Our sweetest gratitude for:

Neng Hinata, Narusasu, temedobe, Uchiha Nata-chan, DesyFujoYaoi, Imperiale Nazwa-chan, Apdian Laruku, Ashahi Kagari-kun, yashina uzumaki, dan Artemishaish.


SasuNaru vs. NaruSasu

a drabble game by k i z u n a s

.

Naruto is a manga created by Masashi Kishimoto, and we do NOT claim anything from it, nor we create any profit from making this. This is purely fan-made, and made by fun and entertaining purposes only.


2 Januari—


Dingin.

Satu kata yang membuat Naruto mulai bergerak dalam tidurnya, mencoba kembali menghangatkan diri, melindungi tubuhnya dari udara dingin yang menusuk.

Sungguh, sejak kapan suhu udara di kamarnya bisa serendah ini? Bahkan piyama oranye bermotif naruto milik Naruto tidak juga mampu melindunginya dari rasa dingin. Mungkinkah listrik di apartemennya dicabut lagi karena ia lupa membayar, sehingga penghangat ruangan sekalipun tak lagi bisa menyala?

Ah. Di mana selimutnya?

Masih dengan mata terpejam dan tubuh yang hampir meringkuk, kedua tangannya bergerak, jemarinya meraih dan meraba, mencoba mencari ke mana kira-kira sang selimut bergeser dari posisi aslinya karena gaya tidurnya yang sangat 'aktif'. Tetapi, bukannya menemukan selimut ataupun seprei yang melapisi kasurnya, tangannya malah meraba permukaan dingin dan keras, membuat Naruto terpaku, menimbulkan sebuah kerut di dahinya.

Tunggu. Ke mana kasurnya?

Mungkinkah ia lagi-lagi terjatuh dari ranjangnya? Karena itu satu-satunya alasan mengapa Naruto tak bisa menemukan selimutnya, tak juga bantalnya, apalagi kasur yang seharusnya berada di bawah tubuhnya.

Tapi…

Sembari meraba lagi permukaan dingin dan keras tadi dan merasakan bahwa permukaan yang dirabanya itu juga ternyata cukup kasar dan dilapisi dengan debu dan mungkin beberapa butir benda kecil yang sepertinya pasir, Naruto baru menyadari satu hal lagi.

Lantai apartemennya itu dari kayu, bukan batu!

Dan dengan itu, Naruto bergerak cepat untuk membuka mata dan menarik dirinya untuk duduk. Mendapati matanya berhadapan dengan beragam cahaya dari kejauhan yang berasal dari lampu-lampu bangunan desa Konoha, bintang-bintang yang bertebaran di atas kepalanya, serta kegelapan langit dan malam yang membungkus semuanya.

"HIEEE? KEMANA KAMARKUUU!" teriak Naruto sebelum mampu menguasai mulutnya, dan—

"Kamarmu ada di tempatnya, kok. Kaunya yang berpindah tempat."

—malah ada seseorang yang menjawab coretteriakancoret pertanyaannya itu.

"S-S-Sasuke?" Naruto berseru saat menyadari keberadaan sahabat/rival/partner/kekasihnya itu di sebelahnya, duduk bersila dengan tenang sembari memandang ke arah desa Konoha.

Dengan kaku Naruto memandang ke sana kemari, mencoba mencari tahu di mana ia sebenarnya, sampai ia akhirnya menyadari bahwa ia sedang berada di Gunung Hokage. Tepatnya, di atas kepala Tsunade. Eh, maksudnya, di atas ukiran patung kepala Tsunade.

"K-kenapa aku ada di siniii?" si pirang akhirnya bertanya lagi, kali ini tahu benar bahwa pertanyaannya akan dijawab oleh seseorang.

"Karena tidak peduli seberapa banyak kau mengidolakan ayahmu, rambut Hokage ke-4 itu terlalu tajam dan tidak seimbang untuk dijadikan tempat duduk."

"Bukan itu maksudkuuuh," Naruto mengangkat kedua tangan di hadapan dada dan menekuk jemarinya dalam posisi meme Y U SO. Dipelototinya Sasuke sembari melanjutkan, "Maksudku itu kenapa aku bisa ada di atas sini? Dan, dan—k-kau! Kau yang membawaku ke sini, kan!"

"Tentu saja, Idiot. Kau pikir kau kena semacam jutsu yang membuatmu bisa berpindah tempat sendiri, begitu?"

Kali ini Naruto kehabisan kata-kata untuk membalas dan hanya bisa meremas rambutnya gemas.

Begini ini mantan-misssing-nin yang orang-orang sebut jenius itu?

"Hatsuhinode." Satu kata itu menghentikan aksi dramatis Naruto. Ya, hatsuhinode. Melihat terbitnya matahari pertama tahun baru. "Aku sadar seharusnya aku mengajakmu kemarin. Tapi—kau juga tahu—mereka menahanku hampir semalaman untuk interogasi terakhir."

Naruto tak membalas. Mata birunya terus mengarah kepada pemuda yang satu, yang masih duduk dengan tenang dengan mata oniks yang mengarah ke timur, kali ini dengan mulut terkatup.

Rasanya Naruto bisa mendengar apa yang tidak diucapkan lagi oleh sang Uchiha muda.

Andai saja ia tidak pernah pergi. Andai saja Sasuke tidak pernah meninggalkan Konoha… meninggalkan Naruto, maka mereka pasti bisa menyaksikan matahari tahun baru bersama-sama. Menyaksikan mentari pertama di tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu… apalagi sekarang.

Andai saja.

Menahan napas panjang, pemuda pirang itu akhirnya memilih untuk duduk menekuk dan memeluk lututnya di hadapan dada, lalu berkata dengan cengiran dan nada menggoda, "Berarti ini bukan termasuk usahamu membuatku menyerah dan jadi uke, 'kan?"

Sasuke memandangnya.

Lalu menyeringai.

"Tentu saja itu juga, I-DI-OT."

"E-EEEH?"


"H-h-ha-hatsyuuu!" Naruto lagi-lagi tak mampu menahan rasa gatal yang menggelitik hidungnya dan akhirnya bersin untuk yang ke sekian kali. "Jadi—hmff!—habis hatsuhinode, sekarang hatsumōde, eh?" Merasakan adanya cairan di hidungnya, pemuda itu lalu mengangkat tangan kanannya dan menarik ujung kain lengan piyamanya untuk digunakan sebagai … tissue darurat.

Bukannya menjawab, Sasuke malah berhenti menaiki tangga menuju kuil, dan menatapnya dengan pandangan melecehkan.

"…apa?" pemuda yang satu bertanya sembari memasang tampang rubah—mata yang disipitkan, alis berkerut, dan bibir yang hampir dimajukan.

"Jorok."

"Ap—! Memangnya siapa yang menculikku tengah malam, lalu membawaku jauh-jauh ke Gunung Hokage, membiarkanku tertidur di atas patung yang dingin dan keras hanya dengan piyama tanpa selimut, dan menahanku sampai pagi di tengah-tengah musim dingin begini, hah?" Naruto berseru hingga kehabisan oksigen, tangannya masih terangkat dalam posisi menunjuk ke arah pemuda yang satu meski ia terengah.

Sasuke menghela napas. Diambilnya satu demi satu langkah ke anak tangga yang lebih rendah, menuruni tangga mendekati Naruto.

"Kalau kau kedinginan kenapa tidak bilang dari tadi, Idiot."

Kata-kata yang hampir diserukan lagi oleh Naruto kali ini tertahan oleh hal berikut yang Sasuke lakukan; melepas syal yang tadinya melingkari lehernya, dan bergerak menyampirkan benda itu di leher sang Uzumaki.

Kehangatan tubuh Sasuke masih tertinggal di syal itu.

Dan mungkin, mungkin, hal itulah yang segera saja membuat leher sekaligus wajahnya terasa begitu panas. Ya, pasti karena itu. Bukan, bukan karena ia merasa malu ataupun berdebar-debar dengan perlakuan Sasuke. Bukan karena apa yang Sasuke lakukan membuat ia merasa seperti anak gadis yang sedang sangat tergila-gila pada kekasihnya.

Tapi Sasuke ternyata malah melakukan satu hal lagi yang menambah laju detak jantungnya… meraih tangan kiri Naruto dengan tangan kanannya, menyelipkan jemarinya di jari-jemari Naruto, dan menariknya untuk kembali berjalan.

"Ayo."

Naruto tak bisa apa-apa selain ikut melangkah menaiki tangga dan mengikuti Sasuke. Wajahnya tertutupi oleh rambut pirangnya karena tertunduk. Rasa-rasanya kehangatan dari syal maupun jemari yang sedang membungkus telapak tangannya itu menyebar ke seluruh tubuhnya, dengan cepat menghilangkan dingin yang sedari tadi terus mengganggunya.

Curang. Sasuke curang.

Kadang pemuda itu bahkan tidak perlu mencoba untuk membuat Naruto merasa seperti ini, merasa ia begitu lemah dan perlu diayomi. Dan Naruto bahkan tidak tahu harus kesal atau malah senang mendapat perlakuan begini.

Hanya beberapa menit setelahnya, setelah melemparkan uang koin—pinjaman Sasuke, tentu—dan memejamkan matanya penuh khidmat, Naruto pun berseru dalam hati,

"Kami-sama, mohon pinjamkan kekuatan-Mu. Pokoknya, apapun yang terjadi, aku tidak boleh kalah!"


To be continued.


This drabble was created by denayaira (id 1760476) [denayaira], beta-ed by NeverEnding-Chou (id 3086456) [Chichan].