaah…~ Yaoi…~~
Sasuke menyeringai. "Kembalikan, posisi tempat dudukku dengan si Dobe itu." Jawab Sasuke santai, sambil memainkan foto Iruka yang berada di tangannya.
Kakashi menelan ludahnya kasar. "B-baiklah. T-tapi, t-tolong kembalikan foto itu, ketempatnya yang semula. I-itu foto paling imut yang pernah kudapat."
Sasuke menatap seonggok foto yang ada di tangannya, dengan tatapan tidak percaya. 'Begini dibilang imut? Jijay!' batin Sasuke agak aneh, atau bisa dibilang juga dengan –WHAT THE HELL?-.
"Kau bilang ini foto imut?" tanya Sasuke, seraya menoleh kearah wali kelasnya tersebut. Kakashi mengangguk.
"I-imut darimana nya?" seru pemuda berambut emo itu, sambil menunjuk-nunjuk foto Iruka yang sedang ngiler di meja guru, dengan muka yang… errr… muka… muka… TERJELEK YANG PERNAH ADA! Bayangkan saja! Foto Iruka yang lagi ngiler, dengan mulut monyongnya yang berkepanjangan 5 CENTIMETER SODARA-SODARA! Sungguh menakjubkan! Dan jangan lupa! Telunjuk tangan kanannya diarahkan ke pipi, terus tangan kirinya di taroh di kepala. Persis kaya monyet! Dipiki-pikir, Kakashi blo'on juga, ya? Foto mirip monyet habis keluar dari RSJ, malah dibilang imut. *readers: Emang ada?* *Author: Entahlah...~~* #plak!#
"Jelek, amat…" bisik Sasuke, dan rupanya sensei yang ada didepannya ini, mendengar perkataannya.
Kakashi melotot marah kearah Sasuke. Membungkam, mulut si Uchiha narsis satu itu.
"Enak saja!" bantah pria bermasker biru tua itu, seraya menyabet kembali miliknya –foto Iruka- yang telah diambil Sasuke tadi. Lalu mengusap-ngusapnya, layaknya anak bayi.
"Eh?"
"Ini foto terimut Iruka tau tidak, sih! FOTO TERLANGKA!" teriak Kakashi dengan hujan lokalnya, yang membuat Sasuke harus ke kamar mandi nantinya.
"Puah! Apa-apa-an kau, Sensei Hentai! Muncrat tau!" balas Sasuke berteriak sambil mengelap seluruh permukaan wajahnya degan handuk terdekat. Bajunya Kakashi.
"Hei! Kau yang apa-apa-an! Murid jorok! Jangan ngelap di sana! Woy!"
Sasuke menatap wajahnya, di cermin dekat jendela ruangan Kakashi. Senyum puas tersungging di wajahnya.
"Lumayan bersih… tapi nanti aku harus membersihkannya lagi…" gumam pemuda itu, sambil mengusap-ngusap dagunya narsis. Kakashi beserta Author sweatdroped.
"Woy! Jadi, enggak nih!" seru Kakashi yang tiba-tiba menjadi OOC (?).
Sasuke berbalik lalu menatap Kakashi kesal. "Tentu saja!" balas Sasuke sambil berkacak pinggang. Kenapa charanya Author pada OOC, semua?
"Kembalikan posisi tempat dudukku dengan si Dobe, tadi? Atau kau mau Iruka-Sensei ku*piiip*, hah?" ancam Sasuke lagi. Kakashi mengangguk paham.
"Y-ya… nanti aku akan memidahkannya.."
Seringaian muncul di wajah stoic itu. -WHAT THE FUCK!-
End of Flashback
~777~
"J-jangan-jangan, kenapa?" tanya Sasuke pura-pura bingung. Seringaian Naruto bertambah lebar.
"Apa jangan-jangan… kau… kebelet boker, ya?"
Gubraaak…~~
Seketika Author beserta para readers+Sasuke bergubrak-gubrakkan ria di lantai. Alamak~ ini cewek…~
Sasuke menoleh kesal kearah Naruto, kacamata berbingkai hitamnnya, semakin membuatnya bertambah tampan. Itupun menurut Author…~ *readers: Jiaaah…~ Sasu FG Mode on, nih!*
"Kau ini apa-apan sih, Dobe! Membuatku kesal saja!" bentak Sasuke kesal, Naruto lagi-lagi menggembungkan pipinya, protes.
"Kau yang apa-apaan, Teme! Gagap begitu kan jadinya kayak mau boker! Jadi bukan salahku dong!" bela gadis itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Sasuke dari dekat, sehingga pemuda itu harus memundurkan sedikit kepalanya, kalau tidak mau kena tunjukkan maut dari sang gadis.
"Cih, terserah kau sajalah, Dobe!" gumam Sasuke seraya menyingkirkan tangan yang menunjuknya tadi.
Naruto terbelalak kaget. "Hie? Tumben kau cepat menyerah, Teme! Padahal tadi, kukira kau akan membalasku lebih sengit lagi!"
Sasuke mendengus malas. "Baka Dobe. Itu bukan sifatku."
"Lalu sifatmu seperti apa?" tanya Naruto polos. Sasuke memutar bola matanya bosan.
"Seperti, yang kau lihat tadi." Jawab Sasuke sambil mengedikkan bahunya malas. Naruto merengut kesal.
"Apanya?"
"Stoic, Cool, Cold, etc…"
Naruto sweatdroped tingkat akut.
"KAKASHI-SENSEI, DATAAAANG!" teriak salah seorang murid, yang langsung berlari ke tempat duduknya. Karna, Sasuke dan Naruto sudah duduk lebih dulu ditempat duduk mereka, jadinya mereka tidak usah kalang kabut seperti teman-teman mereka yang lainnya.
Greek…!
Pintu terbuka. Seorang guru berkemeja putih, dan bermasker biru, masuk kedalam kelas itu.
"Siang!" sapanya riang, setelah sampai di meja guru. Semua murid, termasuk para chara berdiri dari tempat duduknya. Serempak menjawab sapaan sang guru.
"Selamat siang Kakashi-sensei!"
Kakashi tersenyum dibalik masker biru tuanya.
"Silahkan duduk kembali." Serempak pula, semua muridnya duduk kembali.
Kakashi lebih memilih berdiri ditengah-tengah kelas. Deheman kerasnya, membuat beberapa siswi perempuan berhenti berbisik-bisik.
"Hari ini, saya hanya akan menyampaikan suatu pengumuman saja." Para murid ber-oh-oh ria. "Mulai Senin depan… kalian akan…"
"LIBURAN MUSIM PANAAAAAAS…!" teriak salah seorang murid, yang ternyata adalah Kiba. Wajah Hinata memanas, malu, karna kelakuan pacarnya yang memalukan, menurutnya, dan menurut seluruh teman di kelasnya.
Kakashi tersenyum maklum dengan kelakuan muridnya yang satu itu. Senyumannya pudar, ketika, Naruto mengangkat tangannya. Bertanya.
"Ya Naruto?"
"Umm… Sensei… apa benar, mulai Senin depan, kami akan libur, liburan musim panas?" tanya gadis berambut pirang itu. Sasuke yang berada disebelahnya, masih asyik mengelap kacama berbingkai hitam, kesayangannya.
Kakashi mengagguk pelan. "Ya, kalian mulai Senin depan akan libur-liburan musim panas, selama 2 minggu."
Sorak sorai para murid kelas 12-F itu, terdengar sampai ke telinga Kakuzu, atau yang lebih akrabnya lagi, Kakuz *plak!* tukang sapu sekolah sebelah, yang kini sedang menjalani hubungan serius dengan salah satu guru KHS. Orochimaru.
"Yeeeeyy…! Libur~ Libur~ Libur~…~"
"Turunlah, Dobe! Kau itu sangat memalukan!"
Naruto yang sedang berjoget-joget ria diatas kursinya, kini merengut kesal kearah Sasuke yang tadi menyuruhnya untuk turun.
"Iya-iya! Aku turun!" sungutnya kesal, seraya beranjak turun dari kursinya.
"Hn,"
Naruto tambah merengut, mendengar gumaman tak jelas dari Uchiha yang duduk di kursi sebelahnya.
"Kau menyebalkan, Teme…~" gumamnya sambil menopangkan dagunya kesal.
"Hn, terserah kau saja…"
"*sweatdroped*"
"Baiklah! Semuanya! Ayo tenang! Duduk ke tempat kalian masing-masing! Sensei akan menyampaikan materi kita selanjutnya."
Kelas pun kembali sunyi, setelah mendengar mention (baca: pengumuman)dari Kakashi, yang beberapa menit kemudian diisi dengan nyanyian-nyanyian merdu dari Kakashi, yang sedang menjelaskan materi Fisika mereka yang baru. Haaah…~
~777~
Skip Time
After School!
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Berbondong-bondong, para murid KHS, baik laki-laki maupun perempuan, keluar dari kelas, tempat mereka belajar seharian tadi.
Pulang? Terkecuali untuk beberapa siswa dan siswi KHS, yang sedang berkumpul di kelas mereka. Yap, dia adalah, Naruto, Sasuke, Sasori, Sakura, Sai, Neji, Ten-ten, Shikamaru, Ino, Kiba, Hinata, dan Gaara yang baru datang.
"Hm… liburan kali ini kita nginap, yuk!" seru Naruto sambil mengacungkan tangannya keatas dengan bersemangat.
Sasori menoleh pelan kearah Naruto. "Kalau menginap, kita akan menginap dimana?" tanya Sasori, membuat gadis yang ditanyai menoleh kearah pemuda berambut meran darah itu.
"Iya juga ya…" Naruto mengangguk paham. Nampaknya gadis itu sedang berpikir keras, itu terlihat dari kepalanya yang sudah mengeluarkan banyak asap, sehingga Gaara bisa membakar ikan di sana. *readers: Api, bu! Bukan asap!*
Senyuman lebar terpampang jelas di wajahnya. Kembali ia mengangkat tangan.
"Aku punya villa besar di daerah sekitar Nagoya! Bagaimana, kalau kita menginap di sana saja?" seru gadis itu riang.
Gaara yang berada disebelah Naruto menggumam pelan.
"Bisa saja sih… Kalau tidak salah, di Nagoya, banyak orang mengelola Onsen, dan disana juga banyak oleh-oleh kue manju… Hm… juga pantainya disana bagus, bersih dan terawat…" gumam Gaara sambil mengusap-ngusap dagunya seperti seorang detektif.
Naruto mengangguk riang. "Benar sekali! Seratus untukmu, Gaara!" puji Naruto, yang dihadiahi pula oleh senyuman maut sang Sabaku.
"Di Villa keluarga Namikaze, banyak resortnya! Walaupun kami jarang kesana, tempat itu sangat terawat. Pemandangan dari balkon kamar lantai atas, langsung menghadap pantai Ise, yang terkenal dengan kecantikan pantainya.
Di sana, kita bisa diving, dan memasak ikan, tanpa harus kena pelanggaran dari penjaga pantai! Berenang sekehendak hati! Hei! Aku lupa memberitahu kalian! Ikan-ikan disana bagus-bagus loh!
Dan kalian tau? Pantai didekat Villa ku itu kosong! Jadi, selama kita menginap disana, yang ada hanyalah kita semua dan semua pelayanku! Tak ada orang lain! Karna, letak posisi Villa ku itu, jauh dari keramain kota.
Dengan kata lain, kami sengaja membangunnya, untuk bersantai dari kejenuhan kota Konoha! Kalau kalian ingin berbelanja oleh-oleh, ataupun pergi ke festival, kita bisa pergi ke desa sebelah Villa ku, yang letaknya tak terlalu jauh dari Villa ku. Bagaimana? Tertarik?"
Serempak semua yang ada disana mengangguk pasti. Haaah… mana ada sih, orang yang bisa menolak keindahan pantai, serta keksotisan dunia bawah laut yang begitu dipuja-puja oleh kalangan banyak orang.
Pemandangan kamar, yang langsung menghadap pemandangan pantai.
Memandangi terbenamnya matahari, dan terbitnya matahari, dengan leluasa dari pinggir pantai.
Bebas berenang, tanpa menghiraukan orang-orang yang bergerombol ingin berenang juga –karna disana sama sekali tidak ada orang- .
Diving, tanpa harus membayar –karna semua yang ada disana, adalah fasilitas pribadi, jadi tidak perlu bayar-.
Memangnya ada orang yang bisa menolak semua fasilitas alami maupun modern itu? Sepertinya tidak ada.
"Waow! Keren! Membayangkannya saja aku sudah serasa, bermimpi! Apalagi datang kesana! Keren, Naruto!" puji Kiba seraya mengacungkan jempolnya. Naruto hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Sasuke yang berada disebelah Gaara –dengan berat hati, karna tempat berdirinya diserobot oleh si mata panda- menatap Naruto tidak percaya, tapi segera ditutupinya.
Memang benar, kekayaan keluarga Uchiha, masih lebih tinggi satu tingkat, dibandingkan dengan kekayaan keluarga Namikaze. Dan hampir sama dengan Naruto, ia juga punya banyak Villa. Bukan hanya di Jepang, tapi juga di beberapa negara lain. Seperti; Amerika, Hawai, Perancis, dll. Tapi, tak pernah didengarnya, kalau keluarga Namikaze, punya Villa mewah didaerah sekitar Nagoya. Mana indah pula pemandangannya! Pasti tempat itu bisa menjadi tempat romantisnya dengan Naruto! Okey, ternyata ia segera merencanakan sesuatu. Ada udang dibalik tudung… *plak!*
#readers: Batu, woy! Bukan tudung! Emang makanan?#
#Author: Lha, Udang kan emang diciptain buat dimakan! Pada akhirnya berada di tudung juga toh!#
#readers: (sweatdroped)#
Tanpa sepengetahuan Sasuke. Dua orang dari berbeda marga yang berada disebelah kanan dan kirinya, kini tengah menyeringai tipis. Mungkin isi otak mereka hanyalah. BAGAIMANA CARANYA, MEMBUAT NARUTO BERPIHAK PADA SALAH SATU DIANTARA MEREKA, DAN RENCANA AGAR DAPAT BERDUA-AN DENGAN GADIS ITU. Okey, Author lupa matiin capslock.
"Naru-chan… apa disana, aman?" tanya Hinata yang berdiri disebelah Kiba. Kiba menoleh sedikit lalu merangkul kekasihnya itu mesra. Membuat semburat kemerahan menyambul dikedua pipi gadisnya itu.
"Tenang saja, Hina-chan! Kalau ada apa-apa denganmu, aku siap kok menolongmu. Aku kan harus menjadi pacar yang baik…~" ujar Kiba dengan kenarsisannya, yang mengundang tawa dari berbagai pihak. Terkecuali untuk Trio Macan kita. #readers: Jiah…~ Gag ada yang lebih bagus lagi?#
"Gombal kau, Kiba!" sahut Sakura, yang berada diantara Sasori dan Ino. (Ps: Mereka berdiri melingkar)
"Hahaha…~!"
Naruto yang merasa perutnya mulai sakit, akibat terlalu banyak tertawa, menghentikan candaan mereka.
"Su-sudah! Perutku sakit, nih!" teriaknya, sambil terus memegangi perutnya yang mules, seperti terpelintir.
"Hn, sebaiknya kau jawab dulu pertanyaan si Hinata tadi." Gumam Sasuke datar sambil bersedekap. Naruto mengangguk, setelah ia mengusap air matanya yang keluar dari ekor matanya.
"Baiklah. Kalau masalah keamanan, aku jamin disana sangat aman. Kalau kita semua sepakat pergi kesana, sehari sebelumnya aku akan menelpon Bodyguard keluarga kami yang berada disana. Bagaimana?"
Semuanya mengangguk hampir bersamaan.
"Err… Naruto… apa dirumah mu ada pemandian air panasnya, juga? Soalnya, kau tidak menyebutkannya, tadi." Tanya Ino. Naruto mengangguk pasti.
"Tentu saja! Kau kira, buat apa aku mengajak kalian semua ke Nagoya, kalau tidak untuk menikmati kolam pemandian air panasnya! Dan tenang saja! Dirumah ku juga ada Onsen-nya kok! Ada dua kolam air panas. Yang pertama khusus perempuan dan kedua untuk laki-laki! Dan aku akan menyiapkan beberapa kejuan untuk kalian!"
Sakura mencondongkan badannya sedikit, mendekat pada Naruto.
"Jadi, kapan kita berangkat?" tanya gadis berambut soft pink itu, dengan mata berbinar-binar tidak sabar.
Naruto tersenyum senang. "Kalau bisa, secepatnya kita akan kesana." Gumam gadis berbola mata seindah batu safir itu.
Kiba mengangkat tangannya. Naruto menoleh sedikit kearah Kiba.
"Bagaimana, kalau Senin depan saja? Saat liburan 2 minggu kita dimulai!" seru pemuda itu tidak sabar.
Ten-ten menggeleng ragu.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya gadis bercepol dua itu. Sai dan Neji mengangguk, membenarkan.
Ino dan Sakura menggeleng cepat. "Tidak! Aku malah sudah tidak sabar untuk kesana!" Sakura menoleh kearah Ino, yang disambut oleh anggukan gadis itu. "Dan kami juga cukup penasaran dengan kejutan Naruto ini!" seru Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya kedepan, dengan mata berkobar layaknya api.
"Lebay…~" gumam Ino yang berada disebelahnya. "Jangan pernah bilang, kalau aku pernah mengenalnya."
Sakura merengut kesal. "Piggy!" sungutnya.
Naruto menatap satu-persatu temannya yang berada disekeliling nya. Menatap mereka serius.
"Aku serius. Jadi, kapan kita akan berangkat? Soalnya, aku juga harus menyiapkan hal-hal yang lainnya, kalau kita sepakat untuk pergi secepatnya." Jelas gadis itu serius. Trio macan kita memandang takjub Naruto, yang ternyata bisa serius juga.
"Yang setuju dengan Kiba, dimohon untuk mengangkat tangannya. Yang tidak, ya tidak usah."
Beberapa detik kemudian, semua orang yang ada disana mengangkat tangannya. Naruto tersenyum puas melihat itu semua.
"Kalau begitu, kita sepakat untuk pergi kesana hari Senin. Dimohon untuk semuanya, hari Minggu nanti, sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan nantinya. Dan ingat, hari Senin aku akan menjemput kalian di sekolah, sekitar jam 07.00 pagi. Mengerti?"
Semua mengangguk paham. Sai mengangkat tangannya.
"Apa tidak terlalu pagi, heh?" tanya pemuda Yaoi itu. Naruto menggeleng tidak.
"Kalau kita pergi jam segitu, kita akan sampai disana saat waktunya makan siang. Sampai disana, kita makan siang dulu, baru bersenang-senang." Jawabnya santai.
"Lalu, kita akan naik apa kesana, Naruto?" tanya Gaara, Naruto menolehkan kepalanya sedikit, untuk bisa menatap mantan pacarnya itu.
"Hm… sebenarnya ada dua jalur… Kalau jalur udara, jelas saja kita akan naik pesawat. Sedangkan jalur Darat, kita akan naik Bus besar khusus kepunyaan keluarga Namikaze, saat camping besar-besaran bersama keluarga. Kalau untuk kecepatan, akan lebih cepat Pesawat, tentu saja. Jadi Bagaimana?"
Mereka terdiam sebentar. Tak berapa lama, Sasuke menyahut dari sebelah Gaara.
"Terserah kau saja, Dobe. Kau kan yang punya itu semua." Sahut pemuda berambut bebek/ayam itu. Mengundang anggukan dari semua temannya yang ada disana.
"Dari sekolah, kita akan naik Bus ke bandara Narita. Dan tenang saja. Kalian tak perlu repot-repot membeli tiket, karna, seperti Sasuke. Aku juga punya pesawat pribadi, dan kapasitasnya juga mencukupi. Lalu, dari bandara Internasional Chūbu Centrair, kita akan dijemput Bus keluargaku disana. Mengerti?"
Lagi-lagi semua temannya mengangguk, bak boneka penari Hawai di bar mobil. *ngasal!*
"Baiklah! Sebaiknya kita pulang sekarang. Dan ingat pesanku tadi! Okey?"
"Hn,"
"Aku tidak bertanya padamu saja, Teme!"
"Hahaha…~!
~777~
Naruto's PoV
Skip Time
"Apa Kau bilang tadi? Akan mengajak teman-teman mu pergi ke Villa kita yang ada di Nagoya?"
Aku mengangguk pelan, seseorang yang ada ditelpon itu Dei-nee. Sekarang, aku sedang minta persetujuannya untuk memperbolehkan ku pergi ke Nagoya.
"Iya. Aku akan mengajak mereka kesana. Hanya untuk bersenang-senang. Mumpung liburan, Dei-nee… kan bosan di Konoha terus." Ucapku sambil menuangkan Coca Cola ke gelasku.
"Iya-iya… aku mengerti. Sebenarnya bagus juga rencana mu. Sementara kau kutinggal di Konoha, bersenang-senanglah kau disana. Sudah dulu, ya! Aku masih banyak pekerjaan. Secepatnya aku akan pulang kerumah. Ingat, selama disana, kau harus rajin minum obat! Jangan sampai telat!"
Aku mengangguk malas, setelah sebelumnya meneguk beberapa tegukan Coca Cola yang aku tuang tadi.
"Ya, aku mengerti, Dei-nee… Ya sudah, sepertinya kau sedang sibuk sekali disana."
"Ya, kau benar, aku sedang sibuk sekali. Jaa…~! Hati-hati disana!"
"Ya."
Piiip…
Sambungan terputus.
"Haah…~ melelahkan juga menelpon sana-sini, untuk keperluan hari Senin nanti…" gumamku pelan, seraya melanjutkan perjalanan ku menuju kamarku yang berada di lantai 2.
Kubuka pelan pintu kamarku. Warna-warna bernuansa orange, biru muda (langit), biru gelap, dan putih, segera menyambutku.
Kutaruh gelasku yang masih berisi minuman Coca Cola itu, ke buffet sebelah tempat tidurku yang berukuran King Size.
"Apa persiapkan sekarang saja, ya?" gumamku bertanya pada diri sendiri. Kupandangi terus lemari pakaianku, yang berada tak jauh dari tempat tidurku. Seulas seringaian terpampang jelas di wajahku.
"Sekarang saja!"
End Of Naruto's PoV
~777~
Skip Time
Monday, at 07.00 o'clock
"Kemana si Dobe, itu?"
"Entahlah, mungkin dia beli bensin dulu, atau terjebak macet."
"Hn,"
Cahaya matahari pagi bersinar cerah, menyinari tempat-tempat di Bumi ini. Tak terkecuali untuk sekolah mereka yang satu ini.
Beberapa gadis dan pemuda, dengan pakaian santai, tengah berdiri menunggu seseorang yang seharusnya sudah sampai duluan daripada mereka. Tapi kenyataan berkata tidak. Haha…~
"Sasuke…~ tadi, sebelum berangkat, aku membuatkan bento ini untukmu! Sepertinya kau belum sarapan, tadi." Ucap Sakura dengan genitnya, seraya menyodorkan sekotak ukuran sedang bento, yang berisi; Telur dadar gulung (Tamagoyaki), Sosis goreng, nasi putih, yang diatasnya dihiasi Nori berbentuk hati, dan tak lupa, Tempura goreng, yang menggugah selera.
Tak ayal lagi. Sasuke yang dari tadi pagi belum makan, meneguk ludahnya kasar. Ya, ia akui, ia sendiri ngiler, melihat makanan yang begitu menggugah seleranya ini. 'Walaupun tak ada tomat, tak apalah! Yang penting makan!' pikir Sasuke.
Bukan Uchiha, kalau tidak berkeprilakuan 'JAIM' didepan perempuan. Tanpa basa-basi lagi, dengan menyangkut-pautkan hal ini dengan 'HARGA DIRI' semata. Dengan acuhnya Sasuke memalingkan wajahnya kearah lain. Dalam hatinya, ia berdoa semoga Sakura memaksanya untuk makan. *Author: Hahaha…~ Sasu-chan licik!* *deathglare ala Sharingan* *tepar seketika*
"Yaaah…~ Sasuke…~ Ayo dong! Aku sudah bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkannya untukmu! Kasihanilah, aku Sasuke…~" bujuk Sakura, terus meminta agar pemuda 'JAIM' didepannya ini mau berpaling, dan menerima permintaannya untuk memakan bento buatannya itu.
Dengan lirikan supar tajam. Sasuke melirik Sakura.
"Hn, aku memakannya karna aku kasihan padamu. Itu saja, jangan berpikiran yang macam-macam." Ucap Sasuke akhirnya dengan padat, dingin, dan datar, sama persis dengan es batu! *plak!* walaupun, es batu sedikit lonjong… *plak, again!*
Mata emerald gadis berambut pink itu membulat+berbinar-binar, saat mendengar jawaban dari pemuda pujaan hatinya ini. Dengan kepala yang berangguk-anggukan ria. Ia menyodorkan bento nya itu sekali lagi, dan kali ini diterima Sasuke.
"A-arigatou, Sasuke!" serunya senang. Sasuke hanya mengangguk sekilas, sebelum mencari tempat duduk yang pas untuk menikmati bekal bento, buatan mantan pacarnya ini.
Senyuman bahagia, tak pernah lepas dari bibir gadis berambut soft pink itu. Mata emeraldnya terus mengamati Sasuke dengan seksama. Satu suap… dua suap… tiga suap… Apakah Haruno Sakura sudah gila, saking bahagianya? Author juga sempet ngira Sakura gila… *plak*
"Bagaimana rasanya, Sasuke?" tanya Sakura memberanikan diri, bertanya pada M.P nya ini (baca: Mantan Pacar). Sasuke yang sedang sibuk menyuap nasinya dengan sumpit, hanya melirik gadis itu sekilas, sebelum menjawab.
"Hn, lumayan…"
Seulas senyum manis terukir di bibirnya yang ranum.
"Arigatou, ne."
Tak berapa lama setelah menunggu. Akhirnya, sebuah Bus besar berwarna biru berhenti didepan mereka. Kiba, Hinata, Ino dan Ten-ten, yang duduk langsung berdiri, dan menatap Bus itu penuh harap. Semoga Bus itu adalah, Bus milik Naruto. Dan benar saja. Itu memang Bus Naruto.
"Yo, Minna! Ohayou, ne!" teriak seorang gadis berambut pirang keemasan, dengan lantangnya, setelah keluar dari Bus itu.
"Naruto! Kami sudah menunggumu dari tadi, tau!" teriak Ino kesal.
Naruto memanyunkan bibirnya. Kesal, karena sapaannya tidak dibalas.
Gaara dan Sasori yang berada ditempat itu menjadi sedikit salah tingkah, saat pandangan mereka bertiga –Naruto, Sasori, Gaara- bertemu. Rengutan gadis itu berubah menjadi senyuman manis di pagi hari, yang bisa membuat dua pemuda itu terbang ke langit. Ahh…~
Oooh… coba kalian bisa melihatnya… Naruto tampak manis, cantik dan dewasa, dengan penampilannya yang sekarang.
Bisa kalian bayangkan. Naruto, mengenakan Kemeja putih polos, dengan kantong bertuliskan merk kemeja itu, di dada sebelah kanannya. Lengan kemejanya berukuran ¾, yaitu sampai siku saja, dengan sedikit belahan di sisi kirinya dan dihiasi kancing orange kecil, sehingga sebagian permukaan kulit lengannya terekspos dengan baik.
Untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Gadis itu, memakai rok berwarna orange muda, yang melebar sampai lutut, agar tidak susah bergerak.
Bila kita bayangkan kebawah lagi. Naruto memakai sepatu berpantofel berwarna putih, yang terbuat dari kulit.
Dari badan sudah oke, sampai kebawah –kaki-. Sekarang, kita bayangkan tatanan rambutnya.
Rambut pirang keemasannya yang panjang, disisir rapi. Poni panjangnya disisir ke pinggir, agar terlihat bagus. Rambutnya digerai indah kebelakang, dengan accesoris bandana manis, berwarna senada dengan roknya, yang berwarna orange muda.
Membayangkannya saja sudah pada ngiler, bukan? Apalagi Author, dan chara-chara yang lainnya. Yang melihat hal ini secara LANGSUNG! READERS-READERS SEKALIAAAN! LANGSUNG! Sorry, Author histeris gara-gara kecantikan kakaknya Author ini. *plak!*
"Hei! Gaara? Sasori? Kalian tidak apa-apa?" satu pertanyaan itu, membangunkan Duo Red ini, dari lamunannya.
"Y-ya… kami baik-baik saja…" jawab keduanya dengan terbata-bata. Naruto hanya tersenyum manis melihat tingkah laku kedua temannya –ralat- satu teman dan satu mantan pacarnya ini.
Tiba-tiba mata Safir Naruto terbelalak, seakan lupa sesuatu. Bukan barang, tapi manusia. Yap! Tepat sekali! Dialah Sasuke.
Mata safir Naruto meredup sedih, ketika melihat Sasuke dan Sakura yang berada tak jauh dengan gerombolannya. Mantan pasangan itu duduk berdua, dengan Sakura yang terus menatap senang kearah Sasuke. Sedangkan pemuda itu? Masa bodoh, yang penting makan, begitulah menurutnya.
"Sekarang, aku balik bertanya padamu." Ujar Gaara, membuat gadis itu menoleh lagi padanya.
"Eh?"
"Aku balik bertanya. Ada apa denganmu, Naruto?" tanya Gaara sambil berkacak pinggang, menatap lurus pada mantan kekasihnya.
Naruto yang bingung akan menjawab apa, segera menggeleng cepat.
"Aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja!" teriak gadis berambut pirang manis itu.
Sebelum Gaara membalas perkataannya, terlebih dahulu ia berteriak memanggil seluruh temannya yang ikut untuk masuk ke dalam Bus-nya. Dan tentu saja, hal ini mengundang tanda tanya di benak pemuda yang beranjak dewasa itu.
~777~
Skip Time (again)
At Nagoya City, In the Bus
Setelah, sekian lama berada didalam Pesawat pribadi milik keluarga Namikaze –Naruto-. Akhirnya, mereka sampai juga di kota Nagoya. Dimana mereka akan menghabiskan waktu liburan mereka, di daerah itu, tepatnya di Villa besar milik salah satu teman mereka, Naruto. Dan sekarang, mereka sudah berada didalam Bus, melanjutkan perjalanan mereka ke Villa Naruto.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala. Berarti, tinggal satu jam lagi mereka akan sampai di tempat surganya para pemabuk. Hehe…~
"Hei, Naruto! Kapan sampainya, sih? Aku sudah tidak sabar lagi, tau!" gerutu Kiba, yang sudah mulai bosa dengan semua permainan, yang disediakan oleh Naruto, didalam Bus.
Naruto mendengus malas. "Kau mau aku turunkan disini, hah?" ancam gadis itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari mini TV yang tersedia di meja berukuran sedang didalam Bus-nya
Kiba menggeleng kuat. "Tentu saja tidak! Kau ini apa-apa-an sih!"
Naruto memutar bola matanya tidak suka.
"Kalau begitu ya diam saja! Aku lagi sibuk nih!" sungut gadis bermanik safir itu.
Kiba mendecih pelan. "Halah, sok sibuk!" ejeknya, membuat Naruto yang sama sekali tidak bisa diganggu saat ia main game Sims Pet 2 kesukaannya, harus menahan emosi. Karna, biasanya ia selalu kalah, kalau berpaling dari permainan itu. Ya, Sims itu permainan santai, tapi kalau salah ambil tindakan, duit + nyawa + harta = bakal melayang tanpa jejak. Ckckck…
"Terserah…" dengus gadis itu.
Sakura yang berada disebelahnya hanya terkikik geli. Entah ada apa, sepertinya gadis itu kerasukan setan Bus… Kyaaaa…!
Sementara mereka bertiga –Naruto, Sakura, dan Kiba- sibuk dengan acara mereka sendiri-sendiri, mari kita lihat yang lainnya.
Ino & Ten-Ten
"Menurutmu… siapa yang lebih tampan, antara Taemin? (maaf kalau salah namanya) atau Jung Hyun?" tanya Ino disela-sela mengikir kukunya.
Ten-Ten yang berada didepannya terlihat berpikir.
"Hm… sepertinya Jung Hyun…" gumam gadis itu, menjawab pertanyaan dari Ino.
Setelah mendengar jawaban dari Ten-Ten, Ino langsung menghentikan kegiatannya saat itu.
"What the hell? Kau bilang tadi Jung Hyun?" Ten-Ten mengangguk takut. "Enggak bisa begitu, dong! Secara, gituh! Taemin is the best!" seru Ino tak terima.
Ten-Ten yang sama sekali bukan Korean Lovers, hanya bisa menatap Ino kaget+sweatdroped, karna ke-lebay-an temannya itu, yang kelewat batas.
"I-iya…" gagap Ten-Ten, yang masih syok dengan ke-lebay-an Ino.
"Ya ampun! Taemin itu cakep! Imut! Kau gag pernah melihatnya langsung, sih! Apa jangan-jangan kau belum pernah melihat Drama nya yang baru?"
Oke, kita lewati yang ini.
Hinata
"Zzzzzz… zzzzz… zzzz… Kiba-kun… jangan naik yang itu… nanti ngompol… zzzzzzz… zzzzz…
Lewat!
Shikamaru & Sasuke
"Groook…~"
"Hn,"
"Groook…~ Grooook…~ Hik…!"
"Hn, Hn…"
"Ummm… nyam… nyam… Sasuke… I love you…~"
"H-!"
"Ki…~ Ding…~"
"He?" (cengo+sweatdroped)
Tak perlu basa-basi lagi. Lanjut!
Neji & Sai
"Ennnh…~ Ne-nejjji…~!"
"Mmmph…"
"Ssshh… aaahhh…~~"
Yang ini gag usah.
Gaara & Sasori
"Hei, Sasori!"
"Apa?"
"Menurutmu, merahan rambutmu? Atau rambutku?"
"(sweatdroped)"
"Hei! Jawab!"
"Terserah kau saja."
"Kalau begitu, rambutku saja, ya?"
"Hn. Terserah, kataku."
"Yeeey!"
"(sweatdroped tingkat tinggi)"
"Apa liat-liat?"
"Enggak…"
Hening…
Kenapa semua chara Author pada gag jelas begini? Ya sudahlah! Come back to the story saja!
"Kemana pasangan Yaoi kita?" tanya Naruto tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari mini TV yang ada didepannya.
"Bukannya tadi mereka ada dikamar mandi?" tanya Sakura balik bertanya, sama dengan Naruto, tanpa mengalihkan pandangannya.
Mata safir milik Naruto terbelalak kaget.
"Hie? Ngapain mereka disana?"
Sakura mengedikkan bahunya, tidak tau.
"Jangan-jangan mereka…"
Naruto menggantungkan kalimatnya, membuat Sakura penasaran dan mem-pause permainan mereka, lalu menatap Naruto serius.
"Jangan-jangan apa?" tanya gadis itu penasaran.
"Jangan-jangan mereka…"
"Jangan-jangan apa?" tanya Sakura lebih keras lagi.
"Jangan-jangan…"
"Jangan-jangan ap-"
"AAAH…~ NEEJIIII…~!"
Hening…
Tegang…
Bulu kuduk Author berdiri…
Sakura mengangguk kaku, paham dengan perkataan Naruto tadi. Sedangkan si gadis berambut pirang yang mengatakannya tadi, hanya meneguk ludahnya kasar, dengan bulu kuduknya yang berdiri sempurna.
"A-a-aku tak m-menyangka.. mereka a-akan m-melakukannya disini…" gumam seseorang, yang langsung membuat duo sahabat itu menoleh, dan mendapati salah satu teman mereka, yang sudah bangun dari tidur cantiknya.
"Hinata?" panggil Sakura gugup. "Kau sudah bangun?"
Hinata mengangguk, lalu tersenyum.
"Ya, sebenarnya sudah dari tadi. Tapi, aku sempat berhenti menguping dulu di kamar mandi, karna mendengar suara-suara aneh. Dan ternyata itu adalah kelakuan sepupuku sendiri…" gumam gadis itu, seraya duduk diantara Sakura dan Naruto yang sedang duduk di sofa hitam Bus.
Naruto tampak tegang. Okey, sebelumnya ia hanya pernah melihat adegan seluncuran –rated M- di komik-komik yang dibelinya. Dan belum pernah, seumur hidupnya ia mendengar semua itu langsung! Memang, belum separah 'melihat'. Kalau mendengar saja sudah merinding! Apalagi kalau melihat? Ckckck…
"Maaf ya, Naruto…" gumam Hinata, yang sukses membuat Naruto terkejut.
"Eh? Untuk apa?" tanya Naruto seraya menaruh stik PS –setelah di pause- nya di meja didepannya, dan menatap Hinata.
Hinata menunduk malu. "Emm… Neji sudah berbuat seenaknya di kamar mandi Bus-mu, tanpa sepengetahuan mu… Maaf…"
Naruto menggeleng kuat.
"Tidak! Tidak apa-apa… M-mungkin mereka sudah tidak sabar lagi, jadi melakukannya disini. Tidak apa-apa, aku maklum kok…" balas gadis manis itu dengan tergagap. Manik lavender Hinata menatap Naruto.
"B-benar tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa…"
Lagi-lagi Hinata tersenyum mendengar jawaban dari sahabat karib nya ini. Kalau saja Kiba tidak tidur, akan ada sekte sesat disini. Haha…~
~777~
Hari sudah mulai siang. Mereka semua tak menyadari, kalau tempat yang mereka tuju, sudah berada didepan mata.
Merasa mesin Bus-nya berhenti. Kedua kelopak mata safir Naruto terbuka. Matanya menyipit, mencoba menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk kedalam retinanya.
Tidur bersandar di kursi memang pilihan yang buruk. Tentu saja, disana hanya ada satu buah kamar. Dan tempat itu sudah diisi duluan, oleh duo Yaoi teman mereka yang kelelahan.
Naruto sedikit melakukan gerakan pada lehernya yang kaku. Dilihatnya, disebelah kanannya, kedua sahabat karibnya. Sakura dan Hinata yang tertidur lagi, karena satu hal yang sama. Kelelahan.
Senyum tipis terukir diwajahnya, saat melihat sang pangeran es, rivalnya yang ternyata mencintainya, sedang tertidur pulas, disebelah Shikamaru, yang dari pertama sudah tidur duluan.
'Lucu…' hanya itu yang ada dipikirannya.
Perlahan ia berdiri dari posisinya yang sebelumnya. Dan disaat itu pula, Sebuah Villa besar, atau yang lebih tepatnya lagi rumah tradisional Jepang, segera menyambut penglihatannya. Senyum atau yang lebih tepatnya lagi cengiran gembira, tersungging dari bibirnya.
"KITA SUDAH SAMPAAAAI…~!"
*TBC*
Author's Note:
Hm… Mi-chan ngerasa kalo humornya dikit disini… tapi ya sudahlah! Yang penting kehumoran saya kambek! Hahaha…~!
Ya, Mi-chan memang gag berbakat mutus cerita… sama sekali gag bakat… *pundung*
Ouh, ya readers! Sekedar berita baik! Chap depan para Trio Macan *readers: Jiaah…~ Ini lagi…~!* alias SasuGaaSaso, pada menunjukkan charm nya pada Naru. Dan Mi-chan yakin, ntar di chap berikutnya semua readers pada bakal nosebleend, membayangkan para chara Author yang cake-cakep itu… Hakama… geta… obi… basah… futon… Aaaah…~ Mi-chan gag sanggup lagi dah! Saking cakepnya! Aiiih…~
Yap! Sekian dulu A/N dari Mi-chan! Baiklah! Sekarang marilah untuk Mi-chan saja, membalas para reviewers readers sekalian!
Erennaru Uzumaki-chan: Hejehe…~ Ini sudah apdet koq! Tenang ajah!
Eh? Naruto jangan dimatiin gituh? Emmm… gimana, yah? Errr… you can see at chap depan! Hahaha!
Makasih udah bilang fic Mi-chan Cotooooo Cuiiiit…~! Haha…~ Doushimashite… terima kasih atas reviewnya yah! Review again!
Annisa Hyuuga-chan: Hiks… koq kaya kepaksa, sih, Imouto-chan?
Hie? Chap yang ini kelewat sedih, ya? Jiaaah…~ Jangan nangis gitu dong, Imouto-chan! Ntar Onee-chan jadi sedih juga! Hiks…~ *udah sedih duluan karna udah ngeliat kerangka ending*
Sebenarnya typo-typo itu bukan Onee-chan yang bikin! Entah kenapa beda dengan yang udah di publish, ama yang Nee-chan ketik di laptop! Tapi, yah… baguslah, kalo gag ngaruh banyak…
Yayaya… ini Onee-chan sudah apdet! Sankyuu, ne! Hweeehehe….~
Sun Setsuna: Hedeeeh…~ Senpai mah…~ Kagak itu mah! Dia Cuma kembali ke sang pencipta untuk beberapa menit… Haha…! *jduak!*
Ya, pas itu Mi-chan berusaha buat humor. Walaupun, mungkin hanya sedikit Humor… tapi makasih banyak atas reviewsnya!
Ini udah apdet, sankyuu again Senpai! Review again!
CCloveRuki: Hehehe… *ikutan ketawa gaje* Iya-iya, ini sudah apdet koq… review lagi, ya!
Yukira: Ukh… Mi-chan gag tau harus ngoment apa… *ngikut-ngikut*
Jiaah…~ Jangan nangis bu!
Naru-chan gag kenapa-napa koq…~ Cuma dipanggil sebentar… *plak!* Dan menurut Mi-chan gag misterius tuh! *readers: ya iyalah! Elo kan Authornya!* Hehe… iya-yak… lupa, saya!
Yuppy! Mi-chan udah apdet, nih! Trims atas reviewnya! Review lagi, dattebane!
NaruDobe Lista-chan: Berarti… kalo Lista-chan senyam-senyum sendiri plus nangis gaje… berarti… Lista-chan gila, dong? *inosen* *plak-plak-plak-buak!* Ampyuuun…~ *banci mode on*
Gag usah gugup kali~ Mi-chan aja enggak! *readers: ni anak…*
Jiaaah…~ Gado-gado? Cabe-nya berapa? *sambil ngulek* *plak!* Kasihannya dikau, wahai Lista-chan… *maklum… habis maen drama sangkuriang* diperintah kan siapakah dikau, untuk motong bawang merah satu ton? Biar Mi-chan hajar itu orang! *readers: itu elo sendiri!*
Hm… bahasa planet? Itu bahasanya Sasu-chan kalo lagi tidur! Dia sering ngigau gini… "Groook… groook… groook… hn…" sepertinya… Sasu-chan adalah seorang alien dari planet babi, yang nyasar ke fic ini… Hm… *plak!*
Wah, hebatnya daku! Bisa menginspirasikan orang! Bagus deh… Alhamdulillah…~
Ini sudah apdet…~ Makasih atas reviewnya! Review lagi, dattebane!
Ren-Mi3 NoVantA: Konbanwa, Ren-san!
Kyuubi terlalu bersinar waktu itu! Sehingga membuat mata Mi-chan sekarang jadi tajem kalo liat cowok ganteng… *plak!*
Kemungkinan besar, kita nanti melewati yang begituan… Hmm… terlalu danger kayanya… *plak!*
Iya juga, yah… sebelum Mi-chan nyari pacar (?)sebaiknya Mi-chan akhiri coment review ini…
Dattebayou! Arigatou, atas reviewnya! Review lagi!
Kanon 1010: Oooh… anda ngiri? Sama dong! *buak!*
Jiaaah…~ Anda ragu kenapa? Sasori kaya tipe playboy gitu? Haahaha! Sepertinya banyak orang salah paham akan pair dan chara yang satu ini…
Ya, sudahlah… sebelumnya, trims atas review yang sangat berharga ini! Arigatou…~ Review lagi!
Misyel: Hm… gag papa… terima kasih… review lagi ya!
Kyosuke ShinoZuki DaRkKniGhT47: Jiaah… dia baru sadar kalo udah review…~
Hohoho… iya ini sudah apdet… Apa?... Hm… sepertinya gag ada… kemaren Mi-chan udah baca ulang, tapi gag ada…mungkin Sato-chan nya aja yang salah liat… perlu kacamata? *plak!*
Hehe… terima kasih atas reviewnya! Review lagi, yah!
Naomi Arai: Waaaah…~ ada yang review…~ *pletak!* Yeee…~ moga-moga review lagi…~
Amiiin…~
Arigatou~
Yuna Claire Vessalius capek login: Hahaha…~ Jack ganti nama! Kalo gitu, Mi-chan juga ikutan, ah! 'Mi-chan males logiiiin…~' Wkwkwk….!
Mengapa, oh mengapa…? Satu kemaren aku bikin orang nangis mulu…~ Hiks… berdosakah daku? *pundung*
Ingusnya jangan ditahan! Ntar bocor! *plak!* Sudah…~ Jangan nangis lagi~ Mi-chan jamin, di chap ini Jack bakal ketawa lagi, koq! Hohoho…~
JACK-CHAN! LAWAN INGUS MU! GANBATTE KUDASAI! *plak-plak-buka-duak*
Ano… itu typo-typo… bukan Mi-chan yang buat… soalnya… setelah Mi-chan baca ulang di laptop, sama sekali gag ada typo… *kurasa*
Jiaaah…~ Naruto punya gelar baru, nih! Lumayan… NONA LOLA, NOLA! BWAKAKAKAk….!
Sudah, jangan sedih lagi… mendingan review chap Mi-chan yang ini ajah…~
Arigatou, ne! Review lageee…~
End Of Bales Review
Setelah bersusah payah ngetik… bisakah anda-anda sekalian memberikan Mi-chan sebanyak-banyaknya review dari para readers yang numpang lewat, numpang ke WC, ataupun numpang kemana ajah… *plak!*
Dengan ini, Mi-chan akhiri dengan….
…
…~~~!
