Yo minna-san! Setelah melewati terjangan badai, akhirnya Natsu bisa update jugaa!
So,silahkan membacaaa! XD
Cerita sebelumnya :
"Kurapika. Pemuda ini yang kuceritakan kemarin, yang akan menjadi partnermu! Perkenalkan, dia Kuroro Lucifer... Kuroro, dia adikku..."
Maka pemuda yang bernama Kuroro itu pun berbalik, hendak melihat siapa yang akan bekerja sama dengannya, dalam hal menyelamatkan nyawa manusia. Sedangkan Kurapika semakin menajamkan matanya dengan rasa penasaran yang cukup besar.
Akhirnya pandangan mereka bertemu. Langit biru cerah di siang hari bertemu dengan langit gelap malam.
Mata keduanya membulat sempurna.
"Kau 'kan..."
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : Lovely Doctor
Story by : Natsu Hiru Chan
Genre : Romance... itu aja kali yeee?
Rated : K+ -T
Pairing : Kuroro nii-kun just for Kurapika nee-chan
WARNING(S) : AU, OOC, Kurapika adult version, Abal, GaJe, norak, jelek, lebay, ancur, L4y, dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, hipotensi dan gangguan kehamilan dan janin!
Summary : Ia hanyalah dokter biasa, yang mementingkan nyawa pasien lebih dari apapun. Hidupnya tenang-tenang saja, meski sedikit berantakan. Namun kehadiran seorang Kuroro Lucifer, merubah segalanya...
.
.
.
Don't like, don't read! XP
.
Chapter 2 : Dokter Kuroro
.
Leorio menatap kedua manusia itu secara bergantian, dengan tatapan heran. Sedangkan Kurapika malah memandangnya, dengan sirat keterkejutan yang nampak jelas di mimik wajahnya. Tentu saja! Pemuda yang saat ini begitu jauh dari yang ia pikirkan sebelumnya : seorang pemuda polos, yang ramah. Tapi yang ia lihat kini, adalah seorang pria bertubuh tinggi, dengan kulit putih pucat, dan memiliki tatapan yang dingin. Meski seorang dokter, pria itu nampak begitu berwibawa, dengan matanya yang hitam misterius.
Selain itu, pria itu adalah pria yang ditemuinya kemarin, di perpustakaan kota! Pria menyebalkan, yang sudah merebut bukunya! Pria ini... akan menjadi partnernya nanti? Yang benar saja!
"Jadi... kalian sudah saling kenal?" tanya Leorio pada Kurapika dan teman lamanya.
Pria berambut hitam berkilauan itu tersenyum tipis. "Tidak juga! Kami baru bertemu kemarin!"
Leorio menghela nafas lega. "Fuuiiihh... syukurlah! Kalau kalian sudah saling mengenal akan lebih mudah membangun kerja samanya!"
"Aku tidak set—"
Ceklekk...
Kurapika tak menyelesaikan kata-katanya, ketika mendengar suara pintu ruangan Leorio terbuka. Masuklah seorang pria tua, dengan jenggot yang sudah panjang dan berwanra putih. Pria tua itu memakai jas dokter pula.
"Ojii-san!" gumam Leorio dan Kurapika bersamaan, ketika melihat kedatangan kakek mereka.
"Wah, ada apa ini ramai-ramai?" tanya kakek mereka ramah.
"Tuan Netero?" mendengar namanya disebut, Netero lalu berbalik, dan melihat siapa yang memanggilnya.
Dilihatnya teman lama Leorio, yang menatapnya tidak percaya. Netero menatap pria itu, seolah ia berusaha mengingat siapa ia. Tempat itu hening seketika.
Alis Netero terangkat. "Kau siapa?" tanyanya, membuat Kurapika rasanya ingin menahan tawa. Pria itu pasti sangat malu!
Sayangnya ia salah. Pria itu malah tersenyum ramah. "Aku Kuroro, Kuroro Lucifer..."
Mata Netero membulat, ketika mendengar kata Lucifer disebut oleh pria bernama Kuroro itu. "Jangan bilang kau anaknya si Lucifer itu?" tanyanya tak percaya.
Kuroro kembali tersenyum. "Iya!"
"Aaah! Kau rupanya sudah besar sekarang! Aku bahkan tidak mengenalimu!" ucap Netero langsung menepuk-nepuk pundak Kuroro dengan keras. "Padahal waktu kecil kau lucu sekali! Sekarang sudah jadi pria yang tampan ya!"
"Memangnya Ojii-san ada hubungan apa dengan ayah Kuroro?" tanya Leorio.
"Dulu ayahnya juga sangat berjasa dalam pembangunan rumah sakit ini! Aku pernah berkunjung ke rumahnya, dan aku bertemu dengan pria ini saat ia berumur tujuh tahun! Sudah lama sekali yah..." pandang Netero kembali tertuju pada Kuroro. "Ohya, bagaimana kabar ayah dan ibumu?"
"Mereka sehat-sehat saja! Ternyata Tuan adalah kakeknya Leorio ya? Wah, dunia memang sempit!"
Kurapika menjadi semakin kesal, karena sedari tadi ia terus saja diacuhkan oleh ketiga lelaki itu. namun yang sedari tadi menghantui pikirannya adalah, PRIA INI AKAN MENJADI PARTNER-NYA?
Tentu saja Kurapika shock bukan main. Bekerja sama dengan pria ini? Kurapika sudah menduga Kuroro pasti tidak akan bersikap seperti sekarang ini padanya. Mengingat, kejadian di perpustakaan kemarin! Kuroro terlalu pandai berakting. Kurapika tahu itu... pria itu bagaikan memiliki beribu kepribadian.
Netero lalu melirik Kurapika. "Wah, jadi Kuroro, yang akan menjadi partner Kurapika nantinya?" tanyanya meski ia sudah tahu jawabannya.
Leorio menyengir. "Iyah!"
Baru saja Kurapika hendak membuka mulut untuk protes, ia langsung merasakan seseorang merangkulnya dengar erat dari samping. Gadis itu langsung mendelik tajam, kepada Kuroro—yang melakukannya.
"Kebetulan kami sudah saling kenal. Pasti bisa menjalin kerja sama dengan baik!" ucap Kuroro, tetap saja dengan senyumannya yang menawan.
Kurapika jadi muak, berada di rangkulan pria yang satu ini. Tapi ia tak mungkin 'kan, bersikap kasar di depan kakeknya. Kurapika pun hanya meresponnya dengan senyum yang dibuat-buat. Sayangnya Kurapika tak sepandai Kuroro dalam berakting, membuat senyum palsunya itu terlihat jelas. Tapi sepertinya Netero sudah terlalu tua, untuk menyadari hal itu.
Netero mengangguk, sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang. "Aku tak menyangka bahwa kalian ini akan bertemu di rumah sakit ini! rasanya senang sekali! Ohya Leorio! Ayo!"
"Ojii-san mau ke mana?" tanya Kurapika, ketika melihat kakeknya, hendak berjalan keluar, diikuti oleh Kuroro.
"Kau tidak tahu? Hari ini 'kan ada rapat para dokter! Tapi... kau tidak usah mengikutinya! Sebaiknya kau ngobrol saja dengan Kuroro, sekalian memperkenalkannya isi rumah sakit ini..."
Mata Kurapika melotot, mendengar perkataan kakeknya yang satu ini. Bagaimana mungkin, ia harus menemani pria menyebalkan ini? Yang benar saja!
Namun Kurapika tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap kepergian kakeknya dengan penuh kesal, meninggalkan dirinya, berdua dengan pria pemilik iris onyx tersebut.
Blamm...
Hening...
Tanpa berkata-kata, Kurapika langsung menepiskan lengan Kuroro yang sedari tadi setia menggantung di pundaknya dengan kasar.
"Baiklah, Dokter Kurapika! Seperti yang dikatakan Tuan Netero tadi, mohon bantuannya..."
Kurapika menatap Kuroro sinis. "Tidak usah bersikap sok formal begitu! Setelah apa yang kau lakukan kemarin, DOKTER LUCIFER?" balas Kurapika seolah memberi penekanan pada kalimatnya.
"Yah, aku minta maaf atas kejadian itu. Aku memang suka menggoda gadis cantik, seperti anda!"
"Benarkah? Aku benar-benar tersanjung, dipuji seperti itu loeh pria sepertimu! Aku jadi berpikir, kalau kau tidak serius dalam kedokteran! Apa mungkin, kau menjadi seorang dokter hanya untuk mencari sensasi saja?"
Tatapan Kuroro menajam. "Maaf, Dokter Kurapika. Tapi aku menjadi dokter atas keinginanku sendiri. Aku tidak sepertimu, yang menjadi dokter hanya untuk membanggakan kakekmu,"
Emosi Kurapika naik. "Apa maksudmu? Aku menjadi dokter juga atas keinginanku sendiri!" ucapnya setengah berteriak. "Justru menurutku, dari sikapmu kemarin, justru kaulah yang main-main dengan dunia kedokteran,"
Kuroro mendengus ringan. "Apa kau memang sebegitu dendamnya, Dokter Kurapika? Itu hanyalah sebuah buku,"
Kurapika terdiam. Benar juga! Ia marah, hanya karena sebuah buku. Kalau dipikir-pikir, sikapnya ini tertlalu kekanak-kanakan. Tapi Kurapika juga tidak tahu kenapa ia bisa merasa semarah ini, pada pria yang sedang berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan meremehkan. Namun, bagaimana pun, Kuroro yang salah! Pria itu yang duluan mengganggunya!
Kurapika terkejut, ketika merasakan dagunya terangkat oleh Kuroro. Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Kurapika. "Apa sekarang kau sudah mengerti?"
Kurapika langsung saja mengangkat tangannya, hendak menampar Kuroro. Namun pria itu langsung menggenggam tangannya dengan keras. Kurapika berusaha melepaskan tangannya, namun kekuatan Kuroro jauh lebih kuat darinya.
"Lepaskan!" perintah Kurapika tegas. Tatapannya semakin menajam pada Kuroro, sedangkan pria itu malah menatapnya santai.
"Kau ini terlalu jual mahal, Dokter Kurapika. Padahal jika aku mau, wanita sepertimu bisa aku dapatkan dengan mudah," ucapnya seraya melepaskan genggamannya.
Kurapika mengelus pergelangan tangannya yang tadi digenggam Kuroro, dan memalingkan wajahnya sejenak, lalu kembali memandang Kuroro. "Kau terlalu naif dan percaya diri..."
"Dan kau tidak melihat dirimu sendir yang seperti itu?"
Kurapika mendengus, sambil memutar bola matanya. Ditatapnya Kuroro dengan malas. "Maaf, tapi sepertinya kita tak akan bisa cocok satu sama lain..."
Kuroro menatap Kurapika miris. "Sepertinya begitu..."
.
~ Lovely Doctor~
.
"Padahal yang kudengar, dia itu dokter yang ramah dan tampan," komentar Machi, setelah mendengar curahan hati dari sahabatnya, Kurapika.
Kurapika menghela nafas berat. "Ramah apanya? Dia itu cowok paling menyebalkan yang pernah kukenal!"
"Bahkan lebih menyebalkan dari dokter tua yang pernah mengejar-ngejarmu ketika kau masih menjadi seorang mahasiswi?"
Kurapika menatap Machi yang sedang tersenyum jahil ke arahnya dengan kesal. Ia lalu kembali bersandar di kursi putarnya yang nyaman. "Mungkin sama menyebalkannya..."
Machi tertawa kecil, sambil menyodorkan mug berisi mocca buatannya di meja Kurapika, lalu duduk di kursi depan meja kerja gadis itu. Kurapika lalu menerimanya, dan dengan pelan meneguknya sedikit.
Seperti dugaannya, rasanya benar-benar enak. Machi memang ahli dalam hal membuat minuman.
Kurapika menanamkan wajahnya di tangannya yang ia lipatkan di atas meja kerjanya. Hari ini ia benar-benar frustasi. Bekerja sama dengan seorang Kuroro Lucifer? Ah! Mimpi apa ia semalam?
Pria itu memiliki sikap yang sangat menyebalkan, egois, dan keras kepala! Di pertemuan pertama mereka saja Kurapika sudah membenci pria itu! Tapi mengapa mereka harus mengalami hal seperti ini? Kurapika ingin menyalahkan takdirnya, yang benar-benar apes. Tapi yang seharusnya ia salahkan adalah Kuroro Lucifer. Mengapa? Karena pria itulah yang membuat semua ini mungkin.
"Wah, kalau tidak ada pasien kalian santai sekali ya?"
Lamunan Kurapika buyar, ketika mendengar suara bariton dari ambang pintu ruangan Kurapika. Kedua gadis yang ada di ruangan itu langsung menoleh, melihat seorang pria dengan seragam dokter di sana. Kuroro Lucifer.
Wajah Kurapika langsung cemberut. Sedangkan Machi terlihat sedikit gugup.
"Kau! Sedang apa kau di sini? Ini ruanganku!" tanya Kurapika ketus.
Kuroro lalu berjalan, dan duduk di kursi pasien, tepatnya di depan Kurapika. Machi yang berdiri di dekat westafel hanya memandang mereka canggung. "Bukankah kita akan menjadi pertner kerja? Otomatis, ruangan ini juga akan menjadi milikku,"
Kurapika terlonjak kaget, dan langsung menggebrak meja dan berdiri dari kursi putarnya. "Siapa bilang kalau kita akan berada dalam satu ruangan!" tanyanya dengan nada membentak.
Kuroro mengangkat bahu. "Sebenarnya aku juga tidak mau! Tapi ini perintah kakekmu itu!"
Kurapika masih melototi Kuroro. Apa yang dipikirkan kakeknya? Apa sang Kakek tidak mengerti perasaannya? Tapi bagaimana pun, Kurapika tak bisa menentang permintaan orang yang paling dihormatinya itu.
Tanpa mengubris Kurapika yangmasih sibuk dengan pikirannya sendiri, Kuroro lalu menoleh pada Machi yang masih memandang mereka berdua tak pecaya. Kuroro lalu melemparkan senyuman terbaiknya pada Machi, melukis semburat kemerahan di pipi wanita berambut biru tua itu.
"Hai, kau kerja di ruangan ini juga?" tanya Kuroro ramah.
"Em... aku dokter spesialis bedah, teman kuliah Dokter Kurapika saat di Universitas dulu," ucap Machi, berusaha bersikap sedingin mungkin. Namun pesona Kuroro membuat itu menjadi sulit.
"Wah, dokter-dokter wanita di rumah sakit ini cantik-cantik juga..."
Kepala Kurapika langsung saja panas, mendengar Kuroro. Pria itu ternyata tak hanya ahli dalam bidang kedokteran maupun akting. Sepertinya pria itu juga ahli dalam menggombal wanita.
"Keluar kau! Ini saat istirahat! Bukan saat bekerja! Jadi ruangan ini milikku!" usir Kurapika sambil menunjuk pintu keluar dengan emosi.
Kuroro menghela nafas. "Tidak, terima kasih..."
"Apa kau bilang!"
Machi jadi semakin canggung di ruangan ini. padahal baru kenal, tapi kedua orang itu sudah seperti saling mengenal sejak dulu.
"Ah. Aku ada pekerjaan! Maaf yah Kurapika, aku harus segera pergi..." ucap Machi, seraya mengambil dan mengenakan jas dokternya, dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Blamm!
Hening...
"Bagus, sekarang giliran kau yang pergi," ucap Kurapika kasar.
"Ini ruanganku,"
"Ruanganmu! Baru datang pagi ini saja kau sudah bilang kalau ini ruanganmu! Tenggelam saja kau ke laut!"
Kuroro menghela nafas panjang, sambil memutar bola matanya. "Bisakah kau bersikap sedikit ramah pada orang baru, Dokter Kuruta?"
"Ha? Untuk apa aku bersikap ramah terhadap orang menyebalkan sepertimu?"
Kuroro hanya menatap Kurapiak tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya karena sebuah buku? Ya, benar! Sebuah buku! Hanya itu yang membuat gadis ini murka besar! Yang benar saja!
Kurapika lalu berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju lemari obat yang tertempel pada dinding ruangan itu. Kuroro hanya memperhatikannya dalam diam. Gadis itu lalu mengambil sebuah stabilo dari sana. Alis Kuroro terangkat, melihat Kurapika sedang menggaris lantai yang ada di ruangan itu. Ia membagi duanya. Sisi yang satu adalah jendela, toilet, rak buku, westafel dan ¾ dari meja Kurapika, dan setengah dari ranjang pasien. Sedangkan sisi satunya, adalah pintu keluar, lemari obat dan peralatan lainnya, ¼ dari meja kerja Kurapika, dan setengah dari ranjang pasien.
"Apa yang kau lakukan?" akhirnya Kuroro bertanya.
Kurapika pun menutup stabilonya, dan kembaliberdiri. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali dan langsung menatap Kuroro dengan tegas. "Yang sebelah sini..." ucapnya seraya menunjuk area yang telah ia garis. Area itu memang lebih besar dari area satunya. "Adalah daerahku! Kau tidak boleh memasukinya! Dan yang sebelah sana, juga milikku! Tapi kau boleh-boleh saja, melewatinya!"
Kuroro hampir saja tertawa terguling-guling ke lantai, (jika ia tak memikirkan harga dirinya) mendengar hal itu dari Kurapika. Sifat gadis itu memang terlalu berlebihan, dan kekanak-kanakan. Pria itu hanya mendengus, melemparkan senyuman ejekan kepada gadis itu.
Sifat Kurapika yang kekanak-kanakan itu mengingatkannya pada seseorang. Yah... seseorang...
Dengan keras kepala, pria itu lalu berjalan, MELEWATI garis yang sudah Kurapika tentukan. Gadis itu langsung menarik jas Kuroro, kembali ke belakang, menjauh dari garis itu. Kuroro sedikit terkejut, ternyata Kurapika jauh lebih kuat dari yang ia kira. Memang sih, Leorio pernah curhat padanya ketika masih di Universitas, bahwa ia selalu dihajar oleh adik perempuannya sendiri. Tapi sepertinya Kurapika semakin kuat saja, seiring berjalannya waktu. Terlalu mustahil, untuk seorang gadis kurus yang memiliki aura suram seperti Kurapika Kuruta.
"Kau tuli yah? Sudah kubilang, jangan sekali-kali melewati garis ini!" bentak Kurapika.
Kuroro menatap gadis itu santai. "Bagaimana jika aku mau ke tolilet? Aku mau ke toilet!"
"Kau bisa keluar!"
"Kenapa aku harus jauh-jauh keluar jika toiletnya ada di depan mataku sekarang? Dan berhentilah bersikap seolah kau yangmengatur segalanya!"
"Aku mengatur segalanya karena ini ruanganku!"
Kuroro lalu menyeringai, membuat alis gadis yang menatapnya tajam itu menaikkan sebelah alisnya. Ia tak sadar, bahwa saat ini jarak antara wajah mereka begitu dekat. Tanpa pikir panjang, Kuroro langsung menarik tangan Kurapika, dan membenturkan punggung gadis itu ke tembok dengan pelan. Mata Kurapika membelalak, apalagi saat Kuroro mendekatkan wajahnya.
Kurapika menatap Kuroro dengan tatapan terkejut. Ia begitu kaget saat ini. Pria gila yang satu ini adalah orang pertama yang berani memperlakukannya saat ini. Kurapika bisa merasakan, hembusan nafas Kuroro menggelitik wajahnya. Semakin dekat, wajah pria itu entah mengapa semakin tampan saja?
Kuroro semakin mendekatkan wajahnya pada Kurapika.
"Dokter Kurapika, pasien anda sudah dat... tang..." suster yang baru saja masuk ke ruangan itu langsung saja menganga, dan menjatuhkan data pasien ke lantai, saking kagetnya ia melihat 'pemandangan' yang ada di ruangan Kurapika itu.
Seorang pria berambut hitam, dan gadis berambut pirang tengah BERCIUMAN di ruangan itu. suster itu terdiam sejenak, dengan ekspresi terkejut, sebelum ia segera keluar, dengan wajah yang merona merah.
Kurapika yang menyadari kehadiran suster itu langsung saja mendorong keras tubuh Kuroro. Untungnya pria itu bisa mengatur keseimbangannya, sehingga ia tidak terjatuh, meski harus melangkah mundur beberapa langkah.
Plakkk!
Tamparan panas pun langsung mendarat di pipi Kuroro. Ditatapnya orang yang menamparnya dengan ekspresi datar. Tamparanan Kurapika cukup, bahkan sangat kuat, lebih dari pukulan laki-laki! Lihat saja! Baru ebebrapa detik saja, pipi pria itu mulai memerah.
Dilihatnya Kurapika yang menatapnya super tajam. Gadis itu menghapus kasar, bekas ciumannya dengan punggung tangannya, sebelum berkata, "apa kau sudah cari mati!" bentaknya, lalu berlalu meninggalkan tempat itu.
Kuroro menatap kepergian Kurapika. Seringai terlihat jelas di wajahnya. Rupanya bibir Kurapika belum pernah tersentuh oleh siapapun. Betapa beruntungnya Kuroro? Ia memang agak terkejut, ternyata gadis itu baru mendapatkan first kiss-nya diusianya yang sudah menginjak angka 21, dan pelakunya adalah Kuroro sendiri. Kuroro tertawa kecil, memikirkannya.
.
.
Kurapika menyalakan kran air yang ada di toilet rumah sakit itu, lalu membasuh bibirnya, seolah bibir mungil itu baru saja menyentuh najis. Sekalian Kurapika juga mencuci wajahnya, agar pikirannya segar kembali.
Ditatapnya pantulannya di cermin yang saat ini ada di depannya. Cantik, dan agak pucat. Kurapika menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. Bibir Kuroro terasa dingin.
"Agghh!" geram Kurapika kesal. Kenapa ia harus mengingat ciumannya dengan Kuroro? Pria itu dengan seenaknya merebut ciuman pertama Kurapika, yang harusnya di miliki oleh pemuda yang Kurapika cintai! Bukannya cinta, Kurapika malah MEMBENCI pria itu! sangat membencinya!
Itu hanya ciuman Kurapika! Hanya ciuman! Semua orang pernah melakukannya! Kurapika berusaha meyakinkan dirinya.
.
"Pokoknya aku tidak mau satu ruangan dengannya!" adu Kurapika, pada Leorio.
Leorio menatap Kurapika bingung. "Ha? Siapa bilang kalau kau akan seruangan dengan Kuroro? Ruangan Kuroro berada tepat di depan ruanganmu, bodoh!"
Kurapika terkejut bukan main. "Apa? Tapi tadi Cowpk aneh itu bilang kalau..." Kurapika terdiam, teringat Kuroro yang saat ini pasti sedang mentertawakannya dari jauh.
Pemuda itu sudah menipunya!
Darah Kurapika naik. Urat kemarahan terlihat jelas di pelipisnya. Wajahnya memerah saking marahnya. "Dasar gilaaaa!" teriak Kurapika kehilangan kendali. Perasaan Leorio langsung tidak enak.
BRUAAAKKK!
.
~ Lovely Doctor~
.
"Silahkan beri resep ini di loket obat. Jaga kesehatan anda, dan... semoga lekas sembuh..." ucap Kurapika lembut, bagaikan putri salju yang anggun. Gosip itu benar! Kurapika memiliki kepribadian ganda!
"Terima kasih, Dok..." wanita paruh baya itu pun keluar, dari ruangan Kurapika setelah diperiksa.
Senyum ramah itu langsung berubah jadi datar, begitu pasiennya keluar, meninggalkan tempat bersandar di kursinya, sambil menghela nafas panjang. Pasiennya hari ini sudah habis. Biasanya, setelah peerjaannya selesai, Kurapika selalu melakukan kunjungan pada pasien-pasien yang dirawat inap. Gadis itu memang sangat senang dengan pasien, begitu pula sebaliknya.
Kurapika keluar dari ruangannya. Stetoskopnya masih setia menggantung di lehernya. Mimik kelelahan tersirat jelas di wajahnya.
"Anda harus minum obat. Tidak baik, gadis cantik seperti anda, sakit-sakitan..." langkah Kurapika terhenti, ketika mendengar percakapan dari dalam ruangan yang ada di depan ruangannya. Ruangan Kuroro.
"Ah, dokter bisa saja,"
"Ngomong-ngomong, anda sudah punya kekasih, atau tidak?"
"Ah, dokteeer..."
"Aku serius!"
"Emh... belum..."
Kurapika memandang pintu itu kesal. "Dasar buaya!" gumamnya pada pintu(?) itu, lalu berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
.
"Kurapika onee-san!" teriakan Gon menggema, ketika si Dokter cantik memasuki ruangan itu.
Kurapika lalu duduk, di kursi yang terdapat di ranjang rumah sakit itu. "Dimana bibi Mito?" tanyanya.
"Sedang keluar membeli makanan!"
Pandangan Kurapika lalu tertuju pada coklat yang ada di atas meja bocah itu. Ia langsung menatap Gon tajam. "Gon, bukankah saat ini kau dilarang memakan manisan?" tanya Kurapika tegas.
Seketika bulu Gon langsung merinding. "Emm... itu... tadi Dokter yang memberikannya!"
Kurapika mengernyit. "Dokter?"
"Ya! Dia dokter laki-laki yang tampan dan ramah. Dahinya terluka! Soalnya ada perban yang melilitnya! Dia bilang, kalau aku tidak menerimanya, dia akan sedih! Jadi aku menerimanya, dan rasa coklatnya benar-benar enak!" jelas Gon polos. "Aku tidak pernah melihat dokter itu sebelumnya!"
Orang pertama yang terlintas di benak Kurapika adalah Kuroro Lucifer. Apa pria itu sudah gila? Dia 'kan dokter! Kenapa ia sama sekali tidak mengerti dengan keadaan pasien?
Kurapika lalu mengambil coklat itu. "Kau tidak boleh memakan sembarangan lagi, Gon. Mengerti!" uca Kurapika tegas, seraya meninggalkan kamar itu, bersama dengan coklat pemberian Kuroro di tangannya.
.
Mata yang tadinya terpejam itu kini terbuka, ketika mendengar suara plastik yang jatuh di atas mejanya. Dilihatnya coklat yang kemarin dia dapatkan dari seorang suster, dan langsung ia berikan pada pasien kecil yang aad di suatu kamar. Coklat itu sudah termakan seperempatnya. Ia lalu melihat siapa yang melemparkan coklat itu, mendapati seorang gadis berseragam dokter yang menatapnya tajam.
"Wah, kau merindukanku yah? Baru beberapa jam saja tidak bertemu..." ucap Kuroro santai.
"Jelaskan apa maksud dari coklat ini!" perintah Kurapika dengan nada membentak.
Kuroro lalu melipat tangannya di belakang kepalanya. "Bagaimana kau bisa menuduhku bahwa coklat ini milikku?"
"Aku saat ini tidak sedang bercanda, Dokter Kuroro!"
Kuroro menghela nafas. "Memangnya tidak boleh?"
"Kau tidak tahu? Gon saat ini tidak boleh memakan makanan manis! Itu akan membuat tubuhnya tidak stabil! Kalau kau seorang dokter, seharusnya kau mengerti!" bentak Kurapika emosi.
"Aku tahu kok! Aku juga tahu penyakit apa yang didertitanya..."
Kurapika terdiam. Penyakit yang diderita bocah itu... sama dengan penyakit yang diderita mendiang Ibunya dulu. Luekemia. Dan Gon sudah mencapai stadium ke tiga. Namun persebaran kanker pada ibunya melaju begitu cepat, membuat para penghuni rumah sakit dibuat heran.
"Kalau sudah tahu, kenapa kau masih memberikan sesuatu yang bisa membuatnya makin parah?"
"Dikasih atau tidak dikasih sebentar lagi dia akan mati juga!" suara Kuroro meninggi.
Emosi Kurapika naik. Ia tahu, bahwa umur Gon sudah tidak lama lagi. Tapi kenapa pria di depannya ini bisa berbicara seperti itu dengan santainya? "Jadi kau ingin mempercepat kematiannya!"
"Bukan begitu! Dia tidak butuh obat-obatan saat ini! Dia hanya butuh kasih sayang yang lebih, dan sesuatu yang disukainya! Agar ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan lebih baik!"
Kurapika terdiam. Yang dikatakan Kuroro memang ada benarnya juga. Namun ia tidak tega. Ia tidak tega jika harus mendengar kabar, bahwa sel kanker itu semakin lama semakin memakan jaringan inti Gon dengan cepat. Kalau bisa, ia ingin menemukan obat untuk Gon. Ia tak mau ada korban lagi, oleh karena penyakit kutukan itu!
"Kalau kau seorang dokter, seharusnya kau mengerti apa yang mereka rasakan, Dokter Kurapika..."
"Kalau kau seorang dokter, harusnya kau mengerti kondisi pasienmu, Dokter!" balas Kurapika sinis.
"Perasaan jauh lebih penting daripada kondisi. Menurutku, harusnya kau juag belajar tentang psikolog, Dokter Kurapika..."
"Tidak usah mengatur aku harus belajar apa! Aku merawat pasien, dengan caraku sendiri!"
"Ya, cara seorang Kuruta, bukan?"
Kurapika menatap Kuroro sinis. Ia lalu meninggalkan ruangan itu dengan sebal, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kerap kali ia berdebat dengan Kuroro, ia pasti kalah!
.
~Lovely Doctor~
.
Baru tiga hari Kuroro bekerja di Rumah sakit milik kakek Kurapika, pria itu benar-benar sudah resmi menjadi musuh bebuyutan Kurapika! Mereka itu selalu saja mempunyai pendapat yang berbeda, dan tak ada yang mau kalah!
Tiap hari pasti bertengkar! Kuroro selalu mebuat emosi Kurapika naik, namun pria itu malah bersikap santai, seperti biasanya. Kuroro juga selalu menebar pesona pada suster-suster cantik yang ada di rumah sakit itu, dan Kurapika lah yang harus menegur mereka jika sedang diam-diam menguntit Kuroro. Alasannya karena para suster itu harus lebih mementingkan pasien, jika berada di rumah sakit ini. Urusan luar, harus diurus di luar.
Untuk sementara, Kuroro tinggal di rumah sakit sampai ia bisa menemukan apartemen yang berjarak dekat dengan rumah sakit itu. Ia cukup nyaman, dan bisa lebih dekat dengan pasien. Kuroro juga sudah lumayan dekat dengan Gon,teman kecil Kurapika. Kuroro kadang bercerita pada Gon, tentang 'monster' yang berada di depan ruangannya. Dan Kurapika sering bercerita tentang 'iblis' yang berada didepan ruangannya pula. Gon hanya menanggapinya dengan tertawa, meski sebenarnya ia tak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.
Kurapika memarkir mobilnya, di bagasi yang ada di bawah apartemennya. Apartemennya memang agak kecil, namun terkesan nyaman. Apartemen itu terdiri dari beberapa kamar, dan tiga lantai. Di ruang bawah apartemen itu terdapat ruang untuk memarkir mobil atau kendaraan apapun, dan terjamin aman.
Kurapika pun menaiki tangga, menuju tempatnyanya yang ada di lantai dua, tepatnya ruangan nomor 028, yang berada di dekat tangga untuk naik ke atas.. Kamarnya tidak terlalu besar. Terdiri dari tiga ruangan. Ruangan pertama, sebuah ruang santai kecil. Terdiri dari satu sofamerah panjang, meja, dan televisi. Ada dapur kecil, dan kamar madi di dekatnya. Ruang lainnya adalah kamar Kurapika. Hanya ada tempat tidur medium size, lemari pakaian, rak buku, dan meja belajar. Gadis itu lalu masuk, dan mengunci pintunya dari dalam.
Kurapika merebahkan tubuhnya di sofa, setelah ia menggantung jas dokternya. Hari yang melelahkan...
Tok, tok, tok...
Gadis itu bisa mendengar pintu ruangannya diketuk. Dengan malas ia lalu berjalan, hendak membuka pintu, melihat siapa yang bertamu malam-malam begini? Ia masih mengenakan celana jeans biru dan kemeja putih yang nampak berantakan itu.
"Kau sudah pulang?"
Kurapika langsung mebndapati kakaknya, Leorio sedang berdiri di depan pintunya. Pakaian pria itu lebih santai sekarang. Ohya! Leorio juga tinggal di apartemen yang sama seperti milik Kurapika. Sayangnya kamar pria itu ada di lantai tiga.
"Leorio? Apa yang kau lakukan di sini?"
Leorio menyengir. "Sedang merayakan pesta!"
Kurapika menaikkan sebelah alisnya. "Pesta?"
Tanpa berbicara, Leorio langsung mendorong Kurapika masuk ke dalam.
"Hei!"
"Cepat ganti bajumu sana! Ini pesat besar!"
"Pesta apa?"
Akhirnya Kurapika sampai di kamarnya. Ia berbalik pada Leorio, memandang pria itu bingung. Akhirnya ia menyerah. Ia pun menutup pintu kamarnya, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
Mungkin pesta yang dimaksud Leorio adalah makan malam bertiga, bersama kakek mereka. Akhirnya Kurapika keluar, dengan mengenakan t-shirt kuning, dan celana pendek selutu abu-abu. Pakaian rumah, memang. Soalnya Kurapika tak memiliki pakaian pesta apapun, alasannya karena ia tak pernah menghadiri pesta apapun. Bukan. Bukan karena ia dikucilkan, atau tak pernah diundang. Malah, sudah puluhan, bahkan hampir ratusan pria yang selalu mengajaknya ke pesta, dan tanpa pikir panjang, Kurapika tolak semuanya.
Leorio lalu menarik tangan Kurapika, meninggalkan kamar itu, tanpa dikunci.
Leorio lalu menarik tangan Kurapika, naik ke lantai tiga, kamar 030, tepatnya kamarnya. Kamar Leorio memang lebih besar dibanding dengan milik Kurapika. Bukanya memasuki kamarnya, Leorio malah menyeret Kurapika masuk ke kamar 029, tepatnya di samping kamarnya.
Mata Kurapika membelalak, ketika memasuki ruangan yang ia ketahui adalah kamar kosong, sejak dua hari yang lalu, karena penghuninya pundah setelah menikah. Di ruangan itu tidak berbeda jauh dengan miliknya, namun sedikit lebih rapi. Di meja terdapat banyak makanan. Terdapat pula dua sofa, satu sofa kecil, dan satu sofa besar.
Kurapika menangkap tiga orang duduk di sofa itu, dan ia mengenal mereka semua. Yang pertama adalah Machi, teman karibnya. Di samping gadis itu terdapat Shalnark, pemilik kamar yang ada di depan kamar Kurapika. Yah, mereka bertiga juga dulunya kuliah di Universitas yang sama. Sayangnya Shalnark merubah pikirannya, untuk menjadi seorang polisi dibanding dengan dokter. Ini hanya rahasia kecil antara mereka bertiga. Sebenarnya Machi dan Shalnark sedang menjalin hubungan secara diam-diam.
Tatapan Kurapika langsung tertuju pada orang terakhir. Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam. Pria itu memakai t-shirt lengan panjang biru bergaris merah, dengan celana jeans hitam. Pria itu tengah memakan sepotong kue, tanpa mengubris orang-orang sekitarnya.
"Kau!" ucap Kurapika tak percaya, menatap pria itu.
Kuroro, nama pria itu, menatap Kurapika santai. "Oh, kau! Ternyata kau tinggal di sini juga?"
Kurapika langsung mendelik pada Leorio, seolah meminta penjelasan dari semua ini.
Perasaan Leorio langsung tidak enak.
"Dokter Kuroro baru saja pindah ke sini. Dengan kata lain, dia akan menjadi tetanggamu," ucap Machi, tanpa ditanya. Semua pandangan langsung tertuju padanya, kecuali Kuroro. Pria itu masih sibuk dengan urusannya sendiri.
Kurapika seolah kehilangan kesadarannya, setelah mendengar berita buruk ini. Setempat kerja dengan Kuroro saja sudah membuatnya jadi gila. Bagaimana jika mereka bertetangga? Bisa-bisa Kurapika hancur! Kurapika masih diam, terpaku di tempatnya. Berharap ada gempa, apartemen ini runtuh, ia selamat, dan lainnya luka-luka. Jadi ia tidak harus bertetangga dengan Kuroro.
Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Sayangnya ia lupa bagaimana melakukannya, saking shock-nya.
Kurapika mengutuk semua orang yang turut berbahagia atas kedatangan Kuroro di tempat ini. apakah hal ini bisa menjadi lebih buruk lagi?
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
.
Aaaahh! Akhirnya cahappy nih selesai jugaaa..! X'D *nangis terharu*
Sumpah! Lanjutin chapter ini susah bener! Diketiknya pada masa-masa UKK! Pusiiing! *curcol*
Yosh! Makasih banyak buat para readers, yang udah meluangkan waktu untuk membaca fic gaje ini! baik yang silent reader, atau yang sempet-sempet ninggalin jejak review! Makasiih banyak!
Ohya! nih balesan buat para reviewer! Gomen, buat yang login Natsu gak sempet bales lewat PM! Gak sempet sih!
. whitypearl :
Thanks reviewnya Pearl-chaaan! XD
Hahahahaha... masa' sih? *blushing*
Sama! Natsu juga suka ! XD
Natsu udah update nih!
. Kay Lusyifniyx :
Makasih udah review, kay-chaaann! XD
Hehehehe, iyah! Soalnya udah lama diketik! Baru bisa diupdate semuanya, karena baru ada pulsa! :p
Hiiiii! Nih, Natsu udah update! Jangan disantet yaaahh!
. Kuraku Kurociffer :
Makasih reviewnya Kura-saaann! XD
*blushing* Gak usah manggil pake embel-embel 'senpai' Kura-san! XD 'Natsu' aja cukup kok!^^ Soalnya Natsu nih juga masih baru! Belum pantas dipanggil senpai! XD
Yosh, salam kenal juga!
. govindam :
Makasih reviewnya Govi-saaan! XD
Iya nih! Natsu keujanan, sepulang kursus! Makanya sakit! ;(
Hahahahahaha! XD Udah baikan sekarang! Govi-san lucu yah!^^
Nih udah lanjut! Jangan di delete yah! (?)
. Kujo Kasuza Phantomhive :
Makasih udah review, Kujo-saaaan! XD
Iyah! Netero jii-san! Udah bungkuk siiih... *ikutan digaplok*
Nih udah update!
.
Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi?
Lanjut tidaknya fic ini, ditentukan dari review kalian!^^
HAVE TO REVIEW!~!
NATSU HIRU CHAN
