Destiny 4

Main Cast: Jang Hyunseung, Yoon Doojoon, Yang Yoseob, Yong Junhyung

Other Cast: Lee Kikwang, Son Dongwoon, Jang Geurim (Hyunseung's sister), Jang Geun Suk (Hyunseung's Father), Moon Geun Young (Hyunseung's Mother), Yoon Sang Hyun (Doojoon's Father) and Choi Ji Woo (Doojoon's Mother)

Genre: Hurt, Drama

Rate: PG15

Summary: Apa yang kau lakukan untuk membahagiakan orang yang kau cintai? Apa cinta saja cukup? Apa kau rela saat takdir memaksamu untuk melepasnya?

Disclaimer: Semua cast ini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka untuk dijadikan karakter Fic saya tapi cerita ini murni karya saya.

WARNING! This story is not about 'boyxboy' all uke has change their gender so DON'T LIKE DON'T READ!

-Destiny by YK-

Drap… drap… drap…

Suara langkah kaki mengisi keheningan yang mewarnai lorong rumah mewah keluarga Yoon. Hyunseung menunduk sambil sesekali melihat ke arah 'suami'nya di depan, sementara sang suami terus berjalan di depan dengan wajah datarnya.

Kriet…

Doojoon membuka pintu kamarnya, dilihatnya Hyunseung yang nampak ragu di depan pintu sembari memainkan jemari tangannya. "Masuklah!" ujar Doojoon, tangannya terulur meraih tangan mungil yang terbalut sarung tangan putih milik istrinya. Hyunseung mengangguk pelan sembari mengikuti langkah Doojoon, "Istirahatlah dulu!" kata Doojoon yang kemudian pergi menuju kamar mandi.

Hyunseung memperhatikan sekelilingnya dengan kikuk, kamar pengantin yang luas, dilihat dari dekorasi kamar tersebut, ia berani bertaruh ini pastilah bukan kamar Doojoon. Hyunseung membuka sarung tangan putihnya, sepatu serta aksesoris lain yang melekat ditubuhnya, lelah begitu terasa dalam dirinya. "Huft…" gadis itu menghela napas berat ketika mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu di gereja.

Yoseob, gadis yang bahkan belum ia kenal itu kini memenuhi pikirannya, belum selesai perang batinnya dengan persoalan Junhyung malah ada lagi masalah lain. Bicara soal Junhyung, bukankah ia masih dalam suasana berkabung? Bukankah sang ayah sudah membunuh kekasihnya itu? Mengingatnya saja membuat hati gadis bermata kelinci itu terasa nyeri.

"Uljima," Hyunseung mengalihkan pandangannya, dilihatnya Doojoon berlutut di depan ranjang sambil menyeka air mata dipipinya, "Wae guraeyo?" tanya Doojoon yang hanya dijawab sebuah gelengan dan isakan yang semakin menjadi darinya. Detik itu juga tubuh ringkih Hyunseung jatuh dalam pelukan Doojoon, dengan lembut Doojoon mengusap punggung istrinya sambil terus memberikan kata-kata penenang.

Kesamaan nasib, mungkin itulah yang tengah terjadi pada keduanya, Doojoon tahu betul bagaimana rasanya, menatap mata Hyunseung seolah mengingatkannya pada sakit hati yang juga dirasakannya. Malam itu di dalam kamar pengantin itu, hanya ada isakan Hyunseung hingga gadis itu tertidur lelap dalam pelukan Doojoon, ia bahkan belum sempat membersihkan tubuhnya atau sekedar mengganti gaunnya dengan piyama yang jauh lebih nyaman untuk tidur. Doojoon menggendong Hyunseung, merebahkannya di ranjang dan menyelimutinya. Bingung akan tidur di mana, pria itu akhirnya tertidur di sofa yang berada tak jauh dari ranjangnya.

.

.

.

Dongwoon berlari menuju halte ketika dilihatnya bus yang biasa ia naiki datang.

Bruk!

"Sh*t!" umpatnya kesal, dengan cepat tangan-tangan panjangnya, membereskan materi kuliahnya yang bertebaran di jalan.

"Mianhamnida!" Dongwoon mengambil lembaran kisi-kisi miliknya lalu menatap orang yang menabraknya, seorang gadis rupanya.

"Aish ternyata seorang yeoja." ucapnya pelan, namun rupanya gadis itu mendengarnya dan melemparkan raut wajah heran padanya, "Ya! Beruntung kau seorang yeoja, jika kau adalah namja, sudah kupukuli wajahmu itu!" ancamnya membuat gadis di depannya itu menutup wajahnya takut-takut.

"Maaf, aku kan sudah meminta maaf padamu Tuan!"

"Ne, tapi karenamu, aku jadi ketinggalan bus!"

"Memangnya tidak ada bus lain?"

"Masih lama Nona pendek!"

"Apa katamu? Nona pendek? Aku tidak pendek Tuan Arab!"

Dongwoon melotot kesal, "Apa katamu? Namaku Dongwoon, Son Dongwoon bukan Arab dan lagi aku ini orang Korea asli!"

"Oh begitu, kalau begitu aku juga sama, namaku bukan pendek tapi Lee Kikwang, jadi tolong jangan seenaknya!" marah gadis itu sembari berkacak pinggang.

"Kikwang? Heh nama yang aneh!" ejek Dongwoon.

"Ish dasar menyebalkan, menyesal aku sudah meminta maaf pada pria aneh yang suka menghina orang lain sepertimu!"

"Apa kau bilang? Jelas-jelas kau yang menabrakku sampai aku ketinggalan bus, jadi sudah sepantasnya kau meminta maaf, gadis pendek!"

"Argh terserahlah!" marah Kikwang yang berlalu meninggalkan Dongwoon, sementara Dongwoon menatap sinis ke arahnya.

Dongwoon menghentakkan kakinya kesal, sepertinya nasib sial belum habis untuknya, mengingat jam kuliah pertamanya akan dimulai dalam 15 menit lagi. "Baiklah, lebih baik aku mengirimkan surat ijin besok dan membolos hari ini!" katanya seraya menyeringai.

.

.

.

Hyunseung mengerjapkan matanya ketika sinar matahari masuk melalu jendela kamarnya, "Eungh~" lenguhnya sembari meregangkan otot-ototnya yang lelah, kepalanya terasa sakit mengingat ia menangis semalaman. "Eh?" sadar akan sesuatu Hyunseung segera bangun dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar mencari keberadaan Doojoon.

"Kau mencariku?" tanya Doojoon yang baru saja selesai mandi, Hyunseung mengangguk pelan. Doojoon tersenyum menghampiri Hyunseung, "Mandilah, lalu ikut aku turun untuk sarapan!"

"Ne!" sahut Hyunseung yang bergegas pergi ke kamar mandi.

Doojoon memilih menunggu Hyunseung dan turun bersama, ia tak mau menanggung resiko dimarahi orangtuanya yang cerewet di pagi hari. 15 menit berlalu ketika Hyunseung keluar dari arah kamar mandi, gadis itu berjalan menuju meja rias, menyisir rambutnya. "Ayo!" kata gadis itu, Doojoon terdiam menatap Hyunseung, bahkan gadis itu terlihat cantik tanpa memakai make up, "Doojoon-ssi," Hyunseung melambaikan tangannya di depan wajah Doojon, membuat Doojoon terkejut, "Maaf," ujarnya lugu.

"Gwaenchana," ucap Doojoon memamerkan senyum canggungnya, "Err… tolong jangan memanggilku seformal itu!"

"Ehm… ne, Doojoon-ah." patuh Hyunseung kikuk, Doojoon mengacak rambut Hyunseung, menyadari bahwa gadis yang sudah resmi menjadi istriya itu sangatlah menggemaskan. Hyunseung cemberut kesal, sembari menyisir rambutnya dengan jemari tangannya yang lentik, membuat Doojoon semakin gemas melihat bibir merah delimannya.

"Aww!" Hyunseung mengusap pipi chubbynya yang dicubit oleh Doojoon, "Ish kenapa kau jahil sekali Doojoon-ah?"

"Hehehe maaf! Kajja, kita sarapan sekarang!" katanya sambil menggenggam tangan Hyunseung.

"Doojoon-ah!" panggil Hyunseung.

"Ne?"

"Itu…"

"Ah maaf," Doojoon melepas genggamannya.

"Pintunya," Hyunseung menunjuk pintu kamar mereka yang masih terbuka, "Belum ditutup!" lanjut Hyunseung sambil tertawa canggung.

"Oh, ne hehehe aku lupa!" Doojoon menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Hyunseung menutupi mulutnya menahan tawa.

.

.

.

"Apa?"

"Bulan madu?"

Kaget Hyunseung dan Doojoon bersamaan, Jiwoo hanya menggelengkan kepalanya melihat ekspresi bodoh anak semata wayangnya, sementara Sanghyun tersenyum melihat wajah polos Hyunseung.

"Kenapa kalian seenaknya begitu, mengatur pernikahan sesuka hati dan sekarang mengusir kami juga tanpa pikir pajang!" jengekel Doojoon.

"Yaa jaga bicaramu, lagi pula siapa yang mengusir kalian? Kami kan hanya meminta kalian berlibur untuk melakukan acara bulan madu, itu kan kegiatan yang menyenangkan, dasar anak tidak tahu terimakasih!" Sanghyun memukul kepala Doojoon dengan sumpitnya, membuat Doojoon berdecih kesal.

"Oddie?" tanya Hyunseung ragu-ragu, gadis itu bukan berarti setuju, ia hanya tak mau lagi menentang, ia tahu betul bahwa ada campur tangan ayahnya dalam ide 'gila' ini.

"Bali, selama tiga bulan!"

"MWOYA?" nyaris saja Doojoon menyemburkan air yang tengah diminumnya.

"Bali?" tanya Hyunseung tak percaya, "Tempat apa itu?" tanyanya polos.

"Itu adalah Jejunya Indonesia!" sela Doojoon, "Yaa untuk apa bulan madu selama itu? Satu minggu pun sudah lebih dari cukup!" protesnya sembari menunjuk kedua orang tuanya dengan sumpitnya.

"Jangan menunjuk wajahku dengan sumpit, Yoon Doojoon!" marah Jiwoo.

"Jangan protes lagi, kalian mau ke Bali selama tiga bulan atau kami kirim ke Afrika selama satu tahun!"

"Apa Afrika?"

"Satu tahun?"

.

.

.

Yoseob meletakan satu buket mawar putih di sebuah nakas putih, gadis itu lalu diam memperhatikan pria yang tengah tertidur di hadapannya, "Hai, Junhyung…" sapanya seraya tersenyum penuh arti.

"Kau lihat?" Yoseob mengambil kembali bunganya, "Ini adalah bunga mawar putih, putih… putih itu suci… seperti cinta kita… heh cinta…"

Kriet…

Bunga itu terjatuh di lantai, Yoseob membulatkan matanya menatap kea rah pintu yang baru saja dibuka. Sementara orang yang membuka pintu hanya diam mematung dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya.

"Siapa kau?" ujar orang itu setelah lama memperhatikan Yoseob.

"Aku…"

TBC

Pendeknya -_-)a maaf sekali ya, saya memang tidak berbakat bikin cerita panjang, sekalinya panjang pasti putus-putus dan adalagi kesalahan saya, terlalu lama hiatus *bow* susah sekali mencari mood untuk menulis dan sebenarnya komentar dari kalian adalah moodbooster saya u,u

Jadi terimakasih untuk yang masih setia membaca dan menantikan FF saya saya tidak berjanji tapi saya tetap berusaha untuk melanjutkan FF saya, so please be my MoodBooster ^^v