Disclaimer: Rina masih tidak punya Vocaloid
Ahem, semoga ini chapter terakhir… semoga ini chapter terakhir… *bikin jampi2* tapi… ternyata tidak… OH NO! (TWT)/ Rina lupa soal Epilog! Ato mungkin kalo gak mau dikasih epilog jadi tetep 3 chapter nie ja~
Rin POV
Detik demi detik berlalu, hanya dengan aku dan Len yang saling bertatapan satu sama lain. Tidak ada yang bergerak untuk memperkecil jarak di antara kami. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Di ujung pikiranku, seseorang berteriak bahwa Len adalah orang yang jahat dan merupakan musuh, tapi… aku…
"Aku… merindukanmu… Len…" ujarku untuk memecahkan keheningan. Mulutku bergerak sendiri dan mengatakan itu tanpa sepengetahuanku secara sadar.
Len tampak terkejut mendengarnya, tapi dengan segera wajahnya menjadi lembut. Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dan aku tahu bahwa itu adalah suara langkah kaki Len, karena jarak di antara kami mulai mengecil.
Saat Len benar-benar berada di hadapanku, aku tidak merasa ketakutan saat Rei-sama mencoba mendekatiku. Pikiranku memutar kembali ingatanku pada hari itu, hari dimana aku pertama kali jatuh cinta, jatuh cinta pada seseorang yang akan membawa kemusnahan pada negeri tempat tinggalku sendiri…
Dengan perlahan namun pasti, Len membelai wajahku dengan menggunakan tangannya, dengan sangat lembut. Kini aku bisa memperhatikannya dengan lebih jelas. Aku menyadari bahwa kami tampak sangat mirip sehingga tampak seperti refleksi cermin. Rambutnya tidak terlalu panjang, mungkin hanya sebahunya, tapi, karena dia mengikatnya menjadi ponytail kecil yang rendah, panjangnya tidak terlalu ketahuan. Warnanya hampir sama seperti rambutku, tapi memiliki warna yang sedikit lebih gelap. Rambutnya masih memiliki keindahan yang selalu kuingat semenjak hari itu.
Matanya yang memandangiku memiliki warna biru sapphire yang dalam, seperti warna lautan. Tatapan matanya juga tajam dan memiliki aura tersendiri yang membuatku tidak mampu mengalihkan mataku dari pandangannya. Aku tidak bisa mengatakan hal buruk tentang wajahnya yang sangatlah sempurna dan tanpa cacat itu.
Tubuhnya tampak sangat terbentuk dan meski terbalut pakaian kerajaan, dia masih tampak sangat gagah. Dia sedikit lebih tinggi dariku, mungkin hanya beberapa cm saja.
Kehangatan tangannya yang berada di pipiku sangatlah nyaman. Perasaan ini sama seperti saat itu, dan aku tanpa sadar menggenggam tangannya lagi, seperti sama seperti malam itu. Tangannya masih terasa seperti itu. Tidak salah lagi, dia adalah Len… Len yang sama dengan Len yang kucintai. Dia adalah Len… my beloved Len…
Aku begitu merindukannya… aku sangat merindukannya hingga aku hanya menangis setiap malam dan berdo'a tanpa lelah hanya untuk berharap bahwa kami bisa bertemu kembali…
"Kenapa kau menggenggam tanganku sambil menangis, Rin?" tanya Len dengan nada suara yang terdengar sangat melodis, seakan-akan itu merupakan hadiah dari Tuhan hanya untuk Len.
"Karena aku menyukainya… perasaan ini…" ujarku sambil menutup mataku. Ah, bahkan percakapan kami sama seperti pada malam itu.
"Kau gadis yang aneh…" ujarnya dengan pelan sambil menggenggam tanganku dengan tangannya yang lain. Sementara tangannya yang membelai pipiku kini menghapus bekas air mata yang mengalir, membuatku menghentikan tangisku.
Aku membuka mataku, dan aku melihat dia bahwa kini dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. Tanganku yang kecil tampak menjadi semakin kecil jika dibandingkan dengan tangannya. Len memandangiku dengan mendalam, seakan mencari sesuatu. Aku juga memandangi matanya, aku ingin tahu, apakah perasaanku ini bersambut… ataukah aku harus menjadi musuhnya… di saat kami harus bertemu selanjutnya…
"Kumohon… beritahu aku… apa aku… bukan lagi sebuah boneka… apa aku pantas bersanding denganmu?" ujarku dengan memohon pada Len.
Len melihatku dengan lembut dan penuh kasih sayang yang tidak pernah kurasakan dari siapapun. Aku bisa merasakan jarak kami makin mengecil hingga menghilang. Dan nafas hangat mulai terasa pada wajahku.
Wajah Len semakin mendekatiku hingga hidung kami bersentuhan. Kututup mataku sebagai persetujuan baginya untuk melakukan apa yang hendak dia lakukan. Perlahan, bibir kami bersentuhan, dan Len menekankan wajahnya padaku dengan kuat sehingga memperdalam ciuman kami.
Perasaan pada saat itu kembali lagi. Dadaku terasa seperti terbakar, dan waktu berlalu dengan sangat lambat. Yang bisa kurasakan hanyalah kemanisan dan kelembutan bibir Len yang menciumku. Tanpa kuketahui, aku memeluk Len, dan aku bisa merasakan tangan Len berada pada pinggangku dan memelukku dengan kuat.
Setelah entah berapa lama, bibir kami terpisah, dan kami saling memandangi satu sama lain kembali. Len tampak merasa khawatir bahwa dia merusakku entah bagaimana, dia kemudian mundur beberapa langkah dan melihat ke arah lain. Aku bisa melihat wajahnya memerah sedikit.
Kini aku menemukan jawabanku. Aku ingin mengatakannya pada Len, kata-kata yang tidak bisa kukatakan dulu.
"… ikanaide…" (arti: Jangan pergi) ujarku dengan berusaha meraih Len, aku bisa merasakan air mataku mulai mengalir lagi saat aku mengatakannya. Len terasa sangat jauh dari tanganku, dan mataku terasa buram. Aku tidak mau…
Len melihatku dengan terkejut, sebelum meraih tanganku yang berusaha menggapainya seperti tanpa cahaya. Saat Len melepaskanku, aku merasa bahwa cahaya terhisap dari mataku. Aku ingin melihatnya lagi… aku tidak mau… ditinggalkan lagi…
"Rin… takkan kulepaskan kau lagi…" aku merasakan bisikan Len yang lembut pada telingaku, dan aku merasakan kedua tangannya yang memelukku dengan erat-erat.
Aku merasa bahwa cahaya kembali lagi saat Len memelukku. Dengan segera aku memeluknya kembali. Tanpa cincin itu aku hanyalah Rin, aku adalah Rin yang jatuh cinta pada seorang Raja kerajaan lain. Aku tidak peduli apapun lagi… asalkan kami bisa bersama…
"Len… aishiteru… aku ingin mengatakannya sejak kita pertama kali bertemu… tanpamu… aku… aku merasa seperti orang mati…" ujarku dengan menahan isak tangisku. Aku tidak mau teringat… akan malam-malam sepi yang dingin… dimana aku hanya bisa memikirkan Len tanpa bisa menyentuhnya lagi… tanpa harapan bahwa aku akan bertemu dengannya lagi…
Len melepaskan pelukannya dan dia meletakkan kedua tangannya pada pipiku, sehingga dia bisa menyelaraskan garis mata kami. Dengan nada yang tidak bisa kudeskripsikan, dia berkata, "Aku tidak bisa mengatakan betapa bahagianya aku mendengarnya Rin… setiap hari, aku hanya bisa memikirkanmu, menginginkan untuk membawamu pergi dari tempatmu… aku ingin memilikimu sepenuhnya… aku terlalu mencintaimu hingga kupikir aku akan gila tanpa bersamamu Rin…" ujar Len yang kemudian menciumku lagi.
Setelah kami berciuman untuk yang kedua kalinya dengan cukup lama, akhirnya Len melepaskanku. Aku hanya memandanginya dengan berusaha untuk tersenyum. Kami saling mencintai… kami tidak bisa hidup tanpa satu sama lain… jika… jika memihak pada negeriku sendiri berarti kami harus berpisah selamanya… jika aku harus menikah dengan Rei-sama… maka aku… aku tidak peduli akan apa yang terjadi pada tempat itu…
Aku hanya menutup mataku memikirkan apa yang kukatakan barusan. Ahh, akhirnya aku menemukan jawabannya… aku tidak mau menikah dengan orang lain selain Len… aku sudah menjadi anak baik selama yang bisa kuingat… bolehkan aku memikirkan kebahagiannku sendiri?
Meski kebahagiaan itu akan membuatku membayar nyawa banyak orang, maka tidak apa-apa… lagipula seperti kata IA, negaraku pantas dihukum… Lily-nee juga berkata seperti itu… lalu Len ada disini… tidak ada alasan bagiku untuk menolak lagi…
"Len… aku memiliki permintaan…" ujarku dengan memandangi Len.
Len melihatku dengan tersenyum lalu bertanya, "Apakah permintaanmu itu Rin?" tanyanya dengan lembut.
Dadaku berdegup kencang, dan aku melepaskan pita putih yang selalu kupakai dan kuberikan pada Len. Lalu, aku menarik tali korset yang kupakai, sehingga benda itu terjatuh di lantai.
Len melihatku dengan terbelalak. Lalu dengan memeluknya, aku berkata, "Jadikan aku milikmu sepenuhnya…"
Wajah Len melunak setelah aku mengatakan itu. Dia memang tampak kaget, tapi sepertinya dia sudah tahu tentang ini. Len kemudian mencium pipiku dengan lembut. Dia kemudian berkata, "Dengan senang hati, Your Highness…"
Lily POV
Setelah aku memasukkan Rin ke dalam ruangan Len-sama, aku dan IA beranjak pergi untuk mengurusi urusan kami yang lain.
Mungkin aku harus menjelaskan apa yang menyebabkan Rin 'spesial' dibandingkan orang-orang lain. Mudahnya, sihir yang dianut Ragnavenia memiliki dua komposisi yang saling bahu membahu menghidupi negeri ini. Kekuatan itu adalah Cahaya dan juga Kegelapan. Biasanya, Kegelapan akan dimiliki oleh seorang Putra dari keluarga kerajaan, jika bayi pertama saat itu terlahir Putra. Sementara Cahaya dimiliki oleh Perempuan dari keluarga kerajaan juga, jika bayi pertama yang lahir adalah Perempuan. Anak selanjutnya tidak akan mewarisi kekuatan dua elemen itu.
Lalu, jika hanya anak pertama yang mendapatkan kekuatan, bagaimana dengan elemen yang satunya? Dari pelajaran dasar yang kudapatkan dari IA, kekuatan yang satunya akan jatuh pada orang lain di suatu tempat dan dipilih secara acak, dan dengan itu, sangat acak. Biasanya mereka yang mendapatkan kekuatan satunya akan menjadi pasangan dari elemen yang lain. Mudah saja, maka dengan begitu sihir akan tetap teratur.
Tapi, karena apa yang dilakukan Alvenia entah berapa tahun yang lalu, keseimbangan sihir menjadi goyah. Pilar cahaya yang menjaga Ragnavenia telah runtuh, dan itu juga membawa sang Raja pada saat itu juga runtuh. Pasangan cahaya dan kegelapan sepertinya memiliki suatu ikatan sehidup semati meski tidak secara langsung. Mungkin keadaan ini cocok dengan perandaian, 'Jika sepasang burung yang terbang kehilangan salah satu dari mereka, maka yang tersisa akan segera menyusul'.
Pertemuan Rin dengan Len memang benar-benar tidak terduga. Bahkan IA yang merupakan penyihir tertinggi di Ragnvenia tidak melihat kejadian ini terjadi. Baru setelah IA menyelidiki tentang Rin, dia menemukan bahwa Rin memiliki 'Cahaya' yang merupakan bagian lain dari 'Kegelapan' Len. Jadi, secara alami mereka jatuh cinta.
Tapi… 'Cahaya' milik Rin sepertinya sedikit berbeda dengan 'Cahaya' yang pernah dimiliki oleh Ratu-Ratu generasi sebelumnya. Perbedaan itu adalah…
"Apa menurutmu Cahaya dan Kegelapan sudah bersatu, Lilia? Bisa berbahaya jika kita gagal. Karena Cahaya yang sekarang bisa memberikan kekuatannya hampir pada siapapun," tanya IA dengan sedikit khawatir.
Seperti yang IA katakan, kekuatan Cahaya Rin memang jauh lebih besar dari Cahaya sebelumnya. Kegelapan milik Len juga tidak kalah besarnya, jadi mungkin ini memang terjadi secara alamiah. Tapi, kenapa kekuatan kali ini jauh lebih besar, tidak ada yang tahu. Yang jelas, kekuatan mereka berdua cukup besar, cukup untuk memberikannya pada siapapun yang berhasil menangkap mereka.
Karena itulah aku tidak mau Rei mengambil kekuatan Rin… karena itu akan sangat fatal!
"Santai saja IA. Aku yakin 10000% ini adalah pertama kalinya Rin melakukan ini. Dia masih belum pernah menyentuh Rin, karena mereka tinggal terpisah dan jaraknya sangat jauh. Aku sangat yakin akan hal ini. Lalu, sepertinya Rei baru mengetahui tentang kekuatan Rin akhir-akhir ini. Percayalah padaku," ujarku sambil menepuk punggung IA sedikit.
IA tampak kaget saat aku menepuk punggungnya, sepertinya dia gugup. Lalu dengan sedikit terbata-bata dia berkata, "Benar juga… iya ya… pasti tidak apa-apa… terimakasih banyak Lilia. Itu tadi sungguh membantuku," ujar IA dengan menghembuskan nafas lega.
"Sama-sama. Oh ya, apa ada hal lain yang harus kukerjakan setelah ini? Apa aku harus kembali ke negeri itu? Atau aku harus membawa berita bahwa Rin diculik atau apa?" tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.
IA hanya tertawa kecil di sebelahku. Benar-benar deh, dia ini terlalu banyak tertawa seperti itu.
"Kau benar-benar cocok dengan julukan Goddess of Thunder, Lilia. Selalu tidak bisa diam. Jangan khawatir, kau akan tetap melakukan undercover di Alvenia. Jika Rin tidak mau tidur tanpa Len, maka kau bisa membawanya kesini tiap malam, portal selalu terbuka bagi kalian berdua," ujar IA dengan tersenyum.
Aku hanya menghembuskan nafas panjang. Berarti aku harus bolak balik tempat ini kesana, selama 1 tahun lagi, yang jelas aku tahu bahwa Rin akan jauh lebih baik. Tapi, aku memiliki sedikit masalah…
"Bagaimana dengan cincin terkutuk itu? Apa Rin harus membawa beban dari cincin itu selama 1 tahun lagi?" tanyaku kepada IA.
IA hanya tersenyum sebagai jawaban. Dia lalu menggerakkan tangannya di udara, dan dalam sekejap cincin tadi berada di hadapanku. IA kemudian berkata, "Aku akan memasukkan semacam pelindung untuk melindungi cahaya yang ada, sehingga orang itu tidak mengganggu. Tapi, meski aku memasangnya, aku yakin kau tetap akan menjaga Rin 24/7 bukan?" ujar IA sambil mengedipkan salah satu matanya kepadaku.
Aku hanya tertawa tanpa nada, karena itu memang benar. Apa mungkin Rei akan kubiarkan menyentuh Rin? Langkahi dulu mayatku kalau dia berani!
"Tapi, sekarang kita harus serius. Bagaimana dengan laporan yang kau cari-cari?" tanya IA dengan nada yang menjadi tenang.
Aku diam, lalu aku merendahkan suaraku sehingga hanya IA yang bisa mendengarkan suaraku. Dengan pelan aku berkata, "Aku sudah menemukannya, dan membatalkan apapun itu yang tertulis disana. Aku yakin, orang-orang disana pasti menyadari bahwa ini menghilang," ujarku sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang penuh dengan coretan yang jelas tidak merupakan isi dari kertas itu.
IA menerima kertas itu dan melihatnya sedikit sambil membalik-baliknya. Dia kemudian menyimpannya entah dimana sambil berkata, "Kerja bagus. Sekarang yang tersisa hanyalah menjaga agar rahasia kalian terjaga, dan tidak ada yang curiga akan kepergian Rin saat ini," ujar IA.
Aku berpikir sebentar, lalu sebuah ide memasuki pikiranku. Dengan segera aku berkata, "IA, ubah aku menjadi Rin… aku akan menggantikan Rin selama dia masih absen," usulku sambil melihat ke arah IA yang sepertinya heran dengan ideku.
"Tentu saja boleh, tapi apa kau yakin bisa?" tanya IA dengan nada khawatir.
Aku hanya tersenyum simpul, lalu dengan yakin aku berkata, "Jika semua tingkahku untuk bergerak seperti Rin gagal, berarti aku pergi dengan catatan menculik Rin, memimpin tindakan kudeta, dan melarikan diri dari tugas kerajaan. Tidak terdengar terlalu buruk untukku," ujarku dengan acuh tak acuh.
IA hanya tersenyum, lalu dengan serius dia berkata, "Itu tidak boleh Lily. Jika ada yang terjadi pada keluargamu, maka Rin-hime yang akan sedih," nasihat IA.
Aku hanya menghela nafas dalam-dalam. Melindungi Rin saja sudah cukup susah, sekarang aku harus melindungi reputasi dari keluargaku sendiri yang tidak terlalu kukenal. Bukan salahku juga aku tidak mengenal mereka. Semenjak aku memasuki pendidikan kemiliteran, membangkang perintah Ibu, berlatih pedang dan menjadi prajurit, lalu menjadi pimpinan satu batalion pasukan, aku tidak pernah dianggap oleh Ibu. Ayah sendiri tidak jauh beda, dia merasa malu memiliki gadis yang jauh lebih kuat darinya.
Aku masih ingat, saat aku berhasil menjadi seorang prajurit kerajaan (meski tidak membanggakan karena terlalu mudah), hanya satu orang yang datang ke tempat ujian dan memberikanku selamat. Benar, hanya Rin…
Aku masih mengingat Rin saat itu dengan jelas. Saat itu dia masih berumur 7 tahun, sementara aku berumur 15 tahun. Hari itu aku ada tes untuk memasuki pasukan kerajaan dan itu merupakan hari yang seharusnya penting, tapi tidak ada satu kelargaku yang datang, bahkan tidak para pelayan. Aku masih mengingatnya… semua pandangan-pandangan yang ditujukan kepadaku.
(Flashback)
Lapangan ujian dipenuhi oleh orang dan juga peserta ujian. Semua peserta disana adalah pria, sementara aku adalah satu-satunya gadis disini. Semua lelaki memakai pakaian yang terlihat kebangsawanan, meski hanya pakaian biasa. Tapi, aku sendiri hanya membiarkan rambutku terurai dan memakai pakaian latihanku yang biasanya, dan dibantu dengan sebilah pedang murahan yang kubeli dengan kemampuanku sendiri pada seorang tukang besi kota.
Aku tahu konsekuensi bahwa aku akan jadi bahan pembicaraan dan benar saja…
"Hei, hei, bukankah itu putri utama dari Duke Kagamine?"
"Ah, Putri tidak berguna itu ya…"
"Dia berbeda sekali dengan putri kedua mereka…"
Dan banyak sekali bisikan-bisikan setan seperti itu di antara mereka. Aku menutup mataku dan berusaha untuk mengusir semua suara itu. Aku mengucapkan beberapa do'a untuk mengusir setan yang diajarkan oleh guruku berpedang.
Memang apa salahnya jika aku berbeda dengan gadis lain? Aku tahu bahwa aku tidak cocok dengan kehidupan gadis bangsawan seperti 'Putri Kedua' yang mereka sebutkan. Rin…
Rin adalah gadis tercantik di kalangan bangsawan. Dia gadis tersopan di antara mereka juga. Dia memiliki senyum yang mampu membuat orang meleleh melihatnya. Dia adalah seorang Dewi yang dielu-elukan oleh keluargaku dan kalangan bangsawan.
Tapi aku membencinya… karena dia mengambil semua keluargaku…
Aku melihat ke arah gerbang arena, memperhatikan pemandangan dari laki-laki yang bersama dengan keluarga mereka, berbincang-bincang dengan bahagia. Aku hanya bisa menggertakkan gigiku melihat pemandangan itu. Mereka tampak bahagia… tidak sepertiku.
Selain orang tuaku melarang, hari ini, Rin mengikuti pertunjukan menari dan dia merupakan bintang utamanya. Dia adalah matahari pada hari ini dan semua keluargaku pergi melihatnya dengan membawa semua pelayan bersama dengan mereka dan memandangku dengan sebelah mata.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin pada mataku, saat aku menggosoknya, terdapat air disana. Dengan segera aku menutup wajahku dan berusaha untuk menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir.
"Kasihan sekali gadis itu…"
Diam…
"Tidak diakui keluarganya…"
Diam! Diam! Diam!
"Yah, itu sudah alami. Mereka sudah memiliki yang jauh lebih baik…"
DIAM! DIAM! DIAM! DIAM!
"Ugh, air mata, cepatlah berhenti!" kutukku dalam hati. Aku berusaha menghapus air mataku. Tapi meski air mata ini dihapus berkali-kali, tetap saja hatiku terasa sakit. Aku seharusnya sudah terbiasa… seharusnya aku sudah tahu bahwa aku tidak bisa berharap… tapi…
"Meski hanya sekali… aku ingin ayah dan ibu melihatku…" aku jadi teringat akan do'aku kemarin malam.
Aku ingin… diakui oleh orang tuaku, oleh keluargaku… karena aku adalah Lily Kagamine, putri pertama dari Duke Kagamine.
Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan dari instruktor lapangan yang meneriakkan bahwa ujian akan segera dimulai. Semua orang mulai bergerak menuju lapangan, tapi, aku menunggu hingga saat-saat terakhir. Berharap bahwa keajaiban mungkin akan terjadi…
"Miss Lily!" aku mendengar teriakan dari instruktur tadi, dan segera melihat ke arahnya dan buru-buru berlari ke arahnya dengan berteriak, "Aku kesana!"
Tapi, tepat saat aku hendak memasuki arena, aku mendengar suara merdu yang meneriakkan namaku dengan sangat keras.
"LILY-NEE!"
Aku segera berbalik dan melihat sesuatu yang tidak kuduga-duga. Aku melihat seorang gadis yang jauh lebih pendek dibandingkan denganku, mengambil nafas banyak-banyak, hingga dadanya menjadi naik dan turun.
Dia segera berlari ke arahku dan menerjangku. Karena saat itu aku shock aku tidak siap menerimanya dan terjatuh dengan terduduk di tanah. Dengannya berada di atas tubuhku.
Oke, mari kudeskripsikan secara singkat. Dia memiliki penampilan yang merupakan refleksi dariku, memiliki wajah cantik seperti dewi, memiliki suara yang disukai semua orang, dan sangat feminim. Masih tidak tahu? Baiklah, kukatakan saja langsung bahwa dia adalah adikku, Kagamine Rin.
Tapi… bukannya dia ada pertunjukan?
"Untunglah tidak terlambat…" ujarnya dengan melihatku dengan mengatur nafasnya.
Kenapa…
Dia berusaha membetulkan pakaiannya sambil berkata, "Ma-maaf aku tidak tampak baik di hadapan Lily-nee… aku terburu-buru sehingga tidak terlambat ke tempat Lily-nee…"
Aku hanya mampu melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Padahal kau cantik, kau diinginkan semua orang… tapi kenapa… kenapa kau datang… kenapa kau datang ke tempat ini…
"A-aku ingin melihat ujian Lily-nee meski aku hanya bisa mengantar… a-aku curi dengar antara Lily-nee dengan ayah dan ibu kemarin tentang ini…" ujarnya lagi sambil menuruni tubuhku. Dia kemudian melihatku dengan tatapan yang berkaca-kaca seperti akan menangis.
Aku tidak percaya… Rin yang kukenal adalah ini… dia datang kemari… dia mengatakan bahwa dia ingin melihatku…
"E-e-etto, mungkin ini tidak terlalu banyak tapi kumohon terimalah ini," ujarnya sambil mengurai pita rambut berwarna putih yang merupakan benda kesayangannya. Karena seingatku dia tidak pernah melepaskan benda itu di depan umum.
Aku membeku di tempatku saat aku merasakan tangan kecil yang menyentuh rambutku. Setelah beberapa menit, aku merasakan rambutku seperti terangkat ke atas dan aku melihat Rin sudah berdiri di depanku dengan menepuk-nepuk lututnya.
Aku merasakan kepalaku, dan merasakan pita yang mengikat rambutku sehingga terikat menjadi ponytail tinggi. Rin tersenyum ke arahku dan dia mengulurkan tangannya.
Aku menerimanya dan berdiri dari kondisiku yang terduduk. Rin… terlalu baik…
"Lily-nee, berjuanglah! Dan aku juga akan berjuang di pertujukanku!" ujar Rin dengan tersenyum.
Aku hanya melihatnya, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku melihat ke belakang dan sepertinya instruktur terkutuk itu mengatakan sesuatu seperti melewati hutan bla bla bla dan bla bla bla. Aku bisa mendengarkannya dengan cukup jelas dari sini.
Aku melihat kembali ke arah Rin yang membicarakan sesuatu yang tidak jelas. Aku hanya tersenyum. Dia datang kemari dengan terburu-buru untuk melihatku, meski tidak melihat hingga akhir. Aku bisa melihat dia berdiri dengan tidak benar, pasti lututnya terluka entah dimana. Lalu, rambutnya tidaklah rapi, dan terdapat beberapa helai daun disana, pasti dia kabur dari pengawasan ayah dan ibu. Dia melawan perintah orang tua hanya untuk mengirimku. Ternyata, aku benar-benar tidak bisa membenci anak ini…
Dengan pelan, aku mencium keningnya. Dan Rin langsung diam membisu dan memegangi dahinya dengan wajah yang memerah dengan sangat lucu. Aku kemudian tersenyum dengan lembut kepadanya.
"Rin, berjuanglah untuk pertunjukanmu… saat aku pulang, akan kubawa berita bahwa aku lulus dengan nilai terbaik dari semua orang ini, ke kamarmu," ujarku dengan menepuk pundaknya.
Rin tampak terkejut lalu dia tersenyum dengan sangat lebar. Dia tampak seperti seorang dewi, dewi yang telah menyelamatkanku. Dewi yang akan selamanya kulindungi…
"Kau kakak yang baik Lilia…" ujar IA dengan melihat ke arah depan.
Aku hanya tersenyum kepadanya, meski mungkin dia tidak melihat. Aku menyentuh pita putih yang terikat dengan manis pada lenganku. Pita putih yang sama dengan pemberian Rin 13 tahun yang lalu.
"Itu karena aku menyayangi Rin…" ujarku.
Pada hari sumpah setiaku pada kerajaan, aku tidak bersumpah untuk melindungi orang-orang yang tinggal di dalamnya, tetapi pada Rin dan Rin saja. Aku tidak peduli apa yang harus kubuang dan apa yang harus kuhancurkan, jika itu untuk melindungi Rin, maka itu akan kulakukan.
Karena itulah… orang yang pertama kali terluka mendengar berita bahwa Rin dijodohkan dengan Rei… adalah aku. Mata Rin yang kusukai kehilangan apa yang seharusnya ada disana, dia kehilangan kebebasannya. Dewi yang kulihat menghilang di hadapanku, dan tubuh yang sempurna itu hanya menjadi sebuah boneka yang tampak indah saja.
Aku dan IA berpisah di persimpangan antara wilayah departemen Sihir dan juga wilayah Militer. Aku pergi ke Militer karena aku harus berlatih. Dalam perjalanan aku memikirkan tentang jalan yang harus kupilih setelah ini.
Aku tahu, setelah semua ini berakhir, tugasku akan diambil alih oleh Len-sama sepenuhnya dan aku akan tertinggal tanpa tujuan. Sudah saatnya aku meninggalkan sarang Rin yang nyaman dan terbang dengan kedua sayapku sendiri.
Mungkin sudah saatnya aku juga mencari pasangan… aku sudah mulai menua…
"Lady Lilia, rupanya anda disini," aku mendengar suara seseorang dari belakang yang kuketahui dengan sangat jelas.
Aku berbalik dan melihat seseorang dari negeri lain yang merupakan teman dari Ragnavenia. Dia adalah Tonio van Alsenia, dia seorang penguasa Air. Elemen kami bertolak belakang, tapi aku dan Tonio bersahabat dengan baik, belum lagi Tonio adalah orang yang perhatian.
"Sudah kubilang ribuan kali, aku ini bukan seorang Lady karena aku tidak feminim sama sekali, jadi jangan panggil aku seperti itu Tonio. Jika kau ingin memanggil Lady cari saja di wilayah bangsawan atau scholar," ujarku dengan berkacak pinggang. Oh ya, aku sudah mengganti pakaian Valkyrie yang kukenakan dengan dress berwarna kuning, perwujudan dari Valkyrie dan juga elemenku. Aku malas menjelaskan karena sangat girly dan bergaya Victorian.
Satu lagi tentang bertemu dengan Tonio…
"Tapi menurutku kau sangat cantik dan merupakan seorang Lady," ujarnya dengan jujur.
Wajahku jadi memerah mendengar pujiannya. Aku sudah tahu… terlalu sering bertemu dengannya akan berakibat buruk bagi jantungku… karena tiap kali aku melihatnya, jantungku selalu berdebar tidak menentu…
Rin POV
(1 tahun kemudian…)
Setelah kejadian setahun lalu itu… aku kembali melanjutkan hidupku di Istana. Lily-nee juga kembali dan dia sering berpose sebagai aku, dan menggantikanku disini sehingga aku bisa bertemu dengan Len secara sembunyi-sembunyi. Sejujurnya aku kaget saat mengetahui bahwa Lily-nee sebenarnya adalah aktor yang sangat baik, tidak ada satu pun yang mengira bahwa dia adalah Lily-nee, bukan aku.
Tapi, aku tahu bahwa akhir dari Alvenia sudah ditentukan mulai dari detik dimana aku menyerahkan semua dari diriku untuk Len. Aku kini bukan lagi seorang penduduk Alvenia, tapi aku adalah Ratu dari Ragnavenia, meski belum dikatakan kepada publik.
Dengan kekuatan 'Cahaya' milikku dan 'Kegelapan' milik Len, kami akan mengakhiri kesedihan dari negeri Ragnavenia. Dan aku adalah Putri disini, maka aku sendiri yang harus menjatuhkan hukuman bagi tempat ini, sesuai dengan hukum Ragnavenia.
Hari ini, rakyat Alvenia berpesta pora. Para bangsawan berdandan dengan sangat mewah, para pelayan pergi kesana kemari. Aku mengurung diriku di Istanaku, sementara aku berdandan untuk pernikahan yang tidak akan pernah terlaksana. Karena aku tidak akan menikah di Alvenia hari ini…
"Rin, kau sudah siap? Ah, baju pengantin itu sangat cocok untuk kau kenakan Rin!" aku mendengar suara ibuku yang menggema di ruanganku.
Aku melihat ke arahnya dan memberikannya senyumanku, lalu dengan tenang aku menjawab, "Iya dan terimakasih, Ibu. Bagaimana jika Ibu berangkat terlebih dahulu? Saya ingin menunggu Lily-nee untuk membawa saya," ujarku dengan membungkukkan badan pada Ibuku.
Ibu melihatku dengan cemberut, tapi segera pergi meninggalkanku dengan perkataan 'Apa baiknya perempuan tidak berkelas itu?' sementara aku harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekuatanku sembarangan saat mendengarkan perkataannya. Saat aku memastikan bahwa tidak ada orang yang ada di sekitarku, aku segera berkata, "Len, kumohon datanglah sekarang…" ujarku dengan nada suara yang menahan kerinduan.
Saat aku mengatakannya, aku merasakan seseorang memelukku dari belakang, dan aku spontan bersandar pada orang yang berada di belakangku, karena aku tahu bahwa itu adalah Len.
"Rin, kau cantik sekali hari ini…" puji Len dengan memelukku erat-erat.
Aku menggenggam tangannya yang ada di pinggangku, lalu aku menutup mataku dan menjawab, "Aku hanya ingin mengenakan pakaian seperti ini untukmu tanpa dilihat oleh orang lain sebelumnya… tapi lihat, tadi ibuku sudah melihatku," ujarku dengan menahan rasa kecewa.
Aku bisa merasakan tangan Len bergerak menuju ke tempat yang telah menjadi miliknya. Len kemudian berkata, "Aku bisa mengklaimnya disini kalau kau mau," ujarnya dengan nada suara yang sangat menggoda.
Aku hany tertawa kecil, lalu dengan nada bercanda aku berkata, "Bagaimana jika aku hamil?"
Aku bisa merasakan bahwa Len tersenyum dengan liciknya di belakangku. Lalu dengan lembut dia berkata, "Semakin banyak alasan untuk membuatmu menjadi Ratuku secepat mungkin," ujarnya.
Aku berbalik untuk menghadap ke arah Len. Dia kini memakai setelan seorang pangeran dengan warna putih dengan garis berwarna keemasan. Di sakunya terdapat sekuntum bunga mawar berwarna merah. Wajahnya yang tampan tidak berubah sama sekali, tapi aku bisa melihat wajahnya yang melunak padaku dari waktu ke waktu.
"Len, kau terlihat tampan dengan itu. Kau tidak seperti akan mengobarkan perang, tapi akan menikahiku," ujarku dengan menyandarkan tubuhku padanya.
Len hanya tersenyum lalu dengan pelan, dia mendorongku ke tempat tidur dan memperangkapku disana. Wedding dress yang kumiliki tersebar tidak beraturan pada permukaan tempat tidur. Aku mendengar sesuatu berdenting di kepalaku, dan saat aku melihat pada Len, dia hanya tersenyum.
"Apa kau ingin tidur untuk melewati semuanya?" tanya Len dengan lembut.
Aku hanya tersenyum, lalu dengan santai aku berkata, "Terdengar lebih baik dibandingkan pergi ke gereja dan melihat semua itu terjadi. Tapi, siapa yang akan menjaga pintu?" ujarku dengan berusaha menyembunyikan senyumku.
"Persetan dengan pintu. Akan kupastikan tidak ada yang mendekati istana ini satu langkah pun," ujar Len dengan bergaya sebal.
"Baiklah, aku akan menerima tawaran itu. Oh, satu pertanyaan lagi," ujarku dengan buru-buru saat Len mulai melepaskan pengait dress yang kupakai.
Len berhenti sejenak, sepertinya mengiyakan permintaanku, tapi jelas dia tampak sebal. Aku tidak bisa berhenti untuk tidak menggodanya kalau sedang seperti ini, karena Len tampak sangat imut. Aku hanya menatapnya selama beberapa saat.
"Apa aku harus membunuh Rei dengan tanganku sendiri?" tanyaku dengan penasaran. Hei, aku tidak salah dengan itu, karena menurut hukum dari Ragnavenia, untuk menghukum seseorang yang melanggar peraturan, maka orang yang berhubungan dengan orang tersebut yang harus melakukannya.
"Kalau ada yang meragukanmu di Ragnavenia maka iya. Atau kau ingin melakukannya sendiri? Meski tanganmu akan menjadi kotor dengan darah," ujar Len dengan mencium tanganku, sepertinya merasa sia-sia jika aku melakukannya.
"Baiklah aku tidak akan melakukannya. Aku bukanlah siapa-siapa bagi orang itu, aku tidak berhak melakukannya," ujarku sambil tersenyum. Len membalas senyumanku dengan senang, sebelum mencium punggung tanganku.
Jujur saja, aku tidak mau tanganku dikotori oleh darah dari orang yang berusaha menghalangiku dengan Len… mereka tidak memiliki harga yang pantas untuk itu.
"Rin, mereka bilang, keadaan di luar sudah sangat terkendali. Wilayah Utara, Barat, Timur, dan juga Selatan sudah diambil. Hanya perlu merebut Istana dan juga Gereja. IA sudah membereskannya, lalu kakakmu sepertinya menikmati hasil belajarnya," ujar Len dengan lembut.
"Dengan begitu, kita bisa tidur bukan?" tanyaku dengan memeluk Len.
Len hanya mengangguk dan tak lama kemudian kami melupakan tentang keributan besar yang terjadi di luar sana.
Beberapa hari kemudian, aku sudah hidup di Istana Ragnavenia dan hidup bersama dengan Len serta Lily-nee dan juga IA di Istana. Peperangan dengan aliansi Alvenia masih berjalan dengan lancar, selama itu aku memikirkan tentang kehidupanku di Ragnavenia setelah ini.
Hidupku dan Len memang penting bagi orang-orang disini. Lily-nee juga memiliki posisi yang tinggi disini. Tapi tetap saja, kami berdua adalah kakak beradik yang berasal dari Alvenia. Lily-nee sudah membuktikan kesetiannya dengan membunuh keluarga kami sendiri dengan kedua tangannya. Lily-nee juga memimpin perang di barisan depan dan (cerita IA) Lily-nee menggunakan kekuatannya tanpa menahan diri, dan menghancurkan wilayah Pusat dalam beberapa jam. Pantas saja aku merasa seperti mendengar petir menggelegar pada saat itu.
Jika dengan keberadaanku akan terjadi kudeta, maka aku akan merepotkan Len saja. Lagipula prajurit kerajaan masih kelelahan akan perang, jika terjadi kudeta, maka akan sedikit merepotkan. Meski aku tahu, jika kekuatanku dan kekuatan Len digabung, maka menghapuskan satu negeri dari peta pun bisa dilakukan, tapi itu agak sedikit berlebihan.
Tapi, tanpa Len yang membantuku, kekuatan sama saja seperti singa liar yang ditempatkan di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang ramai dan singa itu sedang mengamuk. Tidak seperti Lily-nee yang memiliki bakat alami dalam mengendalikan elemen, aku harus belajar dari dasar paling dasar.
Aku mempelajari setumpuk buku dengan tebal 1000 halaman yang diberikan IA untuk mempelajari tentang kekuatanku dan mengendalikannya. Tapi… buku-buku ini benar-benar membuat mataku lelah! Apa Lily-nee juga membaca yang seperti ini setiap harinya?
Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan di pintu dan pintu kamarku terbuka dengan cepat dan dengan segera tertutup. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang masuk dan menemukan diriku sendiri meninggalkan bukuku di halaman entah berapa dan memeluk seseorang yang memasuki pintu.
"Len, kenapa kau tidak bilang kau akan datang? Andai kau mengatakan sesuatu aku pasti berdandan untukmu," ujarku dengan sebal.
Len melepaskan pelukanku, sehingga aku bisa memperhatikan penampilannya sedikit. Pakaiannya memiliki warna merah darah, dengan bercak darah yang tampak dengan jelas disana. Saat aku memeluknya tadi, berkas darah itu menempel cukup banyak pada pakaianku, tapi aku tidak peduli.
"Aku baru saja kembali dari medan perang, dan hal pertama yang kuinginkan adalah bertemu denganmu Rin," ujar Len sambil memelukku kembali, seakan lega bisa bertemu denganku.
Setelah itu kami melepaskan pelukan kami dan saling bertatapan, dan Len segera memelukku dengan erat, dia kemudian bertanya, "Bagaimana dengan belajarmu?" tanyanya.
Aku melirik buku-buku yang kutinggalkan dan membayangkan IA yang akan marah besar jika tahu bahwa aku tidak belajar.
Tetapi…
Aku melihat ke arah Len dan menemukan jawabanku dengan cepat.
"Kau bisa mengajariku dengan cara lain yang lebih cepat dibandingkan dengan membaca buku Len," ujarku sambil tersenyum ke arahnya.
Len tertawa kecil lalu bertanya, "Bisa kau contohkan apa?" ujarnya dengan tersenyum licik. Dia melepaskan pelukannya dariku dan melangkah beberapa langkah kebelakang.
Aku menggembungkan kedua pipiku, karena ditinggalkan namun aku segera mendapatkan ide yang jauh lebih baik dibandingkan ngambek. Dengan segera aku mengambil langkah mendekati Len dan berbisik, "Mungkin Len bisa mengajariku sementara aku membersihkan noda-noda yang melekat padamu itu," ujarku dengan berusaha untuk terdengar se-seductive mungkin.
Len hanya memasang seringai licik yang tampak sangat keren sambil berkata, "Itu ide yang cukup bagus,"
~End~
Rina: Mmmm…
Rin: Mmmm…
Len: Mmmm…
Lily: Hmmm…
IA: Hmmm…
Rina: Kenapa pada lomba 'Mmm…' semua?
Rin: Gak tahu…
Len: Cuman cerita nie gaje ending na…
Lily: Terus kenapa aku jadi begitu?
IA: Dan aku cuman jadi pajangan…
Rina: Hei! Aku juga ngantuk tahu nulis na! Habis na aku gak tahu gimana caranya bikin ending na… terutama pas perang na!
Len: Bener tuh! Kenapa aku gak ada kesempatan buat nampang keren gitu! Kenapa malah melakukan *censored censored censored* bareng ma Rin!
Rin: L-len! *blush*
Rina: Itu takdir kalian, udah deh, terima ja nasib!
IA: … terus gimana dengan nasibku?
Lily: Aku juga ingin tahu…
Rina: *cuek* Oke, bagi semua reader yang da di luar sana! Jangan lupa untuk RnR dan ide, apakah epilog na harus dibuatkan atau tidak~
