Yo minna! Natsu balik lagiiiii! XD
Gomen, kalo updatenya telat! Habis utang fic udah numpuk-numpuk, belum lagi modem Natsu kehabisan bahan bakar! *curcol*
Osh! Makasih banyak buat para readers yang sempet ninggalin review^^ Balasannya ada di akhir ceroita yah! Gomen, Natsu gak sempet bales lewat PM. Males sih...^^
Yosh! Tanpa basa-basi lagi, langsung baca ajaaa!^^
.
Cerita sebelumnya :
"Dokter Kuroro baru saja pindah ke sini. Dengan kata lain, dia akan menjadi tetanggamu," ucap Machi, tanpa ditanya. Semua pandangan langsung tertuju padanya, kecuali Kuroro. Pria itu masih sibuk dengan urusannya sendiri.
Kurapika seolah kehilangan kesadarannya, setelah mendengar berita buruk ini. Setempat kerja dengan Kuroro saja sudah membuatnya jadi gila. Bagaimana jika mereka bertetangga? Bisa-bisa Kurapika hancur! Kurapika masih diam, terpaku di tempatnya. Berharap ada gempa, apartemen ini runtuh, ia selamat, dan lainnya luka-luka. Jadi ia tidak harus bertetangga dengan Kuroro.
Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Sayangnya ia lupa bagaimana melakukannya, saking shock-nya.
Kurapika mengutuk semua orang yang turut berbahagia atas kedatangan Kuroro di tempat ini. apakah hal ini bisa menjadi lebih buruk lagi? .
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : Lovely Doctor
Story by : Natsu Hiru Chan
Genre : Romance... itu aja kali yeee?
Rated : K+ -T
Pairing : Kuroro nii-kun just for Kurapika nee-chan
WARNING(S) : AU, OOC, Kurapika adult version, Abal, GaJe, norak, jelek, lebay, ancur, L4y, dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, hipotensi dan gangguan kehamilan dan janin!
Summary : Ia hanyalah dokter biasa, yang mementingkan nyawa pasien lebih dari apapun. Hidupnya tenang-tenang saja, meski sedikit berantakan. Namun kehadiran seorang Kuroro Lucifer, merubah segalanya...
.
.
.
Don't like, don't read! XP
.
Chapter 3 :
.
Kurapika baru saja keluar dari ruang oprasi, setelah menangani pasien yang baru saja kecelakaan berat itu. Untunglah Kurapika bisa menanganinya secara profesional, meski ia sendiri masih baru. Yah, di usia Kurapika yang masih terlalu muda itu tidak memungkinkan untuknya melakukan banyak oprasi pembedahan, meski keahliannya sudah dianggap cukup mampu. Namun 'cukup mampu' itu tidak cukup bagi seorang dokter. Mereka harus 'bisa' dalam menangani pasien.
Peluh mencucur di keningnya akibat tegang. Salah seorang suster masih setia mengikutinya, membawakannya berkas-berkas serta jas oprasi Kurapika.
Tanpa sengaja gadis itu berpapasan dengan Kuroro. Pria itu baru saja keluar dari ruang bedah 1, bersama seorang suster juga. Tak jauh berbeda darinya, Kurapika sudah bisa menebak bahwa Kuroro juga baru keluar sehabis oprasi. Wajah datarnya menutupi mimik kelelahan.
"Emmm, sus?" panggil Kurapika pada suster muda yang mengikutinya.
"Iya Dok?" sahut suster itu semakin mendekatkan dirinya pada Kurapika, agar bisa mendengar instruksi atasannya itu.
"Pasien apa yang baru saja ditangani di ruang bedah satu?" tanyanya penasaran. Ia sangat penasaran, kenapa peluh Kuroro terlihat begitu banyak. Sesulit itukah oprasi yang ia lakukan?
"Emmhh... kalau tidak salah, tumor ganas pada bagian otak Dok,"
Kurapika mengangguk mengerti. Sejujurnya ia iri dengan Kuroro. Pria itu sudah mengikuti berbagai oprasi besar, dan sudah sangat berpengalaman. Kurapika? mungkin bisa dibilang kemampuannya dan Kuroro bisa disetarakan. Namun usianya memang terlalu muda untuk melakukan oprasi besar seperti itu.
Kurapika menghela nafas panjang. "Kau bawa dokumen itu ke ruang pusat, lalu kunjungi pasien itu dan periksa keadaannya. Ohya! satu lagi! Kalau kau bertemu dengan pelayan rumah sakit ini, tolong minta dia untuk membawakanku teh hangat," perintah Kurapika dengan nada tegas, seraya masuk ke ruangannya.
Kurapika langsung duduk di kursinya yang nyaman, tanpa menutup pintunya terlebih dahulu. Kurapika bersandar, dan memejamkan matanya, merasakan ketenangan menyelimutinya.
"Dokter!" ketenangan itu sirna seketika, begitu seorang suster langsung memanggilnya dari ambang pintu.
Kurapika terbangun, menatap suster yang nampaknya sudah senior itu dengan tatapan sebal. "Ada apa?" tanyanya malas.
"Gon French!"
.
~ Lovely Doctor~
.
"Hwaaaa! Aku tidak mau dioprasi! Aku takuuutt! Bibi Mitoooo! Aku takuuuutt!" Gon terus saja meronta-ronta, sambil berteriak membuat ruangan itu terasa gaduh. Mito, bibinya hanya menatapnya lembut, mengusap puncak kepala bocah itu.
"Gon sayang. Kalau tidak oprasi bisa-bisa kau tambah sakit. Kalau sudah sehat nanti Bibi belikan es krim yang banyak yah sayang!"
Mito bersikeras agar tidak menagis di hadapan keponakannya itu, tidak ingin membuatnya takut. "Tidak sakit kok,"
Mata Gon mulai berkaca-kaca. "Aku takut Biiiii!" rengeknya.
Semua pandangan langsung tertuju pada dokter yang baru saja memasuki ruangan itu. dokter yang harusnya tua dengan wajah yang ramah yang penuh kerutan itu harus digantikan oleh dokter muda berwajah tampan.
"Dokter Kuroro!" pekik Gon senang.
Kuroro tersenyum tipis, dan mengusap lembut puncak kepala bocah itu. "Dokter Aguchi tidak bisa datang. Jadi aku yang menggantikannya," ucapnya datar, disertai dengan anggukan pasti dari suster-suster di ruangan itu.
"Siapkan semua alat oprasinya. Aku mau semuanya siap dalam lima menit," setelah perkataan tegas Kuroro barusan, para suster itu pun bergegas memenuhi perintah Kuroro. Sejujurnya mereka sedikit senang, bisa bekerja sama dengan dokter yang gosipnya sudah memikat hati banyak gadis ini.
"Nyonya, silahkan tunggu di ruang tunggu," ucap salah seorang suster, mempersilahkan Mito untuk keluar. Mito hanya menatap Gon sendu, lalu meninggalkan tempat itu.
Seolah Gon mengetahui maksud dari perkataan Kuroro, air matanya langsung tumpah. Ditatapnya Kuroro dengan takut. "Dokteeeerr aku tidak mau oprasi!" pintanya memohon.
Kuroro kembali tersenyum tipis. "Bagaimana pun kau harus dioprasi, Gon. Kalau tidak penyakitmu akan semakin parah,"
Tangisan Gon pun pecah. Ia tidak mau dioprasi! Tidak mau!
"Gon!" pandangan kedua orang yang ada di ruangan itu tertuju pada seorang gadis pirang berseragam dokter langsung memasuki ruangan itu. Ditatapnya Gon yang masih memangis.
"Onee-saaaann!" rengek Gon dengan nada yang benar-benar menyakitkan.
Kurapika langsung berlari, dan memeluk Gon erat. Kuroro terkejut melihat hal itu. Apa hubungan gadis itu dengan Gon? Kenapa sepertinya mereka begitu dekat. Gon membalas pelukan Kurapika tak kalah eratnya.
"Kenapa Gon tidak mau dioprasi? Nanti tambah sakit 'kan?" tanya Kurapika mengusap-usap lembut punggung Gon.
"Aku takut Onne-saaan! Takuuuutt!"
"Tidak usah takut, Gon. Ada aku di sini..."
Kuroro memperhatikan Kurapika. Baru pertama kali ia menyadari kelembutan gadis itu. Kelembutan yang hanya ia serahkan pada pasien saja. Kuroro bahkan tak pernah menyadarinya. Ia hanya menilai Kurapika sebagai gadis galak, emosian, dan egois. Ternyata diluar semua itu gadis itu sangat lembut, dan perhatian.
Kuroro tersentak, begitu Kurapika menatapnya. Wajah yang tadinya lembut itu langsung saja berubah menjadi ketus, begitu melihat wajah pria bersurai hitam itu.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Kurapika ketus.
Kuroro mengangkat bahu. "Aku menggantikan Dokter Aguchi oprasi hari ini," jawabnya santai.
"Kurapika nee-chan mau menemaniku?" tanya Gon, sukses membuat Kurapika kembali menoleh padanya.
Ia lalu menatap Kuroro, dan kembali menatap Gon. "Baiklah! Asal kau jangan rewel yah!" pintanya lembut. Gon hanya mengangguk, membuat rasa puas di hati Kurapika.
Gadis itu membantu Gon mengenakan pakaian oprasinya, sambil sesekali menggelitik bocah itu agar ia tidak tegang. Setelah itu, Kurapika membantu Gon berbaring, senyaman mungkin. Tangannya masih digenggam erat oleh bocah itu.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kuroro sembari menunggu alat-alat operasi selesai dipersiapkan.
Kurapika menghela nafas. "Kadang ada pasien yang rewel seperti Gon," ucapnya. Ia yakin hanya dengan mengatakan itu Kuroro pasti sudah mengerti maksudnya. Kuroro hanya menyahutnya dengan anggukan kecil.
Persiapan pun selesai. Seluruh lampu dimatikan, kecuali satu lampu besar di atas Gon. Kuroro pun nampak mulai memakai jubah oprasi dan maskernya. Baru saja Kurapika hendak pergi meninggalkan tempat itu, Gon malah menarik tangannya tak ingin melepaskan tangan lembut itu.
"Onee-san mau kemana?" tanya Gon dengan nada khawatir.
Kurapika nampak berpikir, mencari alasan yang tepat. "Euummm... aku mau membeli permen dulu yah! Supaya kalau Gon bangun nanti, bisa langsung makan, permennya!" bujuknya berharap bocah itu mau melepaskan tangannya.
Sayangnya nihil. Bocah itu tetap tak mau melepaskan genggamannya pada Kurapika. "Tidak mau! Aku takut sendirian!"
Kurapika memutar otaknya, agar Gon amu melepaskannya dan oprasi ini segera dilaksanakan. "Aduh Gon! Aku mau pipis dulu yah! Tidak tahan! Boleh yah! Sebentaaar saja," pinta Kurapika memelas. Namun Gon tetap bersikeras.
Dari kejauhan, Kuroro menertawai sikap kekanak-kanakan Kurapika itu. Tak disangkanya gadis bengis seperti Kurapika bisa bersikap seperti itu.
"Gon, biarkan dia pergi. Aku tak mau ruangan ini berbau tidak sedap akibat dia buang air di sini," Kuroro tiba-tiba muncul di belakang membuat Kurapika terkejut. Gadis itu menatap Kuroro sebal. Entah mengapa ia merasa kalau Kuroro mencoba untuk mengejeknya dengan cara yang tidak langsung.
"Aaahh! Jangan! Nanti bauuu!" Gon memasang wajah tidak senang, mengukir semburat merah di pipi Kurapika.
"Cepat. Pergi sana," usir Kuroro kasar.
Kurapika memandang Kuroro sebal. Ia mengutuk pria itu dalam hati. Sudah dalam keadaan genting begitu, masih sempat-sempatnya mengejeknya. Ia pun keluar, sambil masih memandang Kuroro dengan sebal. Begitu ia sampai di ambang pintu, dilirknya Gon, yang masih terbaring tegang.
"Berjuanglah Gon..."
Di luar, Kurapika melihat Mito menangis dalam diam. Hati Kurapika tersentuh melihat wanita itu. Seingatnya, Mito jauh lebih kurus terakhir kali ia melihatnya. Gadis itu ikut duduk di samping Mito, mengusap bahu wanita itu lembut.
Tanpa pikir panjang Mito langsung memeluk Kurapika erat, dan menangis di bahu gadis itu. Kurapika awalnya terkejut, namun akhirnya ia membalas pelukan itu lembut, berusaha menenangkan wanita itu. Siapa bilang, dokter hanya bertugas menyembuhkan luka fisik seseorang? Seorang dokter juga memiliki tugas penting, dalam menyembuhkan luka di hati.
"Dokter... aku takut Gon kenapa-napa. Aku takut dia pergi menggalkanku selamanya!" tangisan Mito pecah.
"Bibi tidak usah khawatir..." sebenarnya Kurapika jijik untuk mengatakan ini, tapi terpaksa ia melakukannya demi kebaikan Mito. "Dokter yang ada di dalam adalah dokter yang hebat. Sangat hebat malah," ucapnya terpaksa memuji Kuroro. Lidahnya terasa gatal. Tapi mau bagaimana lagi?
Setelah itu Mito pun terisak di bahu Kurapika, sampai seorang asisten gadis itu datang dan memberitahukan gadis itu bahwa pasiennya sudah berdatangan.
.
~ Lovely Doctor~
.
Rumah sakit Hunter mulai sepi pada pukul empat sore. Hanya tinggal pasien rawat inap, dan para pengunjuglah yang keliahatan.
Para suster dan dokter, beserta staf tata usaha di rumah sakit itu tengah beristirahat, lelah bekerja seharian. Bekerja di rumah sakit besar memang tidak mudah, untuk mereka. Mereka harus datang pagi-pagi, dan pulang di senja hari. Meski rumah sakit besar, hanya ada beberapa dokter ahli saja yang terlalu sibuk, dan tidak sebanding dengan jumlah pasien, membuat semuanya makin sibuk saja.
Terkadang satu dokter spesialis harus menangani lebih dari lima oprasi dalam satu harinya. Belum lagi untuk para pasien tetap, yang harus kontrol tipa minggunya. Dokter seperti Kurapika dan Kuroro pun dibuat lebih sibuk lagi. Mereka bukan dokter spesialis, namun dokter di hampir segala bidang. Jangankan dokter. Perawat-perawat dan pada tata usaha pun dibuat sibuk tiap harinya.
Kurapika pun kelelahan untuk hari ini. Ia sudah tidak mendengar suara derap langkah lagi dari luar. Mungkin semuanya sudah pulang?
Gadis itu lalu membuka jas dokternya, menampakkan kemeja biru yang nampak berantakan itu. Kurapika lalu menuju ke kamar mandi, hendak membasuh wajahnya agar tetap kelihatan segar. Setelah ini Kurapika berniat untuk makan di luar.
Namun nasib na'as malah berpihak padanya, ketika tanpa sengaja gadis itu tersandung, atas kecerobohannya sendiri. Sebelum ia jatuh, ia sempat memegang tongkat infus, membawa tonglat itu terjatuh bersamanya sehingga menimbulkan suara berisik.
"Aahh!" Kurapika mengerang kesakitan. Gadis itu bersyukur, untuk tidak ada orang yang mendengarnya. Gadis itu tak ingin membuat kegaduhan.
Ketika mencoba berdiri, ia merasakan sesuatu yang terasa begitu ngilu pada pergelangan kakinya, tidak memungkinkannya untuk bergerak. Bergerak sedikit saja, sakit itu semakin menjadi-jadi saja.
Ia terkilir. Benar-benar kenyataan yang super memalukan.
Kurapika bersikeras untuk berdiri, namun itu malah semakin menyiksanya. "Aaaarrggghh!" gadis itu menggeram kesal. Ketika mencoba bergerak lagi, tiba-tiba ia merasakan tulangnya bergeser, membuatnya tak sanggup menahan teriakannya. "AAAAKKHHH!"
"Ada apa?" suara pintunya langsung terbuka oleh seseorang pun membawa perasaan lega di hati Kurapika. Namun perasaan lega itu sirna seketika, begitu melihat siapa yang datang. Dia! Pria yang paling dibencinya! Kuroro Lucifer!
Pria itu menatap Kurapika dengan alis berkerust. "Kau sedang apa di situ?"
"Bukan urusanmu!" ketusnya, menahan sakit.
Melihat kondisi Kurapika, pria itu langsung tahu apa yang terjadi. "Kalau kau terkilir, harusnya kau memijatnya. Bukan malah mencoba melawannya," ujarnya tanpa ditanya.
Kurapika memandang Kuroro penuh kesal. Sekali lagi Kuroro telah memojokkannya. "Aku tahu!" dustanya. Ia tak ingin terlihat memalukan di hadapan pria itu.
Kurapika mencoba untuk mengikuti saran Kuroro. Baru saja ia hendak menyentuhnya, sengatan dari kaki itu langsung menjalari tubuhnya, membuatnya harus menahan sakit. Kuroro malah masih berdiri di dekatnya, seolah menikmati penderitaan Kurapika.
"Butuh bantuan?" akhirnya Kuroro berucap dengan seringai mengejek.
Gadis pemilik surai pirang itu menatap Kuroro lama. Rasanya harga dirinya terlalu tinggi, untuk meminta bantuan pria yang sudah resmi menjadi musuh besarnya itu. Namun apa boleh buat, dari pada selamanya ia di sini? Akhirnya ia memalingkan wajahnya malu. "Kalau sudah tahu kenapa diam saja?"
Kuroro tersenyum tipis. Ia lalu menunduk mendekati Kurapika.
"Kyaaaa!"
Gadis itu memekik kaget, ketika pria itu langsung saja menyelipkan lengan kokohnya di belakang lutut, dan dipunggungnya, mengangkat Kurapika. Kurapika sedikit terkejut, akibat diperlakukan secara tiba-tiba seperti itu. Kuroro pun menggendong Kurapika, membawanya sampai ke ranjang yang ada di rumah sakit itu.
Pria itu menggendong Kurapika hanya seperti menggendong guling saja. Begitu santai, begitu ringan. Awalnya Kurapika pikir bahwa Kuroro akan menjatuhkannya, atau bahkan mengeluh protes atas berat badannya. Namun di luar dugaannya, lelaki itu malah meletakkan Kurapika secara hati-hati di atas ranjang.
Kuroro lalu mengambil bantal, dan meletakkannya di bawah kaki Kurapika. Gadis itu hanya terus memperhatikan apa yang akan Kuroro lakukan.
"Kau punya handuk atau sapu tangan 'kan?"
"Ah, di lemari ada!"
Mendengar jawababn itu, Kuroro pun segera menuju lemari yang ada di ruangan itu, membuka lemari, dan sekali melihat ia langsung bisa menemukan letak saputangan itu . ia lalu mengambilnya, dan menuju kamar mandi untuk membasahinya.
Tak lama setelah itu, kehadiran Kuroro mengejutkan Kurapika. Pria itu langsung saja duduk di sisi ranjang, dan mencoba untuk menyentuh kaki Kurapika yang mulus itu.
"Ahh!" Kurapika merintih sakit, merakan pergelangan kaki kirinya itu serasa mau putus. Namun Kuroro segera mengompresnya, meringankan sakit itu. "Parah juga," gumamnya.
Kurapika memejamkan matanya. Rasanya memang cukup sakit, namun gerakan Kuroro yang begitu lembut pada kakinya membuatnya merasa sedikit nyaman. Kuroro memijat kakinya seolah pria itu memang sudah ahli. Kurapika terkadang berpikir, kenapa pria di depannya ini bisa apa saja?
Gadis itu memperhatikan Kuroro tanpa sadar. Ia bisa melihat sirat kelelahan di wajah pria itu. Peluh terlihat membasahi keningnya. Helai-helaian tipis rambut yang biasanya rapi itu sudah mulai agak berantakan. Wajah Kuroro nampak serius memjiat. Sepertinya pria itu memang bersungguh-sungguh, dalam hal menangani pasien.
Kurapika terkejut setengah mati, begitu pandangan Kuroro beralih pada matanya. Harga dirinya yang menjulang tinggi itu bisa saja runtuh, jika Kuroro memang menyadari bahwa sedari tadi ia diperhatikan olehnya. Kurapika mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia sampai memperhatikan Kuroro? Biasanya 'kan ia malah enggan melihat, bahkan menyebut nama itu.
Gadis itu kembali melirik pada Kuroro, setelah beberapa menit memalingkan pandangannya. Betapa terkejutnya ia begitu menyadari bahwa sedari tadi Kuroro masih memperhatikannya? Jantung Kurapika berdebar keras. Tatapan misterius Kuroro seolah menyangga kepalanya agar tidak menoleh ke arah lain. Kurapika balas menatap mata itu dengan tatapan yang... sulit untuk di jelaskan.
"Bagaimana?" Kurapika membulatkan matanya, begitu mendnegar suara Kuroro. Ia segera tersadar dari lamunannya, sekaligus tersadar dari kebodohannya memandangi Kuroro.
"Em, bagaimana apa maksudmu?" tanya Kurapika gelagapan.
"Kakimu,"
Pandangan Kurapika beralih pada kakinya. Ia sedikit menggerakkannya, dan sudah tidak terlalu sakit lagi! Harus ia akui, Kuroro memang dokter yang hebat, ahli dalam segala hal. Senyum mengembang di wajah Kurapika.
"Sudah enakan! Terima kasih!" ucapnya tulus.
Kuroro tersenyum tipis, lalu turun dari tempat tidur, hendak meninggalkan Kurapika. "Lain kali hati-hati,"
"Em! Kuroro..." panggil Kurapika, tanpa sadar ia menyebut nama kecil pria itu tanpa embel-embel 'dokter' dengan nada mengejeknya. Kuroro hanya menoleh santai, melemparkan Kurapika tatapan bertanya.
"Kau sudah makan?" tanya Kurapika canggung.
"Belum. Baru saja mau keluar," jawabnya singkat.
Kurapika mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajah gugupnya. "Kalau tidak keberatan, kau mau makan bersama? Biar aku yang traktir. Sebagai ucapan terima kasihku..."
Bukannya menjawab, Kuroro malah berjalan mendekati gadis itu, menatapnya bingung. Kurapika jadi semakin canggung saja, apalagi saat Kuroro menyentuh keningnya.
"Kau baik-baik saja? Tidak demam 'kan?"
Kurapika mendengus sebal, menatap Kuroro. Ditepisnya tangan kokoh itu dengan kasar. Memangnya salah yah, kalau dia ingin berbuat baik? Kuroro malah tidak serius menanggapinya.
"Ya sudah kalau tidak mau!" kesal Kurapika, seraya turun dari tempat tidur, hendak keluar dari ruangan itu, jika Kuroro tidak langsung menarik tangannya. Kurapika sontak menoleh, memandang pria itu dengan tidak percaya.
"Errr... tanpa jas dokter?" tanya Kuroro dengan senyum memikatnya.
Kurapika balas tersenyum. "Tentu saja,"
.
~ Lovely Doctor~
.
Kurapika merebahkan tubuhnya di sofa rumahnya, setelah melempar jas dokternya di sembarang tempat. Gadis itu benar-benar kelelahan, lelah bekerja seharian.
Pandangan gadis itu lalu tertuju pada sebuah berkas yang tergeletak di atas meja kecilnya. Diambilnya berkas itu, dan membacanya tanpa minat. Jadwalnya.
Besok, pukul 09.00 pagi dan 12.00 siang dia ada oprasi. Kurapika kembali meletakkan berkas itu, dan lebih merilekskan dirinya di sofa. Rasa bosan menyelimuti gadis itu.
Ia tak habis pikir, kenapa ia dengan mudahnya bersikap ramah dengan pria pemilik mata onyx yang bernama lengkap Kuroro Lucifer itu? Setahunya, Kurapika membencinya! Hanya ingat akan kejadian di restaurant tempatnya makan bersama Kuroro tadi. Semua pasang mata menatap mereka dengan kagum, seolah mereka berdua ini adalah sepasang kekasih, dan Kurapika tak bisa menerimanya!
Gadis itu meraih jas dokter yang tergeletak sembarang di dekat sofa, dan merogoh kantung jas itu. matanya membelalak sempurna, begitu ia tidak merasakan kehadiran ponselnya di sana! Ia langsung merogoh saku lain, nihil! Kurapika mulai panik. Ia memeriksa di semua saku pada pakaian yang menempel pada tubuhnya, tetap saja tidak ada!
Bukan masalah ruginya, mengingat ponsel itu adalah ponsel canggih pengeluaran terbaru. Masalahnya, semua nomor, email, dan data penting yang tak sempat Kurapika tulis, semua ada di sana! Selain itu, ponsel itu adalah ponsel pemberian Leorio, di ulang tahunnya yang ke 20.
Kurapika menggerang kesal. Ia teringat pada mobilnya. Mungkin tertinggal di sana! Dengan cepat ia mengambil kunci, dan segera keluar, berharap ponselnya akan segera ia temukan.
Gadis itu mencari di setiap sudut mobilnya. Sayangnya yang ia cari tidak juga di temukan. Disandarkannya kepalanya di sandaran mobil dengan putus asa. Benar-benar sial!
Kurapika memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya. Nomor telpon dan email bisa ia minta ulang. Masalah data... Kurapika akan berusaha keras untuk mencarinya. Masalahnya adalah Leorio! Apa jadinya, jika pria itu tahu bahwa adik semata wayangnya ini menghilangkan hadiah yang susah payah ia dapatkan? Bukan masalah harga! Masalahnya, Leorio harus memesan jauh-jauh hari sebelum benda itu dikirimkan. Peminatnya cukup banyak, membuat pria itu terpaksa menyuruh rekannya yang kebetulan tinggal di kota tempat pusat penyebaran ponsel itu untuk membeli di sana. Susah payah, Leorio mencari nomor ponsel teman lamanya itu!
Kurapika menutup mobilnya dengan putus asa. Ia berjalan, menaiki tangga dengan lesu. Besok ia harus minta maaf pada kakaknya itu, meski ia tak punya keberanian untuk melakukannya.
Kurapika merebahkan dirinya di sofa dengan penuh putus asa. Pandangannya langsung tertuju pada telpon rumah yang tergeletak di meja. Dengan cepat, ia segera menuju telpon itu, menempelkan gagang telpon di telinganya, dan menekan cepat nomor telponnya yang sudah ia hafal di luar kepala itu.
Gadis pemilik surai pirang itu terkejut, mendengar bahwa telponnya tersambung! Gadis itu menuggu dengan tidak sabar.
"Halo?" kepala Kurapika memanas, mendengar suarar bariton dari sebrang menjawab panggilannya.
"Kau! Siapa kau yang sudah mencuri ponselku!" bentak Kurapika tanpa memikirkan konso-kuensi salah sambung. Tapi... sepertinya suara itu begitu familier baginya. Siapa ya?
"Ponselmu? Ini ponsel milikku, nona...!"
"Cepat kembalikan milikku! Atau kau akan kulaporkan pada polisi!" gadis itu mengancam dengan serius.
"Kalau begitu kau harus mencariku dulu,"
Kurapika menggeram emosi. Darahnya sudah mencapai titik didihnya. "Dengar yah Tuan! Aku minta kau mengembalikan ponselku sekarang! Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan!"
"Jangan emosi begitu. Kita bisa menyelesaikannya dengan baik. Tak perlu berlangsung ke pengadilan!"
"Aku tidak ingin bercanda!"
"Wah kenapa di kontak ponselmu hanya ada beberapa nomor laki-laki saja? Sayang sekali. Nasib orang jelek! Laki-laki pun menjauh..."
"Tuan!"
"Hanya ada... emm..." orang di sebrang nampak membaca nama-nama laki-laki yang ada di kontak Kurapika. "Baka Leorio nii... Shalnark... Dr. Jhonson... Mr. Lippo... Netero jii-san. Hanya ada lima! Itu pun orang-orang di rumah sakit!"
Emosi Kurapika mencapai titik puncaknya. "AKU SERIUS! KALAU KAU TIDAK MENGEMBALIKAN MILIKKU SEGERA AKU AKAN SEGERA MENELPON POLISI DAN MEMINTA MEREKA UNTUK MELACAK PONSELKU! KAU AKAN DIHUKUM BERAT ATAS TUDUHAN PENCURIAN DAN PENERORAN!" bentaknya. Dadanya sampai naik turun saking marahnya.
"Aduuuhh... kenapa kau tidak menyimpan nomor ponsel Kuroro Lucifer? Padahal dia itu pria yang sangat tampan, dan dokter yag hebat..."
Mata Kurapika membelalak sempurna. Langsung saja ia menutup telpon itu dengan kasar, dan langsung menghambur keluar.
.
Brakk!
Kuroro—yang baru saja meletakkan ponsel merah pengeluaran terbaru di atas meja sofanya langsung menoleh, begitu mendengar suara pintu dihempaskan begitu saja. Dilihatnya seorang gadis pirang dengan wajah marah yang menyeramkan.
"Ada urusan apa, dokter Kurapika?" tanya Kuroro dengan santai seolah tak mengubris tatapan Kurapika yang seolah akan menerkamnya hidup-hidup.
Gadis itu langsung saja masuk, dan mencengkram kerah kemeja Kuroro dengan emosi yang membuncah. "Kau bisa tidak sih, untuk tidak menggangguku sehari saja? Tidak membuat amarahku meledak!"
"Ada apa ini? apakah aku melakukan kesalahan, Dokter Kurapika?"
Gadis itu langsung mengguncang-gincangkan tubuh Kuroro dengan penuh amarah. "Mana ponselku!"
Kurapika mengikuti lirikan hitam Kuroro, sampai pada sebuah meja yang di atasnya. Tergeletaklah barang yang membawanya sampai ke sini. Dilepaskannya cengkramannya pada baju Kuroro, membuat pria itu tersungkur ke sofa. Bodo amat! Kurapika tak peduli. Ia langsung menyambar ponsel itu, memperhatikan bahwa pria itu tak melakukan yang aneh-aneh pada ponselnya.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Kurapika langsung mendelik super tajam pada Kuroro. Pria itu tengah duduk di sofa, sambil mengambil remote TV dan menyalakannya, seolah tak terjadi apa-apa.
Gadis itu mendengus sebal. Baru saja ia hendak keluar dari ruangan ini, Kuroro langsung mencegahnya.
"Kau jangan mau main kabur saja!"
"Apa lagi kali ini, Dokter Lucifer?" Kurapika bertanya dengan nada tertahan. Ingin sekali ia memukul wajah pria ini hingga bengkak, dan besok dia tidak bisa tebar pesona lagi di rumah sakit.
Kurapika membelalak kaget, begitu Kuroro langsung membuka kemejanya. Sontak gadis itu memekik kaget, dengan wajah yang merona merah.
"Kyaaaa—ummp!" pekikan Kurapika terhenti, saat Kuroro melemparkan kemejanya tepat di wajah Kurapika.
"Berisik! Apa kata orang sebelah nanti kalau tahu ada gadis di kamarku malam-malam begini?" ucap Kuroro dengan nada agak kesal. Ia menyandarkan bahunya, mengganti chanel TV yang tidak menarik itu.
Kurapika menyingkirkan kemeja Kuroro dari wajahnya. Dilihatnya Kuroro sedang asyik menonton, tanpa memikirkan resiko masuk angin karena dirinya bertekanjang dada. Sesuai dugaan Kurapika, Kuroro memiliki tubuh atletis, dengan lekukan-lekukan otot yang terbentuk oleh hasil latihan yang sepertinya berat itu. Kulit Kuroro putih mulus, dan terdapat butiran-butiran keringat kelelahan. Mata Kurapika langsung menangkap tatoo laba-laba berwarna biru yang tercetak di lengan pria itu.
Tanpa sadar Kurapika terus memperhatikan Kuroro. Merasa diperhatikan, pria itu berkata tanpa menoleh. "Kau mau mengagumiku sampai kapan?"
Gadis itu langsung tersadar. Dengan cepat, ia memalingkan kepalanya. Gila! Kenapa ia terus memperhatikan pria bodoh itu. Pandangan Kurapika langsung tertuju pada kemeja Kuroro yang masih menggantung di bahunya. Baru saja ia hendak membalas lemparan Kuroro (dengan benda yang sama pula), pria itu lagi-lagi menyelanya.
"Jahitkan!"
"Ha?"
"Kancingnya lepas!" pria itu menunjuk dua buah kancing yang tergeketak di lantai. Kurapika mengikuti arah yang ditunjukan ujung jari pria itu. "Kau harus menjahitkannya, karena kau yang telah melepasnya,"
Kurapika terdiam, teringat akan guncangannya tadi pada Kuroro saat ia lepas emosi. Tapi... pada dasarnya ini semua memang salah Kuroro bukan? Jadi kenapa ia harus menjahitkan baju pria itu? Selain itu... Kurapika tak pernah menjahit baju sekalipun.
"Aku—"
"Jangan bilang kau tidak bisa menjahit kancing baju yang lepas?" Kuroro seolah bisa menebak apa yang dipikirkan gadis itu. Pria itu memang agak terkejut. "Dokter sepertimu, tidak bisa menjahit pakaian? Manusia saja selalu kau jahit! Kenapa baju tidak?" komentar Kuroro terdengar panas di telinga Kurapika.
"Jangan seenaknya memutuskan!" gadis itu berusaha mengelak. "Aku bukannya tidak bisa! Hanya sajaaa... tidak... pernah..." suaranya mengecil di akhir kalimatnya.
Baru tersadar, sedari tadi Kurapika memegangi kemeja Kuroro dengan kedua tangannya. Meski Kuroro sudah bekerja seharian, pakaian itu masih sangat harum. Aroma farfum laki-laki yang bercampur dengan aroma maskulin Kuroro masih menempel di kain itu. Bahkan keringat Kuroro pun tercium begitu wangi, menggambarkan kepribadian jantan seoreang laki-laki.
"Kalau tidak bisa yang tidak bisa! Dasar. Anak manja..."
Kepala Kurapika memanas, mendengar kata-kata panas yang terlontar dari bibir pria itu. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berdua makan bersama di restaurant, mengobrol sedikit seputar tentang pasien dan ilmu kedokteran. Tapi sekarang, pria itu malah menyiram minyak dalam kobaran api yang baru saja hendak reda. Entah mengapa ia selalu menggoda Kurapika, semakin memperkuat kedua benteng keegoisan masing-masing.
"Aku bukan anak manja! Malah menurutku, kaulah anak manjanya TUAN LUCIFER-SAMA!" balas Kurapika tak kalah pedasnya, mengingat cerita Leorio, bahwa Kuroro berasal dari keluarga Lucifer yang kaya raya itu. Bahkan jika ia mau, Kuroro bisa saja mewarisi semua perusahaan ayahnya, karena ia anak tunggal. Sayangnya entah mengapa pria itu memutuskan untuk menjadi seorang dokter, meninggalkan pekerjaan yang diimpikan oleh semua lelaki di seluruh dunia itu!
"Setidaknya aku tidak selalu berharap banyak pada kakek dan kakakku,"
"Aku sendiri tidak pernah meminta apa-apa pada Ibu dan Ayahku, merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan permen!"
Tatapan Kuroro menajam. Sepertinya pertegkaran ini mulai menjadi serius. Mulai dari saling melempar ejekan dan penghinaan, sampai akhirnya saling mengungkit urusan pribadi dari lawan masing-masing.
"Kau pikir aku hanyalah anak manja yang selalu meminta uang dari kedua orang tuaku? Kau salah besar, nona Kuruta! Justru, kaulah yang selalu merengek pada pada orang tuamu!"
Kurapika terdiam.
Bayang-bayang masa lalu mulai menghantuinya.
.
Flashback
"Kurapika! apa yang kalu lakukan di sana? Cepat! Ojii-san sudah menunggu di mobil!"
Kurapika saat itu yang masih kelas lima SD membetulkan model syalnya, dan berlari kecil dengan langkahnya yang mungil mengejar kakaknya yang sudah SMP itu. Kakeknya, bisa dibilang orang tuanya satu-satunya sudah menunggu mereka di mobil yang terparkir di depan sekolah Kurapika dan Leorio, yang kebetulan berada dalam satu pekarangan.
Brukk!
Langkah Kurapika terhenti, begitu ia mendengar suara seperti orang jatuh di belakangnya.
Segera ia menoleh, melihat apa yang baru saja terjadi. Penyesalan. Ia menyesal telah menoleh ke belakang, melihat kejadian yang hanya membuat hatinya terkoyak. Ternyata tadi itu adalah seorang teman sekelasnya yang terjatuh akibat tersandung. Ibu dari anak itu segera berlari menyusulnya, membantunya berdiri, memeluknya, memberikan kasih sayang yang teramat besar dan menuangkannya dengan elusan lembut pada punggung putranya. Ibu anak itu berusaha menenangkan anaknya yang masih menangis tersedu-sedu. Tak lama kemuadian, ayah dari anak itu datang menyusul, dan ikut menenangkannya. Hal yang tak pernah Kurapika alami seumur hidupnya...
Hati Kurapika terasa perih. Ia teringat akan ibunya yang sudah berada di surga sekarang. Seandainya ayahnya tidak meninggalkannya... seadainya ibunya tidak sakit dan meninggal... saat ini ia pasti sedang berjalan dengan senyum sumirgah, dangan kedua tangannya yang digenggam oleh dua orang itu di kedua sisinya, sementara Leorio berlari riang di sekitar mereka. Keluarga yang utuh dan bahagia. Hal yang selama ini Kurapika impikan.
Kurapika segera memalingkan wajahnya, menyeka air matanya yang hendak keluar.
Ayah bocah itu mengangkat putranya setinggi-tingginya. Gelak tawa terdengar riang, memaksa Kurapika kembali menoleh. Keluarga itu pun keluar dari gerbang sekolah, dengan senyum sumirgah yang begitu hangat.
Kurapika menatap mereka sendu. Iri... cemburu... sakit hati... tiga perbuatan tak terpuji, namun seolah mengikat hati gadis kecil itu. Ia rindu sekali dengan ibunya... sangat rindu... nyeri sekali membayangkannya.
"Kurapika..." lamunan gadis itu sirna, begitu merasakan tepukan di pundaknya. Dilihatnya kakaknya, Leorio menatapnya dengan senyuman tulus penuh arti.
"Leo...rio..."
Leorio menyengir lebar. "Nanti aku belikan permen yah!"
Kurapika memaksakan senyumnya, meski matanya buram oleh air mata. "Janji yah..."
Mereka berduapun segera meninggalkan sekolah, dengan perasaan yang sama. Leorio tadi juga sempat melihat kejadian itu, beserta dengan ekspresi adiknya yang membuat hatinya pun terasa perih.
Leorio menggeleng cepat. Saat ini, ialah ayah sekaligus ibu bagi Kurapika...
.
Flashback end
Tess...
Mata hitam Kuroro membelalak, begitu melihat air mata gadis yang saat ini berdiri di depannya menetes. Apa dia sudah salah bicara?
"Kau... kenapa?" tanya Kuroro tidak enak. Rasa bersalah mulai menghantui dirinya.
Kurapika dengan cepat menghapus air matanya dengan kasar. Namun entah mengapa air mata itu tak mau berhenti mengalir. Selama dua minggu pindah ke tempat ini, ini kali pertama Kuroro melihat Kurapika menangis. Dan mungkin... gadis itu tak mengeluarkan air matanya dalam waktu yang cukup lama. Buktinya, sekeras apapun Kurapika berusaha untuk menyekanya, tapi hasilnya nihil juga. Sejak ibunya meninggal mungkin?
"Apa... apa aku salah bicara?" tanya Kuroro lagi, melihat Kurapika tak henti-hentinya berusaha menghapus air matanya. "Maaf..."
Nihil. Gadis itu tetap menangis dalam diam. Baru Kuroro sadari, betapa rapuhnya seorang Kurapika. Perkiraan Kuroro, mungkin hubungan Kurapika pada orang tuanya kurang baik, atau bahkan sudah meninggal, sehingga ketika ia mengucapkan kata-kata yang menyangkut kedua orang tua Kurapika, gadis itu pasti akan tersinggung.
Kuroro memegang satu bahu Kurapika yang agak bergetar. Gadis itu tengah berusaha melawan tubuhnya sendiri. Bagaiaman pun otaknya memerintah dirinya untuk tidak menangis, namun hatinya berkata lain. Sepertinya rasa sedih Kurapika akan ibunya mengalahkan kemampuan otak yang luar biasa itu.
Insting playboy seorang Kuroro langsung menggerakkan tangan pria itu, merangkul tubuh yang lebih mungil darinya itu. Kuroro berusaha untuk menenangkan Kurapika, memeluknya dengan lembut nan erat. Presetan, jika Kurapika akan langsung mendorongnya, dan menghajarnya habis-habisan.
Di luar dugaannya, gadis itu malah diam, dan menangis di dada bidangnya yang kokoh itu. Kurapika bahkan mulai terisak, di dalam pelukannya. Hal ini membuat Kuroro semakin bingung. Kenapa Kurapika tiba-tiba begini? Apa memang karena ucapannya tadi? Atau tiba-tiba gadis itu menjadi gila melihat Kuroro yang bertelanjang dada? Ngawur!
Kurapika dapat mencium aroma maskulin Kuroro yang begitu memabukkan. Ia tidak peduli, harga dirinya akan roboh bak rumah yang tiangnya patah. Rasanya sudah lama ia membendung air matanya, sehingga setelah pertengkaran tadi, waduk yang selama ini ia bangun dan ia yakin akan kokoh sampai ia menutup mata untuk selamanya itu akhirnya rubuh juga, menumpahkan air yang selama ini ia tampung mengalir deras melewati pipinya.
"Kuroro! Aku boleh minta tolong tidak!"
Keduanya langsung menoleh, begitu mendengar suara yang begitu familiar. Nampak jelas Leorio, kepala Rumah Sakit Hunter, nampak berdiri di ambang pintu, menatap kedua orang itu dengan tatapan tidak percaya.
"K—kalian..."
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
Yaaahh! Akhirnya chapter 3 selesai jugaaaa! XD
Berat banget ngerjainnya! Punggung nih rasanya mau hancur! *penyakit manula*
Yosh! Nih balesan reviewnyaaa! :
. Kujo Kasuza Phantomhive :
Makasih udah review Kujo-saaaann! XD
Hehehehe... Gak apa! Yang penti Kujo-san udah nyempetin diri buat review!
Monster VS Iblis... kayaknya menengan Iblis deh... toh, dia 'kan punya iblis yang gunain segala cara buat jatuhi monster^^ *dideath glare Kurapika nee-chan*
. Ken Shi :
Makasih udah review Ken-saaann!^^ Salam kenal jugaaa!
Kalo Natsu sih, bukan pusing! Tapi udah seneng banget, punya partner seganteng Kuroro nii! XD *blushing*
. Kuraku Kurocifer :
Makasih udah review Kura-saaaann! XD
Hehehehe! Natsu juga suka Kura-saaann!
Kyaaaa! *nutup telinga* iya, iya! Nih Natsu udah update! XD
. govindam :
Makasih udah review Govi-saaaan! XD
Hahahaha! Makasih banyak atas doanya! Nilai Natsu cuku baik loh! Mungkin berkat doanya Govi-saaaann!^^b Arigatoooo!
Hahahahaha! Govi-san mungkin cocoknya jadi pelawak kali yah?
Aaaahh... soal Gon Natsu masih mikirin^^ Tapi udah ada bayangan sih, apa yang terjadi padanya kelak nanti! *di death glare Mito oba-san*
Gaya khas? Gaya khas apa Govi-san? Natsu gak ngerti!^^
. Guest :
Makasih udah review^^
Iya deh, bakal Natsu lanjutin!
. hana-11emptyflower :
Makasih udah review hana-saaann! XD Salam kenal yah!^^
Nih udah update!^^
.
Yosh! Sekian dulu! Kalo berkesempatan, bolehkah para reader sekalian review lagi? Lanjut tidaknya fic ini, ditentukan dari review kaliaaann! XD
So, review please...^^
.
NATSU HIRU CHAN
