Destiny 3
Main Cast: Jang Hyunseung, Yoon Doojoon, Yang Yoseob, Yong Junhyung
Other Cast: Lee Kikwang, Son Dongwoon, Jang Geurim (Hyunseung's sister), Jang Geun Suk (Hyunseung's Father), Moon Geun Young (Hyunseung's Mother), Yoon Sang Hyun (Doojoon's Father) and Choi Ji Woo (Doojoon's Mother)
Genre: Hurt, Drama
Rate: PG15
Summary: Apa yang kau lakukan untuk membahagiakan orang yang kau cintai? Apa cinta saja cukup? Apa kau rela saat takdir memaksamu untuk melepasnya?
Disclaimer: Semua cast ini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka untuk dijadikan arakter Fic saya tapi cerita ini murni karya saya.
WARNING! This story is not about 'boyxboy' all uke has change their gender so DON'T LIKE DON'T READ!
-Destiny by YK-
"Di sudah mati!" mata bulat Hyunseung memanas, "Kau harus menikah dengan pria pilihanku atau gugurkan kandunganmu!" bulir-bulir air mata Hyunseung mulai keluar dan menuruni pipi putihnya, "Kau ini hamil di luar nikah dan aibmu akan menghancurkan keluarga kita terutama adikmu!" Hyunseung mengusap air matanya. Perkataan ayahnya benar-benar membuatnya sakit hati, Junhyung mati? Ayahnya setega itu kah membunuh, ayah dari janin yang tengah dikandungnya? Tapi ayahnya benar mengandung tanpa adanya suami adalah aib dan jika ia mengingat Geurim adiknya yang masih begitu muda, mana mungkin ia menjadi egois?
Hyunseung masih diam mematut dirinya di depan cermin meja riasnya, gaun putih yang entah sejak kapan dibeli orang tuanya itu terlihat sangat cantik tapi sedikitpun Hyunseung tidak merasa senang memakainya. Hatinya terluka parah tapi tak satu pun yang bisa mengobatinya, Geurim satu-satunya yang bisa mengertinya tapi tak bisa membantunya. Bukan salahnya, Tuan Jang sangat keras dan Hyunseung tak mau jika Geurim ikut disalahkan karenanya.
Sementara Doojoon hanya diam di dalam mobilnya ia tak tahu harus berkata apalagi, siapa nama calon istrinya saja ia tidak tahu. Dalam otaknya sekarang adalah bagaimana ia bisa melindungi Yoseob. Tepat pukul 10.00 Gereja Presbiterian, Seoul sudah terlihat dipenuhi oleh rekan bisnis keluarga Jang dan Yoon. Tak ada satupun teman Hyunseung maupun Doojoon, karena bahkan yang menikah saja baru tahu pernikahannya selang beberapa jam sebelum pernikahan.
Jantung Doojoon berdegup kencang saat pintu utama gereja terbuka, Doojoon menarik napas dalam berusaha menenangkan dirinya dari langkah calon istri dan calon mertuanya menuju altar.Langkah terakhir dan sangat dekat denganya, Doojoon tak melihatnya hanya mendengarnya tapi kemudian ia menoleh hendak menyambut calon istrinya.
Deg!
Waktu seolah berhenti seketika. Gadis itu, gadis yang kelak menjadi istrinya terlihat sangat cantik dengan tatapan yang kosong. Luka. Doojoon bisa dengan jelas melihatnya, apa gadis ini juga dipaksa sepertinya? Doojoon menepis pikirannya, sadar ini bukan saat yang tepat. Diulurkannya tangannya dihadapan Hyunseung yang masih menggandeng lengan sang ayah.
"Yoon Doojoon, ku serahkan putriku padamu!" Tuan Jang melepaskan tangan Hyunseung dan menatapnya tajam seolah memaksanya menyambut uluran tangan Doojoon. Hyunseung patuh saja, ia menyambut uluran tangan Doojoon lalu berdiri di sampingnya.
.
.
.
Kikwang berlari mengejar Yoseob yang berusaha pergi lagi, Kikwang memang lelah tapi pasti Yoseob lebih lelah lagi dan ia mana bisa membiarkan sahabatnya jatuh pingsan tiba-tiba di tengah jalan.
"Yang Yoseob, jamkanman!" Yoseob tak peduli ia terus berlari ke arah halte bus, ia harus menemui Doojoon secepatnya.
Sepi, mungkin mereka tak ada di rumah. Tapi tidak mungkin, karena setahu Yoseob kediaman keluarga Yoon tidak pernah sepi. Kikwang menatap iba sahabatnya, Kikwang memang tidak tahu seberapa sakitnya Yoseob sekarang tapi juga tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang.
"Kikwang jika aku memencet bel, apa mereka akan membuka pagarnya?" tanya Yoseob lirih.
"Mollayo Yoseob-ah, tapi kupikir sebaiknya kita pulang saja!" usul Kikwang takut-takut, mungkin saja Yoseob akan marah mendengar usul tak bergunanya.
"Ani!" Yoseob menatap Kikwang tajam, "Aku harus mencegahnya, Doojoon itu milikku Kikwang, milikku!" katanya seraya mengepalkan kedua tangannya. Kikwang menggeleng tak percaya, Yoseob sahabatnya tidak seperti ini, ia bukan orang yang pemarah apalagi mendendam. Kikwang seperti tak mengenalnya.
"Yoseob… Doojoon dia akan menikah hari ini juga, kau-"
"Antarkan aku ke sana!" potong Yoseob membuat Kikwang terbelalak.
"A… apa?"
"Ayo antar aku ke gereja tempat mereka menikah Kikwang, ayo kita cegah pernikahan itu!" Yoseob menggungcangkan bahu Kikwang sambil menatap gadis itu tajam.
"Tapi- "
"Pendeta akan membatalkan pernikahan jika ada satu saja yang mengatakan tak setuju!" potongnya lagi, Yoseob menarik tangan Kikwang kuat sementara yang ditarik hanya patuh karena bingung.
.
.
.
"Sekali lagi kutanya Jang Hyunseung, bersediakah kau menerima Yoon Doojoon menjadi suamimu?" Hyunseung terdiam, ini adalah pertanyaan ketiga yang diberikan oleh pendeta, Doojoon sudah menyatakan kesediaannya tapi Hyunseung malah tak menjawab. Lidahnya terasa kelu tiap kali mendengar nama Doojoon, ia ingin mendengar nama Junhyung lah yang di sebut.
"Ikuti kata hatimu!"
Hyunseung mengangkat kepalanya menatap Doojoon yang baru saja berbisik pelan kepadanya, hatinya… hatinya menginginkan Junhyung tapi hatinya juga berkata bahwa ia tak boleh egois terhadap keluarga terutama adiknya. Terlebih jika mengingat kenyataan bahwa Junhyung telah mati dan janin yang tengah dikandungnya teracam. Hyunseung menatap Doojoon lagi, pria itu tersenyum memberinya kekuatan baru. Dan dalam satu tarikan npas ia menjawab, "Iya, aku bersedia!"
Doojoon tersenyum bangga, bangga karena Hyunseung memilih pilihan yang amat berat untuknya. Entahlah Doojoon sendiri tidak tahu dari mana pikiran macam itu, yang jelas ia bisa melihat luka di mata indah Hyunseung. Luka yang hanya bisa dipendamnya dalam hati, serupa dengan apa dialaminya saat ini.
"Baiklah, apakah ada yang tidak setuju?" tanya pendeta, hening. Tuan Jang dan Tuan Yoon tersenyum senang hingga detik berikutnya ketika pintu gereja tiba-tiba terbuka dengan cukup keras.
"Andwe! Aku tidak setuju Pak Pendeta!" sesisi gereja mengalihkan perhatiannya, dua orang gadis dan beberapa penjaga berada di ujung gereja dengan kondisi yang sangat kacau. Sepertinya kedua gadis itu memaksa masuk ke dalam gereja.
"Yoseob," gumam Doojoon seraya menatap Yoseob. Hyunseung menatap Doojoon, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tapi Doojoon hanya diam menatap Yoseob dengan tatapan sedih. Tatapan yang sama dengan yang diberikan Junhyung saat mereka dipisahkan. Tatatpan yang membuat hatinya berdenyut sakit.
"Usir dia!" titah Tuan Yoon, "Usir gadis –gadis gila itu dan jangan biarkan mereka menyentuh acara sacral ini!" para penjaga mengangguk patuh lalu kemudian mencengkram kedua lengan Yoseob dan Kikwang hendak membawa mereka keluar.
"Siapa mereka?" tanya pendeta.
"Bukan siapa-siapa," jawab Doojoon cukup keras agar yang lain mendengarnya, "Hanya gadis yang tergila-gila padaku tetapi tak mempunyai hubungan apapun denganku!" tegasnya. Hyunseung tersenyum pahit, jelas-jelas Doojoon tadi menatap gadis itu degan tatapan sedih kenapa sekarang ia malah mengatakan bahwa gadis itu bukan siapa-siapanya.
"Baiklah, kunyatakan pernikahan ini sah, sekarang silahkan kau mencium pegantimu!" kata pendeta mempersilahkan.
Deg!
Mata bulat Hyunseung membesar, kaget ia akan dicium oleh pria asing yang kini menjadi suaminya. Seumur hidupnya ia hanya pernah berciuman dengan Junhyung kekasihnya jadi wajar jika ia merasa kaget jika harus mencium pria lain terlebih di hadapan khalayak ramai seperti ini.
Cup
Doojoon menciumnya , di kening. Pria itu tak menciumnya di bibir melainkan di kening dan ciuman itu terasa lain karena setelahnya Doojoon tersenyum menatapnya.
"Tersenyumlah!" pinta Doojoon lagi-lagi dengan senyum yang menghipnotisnya untuk mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
Yoseob berteriak memaki Doojoon dan keluarganya. Ia terus memukul-mukul tembok dengan boneka pemberian Doojoon. Kikwang bukannya tak berusaha mengehentikannya tapi ia sendiri merasa ngeri melihat Yoseob bersumpah serapah seperti itu.
"Dengar Kikwang jika aku tidak bisa memiliki Doojoon, maka gadis lain juga tidak boleh!" kata Yoseob di tengah isakannya.
"Tapi dia sudah menikah dank au tahu itu kan?" kata Kikwang berusaha menyadarkannya.
"Ani!" Yoseob menggeleng kuat, "Aku akan merebutnya, aku akan mendapatkan Doojoonku kembali!"
"Bagaimana jika Doojoon menolakmu Yoseob? Bukankah dia sendiri yang memintamu memutuskan hubungan kalian?"
"Aku akan membunuh gadis itu Kikwang! Aku akan membunuhnya!" teriak Yoseob sambil membanting boneka ke meja riasnya membuat semua benda yang berada di atasnya terlempar jatuh. Kikwang bergidik ngeri melihatnya. Ini bukan Yoseob yang dikenalnya. Sahabatnya berubah menjadi seorang pendendam sekarang. Kikwang menggeleng tak percaya dan tanpa sadar air mata meluncur dipipi mulusnya.
TBC
Pendek ya? Hahaha ini udah panjang menurut saya ._.)v berharap next part saya bisa membuat chap lebih panjang lagi ^^v
Special thanks untuk:
lee sungtae, Ostreichweiz, sweetmin, NC91, rarancha
Yang sudah baca review please, tunjukan kalau kalian menghargai author, btw Yuki juga nerima kritik dan saran kok! Tapi harus jelas ya, jangan asal nge-flame n nge-bash ngga jelas, karena kalau yang itu Yuki sangat tidak terima ^^ ok semuanya kamsahamnida ^^~
