.

RAIN

~Part 2~

By Hana Jaeri

Paring :: Yunjae

Cast :: DBSK member

Length :: 2/3

Warning :: ini cerita YAOI, yang nggak suka nggak usah baca ! Ini fict hasil dari author aba-abal, cerita ngebosenin dan nggak jelas

.

.

Douzo ^^

.

.

"Jaejoong-ah, aku pergi kuliah dulu. Aku tidak membangunkanmu tadi pagi karena aku pikir sepertinya kau masih perlu istirahat. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Makanlah , kau semalam tidak makan. Dan juga aku sudah menyiapkan obat untukmu. Kau harus minum obat itu, kalau tidak aku akan membunuhmu, haha"

Itulah isi pesan yang ditinggalkan Yunho untuk Jaejoong yang saat ini sudah berada di meja makan. Saat Jaejoong bangun tadi pagi, Jaejoong melihat catatan dari Yunho yang menyruhnya untuk pergi ke mejamakan. Jaejoong lalu mengalihkan pandangannya ke arah bungkusan makanan yang tadi ada di samping catatan yang ditemukannya di meja makan tadi. Di samping bungkusan makanan itu, terdapat bungkusan yang lebih kecil.

"Pasti itu obat," gumam Jaejoong. Tanpa sadar Jaejoong mengulas sebuah senyuman tipis di bibirnya.

DRAP DRAP DRAP

Jaejoong menoleh ke belakang dan melihat seorang namja tinggi dengan membawa tas berwarna biru baru saja turun dari tangga. Namja itu menoleh dan menatap Jaejoong.

"Kau sudah bangun, Jaejoong hyung?" sapa namja itu ramah.

Jaejoong mengernyitkan keningnya.

Mengerti tatapan heran Jaejoong, namja itu langsung menyahut lagi, "Aku Jung Changmin, adik Yunho hyung. Hyung sudah berangkat kuliah dari tadi. Ia tadi menyuruhmu untuk makan dan meminum obatmu. Lalu kau bisa mandi di kamar mandi yang ada di kamar Yunho hyung, dan hyung bilang kau boleh memakai pakaian Yunho hyung dulu," jelas Changmin panjang lebar.

"Kalau begitu aku pergi dulu yah, Jaejoong hyung," Changmin tersenyum lebar dan langsung pergi menghilang dari pintu depan tanpa menunggu sahutan dari Jaejoong.

'Jaejoong hyung? Ternyata kakak adik itu sama saja, sama-sama sok akrab,' pikir Jaejoong.

Seharian itu, Jaejoong habiskan untuk duduk di depan TV yang ada di ruang keluarga. Setelah makan dan minum obat tadi, Jaejoong langsung mandi dan duduk di sofa depan TV. Kini dia sudah mengenakan kaos Yunho yang berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih susu, dia juga mengenakan celana pendek selutut yang juga milik Yunho.

Memang sedari tadi Jaejoong menghadap TV yang menyala, tapi pikirannya seolah tidak di sana. Jika ditanya apa yang sedang ia tonton saat ini, dia mungkin tidak bisa menjawabnya.

Saking asiknya Jaejoong dengan kegiatan melamunnya, Ia jadi tidak sadar jika kini ada seseorang yang duduk di sampingnya.

"Hai, Jaejoong-ah," Jaejoong tersentak dan langsung menatap Yunho ada di sampingnya plus senyuman hangat yang selalu diperlihatkan Yunho.

"Kau mengagetkanku saja,"

"Salah sendiri kau melamun," ujar Yunho santai. "Bagaimana keadaanmu? Apa masih panas? Obatnya sudah kau minum kan?" tanya Yunho panjang lebar.

"Kau bertanya banyak sekali," kata Jaejoong sebal. "Iya, aku sudah minum obatnya,"

"Baguslah," Yunho berkata dengan nada senang. Yunho lalu menyentuh dahi Jaejoong dengan telapak tangannya.

"Sudah tidak terlalu panas," gumam Yunho.

Jaejoong diam tidak menyahut. Pandangannya sudah tertuju ke TV lagi.

"Jaejoong-ah.."

"…"

"Sebenarnya apa yang kau lakukan di tengah hujan kemarin?" Oke, Yunho tau itu keputusan yang salah untuk bertanya pada Jaejoong yang masih sakit sekarang. Tapi dia penasaran sekali. Apa yang membuat sosok di sebelahnya jadi aneh kemarin.

"…"

"Apa kau ada masalah?"

"…"

"Kau bisa cerita padaku kalau kau mau,"

"…"

"Lalu kenapa kau tidak mau pulang ke rumah," sekali lagi, tubuh Jaejoong menegang saat mendengar kata rumah.

"Aku tidak mau pulang ke rumah," gumam Jaejoong pelan.

"Eh? Kau mengatakannya lagi? Kenapa? Apa orangtuaku tidak mencemaskanmu?"

"Dia tidak akan pernah khawatir padaku,"

"Eh?"

"Appa… tidak akan khawatir padaku," sahut Jaejoong pelan. Suara Jaejoong terdengar lirih.

"Tidak, appamu pasti khawatir, semua orang tua pasti khawatir pada anaknya," Yunho berusaha menenangkan Jaejoong.

"Appa, bukan orang tuaku,"

"Eh?" Yunho bingung.

"Aku bukan anak kandung appa. Aku anak yatim piatu yang diangkat umma dan appa menjadi anak mereka sejak aku umur 3 tahun," Yunho menajamkan pendengarannya. Akhirnya Jaejoong mau bercerita.

"Pada awalnya mereka baik dan menyayangiku. Tapi sejak umma meninggal saat aku kelas 6 sd, appa jadi keras terhadapku. Appa selalu memaksakan kehendaknya, tidak pernah membiarkanku memutuskan sesuatu. Aku selalu menuruti keinginannya, karena aku tau, aku bisa hidup berkatnya. Aku selalu belajar dan belajar, lalu aku masuk ke jurusan bisnis yang sama sekali tidak aku sukai. Dan minggu lalu, aku disuruh menikah dengan anak rekannya untuk memajukan perusahaannya. Aku sudah tidak tahan! Aku ingin hidup bebas! Tidak dikekang seperti itu!" Jaejoong mulai menampakan emosinya. Wajahnya yang putih memerah. Badannya memanas. Ia mengeluarkan segala emosi yang telah ia pendam selama ini.

"Aku hanya ingin hidup sesuai dengan pilihanku. Aku menyayangi appa, tapi aku juga membenci sifat pengekangnya. Aku hanya ingin hidup sesuai apa yang aku inginkan," suara Jaejoong melemah. Matanya mulai berkaca-kaca.

Yunho yang mendengarkan cerita Jaejoong dari tadi, mengepalkan satu tangannya. Ia tidak suka melihat Jaejoong sedih seperti ini. Seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya saat melihat sosok di sampingnya ini begitu sedih. Yunho jadi ingin merengkuh Jaejoong dalam pelukannya dan membiarkan kesedihan yang dialami Jaejoong berpindah padanya.

"Aku tidak mau dipaksa lagi oleh appa," suara Jaejoong terdengar lirih. Setetes cairan beningpun jatuh dari mata indahnya.

Yunho tidak tahan. Dengan sigap dihadapkan tubuh Jaejoong ke arahnya dan menghapus dengan lembut air mata Jaejoong, lalu Yunho langsung menarik Jaejoong dalam pelukannya.

Jaejoong pasrah. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Pelukan Yunho terasa nyaman dan hangat. Tangan Yunho mengelus punggung Jaejoong, membuat Jaejoong merasakan kenyamanan.

"Tenanglah.." Suara Yunho yang lembut terdengar sangat jelas di telinga Jaejoong.

"Jangan suruh aku pulang, Yunho," Jaejoong berkata dengan suara pelan. Sangat pelan.

"Tidak. Kau boleh tinggal di sini kalau kau mau,"

.

.

.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Saat ini, Jaejoong dan Yunho berada dalam kamar Yunho. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Aku tidak tahu, yang pasti, aku tidak akan masuk kuliah untuk beberapa hari dulu. Appa pasti akan mencariku di universitas," Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho.

"Terserah padamu? Lalu sampai kapan kau akan seperti ini?"pertanyaan Yunho langsung membuat Jaejoong mendelik ke arahnya.

"Kenapa? Kau tidak suka jika aku ada di rumahmu? Kau keberatan? Baiklah. Aku pergi," Jaejoong langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Eh? Tu—tunggu.." Yunho langsung gelagapan, bukan itu yang Yunho maksud. Malah ia akan senang jika Jaejoong ada di rumahnya.

Sebelum tangan Jaejoong menyentuh kenop pintu, Yunho lebih dulu menahan tangan Jaejoong dan berhasil menghentikannya.

Jaejoong sedikit bergidik. Entah kenapa setelah dipeluk Yunho 2 kali, dia jadi merasakan sebuah aliran listrik yang nyaman menjalari tubuhnya saat Yunho menyentuhnya.

"Bukan itu maksudku," jelas Yunho. Yunho menarik Jaejoong untuk duduk di tengah kasur. Setelah keduanya duduk berhadapan di atas kasur (kyaaa,, hayo mau ngapain tuh *yadong kumat*),Jaejoong segera menarik tangannya yang masih digenggam Yunho sedari tadi. Yunho jadi salah tingkah dan menggaruk belakang kepalanya.

"Bukan itu maksudku, Jaejoong-ah," jelas Yunho lagi. "Kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau. Tapi apa kau tidak mau menyelesaikan masalahmu dengan appamu?" Yunho menjelaskan maksudnya tadi.

Jaejoong menggeleng pelan. "Aku tidak ingin bertemu appa dulu. Aku lelah,"

Yunho menghela nafas kecil. "Baiklah. Lebih baik kita tidur, ini sudah malam," ajak Yunho. Jaejoong langsung saja merebahkan tubuhnya membelakangi Yunho. Yunho juga turut merebahkan tubuhnya menghadap ke atas.

"Jaljayo, Jaejoong-ah,"

.

.

.

Yunho membuka matanya saat ia mendengar suara berisik dari luar. Yunho menoleh dan tidak mendapati Jaejoong di sampingnya. Ke mana dia? Yunho bangun dan melangkahkan kakinya keluar. Yunho kemudian berjalan ke arah dapur, asal suara yang ia dengar tadi.

Yunho terpaku melihat pemandangan di depannya sekarang. Mungkin itu hanyalah pemandangan biasa bagi orang lain, tapi entah kenapa itu bisa membuat Yunho terpaku. Yunho melihat Jaejoong yang sedang asik memasak. Tangannya bergerak lincah di antara bahanbahan dan alat-alat memasak itu. Yunho masih saja terdiam. Jaejoong terlihat sangat tampan, serta cantik dan mempesona. Terkadang Jaejoong menggembungkan sedikit pipinya, dan itu membuatnya terlihat imut.

"Eh? Kau sudah bangun?" Yunho tersentak dan mendapati Jaejoong melihat ke arahnya.

"I—iya"

"Apa yang kau lakukan?" tanya Yunho.

"Aku sedang memasak. Aku sudah terbiasa bangun pagi dan memasak sarapan," jelas Jaejoong. "Kau duduk saja, sebentar lagi matang," lanjut Jaejoong sambil melanjutkan kegiatannya.

Yunho hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi makan. Tidak Yunho sangka,sosok dingin seperti Jaejoong ternyata bisa memasak. Yunho jadi kagum pada Jaejoong.

"Waahh, baunya enak sekali!" sahut Changmin yang tiba-tiba muncul.

"Kau memasak Jaejoong hyung? Akhirnya… Aku selamat.." lanjut Changmin sembari mengambil tempat di kursi di samping Yunho.

PLETAKK

"Apa maksudmu dengan 'akhirnya'?" Yunho memelototi Changmin.

"YA, Hyung! Sakit tau!" Changmin mengelus kepalanya yang tadi dijitak Yunho. "Tentu saja aku selamat, akhirnya aku bisa memakan makanan selain ramen dan makanan bungkusan,"

"Ya! Masih untung kau masih bisa makan," Yunho dan Changmin terus saja beradu mulut sampai mereka berdua tidak sadar jika Jaejoong sudah selesai memasak dan makanannya sudah tersaji dengan rapi di meja makan. Jaejoong duduk di depan Yunho dan Changmin dan memperhatikan mereka.

"Yunho.." Yunho langsung menoleh dan menghentikan pertengkaran kecilnya dengan Changmin saat mendengar suara Jaejoong memanggilnya.

"Hyung! Gara-gara kau aku jadi tidak tahu kalau makanannya sudah jadi," sewot Changmin yang ternyata sudah menemukan makanan yang tersaji di meja makan itu.

"Aisshh! Kau ini—"

"Terima kasih Jaejoong hyung. Aku makan sekarang," Changmin memotong ucapan Yunho dan berterima kasih pada Jaejoong dengan senyumannya yang basa-basi lagi, Changmin langung melahap makanan itu.

"Gomawo, Jaejoong-ah," kali ini Yunho yang berterima kasih.

"Tidak apa-apa, ayo makan," Jaejoong menjawab Yunho dengan senyuman kecil. Lagi-lagi Yunho terpana. Jaejoong tersenyum.

.

.

.

Sudah 5 hari Jaejoong tidak masuk kuliah, dan juga 5 hari sudah Jaejoong tinggal di rumah Yunho. Setiap Yunho sudah berangkat kuliah dan Changmin sudah berangkat ke sekolah, Jaejoong selalu mencari cara untuk menghabiskan waktunya. Paling banyak waktunya ia habiskan untuk membersihkan rumah Yunho yang berantakan. Berbeda dengan Jaejoong yang rapi. Tapi Jaejoong menikmati kegiatannya itu.

5 hari Jaejoong tinggal di rumah Yunho, juga selama itulah Jaejoong dan Yunho menjadi semakin dekat. Semakin hari Jaejoong semakin terbuka. Setiap pagi dan malam juga, Jaejoong selalu memasak. Awalnya Yunho merasa aneh melihat Jaejoong seperti ini, tapi lama-lama ia menikmatinya. Seperti saat makan malam hari ini.

"Waah, masakanmu memang paling hebat, Jae-ah," entah sudah keberapa kalinya Yunho memuji masakan Jaejoong. Dengan bersemangat, Yunho memasukkan sesendok sup kimchi buatan Jaejoong ke mulutnya.

"Benar, kau lebih cocok jadi seorang chef, hyung!" tambah Changmin dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.

Jae tertawa kecil mendengar pujian dari Yunho dan Changmin. Memang selama 5 hari ini, Jaejoong mulai bisa tersenyum dan tertawa pelan berkat kelakuan Jung bersaudara yang selalu bersemangat itu. Apalagi berkat Yunho, yang selalu menghibur Jaejoong saat Jae teringat appanya.

"Aku kenyang sekali! Gomawo, Jae hyung!" seru Changmin sambil mengelus perutnya yang terasa penuh. Dia kemudian membawa piring kosong miliknya untuk ia cuci. Meninggalkan Yunho dan Jaejoong berdua di meja makan.

"Gomawo, Jae-ah," kali ini Yunho yang berterima kasih pada Jaejoong.

"Aniyo, harusnya aku yang berterima kasih," Yunho tersenyum mendengar jawaban Jaejoong.

"Oh, iya. Kapan kau akan masuk kuliah lagi?" Jaejoong mengangkat alis mendengar pertanyaan Yunho.

"Kau tidak bosan di rumah terus?" lanjut Yunho.

Jaejoong berpikir, benar juga. Setiap hari dia selalu bingung apa yang akan dilakukannya. Sepertinya ide pergi kuliah lagi itu tidak terlalu buruk. Lagipula jika dia sendirian di rumah Yunho, dia jadi sering teringat masalahnya.

"Baiklah, aku masuk kuliah besok," jawaban Jaejoong sukses membuat senyum Yunho terkembang lebar.

.

.

.

Keesokan paginya, Yunho dan Jaejoong berangkat bersama, mengingat universitas mereka yang sama. Sesampainya di kampus, Yunho dan Jaejoong berpisah menuju kelas masing-masing.

*SKIP*

"Yunho? Apa yang kau lakukan?" Jaejoong yang baru saja keluar dari kelasnya terkejut saat melihat Yunho duduk di kursi depan kelasnya. Yunho yang meilhat Jaejoong langsung berdiri dan menghampiri Jaejoong.

"Tentu saja aku menunggumu untuk pulang,"

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan dan berjalan meninggalkan Yunho. Yunho langsung saja mengejar Jaejoong dan mensejajarkan langkahnya.

"Bagaimana kuliahmu? Menyenangkan?" tanya Yunho.

"Tidak buruk,"

"Apa temanmu tidak heran kenapa kau sudah 5 hari tidak masuk?"

"Tidak," Yunho terdiam. Benar juga. Dia lupa jika Jaejoong dulunya adalah seorang yang dingin. Mungkin karena sudah melihat sisi Jaejoong yang lain, pikiran Yunho tentang Jaejoong yang dingin itu hilang.

"Tenang saja. Kau masih punya aku," Yunho sedikit menggoda Jaejoong.

Jaejoong mendengus kecil. Tapi entah kenapa ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Kenapa?

Saat Jaejoong berusaha menenangkan jantungnya, ia merasakan sesuatu yang basah mengenai hidungnya. Jaejoong mendongak dan mendesah pelan.

"Hujan lagi," gumamnya. Yunho ikut mendongak dan merasakan bahwa hujan mulai turun. Mereka berjalan lebih cepat. Namun mereka tidak lebih cepat dari hujan yang sudah turun begitu deras.

"Aisshh! Kalau begini kita bisa basah kuyup," Yunho langsung menggengam tangan Jaejoong dan menariknya untuk berlari. Mereka terus berlari menghindari hujan hingga di sinilah mereka saat ini. Di kursi kantin yang biasa mereka duduki.

"Sepertinya kita harus menunggu lama di sini, hujannya deras,"kata Yunho pada Jaejoong yang dudukdi sampingnya. Sepertinya salju akan turun mulai dari beberapa hari ke depan, dilihat dari hujan yang semakin deras saja dan cuaca yang makin dingin.

Yunho melirik ke sampingnya dan melihat wajah Jaejoong yang pucat.

"Jae? Kau tidak apa-apa?" Jaejoong hanya mengangguk. Tapi sepertinya jawabannya itu tidak sesuai dengan keadaannya sekarang. Jaejoong mulai menggigil.

"Jae?" Yunho mulai khawatir. Jaejoong terlihat tidak akan lupa bahwa Jaejoong itu tidak tahan apa yang dapat ia lakukan? Yunho tidak membawa jaket hari ini karena cuacanya cerah tadi pagi.

Yunho perlahan merapatkan tubuhnya pada Jaejoong dan meraih tangan Jaejoong serta menggenggamnya.

Jaejoong tersentak. "Apa yang kau lakukan?" Jaejoong berusaha menarik Yunho bersihkeras menahan menggenggam tangan Jaejoong.

"Diam saja. Ini biar kau tidak kedinginan," Yunho makin mengeratkan genggamannya.

Jaejoong terdiam saat merasakan ucapan Yunho ada benarnya. Tangan Yunho terasa hangat. Rasa hangat itu perlahan menyebar keseluruh tubuhnya. Membuatnya nyaman. Dan itu membuat Jaejoong tidak ingin Yunho melepas tangannya.

Untuk pertama kalinya, Jaejoong bersyukur hujan turun. Karena dengan itu, Jaejoong bisa merasakan lagi kehangatan dari seorang Jung Yunho.

.

.

.

"Haahh..hahh.." deru nafas Jaejoong terdengar di kamar Yunho. Yunho segera mencelupkan kompres dan mengompres Jaejoong. Setelah hujan tadi, Jaejoong sakit panas lagi. Penyebabnya mungkin saja karena cuaca yang terlalu dingin, ditambah lagi kondisi Jaejoong yang masih belum seberapa baik.

Yunho mengulurkan tangannya menyentuh pipi Jaejoong. Panas.

Yunho baru saja akan berdiri mengambil obat untuk Jaejoong saat ia merasakan sesuatu menahan tangannya.

"Yun.. dingin.." kata Jaejoong lemah. Yunho menatap Jaejoong dan membenarkan selimut Jaejoong.

"Masih dingin?" tanya Yunho. Yunho semakin khawatir melihat Jaejoong yang mulai menggigil pelan.

Jaejoong mengangguk.

Yunho terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan supaya Jaejoong tidak merasa dingin lagi. Akhirnya Yunho memutuskan untuk berbaring di samping Jaejoong dan memasukkan dirinya dalam selimut.

Dengan perlahan tangan kiri Yunho bergerak ke punggung Jaejoong dan menarikJaejoong mendekat ke arahnya. Tangan kanan Yunho juga ikut menarik tubuh Jaejoong. Hingga kini Jaejoong merada di pelukan Yunho. Yunho mulai mengelus punggung Jaejoong.

'Semoga ini cukup' batin Yunho.

Hangat dan nyaman. Lagi-lagi itu yang di rasakan Jaejoong di pelukan Yunho saat ini. Rasa dingin yang ia rasakan tadi perlahan berubah menjadi rasa hangat. Jaejoong memejamkan matanya menikmati apa yang ia rasakan sekarang.

.

.

.

Jaejoong mengganti-ganti channel TV di hadapannya. Dari tadi hanya itu yang dia lakukan. Panasnya sudah turun tadi pagi. Tapi Yunho melarangnya untuk kuliah dan ia tidak boleh bergerak terlalu banyak dulu. Yunho dan Changmin sudah pergi dari tadi.

Dia bosan. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Seandainya saja Yunho ada di sini, pasti suasananya akan berbeda.

Jaejoong melirik jam dinding dan mendesah pelan. 2 jam lagi Yunho baru akan pulang. Jaejoong menyandarkan kepalanya ke sofa. Kenapa rasanya lama sekali. Kenapa rasanya ia merindukan sosok Yunho di sampingnya.

"Haahh.."

.

.

.

Yunho berjalan cepat menuju rumahnya saat ia sudah turun dari bis yang ia naiki tadi. Ia ingin cepat-cepat bertemu Jaejoong dan memastikan keadaan namja itu tidak apa-apa. Bahkan saat kuliah tadi, Yunho tidak konsentrasi dan hanya memikirkan Jaejoong.

Pikirannya sudah penuh dengan Jaejoong. Walaupun Yunho mencoba menyingkirkan Jaejoong dari pikirannya, tapi Yunho tidak bisa. Selalu saja nama Jaejoong muncul di pikirannya.

Akhirnya Yunho menyadari sesuatu. Rasa ingin berteman dengan Jaejoong yang ia rasakan dulu, kini berubah menjadi perasaan untuk ingin terus melindungi dan ada di samping Jaejoong. Bersamanya dan melindungi Jaejoong.

Yunho terus melangkah sampai rumahnya. "Jae.."panggil Yunho saat ia sudah berada dalam rumah. Yunho berjalan masuk dan menemukan Jejoong yang sedang tertidur di sofa. Yunho mndekatinya dan terdiam. Wajah Jaejoong yang sedang tertidur sangat indah. Yunho heran kenapa ada seorang namja yang memiliki wajah malaikat seperti Jaejoong.

Tangan Yunho perlahan menyentuh pipi Jaejoong yang putih halus dan mengelusnya. Mata Yunho terus terpaku pada wajah Jaejoong dan tanpa sadar wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Jaejoong.

CUP

Akhirnya bibir Yunho menyentuh bibir Jaejoong. Manis. Yunho memejamkan matanya dan mencium bibir Jaejoong dengan sedikit melumatnya dengan perlahan. Bibir Jaejoong terasa manis, Yunho menyukainya.

Jaejoong yang merasakan sesuatu membuka matanya perlahan. Awalnya Jaejoong kaget dengan apa yang ia lihat. Namun Jaejoong tidak menolak. Malah Jaejoong menutup matanya dan mulai membalas.

Yunho kaget dan mebuka matanya dan mendapati Jaejoong yang sedang terpejam. Yunho tersenyum dalam ciumannya dan kembali memejamkan matanya.

Mereka berciuman cukup lama. Ciuman yang lembut dan halus.

Yunho dan Jaejoong salig menatap saat ciuman meraka telah lepas. Di tengah kegiatannya mengatur nafasnya yang sedikit terengah,Yunho tersenyum lembut pada Jaejoong.

Dan tanpa disangka, Jaejoong pun menyambutnya dengan senyuman yang manis.

.

.

.

Dan sejak kejadian itu, Yunho dan Jaejoong yang sudah dekat, menjadi semakin dekat. Mereka selalu ada lagi yang mereka resahkan, karena saat ini mereka sudah mengetahui perasaan masing-masing.

Yunho meraih tangan Jaejoong menggenggamnya. Jaejoong hanya tersenyum pada Yunho dan balas menggenggam tangan Yunho.

Saat ini mereka sedang duduk di kursi kantin seperti biasa. Hari ini tidak hujan, namun mereka tidak ingin langsung pulang ke rumah dan memutuskan untuk tinggal di kantin kampus sebentar.

"Boo, nanti buatkan aku samgyetang di rumah, yah?" pinta Yunho.

Bola mata Jaejoong bergerak ke atas, membuat pose berpikir.

"Emm,bagaimana, yah? Kau mau memberi aku apa kalau aku masak untukmu?" Jaejoong tersenyum jahil. Berbeda. Jaejoong yang sekarang berbeda dengan Jaejoong yang dulu. Kehadiran Yunho di hidupnya membuatnya lebih menikmati hidupnya. Memberikan warna dan senyuman yang selalu datang menghampirinya.

Sekarang Jaejoong lebih sering tertawa. Dia juga mulai melupakan permasalahannya dengan ayahnya. Ini semua berkat Yunho.

CUP

Pipi Jaejoong bersemu sesaat setelah Yunho mengecup pipinya.

"Nanti akan kuberi lebih banyak lagi di rumah," kali ini Yunho yang tersenyum jahil. Wajah Jaejoong bertambah merah mendengar ucapan Yunho. Sedangkan Yunho merasa gemas melihat wajah kekasihnya yang memerah.

Kekasih?

Ya, Yunho menganggap mereka sudah menjalin hubungan yang lebih dari teman. Meskipun tidak ada kata-kata yang mengikat mereka, tapi Yunho tahu bahwa Jaejoong memiliki perasaan yang sama dengannya.

Jaejoong mengambil botol minum yang ada di depannya dan meminumnnya untuk menormalkan detak jantungnya yang berdebar kencang tadi. Sekarang Jaejoong merasa suka berdebar-debar saat berdekatan dengan Yunho. Tapi itu tidak masalah,karena Jaejoong menyukainya.

"Kau terlihat lucu saat sedang minum," celetuk Yunho tiba-tiba. Sontak mata Jaejoong membulat dan ia tersedak.

"Uhukk.. uhukk… Apa maksudmu?"

"Berhenti minum, atau aku akan menciummu," semburat merah kembali muncul di wajah Jaejoong.

Tapi bukannya berhenti, Jaejoong malah langsung meminum lagi air dari botolnya itu.

"Kau menantangku, Boo?" Yunho makin gemas dengan tingkah Jaejoong. Yunho menarik botol yang dipegang Jaejoong dan menaruhnya di meja. Dengan cepat dihadapkannya Jaejoong ke arahnya. Jaejoong hanya tersenyum jahil ke Yunho dan membuat Yunho jadi ingin memberi pelajaran pada namja kesayangannya ini.

Yunho mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Tapi dengan cepat Jae menahan badan Yunho.

"Kau tidak malu, orang-orang memperhatikan kita," bisik Jaejoong. Yunho kemudian melirik keadaan kantin. Memang mereka tidak berdua saja di sini, ada beberapa orang di sana, dan kebanyakan dari mereka menatap mereka saat ini.

Yunho tersenyum canggung pada orang-orang di sana.

"Awas kau di rumah,Boo," bisik Yunho pada Jae sebelum ia menarik dirinya menjauhi Jaejoong.

Jaejoong terkekeh pelan kemudian bergidik saat merasakan hembusan angin yang dingin. Sekarang memang tidak hujan, tapi cuacanya cukup dingin, karena saat ini sudah memasuki musim dingin. Yunho yang sadar Jaejoong kedinginan, segera merangkul Jaejoong. Lagi-lagi melupakan bahwa mereka tidak berdua di sana.

Jaejoong hanya diam dan malah menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho. Rasa nyaman yang sudah dikenalnya lagi-lagi datang menyelimuti tubuhnya. Jaejoong memejamkan matanya menikmati keheningan di antara pun turut diam dan menutup matanya.

Semuanya terasa tenang sebelum orang itu datang..

Jaejoong langsung membuka matanya saat ia merasa ada seseorang yang menarik tangannya menjauhi Yunho dengan kasar. Mata Jaejoong membulat saat melihat orang itu.

"Ap..appa.." suara Jaejoong tercekat. Ucapan Jae membuat Yunho terpaku. Orang itu, ayah Jaejoong? Yunho menatap ayah Jaejoong yang wajahnya memerah menahan amarah.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" bentak Mr. Kim. Jaejoong dan Yunho terdiam.

"JADI INI YANG MEMBUATMU PERGI DARI RUMAH?" suara Mr. Kim menggelegar (?) saat membentak Jaejoong sambil menunjuk Yunho yang ada di samping Jaejoong.

Jaejoong menatap ayahnya dan menunduk tidak berani melihat ayahnya. Tentu saja mungkin ayahnya sudah tahu hubungan Jaejoong dengan Yunho.

"YA TUHAN, JAEJOONG! Aku tidakpernah mengajarimu menjadi orang yang seperti itu!"

Jaejoong langsung menatap ayahnya dengan pandangan tidak suka. Orang yang seperti itu? Apa salah jika mereka saling menyukai?

"KAU!" Mr. Kim berjalan mendekati Yunho dengan wajahnya yang menahan amarah. "KENAPA KAU MEMBUAT ANAKKU JADI BEGINI?" Mr. Kim berteriak dengan suara yang keras sembari mendorong badan Yunho keras sehingga hampir membuat Yunho terjungkal.

Jaejoong yang kaget melihat perlakuan ayahnya pada Yunho langsung langsung menahan ayahnya.

"APPA! Jangan! Yunho tidak salah!"

berbalik menghadap Jaejoong.

"Kau Juga! Ayo pulang. Kau harus menyiapkan pertunanganmu dengan Tiffanny!" Mr. Kim menarik tangan Jaejoong kasar tapi segera ditepis oleh Jaejoong.

"Tidak! Aku tidak mau!" terdengar kesungguhan di suara Jaejoong. Jaejoong mendekati Yunho dan menggenggam tangan Yunho erat. "Aku tidak mau diatur-atur lagi! Aku benci hal itu, aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri!" lanjut Jaejoong. Matanya menatap tajam ayahnya.

Namun Mr. Kim hanya mendecih.

"Tsk, kau minta dipaksa rupanya," kemudian muncul 3 orang berbadan besar yang mendekati Jaejoong.

"Tidak!" Orang-orang itu menarik Jaejoong menjauhi Yunho. Yunho terus menahan tangan Jaejoong. Tapi kekuatan orang-orang itu tentu saja lebih besar. Perlahan tapi pasti, tautan kedua tangan mereka mulai terlepas.

"Yunhoo!"

"BOO!"

.

.

.

Jaejoong mendudukkan dirinya di kasur kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Setelah dipaksa oleh appanya tadi, Jaejoong langsung dibawa pulang.

Setetes cairan bening keluar dari mata tidak mau dipaksa appanya lagi. Jaejoong tidak mau berpisah dari Yunho. Jaejoong ingin bersama dengan Yunho. Padahal mereka baru saja memulai hubungan yang baik, tapi kenapa malah jadi seperti ini. Jae merasa dadanya sakit dan sesak. Ia ingin bertemu Yunho.

TLUK TLUK

Jaejoong menoleh ke arah jendelanya saat dirasa ada yang melempari jendelanya. Jae menghapus airmatanya dan berjalan mendekati jendelanya serta membuka tirai yang menutup jendela itu.

Jaejoong menutup mulutnya tidak percaya.

"Yun..ho..," Yunho tersenyum di depan rumah Jaejoong saat melihat Jaejoong di balik jendela. Jendela kamar Jaejoong memang menghadap langsung ke jalan depan rumah Jaejoong.

Tanpa basa-basi Jaejoong berlari membuka pintu kamarnya.

CEKLEKK

Tidak dikunci. Bagaimana bisa? Padahal appanya selalu mengunci kamar Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak mau memikirkan itu sekarang, dia ingin bertemu Yunho! Jaejoong segera berlari meninggalkan kamarnya.

BUKKK

Jaejoong langsung menabrakkan tubuhnya ke Yunho dan memeluk pria itu erat. Yunho membalas pelukan Jaejoong sama eratnya.

"Yunho.." gumam Jaejoong. Tanpa diminta, air mata Jaejoong turun lagi,entah kenapa dia sangat merindukan Yunho.

Yunho mengelus punggung Jaejoong berusaha menenangkan. Yunho kemudian melepas pelukannya saat dirasa Jae sudah agak tenang.

"Bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Aku mengikuti mobilmu tadi," lagi-lagi Yunho tersenyum.

"Kau..hiks.. Bawa aku pergi, Yunho-yah," Jaejoong mulai terisak lagi. Matanya menatap Yunho dengan pandangan memohon. Yunho yang melihat Jaejoong sedih seperti itu juga merasa sakit.

"Bagaimana caranya, Boo?" Bagaimana caranya Yunho membawa Jae dari sini. Ayah Jae saja sudah terang-terangan menolaknya.

"Apa pun,bawa aku pergi ke mana saja asal aku bisa pergi dari sini," pinta Jaejoong "Dan supaya aku bisa bersamamu," kata Jaejoong pelan.

Yunho terdiam.

"Yunho-yah…"

"Tapi kita mau ke mana, Boo?"

"Ke mana saja,"

Yunho terdiam sebenarnya juga ingin sekali membawa Jaejoong bersamanya supaya Jae tidak sedih lagi. Tapi ke mana? Kalau ke rumahnya, pasti Mr. Kim sudah tahu rumahnya mengingat Mr. Kim yang memiliki kuasa.

"Bagaimana kalau kita ke Gwangju?" tiba-tiba ide itu melintas di pikiran Yunho. "Gwangju itu tempatku lahir dan dibesarkan,"lanjut Yunho. Jaejoong langsung mengangguk setuju. Ke mana saja boleh, asal ia tetap bersama Yunho.

"Baiklah. Sekarang masuk dan persiapkan barang-barangmu. Aku akan menunggumu di stasiun," Jaejoong hanya mengangguk menyetujui.

Yunho menatap mata Jaejoong dalam. Yunho mulai menggenggam kedua tangan Jae dan mulai mendekatkan wajahnya hingga kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Saranghae," bisik Yunho tepat di depan bibir Jaejoong. Dan bibir merekapun bertemu lagi. Yunho mencium Jaejoong dengan lembut, mencoba memberi ketengangan. Jaejoong memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman Yunho.

Cukup lama mereka berciuman hingga Yunho menarik dirinya saat ia lihat Jaejoong mulai kehabisan nafas.

"Nado saranghae,"balas Jaejoong. Mereka berdua tersenyum.

"Kutunggu kau di stasiun," setelah berkata seperti itu, Yunho mulai berjalan menjauhi Jaejoong, meninggalkan Jaejoong yang masih tersenyum.

.

.

.

Tidak butuh waktu yang lama bagi Jaejoong untuk pergi ke stasiun dari rumahnya. Kini Jaejoong sudah sampai di stasiun dengan membawa sebuah koper di tangan kirinya. Cukup mudah bagi Jaejoong untuk keluar dari rumahnya. Saat ia keluar tadi, ia tidak bertemu dengan ayahnya. Ia juga tidak melihat bodyguard-bodyguard yang selalu berjaga di rumahnya. Entah ke mana mereka semua, Jaejoong meyakininya sebagai bantuan dari Tuhan untuk pergi dari sana.

Jaejoong mendudukan dirinya di sebuah bangku stasiun dan matanya mencari-cari Yunho.

Di mana Yunho? Apa ia belum datang? Mungkin Jaejoong yang datang terlalu cepat. Jaejoong lalu menjadi santai dan menunggu Yunho.

5 menit

10 menit

15 menit

30 menit

Yunho masih belum juga datang. Jaejoong berpikir mungkin Yunho masih dalam perjalanan.

45 menit

1 jam

1,5 jam

2 jam

3 jam

Matahari mulai tenggelam. Ke mana Yunho? Jaejoong mulai bergerak-gerak resah. Perasaannya jadi kacau dan tidak nyaman. Yunho pasti akan datang. Yunho pasti datang. Batin Jaejoong.

Tapi setelah menunggu selama 5 jam, Yunho masih belum datang. Apa Jaejoong datang ke tempat yang salah? Tidak mungkin, ia yakin kereta ke Gwangju akan berangkat dari sini. Yunho pasti datang. Yunho pasti datang. Berkali-kali Jaejoong mengucapkannya dalam hati. Matanya bergerak ke sana kemari mencari Yunho. Tapi ia tidak menemukannya.

Perlahan kata-kata yang ia ucapkan dalam hati malah mebuatnya resah. Jaejoong takut. Ia takut jika Yunho tidak datang.

"Mungkin dia terkena macet atau semacamnya,"gumam Jaejoong pelan meyakinkan dirinya. Tapi itu tidak berguna. Dia tetap takut.

"Yunho.. Kau di mana?" gumam Jaejoong lagi pelan. Matanya terasa memanas. Dan lagi-lagi matanya mengeluarkan cairan bening. Jaejoong melihat ke luar lagi. Salju. Malam yang dingin ini jadi semakin dingin karena salju yang turun.

"Yunho.. hiks.." Jaejoong mulai terisak pelan. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yunho akan datang, tapi mengingat sudah lama ia menunggu Yunho di sini, ia jadi merasa sesak.

"hiks.. Yunho.." Jaejoong mulai memegang dadanya yang terasa sesak. Rasanya sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya membuatnya sakit yang luar biasa.

"Kau bilang kau mencintaiku..hiks..tapi kau di mana sekarang? Hiks..hiks.." Tangisan Jaejoong makin menjadi-jadi. Stasiun sekarang sudah sepi pengunjung karena hari sudah malam, jadi Jaejoong tidak akan menjadi pusat perhatian saat ini.

Jaejoong memutuskan untuk menunggu lebih lama, tapi setelah berjam-jam ia menunggu, Yunho tetap tidak datang. Dan saat ini Jaejoong mulai menangis lagi saat berpikir orang yang dicintainya itu mungkin tidak akan datang.

"Yunhoo…"

.

.

.

To Be Continued

Part 2 muncul nih, makasih yang udah RnR di part 1 :) Maaf kalo ceritanya tambah ngawur dan geje.

and then, HAPPY BIRTHDAY KIM JAEJOONG 3 Saengil chukkae ^^ Mudah"an jae tetep sehat :)

Tapi ultahnya jae yg tgl 4 ini sepi banget, beda sama yg tgl 26 januari kemaren :( Padahal aku lebih suka ultahnya Jae yg tgl 4 feb yg cuman beda 2 hari sama yun, keke

, yaudah deh, hope you enjoy this story ^^ jangan lupa review yah~

See you tgl 6 besok, ciaoo :D