.

RAIN

~Part 3~

By Hana Jaeri

Paring :: Yunjae

Cast :: DBSK member

Length :: 3/3

Warning :: ini cerita YAOI, yang nggak suka nggak usah baca ! Ini fict hasil dari author aba-abal, cerita ngebosenin dan nggak jelas

.

.

Douzo ^^

.

.

2 tahun kemudian.

"Minho,bersihkan meja nomer 6!"

"Hai,"

"Pelayan, bisa minta sumpit lagi?

"Hai,"

"Anda ingin memesan apa?"

Kesibukan terlihat di sebuah restoran yang ada di tengah kota Nagoya. Jam makan siang memang waktu yang paling ramai untuk semua restoran-restoran yang ada di daerah ini. Tak terkecuali Bigeast Restoran ini. Di dalamnya penuh sekali dengan pelanggan dan pelayan yang sibuk melayani mereka. Walaupun restoran ini masih tergolong baru, tapi tempat ini langsung menjadi tempat favorit warga di sekitar sini. Selain makanannya yang lezat, pelayanan dan dekorasi restoran itu sangat bagus.

"Dozou. Ini menu special kami hari ini," kata seorang pria sembari menyajikan semangkuk makanan. Pria itu tersenyum ramah. Dia memakai kaos V-neck abu-abu yang dilapisi sebuah jaket berwana hitam. Rata-rata pengunjung di sana juga memakai jaket atau mantel, dikarenakan sebentar lagi, Nagoya akan mengalami musim dingin, jadi cuaca cukup dingin saat ini.

Pria itu berbalik dan segera membantu di dapur hingga jam makan siang selesai dan restoran itu mulai agak sepi.

Kemudian dia melangkah dan duduk di kursi yang ada di pojok restoran.

"Hai, Bos! Bagaimana restoranmu hari ini?" kata seorang namja lain yang tiba-tiba datang dan duduk di depan pria tadi.

"AIssh! Yoochun-ah! Jangan panggil aku bos," namja yang dipanggil Yoochun itu hanya terkekeh.

"Kau memang bos di sini, jadi apa salahnya, Jae hyung?" Jaejoong hanya memutar bola matanya saat mendengar ucapan Yoochun.

"Restoranmu cepat sekali terkenal, hyung," Jaejoong hanya mengangguk menyetujui , restorannya bisa mendapat banyak pengunjung.

You Got The Wrong Number
You Got The Wrong Number
I'm Sorry. You Got The Wrong Number
So Don't Call Me No More

More lyrics: .com/lyrics/d/dbsk/#share

Terdengar suara berdering dari saku Yoochun. Yoochun segera meraih melihat siapa yang menelpon, Yoochun ijin keluar sebentar untuk menerima telpon itu. Tanpa menunggu jawaban Jaejoong, Yoochun langsung pergi meninggalkan Jaejoong duduk sendirian.

Sepeninggal Yoochun, Jaejoong menutup matanya, mencoba mengembalikan tenaga yang sempat terkuras saat jam makan siang tadi. Saat menutup mata, Jaejoong teringat dengan masa lalunya.

2 tahun. 2 tahun sudah Jaejoong pergi meninggalkan Korea. Sehari setelah dia menunggu Yunho yang tidak pernah datang itu, Jaejoong memutuskan untuk pergi ke Jepang dan melupakan semuanya. Melupakan ayahnya, kehidupannya yang terkekang dan melupakan Yunho..

Untuk yang terakhir itu, sangat sulit dilakukan Jaejoong. Setiap kali dia ingin melupakan namja itu, dia tidak bisa. Sampai saat ini, jika Jaejoong mengingat hari yang buruk di stastiun itu, hati Jaejoong masih terasa sakit dan sesak.

"Haaahh.." Jaejoong mendesah pelan lalu membuka matanya memperhatikan beberapa pengunjung yang ada di restorannya. Ya – sekarang Jaejoong sudah memiliki restoran sendiri. Setelah dia pergi ke Jepang, dia bekerja sebagai di sebuah café milik Yoochun, yang saat ini menjadi sahabatnya. Saat bekerja di café, Jaejoong sangat rajin. Terkadang dia juga membantu koki di dapur. Dan karena masakan Jaejoong banyak disukai, Jaejoong diangkat menjadi koki. Dan Jaejoong suka bekerja freelance di restoran lain untuk bermain piano. Kehidupannya di Jepang ia isi dengan berbagai kesibukah, hal itu semata hanya untuk menghilangkan pikirannya tentang Yunho.

Jaejoong semakin berkembang hingga 5 bulan yang lalu ia mempunyai restoran sendiri. Meskipun tidak besar dan masih baru, restorannya sudah ramai pembeli. Ia ingin berterima kasih pada Yoochun, karena namja itu telah banyak membantu Jaejoong. Yoochun adalah orang pertama yang ia kenal di Jepang dan beruntungnya Yoochun adalah orang Korea yang tinggal di Jepang. Saat Jaejoong butuh pekerjaan, Yoochun memberinya pekerjaan. Saat ia butuh tempat tinggal, Yoochun membantunya dengan meminjamkan uang pada Jaejoong.

Pikiran Jaejoong terhenti saat melihat Yoochun menghampirinya.

Yoochun kemudian duduk di tempat yang ia duduki tadi. "Junsu sebentar lagi akan sampai ke sini, tadi dia mengirim pesan padaku," Yoochun menampilkan senyumannya yang mampu membuat banyak gadis mabuk.

Jaejoong menaikan sebelah alisnya dan memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan.

"Kenapa kau yang di sms? Biasanya kan dia memberitahuku," Jaejoong tersenyum menggoda Yoochun.

Yoochun hanya tersenyum malu dan mengangkat bahunya. "Tanya sendiri pada Junsu!"

Jaejoong terkekeh mendengar petanyaan Yoochun. Sejak setahun yang lalu, Junsu menyusulnya untuk pergi ke Jepang. Junsu memutuskan untuk bekerja di Jepang. Sesampainya Junsu di Jepang, Jaejoong langsung mengenalkan Yoochun pada Junsu. Yoochun dan Junsu langsung cepat akrab dan mereka bertiga menjadi sering berkumpul dan bersahabat. Kehadiran Yoochun dan Junsu dalam hidup Jaejoong cukup membuat Jaejoong bersemangat lagi. Dengan melihat kedua sahabatnya itu, Jaejoong jadi bisa tersenyum lagi.

"Kenapa sepertinya kau jadi lebih dekat dengan Su-ie, Yoochun-ah?" goda Jaejoong lagi.

"I..Iie," jawab Yoochun cepat. "Kau bicara apa, hyung? Kita bertiga kan memang dekat," ujar Yoochun lagi.

Jaejoong tertawa pelan lagi melihat reaksi Yoochun. Tapi Jaejoong langsung menghentikan tawanya saat melihat Junsu yang baru masuk restorannya.

"Hai, Hyung! Yoochun-ah," sapa Junsu yang saat ini sudah ada di samping meja Jaejoong dan Yoochun. Junsu lalu mengambil tempat di samping Jaejoong. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Junsu sambil tersenyum lebar. Wajahnya terlihat sangat ceria hari ini.

"Harusnya kami yang bertanya, kenapa kau kelihatan senang sekali. Nande?" tanya Yoochun yang memperhatikan wajah Junsu yang terlihat berseri-seri.

"Eh? Ahaha.. Itu.. Sebenarnya aku mendapatkan hal yang baik di kantorku tadi," jawab Junsu. Yoochun dan Jaejoong diam menunggu kelanjutannya.

"…Aku diangkat jadi tim desain," lanjut Junsu akhirnya. Junsu tersenyum lebar menunggu reaksi kedua orang di depannya itu. Menjadi tim desain di perusahaan tempatnya sekarang adalah keinginan terbesar Junsu. Tentu saja itu membuatnya sangat senang.

"Waahh, omedetto Junsu!" Yoochun langsung bangkit dan memeluk Junsu sesaat, menepuk-nepuk punggungnya pelan sebelum kembali duduk di kursinya. Wajah Yoochun juga turut berseri mendengar berita itu.

"Omedetto, Jun-chan," Jaejoong juga tidak kalah senang mendengarnya. Jaeejoong memeluk Junsu sekilas, memberi pelukan selamat.

"Terima kasih, hyung," senyuman Junsu semakin lebar.

"Kita harus merayakannya! Bagaimana dengan segelas bir?" tawar Yoochun, senyuman lebar juga menghiasi wajah Yoochun. Tanpa menunggu jawaban, Yoochun langsung memanggil pelayan dan meminta sebotol bir dan 3 buah gelas untuk mereka.

Tidak butuh waktu lama dan apa yang dipesan Yoochun tadi sudah tersaji di depan meja.

"Kanpai!"

"Untuk Junsu, kanpai!" Mereka bersulang dan meminum bir dari gelas mereka masing-masing. Mereka saling menatap dan tertawa bersamaan. Mereka terus berbicara dan bercanda sambil sesekali meneguk bir mereka. Mereka terus saja berpesta sampai mereka tidak sadar bahwa hari sudah larut dan hanya tinggal sedikit pengunjung di sana.

"Ahh.. arigatou untuk pesta kecil-kecilannya ini," ucap Junsu setelah meneguk segelas bir.

"Tapi sebelum pulang, aku ingin melihat Jae-hyung bermain piano," lanjut Junsu sambil menunjuk sebuah grand piano yang ada di salah satu sisi restoran. Jaejoong itu memang suka dan pandai sekali dalam bermain piano. Junsu suka mendengarkan permainan Jaejoong, sangat halus dan menenangkan.

"Eh?"

"Ayolah, hyung… yah?" pinta Junsu dengan wajah memelasnya.

"Aku juga ingin melihatmu bermain, hyung," kali ini Yoochun juga ikut meminta Jaejoong.

"Haahh, baiklah," Junsu dan Yoochun langsung sumringah mendengar jawaban Jaejoong. Jaejoong segera berdiri dan berjalan menuju piano itu. Jaejoong memang sengaja menaruh piano di restorannya itu,karena dia suka sekali bermain piano. Jaejoong sesekali bermain piano saat malam hari,untuk menyalurkan hobinya sekaligus menghibur pengunjung.

Jaejoong kini sudah duduk di depan piano itu. Dia jadi teringat, dulu dia tidak bisa leluasa bermain piano,karena appanya yang sangat mengekangnya dan memaksanya masuk jurusan bisnis. Tapi sekarang, Jaejoong bisa bermain piano sepuasnya.

Jaejoong menarik nafas pelan dan mulai menekan tuts tuts piano.

neoneun sarangiran gorani?

annya sashil nado moreugesseo

danjeo moreuge Ye
gaseumi ddwegeobgo mak twigo jakkuu nunmuri hollona

otteohke haeya haneun goni
chajjaga mureup kkeurumyeon dweni
nado moreuge Ye
gyeosok neoreul chatgo ddo dwigo , goldabomyon ddo jejariya

Junsu dan Yoochun sama-sama langsung menahan nafas saat mendengar Jaejoong bernyanyi. Suara dan permainan piano Jaejoong memang selalu bisa membuat mereka kagum.

.

.

.

Jaejoong meletakan lap yang ia pakai untuk mengelap meja dapur tadi di dalam gudang. Jaejoong beranjak ke luar dapur setelah sebelumnya ia memeriksa dan membersihkan dapur. Hari sudah makin larut dan Jaejoong tinggal seorang diri di restorannya, pekerja-pekerja di restorannya sudah pulang semua. Setiap hari sudah menjadi kebiasaan Jaejoong untuk tinggal terakhir untuk mengecek keadaan restorannya.

Dia lalu mematikan semua lampu lalu berjalan keluar dan mengunci restorannya. Jaejoong berbalik dan terpaku.

"Hujan," gumam Jaejoong pelan. Tetes-tetes air itu turun ke tanah dengan begitu derasnya. Ternyata tadi dirinya terlalu sibuk mengecek restorannya hingga ia tidak menyadari bahwa hujan sedang turun. Jaejoong bergidik saat merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya.

Sebenarnya dia bisa saja langsung masuk ke dalam restorannya lagi dan menunggu hujan reda di dalam restorannya yang hangat. Tapi tubuh Jaejoong tetap diam. Memilih untuk tetap berada di depan restorannya saja. Yang melindunginya dari hujan saat ini hanyalah atap yang ada di depan restorannya, hingga tubuhnya tidak terlindungi dari hawa yang semakin dingin.

Mata Jaejoong memandang lekat hujan yang jatuh di depannya. Melihat hujan, ia jadi teringat lagi dengan Yunho. Bagaimana kabar pria itu sekarang? Apa dia sudah lulus? Apa yang sedang dilakukannya? Apa dia masih mengingat Jaejoong? Kenapa dia tidak mencarinya?

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengapus pemikiran ngawurnya. Dia harus melupakan Yunho. Pria itu tidak datang, Yunho tidak benar-benar mencintainya.

Jaejoong merasa hatinya berdenyut. Memikirkan Yunho saja sudah membuatnya sakit.

Tiba-tiba Jaejoong merasa sesorang berdiri di sampingnya. Sepertinya orang ini sedang berteduh dari hujan. Keadaan di sana sangat sepi hanya dengan lampu jalan yang menerangi. Dan di sana, restoran Jaejoonglah yang hanya dapat dibuat berteduh. Jaejoong tidak menghiraukan orang itu dan tetap melihat ke depan.

Pria di samping Jaejoong mengacak-acak rambutnya yang agak basah. Dia menatap tasnya dan mendesah pelan saat melihat tasnya itu basah. Tanpa menghiraukan Jaejoong yang ada di sampingnya, dia mengambil ponselnya dan terkejut melihat ponselnya juga basah.

"SHIT!"

DEG

Suara itu.., suara itu terdengar familier bagi Jaejoong. Suara yang membuatnya tersenyum dan tertawa. Suara yang membuatnya merindukan pemilik suara itu.

Tidak, tidak mungkin dia di sini, batin Jaejoong.

Dengan segenap keberaniannya, Jaejoong memutuskan untuk menoleh ke pria di sampingnya.

DEG

Pria itu sedang menunduk, membetulkan sepatunya, sehingga Jaejoong tidak bisa melihat wajahnya. Tapi postur tubuh itu, rambut itu, semuanya mirip dengan Yunho. Jaejoong masih menatap lekat pria itu hingga tiba-tiba pria itu mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Jaejoong yang masih menatapnya.

DEG

"Yun.." suara Jaejoong tercekat. Dia tidak percaya pria itu ada dihadapannya sekarang. Tidak percaya bahwa ia bisa melihat Yunho lagi.

"Jae.." Yunho juga tidak kalah terkejut melihat sosok Jaejoong di hadapannya.

Mereka terus bertatapan hingga beberapa lama, seolah menyampaikan kerinduan yang tengah mereka rasakan. Kontak mata itu terputus, Jaejoong lebih dulu mengalihkan pandangannya dan berusaha tidak melihat Yunho lagi. Dia ingin melupakan Yunho, ingat ?

Yunho langsung membetulkan posisinya. Yunho samasekali tidak menyangka akan bertemu dengan Jaejoong di sini.

Suasana hening menguasai mereka hingga Yunho memecah keheningan itu. "Jae.." kata Yunho dengan suara pelan yang hampir teredam suara hujan.

Yunho menoleh dan memperhatikan namja di sampingnya itu. Jaejoong tidak berubah. Wajahnya tetap putih bersih dan terlihat halus. Mata,hidung, bibir itu masih sama. Hanya sekarang Jaejoong terlihat lebih kurus. Ya Tuhan, betapa ia sangat merindukan namja itu.

Jaejoong masih tetap terdiam menatap hujan, seolah hujan itu lebih menarik daripada Yunho.

"Mianhe," ucap Yunho pelan. Daridulu Yunho ingin sekali mengucapkan kata itu pada Jaejoong.

"Aku—" belum sempat Yunho melanjutkan perkataannya, Jaejoong sudah maju ke depan dan menghentikan sebuah taksi yang lewat dan Jaejoong langsung masuk ke dalamnya tanpa menoleh ke arah Yunho sama sekali.

"Jalan, pak,"Jaejoong berkata pada sopir taksi itu. Perlahan taksi itu pun berjalan meninggalkan Yunho yang masih menatap taksi itu dengan pandangan sendu.

.

.

.

PRANG

Semua orang yang ada di dapur langsung menoleh saat mendengar suara berisik itu. Jaejoong langsung menunduk dan langsung membereskan pecahan piring yang baru saja ia jatuhkan.

"Hyung!" sahut Yoochun yang baru saja masuk ke dalam langsung menghampiri Jaejoong dan ikut menunduk di hadapan Jaejoong.

"Aahh!" Jaejoong meringis saat merasakan tangannya tergores pecahan piring dan membuat darah keluar dari tangannya.

"Hyung!" Yoochun langsung mengangkat Jaejoong berdiri. "Bersihkan ini,"perintah Yoochun pada seorang pelayan. Ia lalu membawa Jaejoong keluar dari dapur dan mendudukkannya di meja yang biasa mereka tempati untuk mengobrol. Yoochun meninggalkan Jaejoong sebentar dan kembali dengan membawa kotak obat.

"Kau kenapa sih, hyung?" Yoochun mulai memegang tangan Jaejoong dan membersihkan lukanya. "Kau aneh sekali hari ini, hari ini saja kau sudah memecahkan 3 piring. Saat jam makan siang tadi, kau juga menjatuhkan makanan. Lalu matamu terlihat bengkak. Ada apa, hmm?"

Jaejoong menggeleng lemah, "Iie, daijobu. Mungkin aku kurang tidur saja," bohong Jaejoong. Semalaman tadi ia menangis. Pertemuannya yang tidak terduga dengan Yunho kemarin membuatnya merasakan senang dan sakit. Senang bisa melihat Yunho lagi, tapi perasaan senang itu datang dengan perasaan sakit yang mendampinginya.

"Kau yakin? Kau tidak ingin istirahat saja?" Yoochun bertanya dengan raut cemas. Tangannya masih sibuk mengobati tangan Jaejoong.

"Tidak usah,"

Yoochun mengalah. Setelah selesai mengobati luka Jaejoong, Yoochun beranjak dari sana untuk mengambil segelas teh hangat untuk Jaejoong. Sepeninggal Yoochun, Jaejoong menyenderkan kepalanya dan menutup mata.

"Haahh"

"Jae"

DEG

Suara itu lagi. Apakah dia ada di sini? Perlahan Jaejoong membuka matanya. Matanya membulat melihat Yunho sudah ada di depannya. Namun sedetik kemudian Jae merubah ekspresinya jadi datar lagi.

"Jae, aku ingin bicara padamu," sahut Yunho sambil duduk di kursi di hadapan Jaejoong. Mata Yunho bergerak-gerak gelisah. Ia masih belum bisa menatap namja manis di depannya ini. Rasa bersalah itu masih menumpuk di hatinya.

"Kenapa kau ada di sini, Yunho-sshi?" dingin. Itulah nada suara Jaejoong yang terdengar Yunho. Yunho semakin resah.

Setelah Yunho bertemu Jaejoong kemarin malam, Yunho ingin melihat Jaejoong lagi dan minta maaf padanya. Semalam Yunho memutuskan untuk pergi ke restoran tempat ia bertemu dengan Jaejoong. Siapa tahu dia bisa bertemu dengan Jaejoong. Yunho hari ijin untuk pulang lebih awal dari kantornya untuk pergi ke restoran ini.

Setelah menunggu 1 jam, akhirnya Yunho bisa melihat Jaejoong lagi. Raut wajah senang Yunho berubah menjadi masam saat melihat Jaejoong yang keluar dari dapur restoran dengan dirangkul oleh seorang pria. Mereka lalu duduk di sebuah sudut restoran itu.

Tubuh Yunho sedikit bereaksi saat melihat pria itu menyentuh tangan Jaejoong, tapi Yunho dengan cepat menenangkan dirinya. Dia tidak berhak marah pada Jaejoong setelah apa yang dilakukannya dulu. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya pergi meninggalkan Jaejoong sendirian. Yunho kemudian dengan segenap keberaniannya,ia mendekati Jaejoong. Ia ingin menyelesaikan masalah diantara mereka. Hingga sampai sekarang, sampailah Yunho di hadapan Jaejoong.

"Jaejoong aku—"

"Kalau tidak ada yang penting, aku akan pergi. Aku masih sibuk," Jaejoong memotong kalimat Yunho dan beranjak dari sana. Tapi Yunho dengan sigap menahan tangan Jaejoong.

"Tunggu!" Yunho menatap Jaejoong yang memalingkan wajahnya dari Yunho. "Aku ingin minta maaf," lanjut Yunho pelan.

"…"

"Maaf," suara Yunho terdengar tulus di telinga Jaejoong. Tapi dia tidak mau mudah percaya lagi dengan pria di hadapannya ini.

"Maaf aku tidak datang hari itu," Yunho masih menatap Jaejoong dalam. Jaejoong akhirnya menoleh ke arah Yunho. Mata mereka bertemu. Yunho bisa melihat sepasang mata di depannya itu memerah dan menyiratkan kesedihan.

"Kenapa?" tanya Jaejoong lirih. "Kenapa kau tidak datang?"
Yunho terdiam, "I—itu.."

Jaejoong merasakan ada yang menusuk hatinya lagi. Yunho tidak bisa menjawab pertanyaannya. Apa ini berarti Yunho memang tidak mencintainya?

"Sudahlah, lupakan," Jaejoong menepis tangan Yunho dan melangkah menjauhi Yunho.

"Saranghae," Langkah Jaejoong terhenti saat mendengar suara berat Yunho yang ada di belakangnya. Masih beranikah dia mengatakan cinta setelah apa yang dilakukannya dulu?

"Tidak, kau tidak mencintaiku,"

"Aku benar-benar mencintaimu Jaejoong-ah,"

"…" Jaejoong memejamlan matanya sesaat untuk menenangkan perasaanya pergi dari tempat itu.

"Akan kubuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu, Jaejoong-ah," kata Yunho agak keras hingga membuat beberapa pengunjung yang ada di sana menoleh padanya. Tapi Jaejoong terus melangkah tangpa menoleh ke belakang.

.

.

.

Ternyata Yunho benar-benar serius dengan ucapannya. Setelah hari itu, ia selalu datang ke restoran itu. Ia selalu datang dan mencoba mengajak Jaejoong bicara. Tapi Jaejoong selalu mengabaikannya. Kalau tidak begitu, ia akan duduk di salah satu meja, memesan secangkir kopi dan duduk di sana seharian untuk memperhatikan Jaejoong. Yunho tidak akan pernah bosan untuk mendekati Jaejoong.

Keadaan seperti ini sepertinya sudah tidak asing lagi bagi Jaejoong. Ia jadi ingat, dulu mereka juga pernah seperti ini, saat Yunho yang dulu selalu mendekatinya di kantin kampus tapi Jaejoong selalu mengabaikan Yunho. Sama seperti saat ini.

Perlahan-lahan Jaejoong mulai menikmati kehadiran Yunho yang ada di restorannya. Warna hidupnya yang dulu sempat hilang, kini perlahan-laha datang menghampirinya lagi.

Jaejoong melirik jam tangan cokaltnya. Jam 5 sore lebih 5 menit. Sebentar lagi Yunho pasti akan datang ke restorannya lagi. Yunho selalu datang sekitar jam 5 sore. Lihatlah, bahkan Jaejoong mulai memperhatikan jam berapa Yunho akan datang.

"Selamat datang," ucapan seorang pelayan membuyarkan lamunan Jaejoong yang sedang duduk di kursi kasir. Jaejoong langsung menolehkan kepalanya melihat pintu masuk. Itu dia Yunho datang. Tanpa Jaejoong sadari, sebersit perasaan senang timbul di hatinya saat melihat Yunho.

Tapi kali ini sepertinya Yunho tidak sendiri. Yunho datang bersama 5 orang lain yang berpakaian pakaian katoran. 3 orang pria dan 2 orang wanita. Teman kerja Yunho mungkin, batin Jaejoong. Tapi sepertinya Jaejoong mengenali salah satu dari teman Yunho, sepertinya ia sering melihatnya di sini.

Yunho melirik Jaejoong dan tersenyum padanya, lalu duduk bersama teman-temannya.

"Ahh, aku sering pergi ke tempat ini," celetuk seorang teman Yunho.

"Benarkah Kikuta-san ?" tanya Yunho. Sesekali matanya melirik Jaejoong yang masih duduk manis di kursi kasir. Sebenarnya Yunho agak penasaran dengan pekerjaan Jaejoong. Apakah Jaejoong pelayan disini? Tapi kenapa pria itu tidak pernah memakai seragam seperti yang lainnya.

"Hai, saat pertama kali restoran ini dibuka, aku menyukai masakannya dan sering pergi ke sini," jawab sesorang yang bernama Kikuta itu. "Saking seringnya, aku bahkan mengenal pemiliknya dan kadang-kadang berbincang dengannya, hhaha,"

"Benarkah?" tanya seorang teman Yunho yang lain.

Makanan sudah datang dan tersaji di hadapan mereka. Mereka pun mulai menyantapnya. Untuk sekian kalinya Yunho melirik Jaejoong. Jae masih di tempat yang sama, tapi di sampingnya sekarang ada seorang namja yang kemarin merangkul Jaejoong. Mereka tertawa dan bercanda bersama. Mereka terlihat akrab sekali, huh? Tanpa sadar Yunho mendengus melihat keakraban mereka.

"Waah, umai!" kata seorang wanita yang duduk disamping Yunho. "Kau benar, Kikuta, masakannya sangat enak," Yunho memilih untuk tidak melihat Jaejoong lagi dan mulai mengikuti obrolan teman-temannya.

"Benar kan, bahkan pemiliknya lah yang memasak dan meramu sendiri masakan ini," sontak semuanya langsung kagum, termasuk Yunho.

"Dia juga terkadang bermain piano saat malam hari," lanjut Kikuta. Yunho menoleh melihat grand piano yang ada di salah satu sisi restoran. Tak disangka pemilik restoran ini ternyata mempunyai banyak keahlian.

"Itu dia orangnya ada di sini," Kikuta kemudian melambaikan tangannya pada sesorang. Yunho lalu mengikuti arang pandangan Kikuta dan matanya sedikit terbelalak. Ia melihat Jaejoong yang berjalan ke arah mejanya.

"Konbanwa, Kikuta-san," sapa Jaejoong ramah saat ia sudah sampai di meja Yunho dan kawan-kawannya.

"Hai, Jaejoong-san. Seperti biasa, makanan di sini selalu lezat," Kikuta memuji masakan Jaejoong.

"Ah, arigatou," Jaejoong tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya.

"Perkenalkan, ini Kim Jaejoong, pemilik restoran ini," Kikuta memperkenalkan Jaejoong pada teman-temannya yang ada di sana.

"Hajimemashite," sekali lagi Jaejoong membungkukkan badannya.

"Hajimemashite,"balas teman-teman Yunho antusias. Tapi berbeda dengan Yunho yang masih menatap Jaejoong tidak percaya. Ternyata orang yang dia cintai sekarang menjadi sehebat saja kenapa ia selalu merasa seperti mengenali masakan yang ada di sini. Ternyata ini masakan Jaejoong.

Jaejoong melirik ke arah Yunho dan terkekeh dalam hati saat melihat ekspresi bengong Yunho yang lucu. "Kalau begitu, aku pergi dulu, silahkan menikmati makanannya," Jaejoong tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu.

"Bagaimana, dia hebat kan?" tanya Kikuta.

"Benar, hebat! Dia juga tampan," celetuk seorang wanita di antara mereka.

"Benar, dia hebat,"gumam Yunho pelan.

.

.

.

Jaejoong berusaha berkonsentrasi dengan kegiatannya mengecek meja kasir. Tapi Jaejoong tidak bisa menghentikan matanya yang sesekali melirik namja yang sedang bercanda dengan teman-temannya itu. Jaejoong melongos kesal saat melihat seorang wanita yang duduk di samping Yunho menyuapi Yunho dengan gaya menggoda. Jaejoong melirik Yunho lagi dan matanya sedikit terbelalak saat melihat wanita itu sudah duduk semakin dekat dengan Yunho dan mulai menyentuh lengan Yunho dan mengusapnya. Dan parahnya Jaejoong melihat Yunho tidak keberatan dengan hal itu.

Jaejoong beralih memandang meja kasir dan mulai menata uang yang tadi ia hitung dalam mesin kasir dengan kasar. Saking kasarnya, sampai ada beberapa uang receh yang jatuh. Yoochun yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, menatap heran Jaejoong yang terlihat sangat kesal.

"Hyung, kau kenapa?"

Jaejoong menunduk memunguti uang koin yang jatuh dan menaruhnya ke dalam mesin kasir masih dengan gerakan yang kasar juga.

"Tidak apa-apa," jawab Jaejoong singkat lalu beranjak menuju dapur meninggalkan Yoochun yang masih kebingungan.

.

.

.

Jaejoong memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini. Jika biasanya Jaejoong pulang larut malam, sekarang pukul 7, ia memutuskan untuk pulang. Jaejoong mengambil jaketnya dan beranjak keluar restoran. Saat berjalan, Jaejoong melirik lagi ke arah Yunho. Namja itu masih sibuk dengan teman-temannya. Apalagi wanita di samping Yunho masih gencar menggrepe-grepe Yunho. Lagi-lagi Jaejoong mendengus kesal dan mempercepat langkahnya keluar restoran.

Jaejoong menghentikan langkahnya dan terdiam di halaman restorannya. Ia menarik nafas sedalam-dalamnya. Entah kenapa suasana di dalam restoran tadi terasa panas baginya. Jaejoong tersenyum lega saat merasakan udara segar memasuki paru-parunya.

"Pulang cepat, huh?" Jaejoong terlonjak saat mendengar suara sesorang di sampingnya.

"Tidak kusangka ternyata kau bisa menjadi sehebat ini, Joongie," lanjut Yunho sembari mengulas senyumnya untuk Jaejoong.

"Jangan panggil aku dengan panggilan itu," ketus Jaejoong.

"Sombong sekali pemilik restoran ini," goda Yunho. Tiba-tiba, Yunho menarik tangan Jaejoong dan menariknya pergi.

"Hei! Apa yang kau lakukan," Jaejoong berusaha berontak, tapi tenaganya masih kalah dengan tenaga Yunho yang lebih kuat.

Yunho menoleh dan tersenyum, "Ayo kita kencan!"

.

.

.

Yunho merebahkan tubuhnya di kasur sesampainya ia di kamarnya. Bibirnya tersenyum lagi saat mengingat kencannya dengan Jaejoong barusan. Walaupun mungkin hanya Yunho yang menganggapnya sebagai kencan karena Jaejoong masih agak ketus padanya, dia tetap senang. Tadi Yunho mengajak Jaejoong ke sebuah game center dan bermain di sana, setelahnya Yunho mengajak Jaejoong untuk makan di Dongdaemun (pasar tengah malam). Yunho kaget mengetahui Jaejoong sangat menggilai masakan pedas. Yunho yang tadi iseng mencicipi makanan yang dipesan Jaejoong, jadi kepedasan sendiri hingga akhirnya ia ditertawakan oleh Jaejoong.

Lagi-lagi Yunho tersenyum saat mengingat hal itu. Dia senang bisa membuat Jaejoong tertawa lagi. Dia berharap untuk seterusnya ia tetap bisa membuat Jaejoong tertawa dan tersenyum seperti dulu. Memikirkan itu, Yunho jadi teringat kejadian 2 tahun yang lalu.

FLASHBACK

Yunho sedang berjalan menuju rumahnya setelah ia bertemu dan berjanji dengan Jaejoong tadi. Dia sebenarnya tidak suka jika Jaejoong meninggalkan ayahnya yang telah merawatnya sejak kecil, tapi ia lebih tidak suka jika Jaejoong terus-terusan sedih dan tertekan karena ayahnya.

Yunho baru saja akan berbelok ke gang rumahnya saat sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya dan menghalangi jalannya. Yunho menatap heran mobil itu dan orang-orang berbadan agak besar yang keluar dari mobil heran Yunho berubah menjadi tatapan waspada saat orang-orang itu mulai mengelilinginya. Kemudian seorang pria berumur keluar dari mobil itu. Orang itu memakai jas hiitam dan tampilannya terlihat elegan.

"Tu..tuan Kim," Yunho tercekat melihat orang yang sudah berdiri di depannya.

"Apa kau ada waktu anak muda, aku ingin bicara denganmu," Yunho heran melihat Mr. Kim. Sangat berbeda dengan yang di kampus tadi, walau suaranya tetap terdengar tegas.

Yunho terlihat ragu sebelum akhirnya dia mengangguk ragu.

Yunho dan Mr. Kim kini sudah duduk berhadapan di sebuah restoran. Tadi setelah Yunho mengiyakan ajakan Mr. Kim, Yunho dan Mr. Kim pergi ke restoran ini dengan mobil hitam tadi.

"Kau, apa hubunganmu dengan Jaejoong?" langsung menuju pokok pembicaraan. Sedangkan Yunho langsung tersentak mendengar pertanyaan Mr. Kim.

"It..itu.."

"Jauhi Jaejoong," Yunho tersentak lagi. Dari awal ia sudah berpikir bahwa hal inilah yang ingin dibicarakan , tapi dia tetap kaget saat mendengarnya.

"Jangan temui dia lagi, aku bisa memberi uang berapapun yang kamu minta," lanjut Mr. Kim.

"Maaf, tapi aku tidak akan melakukannya," Yunho berkata dengan suara tegas.

"Apa maksudmu?"

"Apa anda tidak sadar kalau selama ini anda membuatnya menderita?"

"Kau?"

"Anda selalu mengekangnya,menyuruhnya melakukan ini dan itu, tanpa mendengarkan pendapat dan keinginan Jaejoong,"

"Dia anakku, anak harus selalu menuruti orang tuanya!"

"Tapi anda sudah keterlaluan! Anda bahkan tidak menyadari bahwa Jaejoong sudah menderita, coba anda sekali-kali mendengarkannya," Yunho berkata tegas dengan matanya menatap lurus Mr. Kim di depannya yang terlihat mengepalkan tangannya menahan amarah.

"Maaf, aku tidak akan meninggalkan Jaejoong, karena aku mencintainya," setelah berkata begitu, Yunho berdiri dan membungkukkan tubuhnya sesaat sebelum dia pergi keluar restoran. Keputusannya telah bulat. Dia tidak akan pernah meninggalkan Jaejoong.

"Anak itu! Cepat tangkap dia! Dia harus diberi pelajaran!" Mr. Kim yang masih menahan amaranhya menyuruh orang-orangnya pergi menangkap Yunho. Orang-orang berbaju hitam itupun berlari untuk mengejar Yunho.

Yunho yang sudah berjalan di trotoar menoleh dan mendapati suruhan Mr. Kim yang mengejarnya. Yunho pun langsung berlari menghindari orang-orang itu. Kejar-kejaran itupun terjadi.

"Yah! Berhenti!" salah satu dari orang-orang itu berteriak. Yunho terus berlari dan berlari. Keringatnya pun sudah menetes. Yunho melihat jam tangannya. Gawat, dia bisa melihat kea rah depan dan mengingat jalan itu. Di sebrang sana, ada belokan yang nantinya menuju stasiun. Dia langsung menambah kecepatannya berharap dia bisa sampai stasiun dan bertemu dengan Jaejoong secepatnya.

Tapi, Yunho terlalu ceroboh untuk memperhatikan keadaan sekitarnya saat sedang menyebrang. Dia terus berlari tanpa mengetahui bahwa dari sisi kanan, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

TIN TIN

BRUAKK

Tanpa terelakan lagi, mobil itu menabrak tubuh Yunho yang sedang berlari. Badan Yunho sedikit terlempar ke depan. Orang-orang yang tadi mengejar Yunho juga langsung terpaku.

Darah mulai menetes dari kepalanya yang masih berkeringat. Seluruh badannya terasa sakit sekali. Ia seperti tidak bisa merasakan rasa yang lain kecuali rasa sakit itu. Tapi dia masih ingat kalau dia punya sebuah janji. Janji kepada orang yang dicintainya.

"Jae….joong," ucap Yunho lirih sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

FLASBACK END

Yunho memejamkan matanya mengingat kejadian itu. Setelah kejadian itu, ia terbangun dalam sebuah kamar rumah sakit dengan Changmon yang menungguinya. Yunho terkejut saat Changmin memberitahunya bahwa ia sudah tidak sadar selama 4 hari. Saat itu pikiran Yunho langsung tertuju pada Jaejoong. Bagaimana dengan namja itu?

Setelah keluar dari rumah sakit, Yunho tidak mau beristirahat namun ia segera mencari Jaejoong ke mana-mana. Ia bahkan datang ke rumah Jaejoong tapi ia malah dihadiahi tuduhan Mr. Kim kalau ia yang membawa kabur anaknya. Mungkin pada awalnya memang seperti itu, tapi ia sendiri sekarang tidak tahu di mana terus saja mencari kabar Jaejoon, tapi hasilnya nihil. Jaejoong seperti sudah hilang di telan bumi. Akhirnya Yunho dan Changmin memeutuskan pindah ke Jepang sejak setahun lalu. Dan tanpa disangka, Yunho bisa bertemu lagi dengan Jaejoong di restoran itu.

Yunho senang tapi juga khawatir. Semoga saja Jaejoong mau memaafkannya.

.

.

.

Jaejoong mengambil sebuah bir dingin dalam kulkas kecil. Ia sekarang sedang berada di sebuah supermarket, berbelanja kebutuhannya. Senyuman tipis tercetak di bibirnya saat ia mengingat kencannya dengan Yunho kemarin. Tidak ia sangka ia pergi kencan Yunho. Walaupun ia masih marah pada pria itu, tidak bisa dipungkiri ada setitik rasa sengan di hatinya.

BRUKK

Badan Jaejoong sedikit terdorong ke belakang. Ternyata ia tadi melamun dan tidak memperhatikan jalan sehingga ia menabrak seseorang.

"Gomena.." Jaejoong baru akan meminta maaf pada orang di depannya, tapi kata maaf itu langsung tertahan saat melihat siapa orang itu.

"Jaejoong hyung!" orang itu juga tidak kalah terkejutnya dengan Jaejoong.

"Chang..changmin!"

.

.

.

Jaejoong berjalan sambil menenteng belanjaannya dengan gontai. Percakapannya dengan Changmin tadi membuat pikirannya penuh. Setelah tadi mereka bertemu secara tidak sengaja, dongsaeng Yunho itu mengajak Jaejoong ke sebuah café. Awalnya mereka hanya mengobrol basa-basi,hingga raut wajah Changmin berubah menjadi serius dan menceritakan sesuatu yang membuat Jaejoong sangat terkejut dan lemas saat mendengarnya.

Ternyata selama ini pikirannya dia salah. Yunho tidak datang bukan kerena Yunho tidak mencintainya, tapi karena ayahnya.

"Saat sadar, yang diingat Yunho hyung hanyalah Jaejoong hyung" kata-kata Changmin terngiang di kepala Jaejoong.

"Yunho hyung terus saja mencari Jaejoong hyung tanpa memperhatikan dirinya yang baru saja sembuh," Yunho selama ini mencarinya. Yunho selalu memikirkannya, tapi Jaejoong malah berusaha melupakan Yunho.

"Setelah hyung pergi, Yunho hyung tidak seceria dulu, dia selalu muram dan sering melamun," Jaejoong merutuki dirinya sendiri karena membuat Yunho sedih. Bagaimana ia tidak sadar bahwa Yunho itu benar-benar mencintainya.

"Hingga akhirnya Yunho hyung bertemu dengan Jaejoong hyung di sini. Setelah itu, hyung perlahan-lahan jadi ceria lagi,"

Jaejoong sadar, tidak seharusnya dia bersikap dingin pada Yunho, karena memang dari awal bukan Yunho memang masih memikirkannya. Memikirkan itu, Jaejoong merasa lega. Dia senang. Dan dia ingin segera bertemu dengan Yunho.

Tiba-tiba, Jaejoong merasakan tangannya terkena sesuatu yang basah. Jaejoong mendongak ke atas. Gerimis. Jaejoong mencepatkan jalannya menghindari gerimis. Gerimis itu perlahan berubah menjadi hujan. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat tubuhnya basah. Jaejoong pun berlari sambil tetap membawa belanjaannya. Jaejoong melihat sebuah toko yang sedang tutup, namun bagian depan toko itu sepertinya bisa untuk tempat berteduh.

Jaejoong segera menuju tempat itu.

"Haah," Jaejoong mendesah lega saat tubuhnya sudah terlindungi dari hujan. Tapi kenapa rasanya tempatnya lebih sempit dari yang ia lihat tadi? Jaejoong menoleh ke sampingnya dan terpaku saat melihat sesorang yang sangat ia temui berdiri di sampingnya, berlindung dari hujan,sama sepertinya.

"Hai, Jae," sapa Yunho.

"Ha..hai" Jaejoong membalas sapaan Yunho dengan senyuman grogi.

.

.

.

Sudah beberapa menit berlalu, namun baik Yunho atau Jaejoong, tidak ada yang membuka percakapan sama sekali, sehingga yang terdengar di antara mereka hayalah suara hujan yang masih belum berhenti. Walaupun Jaejoong sangat ingin bertemu dengan pria di sampingnya ini, Jaejoong masih bingung apa yang akan dikatakannya. Perasaan gugup juga merasuki perasaannya, jadi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah diam.

Tapi dalam hati, Jaejoong menyadari sesuatu. Dia selalu bertemu dengan Yunho saat hujan. Ia bertemu dengan Yunho dulu juga karena hujan. Sama seperti saat ini. Mungkin hujan adalah cupid bagi dirinya dan Yunho.

Suasana hening itupun tetap berlangsung bahkan hingga hujan itu perlahan berhenti. Tapi, sepertinya Jaejoong masih terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia tidak sadar jika hujan sudah berhenti.

"Hujannya sudah berhenti," suara Yunho berhasil menarik Jaejoong kembali ke dunia.

"Ha? I—Iya,"

"Kau tidak pulang?" tanya Yunho dengan senyumnya. Jaejoong hanya mengangguk kaku dan mulai berjalan pelas. Namun baru 4 langkah dia berjalan, Jaejoong membalikkan badannya menghadap Yunho yang masih berdiri di tempat tadi.

"Yu-yunho, mau makan di rumahku?" Yunho menaikkan alisnya mendengar ucapan Jaejoong.

"A-aku tadi baru belanja, tapi sepertinya ini terlalu banyak untuk kumakan sendiri," Jaejoong langsung mencari alasan untuk menutupi kegugupannya.

Yunho tersenyum senang mendengarnya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini bukan?

.

.

.

"Mashita," seru Yunho setelah melahap habis makanannya. Masakan Jaejoong rasanya tetap sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali. Saat ini mereka sudah duduk di meja makan di rumah Jaejoong, Rumah Jaejoong tidak besar, mengingat dia hanya sendirian. Tapi rumah sangat nyaman sekali kau masuk ke dalamnya.

Jaejoong tersnyum senang mendengarnya. Dia lalu beranjak merapikan mangkok nasinya dan Yunho,kemudian mencucinya. Sedangkan Yunho beranjak duduk di sofa untuk menonton TV.

PRANG

Yunho yang terkejut, langsung berlari menuju dapur saat mendengar suara piring pecah.

"Jae!" Seru Yunho saat melihat Jaejoong berjongkok membersihkan pecahan piring dengan tangan telanjangnya yang sudah mengeluarkan darah. Yunho mendekati Jaejoong dan langsung menarik tangan Jaejoong membingingnya duduk di kursi.

"Kau ini..Kenapa bisa terluka seperti ini?" jelas sekali nada khawatir di suar Yunho.

"Maaf,tadi tangannku licin," bohong, itu bohong. Sebenarnya tadi Jaejoong terlalu sibuk memperhatikan Yunho yang sedang menonton TV saat ia mencuci tadi. Letak dapur dan ruang TV yang bersebelahan memudahkan Jaejoong melihat Yunho.

Yunho membersihkan luka Jaejoong terlebih dahulu sebelum mengobatinya.

"Ahh," Jaejoong meringis pelan saat obat yang diberi Yunho mengenai lukanya.

"Tahan sedikit, jae," kata Yunho lembut. Jaejoong mendongak dan menatap wajah Yunho dekat dengan wajahnya saat ini. Wajah Yunho terlihat serius saat mengobati lukanya. Jaejoong terus saja menatap lekat wajah Yunho dan tersadar, betapa ia sangat merindukan Yunho selama ini.

"Selesai," ucap Yunho setelah ia memasang plester di jari telunjuk Jaejoong. Yunho menatap telapak kanan Jaejoong yang penuh dengan luka yang masih ia genggam. Tapi tiba-tiba Jaejoong menarik tangannya dari genggaman Yunho.

"Arigatou,"

"Tunggu," Yunho menarik tangan Jaejoong lagi. Dengan perlahan Yunho menggamnya dan mencium jari telunjuk Jaejoong yang telah dibalut plester itu dengan lembut.

CUP

"Dengan itu, lukamu akan lebih cepat sembuh," Wajah Jaejoong memerah mendengarnya.

Yunho terkekeh melihat muka Jaejoong yang memerah. Terlihat sangat imut di mata Yunho.

"Yun.." Yunho menghentikan kekehannya saat mendengar Jaejoong memanggilnya.

"Hmm"

"Apa kau mencintaiku," kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jaejoong. Jaejoong sendiri terkejut mendengar ucapannya sendiri.

Yunho menatap Jaejoong lekat dan tersenyum, "Tentu saja"

"Lalu kenapa kau tidak datang ke stasiun waktu itu?"

"….." lagi-lagi Yunho terdiam saat Jaejoong menanyakan hal ini. Apa yang harus ia jawab? Ia tidak mau Jaejoong semakin membenci ayahnya sendiri, walaupun itu bukan ayah kandung Jaejoong.

"Yun," panggil Jaejoong.

"…." Yunho masih diam dan mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Jaejoong.

Jaejoong menghela nafas, "Baiklan, kau tidak usah memberitahuku. Aku sudah tahu semuanya,"

Yunho menoleh ke arah Jaejoong dengan terkejut. Jaejoong sudah tahu?

"Ini semua gara-gara ayahku, bukan?" Mata Yunho melebar mendengarnya.

"Ba-bagaimana kau tahu?"

Jaejoong tersenyum misterius, "Kau tidak perlu tahu darimana aku mengetahuinya,"

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, Yunho-yah," ucap Jaejoong pelan. "Kau malah membuatku beranggapan buruk tentangmu,"

"I-itu…,"

"Kau tidak bagaimana perasaanku saat menunggumu saat itu. Aku menunggu berjam-jam, tapi orang yang kutunggu tidak datang juga. Kau tidak tahu, rasanya sakit sekali aku waktu itu," ucap Jaejoong lirih. Mata Jaejoong menyiratkan kepedihan dan kedua mata besar itu mulai berkaca-kaca. Yunho bersumpah ia rasanya ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat Jaejoong sedih dan terluka.

"Setelah itu aku pergi ke Jepang, berkerja siang malam, berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa," Jaejoong menumpahkan apa yang ia pendam selama ini. Cairan bening perlahan turun dari matanya yang indah. "Aku selalu saja ingat padamu, sama sekali tidak bisa melupakanmu. Aku mencintaimu, Yunho-yah," Jaejoong mulai terisak.

Yunho terpaku mendengar pernyataan Jaejoong. Jaejoong masih mencintainya. Benarkah itu? Ya Tuhan, Yunho merasa senang mendengarnya sekaligus sakit saat melihat Jaejoong menangis seperti itu. Dengan lembut, Yunho menarik tubuh Jaejoong yang sedikit bergetar ke pelukannya. Yunho meletakan tangan kirinya di pinggang Jaejoong dan tangan kanannya membelai rambut halus Jaejoong.

Jaejoong membenamkan wajahnya di bahu Yunho dan masih terisak.

"Mian, mianhe Jaejoong-ah," Yunho terus membisikan kata maaf di telinga Jaejoong.

Setelah Jaejoong berhenti dengan isakannya, Jaejoong menarik tubunhya dari pelukan Yunho dan menatap Yunho lekat dengan matanya yang basah.

"Tidak, tidak perlu minta maaf, ini semua bukan salahmu," ucap Jaejoong pelan.

Yunho menatap Jaejoong khawatir. "Kau..kau tidak membenci ayahmu kan?"

"Benci? Mungkin iya awalnya, tapi aku sadar. Berkat ayahku, aku bisa dekat denganmu," Jaejoong tertawa kecil. Itu benar. Karena ayahnya yang terlalu mengekang, Jaejoong kabur dari rumah dan bertemu dengan Yunho hingga Yunho membawa Jaejoong ke rumahnya dan mereka menjadi 'dekat'.

Yunho menatap Jaejoong tidakpercaya. Ia bahkan tidak pernah berpikir sampai sana.

"Kau serius?" tanya Yunho yang masih belum percaya.

Jaejoong tersenyum, "Tentu saja,"

"Lalu kenapa kau tidak langsung memberitahu kepadaku kalau gara-gara ayahku kau jadi tidakdatang ke stasiun?" tanya Jaejoong.

"Itu… aku tidak mengatakannya karena aku tidak ingin kau semakin membenci ayahmu,"

"Kan sudah kubilang aku tidak membencinya. Kau seharusnya memberitahuku," sahut Jaejoong sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Mian," jawab Yunho pelan.

CUP

Jaejoong mencium bibir Yunho sekilas, "Sudah kubilang jangan minta maaf," Jaejoong tersenyum.

Yunho masih bengong menerima perlakuan Jaejoong. Yunho menatap Jaejoong yang terkekeh di depannya.

"Kau jadi genit sekarang, eoh?" Yunho menarik Jaejoong untuk duduk di pangkuannya. Jaejoong tidak menolak tapi hanya terkekeh dan malah mengalungkan tangannya pada leher Yunho.

"Lihat, genit sekali," goda Yunho.

"Biar saja," Jaejoong menjulurkan lidahnya. Yunho tertawa kecil melihat kelakuan Jaejoong. "Bogopshippeo, Yunho-yah," perlahan Jaejoong mengarahkan tangan kirinya ke wajah Yunho dan membelai pipi Yunho.

Yunho menatap dalam mata Jaejoong dan mendekatkan wajahnya. "Nado," bisik Yunho lembut di telinga Jaejoong. Jaejoong tersenyum mendengarnya. Wajah keduanya terus mendekat, hingga akhirnya bibir mereka bertemu.

Yunho mencium Jaejoong dengan lembut, tapi perlahan ciuman itu berubah menjadi sebuah lumatan. Bibir mereka berdua saling melumat. Yunho mengeratkan tangannya di pinggang Jaejoong dan menarik Jaejoong mendekat. Jaejoong pun kembali melingkarkan tangannya di kepala Yunho. Tangan kanan Jaejoong kini bergerak menekan kepala Yunho untuk memperdalam ciuman mereka.

Mereka terus berciuman dan melumat satu sama lain, hingga Jaejoong melepaskan ciuman itu karena kebutuhan oksigennya.

"Haahh.. hahh..,"deru nafas mereka berdua memenuhi ruangan. Yunho dan Jaejoong saling menatap lalu mereka tertawa kecil.

"Tapi Boo, siapa yang memberitahumu tetang kejadian 2 tahun yang lalu itu?" tanya Yunho yang sudah memanggil Jaejoong dengan panggilan sayangnya. Jujur, Yunho masih penasaran siapa yang memberitahu Jaejoong.

"Apakan itu penting?" Jaejoong malah menjawab Yunho dengan pertanyaan dan tersenyum menggoda.

Yunho tersenyum, "Jadi menurutmu itu tidak penting?" balas Yunho dengan pertanyaan lagi.

Jaejoong memasang raut berpikir dan meletakan telunjuknya di dagunya, "Mmm, bagaimana,ya?" Yunho terkekeh dan mencium hidung Jaejoong gemas karena kelakuannya yang terlihat lucu untuk Yunho.

Ciuman Yunho berlanjut ke kedua mata Jaejoong dan seluruh wajah Jaejoong.

JGERRR

Yunho dan Jaejoong langsung tersentak kaget saat mendengar suara petir. Rupanya tadi mereka terlalu asyik dengan dunia mereka berdua, hingga tidak sadar kalau hujan deras sudah turun dari tadi.

Yunho menatap Jaejoong dan tersenyum menggoda, "Sepertinya aku harus menelpon Changmin dan mengatakan kalau aku tidak akan pulang malam ini,"

Jaejoong terkekeh, "Tapi tempat tidurku terlalu kecil untuk kita berdua,"

Yunho mencium mata kanan Jaejoong, "Tidak apa-apa, pasti cukup. Tenang saja,"

Jaejoong tersenyum geli mendengar ucapan mendekatkan bibirnya pada bibir Jaejoong. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali berciuman dan hanyut ke dunia mereka berdua, tanpa memperhatikan hujan deras yang terus turun dan tersenyum melihat kebahagiaan kedua insan itu.

.

.

.

END

Akhirnya part terakhir update juga ^^

Tapi sebelumnya, maaf banget nggak bisa update pas tanggal 6 kmaren, malah jadi tgl 7 updatenya. Abis tiba-tiba mulai dari hari minggu kemaren, badan aku rasanya nggak enak semua.*bow*

Tapi akhirnya aku bisa update juga hari ini Part 3 ini lebih panjang dari yang part 1 sama part 2. Mudah-mudahan aja kalian nggak bosen bacanya. Apalagi ceritanya ini tambah nggak jelas T.T

Oiya, kemaren banyak yang nebak kalo Yunho itu nggak dateng gara-gara appanya Jae. Ting Tong. Benar sekali ^^ Sempet kaget sih, kok kayaknya gampang banget ketebak ya? Tapi nggak apa-apa deh, lanjutin aja. Haha :D

HAPPY BIRTHDAY JUNG YUNHO 3 Jung Yunho, U-know Yunho, Yunnie, Leader-sshi, SAENGIL CHUKKAE :D You're our best leader ever. Thanks for protecting TVXQ until now. You really worked hard for it 3 Stay healthy, and we wish you'll always be happy, Leader-sshi.

*gapapa dong ngucapin selamat, meski lewat 1 hari ^^

Oke, deh. Seperti biasa, thanks yang udah review kemaren Semoga kalian tetep mau nge-riview di chap terkhir ini ^^

That's it. I hope you enjoy this story. And don't forget to RnR ^^