Riuh tepuk tangan mewarnai malam ibukota Korea Selatan yang semakin larut. Ratusan wanita dan pria yang mengenakan pakaian formal itu tampak menikmati setiap pertunjukan yang ditampilkan murid-murid briliant didikan Seoul Art School. Tak ada ekspresi kantuk yang terlukis di wajah mereka... kecuali pria berambut madu yang duduk di bagian VIP.
Berkebalikan dengan yang lain, pria berambut madu tersebut telah menguap lima... enam... atau lebih sejak konser itu dimulai. Sepasang manik karamelnya menatap bosan, kedua daun telinganya terasa sakit setelah berulang kali mendengar lagu klasik yang mengalun lembut dari dentingan piano dan gesekan biola.
Pria berambut madu itu menguap sekali lagi, lebih lebar dari sebelumnya. Tak peduli dengan tatapan rendah dari mereka yang terganggu dengan uapannya. Jemari putih pucatnya perlahan menggenggam tangan seorang wanita yang tampak anggun dengan balutan gaun biru laut tanpa lengan.
"Eomma, bolehkah aku pulang?" tanya pria berambut madu itu sedikit berharap. Ia benar-benar bosan didalam kotak super besar ini. Wanita yang ia panggil Eomma langsung menatapnya, ekspresi yang semula cerah sedikit berkerut tidak suka.
"Kakakmu belum tampil, Kyuhyun-ah," tolak ibunya.
"Tapi aku mengantuk," tukas Kyuhyun cepat, ia ingin pulang secepatnya. Tidak menonton permainan piano kakaknya lebih baik.
"Kyu, kau bukan anak kecil lagi. Bersabarlah! Eomma yakin sebentar lagi giliran kakakmu..." suara ibunya terpotong ketika sang MC mempersilahkan Kibum untuk memberikan pertunjukan penutup. "Nah, benar kan kata, Eomma?"
Kyuhyun menghela nafas kasar. Namun sedetik kemudian sebuah ide muncul dalam otaknya. Ia bangkit dari tempat duduknya, cepat-cepat ia memasang ekspresi panik.
"E-Eomma, aku harus ke toilet sekarang. Kurasa jam tanganku tertinggal saat aku ke toilet sebelum kesini," ibunya kembali menatap wajahnya, raut lelah tampak jelas di wajah cantiknya karena sikap anak bungsunya.
"Tapi kakakmu akan tampil kurang dari lima menit lagi! Bisakah kau mencarinya setelah kakakmu tampil?" pinta ibunya. Akan tetapi Kyuhyun menggeleng kuat-kuat.
"Tidak bisa, Eomma. Aku harus pergi sekarang karena itu jam tangan kesayanganku. Dan setelah ketemu aku pasti akan kembali lagi kesini. Percaya padaku, Eomma," ujar Kyuhyun meyakinkan. Terdengar hela nafas berat dari ibunya sebelum mengangguk kecil.
"Cepat pergi, jangan lama-lama," Kyuhyun tersenyum lebar.
"Pasti!"
Kyuhyun bergegas berlari menuju pintu keluar gedung. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat menolehkan wajahnya ke arah panggung yang gelap. Menyisakan sebuah lampu spot yang mengarah pada punggung kakaknya, Kim Kibum.
Ting.
Jemari panjang Kibum mulai menari diatas tuts-tuts grand piano yang diletakkan di tengah-tengah panggung. Meramu nada demi nada untuk menjadi sebuah lagu yang lembut di telinga namun mampu menggetarkan hati. Ave Maria.
Dan Kyuhyun terdiam di tempatnya. Sepasang mata karamelnya menangkap seorang gadis yang menggesek biolanya dengan apik. Ya, dialah gadis yang ia temui di atap gedung.
Sesekali Kyuhyun tersenyum tipis ketika kedua daun telinganya menangkap nada yang meleset (namun tak begitu terdengar dengan jelas) dari gadis tersebut. Sesekali Kyuhyun mengetuk-ketuk buku-buku jarinya mengikuti irama Ave Maria.
Tepuk tangan membahana ditujukan pada penampilan terakhir konser malam ini. Lengkung tipis terbentuk di bibir merah Kibum sembari membungkuk terima kasih kepada penonton. Hal itu dilakukan juga kepada gadis disampingnya.
Kibum menepuk pundak gadis yang tampak bergetar ketika mereka berada di belakang panggung. Tanpa sadar, Kibum menampilkan senyum tipis ketika mereka ia menangkap ekspresi sedih di wajah gadis tersebut. Rupanya Kibum ingin menenangkan gadis tersebut.
"Wae?" Tanya Kibum.
"Mianhae, Kibum-ssi. Seharusnya aku tidak terlalu gemetar sehingga aku tak perlu melakukan kesalahan," terang gadis itu dengan lirih. Namun lengkungan tipis yang terkembang di bibir Kibum masih bertahan.
"Gwenchanayo, Ah Rin-ssi. Aku rasa kesalahanmu tak begitu fatal," ujar Kibum tenang. Tak ada raut kesal yang tergambar pada wajah Kibum. Seseorang yang selalu menginginkan kesempurnaan dalam dirinya.
Prefeksionis.
"Ta-tapi, Kibum-ssi," bantah gadis itu masih menyesal. Namun telunjuk Kibum memberi tanda agar gadis itu diam.
"Tidak apa-apa, Ah Rin-ssi. Sungguh! Perjalananmu sebagai violist masih panjang, tak perlu sempurna sekarang. Aku yakin kau akan jadi violist terbaik saat kita lulus nanti," jelas Kibum panjang lebar. Sejenak kemudian ia tertawa kecil membuat alis hitam Ah Rin berkerut heran.
"Manusia bukanlah manusia sempurna, Ah Rin-ssi…"
Kibum hanya terdiam tak melawan ketika tubuhnya dipeluk erat wanita bergaun biru laut selama beberapa detik yang membuat dadanya mulai sesak. Wanita yang selama sepuluh tahun menjadi ibunya ini selalu terharu ketika melihat permainan pianonya. Kibum ingat betul bagaimana wanita dihadapannya ini memeluknya erat tatkala ia bisa memainkan lagu fur elise dengan sempurna.
"Eomma senang melihat perkembanganmu, Bummie-ah. Kau semakin mahir bermain piano," puji ibunya dengan senyum lebar menghiasi wajah ayunya. Kibum hanya mengucapkan terima kasih, karena pandangannya tertumbuk pada sesosok tinggi yang berdiri di belakang ibunya. Sosok yang memandangnya tanpa ekspresi dibalik kacamata minusnya.
"Tak begitu buruk. Appa masih bisa mendengar nada yang meleset dari pertunjukanmu tadi," Kibum hendak membantah tapi tenggorokannya terasa kering untuk mengeluarkan sepatah kata. Selalu begitu.
Kibum selalu jadi pengecut dihadapan ayahnya.
"Yeobo! Jangan begitu dingin dengan Kibum!" potong ibunya dengan nada sedikit meninggi. Ayah Kibum hanya diam, tak menanggapi istrinya dan melangkah pergi. Ibunya kembali menatap Kibum untuk memastikan Kibum baik-baik saja.
"Jangan dengarkan ucapan Appamu, ne? Dia orangnya memang kaku," ujar ibunya menenangkan. Tangan mungil ibunya menarik Kibum lembut. "Ayo pulang, Bummie-ah. Eomma tak sabar untuk memarahi adikmu yang nakal karena membohongi Eomma. Kau ingin bersama mobil kakakmu atau bersama mobil Eomma?" tanya ibunya sembari berjalan menuju lift.
Kibum menghentikan langkahnya.
"Aku... bersama Yesung hyung saja."
"Hei, Bummie Hyung! Ireona!" teriak pria berambut madu sembari menduduki kaki Kibum yang tertutupi selimut tebal. Namun Kibum hanya bereaksi sebentar sebelum melanjutkan tidurnya. Kesal, pria berambut madu itu mengetuk-ketukkan sepatu hitamnya keras-keras. Otaknya berpikir bagaimana caranya ia bisa membangunkan kakaknya yang menyebalkan.
Tidak, ia harus menghilangkan kata 'menyebalkan' dalam kamus otaknya. Lagipula, karena kakaknya lah ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ah, pria berambut madu itu akhirnya mendapatkan ide untuk menarik kakaknya dari alam mimpi.
Breeetttt.
Seperti dugaan pria berambut madu, Kibum refleks menutupi wajahnya dari cahaya matahari yang menyinari tepat di wajahnya.
"Kyuhyun! Aku benci kau! Jangan ganggu aku tidur!"
"Tapi aku harus menunjukkan hal ini pada, Hyung!" Kyuhyun membalas berteriak. Tapi hal itu tidak dihiraukan Kibum. Ia berusaha (keras) untuk kembali tidur. "Ayolah, Hyung..." pinta Kyuhyun.
...
Kibum membuka kelopak matanya perlahan. Pupilnya langsung menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam matanya agar ia bisa melihat isi kamarnya lebih jelas. Dan akhirnya tatapannya tertumbuk pada sosok pria berambut madu yang berada tepat di depan kasurnya.
"Apa yang kau lakukan dengan seragamku, Kyuhyun-ah?" tanya Kibum dengan nada tak suka ketika seragam sekolahnya dipakai adiknya.
"Kata siapa ini milikmu? Ini milikku. Apa aku perlu memakaikan kau kacamata agar bisa membaca tag name seragamku?!" tanya Kyuhyun sedikit mengejek. Kibum hanya menghela nafas sebal sebelum meraih kacamata berbingkai hitam miliknya.
Kim Kyuhyun.
Dan kedua bola mata hitam milik Kibum membulat sempurna. Seolah tak percaya dengan apa yang ia baca. Sedangkan Kyuhyun menyeringai ketika melihat ekspresi kakaknya. Sebuah ekspresi yang ia sudah prediksi.
"Kau pikir aku melihat pertunjukanmu secara cuma-cuma, Hyung? Tentu saja tidak," seringai Kyuhyun semakin melebar ketika tak ada respon yang Kibum berikan padanya. "Jangan terlalu polos, Hyung. Ingat? Kita saling membenci, bukan?" tawa bergema di ruangan bercat biru pastel itu. Membuat telinga Kibum sedikit sakit ketika mendengar tawa palsu Kyuhyun.
Sepi merayap. Kyuhyun menghapus ekspresi puas di wajahnya dan menggantinya dengan ekspresi bosan seperti yang biasa ia tampilkan. Ia segera beranjak pergi keluar dari kamar mereka berdua.
"Oh ya, Hyung. Sebaiknya kau segera bersiap-siap, gerbang sekolah akan ditutup 30 menit lagi," ujar Kyuhyun sembari sebelum benar-benar keluar dari kamar mereka. Kibum cepat-cepat melihat jam wekernya. Kibum mengerang sebal ketika jarum pendek menunjuk tepat diantara angka 7 dan 8.
"Oh, I think this is my worst day ever."
