Ternyata ada juga yang mau review ya, hehe…9
Sori ya, Kakashi emang OOC. Tapi, kalau dipikir-pikir, dia emang aneh kan. Dari kecil jadi chuunin, wataknya keras, ketemu Obito sama Minato, Obito mati (taunya nggak sih), dia jadi agak melembut, Minato juga mati, akhirnya dia jadi kayak sekarang. Tapi, dia gak bener-bener punya temen deket atau pacar kan di cerita aslinya. Kok tahan ya? Pas dulu masa dia jadi Anbu gimana ya? Sekarang juga. Kalau ini bukan komik, kalau orang beneran, mungkin udah stress ya, bisa gila malah.
Di sini, karakternya Kakashi suka labil. Kadang tenang, kadang stress.
Yosh, pokoknya nikmati aja.
Saat seseorang menjadi dewasa, orang itu akan makin pintar menyembunyikan perasaan juga menahan emosi. Karena, sebagai orang dewasa, harus bersikap tenang. Tapi, bukan berarti orang dewasa tidak bisa terluka. Jika saat anak kecil terluka ia bisa menangis ke pelukan ibunya, maka saat orang dewasa terluka kepada siapa ia harus meminta bantuan?
Keluarga, pacar, atau sahabat karib tentunya. Orang yang benar-benar bisa dipercaya, mengerti dan mau menerima keadaan.
Sayangnya, semua orang itu sudah tidak ada untuk Kakashi. Meski sebenarnya dari kecil ia sudah pintar menahan perasaannya. Saat sedih, saat terluka, ia hanya menampakan wajah tanpa ekspresi.
Dulu, hanya Minato yang mengerti, masih menganggapnya sebagai anak-anak yang bisa menangis.
Namun, gurunya itu sekarang sudah tak ada. Tak ada lagi yang mengerti Kakashi.
Meski ia jounin jenius, dengan 1000 lebih jurus ninja, dengan ketangguhan dan kekuatan yang sulit ditandingi, bukan berarti dia tidak bisa terluka. Bukan berarti ia tidak bisa menangis.
Hanya, ia sudah lupa, caranya menangis juga mencurahkan semua perasaan yang ia miliki.
Semuanya hanya terus dipendam dalam hati, menanti kapan hati itu tidak bisa membendung semuanya lagi.
IoI
"Hei, hati-hati jangan pergi terlalu jauh!"
Iruka hanya mendesah saat melihat murid-muridnya berlarian ke sana kemari di hutan di luar Konoha. Tentunya dengan anak-anak pre-genin ini, mereka tidak pergi terlalu jauh. Hanya di sekitar saja untuk mempelajari lingkungan dan situasi saat kelak mereka menjadi ninja nanti.
"Benar-benar sulit ya mengajari anak-anak kecil itu," Iruka menoleh melihat Kotetsu dan Izumo yang menemaninya mengawasi anak-anak Akademi Ninja hari itu.
"Ah, terima kasih ya sudah mau membantu mengawasi, memang susah kalau hanya aku sendiri saja," kata Iruka.
"Ah, tidak apa-apa, kerja di perbatasan kebanyakan damai kok, kecuali ada penyerangan saja," kata Kotetsu sambil tersenyum.
Iruka tersenyum juga, yah, ia bersyukur akhir-akhir ini Konoha lebih damai. Dengan Tsunade yang bekerja sebagai Hokage ke lima, Konoha sudah menjadi lebih teratur.
Tapi, mungkin itu tidak berlaku untuk semua ninja. Karena penyerangan ninja Oto dulu, Konoha mengalami sedikit devisit ninja, sehingga imbasnya anbu dan jounin bekerja hingga ke tulang-tulang mereka untuk memenuhi semua misi di Konoha.
Termasuk… orang itu juga…
"Iruka-sensei, Iruka-sensei!"'
Iruka menoleh, melihat salah satu anak didiknya menghampirinya.
"Ada apa, Chie?" tanya Iruka, segera berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu.
"Konohamaru bilang di hutan ini ada setannya, memang betul? Aku takut…," kata Chie dengan wajah mau menangis. Iruka segera membelai kepalanya, menenangkan anak itu.
"Tidak ada kok, itu cuma bohong," kata Iruka dengan lembut, ia segera bangkit dan mencari sosok murid bandel penerus Naruto yang sudah menyebarkan gossip itu.
"Konohamaru, dimana kau!?" sahut Iruka kesal. Anak itu memang bandelnya menyaingi Naruto.
Iruka segera berjalan ke sekitar hutan, mencari sosok anak nakal itu. Chie hanya berjalan di belakangnya, tangannya yang kecil menggenggam erat jaket Iruka. Anak malang, tampaknya ketakutan karena kata-kata Konohamaru.
"Iruka-sensei!" Iruka segera menoleh, melihat Konohamaru dan teman-temannya berlari ke arahnya.
"Kau ini kemana saja!? Bukan kah sudah kubilang jangan pergi jauh-jauh?" tegur Iruka, namun rasa marahnya menghilang saat melihat betapa pucat wajah Konohamaru di depannya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Iruka, merasa khawatir.
Konohamaru mengambil napas cepat-cepat. "Itu… ada bayangan hitam jauh di dalam hutan…," kata Konohamaru dengan wajah pucat. Teman-temannya memiliki ekspresi yang sama, pucat dan tak dapat bicara.
"Kyaaa! Pasti setan!" teriak Chie ketakutan, memeluk Iruka dari belakang.
"Bayangan hitam…? Kau tidak bercanda?" tanya Iruka kepada Konohamaru. Anak itu segera menggeleng, Iruka menanggapinya dengan serius. Tidak mungkin ia berani bercanda tentang hal seperti ini.
"Cepat kumpulkan teman-temanmu yang lain, Kotetsu, Izumo!" teriak iruka, memanggil kedua temannya yang entah ada dimana sekarang itu.
Ia bisa merasakan detak jantungnya berdebar makin kencang, ia merasa akan ada sesuatu yang datang, tapi… ia tidak mau itu terjadi. Pasti tidak apa-apa, tidak akan ada apa-apa.
"Kyaaa!"
Iruka tersentak saat mendengar sebuah teriakan, teriakan itu… dari salah satu murid perempuannya.
"Konohamaru, cepat cari semua temanmu, lalu kumpulkan mereka di gerbang, jangan kemana-mana!" kata Iruka dengan cepat, anak itu hanya mengangguk sebelum akhirnya Iruka pergi ke arah sumber suara.
Dalam kepalanya ia kalut memikirkan kalau ada penyerangan lain di Konoha. Bagaimana bila semua anak muridnya ikut terlibat dan terluka? Membayangkannya Iruka merasa mual.
Ia mempercepat langkahnya ke arah sumber suara, hatinya mencelos saat melihat Moegi yang terduduk di tanah, gadis kecil itu menatap jauh ke dalam hutan sementara semua tubuhnya gemetaran.
"Ada apa Moegi? Kau terluka?" tanya Iruka, segera berjongkok di samping gadis itu dan memeriksanya, namun tak ada luka luar, hanya wajahnya yang pucat.
"I..itu Iruka-sensei…," gumam Moegi terbata-bata, menunjuk ke arah depannya. Iruka segera menoleh, mencari sesuatu yang sudah membuat anak didiknya ketakutan seperti ini.
Matanya membelalak saat ada sosok hitam yang bergerak di antara rimbunnya pohon. Dengan segera ia mengambil posisi siaga, kunai sudah di siap di tangannya.
Jangan-jangan, benar ada serangan dari desa lain?
Namun, ia cuma merasakan satu orang saja, tidak banyak. Apa artinya?
Sebelum ia bisa mengerti, sosok itu mempercepat langkahnya dan menerjang ke arahnya. Iruka segera bereaksi, sayup-sayup ia bisa mendengar suara teriakan Moegi namun matanya hanya terfokus pada orang yang ada di depannya.
Rambut itu… mata itu…
"Kakashi-sensei?" gumam Iruka terkejut saat menyadari siapa yang sedang beradu kunai dengannya.
Meski rambutnya yang berwarna perak terkena noda darah dan lumpur, topengnya sobek sedikit dan pelindung kepalanya sudah hilang entah dimana. Tapi, tidak salah lagi.
Mereka segera mengambil jarak mundur. Iruka yang masih syok berusaha meneliti apa yang sedang terjadi. Ia melihat kondisi Kakashi yang jauh dari baik. Bajunya penuh noda darah dan lumpur serta sobekan di sana-sini. Entah darah itu dari dirinya atau orang lain. Tapi, matanya yang berwarna hitam itu… tidak fokus. Seakan ia tidak benar-benar melihat Iruka di depannya.
"Kakashi-sensei, ada apa sebenarnya?" tanya Iruka kebingungan, namun pertanyaannya tidak terjawab, justru Kakashi kembali menyerangnya dengan melempar kunai.
Iruka menghindarinya dan ia terkejut saat Kakashi sudah berada di depannya dan siap menendangnya.
Dalam sekejap mereka pun beradu taijutsu, kunai yang ada di tangan Iruka terlepas saat Kakashi memuntir tangannya.
"Kyaaaa!"
Iruka terkejut, wajahnya memucat saat ia melihat Moegi masih belum bergerak dari tempatnya. Kakashi juga menoleh ke arah yang sama. Dengan cepat ia menghiraukan Iruka dan berlari menuju gadis kecil itu. Iruka segera mengejarnya, wajahnya menjadi horror saat Kakashi mengacungkan kunai ke arah anak didiknya.
Ada apa sebenarnya? Kenapa Kakashi menyerang mereka?
"KAKASHI-SENSEI!"
Kakashi menghentikan gerakannya, matanya menatap Iruka yang ada di depannya, kunai di tangannya sudah menembus bahu kiri Iruka.
"Kakashi-sensei, sadarlah!" teriak Iruka lagi, akhirnya Kakashi sudah merespon kata-katanya. Tangannya yang memegang kunai mengendur sebelum akhirnya jounin itu mundur beberapa langkah dengan perlahan.
"Iruka-sensei…?" gumamnya dengan suara parau.
Namun, sebelum Iruka sempat bertanya ada apa sebenarnya, Kakashi ambruk di depannya, dengan badan yang berlumuran darah.
"Kakashi-sensei!"
IoI
Iruka berada di luar ruangan operasi. Ia sama sekali tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Kakashi yang tiba-tiba menyerangnya dengan tubuh penuh luka sebelum akhirnya pingsan di depannya. Tentu saja, iruka tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia lalu membawa Kakashi ke rumah sakit, sementara semua anak didiknya ia serahkan pada Kotetsu dan Izumo.
Sesampainya di rumah sakit, Kakashi segera ditangani secara intensif hingga ia berakhir di dalam ruang operasi dan ditangani oleh Tsunade.
Sementara Iruka, setelah mendapat perawatan pada bahunya, memiilih untuk menunggu di luar ruang operasi. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Apa Kakashi berada di bawah pengaruh jutsu? Iruka tidak tahu.
Saat pintu ruang operasi terbuka, Iruka segera bangkit. Ia melihat Tsunade, yang kelihatan agak lelah juga kesal berjalan ke arahnya.
Iruka segera bangkit, Tsunade menyadari kehadirannya dan berhenti di depannya. Iruka tidak bisa bertanya apa-apa, ia hanya diam. Mungkin Kakasi terlibat dalam misi ranking S yang berbahaya dan merupakan rahasia. Ia yang hanya seorang chuunin tidak berhak tahu.
"Ia tidak apa-apa, lukanya agak dalam, tapi untungnya masih bisa ditangani, jadi tidak ada masalah," jelas Tsunade, membuat Iruka sedikit lega.
Tsunade menggaruk kepalanya, tampak pening. Iruka juga merasakan hal yang sama. Daritadi pernyataan yang sama menghantuinya.
Ada apa sebenarnya?
"Ikut ke ruanganku," perintah Tsunade, membuat Iruka tersentak. Ia sedikit panik, biasanya yang masuk ke ruangan Hokage cuma bila mendapat misi penting atau mendapat masalah. Ia tidak mendapat keduanya kan?
IoI
"Coba jelaskan, bagaimana kau menemukan Kakashi tadi?"
Iruka menengguk ludahnya. Bagaimana menjelaskannya? Ia saja masih merasa pusing dengan kejadian tadi.
"Begini Godaime-sama. Aku dan kelasku sedang belajar di luar ruangan, tepatnya di hutan luar Konoha. Lalu Konohamaru melihat sosok hitam di hutan, lalu Moegi berteriak dan saat aku berlari menghampirinya, ada Kakashi-sensei di sana dengan tubuh yang terluka parah. Anehnya, ia justru menyerangku dan Moegi seakan ia tidak mengenali kami. Lalu kami sempat bertarung sebentar, ia melukai bahuku, sebelum akhirnya jatuh pingsan," jelas Iruka.
Tsunade hanya mengangguk, matanya terlihat serius, tampaknya sedang membayangkan kejadian yang dialami Iruka.
"Ternyata begitu kejadiannya," kata Tsunade, ia kemudian mendesah dan bersandar pada kursinya.
Iruka hanya diam di tempat, menatap Tsunade yang tampak lelah dan bingung. Ada apa sebenarnya dengan Kakashi? Ia segera teringat apa yang terjadi beberapa minggu lalu, saat ia melihat Kakashi membunuh seekor anjing di jalan. Saat itu ia sudah merasakan sesuatu yang aneh pada Kakashi. Apakah karena itu?
"Kau pasti kaget ya, Iruka? Biar kujelaskan," kata Tsunade, akhirnya bicara lagi, membuyarkan lamunan Iruka.
"Anbu dan Jounin yang sering menjalani misi solo ranking A dan S, kerap mengalami paranoia," jelas Tsunade, menyandarkan dagunya pada kedua tangannya.
"Paranoia?" tanya Iruka.
"Yah, karena selama misi, mereka sendirian dan kerap kali di kelilingi musuh. Tingkat kewaspadaan mereka sangat tinggi hingga mencurigai hal-hal sekecil apapun," lanjut Tsunade.
"Lalu, apa yang terjadi pada Kakashi-sensei itu paranoia?" tanya Iruka.
Tsunade mengangguk. "Sebagian dari itu. Ia mengalami syok setelah terluka parah oleh musuh, hingga ia sangat paranoid dan tak mampu mengenali teman atau musuh. Sebenarnya hal itu sering terjadi pada anbu dan jounin setelah mereka menyelesaikan misi. Mereka merasa kesulitan meredam hawa membunuh, juga adrenalin yang mempengaruhi diri mereka, hingga mereka kerap menyerang orang-orang yang mereka curigai sebagai musuh," jelas Tsunade lagi.
Iruka hanya termangu di tempat. Memang kadang-kadang dulu ada temannya yang masih syok setelah berhadapan dengan musuh dan kelihatan panik serta kehilangan arah, namun itu hanya beberapa saat sebelum ia kembali normal. Ia tidak pernah sampai diserang seperti ini.
"Dan lagi… Kakashi…," gumam Tsunade, menatap meja kerjanya, pandangannya terlihat sedih. Iruka hanya diam, tidak berani bertanya.
"Iruka, apa kau tahu apa yang terjadi pada Kakashi akhir-akhir ini?" tanya Tsunade, membuat Iruka kaget.
"A-aku tidak terlalu akrab dengan Kakashi-sensei… jadi…," kata-kata Iruka terputus. Ia memang tidak kenal Kakashi-sensei sedalam itu. Mereka hanya seperti rekan kerja, tidak lebih.
Tsunade mendesah dan mengusap kepalanya. "Kalau tidak salah, dulu Sandaime suka meminta pendapatmu kan?" tanya Tsunade, membuat Iruka kaget lagi.
Iruka segera mengangguk, ia dulu memang sempat dekat dengan Sandaime. Ada kalanya hokage ketiga itu meminta pendapatnya, tapi tidak lebih dari itu.
"Begini Iruka, sebenarnya ini rahasia, jadi tolong jangan disebarkan," kata Tsunade, membuat Iruka berkeringat dingin. Ia segera mengangguk dengan pasti.
"Saat memeriksa Kakashi tadi, aku menemukan bekas luka lebam yang sudah menghitam di tangan kirinya," kata Tsunade, Iruka segera membayangkannya. Luka lebam?
"Bukan karena latihan?" tanya Iruka. Tsunade segera menggeleng.
"Kakashi bukan orang yang suka latihan taijutsu. Lagipula bekas luka lebam itu sudah hitam, seperti ia sering sekali memukul benda keras hingga membekas pada kepalan tangannya," terang Tsunade.
Iruka mengangguk. Benar juga, Kakashi bukan Gai, yang sering latihan taijutsu. Lagipula, jarang sekali ninja memukul hingga tangannya berbekas hitam. Saat memukul, bila dengan pengaturan chakra yang baik, tidak akan menimbulkan luka pada tangan. Ninja dengan level setinggi jounin seperti Kakashi, seharusnya bisa melakukan hal itu.
Tapi, kalau itu artinya Kakashi sering memukul benda tumpul… untuk apa?
"Sepertinya, Kakashi sedang stress," jawab Tsunade, seperti bisa membaca pikiran Iruka.
"Stres?" tanya Iruka. Tsunade mengangguk.
"Saat seseorang stress, kadang mereka kerap melukai diri, seperti memukul dinding, atau membenturkan kepala, tapi ini baru spekulasiku saja," kata Tsunade.
Jadi, kemungkinan besar, Kakashi stress?
"Sepertinya aku terlalu banyak memberinya misi ranking S akhir-akhir ini. Tapi, ia tidak pernah menolak atau pun protes, jadi kupikir tidak ada masalah," keluh Tsunade, tampak menyesal. Iruka jadi ikut sedih. Misi ranking S sangat lah berbahaya dan kerap kali berhubungan dengan nyawa seseorang. Seumur hidupnya, Iruka belum pernah menjalani misi ranking S, terlebih solo. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Ditugaskan untuk membunuh orang lain…
"Mungkin… Kakashi-sensei butuh liburan…," gumam Iruka, membuat Tsunade terdiam.
Liburan?
"Ide bagus!" sahut Tsunade, membuatnya terkejut. Padahal, ia hanya asal ngomong saja.
"Ah tapi, Kakashi bukan orang yang senang diberi liburan, tapi ia memang harus break sejenak dari misi-misi berat," kata Tsunade lagi, kebingungan. Iruka kemudian mendapatkan sebuah ide. Ide gila.
"Bagaimana kalau ia mengajar di Akademi Ninja saja? Ia tidak akan menganggur dan pekerjaannya tidak terlalu berat," kata Iruka. Ia kemudian tersentak dengan perkataannya sendiri, sebenarnya apa sih yang ia bicarakan? Kakashi disuruh mengajar anak-anak pre-genin? Dengan kondisinya yang seperti itu, apa bisa?
"Ide bagus!" sahut Tsunade lagi, kali ini ia tersenyum dengan penuh percaya diri, tampaknya senang dengan pendapat iruka. "Ia kuserahkan padamu, Iruka."
"Ha… HA?" pekik Iruka kaget bukan kepalang. Ia? Yang seorang chuunin harus mengawasi jounin jenius yang sudah menjadi chuunin sejak umur 6 tahun itu?
"Ta-tapi aku kan…," Iruka ingin protes, tapi Tsunade menghentikannya.
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya, ia kuserahkan padamu, itu keputusan akhir."
Sebenarnya apa yang ia mimpikan tadi malam hingga ia harus mengalami semua ini? Keluh Iruka dalam hati.
IoI
"Jadi begitu ceritanya, pokoknya setelah kau keluar dari rumah sakit, kau kutugaskan di akademi ninja selama 2 minggu penuh di bawah awasan Iruka-sensei."
Iruka memandang wajah Kakashi yang terlihat amat kompleks, yah ia cukup mengerti. Baru saja terbangun di rumah sakit setelah terluka parah dalam misi yang berat, ia disambut dengan Tsunade yang berwajah ceria dan membeberkan ide cemerlangnya yang pasti tidak terdengar cemerlang di telinga jounin itu.
"Sebenarnya, aku salah apa hingga di hukum seperti itu?" tanya Kakashi, membuat Iruka merasa bersalah.
"Kau tidak salah bocah, kau seharusnya senang kuberi waktu istirahat dari misi-misi berat. Selama itu, kau bisa mendapat pelajaran yang bagus dari Iruka-sensei tentang bagaimana seharusnya kau mengajar ninja-ninja kecil, mengingat seumur-umur kau hanya penah menjadi guru untuk Naruto, Sasuke dan Sakura saja," jelas Tsunade.
Iruka yang ada di sampingnya hanya mampu diam, merasa simpati juga kasihan pada Kakashi. Ini semua karena ide bodohnya, ia seharusnya tahu Kakashi tidak akan menyukainya. Tapi, ini bukan sepenuhnya ide yang jelek kan? Istirahat sejenak dari misi berat sambil mengajar anak-anak. Memang kadang-kadang anak-anak itu bikin stress, tapi mereka juga memiliki aura menyembuhkan. Melihat mereka tertawa dan bermain dengan polosnya, membuat hati jadi tenang.
Entah apakah Kakashi akan mengerti hal itu atau tidak.
"Baiklah, aku mohon bantuannya, Iruka-sensei," kata Kakashi-sensei, akhirnya menyerah dan memilih untuk menerima nasib.
"Oh iya, sama-sama," balas Iruka cepat, mengangguk sedikit pada Kakashi.
Entah apa yang akan terjadi nanti, Iruka hanya berharap ia tidak membuat keputusan yang bodoh.
IoI
Kakashi memandang ke luar jendela, aroma desinfektan khas rumah sakit selalu membuatnya tidak nyaman, tapi sayangnya ia tidak punya pilihan lain selain di rawat di rumah sakit karena ia tidak punya orang yang bisa merawatnya di rumah.
Ia mendesah di balik topengnya, mudah sekali Tsunade memutuskan itu. Dari dulu ia tidak terlalu mengerti anak kecil, apalagi bisa mengajar mereka. Saat menerima Naruto, Sasuke dan Sakura menjadi muridnya pun, ia tidak benar-benar bersikap menjadi seorang guru bagi mereka. Yang ia lakukan hanya mengajarkan hal-hal yang perlu mereka ketahui dan melindungi mereka dari bahaya. Terlebih, Sasuke agak mirip dengan dirinya hingga ia mudah menyesuaikan diri dengan mereka. Sikapnya yang serampangan sama sekali tidak bisa jadi panutan mereka. Bukti bahwa Sasuke akhirnya kabur dari Konoha pun, itu tanda ia gagal menjadi seorang guru.
Apalagi dengan anak-anak pre-genin?
Daripada harus mengajar mereka, ia lebih memilih melakukan misi rank A dan S solo, meski itu artinya ia bisa saja mati.
Ia tidak terbiasa menjalani kehidupan normal di luar misi berbahaya. Dulu, mendapat misi ranking C dan D bersama tim tujuh pun, ia hanya membaca novel Icha-icha sambil mengawasi para genin yang bekerja dengan setengah hati.
Mengajar di akademi, apa yang harus ia lakukan nanti?
Terlebih lagi, ia harus diawasi oleh Iruka-sensei.
Ia bukan orang yang merepotkan masalah level ninja, ia tahu meski Iruka itu hanya seorang chuunin, tapi ia ninja yang hebat dan pemberani.
Setiap hari mengajari anak-anak pre-genin yang sulit diatur, rasanya sebanding sulitnya dengan menjalani misi solo, meski tanpa resiko mati.
Lagipula, guru itu agak aneh.
Kakashi tidak bisa menjelaskannya dengan tepat, tapi ia tidak begitu suka dengannya.
Ia tidak mengerti kenapa bisa ada ninja yang begitu baik hati seperti dia. Orang yang mampu menerima Naruto, bahkan meski ketika karena Kyuubilah, kedua orang tua Iruka meninggal dunia.
Guru yang sangat baik hati, hingga Kakashi tidak suka dengannya.
Karena ia sangat berbeda jauh dengannya. Bila Iruka penuh cinta, maka Kakashi hanya penuh dengan penyesalan dan kehampaan. Saat berhadapan dengannya, ia merasa sedikit kesal. Iruka yang selalu tersenyum saat ia menyerahkan misi, entah kenapa membuatnya kesal.
Kenapa ninja yang baik hati itu masih hidup dan selamat sampai sekarang? Kenapa ia masih bisa tersenyum seperti itu? Bahkan setelah mengalami semua kejadian pahit di masa lalu, ia masih tetap tegar dan menerima semuanya dengan lapang dada.
Tidak seperti Kakashi, yang bersembunyi di balik topeng dan bukunya. Menolak terlalu dekat dengan orang lain karena takut terluka, namun sebisa mungkin membohongi orang-orang kalau ia mampu bersosialisasi dengan baik.
Kakashi mendesah dan berbaring kembali di tempat tidur.
Ia sama sekali tidak menanti saat-saat ia harus menjadi guru di akademi ninja di bawah pengawasan Iruka.
Ia hanya akan menganggapnya sebagai sebuah misi dan menyelesaikannya secepat mungkin.
Tbc?
Haha… perkembangan yang aneh ya? Gak banyak interaksi antara Iruka dan Kakashi di sini, semoga di chapter depan lebih banyak deh…
Review dong! Supaya semangat nulis fanficnya!
