Destiny 2

Main Cast: Jang Hyunseung, Yoon Doojoon, Yang Yoseob, Yong Junhyung

Other Cast: Lee Kikwang, Son Dongwoon, Jang Geurim (Hyunseung's sister), Jang Geun Suk (Hyunseung's Father), Moon Geun Young (Hyunseung's Mother), Yoon Sang Hyun (Doojoon's Father) and Choi Ji Woo (Doojoon's Mother)

Genre: Hurt, Drama

Rate: PG15

Summary: Apa yang kau lakukan untuk membahagiakan orang yang kau cintai? Apa cinta saja cukup? Apa kau rela saat takdir memaksamu untuk melepasnya?

Disclaimer: Semua cast ini bukan milik saya, saya hanya meminjan nama mereka untuk dijadikan arakter Fic saya tapi cerita ini murni karya saya.

WARNING! This story is not about 'boyxboy' all uke has change their gender so DON'T LIKE DON'T READ!

-Destiny by YK-

Hyunseung berlari secepat yang ia bisa, tapak kakinya terasa perih menginjak aspal panas dan beberapa kerikil di jalan karena ia tak memakai alas kaki. Keringat ikut membasahi piyama putih bermotif kelici miliknya. Napasnya tersengal tapi semua itu tak dirasanya terlebih ketika melihat seorang pria berambut kecokelatan yang tubuhnya ditutupi hoodie hitam di ujung jalan. Hyunseung tersenyum senang tak sadar ada puluhan pria bertuxedo dan berkacamata hitam yang mengejarnya dari belakang.

"Junhyung!" serunya seraya berlari lebih cepat lagi, Junhyung yang merasa dipanggil dengan segera menoleh dan tersenyum mendapati gadis bersurai madu itu berlari menghampirinya. Tapi senyumnya lantas memudar sesaat setelah matanya menangkap puluhan pria yang mengejar kekasihnya.

"Seungie palliwa! Ada banyak penjaga yang mengejarmu!" Junhyung mengulurkan tangannya, Hyunseung menoleh sesaat kemudian meraih tangan Junhyung dengan wajah panik. Junhyung berlari dengan cepat seraya menarik tangan Hyunseung, ia tahu Hyunseung sangat lelah terlebih melihat wajah lebamnya membuat rasa khawatir dalam dirinya membuncah. Tapi ini keputusan keduanya, mereka sudah merasa lelah dengan semua ini. Mungkin lari dari kota ini lalu menikah secara diam-diam adalah ide yang baik.

Katakan mereka gila, katakan mereka labil atau mungkin durhaka kepada orang tua. Tapi tiga tahun menjalin cinta tanpa restu sudah cukup membuat keduanya tertekan. Tuan Jang bahkan bukan hanya hanya melarang hubungan mereka, ia juga sering memisahkan mereka saat sedang kencan lalu memukuli Junhyung hingga babak belur.

Puncaknya adalah sekarang saat Hyunseung diketahui mengandung dua bulan, Tuan Jang benar-benar murka. Semalaman ia memukuli tubuh Hyunseung dengan cambuk dan menyuruh orang-orang untuk membunuh Junhyung beruntung ia berhasil melarikan diri saat orang-orang suruhan Tuan Jang mengepung rumahnya.

"Junhyung, kakiku perih!" Hyunseung menyerah, kulitnya yang sobek terkena kerikil sudah berdarah dan terasa perih saat berlari. Junhyung menatapnya iba, ia lalu membungkuk seraya menyuruh kekasihnya naik di punggungnya. Hyunseung menggeleng, Junhyung sudah cukup lelah hanya untuk berlari sendiri bagaimana jika harus ditambah dengan berat tubuhnya?

"Jangan keras kepala, seluruh tubuhmu sudah terluka! Ayo cepat naik!" paksa Junhyung, Hyunseung mengangguk pasrah.

"Mau kemana kalian?" Tuan Jang menatap sengit sepasang kekasih di hadapannya. Dalam hitungan detik saja ada puluhan pria yang mengepung Junhyung dan Hyunseung. Tubuh Hyunseung bergetar hebat, air matanya mengalir deras membasahi punggung Junhyung. "Turunkan putriku!" ujar Tuan Jang dingin.

Junhyung menggeleng, matanya menatap tajam Tuan Jang seolah tak takut dengan pria yang sangat membencinya itu. "Aku tidak akan menyerahkannya padamu!" katanya tegas.

"Bajingan kau! Memangnya kau ini siapa berani membawa pergi putriku?"

"Aku?" Junhyung menyeringai, "Aku ini pria yang paling dicintai putrimu!"

"Keparat!" Tuan Jang memukul wajah Junhyung, beberapa pria menarik Hyunseung turun dari punggung Junhyung sementara dua pria menahan tubuh Junhyung yang berontak, "Habisi dia!" titah Tuan Jang.

"ANDWE!" Hyunseung berteriak histeris melihat Junhyung dipukuli tetapi kemudian seorang membekapnya dengan sarung tangan yang diberi obat bius hingga gadis itu tak sadarkan diri.

.

.

.

"Temui aku di tempat biasa, sekarang juga!

Aku akan sangat marah jika kau terlambat

apalagi jika kau tak datang ^^"

Doojoon tersenyum miris membaca pesan dari kekasihnya, apa gadis itu tidak kapok dihina oleh orang tuanya? Gadis itu memang sangat keras kepala dan itulah yang Doojoon sukai darinya. Tapi semalam ia sudah berjanji untuk tak lagi menemui kekasihnya.

"Tak apa, aku menemuinya untuk terakhir kalinya… mengucapkan selamat tinggal… lalu menuruti kemauan appa," Doojoon mengangguk seolah setuju dengan idenya. Diam-diam ia pergi dari rumahnya untuk menemui Yoseob, kekasihnya.

Langit berubah kelabu di saat matahari baru saja memamerkan sinarnya, Yoseob tersenyum saat tetesan hujan mulai turun membasahi tubuhnya. Taman kota yang tak pernah sepi sepanjang hari itu entah kenapa menjadi sepi padahal biasanya di saat seperti ini ada banyak anak kecil yang berlarian atau pasangan berumur yang berjalan-jalan menghabisi masa tua mereka seraya mengenang masa lalu.

Yoseob kembali teringat ke empat tahun lalu saat ia dan Doojoon untuk pertama kalinya mengunjungi taman ini untuk mengantarkan seorang nenek tua yang buta. Nenek itu mencari suaminya yang renta, suaminya yang duduk di kursi roda sendiri di sudut taman. Yoseob bahkan menangis ketika melihat pasangan yang begitu sempurna dengan kesetian cinta mereka.

"Cinta sejati adalah cinta yang terus kau jaga kesuciannya hingga Tuhan yang memisahkannya dengan caranya!" ujar kakek tua itu ketika Doojoon bertanya tentang cinta.

Yoseob kembali tersenyum, ia bukan gadis SMA yang tengah jatuh cinta apalagi patah hati. Hanya saja tuhan sedang mempermainkan hidupnya, kalau saja ia bisa mengunggat tuhan atas takdir hidupnya. Tapi ia terlahir sebagai gadis gereja yang taat, ia bahkan selalu tersenyum saat tuhan memberinya ujian yang berat.

"Yoseob!" Yoseob tersenyum menyambut Doojoon yang berlari kecil menghampirinya, "Ini hujan, kau bisa sakit!"

"Aku teringat sesuatu," ujarnya pelan.

"Teringat sesuatu hingga tak sadar kalau hujan turun?"

"Doojoon, kau mau bilang apa?" Doojoon menatapnya bingung, "Cepat katakan aku ingin pulang!" katanya dengan senyum yang sulit diartikan.

"Kau yang memintaku untuk datang!" Yoseob diam, keduanya saling memandang untuk waktu yang cukup lama.

"Aku… aku tidak mau putus Doojoon-ah…" gadis berambut blonde itu memeluk Doojoon erat seraya menumpahkan kesedihannya. Air matanya sudah tersamar dengan air hujan tapi Doojoon tetap bisa mendengar isakannya yang menyayat hati.

"Apa katamu?"

"Aku tidak peduli lagi apa yang akan dikatakan orang tuamu, aku juga tidak peduli jika mereka mau menyakitiku tapi aku tidak bisa jika harus berpisah denganmu Doojoon-ah!"

"Tapi aku lah yang tidak bisa," Doojoon melepas pelukan Yoseob dan menatap mata sendu gadis itu dalam, "Aku yang tidak bisa melihatmu terus-menerus disakiti lahir dan batin oleh mereka, orang tuaku sendiri!"

"ANI!" Yoseob menggeleng, "Kau tidak boleh meninggalkanku Doojoon-ah lebih baik aku mati dari pada harus kehilanganmu!"

"JANGAN EGOIS!" Yoseob berjalan mundur mendengar Doojoon membentaknya, "Tolong pikirkan perasaanku juga, bagaimana bisa aku membiarkan gadis yang paling kucintai menderita? Bagaimana?"

Langit Seoul terlihat sangat gelap, hujan turun semain deras diselingi kilatan petir yang membuat siapapun enggan keluar. Angin berhembus sangat kencang, menggugurkan dedaunan di taman. Beberapa mobil terlihat terpakir tak jauh dari tempat Doojoon dan Yoseob berdiri, satu per satu pria berjas hitam menghampiri mereka dan menyeret tubuh lemah Yoseob dan Doojoon yang yang berontak melihat Yoseob.

"Lihat Doojoon," Doojoon menatap sang ayah yang mengelus pipi Yoseob lembut, "Lihat apa yang akan kulakukan karena sifat pembangkangmu!"

"Argghhh!" Yoseob berteriak ketikan sebuah pisau menggores pipinya.

"Hentikan! Aku sudah setuju dengan permintaanmu appa, aku datang hanya untuk mengucakan selamat tinggal padanya!"

"Andweyo, aku tidak mau berpisah denganmu Doojoon-ah!"

BUK!

Satu tendangan di perutnya membuat gadis itu memuntahkan darah dari mulutnya.

"Yoseob!" Doojoon menatap iba kekasihnya "Sudah cukup, aku akan ikut dengan kalian tapi ku mohon lepaskan dia!" pintanya. Tuan Yoon mengangguk setuju lalu menyuruh orang-orang suruhannya membawa pergi Doojoon.

"Dengar gadis jalang, jangan pernah kau coba-coba mendekati anakku!" kata Tuan Yoon seraya menunjuk wajah Yoseob tanpa mendegarkan protes dari Yoseob ia sudah pergi meninggalkan gadis malang itu.

"Doojoon… jangan pergi… dorawa, jebal dorawa…"

.

.

.

Suara mesin elektrokadigraf terus berbunyi memenuhi ruangan ICU. Dongwoon menghela napas untuk kesekian kalinya, dalam hati ia merutuki kebodohan temannya hingga terbaring di ranjang rumah sakit.

"Hari ini dia benar-benar bukan milikmu lagi!" gumamnya seraya menatap sedih tubuh Junhyung.

Doojoon baru saja terbangun dari tidurnya, ia baru bisa tertidur menjelang pukul 5 pagi dan kembali terbangun tepat pukul 7 pagi. Gedoran keras di pintu kamarnya lah yang membuatnya terbangun. Meregangkan otot-ototnya lalu beranjak membuka pintu kamarnya. Doojoon menemui sang ibu yang tersenyum dan membuka lebar pintu kamar Doojoon.

"Wae gudaeyo?" tanya Doojoon bingung, ada sekitar 5 pelayan yang mengekor masuk ke dalam kamarnya. Masing-masing dari mereka membawa sepatu dan tuxedo mewah di tangannya.

"Aku sudah bilang kalau pernikahanmu akan dilaksanakan minggu ini kan?" tanya Nyonya Choi kepada anaknya seraya memilih tuxedo yang cocok untuk putranya.

"Kau mengatakannya padaku 2 hari yang lalu," Doojoon masuk ke dalam kamar mandinya dan mencuci mukanya.

"Pernikahanmu akan dilaksankan hari ini juga jadi sebaiknya kau segera bersiap!"

Doojoon membanting pintu kamar mandinya, "Hari ini?" katanya dengan sikat gigi yang masih singgah di mulutnya. Nyonya Choi hanya tersenyum seraya menunjuk meletakan tuxedo dan sepatu pilihannya.

"Kau hanya tinggal ikut ke gereja karena semuanya sudah kami siapkan, jadi cepatlah!"

Doojoon membeku di tempatnya, hingga ibu dan para pelayannya pergi ia masih terus mencerna perkataan ibunya. Menerima pernikahannya dengan gadis asing itu bukan hal yang mudah setidaknya biarka ia tahu siapa nama gadis yang akan menikah dengannya. Mengetahui bagaimana gadis itu dan menjadi akrab. Doojoon merasasemua ini terlalu cepat bahkan luka di hatinya saja masih jelas terasa.

TBC

My 1st DooSeung fic *breath* well aku sebenernya suka semua pairing yang berhubungan dengan Hyunseung bahkan aku berencana akan membuat FF KiSeung, HyunSeob dan HyunWoon tapi nanti setelah OASIS dan Destiny tamat :D

Please gimme some feedback karena review dari para readers adalah semangat untuk seorang author so

Keep it or delete it?