Title : White Day Secret
Rate : T
Genre : Romance/Humor (garing sih. Tapi setidaknya, fic ini gak bertipe serius XD)
Warning : OOC, AU, no EYD, bahasa campur non-baku, Typos, Rush plot, random pairs, 1 POV, DLDR!
oOo
Note :
Giri choco : cokelat kewajiban. Alias, cuman cokelat yang biasanya diberi untuk teman.
Honmei choco : Cokelat cinta.
Bishounen : laki-laki cantik
Senbei : bentuknya bulet, dari tepung beras. Camilan orang Jepun. Entah kenapa saia punya feeling bahwa rasanya bakal mirip ama snack Serena #PLAK
Naruto © Masashi Kishimoto
oOo
Chapter 2
Orang Keempat : Berbahagia
Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama. Mungkin tak ada yang tahu, tapi … aku punya crush dengan sepupuku sendiri. Aku tak pernah menceritakan hal sepribadi ini kepada siapapun selain kalian. Karena, kupikir aku tak pantas menyukainya dan orang-orang pasti akan menatapku kaget.
Tapi, sudahlah.
Kuharap kalian bisa jaga rahasia kecil ini.
Lusa, tanggal empat belas Maret yang artinya white day. Aku sudah berpikir, akan memberikannya sebuah kue cokelat. Kue cokelat kecil, yang memiliki hiasan cheri diatasnya. Kalau kulihat-lihat, kue itu mirip seperti blackforest.
atau itu memang blackforest?
Ah, aku tak terlalu mengerti dengan nama-namanya. Yang pasti, kue itu sudah ku booking agar tidak ada siapapun yang membelinya saat white day tiba. Aku bahkan sudah menyiapkan bungkusan kecil yang sederhana tapi manis, untuk dijadikan sebagai kantung kue. Dan aku juga menulis sebuah surat pendek untuknya. Yah, memang berlebihan sih, tapi aku ingin memberikan sesuatu yang 'agak' berkesan dimatanya.
Kalau kau ingin tahu tentang dia, Hinata-sama, maksudku sepupuku, dia adalah wanita yang selalu menyiapkan camilan setiap aku berlatih kendo dengan paman Hiashi yang merupakan ayahnya.
Jika kalian bertanya apa daya tarik yang dimiliki gadis itu, mungkin dari caranya bertingkah dan berbicara. Entahlah. Aku tak pandai memuji manusia karena kamusku terbatas. Yang jelas, aku sudah tertarik padanya sejak awal dan tiba-tiba saja perasaanku berubah menjadi suka.
Aku … jatuh cinta pada 'majikan'ku sendiri.
Ya, kami memang berasal dari keluarga yang sama. Tetapi, tidak semua Hyuuga memiliki kasta yang sama. Kami terpisah, antara kasta utama—souke—dan kasta jelata—Bunke—Hinata dari souke, dan aku dari bunke. Jadi yaa … inilah alasan kenapa aku tak mungkin menunjukkan perasaanku padanya secara gamblang.
Tapi, semakin lama perasaan itu dipendam, aku merasa semakin gatal. Karena itulah, saat white day tiba, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Aku akan mengungkapan semuanya dengan cokelat honmei-ku. Aku tahu resikonya tinggi—sebagai catatan, Hiashi itu ayah tergarang dan overprotective yang pernah kutemukan—tapi, biarlah aku babak belur dihajarnya. Yang penting, aku puas.
Keesokkan harinya, aku mulai menyiapkan segala embel-embel hiasan dan kue untuk merayakan white day. Aku sudah berencana akan mengambil kue itu sewaktu pulang sekolah tiba. Tapi sial, aku tidak tahu kalau ada latihan tambahan untuk persiapan mengikuti turnamen kendo minggu depan. jadi, aku terpaksa tinggal disekolah untuk beberapa saat lagi.
Dan, sore pun tiba.
"Jam empat," aku mengeluh pasrah. Ketua klubku, Anko—ya, dia wanita. Tapi tidak selemah yang kau kira—kelihatannya sadar kalau aku sedang menunggu hari ini cepat selesai.
"Kau mau kemana habis latihan?" wajahku menoleh saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
"Hm," aku hanya bergumam pendek sambil tersenyum misterius. Anko memukul bahuku dan tertawa disana. Syukurlah, ia tak banyak bertanya hari itu.
.
.
.
oOo(Fuun)oOO
.
.
.
Karena langit hampir gelap, aku terpaksa berlari agar tidak pulang terlalu malam. Tapi, saat ada ditikungan jalan, tiba-tiba saja sebuah sepeda meluncur kencang dari arah jalanan yang curam. Wajahku membelalak saat bocah yang mengendarai sepeda itu berteriak keras.
"Hoii! AWAS!" mendadak, ia belokkan stang sepedanya dan menggunakan kedua kakinya untuk memperlambat putaran roda.
Aku kesal setengah mati dengan tindakan ceroboh dari orang itu.
"WOY! BOCAH SIALAN!" ia terlihat bergidik sesaat—mungkin cuma imajinasiku saja—dan sempat menoleh kearahku dengan pandangan mata yang bengong. Aku tidak tahu apa maksud dari tatapan yang seduktif itu tapi …
Aha.
Akan kubunuh lelaki itu jika berpikir aku manis seperti perempuan.
Rintanganku menuju toko kue tidak semulus yang kukira. Bahkan, setelah sampai disana pun, aku masih diberi tantangan oleh Tuhan. Seorang laki-laki kisaran SMA, berdiri terpaku didepan etalase tempat kue incaranku dipajang. Tiba-tiba saja tangannya menunjuk kue itu dan mulutnya nyaris berbicara.
"Aku pesan yang ini–"
"Tunggu dulu," aku mencelanya. Dan laki-laki itu terlihat kaget, "Aku sudah memesan kue itu lebih dulu sebelum kau,"
"Bukankah siapa cepat dia dapat?" lelaki itu terlihat sewot, "Aku tak peduli karena aku yang berdiri lebih dulu disini," urat dikepalaku menegang, "Aku beli ini–"
"Tidak. Aku bayar kue ini dua kali lipat dari harga yang biasa,"
Lelaki itu membeku ditempat. Tentu saja pelayan tokonya memilihku karena aku membayar lebih mahal dari harga normal.
"Cih. Sialan," lelaki itu keluar dari toko dengan wajah yang kesal. Ah, masa bodo dengannya.
"Ini kue-nya tuan. Terimakasih sudah mampir." Pelayan itu menyodorkan sebuah kotak kue kecil kepadaku. Setelah menerimanya, aku pun pulang ke rumah dengan wajah yang tenang.
Aku tak sabar menunggu hari esok tiba. Karena detik pertama di pagi buta akan kugunakan sebagai momen menyerahkan kue tersebut.
Tapi eh, sial.
Rencana memberi kue di pagi hari gagal karena jam bekerku tak menyala. Aku kesiangan! Terlalu resiko memberinya di saat waktu sarapan tiba karena mungkin saja paman Hiashi sudah bangun, juga keluarga Hinata yang lainnya. Padahal kue itu sudah kumasukan kedalam kantung biru kecil dengan motif bintang. Surat beramplop dengan warna yang senada pun sudah kuletakkan didalam sana. Yah, semuanya sudah lengkap kecuali rencana yang kurang berjalan lancar.
Karena itu, setelah pulang sekolah, aku akan menunggunya dengan sabar di depan teras rumah. Untunglah, tidak ada kegiatan klub kali ini. Jadi aku bisa pulang cepat. Tapi sial, justru Hinata-lah yang ternyata pulang telat, bahkan hingga langit menjadi merah, ia belum kembali! Kesabaranku diuji lagi saat itu.
Satu jam berlalu. Paman Hiashi baru saja balik ke kamarnya untuk istirahat setelah mengajar kendo di dojo. apa aku belum bilang kalau keluarga Hyuuga memiliki dojo? Tapi syukurlah, dengan begitu, paman Hiashi tidak akan mengganggu rencanaku. Fiuh …
CLEK
"Okaeri,"
Dan akhirnya, suara itu muncul juga. Hinata berdiri dengan wajah polosnya di ambang pintu. aku menyambutnya dengan tidak biasa. sedikit berbisik, aku mengajaknya pergi ke halaman belakang karena aku tak mau ketahuan paman atau adik kecilnya saat sedang memberikan cokelat. Kami duduk di teras sambil memandang bulan malam.
Oh ya, ini sudah malam.
"Hinata-sama," saat itu, aku tidak tahu kenapa tapi, wajah Hinata sedikit pucat dan ia tertangkap basah menghela napas berkali-kali, "Ada apa?"
Ia terperanjat, "E-eh? Ah … tidak apa-apa," aku tahu, senyuman itu mencurigakan, tapi sudahlah, "Apa yang ingin Niisan bicarakan disini?" dahaga kutelan. Satu, dua, tiga.
Ayo katakan.
Katakan Neji!
"Ada … sesuatu yang ingin kuberikan padamu—" sial, lagi-lagi Hinata meleng, "Hinata-sama?"
"M-maaf!" ia memejamkan matanya sambil berkata demikian, "Aku sedang banyak pikiran,"
"Ada apa?" tanyaku pelan. ia terlihat menunduk dengan wajah yang memerah.
"N-Naruto-kun," ia memainkan jarinya, "T-tadi pagi kulihat dimeja Naruto-kun—"
"Ada cokelat?" Hinata mengangguk, "Itu … untukmu?" ia menggeleng.
"B-bukan. Cokelat itu—"
"Jadi, Naruto ingin memberikannya pada orang lain?" Hinata terlihat diam. Tapi bukan wajah sedih yang ditunjukkannya. Melainkan wajah yang berpikir keras, "Kau … tidak apa-apa, Hinata-sama?"
"E-eh. Ah, sudahlah," ia menggunakan senyum yang berkata 'sudah, akhiri saja pembicaraannya' dan aku mengerti.
"Aku ada sesuatu untukmu," malam itu, aku menyodorkan sebuah bungkus cokelat kepadanya dan Hinata terlihat takjub, "Selamat hari putih," kuelus pipinya secara spontan, dan pergi dengan langkah yang normal, sebelum akhirnya aku berjingkrakkan karena malu sudah menyentuhnya.
Untunglah, aksi OOC-ku tidak ada yang melihat, apalagi Hinata itu sendiri.
Tapi aneh, keesokkan paginya, Hanabi berdiri disamping ranjangku dan membangunkanku. Disana, ia tersenyum lebar, dan pipinya bersemu merah.
"Arigatou Niisan!" ia berlari kencang setelah mengatakan itu. aku hanya terbengong-bengong setelahnya, tak mengerti dengan situasi saat itu. Tapi ah, siapa peduli. Yang penting, cokelat itu berhasil kuserahkan kepada tangan yang benar.
Sekali lagi,
Happy white day, Hime-sama.
.
.
.
Orang kelima : Kelainan
Aku tahu, ini gila. Orang-orang banyak yang mengharapkan cokelat dariku. Tiap siang dan malam aku diteror dengan tumpukan surat berwarna pink cerah yang wanginya keterlaluan. Isinya ya apalagi kalau bukan 'berikan cokelat white day untukku Sasuke-kun!'
Argh! Cewek-cewek brengsek.
Mereka menggangguku. Aku tak pernah tertarik untuk memberi cokelat, bahkan aku sendiri pun tak suka dengan cokelat. Aku selalu saja nyaris muntah saat wewangian yang manis seperti itu tercium oleh hidungku. Aku selalu melarikan diri dan menyepi disaat hari-hari seperti valentine tiba. Aku menghindari mereka—yang mengklaim dirinya sebagai fansku—atau bisa kau katakan bahwa aku menghindari cokelat-cokelat mereka lebih tepatnya.
Tapi sayang, aku yang norak itu adalah masa lalu.
Sekarang, aku tak terlalu benci dengan makanan itu. terlebih saat kucicipi sebuah cokelat pahit yang direkomendasikan oleh seseorang. Yah, dia orang yang menyarankanku untuk membeli cokelat rasa kopi. Pahit-manisnya pas dengan seleraku. Sementara ia sendiri, lebih suka dengan rasa vanilla mint. Huh, lidahnya memang kekanakkan. aku pernah mengejeknya begitu, dan keesokkan harinya dia nekat membeli cokelat rasa whisky. Dan kau bisa tebak, apa? dia langsung mabuk dalam sekali kunyah.
Haha, orang aneh yang cukup manis.
Dia adalah temanku, sekaligus orang yang kukagumi. Ah entahlah. Aku sendiri tak tahu apa ini rasa kagum atau tidak. Tapi, dia adalah orang pertama yang membuatku merasa nyaman. Aku tak perlu merasa risih atau harus membicarakan sesuatu saat sedang bersamanya. Karena orang itu selalu maklum, dan dia tak pernah merasa keberatan jika harus duduk berdampingan denganku, tanpa mengobrol sekalipun.
Yah, begitulah.
Mungkin karena kebaikannya yang menggugahku, aku jadi berpikir, apakah white day adalah hari yang pas untuk membalas jasanya. Tentu saja, ini rahasia karena kalau sampai para fans atau orang-orang sekolah tahu, aku bisa mati berdiri diserbu oleh mereka. Aku merasa tak punya muka lagi, atau bahkan, meletakkannya di pantat sekalipun tak bisa membuat rasa maluku hilang. Yah, aku berencana akan memberikan cokelat itu padanya, secara diam-diam. Bahkan kemungkinannya, dia sendiri pun takkan tahu bahwa cokelat itu dariku.
Lalu, apa poin dari ini semua?
Entahlah. Yang jelas, aku puas karena sudah melemparinya dengan sebatang cokelat.
Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju toko kue. Cuma butuh sepuluh menit untuk tiba di toko yang kumaksud. Mataku terpaku pada sebuah kue blackforest yang terpajang di etalase toko. Hiasan cherinya terlihat lezat, krim putihnya mencuat diantara kepingan cokelat. Aku melirik harga yang tertera untuk kue itu, bersyukur, tidak lebih mahal dari uang jajanku.
"Aku pesan ini—"
"Tunggu dulu," tiba-tiba saja, suara pria terdengar menginterupsiku. Aku menoleh pada sosoknya. Astaga, kukira dia laki-laki sangar tapi ternyata , "Aku sudah memesan kue itu sebelum kau."
Bishounen!
B-Bishounen. Bbbrr. Dia membuatku takut dengan wajahnya yang kelewat cantik. tapi hei, aku tak suka dengan aksen berbicaranya yang terdengar skeptis ditelingaku.
"Bukankah siapa cepat dia dapat? Aku tak peduli karena aku yang berdiri lebih dulu disini," aku memalingkan wajahku darinya dan kembali menunjuk kue blackforest di etalase toko, "Aku beli ini—"
"Tidak. Aku bayar kue ini dua kali lipat dari harga biasa,"
Jirrr.
Aku selalu mengutuk orang-orang berduit tebal sepertinya. Inilah kenapa aku tidak suka melawan orang-orang yang punya segalanya. Mereka selalu mencari jalan keluar dengan uang, uang dan uang.
"Sialan!" aku merutuk, keluar dari toko dengan wajah yang ditekuk. Mataku menelusur ke sebuah jalan panjang disisi kiri. Kurasa, aku akan pergi mencari bahan untuk membuat cokelat sendiri.
Pulang-pulang, barang belanjaanku terlihat memenuhi kamar apartemen. Untuk jaga-jaga, aku menyiapkan kadar bahan-bahan cokelat yang sedikit kulebihkan. Siapa tahu cokelat pertama buatanku gagal? Aku kan belum pernah merambah dunia patisserie.
Tapi diluar dugaan, cokelat kepingan itu jadi dengan mudahnya.
Bahan yang masih bersisa kuberikan pada nenek tetangga yang biasanya sering memberiku camilan senbei. Itung-itung amal sekaligus balas budi lah. Kutengok keluar pintu apartemen, belum ada tanda-tanda dari aniki-ku yang pulang kerja. Jadi, waktu itu kugunakan untuk menyelinap ke kamarnya dan mencari potongan-potongan kertas bermotif yang kemarin ia dapatkan dari kantornya bekerja.
Dan voila, aku menemukannya, bersama dengan sebuah pita berwarna biru air. Kugunakan bahan-bahan sisa itu untuk hiasan. Dan setelah rapi, cokelat yang baru saja kubuat itu kumasukkan kedalam wadah yang kutaruh didalam bungkusan—yang tadi kubuat dengan potongan-potongan kertas dan pita—.
Setelah itu, kupandangi hasil kerjaku barang sejenak.
Aku pundung.
Aku merasa seperti seorang perawan yang sedang jatuh cinta saat sedang membuat cokelat itu, beserta hiasannya.
DUK DUK DUK
Kubenturkan kepalaku di tembok untuk menenangkan diri. Setelah puas melihat darah yang mengucur deras dari dahi, kuputuskan untuk tidur dan melupakannya. Tidak, tidak, tidak. Aku bukan perawan, dan aku tidak sedang jatuh cinta.
Pagi-pagi sekali aku datang ke sekolah, supaya orang-orang tak ada yang sadar saat aku memasukkan cokelat itu ke dalam lokernya. Fiuh, aku sedang beruntung. Setelah diam-diam menyelinap ke kelas orang itu, aku pun beranjak pergi sebelum ada anak lain yang masuk ke kelas ini.
Ah, senangnya.
Setelah itu, aku menjalankan hari-hari white day-ku dengan perasaan yang lapang. Semua murid perempuan seperti biasa, berteriak-teriak menjambak blazerku—bahkan sampai ada yang berani menjambak mahkota kebanggaanku—dan menuntut cokelat dariku.
"URUSI DIRIMU SENDIRI! JANGAN MERENGEK PADAKUU!"
Aku berteriak kasar pada mereka, tapi justru teriakan histeria penuh kekaguman yang kudapat setelahnya. Dasar wanita-wanita gila! Aku tidak tahu bagaimana caranya mengusir pengikut-pengikut yang abnormal seperti mereka.
BRUK
Ah, sial. Aku menabrak orang sampai ia terjatuh.
"Maaf. Kau … tidak apa-apa?" wajah perempuan itu terlihat takut dan pucat saat bertemu mata denganku. Ia menunjuk wajahku dengan tidak sopannya dan menjerit kencang.
"TIDAKKKK!"
Kaus kutang didalam seragamku melorot sebelah. Demi Neptun. Dia … Hinata.
Kenapa reaksinya saat melihatku tadi seperti melihat sosok maniak ya?
.
.
.
Orang keenam : Terkejut
Aku tidak mau muluk-muluk, tidak mau bermimpi jauh. Meskipun sebenarnya aku sangat menyukai Naruto, tapi, aku tidak bisa membuat diriku pantas untuk mendapatkan cokelat darinya. Bahkan saat Valentine lalu, aku sudah bertingkah ceroboh dan salah memasukkan cokelat pada loker orang lain. entahlah. Padahal, saat itu aku sangat yakin bahwa loker yang kupilih adalah milik Naruto, tapi … aku tidak tahu kenapa jatuhnya di loker seseorang yang bernama Gaara. saat itu, aku merasa seperti dikutuk. Semua hal-hal positif tentang perasaanku pada Naruto, entah kenapa tak pernah bisa sampai dan selalu terhalangi.
Oh, jangan bilang dia bukan jodohku.
Aku sudah memerhatikan Naruto sejak duduk di bangku sekolah dasar. Konyol sekali jika perasaanku pupus bahkan sebelum aku menyatakannya secara langsung pada Naruto. Sayangnya, aku terlalu kikuk dan pemalu untuk menghadapi dia. Aku takut, ia menolakku, atau hal-hal buruk semacamnya akan menimpaku nanti. Uh … kalian tahu sendiri kan? Dia suka Sakura. Wakil ketua OSIS di sekolahku. Dia begitu tenar, dan sudah banyak orang yang mengagumi eksistensinya.
Sementara aku? Uh.
Lebih baik, kuganti saja topik pembicaraannya.
White day tahun ini adalah kenangan teraneh dan terburuk yang pernah kualami.
Waktu itu, aku tak sengaja melihat Sasuke Uchiha, memasuki ruang kelasku dengan cara yang mengendap-endap seperti maling. Biasanya ia tak pernah datang sepagi ini dan seandainya datang pun, ia mungkin sudah berada di atap sekolah, menunggu bel masuk berdering.
Tapi, kali ini? Dia terlihat sangat aneh.
Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tasnya. Saat itu aku berpikir 'oh, mungkin saja ia mau memberi cokelat white day-nya kepada seseorang'. Aku sudah merapal nama gadis yang duduk di depan kursiku. Ya, siapa lagi kalau bukan Haruno. Perempuan yang sempurna, pantas bersanding dengan lelaki sempurna—kata fans-nya—.
Aku masih memerhatikan gerak-geriknya dengan jeli—hei, aku menguntit! Ini buruk!—Saat itu Sasuke nyaris sampai pada deret kursi tempat Haruno duduk. Tinggal beberapa langkah lagi … Tapi, tunggu.
Dia berbelok! Dia mau ke kursi siapa?
Aku memerhatikan dengan mata yang menganga lebar. Tidak mungkin! Aku menatap ngeri saat ia memasukkan bungkusan cokelat itu di loker meja Naruto!
MEJA NARUTO TEMAN-TEMANKUU!
Demi Jashin! Itu kenyataan! Kenyataan yang buruk! Bagaimana mungkin saingan cintaku untuk mendapatkan Naruto adalah laki-laki? Bagiku, momen itu adalah momen terpahit yang pernah kulihat. Aku menyukai seseorang yang disukai oleh laki-laki lain! ia bahkan sempat tersenyum memandangi cokelat itu.
Aku pucat pasi …
Saat ia berbalik dan hendak keluar dari ruang kelas, cepat-cepat aku pergi. tak peduli mau melangkah kemanapun yang penting aku harus jauh-jauh dari Uchiha. aku takut! Takut ia sadar bahwa aku mengintipnya dan mengetahui rahasia kedisorientasinya.
Saat bel istirahat, aku melihat Naruto dan Sasuke yang sedang berbagi meja bersama Haruno . Aaah, Sasuke mengambil tempat disamping Naruto. Mereka saling memukul bahu dan berangkulan! Apakah mungkin, Naruto menerima cintanya? Ataukah jangan-jangan hubungan mereka sudah seperti itu sejak awal dan pengakuan cinta Naruto kepada Sakura hanyalah topeng yang ia gunakan untuk menutupi cinta sejatinya kepada … Sasuke? Atau … apakah mungkin jika Sakura tahu tentang hubungan mereka? dan Sakura justru mendukung kisah terlarang mereka?
K-kalau itu benar, maka … m-maka …
GYAAAA!
Tidaktidaktidaktidak Hinata! Jangan berpikir yang macam-macam!
Aku segera memesan roti sandwichku dan kembali menatap mereka lagi.
Tunggu. Uchiha menghilang? Aku memutari lingkungan kantin dengan kedua mataku dan menemukan sosoknya yang berlari dari sesuatu.
"Kyaa! Kyaaa! Sasukeeee!"
aku kaget karena Sasuke berlari kearahku, tetapi matanya menatap ngeri kepada kawanan fansnya yang mengejar dibelakang. Dalam kata lain, dia meleng! Larinya gak pake mata!
BRUKK
Aku jatuh terpental. Rasanya lumayan sakit. Sandwichku jatuh ke lantai. Untunglah bungkusnya belum kubuka. Fiuh. kembali kufokuskan diriku pada sosok yang menabrakku.
"Kau … tidak apa-apa?"
Aku takut aku takut aku takut!
"TIDAKKK!" aku berdiri sambil meneriaki wajahnya dan menunjukkan dengan lantang. kemudian kabur sebelum keramaian membuatku sulit untuk keluar dari kantin.
Uh. Lagi-lagi aku melakukan hal bodoh. Kalau kupikir-pikir, kejadian tadi sangat memalukan! Aku berani bertaruh bahwa Naruto yang saat itu melihatku pasti mengira bahwa aku anak yang aneh. habislah sudah masa depanku.
.
.
.
oOo(Fuun)oOo
.
.
.
Pulang sekolah wajahku sangat kusut, dan berantakan. Aku tidak langsung pergi ke rumah saat itu. aku termenung di atas ayunan kota sampai langit menjadi merah. Saat itu kulihat seseorang berpakaian kasual melintas dengan barang belanjaan yang sangat banyak ditangannya. Dengan insting penolong yang kuat, aku pun beranjak dari ayunan dan mendekatinya.
"Biar kubantu," bocah itu sedikit lebih pendek dariku. ia hanya terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia menyerahkan sebuah kantung belanjaannya yang paling ringan. Aku meminta kantung yang lebih berat, tapi ia bilang membawa barang yang berat adalah tugas laki-laki. Secara refleks, aku pun menertawainya. Tapi bukan berupa ejekan.
"Neechan, rumahku disini," ia berhenti dan menarik lengan bajuku saat kami tiba didepan sebuah rumah bergaya tradisional. Ia meminta barang belanjaannya kembali. Aku pun menurut. Kuturunkan kantung-kantung belanjaan itu dan mengucapkan pamit.
"Sampai jumpa,"
Untuk sesaat, aku merasa 'sedikit' tenang.
.
.
.
oOo(Fuun)oOo
.
.
.
"Okaeri,"
Pulang ke rumah, aku dikejutkan dengan sosok Neji yang berada di depan pintu. ia menyambutku, tidak seperti biasanya. Kemudian mengajakku pergi ke halaman belakang dan memintaku untuk duduk mendengarkannya.
"Hinata-sama," dia memanggilku tiba-tiba dengan sapaan yang formal, "Ada apa?" entah kenapa aku punya feeling bahwa Neji menangkap basah wajah runyamku. Harus kuperbaiki!
"E-eh? Ah … tidak apa-apa," aku berusaha untuk tersenyum normal, "Apa yang ingin Niisan bicarakan disini?" ia terlihat menahan napasnya. Dan hendak bersiap-siap untuk berbicara..
.
.
.
Tapi kapan?
Ini sudah tiga detik sejak jeda menahan napas.
"Ada–" aku kembali bengong karena Neji tak kunjung berbicara saat itu, "Hinata-sama?" ia menolehkan wajahnya didepan wajahku. Celaka! Aku tak mendengarkannya lagi.
"M-maaf!" aku menundukkan badanku sedikit, didepannya, "Aku sedang banyak pikiran," pungkasku pendek.
"Ada apa?" ia bertanya dengan tenang disana. Ah, padahal aku sedang tidak ingin membahas masalah itu.
"Ung … T-tadi pagi kulihat dimeja Naruto-kun–"
"Ada cokelat?" ia menebaknya dengan tepat. Aku mengangguk pendek, "Itu … untukmu?"
Untukku? Mustahil sekali.
"B-bukan. Cokelat itu—"
"Jadi, Naruto ingin memberikannya pada orang lain?" ah … makin kusut. Sebaiknya aku tak berbicara apa-apa lagi, "Kau … tidak apa-apa, Hinata-sama?" ia terlihat khawatir sesaat. Jujur saja, kakak sepupuku yang satu ini terlalu berlebihan.
"E-eh. Ah, sudahlah," aku harap ia mengerti bahwa aku tak ingin membicarakan ini lebih jauh. Dan benar saja, ia mengganti topik obrolannya. Kembali ke awal.
"Aku, ada sesuatu untukmu,"
Ia mengeluarkan sebuah kantung dan menyodorkannya padaku. Saat kuintip, ternyata isinya cokelat! Tapi … kenapa?
"Selamat hari putih," ia mengelus pipiku dan meninggalkanku begitu saja.
Bulu kudukku meremang. Dengan hati-hati, kubuka bungkusan itu dan menemukan sebuah surat kecil disana.
oOo
Kemilau bulan diatas air danau.
Kecantikannya takkan pernah pudar ditimpa masa
Untuk orang yang bisa mengalahkan kecantikkannya
Selamat hari putih, Hime-sama.
oOo
Apa ini? Surat … cinta?
Tidak mungkin! Terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Aku terus berpikir semalaman kenapa Neji memberiku sebuah cokelat dan menyertakan surat yang 'agak-agak'. Tapi, saat pagi kembali datang, aku sadar bahwa surat itu hanyalah berupa simbol yang sifatnya kekeluargaan.
Karena apa? Hanabi juga dapat cokelat dari Neji. Ahh, aku merasa lega.
-Tsuzuku-
A/N : Hayoloh rancu! Wkwk! Chapter depan bakal jadi POV-nya Hanabi, Sai, dan xxx.
.
.
.
:Reply Review:
Lovely Orihime (Jiraiya, Tsunade ama Orochi dimunculin? Em …. Gimana kalo kita berantem aja Rinso-chan?)
Kurousa Hime (Haha … makasih udah mampir! XD semoga suka chapter yang ini XD),
InolanaWillowShimmer (Iyoo! Hinata juga favoritku XD makanya di chapter ini perannya banyak lumayan banyak XD)
Ryan POTLOT (Wah, ane udah punya rencana kalo Sai bakal dijadiin POV penutup. Ehehe~ tapi soal Hinata, bener kok muncul disini LOL)
Muchas Gracias, Amigo!
